📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 28 dokumenPERANCANGAN KIT EDUKASI INTERAKTIF UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN PENTINGNYA KONSUMSI AIR MINUM PADA ANAK USIA DASAR (6-8 TAHUN)
Air merupakan salah satu komponen penting yang dibutuhkan manusia untuk menjaga kesegaran dan kebugaran jasmani. Meskipun sebagian besar tubuh manusia tersusun dalam bentuk cairan, masih banyak individu yang cenderung abai dalam memenuhi kebutuhan air harian. Kebiasaan kurangnya asupan cairan menjadi kondisi yang mengkhawatirkan dan perlu dibenahi sejak dini. Oleh karena itu, edukasi serta penanaman kebiasaan konsumsi air pada anak perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan pendekatan yang sesuai dengan usia perkembangan mereka. Buku dan buklet interaktif dipilih sebagai media edukasi utama karena mampu menghadirkan pengalaman membaca yang menarik, menyenangkan, dan partisipatif bagi anak. Pembelajaran didukung oleh jurnal minum harian dan botol minum dengan indikator asupan cairan sebagai media aplikatif, sehingga kit edukasi yang dirancang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mendorong anak untuk mempraktikkan kebiasaan minum air sejak dini. Metode yang digunakan meliputi studi literatur mengenai pentingnya konsumsi air, perkembangan anak usia dasar, serta edukasi visual; observasi terhadap kebiasaan minum anak; serta wawancara dengan ahli gizi, psikolog anak, penulis buku anak, ilustrator buku anak, praktisi media baca nonkonvensional, dan anak-anak usia 6-8 tahun selaku target perancangan. Hasil dari perancangan berupa kit edukasi interaktif yang menggunakan personifikasi tetes air sebagai karakter pemandu untuk mendorong anak membangun kebiasaan mencukupi kebutuhan air harian. Melalui pendekatan yang partisipatif dan merangkul anak, kit edukasi interaktif ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran anak terhadap pentingnya konsumsi air serta mendorong mereka untuk membiasakan diri memenuhi kebutuhan air harian.
OPTIMASI ALOKASI AIR PERMUKAAN UNTUK PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR PADA DAS CIWULAN PROVINSI JAWA BARAT
DAS Ciwulan menghadapi tantangan serius dalam pemenuhan air akibat fluktuasi debit musiman yang ekstrem dan penurunan kinerja infrastruktur irigasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis neraca air, menilai efektivitas teknis dan ekonomi infrastruktur, serta menghasilkan roadmap pembangunan optimal menggunakan metode Binary Programming dengan Excel Solver (Evolutionary) berdasarkan data debit andalan Q80, kebutuhan air, dan anggaran 2026 2030. Hasil optimasi merekomendasikan pelaksanaan seluruh 6 proyek dengan jadwal: Embung dan Rehabilitasi DI Cibanjaran (2026), DI Biuk (2027), DI Ciramajaya (2028), Normalisasi Sungai (2029), dan DI Padawaras (2030), dengan total investasi Rp 122,50 miliar. Model berhasil menghilangkan seluruh defisit air (dari 0,90 m³/dtk pada Agustus menjadi 0 m³/dtk), meningkatkan keandalan sistem dari 91,67% menjadi 100%, dengan nilai fungsi tujuan Rp 382,47 miliar, pendapatan pertanian Rp 504,97 miliar, dan BCR 2,51 yang berarti setiap Rp 1 investasi menghasilkan Rp 2,51 manfaat ekonomi. Rata-rata utilisasi anggaran mencapai 77,56% dengan sisa anggaran kumulatif Rp 35,18 miliar, sementara analisis sensitivitas menunjukkan model memiliki ketahanan terhadap penurunan anggaran hingga 5% dan memerlukan kapasitas embung minimum 1,8 m³/dtk untuk mencapai defisit nol.
IDENTIFIKASI SISTEM PENYEDIAAN DAN TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT PENGGUNA AIR BERSIH DI KAWASAN PERMUKIMAN INFORMAL (STUDI KASUS: KAMPUNG PELANGI 200, KOTA BANDUNG)
Pertumbuhan penduduk di kawasan perkotaan yang dipicu oleh urbanisasi meningkatkan kebutuhan terhadap lahan hunian serta penyediaan infrastruktur dasar. Kondisi tersebut kemudian mendorong muncul dan berkembangnya permukiman informal di berbagai wilayah perkotaan. Kawasan ini umumnya tumbuh secara bertahap dan masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan dasar, termasuk penyediaan air bersih. Air bersih menjadi kebutuhan pokok yang berperan dalam menjaga kesehatan masyarakat, mendukung kualitas hidup, serta menunjang keberlanjutan lingkungan tempat tinggal. Dalam konteks pembangunan global, penyediaan air bersih menjadi bagian dari target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada Tujuan 6 yang menekankan pemenuhan akses air minum dan sanitasi yang layak secara merata dan berkelanjutan. Pada tingkat nasional, penyelenggaraan layanan air bersih diatur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 122 Tahun 2015 tentang Sistem Penyediaan Air Minum yang menekankan pemenuhan aspek kualitas, kuantitas, dan kontinuitas pelayanan. Namun, penyediaan air bersih pada kawasan permukiman informal masih menghadapi berbagai kendala yang berpengaruh terhadap kualitas layanan yang diterima masyarakat. Permasalahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kecukupan pasokan air, tetapi juga berhubungan dengan bagaimana masyarakat menilai layanan serta tingkat kepuasan yang dirasakan. Kampung Pelangi 200 di Kelurahan Dago, Kota Bandung merupakan salah satu kawasan permukiman informal perkotaan yang menjadikan layanan air bersih sebagai bagian penting dalam menunjang kebutuhan domestik sehari-hari. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi sistem penyediaan air bersih sekaligus mengidentifikasi tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan yang diterima. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, penyebaran kuesioner kepada 150 responden, wawancara dengan masyarakat dan pihak terkait, serta pengujian kualitas air di laboratorium. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, analisis supply–demand air bersih, Importance–Performance Analysis (IPA), dan evaluasi kualitas air berdasarkan hasil pengujian laboratorium.
ANALISIS STRATEGI KEBIJAKAN PENGELOLAAN KUALITAS AIR SUNGAI CITARUM HULU DENGAN PENDEKATAN SISTEM DINAMIS (STUDI KASUS: KOTA BANDUNG)
Sungai Citarum Hulu merupakan sungai strategis yang berperan dalam memenuhi kebutuhan air baku di pulau Jawa dan Bali. Namun, Sungai Citarum mengalami tantangan dalam degradasi sungai dan menyebabkan Sungai Citarum masuk ke dalam satus cemar berat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi kebijakan pengelolaan kualitas air sungai dengan menggunakan sistem dinamis. Sistem dinamis digunakan untuk menangkap proses umpan balik dan interaksi antara kualitas air sungai dan dampak dari kegiatan sosial ekonomi di wilayah sungai, terutama Sungai Citarum Hulu. Pengukuran kualitas air sungai citarum dilakukan dengan metode Sanitation Foundation Water Quality Index (NSFWQI). Berdasarkan hasil uji validitas, model dinyatakan valid dan dapat digunakan dalam simulasi model pengelolaan kualitas air sungai. Hasil uji sensitivitas didapatkan faktor PDRB industri sensitif terhadap kualitas air sungai dengan nilai deviasi sebesar 2,48% untuk peningkatan 10% dan 1,14% untuk penurunan 10%. Model dinyatakan robust terhadap perubahan parameter. Dengan menggunakan SD, empat skenario optimal disimulasikan untuk menganalisis strategi kebijakan pengelolaan kualitas air sungai. Kondisi Sungai Citarum Hulu tanpa adanya perubahan pada intervensi terus mengalami penurunan hingga mencapai -16% di tahun 2035. Hasil simulasi intervensi dalam penanganan beban pencemar industri, air limbah domestik, limbah padat, dan limbah pertanian dapat meningkatkan kualitas air Sungai Citarum Hulu hingga mencapai 17% di tahun 2035. Selain itu, intervensi pada aspek sosial, edukasi, penegakan hukum dan pemantauan kualitas air sungai juga penting dalam pengelolaan kulitas air sungai. Peningkatan kualitas air sungai dapat dicapai melalui strategi kolaboratif dari aspek teknis, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan.
KAJIAN SEMBILAN KOMPONEN PASUT UTAMA TERHADAP PENDEFINISIAN CHART DATUM DI INDONESIA
Selama ini pendefinisian chart datum di Indonesia menggunakan sembilan komponen pasut utama (M2, S2, N2, K2, K1, O1, P1, M4, dan MS4) yang diperoleh dengan menggunakan metoda Admiralty yang diadopsi sejak zaman penjajahan Belanda di Indonesia. Kenyataannya adalah komponen-komponen gaya pembangkit pasut yang sudah diketahui adalah lebih dari 300 komponen. Dalam tugas akhir ini dikaji sembilan komponen tersebut sejauh mana pengaruhnya terhadap penentuan chart datum di Indonesia yang memiliki karakteristik perairan yang beragam. Untuk mengetahui pengaruh komponen-komponen pasut tersebut hal-hal yang dilakukan adalah mencari komponen pasut yang dominan, setelah mengetahui mana komponen pasut dominan maka ditentukan chart datum sesuai dengan standar IHO (Organisasi Hidrografi Internasional). Chart datum yang sudah didefinisikan kemudian diuji dengan chart datum hasil hitungan dan diuji dengan nilai air rendah hasil prediksi. Hasil dari pengujian adalah chart datum yang sudah didefinisikan dapat digunakan untuk perairan di Indonesia, chart datum tersebut identik dengan penentuan chart datum menggunakan cara yang direkomendasikan IHO di antara lima komponen dan enam komponen. Penentuan chart datum di Indonesia menggunakan paling sedikit lima komponen pasut. Kesimpulan akhir yang dapat diambil adalah terdapat lima komponen pasut dominan mempengaruhi penentuan chart datum yaitu komponen M2, K1, S2, O1, dan P1.
KONTRIBUSI MANFAAT HIDROLOGI KAWASAN KONSERVASI TAMAN HUTAN RAYA IR. H. DJUANDA DALAM KELAYAKAN FINANSIAL PERUMDA TIRTA WENING
Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda merupakan infrastruktur alami yang menjaga kualitas dan kontinuitas air baku bagi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Kota Bandung. Di sisi hilir, tingginya Non-Revenue Water (NRW) di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pakar menurunkan volume air tertagih dan berpotensi menekan kinerja finansial Perumda Tirta Wening. Penelitian ini bertujuan: (1) memetakan keterkaitan spasial hulu–hilir melalui Daerah Tangkap Air (DTA) Tahura dan Daerah Pelayanan Air (DPA) Perumda; (2) mengidentifikasi mekanisme kelembagaan kompensasi pemanfaatan air baku; dan (3) menilai kelayakan finansial program penurunan NRW dan peningkatan pelayanan IPA Pakar. Metode yang digunakan meliputi analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk delineasi DTA-DPA, analisis deskriptif untuk kelembagaan, analisis kelayakan finansial menggunakan NPV, IRR, BCR, dan Payback Period pada horizon 15 tahun (t0 2025; t1-t15 2026-2040) dengan social discount rate 7% dan analisis sensitivitas pada parameter kunci. Investasi yang dianalisis mencakup pembentukan DMA, pengembangan jaringan, smart water meter, dan pengendalian NRW dengan total CAPEX Rp224.956.514.036. Hasil menunjukkan proyek layak pada skenario dasar dengan NPV Rp38.137.783.635, IRR 8,61%, BCR 1,03, dan payback 9 tahun, namun memiliki margin of safety yang sempit dan sensitif terhadap pencapaian target NRW. Secara kelembagaan, mekanisme moneter utama adalah pembayaran BJPSDA kepada Perum Jasa Tirta II, sedangkan dukungan terhadap Tahura bersifat programatik non-finansial. Penelitian ini menegaskan perlunya implementasi penurunan NRW berbasis tahapan, pengendalian OPEX, serta penguatan tata kelola hulu-hilir untuk menjaga keandalan layanan dan keberlanjutan finansial utilitas.
DAMPAK TEKANAN PEMANGKU KEPENTINGAN DAN EFEKTIVITAS PENGAWASAN DEWAN DIREKSI TERHADAP PENGUNGKAPAN INFORMASI PENGGUNAAN AIR PERUSAHAAN
Purpose: Corporate Water Disclosure (CWD) practices are crucial for maintaining water resource availability and quality, yet they remain underexplored in business literature despite their ethical importance. Notwithstanding the increasing stakeholder demands for better water management, transparency, and risk addressing, businesses continue to struggle with effective CWD. Based on the integration of stakeholder theory and agency theory, this study aims to better comprehend the relationships between stakeholder pressures, stakeholder engagement, board monitoring effectiveness, and CWD practices. Design/Methodology/Approach: Using purposive sampling, content analysis was performed to collect data from the 200 largest non-financial Malaysia public listed companies based on market capitalisation, and the data were analysed using Partial Least Squares path modelling. Findings: Government pressure, environmental protection organisations' pressure, and employee pressures directly influence CWD. Additionally, stakeholder engagement positively impacts CWD and mediates the positive relationships between government pressure, environmental protection organisations' pressure, and CWD. Furthermore, the effectiveness of board monitoring strengthens the relationship between stakeholder engagement and CWD. Research Implications/Limitations: This study highlights the importance of both stakeholder pressures and internal governance mechanisms in enhancing transparency and accountability in corporate water management practices. Practical Implications: Businesses can improve CWD by enhancing board monitoring mechanisms. This boosts transparency, aligns with stakeholder expectations, mitigates waterrelated risks, and strengthens the company’s reputation and financial stability amidst growing pressures. Originality/Value: By examining the moderating effect of board monitoring on the relationship between stakeholder engagement and CWD, the study sheds light on the internal governance mechanisms that influence transparency in water management. This focus on board dynamics and their impact on CWD is relatively unexplored in the extant literature
KAJIAN ANALITIK SEDIMENTASI MUARA PAMAKARAN, DELTA MAHAKAM, KALIMANTAN TIMUR
Penelitian ini membahas masalah sedimentasi dengan pendekatan sediment budget. Analisis sedimen metode ini fokus pada evaluasi proses sedimen (erosi, transpor sedimen, dan pengendapan partikel sedimen), serta menunjukkan hubungan korelasi antar faktor seperti kecepatan arus, pasut, ukuran butiran sedimen, dan konsentrasi kekeruhan air. Faktor-faktor tersebut yang mengakibatkan sedimentasi akan dibuktikan melalui eksperimen lapangan dengan melakukan pengukuran kecepatan arus, pengukuran tinggi muka air (pasang surut), pengambilan sampel air, dan pengambilan sedimen dasar perairan. Dengan adanya informasi mengenai kecepatan arus dan konsentrasi sampel air, maka pengukuran mengenai besaran laju transpor sedimen yang terjadi pada daerah studi ini dapat dilakukan. Proses sedimen (erosi, transportasi, dan deposisi) dapat diketahui dengan melihat hubungan kecepatan arus dan besaran ukuran butiran sedimen dasar perairan.
PERANCANGAN SISTEM PLAMBING AIR BERSIH, AIR BUANGAN, VENT, AIR HUJAN, DAN SISTEM PEMADAM KEBAKARAN PADA GEDUNG RUMAH SUSUN X DI JAKARTA PUSAT: FOKUS AIR HUJAN DAN PEMADAM KEBAKARAN
Pembangunan hunian vertikal seperti Gedung Rumah Susun X di Jakarta Pusat, memerlukan perancangan sistem plambing yang andal untuk menjamin keamanan dan keberlanjutan. Penulisan Tugas Akhir ini bertujuan untuk merancang sistem plambing air hujan dan sistem pemadam kebakaran yang efektif, serta menganalisis kelayakan teknis dan ekonominya. Metodologi yang digunakan meliputi studi literatur terhadap standar SNI dan NFPA, serta evaluasi tiga alternatif sistem (konvensional, pengolahan terpusat, dan daur ulang) menggunakan metode Simple Additive Weighting (SAW) berdasarkan enam kriteria. Hasil analisis menunjukkan bahwa Alternatif 3, yang mengintegrasikan pemanenan air hujan dan daur ulang air limbah domestik (grey water), merupakan sistem yang paling unggul. Desain teknis sistem terpilih mencakup jaringan perpipaan air hujan dengan talang dan pipa PVC berdiameter hingga 100 mm, serta sistem pemadam kebakaran gabungan (sprinkler dan hidran) yang membutuhkan debit pompa total 997,284 L/menit pada tekanan 12,998 bar dengan volume tangki 70 m³. Analisis finansial dengan umur proyek 20 tahun menunjukkan kelayakan proyek dengan total biaya investasi (CAPEX) sebesar Rp2.662.833.555,00, Net Present Value (NPV) sebesar Rp1.526.033.475,84 dan Benefit-Cost Ratio (BCR) 1,102.
KAJIAN KEBUTUHAN AIR MINUM RUMAH TANGGA DI KABUPATEN BENGKALIS PROVINSI RIAU
Studi ini menganalisis kebutuhan air minum rumah tangga di Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, Indonesia. Tujuannya adalah untuk menilai pola konsumsi air, mengidentifikasi faktor sosial ekonomi dan lingkungan yang memengaruhi, serta mengevaluasi kemampuan dan kemauan masyarakat untuk terhubung dengan layanan PDAM. Studi ini juga mengkaji persepsi kualitas air rumah tangga serta implikasinya terhadap rekomendasi tarif yang sesuai dengan standar keterjangkauan. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari survei rumah tangga terstruktur melalui platform mWater serta data primer dari pengambilan sampel kualitas air di beberapa kecamatan terpilih. Hasil menunjukkan rata-rata konsumsi air sebesar 133,18 liter per orang per hari, dengan ukuran rumah tangga berpengaruh signifikan terhadap jumlah penggunaan. Faktor sosial ekonomi seperti pendapatan, pendidikan, dan pekerjaan juga memengaruhi tingkat konsumsi dalam berbagai tingkat. Rata-rata kemampuan membayar (ATP) masyarakat adalah sebesar Rp. 217.095 per bulan, yang melebihi batas keterjangkauan 4% berdasarkan UMR Kabupaten Bengkalis. Analisis laboratorium menunjukkan bahwa banyak sumber air non-PDAM tidak memenuhi standar kualitas air minum nasional, memperkuat urgensi pengembangan layanan air perpipaan. Untuk menjaga keterjangkauan, direkomendasikan tarif maksimum sebesar Rp. 157.345 per bulan, setara dengan Rp. 9.530 per meter kubik untuk 10 m³ pertama.
PROYEKSI PERUBAHAN CURAH HUJAN AKIBAT PERUBAHAN IKLIM SERTA DAMPAKNYA TERHADAP DEBIT DAN PRODUKSI LISTRIK DI PLTA MRICA
Penelitian ini menganalisis perubahan curah hujan, debit masuk (inflow), dan produksi listrik di PLTA Mrica dengan menggunakan data historis (1985–2014) dari CHIRPS (Climate Hazards Group InfraRed Precipitation with Station data) serta lima model iklim global (GCM) dalam kerangka CMIP6. Proyeksi iklim masa depan disusun berdasarkan skenario SSP5-8.5 (Shared Socioeconomic Pathway 5), yang merepresentasikan jalur emisi tertinggi. Skenario ini digunakan untuk menilai dampak maksimum perubahan iklim terhadap keandalan pembangkit listrik tenaga air pada periode 2021–2100 (IPCC, 2021). Proyeksi curah hujan resolusi tinggi diperoleh melalui metode statistical downscaling berbasis delta, yang menerapkan anomali tetap antara kondisi masa depan dan historis pada data observasi. Metode ini lebih efisien secara komputasi dibandingkan pendekatan dinamis, dan lazim digunakan dalam studi dampak jangka panjang (Wilby.,dkk 1997; IPCC., 2021). Hasil menunjukkan peningkatan curah hujan selama musim hujan, terutama Januari hingga Maret, yang diproyeksikan naik hingga +2,5 mm/hari atau sekitar 30–40% dibandingkan nilai historis. Sebaliknya, musim kemarau (Juni hingga September) diperkirakan mengalami penurunan hingga ?1,5 mm/hari atau 25–40%, bergantung pada periode dan bulan tertentu. Data historis menunjukkan bahwa curah hujan bulanan minimal 100–120 mm dibutuhkan untuk menjaga inflow yang memadai selama musim kemarau. Variabilitas curah hujan seperti keterlambatan musim hujan atau periode kering dapat mengurangi jam operasi turbin dan menurunkan produksi energi. Temuan ini menegaskan pentingnya pemanfaatan proyeksi iklim dalam pengelolaan waduk yang adaptif guna menjaga ketahanan sistem pembangkit terhadap ketidakpastian iklim di masa depan.
SIMULASI PERUBAHAN TEMPERATUR AIR DANAU CIRATA AKIBAT PLTS TERAPUNG CIRATA 192 MWP MENGGUNAKAN GENERAL LAKE MODEL
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung Cirata 192 MWP di Jawa Barat adalah PLTS Terapung terbesar di Asia Tenggara. Namun, dampak lingkungannya terhadap dinamika termal danau di wilayah tropis belum sepenuhnya dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh PLTS terapung terhadap keseimbangan suhu permukaan dan stratifikasi air menggunakan pemodelan satu dimensi yaitu General Lake Model (GLM). Pemodelan simulasi empat skenario tutupan PLTS (0%, 4%, 20%, dan 60%) menunjukkan bahwa PLTS terapung secara signifikan mengurangi suhu permukaan air danau, dengan penurunan rata-rata bila dibandingkan dengan tanpa tutupan PLTS terjadi sebesar 0,3°C untuk tutupan 4% dan 1,0°C untuk tutupan 20% bahkan hingga 1,8°C pada tutupan 60%. Selain itu, PLTS juga menurunkan frekuensi hari dengan suhu ekstrem (>30°C) sebanyak 2,73% pada tutupan 4% sedangkan pada tutupan 20% menurunkan kejadian 2,73% dan penurunan meningkat jauh di tutupan 60% menjadi 6,38% dibandingkan kondisi tanpa tutupan PLTS di danau tersebut. Penelitian ini mendukung bukti bahwa PLTS terapung tidak hanya berpotensi sebagai sumber energi bersih untuk solusi Net Zero Emission, tetapi juga sebagai alat mitigasi dampak perubahan iklim mikro pada ekosistem perairan. Rekomendasi praktis meliputi ekspansi PLTS hingga 20% atau lebih pada tutupan permukaan danau dengan pemantauan berkala parameter kualitas air untuk memastikan keberlanjutan ekologis dan memperhatikan aspek sosial pada penggunaan lahan di danau untuk keperluan lainnya seperti karamba apung.
PERANCANGAN UNIT INTAKE DAN SALURAN TRANSMISI INSTALASI PENGOLAHAN AIR (IPA) PESANGGRAHAN KOTA JAKARTA SELATAN
Di perkotaan yang padat seperti DKI Jakarta, ketersediaan layanan air perpipaan menjadi faktor krusial dalam menjamin akses terhadap air bersih yang layak. Namun, cakupan pelayanan air perpipaan di DKI Jakarta hingga saat ini masih belum mencapai 100%, karena terdapat wilayah yang belum mendapatkan akses air perpipaan secara optimal, salah satunya adalah Kota Jakarta Selatan. Sesuai dengan komitmen yang dibuat oleh PAM Jaya yaitu 100% capaian pelayanan air perpipaan di Provinsi DKI Jakarta pada 2030, maka diperlukan upaya strategis dalam meningkatkan kapasitas produksi dan distribusi air bersih dengan pembangunan Instalasi Pengolahan Air. Lokasi dibangunnya IPA Pesanggrahan terdapat di tanah kosong milik PAM JAYA di Jalan Cireunde Permai Raya, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan. Berdasarkan survey lapangan, lokasi Intake direncakan berada sekitar 200 meter dari Lokasi Instalasi Pengolahan Air yang direncanakan dengan memanfaatkan Sungai Pesanggrahan sebagai sumber air baku, Luas Lokasi intake Pesanggrahan kurang lebih sebesar 2000 m2. Pada unit intake terdapat barscreen, pintu air, pipa inlet, sumur pengumpul, pipa suction, rumah pompa, pipa discharge, rumah genset, dan pos satpam. Proyek ini direncanakan mulai dari Tahun 2025, kemudian pembangunan dimulai dari Tahun 2026 dan ditargetkan selesai pada 2028, sehingga dapat mulai beroperasi pada Tahun 2029. Berdasarkan hasil perhitungan proyeksi kebutuhan air, debit pengolahan IPA Pesanggrahan untuk 24 tahun kedepan sebesar 860 L/s. Analisis ekonomi juga dilakukan dan didapatkan anggaran biaya investasi (CAPEX) untuk unit intake dan saluran transmisi adalah sebesar Rp31.009.866.197,71, sedangkan untuk biaya operasional (OPEX) pertahunnya adalah sebesar Rp7.970.043.808,00. IPA Pesanggrahan direncanakan akan mendapatkan pemasukan dari penjualan air dengan tarif per m3 sebesar Rp5.500 dan akan naik 10% per 5 tahun. Berdasarkan analisis finansial dengan metode NPV didapati nilai positif sebesar Rp78.389.173.723,49 sehingga proyek dinyatakan layak, begitu juga dengan metode BCR yang mendapat angka lebih dari 1 yaitu 1,1 sehingga proyek untuk IPA Pesanggrahan dikatakan layak secara finansial. Untuk Payback period nya adalah 14 tahun.
UNIT INTAKE DAN SALURAN TRANSMISI INSTALASI PENGOLAHAN AIR (IPA) PESANGGRAHAN KOTA JAKARTA SELATAN
Di perkotaan yang padat seperti DKI Jakarta, ketersediaan layanan air perpipaan menjadi faktor krusial dalam menjamin akses terhadap air bersih yang layak. Namun, cakupan pelayanan air perpipaan di DKI Jakarta hingga saat ini masih belum mencapai 100%, karena terdapat wilayah yang belum mendapatkan akses air perpipaan secara optimal, salah satunya adalah Kota Jakarta Selatan. Sesuai dengan komitmen yang dibuat oleh PAM Jaya yaitu 100% capaian pelayanan air perpipaan di Provinsi DKI Jakarta pada 2030, maka diperlukan upaya strategis dalam meningkatkan kapasitas produksi dan distribusi air bersih dengan pembangunan Instalasi Pengolahan Air. Lokasi dibangunnya IPA Pesanggrahan terdapat di tanah kosong milik PAM JAYA di Jalan Cireunde Permai Raya, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan. Berdasarkan survey lapangan, lokasi Intake direncakan berada sekitar 200 meter dari Lokasi Instalasi Pengolahan Air yang direncanakan dengan memanfaatkan Sungai Pesanggrahan sebagai sumber air baku, Luas Lokasi intake Pesanggrahan kurang lebih sebesar 2000 m2 . Pada unit intake terdapat barscreen, pintu air, pipa inlet, sumur pengumpul, pipa suction, rumah pompa, pipa discharge, rumah genset, dan pos satpam. Proyek ini direncanakan mulai dari Tahun 2025, kemudian pembangunan dimulai dari Tahun 2026 dan ditargetkan selesai pada 2028, sehingga dapat mulai beroperasi pada Tahun 2029. Berdasarkan hasil perhitungan proyeksi kebutuhan air, debit pengolahan IPA Pesanggrahan untuk 24 tahun kedepan sebesar 860 L/s. Analisis ekonomi juga dilakukan dan didapatkan anggaran biaya investasi (CAPEX) untuk unit intake dan saluran transmisi adalah sebesar Rp31.009.866.197,71, sedangkan untuk biaya operasional (OPEX) pertahunnya adalah sebesar Rp7.970.043.808,00. IPA Pesanggrahan direncanakan akan mendapatkan pemasukan dari penjualan air dengan tarif per m3 sebesar Rp5.500 dan akan naik 10% per 5 tahun. Berdasarkan analisis finansial dengan metode NPV didapati nilai positif sebesar Rp78.389.173.723,49 sehingga proyek dinyatakan layak, begitu juga dengan metode BCR yang mendapat angka lebih dari 1 yaitu 1,1 sehingga proyek untuk IPA Pesanggrahan dikatakan layak secara finansial. Untuk Payback period nya adalah 14 tahun.
PENILAIAN FUNGSI HIDROLOGIS KAWASAN TAMAN HUTAN RAYA IR. H. DJUANDA SEBAGAI PENYEDIA KEBUTUHAN AIR SEKTOR RUMAH TANGGA DI SEKITAR KOTA BANDUNG, JAWA BARAT
Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda merupakan kawasan hutan terluas yang menyediakan jasa hidrologis untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat di Kota Bandung. Jasa hidrologis yang dihasilkan oleh kawasan hutan memiliki nilai manfaat yang masih sulit untuk dinilai dengan sistem pasar. Akibatnya, nilai kawasan hutan sering kali jauh lebih rendah dari yang seharusnya. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan memetakan Daerah Tangkapan Air (DTA) dan Daerah Pengguna Air (DPA) di dan dari kawasan Tahura Ir. H. Djuanda serta menghitung nilai ekonomi fungsi hidrologis kawasan di kawasan Tahura Ir. H. Djuanda dengan pendekatan supply-side dan demand-side untuk sektor rumah tangga. Penelitian ini dilakukan dengan mengukur debit air serta pengisian kuesioner kepada 228 responden pengguna air. Metode analisis data menggunakan Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis (RS/GIS), pendekatan supply-side dengan Marginal Cost Pricing, dan pendekatan demand-side dengan metode biaya pengadaan sebagai modifikasi dari metode Travel Cost Method. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa DTA di dalam kawasan Tahura Ir. H. Djuanda seluas 543.05 Ha dengan jumlah mata air yang terverifikasi sebanyak 19 titik. DPA tersebar di sepanjang Sungai Cikapundung yang mengalir di Kota Bandung sebanyak 16 kelurahan dan 3 desa dengan total luas sebesar 2985.97 Ha. Harga air yang dihasilkan dari kawasan Tahura Ir. H. Djuanda dari pendekatan supply-side Rp10.693,79/m3 dan pendekatan demand-side Rp8.264,94/m3. Untuk estimasi nilai ekonomi fungsi hidrologis dari kawasan Tahura Ir. H. Djuanda pada tahun 2024 sebesar Rp1.501.128.261.992,23.