📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 1 dokumenPERANCANGAN PANTI SOSIAL SEBAGAI KATALISATOR PEMBERDAYAAN ANAK DAN IBU MELALUI RUANG PENGEMBANGAN KOMPETENSI YANG HUMANIS DI KOTA BANDUNG
Tingginya angka kemiskinan dan jumlah anak terlantar di Indonesia adalah isu yang belum terselesaikan hingga saat ini. Keduanya memiliki keterkaitan erat, di mana anak terlantar ada akibat kelalaian orang tua atas ketidakmampuannya melaksanakan kewajiban dalam memenuhi kebutuhan anak dengan baik karena permasalahan kemiskinan. Anak terlantar juga berpotensi memperoleh komplikasi permasalahan lainnya, seperti kesulitan dalam berkembang dan tumbuh dengan baik, hingga keterbatasan akses menuju pendidikan. Hal ini tidak sesuai dengan SDGs pertama yang menyatakan bahwa masyarakat miskin memiliki hak yang sama terhadap sumber daya ekonomi, serta akses terhadap pelayanan dasar, termasuk pendidikan. Kondisi keterbatasan akses tersebut menyebabkan ketidaksesuaian dengan SDGs keempat yang membawahi prinsip kesetaraan akses seluruh anak terhadap pendidikan. Beranjak dari ketidaksesuaian tersebut, perancangan ini memfokuskan pemberantasan kemiskinan dengan pemerataan akses pendidikan dalam konsep perancangannya. Berbagai sumber media publik telah menyoroti isu terkait kemiskinan dan anak terlantar di Indonesia, khususnya Kota Bandung. Saat ini, masih dengan mudah kita jumpai anak-anak yang seharusnya tinggal di lingkungan yang memadai, justru berkeliaran dengan bebas di jalanan, mengamen dan meminta pecahan-pecahan uang demi menghidupi dirinya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa isu tersebut memiliki urgensi yang krusial dan harus segera diselesaikan, terlebih Kota Bandung merupakan Ibu Kota Jawa Barat yang seharusnya dapat menjadi contoh bagi wilayah lainnya di Jawa Barat. Perancangan ini memprioritaskan kesesuaian dengan konteks dan isu yang berada di dalam masyarakat sehingga memiliki fleksibilitas dan sensivitas terhadap kebutuhan mendasar dalam tumbuh-kembang anak. Tidak hanya sekadar menyediakan tempat tinggal bagi anak-anak, perancangan ini juga dirancang dengan berfokus pada pembentukan individu yang utuh melalui penerapan prinsip Hierarchy of Needs dari Abraham Maslow. Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan sekaligus mengasah keterampilan setiap anak sesuai dengan minat dan bakatnya, perancangan ini menginterpretasikan Multiple Intelligences Theory milik Howard Gardner melalui program ruangnya yang menyediakan berbagai ruang khusus untuk mengasah berbagai minat dan bakat, seperti sanggar seni anak yang mewadahi berbagai aktivitas seni dan lapangan terbuka untuk memfasilitasi kegiatan fisik, membantu anak-anak untuk dapat tumbuh sehat, aktif, sekaligus melatih motorik mereka. Pemilihan tapak untuk perancangan ini telah mempertimbangkan berbagai macam aspek teknis maupun non teknis. Ditetapkanlah tapak perkebunan yang beralamatkan Jalan Sanggar Kencana XXVI, Kota Bandung, dengan KDB 70%, KLB 2.1, KDH Minimum 20%, serta GSB 0. Tapak ini dinilai ideal, karena berada di lingkungan yang relatif kondusif dan dekat dengan berbagai fasilitas umum, seperti komersial dan UMKM masyarakat. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi literatur yang berasal dari jurnal dan artikel ilmiah dalam kurun waktu 10-15 tahun yang lalu dan analisis komparatif dengan membandingkan preseden-preseden terbangun maupun rencana pembangunan yang berkaitan. Dengan adanya perancangan ini, diharapkan angka kemiskinan dapat menurun dengan lahirnya generasi yang memiliki bekal keterampilan dan ilmu sehingga mereka mampu untuk bersaing di dunia luar dan menciptakan masa depan yang lebih baik untuk diri sendiri, lingkungan, dan masyarakat.