📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenANALISIS KONTRIBUSI KOMPONEN STRUKTUR TERHADAP TOTAL EMBODIED CARBON PADA PROYEK GEDUNG BERTINGKAT
Sektor lingkungan binaan menyumbang sekitar 37% emisi CO? global, dan proporsi embodied carbon (EC) material diprediksi akan mendominasi jejak karbon bangunan baru seiring membaiknya efisiensi energi operasional. Namun, ketiadaan profil embodied carbon pada proyek gedung bertingkat di Indonesia, yang diperberat oleh terbatasnya basis data emisi material lokal, menyebabkan titik-titik utama (hotspot) emisi tidak dapat diidentifikasi sehingga strategi dekarbonisasi tidak dapat dirumuskan secara tepat sasaran. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hotspot dekarbonisasi pada level material, komponen struktur, dan fase siklus hidup, serta merumuskan rekomendasi strategi mitigasi yang relevan bagi proyek gedung bertingkat beton bertulang. Metode yang digunakan adalah process-based Life cycle assessment mengacu pada kerangka ISO 14040/14044 dengan batasan sistem Modul A1–A5 menurut EN 15978, diterapkan pada studi kasus tunggal Gedung CIBE ITB, bangunan 9 level berstruktur beton bertulang murni dengan gross floor area 11.000 m². Hasil penelitian menunjukkan total EC sebesar 2.646.167 kgCO?e atau 240,56 kgCO?e/m², dengan fase produksi material (A1–A3) mendominasi sebesar 97,93%, diikuti fase konstruksi (A5) 1,56% dan fase transportasi (A4) 0,52%. Balok merupakan komponen dengan kontribusi terbesar (42,9%), diikuti pelat (36,2%) dan kolom (20,9%). Volume beton teridentifikasi sebagai prediktor terkuat total EC, sedangkan EC fase konstruksi lebih ditentukan elevasi lantai daripada volume material. Disimpulkan bahwa hotspot dekarbonisasi teridentifikasi pada fase produksi material, komponen balok, material beton, dan operasional alat berat pekerjaan tanah, yang masing-masing menjadi dasar perumusan rekomendasi strategi mitigasi.
PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM PELATIHAN MODEL KLASIFIKASI TIPOLOGI BANGUNAN UNTUK ESTIMASI KERUSAKAN DALAM ASESMEN RISIKO SEISMIK
Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama sehingga memiliki risiko seismik tinggi, diperparah oleh banyaknya rumah non-engineered yang rentan terhadap gempa. Penilaian risiko seismik memerlukan klasifikasi tipologi bangunan untuk menentukan kerentanannya. Namun, metode survei lapangan manual tidak efisien dan sulit diskalakan. Penelitian ini merumuskan masalah: bagaimana merancang dan mengimplementasikan sistem terintegrasi untuk pembuatan, pelatihan, dan perbaikan model klasifikasi tipologi bangunan guna mendukung asesmen risiko seismik. Tujuannya adalah mengotomatisasi alur kerja yang sebelumnya terfragmentasi, termasuk anotasi berbantuan model, konfigurasi pelatihan, dan deployment. Metodologi yang digunakan adalah Design Thinking melalui tahapan empathize, define, ideate, prototype, dan test. Sistem berbasis web dikembangkan dengan arsitektur deteksi objek satu tahap (YOLO) yang terintegrasi dengan modul manajemen tipologi, anotasi, pelatihan, dan pengujian. Hasil pengujian menunjukkan seluruh kebutuhan fungsional dan non-fungsional terpenuhi, dengan efisiensi waktu interaksi pengguna meningkat 51,67% dibanding metode manual. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa platform MLOps terintegrasi khusus untuk domain risiko seismik di Indonesia, yang memudahkan pembaruan model klasifikasi tipologi bangunan secara cepat dan konsisten, sehingga dapat mempercepat proses asesmen risiko dan mendukung pengambilan keputusan mitigasi bencana.
STUDI SENSITIVITAS OVERALL THERMAL TRANSFER VALUE DAN KINERJA BANGUNAN BERDASARKAN VARIABEL DESAIN FASAD KANTOR BERTINGKAT TINGGI
Sektor bangunan gedung merupakan salah satu target implementasi program konservasi dan efisiensi energi oleh Pemerintah Indonesia. Gedung kantor adalah sub-sektor dengan konsumsi energi tertinggi. Sementara itu, gedung kantor terus mengalami pertumbuhan positif. Di Jakarta, gedung kantor bertingkat tinggi dengan fasad curtainwall menjadi tren. Fasad tipe ini memiliki banyak keunggulan namun memiliki kinerja energi dan pencahayaan alami yang lebih rendah dibandingkan konstruksi dinding-bukaan. Di Indonesia, desain fasad gedung bertingkat tinggi diatur dalam regulasi SNI 6389: 2020 tentang konservasi selubung bangunan melalui standar OTTV. OTTV tidak bertujuan merepresentasikan kinerja bangunan namun OTTV masih menjadi prioritas utama dibandingkan perhitungan berbasis kinerja sehingga perhitungan OTTV tetap harus dilakukan dalam perancangan berbasis simulasi kinerja. Studi ini bertujuan mengidentifikasi sensitivitas OTTV, IKE, UDI, dan sGA berdasarkan studi karakteristik desain fasad kantor bertingkat tinggi di Jakarta. Analisis karakteristik desain fasad menggunakan figure ground dan kajian literatur. Figure ground dilakukan terhadap 39 gedung di Kawasan MH Thamrin, Sudirman, dan Kuningan. Hasil studi menunjukkan WWR 61-80%, tipe shading horizontal atau vertikal dengan peletakan mengikuti frame, dan spandrel dengan lapisan terluar kaca. Temuan ini kemudian digunakan sebagai pertimbangan model dan nilai variabel input. Variabel input adalah bentuk massa dan desain fasad. Variabel bentuk massa terdiri dari orientasi dan aspect ratio. Variabel desain fasad terdiri dari WWR, tipe shading, jumlah posisi shading, material kaca vision area, dan material kaca spandrel. Bentuk massa dianalisis menggunakan analisis tren. Hasil menunjukkan semakin besar nilai AR maka semakin besar sensitivitas IKE dan OTTV akibat orientasi. Sedangkan desain fasad dianalisis menggunakan multiple linear regression kemudian dilakukan pemeringkatan SRCs untuk mengkomparasikan signifikansi antar variabel desain fasad. Hasil menunjukkan variabel yang signifikan (koefisien regresi >0,50) adalah properti SC dan VT kaca vision area. Variabel kurang signifikan (koefisien regresi 0,30 – 0,49) adalah WWR dan shading. WWR signifikan untuk seluruh objektif. Sedangkan strategi shading hanya signifikan teradap IKE dan UDI-e. Namun tidak seluruh desain shading signifikan.