📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 26 dokumenPERANCANGAN INSTALASI IMERSIF INTERAKTIF UNTUK MENINGKATKAN INTERAKSI DENGAN ALAM PADA GENERASI Z DI KAWASAN URBAN
Perkembangan teknologi digital telah meningkatkan intensitas penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari, khususnya pada Generasi Z yang tinggal di kawasan urban yang tumbuh sebagai digital native. Tingginya intensitas screen time pada Generasi Z, telah diketahui sebelumnya berdampak negatif terhadap kesehatan mental. Di sisi lain, berbagai penelitian menunjukkan bahwa peningkatan waktu berinteraksi dengan alam (green time) bermanfaat dalam mendukung kesejahteraan mental dan membantu menurunkan tingkat stres. Namun, implementasi green time untuk generasi Z yang tinggal di wilayah urban sangat sulit dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini menawarkan solusi dengan perancangan media yang mengemas konsep green time tersebut dalam bentuk pengalaman interaktif berbasis ruang yang dekat dengan karakteristik Generasi Z. Penelitian ini bertujuan merancang sebuah instalasi ruang imersif interaktif dengan konsep “Reconnecting with Nature” bagi Generasi Z di lingkungan urban. Hasil penelitian diterjemahkan ke dalam perancangan instalasi interaktif berbasis projection mapping yang memadukan elemen visual, cahaya, ruang, suara, dan partisipasi pengguna melalui interaksi dengan tanaman. Hasil perancangan menunjukkan bahwa pendekatan ruang imersif interaktif ini berpotensi menciptakan pengalaman yang menarik, reflektif, dan personal, sehingga dapat meningkatkan kesadaran pengguna terhadap pentingnya menjaga keseimbangan antara screen time dan green time. Perancangan ini diharapkan dapat menjadi alternatif media interaktif yang mendukung kesejahteraan psikologis Generasi Z yang tinggal di lingkungan urban.
PERANCANGAN KAMPANYE SOSIAL “HP’TAK UMPETIN” SEBAGAI UPAYA PENGURANGAN PENGGUNAAN GAWAI PADA ANAK USIA 6—12 TAHUN
Perkembangan teknologi digital dalam dua dekade terakhir telah mengubah ekosistem bermain anak di Indonesia. Anak-anak usia 6–12 tahun kini menghabiskan 3–6 jam per hari di depan gawai, yang berdampak pada meningkatnya ketergantungan digital serta pola distracted parenting pada orang tua urban, sementara permainan tradisional seperti petak umpet kian ditinggalkan karena dianggap kuno. Padahal, petak umpet memiliki nilai edukatif, sosial, dan budaya penting bagi perkembangan anak, serta mekanisme "mencari dan bersembunyi" yang berpotensi diadaptasi secara metaforis untuk mengajak orang tua "menyembunyikan" gawai anak. Penelitian ini mengidentifikasi tiga permasalahan utama: tingginya ketergantungan gawai pada anak, menurunnya minat terhadap petak umpet dan permainan tradisional lain, serta ketiadaan strategi komunikasi visual yang memanfaatkan struktur permainan ini sebagai medium partisipatif. Perancangan menggunakan kerangka Design Thinking (Empathize, Define, Ideate, Prototype), dengan data primer berupa wawancara semi-terstruktur terhadap orang tua, anak, dan konsultan ahli, serta observasi digital, yang dianalisis melalui teknik interaktif Miles dan Huberman dan ditriangulasikan untuk merumuskan creative brief. Tujuan penelitian ini adalah merancang kampanye sosial "HP'tak Umpetin" yang mengasosiasikan petak umpet sebagai medium partisipatif bagi orang tua untuk berani membatasi gawai anak. Hasil perancangan berupa identitas visual, messaging framework berjenjang (Aware–Act–Advocate), serta purwarupa Game Kit petak umpet yang direalisasikan dalam batas anggaran terbatas. Kampanye ini memberikan kontribusi teoretis bagi kajian Desain Komunikasi Visual dan Behavior Change Communication, serta kontribusi praktis berupa kerangka kampanye yang dapat direplikasi oleh komunitas dan industri kreatif.
ANALISIS AKSESIBILITAS LAYANAN TRANSPORTASI PUBLIK DI ERA DIGITALISASI BERDASARKAN PERSEPSI DAN PREFERENSI PENYANDANG DISABILITAS DAKSA (STUDI KASUS: DKI JAKARTA)
Penyandang disabilitas daksa di Jakarta sering diasumsikan tereksklusi dalam pengunaan transportasi publik akibat keterbatasan infrastruktur fisik. Penelitian ini menguji asumsi tersebut melalui studi terhadap 20 responden penyandang disabilitas daksa di wilayah Jabodetabek menggunakan kuesioner terstruktur, FGD, observasi terarah, dan wawancara dengan analisis data melalui statistik deskriptif, Exploratory Factor Analysis berbasis Principal Component Analysis, serta Binary Logit Model tiga tahap. Hasil observasi lapangan dan FGD menunjukkan bahwa ketergantungan tinggi pada ojek online bukan mencerminkan preferensi, melainkan respons adaptif terhadap ketiadaan layanan feeder yang menjangkau titik asal (firstmile) dan tujuan perjalanan (last-mile). Selain itu, hasil kuesioner persepsi menunjukkan bahwa meskipun kondisi infrastruktur fisik masih dinilai buruk, persepsi terhadap aplikasi transportasi digital justru menjadi dimensi yang paling positif. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa digitalisasi berperan membantu perencanaan dan kepastian informasi perjalanan, namun tidak dapat menggantikan kebutuhan dasar berupa aksesibilitas fisik yang memadai. Hambatan yang paling dirasakan pun bukan ketidakmampuan menaiki kendaraan, melainkan kelelahan fisik kumulatif akibat lemahnya konektivitas antarmoda. Dalam pemilihan moda, hasil estimasi Binary Logit Model menunjukkan bahwa ketersediaan feeder penjemputan dan kehadiran petugas bantuan justru lebih menentukan dibandingkan tarif maupun kondisi fisik armada, dengan jenis disabilitas dan tingkat pendapatan sebagai faktor sosiodemografi yang memengaruhi preferensi tersebut secara signifikan. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa aksesibilitas transportasi publik bagi penyandang disabilitas daksa membutuhkan pendekatan sistemik yang memprioritaskan integrasi jaringan feeder dan keandalan layanan operasional, tidak dapat diselesaikan melalui perbaikan infrastruktur fisik semata.
INOVASI LAYANAN TRANSPORTASI DARING MELALUI KECERDASAN GEOSPASIAL: KERANGKA STRATEGI PRODUK (STUDI: PT GOTO GOJEK TOKOPEDIA TBK)
Platform ride-hailing di Indonesia bergantung pada infrastruktur geospasial — peta digital, mesin perutean, prediksi ETA, dan kecerdasan lokasi — untuk setiap transaksi. Namun, manajer produk belum memiliki kerangka kerja sistematis untuk memprioritaskan investasi geospasial, dan literatur yang ada belum membahas bagaimana kapabilitas teknis geospasial diterjemahkan menjadi nilai bisnis di pasar negara berkembang. Penelitian ini mengatasi kesenjangan tersebut dengan mengembangkan Kerangka Strategi Produk Geospasial yang disesuaikan dengan pasar ride-hailing Indonesia, di mana sistem pengalamatan informal, dominasi transportasi roda dua (74,18% dari total perjalanan), dan geografi kepulauan menciptakan tantangan yang tidak terjawab oleh solusi global. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran yang mengintegrasikan teori Jobs-to-be-Done, Product-Market Fit, dan Platform Strategy dengan analisis empiris terhadap delapan wawancara ahli dan 4.806 ulasan pengguna. Pengkodean kualitatif menggunakan ATLAS.ti menghasilkan 275 kutipan dalam delapan keluarga kode, sementara analisis sentimen kuantitatif berbasis NLP mengungkapkan Frequency-Severity Disconnect: akurasi lokasi mendominasi volume keluhan (26,7%), namun permasalahan perutean mendapatkan penilaian keparahan tertinggi (rata-rata 1,55 bintang) dan berfungsi sebagai silent killer retensi pengguna. Tiga konsep emergen melandasi temuan: Invisible Product Paradox, di mana kapabilitas geospasial tidak disadari saat berfungsi namun sangat terlihat saat gagal; Silent Killer Effect, di mana penurunan kualitas menggerus kepercayaan sebelum tercermin dalam metrik standar; dan Frequency-Severity Disconnect antara frekuensi keluhan dan keparahan dampak. Konsep ini mendasari Three-Layer Integration Model yang terdiri dari Job-to-Geo Impact Matrix untuk prioritisas investasi, PMF Threshold Metrics Framework untuk tolok ukur kualitas, dan Build-vs-Buy Geospatial Sourcing Decision Framework untuk keputusan pengadaan teknologi. Kerangka kerja ini menawarkan alternatif terstruktur terhadap pengambilan keputusan geospasial ad hoc bagi pemimpin produk, serta berkontribusi pada literatur akademis mengenai strategi layanan berbasis lokasi di Asia Tenggara.
MENINGKATKAN KESADARAN MEREK DAN PROFITABILITAS PAPERMARK DENGAN BLUE OCEAN STRATEGY
Penelitian ini menganalisis tingkat brand awareness dan brand identity Papermark, sebuah merek alat tulis kreatif berbasis di Jakarta, melalui perumusan rekomendasi strategis untuk meningkatkan daya saing di industri gaya hidup dan alat tulis di Indonesia. Meskipun mengalami pertumbuhan yang konsisten, Papermark masih menghadapi tantangan dalam visibilitas merek, jangkauan digital, serta interaksi pelanggan di tengah persaingan dengan merek baru maupun yang telah mapan. Penelitian ini mengkaji faktor-faktor utama yang memengaruhi brand awareness, mengidentifikasi kesenjangan antara persepsi internal perusahaan dan pengalaman konsumen, serta merumuskan strategi untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan. Metode kualitatif dan kuantitatif digunakan untuk memberikan evaluasi mendalam terhadap tantangan yang dihadapi merek serta peluang pengembangannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods yang mengombinasikan teknik kuantitatif dan kualitatif. Tahap kuantitatif dilakukan melalui survei daring yang dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji reliabilitas, sementara tahap kualitatif dilakukan melalui wawancara terstruktur dengan pemangku kepentingan internal, pelanggan loyal, dan calon konsumen. Survei mengukur persepsi konsumen terhadap daya tarik visual Papermark, fungsi produk, fitur personalisasi, visibilitas digital, serta tingkat pengingatan merek. Pendekatan ini menghasilkan evaluasi komprehensif terhadap kinerja merek Papermark dari berbagai perspektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Papermark dipersepsikan secara positif dari segi kualitas produk dan konsistensi desain visual. Namun, tingkat brand awareness masih terbatas akibat lemahnya keterlibatan digital dan minimnya upaya pembentukan komunitas. Sebagian besar konsumen mengenal Papermark melalui kanal offline dibandingkan pemasaran digital. Selain itu, audiens yang lebih muda cenderung mengaitkan merek alat tulis dengan aktivitas digital yang kuat, konten interaktif, dan kolaborasi kreatif, yang hingga saat ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh Papermark. Hasil wawancara mengindikasikan adanya fokus yang lebih kuat pada aspek operasional dibandingkan pembangunan merek jangka panjang, yang berkaitan dengan belum adanya struktur pemasaran yang jelas. Meskipun pelanggan loyal menghargai identitas visual Papermark, kekuatan tersebut belum dikomunikasikan secara efektif. Calon konsumen menilai produk Papermark menarik, namun menyoroti keterbatasan dampak merek dalam lingkungan digital yang didominasi oleh tren dan konten berbasis influencer. Penelitian ini merekomendasikan strategi pembangunan merek yang berfokus pada penguatan komunitas digital untuk meningkatkan brand awareness dan loyalitas, melalui konten yang konsisten dan berlandaskan identitas merek, kolaborasi dengan komunitas kreatif, aktivasi konten buatan pengguna (user-generated content), serta praktik keterlibatan yang lebih interaktif. Pengembangan storytelling merek, visibilitas pencarian, serta integrasi kanal online dan offline diarahkan untuk menciptakan pengalaman pelanggan yang terpadu dan mendukung pertumbuhan merek jangka panjang. Penelitian ini memberikan panduan praktis bagi UMKM kreatif dalam meningkatkan visibilitas digital tanpa mengorbankan keaslian merek, serta mendukung keselarasan Papermark dengan perubahan ekspektasi pasar di industri alat tulis kreatif Indonesia.
PENINGKATAN PRODUKSI KONTEN DIGITAL UNTUK UKM : PENDEKATAN DESIGN SCIENCE UNTUK PENGEMBANGAN ALUR KERJA TERINTEGRASI AI
Penelitian ini mengkaji perancangan ulang workflow produksi konten Instagram yang terintegrasi AI untuk meningkatkan kecepatan, konsistensi, dan keandalan layanan bagi klien SME di Pallas Creative, sebuah agensi digital marketing. Seiring meningkatnya ketergantungan SME pada Instagram untuk membangun awareness dan mendorong penjualan, agensi dituntut untuk menghasilkan konten secara tepat waktu dan konsisten. Namun, tantangan operasional seperti brief yang kurang jelas, revisi berulang, dan koordinasi yang terfragmentasi sering memicu keterlambatan, rework, serta lead time yang tidak stabil. Karena itu, penelitian ini menyoroti masalah utama yaitu bagaimana workflow produksi konten berbasis AI dapat dirancang dan diimplementasikan untuk mengurangi inefisiensi tanpa mengorbankan kualitas konten dan kepuasan klien dalam konteks agensi dan SME. Konteks penelitian ini menegaskan kebutuhan akan tata kelola workflow yang lebih terstruktur pada lingkungan media sosial yang dinamis, di mana momentum konten, responsivitas, dan disiplin operasional sama pentingnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif Design Science Research yang didukung oleh Business Process Management. Data diperoleh melalui wawancara semi terstruktur dengan pihak internal yang terlibat dalam operasional produksi konten serta perwakilan klien SME, serta dilengkapi dengan observasi dan dokumentasi internal. Workflow eksisting dipetakan menggunakan BPMN untuk mengidentifikasi bottleneck dan loop revisi, sedangkan analisis tematik dan root cause analysis digunakan untuk menyusun temuan, termasuk pengelompokan menggunakan lensa Technology Organization Environment. Temuan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi kebutuhan desain dan prinsip perancangan untuk membangun artefak workflow usulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inefisiensi bersifat sistemik dan terutama dipengaruhi oleh keselarasan tahap awal yang lemah, termasuk ketidakjelasan brief dan ketidaksiapan aset, siklus approval dan revisi yang panjang dengan feedback yang terfragmentasi, keterbatasan tracking dan kontrol versi antar tools, serta bottleneck operasional akibat ketergantungan peran dan tingginya permintaan mendadak. Berdasarkan temuan tersebut, workflow berbasis AI yang diusulkan mencakup brief readiness gate, tata kelola revisi dan approval yang lebih jelas melalui single gate approval dan feedback terstruktur, tracking dan versioning terpusat sebagai single source of truth, alur produksi dual lane untuk konten planned dan momentum, serta dukungan AI dengan pendekatan human in the loop untuk pengembangan brief, ideasi, drafting, dan quality check. Secara keseluruhan, penelitian ini menghasilkan blueprint workflow praktis yang membantu agensi yang melayani SME menurunkan lead time dan rework sekaligus menjaga konsistensi serta keandalan layanan.
PENGEMBANGAN STRATEGI PELUNCURAN APLIKASI MOBILE BANKING UNTUK MENINGKATKAN LITERASI KEUANGAN DAN AKSES PEMBIAYAAN BAGI NASABAH PEMBIAYAAN DI SEGMEN UNDERBANKED
Penelitian ini merumuskan rencana terpadu bagi Bank Tepat Syariah untuk meningkatkan adopsi mobile banking Syariah, memperkuat literasi keuangan, dan memperluas akses pembiayaan bagi nasabah underbanked. Meskipun kesiapan digital tinggi—didukung platform Layanan Perbankan Digital Bank dengan penetrasi smartphone 80,1% pada 2024—adopsi masih rendah akibat rendahnya literasi keuangan, resistensi perilaku, dan persepsi kompleksitas. Metode kualitatif digunakan melalui wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan internal, petugas lapangan, serta nasabah aktif dan potensial, didukung data sekunder dari POJK 13/2021, POJK 21/2023, kebijakan internal, dan laporan industri. Analisis tematik dan konten mengidentifikasi hambatan perilaku dan operasional utama. Temuan menunjukkan hambatan yang saling terkait dan berakar pada rendahnya kepercayaan diri akibat minimnya literasi keuangan, ketergantungan pada transaksi manual, serta pengaruh kebiasaan dan sosial. Persepsi bahwa aplikasi rumit memperkuat kecemasan, sehingga kesenjangan antara kesiapan digital dan penggunaan aktual semakin lebar. Studi merekomendasikan strategi berbasis literasi, seperti panduan sederhana dalam aplikasi untuk transaksi Syariah dan edukasi keuangan dasar. Hambatan perilaku dapat dikurangi melalui onboarding terarah dengan duta digital dan mekanisme pembangun kepercayaan. Prinsip “Simplicity-by-Design” menekankan antarmuka lebih ringkas, langkah lebih sedikit, dan fitur offline. Rencana implementasi selaras dengan roadmap bank, mencakup tata kelola, integrasi literasi, pelatihan petugas, dan mitigasi risiko melalui “three lines of defense.” Studi ini menawarkan model praktis transformasi digital Syariah dan merekomendasikan tim lintas fungsi untuk pemantauan literasi dan usability.
ANALISIS PENGARUH FAKTOR-FAKTOR TERHADAP PERILAKU SHOPPING CART ABANDONMENT KONSUMEN PADA SHOPEE
Pertumbuhan e-commerce di Indonesia mendorong peningkatan aktivitas belanja daring, namun shopping cart abandonment masih menjadi tantangan utama bagi marketplace. Meskipun konsumen menunjukkan niat beli dengan memasukkan produk ke dalam keranjang, banyak transaksi tidak diselesaikan sehingga menyebabkan potensi penjualan yang tidak terealisasi, khususnya pada platform Shopee. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh emotional ambivalence, hesitation at checkout, payment intention, choice overload, comparison with other websites, perceived transaction inconvenience, perceived cost, dan perceived risk terhadap perilaku shopping cart abandonment pada pengguna Shopee, serta mengidentifikasi faktor yang paling dominan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei terhadap 150 pengguna Shopee di Indonesia yang pernah mengalami shopping cart abandonment. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hesitation at checkout, choice overload, dan perceived risk memiliki pengaruh signifikan terhadap shopping cart abandonment. Di antara faktor tersebut, hesitation at checkout merupakan faktor yang paling kuat, menunjukkan bahwa keraguan konsumen pada tahap pembayaran akhir berperan penting dalam terjadinya shopping cart abandonment. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dalam kajian perilaku konsumen e-commerce serta implikasi praktis bagi platform dan penjual dalam meningkatkan tingkat konversi.
KEPUTUSAN STRATEGIS DALAM PERLUASAN PASAR: MENAVIGASI PELUANG BISNIS BAGI HUKUMONLINE UNTUK BEREKSPANSI KE PASAR ASEAN
Studi ini menyelidiki pengambilan keputusan strategis bagi Hukumonline, perusahaan teknologi hukum terkemuka di Indonesia, untuk berekspansi ke pasar Asia Tenggara (ASEAN) melalui platform regionalnya, NOMOS. Penelitian ini membahas tiga pertanyaan inti, Peluang bisnis apa yang ada di ASEAN untuk Hukumonline?, Negara mana yang menawarkan kondisi yang paling menguntungkan untuk masuk?, Strategi mode masuk apa yang paling tepat? Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, studi ini mengintegrasikan analisis PESTEL untuk penilaian lingkungan makro, Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk prioritas negara, Lima Kekuatan Porter untuk daya saing industri, dan analisis VRIO untuk evaluasi sumber daya internal. Bobot DEMATEL mengidentifikasi kesiapan teknologi dan kepastian hukum sebagai faktor keberhasilan penting, sementara adaptasi sosial budaya muncul sebagai pendorong utama. Hasil AHP menempatkan Singapura sebagai pasar prioritas utama, diikuti oleh Malaysia dan Thailand. Temuan ini merekomendasikan strategi entri hibrida bertahap: penyebaran SaaS lintas batas awal, aliansi strategis jangka menengah dengan firma hukum lokal, dan pembentukan hub regional jangka panjang di Singapura. Penelitian ini menyumbangkan kerangka pengambilan keputusan terstruktur untuk internasionalisasi teknologi hukum dan menawarkan panduan praktis untuk memanfaatkan aset tidak berwujud di pasar yang heterogen.
MENGEMBANGKAN STRATEGI UNTUK MENGURANGI NIAT PINDAH KERJA YANG DIPICU OLEH KEPEMIMPINAN TIDAK ETIS DI AGENSI KREATIF DIGITAL
Industri agensi kreatif digital di Indonesia yang didominasi oleh Gen Z saat ini menghadapi tantangan kritis berupa Tingkat perputaran karyawan (turnover) yang sangat tinggi, yang mengancam stabilitas operasional dan keberlanjutan bisnis. Fenomena ini sering kali dipicu oleh praktik kepemimpinan tidak etis yang sering memberikan tekanan kerja yang berlebihan, lembur tanpa dibayar dan lingkungan kerja toksik yang menjadi ciri khas agensi kreatif digital dengan ritme cepat. Penelitian ini bertujuaan untuk memberikan strategi untuk mengurangi turnover intention yang disebabkan oleh unethical leadership yang mempengaruhi psikologidistress karyawan. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survey yang melibatkan 191 karyawan agensi kreatif digital di Indonesia. Data primer terkumpul dianaliis dengan menggunakan teknik SEM-PLS (Structural Equation Modelling-Partial Least Squares) untuk menguji model pengukuran dan model structural dari tiga hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unethical leadership memiliki pengaruh positif dan signifikan, di mana psychological distress terbukti berperan sebagai mediator yang kuat. Penelitian ini merumuskan The Integrated Digital Creative Agency Framework sebagai solusi strategis. Kerangka ini mengintegrasikan penembangkan kompetensi berbasis empati dan integritas, penguatan system tata Kelola etis melalui saluran pelporan yang aman yang membentuk kode etik, serta reformasi manajemen beban kerja untuk menciptakan keamanan psikologis. Strategi ini diharapkan dapat membangun resiliensi organisasi, memperbaiki kesehatan lingkungan kerja, dan secara efektif menekan angka turnover secara berkelanjutan di industry kreatif digital.
MEMAHAMI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESDIAAN PELANGGAN UNTUK BERLANGGANAN NETFLIX DI INDONESIA
Perkembangan akses internet yang pesat di Indonesia telah mengubah cara konsumen dalam menikmati hiburan digital, yang pada gilirannya meningkatkan persaingan antar platform Subscription Video on Demand (SVOD). Dalam lingkungan yang kompetitif ini, Netflix telah muncul sebagai salah satu layanan SVOD yang paling mapan di Indonesia, sehingga menjadi konteks yang relevan untuk mengkaji perilaku berlangganan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi willingness to subscribe pelanggan terhadap Netflix di Indonesia. Metode penelitian kuantitatif diterapkan dalam penelitian ini, yang diawali dengan survei awal terhadap 38 responden dan dilanjutkan dengan survei utama terhadap 139 responden. Penelitian ini menggunakan metode Multiple Linear Regression (MLR) untuk menganalisis pengaruh konten, kemudahan penggunaan, dan word of mouth (WOM) terhadap willingness to subscribe (WTS) pelanggan terhadap Netflix. Hasil analisis menunjukkan bahwa konten dan WOM memiliki pengaruh yang signifikan terhadap willingness to subscribe, sedangkan kemudahan penggunaan tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Penelitian ini berkontribusi terhadap keterbatasan literatur akademik mengenai pasar SVOD di Indonesia dengan menyediakan bukti empiris terkait faktor-faktor penentu willingness to subscribe serta implikasi strategisnya.
PERKEMBANGAN E-COMMERCE LIVE STREAMING DI INDONESIA: MEMAHAMI KETERLIBATAN KONSUMEN DAN NIAT PEMBELIAN SKINTIFIC DI GENERASI Z
Telah terjadi peningkatan signifikan dalam e-commerce live streaming di Indonesia, yang telah mendorong pertumbuhan yang signifikan dalam pendapatan bisnis e-commerce Indonesia hingga tahun 2022, menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara. Fenomena baru e-commerce live streaming di Indonesia terjadi di platform media sosial seperti Shopee Live, TikTok Live, dan LazLive, yang telah mengubah cara konsumen di Indonesia berbelanja online dengan membuatnya sangat nyaman bagi konsumen untuk berbelanja kapan saja dan di mana saja. Namun, meskipun pengalaman revolusioner ini, masih ada kesenjangan dalam pemahaman tentang faktor-faktor kunci yang mempengaruhi keterlibatan konsumen dan niat pembelian konsumen di Indonesia, biasanya disebabkan oleh kurangnya keterampilan pemasaran digital, strategi promosi yang tidak efektif, dan kurangnya kepercayaan konsumen. Selain itu, ekonomi digital Indonesia ditandai oleh populasi muda yang melek teknologi, terutama Generasi Z, dan tingkat penetrasi media sosial yang tinggi, semua faktor ini berkontribusi pada lingkungan baru bagi e-commerce live streaming untuk berkembang. Namun, perusahaan dan pemasar berisiko kehilangan peluang untuk memanfaatkan platform yang terus berubah ini secara efektif jika mereka tidak memahami secara mendalam apa yang mendorong keterlibatan konsumen dan apa yang menginspirasi penonton untuk beralih dari audiens pasif menjadi konsumen aktif dalam skenario e-commerce live streaming. Studi ini menyelidiki pengaruh yang semakin luas dari e-commerce live streaming di Indonesia, yang didorong oleh platform seperti Shopee Live, TikTok Live, dan LazLive, yang mengubah perilaku konsumen di Indonesia dengan pengalaman berbelanja real-time dan interaktif. Dalam studi ini, diidentifikasi lima karakteristik esensial yang mendorong keterlibatan konsumen dan niat pembelian, yaitu: (1) tuan rumah yang menarik dan berpengetahuan, (2) metode periklanan yang menarik, (3) kehadiran sosial yang kuat, (4) rasa takut ketinggalan (FOMO), dan (5) nilai produk yang tinggi. Menggunakan bisnis perawatan kulit Skintific sebagai contoh, makalah ini menunjukkan bagaimana kombinasi strategis antara siaran langsung yang dipandu oleh karyawan, komunikasi produk yang terbuka, dan strategi promosi yang cerdas dapat meningkatkan kepercayaan konsumen, menciptakan rasa urgensi, dan meningkatkan penjualan, terutama di kalangan konsumen Generasi Z.
MENGUKUR PENGARUH TEKANAN TERHADAP PERILAKU BELANJA IMPULSIF ONLINE DALAM SIARAN LANGSUNG TIKTOK DENGAN RESPON EMOSIONAL SEBAGAI VARIABEL MEDIASI
Pertumbuhan pesat perdagangan telah mengubah perilaku konsumen menjadi online, terutama di kalangan Generasi Z. Salah satu fitur menonjol adalah siaran langsung, yang memungkinkan interaksi virtual langsung antara penjual dan pembeli yang dapat mendorong perilaku pembelian impulsif. Strategi pemasaran berbasis tekanan sering digunakan oleh penjual untuk mendorong keputusan pembelian spontan yang nantinya akan meningkatkan penjualan. Studi ini menyelidiki bagaimana tekanan waktu, kuantitas, dan harga yang dirasakan konsumen memengaruhi pembelian impulsif online, dengan respons emosional—gairah dan kesenangan—sebagai mediator. Menggunakan kerangka kerja Stimulus-Organisme-Respons (S-O-R), penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan 203 responden Generasi Z yang valid di Indonesia yang telah melakukan pembelian impulsif melalui live streaming menggunakan platform TikTok. Penelitian ini menerapkan PLS-SEM Modeling untuk menguji hubungan yang diusulkan. Hasil menunjukkan bahwa tekanan waktu dan kuantitas secara signifikan mempengaruhi gairah, sementara tekanan harga mempengaruhi baik gairah maupun kesenangan. Gairah dan kesenangan, pada gilirannya, memiliki pengaruh kuat terhadap perilaku pembelian impulsif. Analisis mediasi menunjukkan bahwa gairah sepenuhnya memediasi efek tekanan waktu dan sebagian memediasi tekanan kuantitas dan harga. Kesenangan tidak bertindak sebagai mediator yang signifikan. Temuan ini menyoroti peran kritis stimulasi emosional dalam keputusan belanja online. Bisnis sebaiknya fokus pada promosi berbasis harga dan menciptakan lingkungan live streaming yang menarik dan kaya emosi untuk meningkatkan pembelian spontan.
PERANCANGAN MODEL KYC DI INDONESIA MENGGUNAKAN BLOCKCHAIN
Proses verifikasi nasabah Know Your Customer di industri keuangan Indonesia saat ini menghadapi tantangan inefisiensi akibat alur kerja yang repetitif dan terisolasi. Setiap institusi melakukan proses verifikasi secara mandiri, yang mengakibatkan tingginya biaya operasional dan pengalaman yang kurang optimal bagi nasabah. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan sebuah model KYC berbasis blockchain yang memungkinkan penggunaan ulang data secara aman dan efisien. Dengan menggunakan metodologi Design Science Research (DSR), sebuah prototipe fungsional dibangun dengan arsitektur hibrida, yang memisahkan penyimpanan data sensitif secara off-chain dengan bukti verifikasi (hash) secara on-chain menggunakan smart contract pada jaringan Ethereum privat (PoA). Hasil evaluasi menunjukkan model yang diusulkan mampu mengurangi redudansi proses KYC, juga menunjukkan bahwa model sistem yang diusulkan interoperable dan mampu meningkatkan keamanan sistem KYC dengan dilakukannya pengujian functional dan non-functional requirement. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model KYC berbasis blockchain yang dirancang merupakan solusi yang layak untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan interoperabilitas dalam ekosistem verifikasi identitas digital di Indonesia.
MEMAHAMI HUBUNGAN ANTARA E-COMMERCE, KUALITAS LAYANAN SOCIAL COMMERCE, DAN NIAT PEMBELIAN
Social commerce adalah platform penjualan digital yang berkembang pesat dan telah menarik perhatian dari para profesional dan akademisi. Namun, penelitian yang mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian pembeli, terutama terkait kualitas layanan elektronik, masih terbatas. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memvalidasi faktor-faktor kunci yang mempengaruhi niat pembelian dalam social commerce serta memeriksa hubungannya dengan e-commerce. Disertasi ini menggunakan pendekatan mixed-method sequential exploratory, dimulai dengan penelitian kualitatif melalui wawancara dengan 10 Milenial, yang dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil temuannya menjelaskan tentang peran media sosial dalam meningkatkan website design, fulfilment, kredibilitas, layanan pelanggan, dan komunikasi. Hasil temuan ini kemudian digunakan untuk mengembangkan model penelitian kuantitatif untuk diuji lebih lanjut. Fase kuantitatif menggunakan kuesioner yang mengumpulkan data dari 411 pengguna social commerce. Analisis PLS-SEM mengungkapkan bahwa enam dimensi utama kualitas layanan—website design, fulfilment, layanan pelanggan, komunikasi, kredibilitas, dan keamanan—secara signifikan mempengaruhi niat pembelian pembeli. Selain itu, e-commerce berperan sebagai mediator yang juga mempengaruhi keputusan pembelian dalam social commerce. Temuan kuantitatif digunakan untuk mengembangkan konstruksi penelitian eksperimental guna memeriksa lebih lanjut hubungan antara kualitas layanan pada social commerce dan e-commerce. Melalui tiga studi eksperimen dengan total 369 peserta, penelitian ini menunjukkan bahwa e-commerce meningkatkan persepsi keamanan dan meningkatkan niat pembelian ketika kualitas layanan dalam keadaan buruk. Namun, ketika kualitas layananya bagus, e-commerce memiliki sedikit dampak karena keinginan pembeli sudah sangat kuat. Studi ini meningkatkan pemahaman tentang kualitas layanan pada social commerce dengan fokus pada niat pembelian dan pembelian aktual, area yang sebelumnya kurang dieksplorasi. Studi ini juga berkontribusi pada teori tentang bagaimana e-commerce mempengaruhi perilaku konsumen, menunjukkan bahwa e-commerce dapat secara signifikan meningkatkan niat pembelian bahkan ketika kualitas layanan sedang buruk, menantang keyakinan tradisional selama ini yang menyatakan bahwa hanya kualitas layanan bagus yang bisa mendorong keputusan pembelian konsumen. Temuan ini juga memberikan wawasan praktis bagi peneliti yang mempelajari tentang kualitas layanan pada social commerce dan juga bagi para manajer yang bertujuan meningkatkan niat pembelian pembeli dalam ekosistem perdagangan digital. Perusahaan harus mengintegrasikan fitur e-commerce untuk mengimbangi dampak kualitas layanan yang buruk pada social commerce. Dengan menggabungkan elemen sosial pada social commerce dengan kemampuan e- commerce, perusahaan dapat mengurangi persepsi negatif dan mencapai niat pembelian yang tinggi, terlepas dari tingkat kualitas layanan yang diberikan.