📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 14 dokumenPERANCANGAN STRATEGI DAN METODE DEDIESELISASI OPTIMAL BERBASIS PV UNTUK SISTEM DISTRIBUSI DI SIKAKAP, PULAU MENTAWAI
Kecamatan Sikakap di Kepulauan Mentawai masih bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang mengakibatkan tingginya konsumsi bahan bakar dan emisi gas rumah kaca. Penelitian ini bertujuan menganalisis kelayakan teknis de-dieselisasi sistem distribusi Sikakap melalui integrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Battery Energy Storage System (BESS). Analisis dilakukan menggunakan DIgSILENT PowerFactory dan PVSyst pada empat konfigurasi, yaitu PLTD (kondisi eksisting), PLTD–PLTS, PLTD–PLTS–BESS, dan PLTS–BESS. Evaluasi dilakukan berdasarkan kemampuan memenuhi beban, penetrasi energi terbarukan, respons terhadap ramping daya, serta unserved load pada tiga skenario operasi, yaitu musim kemarau, musim berawan, dan musim hujan (worst case). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konfigurasi PLTD–PLTS–BESS memberikan performa terbaik dengan penghematan penggunaan PLTD sebesar 49,22%, 43,71%, dan 40,60% pada masing-masing skenario, serta mampu mempertahankan keandalan sistem tanpa unserved load. Sebaliknya, konfigurasi PLTS–BESS masih mengalami unserved load akibat keterbatasan kapasitas penyimpanan energi. Oleh karena itu, konfigurasi PLTD–PLTS–BESS menjadi alternatif yang paling optimal untuk mendukung strategi dedieselisasi serta transisi energi di Kecamatan Sikakap.
PERANCANGAN STRATEGI DAN METODE DEDIESELISASI OPTIMAL BERBASIS PV
Banyak wilayah 3T Indonesia masih bergantung pada PLTD berbiaya tinggi yang tidak sejalan dengan transisi energi nasional. PLTS-BESS menjadi solusi potensial, namun sering gagal dini akibat degradasi baterai yang cepat. Penelitian ini menentukan kapasitas optimal PV-BESS untuk mini-grid Sikakap, Kepulauan Mentawai, serta mengevaluasi efektivitas strategi SoC derating dan current derating dalam memperlambat degradasi baterai LFP. Prediksi End of Life (EoL) dilakukan menggunakan model semi-empiris First-principle Based Semi-empirical Model (FBSM) yang memisahkan calendar aging dan cyclic aging, disimulasikan terhadap data operasional aktual selama satu tahun. Skenario baseline (SoC 20–80%) mencapai EoL pada tahun ke-22, dengan calendar aging mendominasi 87% degradasi. SoC derating terbukti efektif, dengan peningkatan tertinggi pada rentang 20–65% (28 tahun, +27,3%), sementara current derating tidak signifikan karena C-rate operasional yang sudah rendah. Berdasarkan matriks kriteria (efektivitas EoL, kemudahan implementasi, keandalan sistem/UEF, relevansi iklim tropis, efisiensi biaya), SoC derating 20–65% ditetapkan sebagai solusi terbaik (skor 4,20), meski UEF meningkat dari 21,70% menjadi 29,33%.
PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MINIHIDRO DENGAN KAPASITAS TERPASANG 2 X 0,75 MW PADA PROYEK PEMBANGUNAN BENDUNGAN CIJUREY PAKET I, KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) di Bendungan Cijurey, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, merupakan upaya pemanfaatan infrastruktur bendungan untuk mendukung penyediaan energi terbarukan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun rancangan teknis PLTM serta mengevaluasi kelayakan ekonominya. Metodologi penelitian meliputi analisis hidrologi, perencanaan hidrolika bangunan, penentuan elevasi rumah pembangkit, serta analisis finansial. Elevasi powerhouse ditentukan berdasarkan pemodelan banjir rencana periode ulang 100 tahun dengan debit puncak sebesar 341,99 m³/s untuk menjamin keamanan infrastruktur. Hasil analisis menunjukkan daya bangkitan rata-rata sebesar 1.586,81 kW pada tahun basah, 1.002,36 kW pada tahun normal, dan 976,30 kW pada tahun kering. Produksi energi listrik tahunan masing-masing mencapai 7,69 GWh, 6,23 GWh, dan 5,00 GWh. Dengan biaya konstruksi sebesar Rp32.452.805.332, proyek ini dinilai layak secara finansial dengan NPV sebesar Rp6.620.704.916,16, IRR 13,48%, BCR 1,204, dan Payback Period 8,71 tahun.
PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MINIHIDRO PADA BENDUNGAN BENER, KABUPATEN PURWOREJO, JAWA TENGAH
Peningkatan kebutuhan energi listrik di Indonesia mendorong pengembangan sumber energi terbarukan. Bendungan Bener di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai lokasi pembangunan PLTM. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun desain PLTM pada Bendungan Bener yang memenuhi aspek teknis dan ekonomis. Analisis dilakukan melalui pengolahan data hidrologi, meliputi analisis curah hujan, debit banjir rencana, dan debit andalan. Selanjutnya dilakukan perencanaan komponen utama PLTM yang meliputi pipa pesat (penstock), surge tank, rumah pembangkit (powerhouse), saluran pembuang (tailrace), serta pemilihan jenis. Selain itu, dilakukan analisis hidraulik, penyusunan rencana operasi dan pemeliharaan, estimasi biaya konstruksi, serta analisis kelayakan ekonomi proyek. Hasil perencanaan menunjukkan bahwa PLTM Bendungan Bener dapat memanfaatkan tiga unit turbin Francis dengan kapasitas operasi rata-rata sebesar 5,55 MW. Total investasi yang dibutuhkan sebesar Rp142.902.263.433,26. Analisis ekonomi menghasilkan nilai Internal Rate of Return (IRR) sebesar 11,91%, Net Present Value (NPV) sebesar Rp14.363.371.516,25, Benefit Cost Ratio (BCR) sebesar 1,10, dan Payback Period (PBP) selama 8,92 tahun. Berdasarkan hasil tersebut, proyek PLTM Bendungan Bener dinilai layak untuk dilaksanakan baik dari aspek teknis maupun ekonomi.
PERANCANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO CURUG CINULANG
Pertumbuhan penduduk Provinsi Jawa Barat yang mencapai 1,83% per tahun mendorong peningkatan kebutuhan energi listrik yang signifikan, sementara Indonesia berkomitmen memenuhi target bauran energi terbarukan sebesar 51,6% pada 2030 berdasarkan RUPTL PLN 2021–2030. Curug Cinulang di Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, yang terletak pada elevasi 815–1.099 m dpl dengan populasi sekitar 121.813 jiwa, memiliki potensi hidrologis yang belum dimanfaatkan sebagai sumber Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Penelitian ini bertujuan merancang komponen sipil PLTMH yang memenuhi standar teknis serta layak secara ekonomi. Metodologi yang diterapkan meliputi analisis hidrologi menggunakan distribusi Log Pearson Tipe III dan metode F.J. Mock untuk mendapatkan debit banjir rencana dan debit andalan, perancangan komponen bangunan sipil (bendung, intake, kantong lumpur, saluran pembawa, kolam penenang, pipa pesat, saluran pembuang), serta analisis kelayakan ekonomi menggunakan parameter NPV, IRR, BCR, dan payback period. Tiga alternatif skema tata letak dievaluasi secara teknis dan ekonomis. Hasil analisis hidrologi menghasilkan debit banjir rencana Q??? sebesar 49,98 m³/s dan debit andalan Q?? sebesar 0,281 m³/s. Skema 1 dipilih sebagai skema terpilih dengan head efektif 17,74 m, menghasilkan daya sebesar 37,69 kW dan produksi energi tahunan 231.085 kWh. Bendung direncanakan dengan lebar efektif 21,6 m dan terbukti aman terhadap geser dan guling pada kondisi normal maupun banjir. Turbin terpilih adalah tipe Cross-Flow dengan efisiensi 77%. Biaya konstruksi Skema 1 sebesar Rp1.731.424.144,07 dengan net cashflow Rp277.799.075,21 per tahun, menghasilkan NPV positif sebesar Rp480.781.042,55, IRR 15,08%, BCR 1,28, dan payback period 6,23 tahun, sehingga proyek dinyatakan layak secara ekonomi.
ANALISIS TEKNO-EKONOMI INTEGRASI SISTEM PLTS DAN STRATEGI MANAJEMEN BEBAN SEBAGAI UPAYA EFISIENSI ENERGI MENUJU GREEN BUILDING PADA GEDUNG KOMERSIAL DENGAN DATA TERBATAS
Gedung komersial merupakan salah satu kontributor terbesar terhadap konsumsi energi listrik nasional, terutama karena kebutuhan operasional yang berlangsung terus-menerus. Di antara berbagai jenis bangunan komersial, hotel memiliki intensitas penggunaan energi yang tinggi, terutama pada sistem pendingin udara, pencahayaan, dan peralatan layanan tamu. Namun, sebagian besar penelitian efisiensi energi masih berfokus pada hotel berbintang tinggi dengan sistem manajemen energi otomatis. Penelitian ini dilakukan pada hotel berbintang satu dengan infrastruktur sederhana dan keterbatasan data, untuk mengkaji potensi efisiensi energi melalui pendekatan integratif berbasis sistem energi terbarukan. Metodologi penelitian mencakup rekonstruksi profil beban berbasis data okupansi dan profil beban terbatas, perancangan sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap, penerapan strategi load shifting pada pompa air, serta integrasi electric vehicle (EV) charging station. Studi kasus dilakukan pada Hotel Bumi Sawunggaling, Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model profil beban yang dibangun mampu menggambarkan konsumsi energi aktual dengan baik. Integrasi PLTS berkapasitas optimal dapat menurunkan biaya listrik hingga 41–50% dengan nilai Levelized Cost of Electricity (LCOE) yang tetap kompetitif. Selain itu, penerapan load shifting dan integrasi EV charging station mampu meningkatkan pemanfaatan energi surya (self-consumption) tanpa menurunkan kelayakan ekonomi sistem. Pendekatan ini menunjukkan bahwa penerapan PLTS terintegrasi dengan strategi manajemen beban berpotensi menjadi solusi efisiensi energi berkelanjutan pada hotel kecil dan bangunan komersial serupa.
STRATEGI PENANGANAN KOROSIFITAS PERALATAN TRANSMISI UNTUK MEMASTIKAN KEANDALAN PENYALURAN LISTRIK: STUDI KASUS PLTP GEODIPA DIENG
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Geodipa Dieng memiliki peran penting dalam mendukung kebutuhan energi terbarukan di Indonesia. Energi dari PLTP Dieng ditransmisikan melalui sistem transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV untuk memenuhi kebutuhan pasokan ULTG Wonosobo, namun kondisi perlatan transmisi pada Gardu Induk (GI) dan beberapa ruas SUTT 150 kV saat ini mengalami kerusakan berupa korosi yang diduga akibat paparan sulfur yang berasal dari emisi PLTP Dieng. Korosi ini dapat memperpendek umur peralatan dan mengancam keandalan transmisi listrik. Penelitian ini meliputi identifikasi kerusakan peralatan yang terjadi, faktor apa saja yang menjadi penyebab korosi, dan memberikan rekomendasikan solusi penanganan yang tepat untuk peralatan transmisi yang sesuai dengan kondisi lingkungannya. Tahapan awal penelitian ini dilakukan dengan melakukan identifikasi kerusakan material yang diduga akibat korosi atmosferik dengan paparan sulfur, kemudian dilakukan failure analysis dengan melakukan pengujian meliputi pengamatan visual menggunakan mikroskop stereo, uji Optical Emission Spectroscopy (OES), uji keras, uji tarik, pengujian metalografi, dan Scanning Electron Microscopy-Energy Dispersive Spectroscopy (EDS). Selanjutnya dilakukan analisa lingkungan dalam penentuan klasifikasi korosi atmosferik yang mempengaruhi kerusakan dan perhitungan laju korosi untuk melihat prediksi sisa usia peralatan sehingga didapatkan rekomendasi tindak lanjut perbaikan yang sesuai dengan kondisi lingkungan. Hasil penelitian dapat memberikan strategi penanganan yang dapat dijadikan referensi khususnya pada instalasi transmisi wilayah PLTP dengan kondisi lingkungan dengan paparan korosi yang cukup tinggi atau serupa di wilayah Indonesia.
PERENCANAAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MINIHIDRO PONGBEMBE, KABUPATEN TANA TORAJA, PROVINSI SULAWESI SELATAN.
Kebutuhan listrik pada Provinsi Sulawesi Selatan yang terus meningkat serta tuntutan penggunaan energi hijau mendorong pemanfaatan dan pemberdayaan sumber energi listrik terbarukan, salah satunya adalah pembangunan PLTM Pongbembe tipe run of river. PLTM Pongbembe direncanakan pada Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan. Tugas Akhir ini bertujuan untuk merencanakan desain PLTM Pongbembe secara menyeluruh dari desain, strategi operasi dan pemeliharaan serta rancangan anggaran biaya. Pendekatan dilakukan dengan pengumpulan data hujan dan klimatologi, dan data spasial yang kemudian diolah. Desain bangunan didasarkan pada debit banjir rencana periode ulang 100 tahun sebesar 667,69 m³/s dan debit pemanfaatan 4,00 m³/s (49%). Bangunan PLTM meliputi bendung yang ditentukan berbentuk gergaji, bangunan pengambilan, kantong lumpur, saluran pembawa, bak penenang, pipa pesat, rumah pembangkit, dan saluran pembuang. Besar headloss yang terjadi pada sistem sebesar 7,78 m dan diperoleh nett head 260,05 m menghasilkan energi tahunan sebesar 51 GWh, dengan revenue tahunan sebesar Rp 49,210,615,392.
STRATEGI DEKARBONISASI DALAMPRODUKSI HIDROGENMENGGUNAKAN ALKALINE ELECTROLYZERPTPLNNUSANTARA POWER UNIT PEMBANGKITANMUARAKARANG
PLN (Perusahaan Listrik Negara) mengoperasikan Pabrik Hidrogen Hijau (GreenHydrogen Plant) pertama di Indonesia yang beroperasi di PLTGUMuara Karang. GHP merupakan bagian dari upaya transisi energi bersih untuk mencapai Net ZeroEmissions (NZE) pada tahun 2060. Proses produksi hidrogen sepenuhnyamemanfaatkan energi terbarukan, dengan menggunakan Pembangkit Listrik TenagaSurya (PLTS) di PLTGU dan Sertifikat Energi Terbarukan dari Pembangkit ListrikTenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang. Green Hydrogen Plant (GHP) menghasilkan51 ton hidrogen setiap tahunnya, dengan 8 ton digunakan untuk pendinginangenerator, dan 43 ton sisanya dapat dimanfaatkan di sektor lain. PLNmemperkirakanpengurangan emisi CO? sebesar 1.920 ton per tahun akibat transformasi energi produksi hidrogen ini. Penelitian ini menggunakan metdoe Life Cycle Assessment (LCA) untuk membandingkan emisi CO? dari produksi hidrogen menggunakan energi fosil (Sistem I) dan energi terbarukan (Sistem II). Analisis ini membantu memahami potensi pengurangan emisi dan kontribusi Hidrogen Hijau terhadap pembangkit listrik yang lebih ramah lingkungan di Muara Karang. Hasil penelitian menunjukkanbahwa intensitas emisi Sistem I dan II berkisar antara 0,012 - 4,198 kgCO?/kWhdan0,011 - 4,484 kgCO?/kWh, masing-masing. Total emisi GRK per unit produk adalah34,613 kgCO?/kgH? dan 11,207 kgCO?/kgH?. Temuan ini menunjukkan bahwaperalihan sumber energi untuk input elektrolisis berkontribusi pada penguranganemisi GRK.
KAJIAN TEKNO-EKONOMI SISTEM HIBRIDA PLTD DAN PLTS PADA SUBSISTEM SIKAKAP UNTUK PROGRAM DEDIESELISASI PT PLN (PERSERO)
Sebagai usaha untuk berpartisipasi dalam target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) di Indonesia, adanya program Dedieselisasi untuk mengganti PLTD existing di sistem isolated menjadi pembangkit EBT yaitu PLTS. Salah satu lokasi yang berpotensi untuk diajukan menjadi bagian dari program Dedieselisasi adalah PLTD Mabolak yang berlokasi di Pulau Pagai Utara, Sumatera Barat. PLTD Mabolak dibutuhkan untuk menyuplai kebutuhan listrik di Pulau Pagai Utara dengan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik yang tinggi. Sehingga, selain menurunkan emisi GRK, program Dedieseliasi Hibrida pembangkit PLTD dan PLTS dibutuhkan untuk menurunkan BPP Subsistem Sikakap. Untuk menunjang hal tersebut, diperlukan perencanaan yang komprehensif terkait dengan penetrasi PLTS yang akan digunakan maupun kemungkinan kapasitas baterai apabila ditambahkan opsi penggunaan baterai. Sehingga, dilakukan kajian teknoekonomi untuk menentukan kapasitas optimal PLTS dan Baterai yang akan digunakan. Kajian Teknoekonomi ini menggunakan permodelan dari secondary data yang di simulasikan menggunakan aplikasi PVSyst dan HOMER, serta penggunaan aplikasi Digsilent untuk meninjau dampak hibrida antara PLTD, PLTS, Baterai terhadap jaringan. Dari hasil simulasi didapatkan bahwa skenario terbaik yang dapat digunakan pada Subsistem Sikakap sebagai usaha pengurangan biaya bahan bakar dan emisi CO2 adalah skenario Hibrida PLTD-PLTS dan baterai. Kapasitas PLTS yang digunakan adalah sebesar 3.916 kWp dengan kapasitas baterai 6.900 kWh. Untuk sistem hibrida ini memiliki fraksi EBT sebesar 72,3% dengan nilai NPV sebesar 4,99 juta USD, dengan IRR sebesar 16,52%, dan PP 5,7 tahun. Skenario ini dinilai cukup baik bagi grid code karena memiliki rata-rata tegangan sebesar 19,887 kV dan frekuensi 50,07 Hz.
STUDI TEKNO-EKONOMI PRODUKSI HIDROGEN HIJAU DARI PANAS BUMI MENGGUNAKAN ELEKTROLISER AWE DAN PEMEC
Dekarbonisasi dan ketahanan energi menjadi isu global yang mendesak akibat perubahan iklim dan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Energi terbarukan dianggap sebagai solusi ramah lingkungan, meskipun memiliki keterbatasan seperti ketergantungan pada kondisi cuaca dan waktu. Hidrogen hijau, sebagai pembawa energi yang fleksibel, menawarkan alternatif untuk mendukung transisi energi dan mengurangi emisi karbon. Penelitian ini mengevaluasi integrasi pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dengan sistem pengolahan air (Water Treatment Plant/WTP) dan teknologi elektrolisis, yaitu Alkaline Water Electrolysis (AWE) dan Proton Exchange Membrane Electrolysis (PEMEC), untuk memproduksi hidrogen hijau secara efisien dan ekonomis. Simulasi menggunakan perangkat lunak WAVE menunjukkan bahwa kombinasi Ultrafiltration (UF), Reverse Osmosis (RO), dan Ion Exchange Mixed Bed (IXMB) mampu menghasilkan air dengan konduktivitas ?5 ?S/cm untuk AWE dan ?1 ?S/cm untuk PEMEC dengan konsumsi energi 0,7–0,9 kWh/m3. Produksi hidrogen hijau menggunakan elektroliser berdaya 10 MW menghasilkan 724,12 ton/tahun untuk AWE dan 765,05 ton/tahun untuk PEMEC, dengan Levelized Cost of Water (LCOW) masing-masing sebesar $1,19/m3 dan $1,23/m3, serta Levelized Cost of Hydrogen (LCOH) sebesar $7,22/kgH2 untuk AWE dan $7,36/kgH2 untuk PEMEC. Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi PLTP dengan WTP dan elektroliser merupakan pendekatan yang layak untuk memproduksi hidrogen hijau secara efisien dan mendukung transisi energi berkelanjutan di Indonesia.
PERENCANAAN TEKNIS PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR (PLTA) BENDUNGAN PELOSIKA DI KEC. ASINUA, KABUPATEN KONAWE, SULAWESI TENGGARA
Seiring perkembangan zaman, teknologi yang kita gunakan dalam kehidupan sehari hari juga semakin maju dalam mempermudah keberlangsungan kehidupan sehari hari, baik dari aspek industri, konstruksi, telekomunikasi, dan sebagainya. Kebutuhan energi yang terus meningkat menyebabkan peningkatan produksi energi yang dibutuhkan juga perlu meningkat dalam pemenuhannya. Tercatat pada Buku Outlook Energi Indonesia 2022, Pertumbuhan konsumsi listrik di Indonesia dalam 10 Tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan dari 174 TWh pada tahun 2012 menjadi 255 TWh pada tahun 2022. Hal ini mendorong pemerintah Indonesia untuk memanfaatkan energi terbarukan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, salah satunya adalah air. Dengan melalui Proyek Strategis untuk 51 Bendungan di Indonesia, dilakukan pemanfaatan untuk penggunaan Hydropower yang salah satunya adalah di Bendungan Pelosika. Bendungan Pelosika memiliki Luas DAS sebesar 2782.6 m2 dengan mayoritas tutupan lahannya merupakan Hutan Lahan Kering Primer. Elevasi muka air normal dari waduk berkisar pada elevasi +113,5 m. Dengan tampungan yang cukup besar dengan total tampungan 822 juta m3, maka penulis mencetuskan ide untuk mendesain PLTA di Bendungan Pelosika, dimana direncanakan dengan mengandalkan debit andalan 80% dan 50% dengan besar masing masing 30,80 m3/s, dan 61,60 m3/s. Dengan head bersih yang diperoleh adalah 45,6 m, PLTA Bendungan Pelosika dapat membangkitkan daya dengan potensi daya 2x12,5 MW.
MENENTUKAN STRATEGI ALTERNATIF OPTIMAL PADA MESIN PRODUKSI PANEL SURYA DI PT LEN INDUSTRI (PERSERO)
Tesis ini mengeksplorasi optimalisasi produksi mesin panel surya di PT Len Industri (Persero), sebuah perusahaan milik negara terkemuka di sektor energi terbarukan Indonesia. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab utama rendahnya kapasitas produksi tahunan dan mengusulkan strategi alternatif yang optimal untuk meningkatkan efisiensi dan output. Dengan menggunakan pendekatan komprehensif, penelitian ini mengintegrasikan analisis 5 Porter, analisis pemangku kepentingan, dan kerangka kerja pengambilan keputusan lanjutan seperti Proses Hierarki Analitis (AHP). Studi ini disusun dalam beberapa fase, dimulai dengan penilaian awal dan perencanaan implementasi. Fase berikutnya mencakup pengadaan dan pemasangan peralatan baru, integrasi dan pengujian teknologi canggih, dan akhirnya, operasi skala penuh dan inisiatif peningkatan berkelanjutan. Setiap fase menangani aspek-aspek penting seperti modernisasi teknologi, kepatuhan terhadap regulasi, daya saing pasar, dan kepuasan pelanggan. Dengan memanfaatkan Analisis 5 Porter, wawasan pemangku kepentingan, dan AHP untuk pengambilan keputusan, studi ini menyediakan peta jalan strategis bagi PT Len Industri untuk mengoptimalkan kemampuan produksi panel surya. Strategi yang diusulkan bertujuan untuk meningkatkan posisi pasar perusahaan, memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan, dan berkontribusi secara signifikan pada tujuan energi terbarukan Indonesia.
PEMETAAN MANIFESTASI GEOTERMAL BERDASARKAN CITRA TERMAL DAN DATA TEMPERATUR TANAH DI DAERAH KAMOJANG, JAWA BARAT
Pemerintah Indonesia mencanangkan percepatan pengembangan energi terbarukan untuk mewujudkan Net Zero Emission pada 2060 yang diatur dalam Perpres No. 112 Tahun 2022. Indonesia memiliki potensi geotermal dan daya tarik yang besar namun pemanfaatannya belum maksimal. Dalam pengembangan energi geotermal tahapan eksplorasi menjadi salah satu tahapan yang sulit dan membutuhkan waktu yang banyak, sehingga diperlukan suatu metode yang dapat meningkatkan efektivitas tahapan eksplorasi dengan menggunakan penginderaan jauh. Suatu sistem geotermal ditandai dengan keberadaan manifestasi permukaan dan anomali termal. Penelitian ini memanfaatkan sensor TIR (Thermal Infrared Radiometer) yang ada pada citra ASTER untuk diolah menjadi LST (Land Surface Temperature). Berbagai tahapan koreksi dilakukan untuk mendapatkan nilai LST yang mendekati nilai temperatur tanah. Berdasarkan uji validasi, didapatkan nilai koefisien determinasi R2 yang cukup tinggi sebesar 0,66 antara nilai LST terkoreksi vegetasi dengan temperatur tanah. Selain itu, dilakukan uji normalitas yang menunjukkan nilai residual diantara keduanya terdistribusi normal. Nilai dari LST terkoreksi vegetasi merupakan hasil yang paling mendekati nilai temperatur sebenarnya. Nilai LST terkoreksi vegetasi kemudian diolah dan dianalisis menggunakan pendekatan statistik. Berdasarkan hasil perhitungan citra ASTER, ditemukan lima lokasi anomali termal citra. Setelah dilakukan verifikasi lapangan, tiga lokasi anomali termal terverifikasi sebagai area manifestasi geotermal, satu lokasi sebagai area manifestasi geotermal interpretatif dan satu lokasi lainnya berasal dari kolam pemandian air panas. Manifestasi permukaan yang dijumpai berupa mata air panas, fumarol, tanah beruap, kolam lumpur panas, dan batuan yang telah mengalami alterasi. Anomali termal dari citra satelit yang terkonfirmasi sebagai daerah manifestasi geotermal berada pada kelas 3 dari klasifikasi LST terkoreksi vegetasi. Temperatur tersebut berada pada kisaran 27,44°C hingga 30,69°C. Manifestasi permukaan yang ada di daerah penelitian dikontrol oleh struktur geologi berupa sesar dan struktur kaldera.