📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 14 dokumenPERANCANGAN INTERIOR PUSAT TERAPI ANAK DANREMAJA AUTIS DI KOTA BANDUNG DENGANPENDEKATAN SENSORY DESIGN
Peningkatan jumlah individu dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) disertai keragaman karakteristik sensorik dan perilaku menuntut perancangan lingkungan terapi yang tidak hanya aman dan terkontrol, tetapi juga mendukung perkembangan kemandirian dan kesiapan adaptasi terhadap kehidupan sehari-hari. Namun, banyak fasilitas terapi yang belum menerapkan pendekatan interior dengan pertimbangan pengalaman sensorik individu autis. Tugas Akhir ini mengusulkan perancangan interior pusat terapi autis usia anak dan remaja di Kota Bandung dengan pendekatan sensory design dengan skema desain ASPECTSS 2.0 dan desain neurotipikal. Tujuan perancangan adalah menciptakan lingkungan terapi yang responsif terhadap kebutuhan sensorik individu ASD sekaligus mendukung proses generalisasi kemampuan melalui pengalaman ruang yang menyerupai lingkungan umum secara bertahap dan terkontrol. Metode yang digunakan adalah problem-based design dengan tahapan studi literatur, studi preseden, analisis pengguna dan aktivitas, serta perumusan program ruang dan fasilitas berdasarkan usia, tingkat fungsi, dan sensitivitas sensorik pengguna. Konsep desain mengacu pada prinsip ASPECTSS 2.0 dan pendekatan neurotipikal yang diterapkan melalui pengendalian stimulus sensorik, pengaturan urutan dan zonasi ruang, penyediaan ruang transisi dan escape space, serta perancangan sirkulasi yang terprediksi. Implementasi desain diterapkan untuk mendukung regulasi sensorik, meningkatkan kemandirian, dan memfasilitasi kesiapan sosial individu autis.
PENGARUH RDTR DALAM MEMITIGASI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM YANG DISEBABKAN OLEH KONVERSI TUTUPAN LAHAN DI KOTA BANDUNG
Peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di kawasan perkotaan telah menjadi masalah utama dalam perubahan iklim secara global. Pada negara berkembang seperti Indonesia, lonjakan emisi ini dipengaruhi oleh perubahan tutupan lahan. Ekspansi lahan terbangun mengakibatkan konversi ruang terbuka hijau sebagai penyerap karbon. Menanggapi akan pentingnya dekarbonisasi perkotaan maka penerapan 1,5-Degree Lifestyle menjadi langkah mitigasi yang memerlukan dukungan instrumen kebijakan tata ruang. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keselarasan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Bandung 2024-2044 dalam mereduksi dampak perubahan iklim akibat alih fungsi lahan. Untuk menjawab tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode campuran. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk memetakan perubahan tutupan lahan secara historis dan melakukan proyeksi tutupan lahan ke depan beserta estimasi stok karbon. Sedangkan analisis kualitatif dilakukan dengan studi dokumen terhadap RDTR Kota Bandung Tahun 2024-2044. Instrumen dan pasal tata ruang dievaluasi menggunakan matriks keselarasan kebijakan untuk menilai pemenuhan kriteria gaya hidup 1,5 derajat. Hasil proyeksi spasial menunjukkan Kota Bandung terancam defisit ekologis parah. Alokasi pola ruang dalam RDTR justru melegitimasi penyusutan kapasitas stok karbon menjadi hanya 92.503,13 ton, menurun drastis dari periode tata ruang sebelumnya. RDTR baru memenuhi 50% indikator kelayakan meskipun telah mengakomodasi konsep Kawasan Berorientasi Transit (TOD), kebijakan ini masih memfasilitasi urban sprawl dan pembangunan yang berpusat pada kendaraan bermotor. Terbatasnya daya dukung lingkungan ini diperparah oleh minimnya akses transportasi publik dan Sarana Pelayanan Umum (SPU) di wilayah timur dan selatan, yang memaksa tingginya penggunaan kendaraan pribadi, sehingga dokumen RDTR Kota Bandung belum selaras dan belum mampu memfasilitasi perwujudan 1.5-Degree Lifestyle.
OPTIMALISASI BASIS DATA PROFIL SPASIAL KEBENCANAAN UNTUK KEPENTINGAN ANALISIS SPASIAL RISIKO BENCANA
Tingginya jumlah kejadian dan beragamnya jenis bencana alam di Indonesia menuntut sistem manajemen risiko yang responsif, berbasis data, terintegrasi, dan mutakhir. Namun, kondisi saat ini masih dihadapkan pada masih terpisah dan tersebarnya data spasial dan nonspasial, kurangnya interoperabilitas antar lembaga, serta ketergantungan terhadap data statis yang menyulitkan analisis dinamis risiko kebencanaan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan mengimplementasikan sistem basis data profil spasial kebencanaan yang dinamis, terintegrasi, dan berbasis web dengan studi kasus di Kabupaten Lebak, suatu wilayah yang memiliki risiko tinggi terhadap berbagai macam jenis bencana. Metode yang digunakan meliputi perancangan struktur basis data berdasarkan standar Risiko Bencana Indonesia (RBI), pengembangan backend dengan MongoDB, Python, dan JavaScript untuk manajemen data spasial yang fleksibel dan antarmuka frontend interaktif berbasis HTML. Sistem mendukung pembaruan otomatis melalui integrasi API dari sumber primer dan menyajikan fitur visualisasi spasial, klasifikasi tematik, serta statistik ringkas berbasis kecamatan. Evaluasi menunjukkan bahwa sistem ini meningkatkan efisiensi dalam pengumpulan dan pemanfaatan data, mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti, serta memperkuat sinergi lintas sektor dalam pengelolaan bencana. Kebaruan utama dari penelitian ini terletak pada penggabungan arsitektur basis data nonrelasional yang dioptimalkan untuk data spasial dinamis dengan fitur pembaruan tersinkronisasi dan kemampuan distribusi spasial berbasis web. Hasil penelitian ini memberi kontribusi penting terhadap pengembangan sistem informasi kebencanaan yang adaptif dan terstandar di tingkat lokal dan dapat direplikasi untuk wilayah lain dengan risiko sejenis.
OPTIMALISASI SISTEM INSTALASI PENGOLAHAN LUMPUR TINJA (IPLT) DURI KOSAMBI, DAERAH KHUSUS JAKARTA BUKU DETAIL OPTIMALISASI SISTEM PENGOLAHAN PADATAN LUMPUR TINJA
Pengelolaan lumpur tinja di Jakarta, dengan populasi padat sebesar 11,35 juta jiwa, menghadapi tantangan besar yang berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Pengolahan lumpur tinja yang mencapai angka 900 ????3 /hari pada kedua sistem belum disertai dengan pengolahan terhadap padatan lumpur tinja yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi existing pengolahan padatan lumpur tinja yang berbasiskan nilai TSS pada sistem pengolahan IPLT Unit I dan II IPLT Duri Kosambi dan merencanakan optimalisasi sistem pengolahan yang efisien secara kinerja dan efektif untuk menyisihkan kandungan pencemar pada padatan lumpur sebelum dikembalikan kepada ekosistem. Metodologi yang digunakan mencakup analisis data lapangan, analisis data pengujian laboratorium, dan perancangan desain teknis. Solusi optimalisasi yang diusulkan melibatkan penambahan Gravity Thickener sebagai unit proses pemisahan padatan-cairan pada sistem pengolahan IPLT Unit II, penambahan Aerated Static Pile Composting untuk pengolahan lanjutan padatan yang berguna menyisihkan kandungan patogen sesuai standar US EPA 40 CFR Part 503 pada sistem pengolahan IPLT Unit I dan II, serta revitalisasi unit existing yakni Sludge Drying Bed sebagai unit proses dewatering pada sistem pengolahan IPLT Unit II. Proyek ini bersama-sama dengan optimalisasi pengolahan cairan lumpur tinja pada sistem pengolahan IPLT Unit I dan II dinyatakan layak secara finansial dengan NPV sebesar Rp19.266.822.195,00 dan BCR sebesar 1,22.
PENGEMBANGAN SITE-SPECIFIC TARGET LEVELS (SSTL) UNTUK PENETAPAN AMBANG BATAS PAPARAN TOTAL PETROLEUM HYDROCARBON (TPH) (STUDI KASUS: KABUPATEN SIAK, PROVINSI RIAU)
Indonesia merupakan salah satu produsen utama minyak bumi di Asia Tenggara. Namun, kegiatan eksplorasi dan produksi (E&P) minyak bumi berpotensi mencemari lingkungan, terutama melalui kontaminasi Total Petroleum Hydrocarbons (TPH) pada tanah. TPH bersifat toksik dan dapat berdampak negatif pada kesehatan manusia maupun ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan nilai Site-Specific Target Level (SSTL) sebagai acuan ambang batas konsentrasi TPH yang aman pada 13 site terkontaminasi di Kabupaten Siak. Pendekatan yang digunakan mengacu pada kerangka Risk-Based Corrective Action (RBCA) dari ASTM, yang mengintergrasikan prinsip-prinsip penilaian risiko dari USEPA. Kerangka ini mempertimbangkan karakteristik kontaminan, jalur paparan spesifik lokasi, dan skenario penggunaan lahan non-permukiman. Sampel tanah dikumpulkan dari dua kategori lokasi (nonkonservasi dan konservasi) pada empat kedalaman berbeda. Sementara itu, sampel air permukaan diambil dari lokasi yang memiliki badan air untuk mengevaluasi kemungkinan hubungan antara kontaminasi tanah dan kualitas air. Perhitungan nilai Hazard Index (HI) dan SSTL dilakukan untuk fraksi-fraksi TPH berdasarkan jalur paparan oral, inhalasi, dan dermal. Hasil menunjukkan bahwa seluruh nilai HI berada di bawah ambang batas 1, menandakan bahwa paparan tidak berdampak signifikan terhadap kesehatan manusia. Nilai SSTL paling ketat yang mewakili keseluruhan lokasi adalah 1,69% (16.900 mg/kg). Seluruh hasil konsentrasi TPH aktual berada di bawah nilai ini, yang berarti risiko kontaminasi masih dalam batas aman. Meski demikian, pemantauan berkala tetap diperlukan untuk mencegah dampak jangka panjang terhadap lingkungan.Nilai SSTL pada kedalaman 0 – 30 cm menunjukkan korelasi tertinggi terhadap nilai TPH borelog (r = 0,697), mengindikasikan bahwa nilai SSTL dari lapisan tanah dangkal lebih mencerminkan kondisi kontaminasi aktual di lokasi studi. Unsur barium (Ba) dalam air permukaan menjadi satu-satunya parameter yang berkorelasi signifikan dengan TPH (R² = 0,710; p = 0,0002), yang diduga karena berasal dari sumber kontaminasi yang sama.
STUDI KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SAMPAH MAKANAN MEMANFAATKAN TEKNOLOGI BERBASIS ENZIM TTT
Urbanisasi yang cepat, pertumbuhan populasi, dan industrialisasi telah membawa tantangan yang semakin besar di dalam pengelolaan sampah makanan di Indonesia, menciptakan kekhawatiran nyata dalam hal lingkungan, ekonomi, dan sosial. Metode pembuangan sampah tradisional, seperti pembuangan di tempat pembuangan akhir (TPA) dan pembuangan terbuka, berkontribusi terhadap kontaminasi tanah, risiko kesehatan, dan emisi gas rumah kaca, yang menekankan adanya kebutuhan mendesak akan solusi yang lebih berkelanjutan. Penelitian ini berusaha melakukan evaluasi kelayakan bisnis daur ulang sampah makanan di Indonesia dengan memanfaatkan teknologi berbasis enzim TTT yang mampu mengubah sampah makanan menjadi pupuk kompos organik dalam waktu tiga jam – sebuah alternatif terobosan untuk metode pengomposan tradisional yang biasanya memerlukan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Menghadapi tantangan berat di mana lebih dari 14 juta ton sampah makanan dihasilkan setiap tahun di Indonesia, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana pengelolaan daur ulang sampah makanan dapat ditingkatkan melalui teknologi pengomposan berbasis enzim TTT. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menilai potensi bisnis dari pabrik daur ulang sampah makanan yang menggunakan teknologi enzim ini dan mengidentifikasi strategi-strategi untuk operasi bisnis yang berkelanjutan. Pendekatan penelitian yang menggabungkan data kuantitatif dari survei yang dilakukan di kalangan rumah tangga di Jabodetabek dan Bandung dengan data kualitatif dari wawancara dengan para ahli dan tinjauan pustaka digunakan untuk menyelidiki faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi rumah tangga dalam pemilahan sampah makanan, di mana hasil yang didapatkan digunakan untuk merumuskan strategi pengumpulan sampah bagi pabrik daur ulang sampah makanan. Analisis kelayakan difokuskan pada proyeksi keuangan, potensi pasar untuk pupuk kompos organik, efisiensi operasional, dan potensi profitabilitas. Temuan utama menunjukkan bahwa teknologi berbasis enzim menawarkan waktu proses yang lebih cepat dan biaya yang lebih rendah, serta berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca, penerapan pertanian berkelanjutan, dan perwujudan ekonomi sirkular. Analisis keuangan mengungkapkan kelayakan usaha dan daya tarik investasi dari bisnis daur ulang sampah makanan yang memanfaatkan teknologi enzim ini. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman ilmiah tentang praktik pengelolaan sampah makanan yang berkelanjutan dan menawarkan rekomendasi praktis bagi para pemangku kepentingan mengenai reformasi kebijakan, edukasi publik, serta kolaborasi erat untuk mempromosikan pemilahan sampah dari sumbernya dan penerapan teknologi daur ulang sampah ramah lingkungan. Studi ini menyimpulkan bahwa teknologi berbasis enzim TTT memiliki potensi untuk mengubah lanskap pengelolaan sampah Indonesia, mendorong keberlanjutan lingkungan dan ketahanan ekonomi.
ANALISIS PENERAPAN DIGITALISASI PELAYANAN KETERANGAN RENCANA KOTA (KRK) DI KOTA BANDUNG BERDASARKAN PERSPEKTIF TEORI PUBLIC VALUE
Revolusi Industri 4.0 dan Masyarakat 5.0 telah mempercepat kemajuan kehidupan masyarakat dan meningkatkan kinerja pelayanan publik. Transformasi digital menjadi kunci dalam menciptakan layanan yang efisien, transparan, dan akuntabel. Di Indonesia, digitalisasi pelayanan publik diatur melalui Peraturan Presiden No. 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Bandung, sebagai kota metropolitan terbesar ketiga di Indonesia, menerapkan konsep smart city untuk meningkatkan pelayanan publik. Salah satu inisiatif digitalisasi tersebut adalah Sistem Pelayanan Tata Ruang Kota (SIPETRUK) yang diluncurkan pada tahun 2018 untuk mempermudah pengurusan Keterangan Rencana Kota (KRK). KRK berfungsi sebagai panduan penting dalam pengembangan wilayah yang sesuai dengan peraturan tata ruang dan penggunaan lahan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses dan kualitas pelayanan permohonan KRK di Kota Bandung pasca-digitalisasi dengan mengadopsi pendekatan Public Value. Pendekatan ini menawarkan evaluasi yang lebih komprehensif, mencakup aspek sosial, penciptaan kepercayaan publik, efisiensi, efektivitas, transparansi, serta dampak terhadap tata kelola yang lebih baik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran (mixed methods research), yang mengintegrasikan data kuantitatif dan kualitatif untuk memperoleh hasil yang holistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi SIPETRUK telah memberikan kontribusi positif terhadap transparansi, kemudahan akses, dan efisiensi pelayanan KRK. Namun, beberapa tantangan masih dihadapi, seperti kendala teknis, keterbatasan anggaran, dan kebutuhan pelatihan yang lebih terstruktur. Selain itu, aplikasi ini berpotensi meningkatkan kualitas pengelolaan penggunaan lahan, mengoptimalkan fasilitas umum, dan mengidentifikasi zona rawan bencana. Peningkatan kepercayaan publik terhadap SIPETRUK memperlihatkan bahwa digitalisasi dapat mempercepat proses perencanaan dan pengambilan keputusan. Meskipun demikian, ketidaksetaraan layanan untuk bangunan komersial serta perbaikan teknis yang belum optimal menunjukkan ruang untuk peningkatan lebih lanjut. Dengan integrasi sistem yang lebih baik, peningkatan pelatihan, dan efisiensi operasional, SIPETRUK diharapkan dapat lebih mendukung pertumbuhan ekonomi, menjaga keseimbangan ekologis, dan mempercepat pembangunan berkelanjutan di Kota Bandung.
PERANCANGAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) PUBLIK BERUPA TAMAN KOTA DAN RIMBA KOTA DI GEDEBAGE, KOTA BANDUNG
Kota Bandung menghadapi tantangan besar dalam memenuhi standar minimal proporsi Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar 30% dari total luas wilayah, sebagaimana diamanatkan dalam Permen ATR/BPN No.14 Tahun 2022. Saat ini, proporsi RTH Kota Bandung hanya mencapai 12,47%, yang dapat berdampak negatif pada kondisi lingkungan, seperti peningkatan suhu udara, penurunan kualitas udara, dan risiko banjir. Kecamatan Gedebage, yang menjadi kawasan prioritas pengembangan berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung 2022–2042, memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan terpadu dengan fasilitas sosial dan ekologis berskala kota. Namun, kawasan ini masih kekurangan RTH publik yang dapat menunjang aktivitas sosial masyarakat serta menghadapi permasalahan banjir akibat posisinya sebagai dataran terendah di Cekungan Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk merancang kawasan RTH publik berupa taman kota dan hutan kota di Gedebage dengan mempertimbangkan prinsip perancangan normatif. Penelitian menggunakan metode pengumpulan data primer (observasi dan wawancara), serta data sekunder (dokumen perencanaan, jurnal, dan literatur terkait). Analisis dilakukan melalui deskriptif kualitatif, deskriptif kuantitatif, analisis tapak internal dan eksternal, perancangan fragmental dan pembagian berdasarkan aspek (division by aspect). Rancangan didasarkan pada prinsip perancangan normatif, identifikasi potensi dan persoalan kawasan, serta gagasan desain yang mempertimbangkan kriteria ruang publik, yaitu keberlanjutan, interaksi sosial, edukatif, estetika, dan konektivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rancangan RTH publik Gedebage mengalokasikan 80% kawasan untuk elemen ekologis, seperti lahan hijau dengan vegetasi beragam, embung, dan area resapan air untuk pengendalian banjir. Sisanya, 20% kawasan dirancang untuk sirkulasi dan fasilitas sosial seperti lapangan olahraga, taman bermain, ampiteater, plaza, dan tempat jajanan (foodcourt). Konsep keberlanjutan diterapkan melalui penggunaan material ramah lingkungan, bangunan dengan vertikal garden, dan desain tutupan berpori untuk meningkatkan daya serap air. Selain itu, kawasan ini dirancang untuk mendukung berbagai aktivitas sosial, mulai dari olahraga, rekreasi, hingga edukasi, yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat Kota Bandung.
OPTIMALISASI INFRASTRUKTUR DAN PENGELOLAAN SAMPAH DI WILAYAH TERDAMPAK GEMPA, KECAMATAN CUGENANG, KABUPATEN CIANJUR
Gempa 5.6 SR di Kabupaten Cianjur berdampak negatif di Kecamatan Cugenang, Kota Cianjur. Terdapat 379 jiwa meninggal dunia, 9718 jiwa luka-luka, dan 13834 jiwa mengungsi. Setelah terjadinya gempa, pengelolaan sampah di posko pengungsian tidak dilakukan secara optimal, di mana sampah umumnya dibakar atau ditimbun tanpa pemilahan. Berdasarkan hasil sampling pada Januari 2024, total sampah yang dihasilkan di lima desa terpilih (Desa Benjot, Gasol, Mangunkerta, Wangunjaya, dan Sukamanah) mencapai 6,32 ton/hari. Terdapat beberapa alternatif yang diajukan untuk menyelesaikan permasalahan sampah putrescible dan anorganik di pengolahan sampah yang akan dibangun di Kecamatan Cugenang. Alternatif terpilih dipilih dengan metode Simple Additive Weight (SAW) dengan mempertimbangkan tinjauan pustaka dan beberapa aspek termasuk efisiensi pengolahan, dampak lingkungan, dan biaya operasional. Pengolahan menggunakan BSF dapat mengolah 41,47% sampah atau sekitar 2,62 ton/hari, sementara insinerasi mampu mereduksi 38,64% sampah anorganik atau 2,44 ton/hari. analisis keuangan menunjukkan bahwa proyek ini profitable, dengan Net Present Value (NPV) sebesar Rp 438.273.700 dan Paybacck Period selama 4 tahun dengan skema retribusi Rp 10.000 per kepala keluarga. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis BSF dan insinerasi efektif dalam mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA, sekaligus memberikan manfaat ekonomi. Diharapkan, sistem ini dapat diimplementasikan sebagai solusi berkelanjutan untuk pengelolaan sampah di Kecamatan Cugenang dan wilayah terdampak lainnya.
KAJIAN EMISI GAS RUMAH KACA DARI AKTIVITAS DI KAMPUS JATINANGOR-INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
Perubahan iklim merupakan salah satu isu yang senantiasa menjadi sorotan utama dalam diskusi-diskusi perihal isu lingkungan. Hal ini disebabkan oleh peningkatan emisi gas rumah kaca yang menyebabkan peningkatan temperatur global. Kampus Jatinangor Institut Teknologi Bandung sedang melalui proses pengembangan guna mencapai status “eco-campus”. Dengan demikian, perlu adanya inventarisasi serta perencanaan mitigasi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari setiap sektor kegiatan di Kampus ITB Jatinangor. Penelitian ini berupaya untuk menginventarisasi seluruh sumber emisi gas rumah kaca di Kampus ITB Jatinangor, besaran emisi gas rumah kaca yang dihasilkan tiap sumber, serta menyediakan alternatif-alternatif mitigasi emisi gas rumah kaca yang dapat dilakukan. Berdasarkan panduan dari International Panel on Climate Change (IPCC), dilakukan penelitian terhadap besaran emisi gas rumah kaca dari tiga lingkup aktivitas: scope 1 melingkupi kegiatan yang dikelola langsung oleh pihak kampus (kegiatan kantin, shuttle kampus, produksi air, pengelolaan limbah cair, dan pengomposan sampah), scope 2 (penggunaan listrik), dan scope 3 melingkupi kegiatan yang tidak dikelola kampus secara langsung (transportasi mahasiswa, transportasi dosen, dan pengelolaan sampah anorganik). Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh Kampus ITB Jatinangor diestimasikan mencapai 3.400,68 tonCO2e/tahun. Diajukan alternatif terkait empat sektor aktivitas berbeda untuk membantu reduksi emisi gas rumah kaca, dengan penanaman hutan dan arboretum kampus sebagai alternatif paling efektif (mereduksi 42,92% dari emisi total).
IMPLEMENTASI TATA KELOLA ADAPTIF DALAM MEWUJUDKAN KETAHANAN IKLIM BERBASIS MASYARAKAT: KASUS DI PROGRAM KAMPUNG IKLIM CIBUNUT, KOTA BANDUNG
Program Kampung Iklim (Proklim) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah memberikan penghargaan kepada masyarakat yang aktif melaksanakan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim secara berkelanjutan. Salah satunya di RW 07 Cibunut, Kota Bandung, yang mendapatkan penghargaan Proklim Lestari. Program ini menerapkan konsep Community-Based Adaptation (CBA). Studi ini bertujuan untuk menganalisis implementasi tata kelola adaptif dalam mewujudkan ketahanan iklim berbasis masyarakat melalui Proklim di Cibunut, Kota Bandung. Pendekatan kualitatif berupa analisis deskriptif yang digunakan pada studi ini. Empat komponen tata kelola adaptif yang digunakan penilaian yaitu kelembagaan polisentris dan multilayer, organisasi mandiri dan jaringan, kolaborasi dan partisipas, serta pembelajaran dan inovasi. Hasil studi ini menunjukkan bahwa implementasi tata kelola adaptif dalam Proklim di Cibunut berhasil menciptakan ketahanan iklim berbasis masyarakat. Dengan peran penting pemerintah melalui Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung dan peran dari Yayasan Gerakan Semangat Selalu Ikhlas, Proklim di Cibunut fokus pada pengelolaan sampah terstruktur dan melibatkan komunitas dalam berbagai kegiatan. Partisipasi aktif masyarakat dan kolaborasi dengan stakeholder mendukung keberhasilan program. Pendidikan dan inovasi lingkungan dilakukan melalui komunitas Bocah Cinta Lingkungan dan kerjasama dengan SMKN 15 serta pelaksanaannya dilakukan melalui pembinaan dan edukasi masyarakat, meskipun masih terdapat kendala, seperti kurangnya kesadaran masyarakat akan pemilahan sampah dan minimnya dukungan anggaran dari pemerintah daerah. Proklim Cibunut mendapat berbagai penghargaan dan menjadi contoh keberhasilan tata kelola adaptif. Studi ini menyarankan bahwa Proklim Cibunut perlu melakukan pendampingan berkelanjutan kepada masyarakat dengan menyediakan ruang khusus untuk pengembangan program adaptif. Pemerintah Kota Bandung, terutama Dinas Lingkungan Hidup, harus memastikan kebijakan lingkungan bersifat jangka panjang dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP KECELAKAAN JALAN PADA WILAYAH PERKOTAAN: STUDI KASUS PROVINSI DKI JAKARTA
DKI Jakarta merupakan kota megapolitan yang paling berpengaruh di Indonesia, tidak hanya sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian, tetapi juga sebagai pusat budaya dan sosial. Kota ini merupakan salah satu wilayah dengan tingkat mobilitas yang padat, dimana setiap harinya jutaan orang melakukan perjalanan untuk bekerja, bersekolah, dan menjalankan aktivitas lainnya. Dengan tingkat aktivitas dan mobilitas yang tinggi, wilayah perkotaan DKI Jakarta mengalami dinamika yang kompleks, termasuk risiko peningkatan angka kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas yang terjadi sering kali menitikberatkan kesalahan pada faktor manusia, tanpa mempertimbangkan faktor-faktor lain yang mungkin juga berpengaruh, seperti faktor lingkungan. Faktor lingkungan tersebut meliputi hari kejadian, waktu kejadian, kondisi cuaca, fungsi jalan hingga guna lahan, yang semuanya berpotensi memengaruhi kecelakaan lalu lintas yang terjadi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap kecelakaan lalu lintas yang terjadi di wilayah perkotaan DKI Jakarta dari tahun 2019 hingga tahun 2023, menunjukkan bahwa faktor-faktor lingkungan tersebut seperti hari kejadian, waktu kejadian, kondisi cuaca, fungsi jalan, kelas jalan, tipe jalan, lebar jalan, bentuk geometri jalan, dan guna lahan, turut berkontribusi terhadap kecelakaan lalu lintas yang terjadi. Namun demikian, faktor-faktor lingkungan tersebut tidak selalu konsisten dalam memengaruhi kecelakaan lalu lintas yang terjadi pada periode tahun 2019 hingga tahun 2023. Hal ini menunjukkan bahwa selain faktor manusia, perhatian juga perlu diberikan pada faktor lingkungan untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif mengenai penyebab kecelakaan lalu lintas di wilayah perkotaan DKI Jakarta.
EFEKTIVITAS PENERAPAN NATURE BASED SOLUTION (NBS) DALAM MITIGASI BENCANA BANJIR DI KOTA JAKARTA TIMUR
Perubahan iklim telah memperburuk risiko bencana perkotaan secara global, khususnya di kota-kota di belahan bumi selatan, seperti Jakarta, Indonesia, yang mengalami urbanisasi sangat pesat. Salah satu tantangan besar yang dihadapi Jakarta adalah banjir yang berulang akibat perubahan iklim dan pesatnya perkembangan tata guna lahan. Solusi Nature-based Solutions (NbS) yang dipadukan dengan pendekatan infrastruktur hybrid merupakan langkah adaptif yang penting bagi suatu kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi efektifitas penerapan NbS yang dilakukan Kota Jakarta Timur dalam mitigasi bencana banjir. Studi ini menggunakan kerangka penelitian metode campuran, yang menggabungkan metodologi kualitatif dan kuantitatif. Teknik kualitatif berupa tinjauan pustaka digunakan untuk mengidentifikasi parameter penilaian efektivitas penerapan NbS dan merumuskan strategi peningkatan NbS dalam mitigasi bencana banjir. Sedangkan, metode kuantitatif diterapkan untuk mengukur tingkat efektivitas penerapan NbS dalam mitigasi bencana banjir yang ada dan direncanakan di Jakarta. Penilaian efektivitas NbS terbagi kedalam dua penilaian, yaitu pertama penilaian implikasi NbS dalam mitigasi bencana banjir berdasarkan empat indikator green, grey, hybrid infrastructure, serta infrastruktur pendukung. Kedua, penilaian kategori NbS dalam mitigasi banjir berdasarkan aspek penilaian dan jenis tipologi. Berdasarkan hasil penilaian, indikator terbesar pada implikasi NbS, yaitu pada indikator infrastruktur pendukung (skor 7,91 dari 10) dan diikuti grey infrastructure (7,25). Sedangkan, hasil penilaian pada kategori NbS dalam mitigasi banjir terbesar, yaitu aspek fisik (8,28). Sehingga dapat disimpulkan jika efektifitas penanganan banjir di Jakarta Timur masih berbasis grey infrastructure dan infrastruktur fisik. Strategi mitigasi bencana banjir yang diusulkan mencakup berbagai pendekatan, seperti penguatan upaya berbasis green dan hybrid infrastructure, peningkatan aspek sosial dan kelembagaan, serta melakukan evaluasi secara berkala. Upaya-upaya ini bertujuan untuk meningkatkan keberlanjutan perkotaan dan mitigasi bencana banjir di Jakarta secara efektif.
PENENTUAN PRIORITAS INTERVENSI NATURE-BASED SOLUTION (NBS) DALAM UPAYA MITIGASI BANJIR DENGAN SWOT-AHP DI KOTA BANDUNG
Kota Bandung mengalami banjir akibat faktor geografis yang cekung dan faktor lingkungan. Degradasi lingkungan juga menjadi faktor dari risiko banjir di Kota Bandung. Pendekatan NbS menawarkan solusi berkelanjutan dengan memanfaatkan ekosistem alam untuk upaya mitigasi dalam mengurangi risiko banjir, berbeda dengan infrastruktur konvensional yang seringkali kurang efektif. Namun, dalam konteks Kota Bandung, penerapan NbS harus menyesuaikan dengan kondisi lokal karena memiliki perhatian sendiri. Penelitian ini mengadopsi metode metode SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) dan analytical hierarchy process (AHP) untuk menentukan prioritas strategi untuk intervensi NbS yang paling sesuai diterapkan di Kota Bandung. Beberapa intervensi NbS dipertimbangkan dengan konteks kondisi Kota Bandung berdasarkan kajian literatur dan studi terkait. Metode SWOT ini mengidentifikasi kekuatan dan peluang dari penerapan NbS, tantangan yang mungkin dihadapi dan kekurangan seperti keterbatasan lahan. Setelah itu, dari hasil analisis AHP akan menghasilkan prioritas alternatif intervensi yang sesuai. Faktor opportunity yang memiliki bobot terbesar memainkan peranan penting dalam penerapan Nature-based Solutions (NbS). Beberapa faktor lain dari penerapan NbS di Kota Bandung perlu diperhatikan ataupun ditingkatkan. Kolam retensi diprioritaskan sebagai strategi NbS yang paling sesuai untuk mengurangi risiko banjir di Kota Bandung. Penelitian ini juga menekankan pentingnya NbS yang dapat beradaptasi dengan kondisi lokal. Selain itu, penelitian ini menyoroti perlunya memperhatikan dan meningkatkan kondisi lokal agar penerapan NbS dapat berjalan dengan baik.