📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 2 dokumen

PRAKTIK EKONOMI SIRKULAR DAN KONDISI PENDUKUNGNYA PADA UMKM SHIBIRU: PERSPEKTIF TATA KELOLA KEWILAYAHAN DAN KAPASITAS SUMBER DAYA LOKAL

Transisi menuju ekonomi sirkular merupakan salah satu pendekatan untuk mengurangi permasalahan limbah di industri tekstil (Jia dkk., 2020). Meskipun demikian, literatur mengenai transisi ekonomi sirkular masih berfokus pada pengelolaan limbah pascakonsumsi di kawasan perkotaan (hilir), sementara dinamika adopsi praktik sirkular di sepanjang rantai pasok yang berada di perdesaan masih terbatas. Penelitian ini mengidentifikasi bagaimana tata kelola kewilayahan dan kapasitas sumber daya berperan dalam memengaruhi transisi ekonomi sirkular di hulu rantai pasok. Untuk menjawab kesenjangan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis tematik yang mengintegrasikan kerangka Supply Chain Taxonomy, hierarki strategi sirkular 9R, dan Territorial Circular Economy (TCE) dengan kasus studi pada Shibiru sebagai pelaku usaha di hulu rantai pasok batik. Analisis menunjukkan bahwa Shibiru berperan dalam beberapa tingkatan rantai pasok sekaligus (Tier 4 hingga Tier 1) serta sudah menerapkan berbagai strategi 9R meskipun tidak disadari oleh pelaku usahanya. Tata kelola kewilayahan di rantai pasok Shibiru berkembang secara bottomup yang mendorong transisi ekonomi sirkular melalui koordinasi informal, kedekatan geografis, dan kepercayaan antaraktor dalam dukungan institusional formal yang masih terbatas. Kapasitas sumber daya lokal mendukung keberlanjutan transisi ekonomi sirkular melalui inovasi berbasis trial and error, pertukaran pengetahuan, dan kemampuan beradaptasi terhadap keterbatasan tenaga kerja. Temuan ini menunjukkan bahwa implementasi ekonomi sirkular di hulu rantai pasok perdesaan lebih ditentukan oleh kapasitas adaptif pelaku usaha dan tata kelola kewilayahan daripada kepatuhan regulasi, sehingga diperlukan kebijakan berbasis tempat (place-based policies) yang selaras dengan karakteristik tersebut.

2026
👤 Penulis: Ahmad Luthfi Hafidudin
🏷️ Ekonomi Sirkular 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Perdesaan 🏷️ Kecerdasan Buatan Lokal

ANALISA ANOMALI PANGSA PASAR DAN INISIATIF STRATEGIS TELKOMSEL DI WILAYAH PEDESAAN BANTEN

PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) memiliki pangsa pasar nasional sebesar 48,6% pada tahun 2025, namun pangsa pasarnya di Branch Serang, yang mencakup enam wilayah geografis di Provinsi Banten, hanya 25,38% per Februari 2026. Kesenjangan 23 persen poin ini merupakan anomali signifikan yang tidak dapat dijelaskan oleh kualitas jaringan maupun harga, karena infrastruktur Telkomsel kompetitif di wilayah tersebut dan regulasi harga industri pasca-2025 telah menghilangkan harga sebagai pembeda utama. Penelitian ini menyelidiki faktor-faktor pendorong kesenjangan tersebut dan mengembangkan inisiatif strategis berbasis bukti untuk pemulihan pangsa pasar. Penelitian menerapkan desain mixed methods convergent parallel dengan filosofi pragmatis. Komponen kualitatif terdiri dari wawancara mendalam dengan tiga narasumber senior yang merepresentasikan perspektif komersial, analitis, dan eksekusi lapangan di Telkomsel. Komponen kuantitatif terdiri dari survei terstruktur terhadap 347 pelanggan prabayar perdesaan yang tersebar di enam cluster Branch Serang, mengukur persepsi dan perilaku melalui delapan belas item Likert ditambah variabel demografis dan perilaku. Data kualitatif dianalisis menggunakan analisis tematik mengikuti Braun dan Clarke, sementara data kuantitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif, tabulasi silang dengan uji chi-square, dan segmentasi perilaku. Temuan terintegrasi mengidentifikasi lima pendorong yang saling terkait. Pertama, kesenjangan persepsi yang persisten, dengan pengguna non-Telkomsel memberikan skor persepsi premium yang lebih tinggi (3,53-3,79) dibandingkan pengguna saat ini (3,24), mengkonfirmasi Teori Disonansi Kognitif dalam konteks perdesaan. Kedua, inersia perilaku yang diperkuat oleh norma keluarga dan komunitas. Ketiga, penurunan ARPU struktural akibat adopsi WiFi rumah, dengan 66,6% responden mengurangi pembelian paket data seluler. Keempat, segmen muda yang kurang terlayani, dengan pangsa Telkomsel hanya 46,7% pada kelompok usia 12-17 tahun dibandingkan 71,7% pada usia 35-44 tahun (chi-square p=0,001). Kelima, keterbatasan otoritas eksekusi di tingkat branch. Empat segmen perilaku diidentifikasi, dengan segmen muda (S3, sekitar 22% dari sampel) diprioritaskan sebagai target akuisisi strategis. Solusi bisnis yang diusulkan mengintegrasikan analisis matriks TOWS, kerangka STP, dan bauran pemasaran 7P ke dalam peta jalan implementasi bertahap yang mencakup inisiatif tingkat branch dan tingkat korporat. Prioritas tingkat branch meliputi peningkatan skala program akar rumput Kampung Telkomsel (divalidasi oleh ketiga narasumber), aktivasi tokoh komunitas, uji coba saluran distribusi koperasi desa (kopdes), dan penerapan kampanye micro-influencer untuk segmen muda. Prioritas tingkat korporat meliputi penyegaran portofolio produk untuk anak muda, perancangan paket ringan komplementer WiFi, peningkatan struktur komisi outlet, dan adopsi kerangka KPI ganda Subscriber Online (SO) dan Revenue Generating Base (RGB). Penelitian ini memberikan kontribusi empiris pada Teori Disonansi Kognitif, BJ Fogg Behavior Model, dan literatur bottom-of-the-pyramid (BoP) dalam konteks telekomunikasi perdesaan pasar berkembang.

2026
👤 Penulis: Raden Agie Satria Akbar
🏷️ Teori Disonansi Kognitif 🏷️ Manajemen Rantai Pasok Perdesaan 🏷️ Bj Fogg Behavior Model
💬