📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 11 dokumenPERANCANGAN JADWAL DAN RUTE DISTRIBUSI BAHAN BAKAR EXCAVATOR TAMBANG BERBASIS MODEL VEHICLE ROUTING PROBLEM DENGAN ALGORITMA METAHEURISTIK
Industri pertambangan batu bara mengoperasikan alat berat yang bekerja secara dependen, sehingga downtime dari satu unit excavator berdampak langsung pada seluruh dump truck yang dipasangkan dengannya. Di Distrik ABC PT X, pengisian bahan bakar excavator yang dilakukan di luar jendela waktu istirahat menjadi penyebab utama siklus abnormal. Permasalahan ini disebabkan oleh penjadwalan yang tidak selaras dengan jendela waktu serta penentuan rute yang dilakukan secara tidak sistematis oleh pengemudi fuel truck. Penelitian ini bertujuan untuk merancang model penjadwalan dan penentuan rute distribusi bahan bakar bagi fuel truck yang meminimumkan siklus abnormal akibat pengisian bahan bakar excavator di luar jendela waktu istirahat sekaligus meminimumkan biaya operasional armada. Permasalahan dimodelkan sebagai Multi-Depot Fleet Multi-Trip Vehicle Routing Problem with Soft Time Windows (MDMT-VRPSTW). Mengingat kompleksitas permasalahan, digunakan metode metaheuristik dengan algoritma genetika untuk menghasilkan solusi yang mendekati optimal global dalam waktu komputasi yang efisien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang dikembangkan berhasil mengeliminasi seluruh siklus abnormal akibat pengisian bahan bakar di luar jendela waktu istirahat, dari semula 5 kejadian dengan total durasi 33 menit menjadi 0 kejadian. Jadwal usulan dapat dioperasikan hanya dengan 6 unit fuel truck, berkurang 4 unit dibandingkan kondisi existing, dengan total biaya operasional sebesar Rp5.495.093 per hari atau penghematan sebesar 36,69% dari kondisi existing. Solusi tersebut dihasilkan dalam waktu komputasi 356,6 detik.
PENINGKATAN EFISIENSI WAKTU ISTIRAHAT (MEAL BREAK) MENGGUNAKAN SIX SIGMA UNTUK MEMINIMALKAN KETERLAMBATAN OPERASIONAL: STUDI KASUS PADA SEKTOR PERTAMBANGAN DI INDONESIA
Pemanfaatan waktu kerja yang efisien merupakan aspek penting dari efisiensi operasional di sektor pertambangan, khususnya ketika pekerjaan diatur dalam skala besar dan sistem shift, dan produktivitas peralatan berpengaruh langsung terhadap produksi. Salah satu sumber inefisiensi yang umum adalah Internal Operational Delay (IOD) yang biasanya diabaikan sebagai waktu tidak produktif yang terjadi akibat aktivitas operasional internal. Pelaksanaan istirahat makan, di antara faktor-faktor lain yang menyebabkan IOD, telah ditemukan sebagai faktor utama yang dapat mengganggu alur kerja jika tidak dikelola dengan baik. Istirahat makan merupakan aspek yang terjadwal dan wajib dalam kerja shift, namun pada kenyataannya dapat mengakibatkan banyak waktu menganggur dan kurangnya pemanfaatan peralatan serta anomali dalam Primary Working Time (PWT). Studi ini bertujuan untuk menyelidiki implementasi istirahat makan dalam penundaan operasi dan untuk merancang cara metodis untuk meningkatkan operasi pertambangan di Indonesia. Latar belakang literatur menunjukkan bahwa tidak semua keterlambatan operasional memerlukan intervensi yang kompleks atau berskala besar. Sebaliknya, proses lain yang mudah dikelola dan rutin dilakukan seperti penjadwalan istirahat makan memiliki peluang peningkatan yang lebih baik dengan implementasi yang relatif rendah dan dosis operasi yang tinggi. Studi ini menggunakan teknik Six Sigma DMAIC (Define–Measure-Analyze-Improve-Control) untuk mengidentifikasi, mengukur, dan menghilangkan implementasi istirahat makan secara efektif dan sistematis. Pada fase Define, masalah didefinisikan sebagai kesenjangan antara waktu operasi yang direncanakan dan waktu produktif, dan keterlambatan istirahat makan menjadi prioritas. Tahap Measure menerapkan data operasional, khususnya data PWT dan data IOD, serta pengendalian proses statistik dengan grafik kontrol Individuals-Moving Range (XmR) berdasarkan pedoman NIST untuk mengukur stabilitas dan variabilitas proses. Tahap Analyze menggunakan berbagai metode analisis, seperti analisis Pareto, Diagram Tulang Ikan, Validasi Akar Penyebab, dan Matriks Prioritas Penyebab (Dampak × Upaya), untuk mengenali dan mengkonfirmasi penyebab utama keterlambatan. Hasil menunjukkan bahwa implementasi istirahat makan, terutama penggunaan istirahat makan simultan dalam armada, menghasilkan efek gelombang di mana beberapa unit menganggur secara bersamaan. Hal ini mengakibatkan penurunan yang signifikan dalam penggunaan peralatan aktif dan jeda waktu dalam memulai kembali operasi setelah waktu istirahat. Analisis ini juga menetapkan faktor-faktor yang berkontribusi dalam dimensi orang, proses, mesin, material, dan lingkungan, tetapi faktor-faktor yang dominan dan dapat dikelola adalah faktor-faktor yang terkait dengan proses. Berdasarkan temuan ini, tahap Peningkatan menyiratkan pengenalan sistem istirahat makan berjenjang, di mana istirahat akan diatur secara berurutan, dan bukan secara bersamaan. Ini juga akan membantu dalam menawarkan kontinuitas operasional antara periode istirahat yang akan mengurangi waktu idle dan meningkatkan PWT secara keseluruhan. Analisis biaya-manfaat menunjukkan bahwa solusi yang disarankan akan memberikan hasil positif, yang membuktikan bahwa peningkatan operasi dapat diimplementasikan tanpa menghabiskan modal yang besar. Fase Pengendalian menunjukkan proses untuk mempertahankan peningkatan tersebut, termasuk pengembangan Standard Operating Procedure (SOP), pelacakan kinerja berdasarkan pengukuran kunci seperti PWT dan IOD, dan integrasi dengan sistem pengendalian operasional. Studi ini menunjukkan bahwa optimalisasi implementasi istirahat makan dapat digunakan untuk mengurangi Penundaan Operasional Internal secara signifikan dan meningkatkan PWT, yang menghasilkan kinerja produksi yang lebih stabil dan efisien. Studi ini bernilai karena menyediakan pendekatan yang layak dan berbasis data untuk mengatasi inefisiensi operasional melalui peningkatan proses secara sistematis. Selain itu, studi ini menyoroti perlunya fokus pada area operasi yang dapat dikendalikan sebagai titik awal peningkatan kinerja secara umum di lingkungan industri yang beragam. Hasil penelitian ini berpotensi memberikan kontribusi bagi industri pertambangan dan industri lain yang menerapkan konsep kerja shift dan penggunaan peralatan sebagai faktor kunci dalam keberhasilan operasionalnya.
ALGORITMA OPTIMASI PERIODE REMANUFACTURING ENGINE CATERPILLAR 777E DI LAPANGAN PERTAMBANGAN ADARO TUTUPAN
Industri pertambangan menuntut penggunaan alat berat dengan tingkat keandalan dan durabilitas yang tinggi untuk mendukung operasi berintensitas tinggi. Heavy Duty Dump Truck Caterpillar 777E merupakan salah satu peralatan utama yang berperan penting dalam kelancaran produksi. Seiring bertambahnya jam operasi, engine mengalami degradasi performa akibat keausan dan faktor operasional, sehingga penentuan usia pakai yang tidak tepat berpotensi menyebabkan pemborosan biaya atau peningkatan risiko kegagalan. Hingga saat ini, banyak keputusan remanufacturing masih didasarkan pada interval jam operasi tetap tanpa mempertimbangkan kondisi aktual dan implikasi ekonomi secara menyeluruh. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan usia pakai optimum engine Caterpillar 777E berdasarkan pendekatan berbasis data yang mengintegrasikan aspek keandalan, ekonomi, dan lingkungan. Metodologi penelitian ini menggunakan data operasional aktual yang meliputi Vital Information Management System (VIMS), Scheduled Oil Sampling (SOS), data biaya perawatan, serta data emisi karbon. Analisis degradasi performa dilakukan melalui pemodelan tren parameter sensor VIMS, sedangkan degradasi internal engine dianalisis menggunakan metode akumulasi wear metal dan pemodelan statistik berbasis distribusi Weibull marginal yang dikombinasikan dengan Gaussian Copula. Estimasi reliabilitas dan Remaining Useful Life (RUL) dilakukan secara probabilistik dengan pendekatan bootstrap. Selanjutnya, analisis Life Cycle Cost (LCC) digunakan untuk menentukan usia pakai optimum secara ekonomis, serta analisis emisi karbon dilakukan untuk mengevaluasi dampak lingkungan sepanjang siklus hidup engine. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter VIMS dan wear metal tertentu memiliki korelasi yang kuat terhadap degradasi engine dan waktu kegagalan. Pemodelan Weibull–Copula mampu memberikan estimasi reliabilitas dan RUL yang lebih representatif dibandingkan pendekatan deterministik. Analisis LCC mengindikasikan adanya titik optimum biaya siklus hidup yang tidak selalu bertepatan dengan umur teknis engine. Selain itu, integrasi analisis emisi karbon menunjukkan bahwa keputusan remanufacturing berpengaruh signifikan terhadap total emisi CO? kumulatif. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kerangka kuantitatif yang komprehensif untuk mendukung pengambilan keputusan perawatan dan remanufacturing engine secara lebih efisien dan berkelanjutan.
HIDROGEOLOGI DAN HIDROGEOKIMIA TIMBUNAN DISPOSAL DAN HEAP LEACH PAD TAMBANG EMAS PT. XYZ
Airtanah memegang peranan penting dalam sistem hidrologi, khususnya pada kawasan pertambangan terbuka yang rentan mengalami perubahan kondisi hidrogeologi akibat aktivitas penambangan. Salah satu permasalahan yang umum dijumpai adalah munculnya rembesan air (seepage) pada tubuh timbunan dan lereng disposal, yang berpotensi meningkatkan tekanan pori, menurunkan stabilitas lereng, serta menjadi jalur transport kontaminan. Penelitian ini dilakukan di area disposal PT. XYZ, Sulawesi Utara, yang mengalami rembesan air dengan debit fluktuatif hingga ±8 L/s saat curah hujan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sumber dan mekanisme rembesan air serta mengevaluasi efektivitas sistem drainase horizontal dalam mengendalikan muka airtanah. Metode yang digunakan meliputi analisis hidrogeokimia (IC dan ICP-MS), isotop stabil ?²H–?¹?O dan ?¹³C, serta pemodelan hidrogeologi dan transport kontaminan menggunakan Visual MODFLOW. Hasil analisis menunjukkan dua fasies air utama, yaitu Ca–SO? pada rembesan dan Ca–HCO? pada air alami. Analisis isotop mengindikasikan bahwa rembesan merupakan hasil pencampuran antara aliran Primary Underdrain dan air Sediment Pond yang terinfiltrasi, tanpa indikasi kebocoran dari fasilitas heap leach pad. Pemodelan menunjukkan muka airtanah berada di atas permukaan topografi, dan penerapan drainase horizontal efektif menurunkan muka airtanah sebesar 5–15 m dalam satu tahun. Simulasi transport sulfat menunjukkan tidak adanya potensi pencemaran airtanah yang signifikan.
MENILAI KELAYAKAN ELEKTRIFIKASI PERTAMBANGAN DALAM MENDUKUNG INSIATIF DEKARBONISASI PT BUKIT ASAM TBK MELALUI RETSCREEN EXPERT
Seiring Indonesia bergerak menuju masa depan rendah karbon, perusahaan pertambangan mengubah cara mereka menggunakan energi. Studi ini berfokus pada area pertambangan batubara utama di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, di mana kendaraan bertenaga diesel masih banyak digunakan. Dengan menggunakan RETScreen Expert, studi ini meneliti kepraktisan dan efektivitas biaya peralihan ke kendaraan listrik di Indonesia. Temuan menunjukkan manfaat lingkungan yang substansial: emisi tahunan dapat turun dari 10,53 juta tCO2e menjadi 4,89 juta tCO2e, pengurangan sekitar 53,5%. Namun, elektrifikasi akan meningkatkan penggunaan listrik tambang menjadi hampir 900 juta kWh per tahun dan membutuhkan investasi awal yang signifikan sekitar USD 484 juta. Proyek ini diperkirakan memiliki tingkat pengembalian internal (IRR) ekuitas sebelum pajak sebesar 12% dan periode pengembalian modal selama 13,1 tahun. Analisis sensitivitas dan simulasi Monte Carlo menunjukkan bahwa hasilnya sangat bergantung pada harga diesel, tarif listrik, dan biaya modal. Studi ini menyoroti pertimbangan yang jelas: elektrifikasi menawarkan manfaat lingkungan yang stabil, tetapi keberhasilan finansialnya bergantung pada biaya dan dukungan kebijakan. Seiring Indonesia mengejar tujuan emisi nol bersih, hasil ini menggarisbawahi perlunya insentif strategis dan opsi pembiayaan tambahan untuk membantu perusahaan pertambangan mengadopsi teknologi yang lebih bersih.
OPTIMALISASI CADANGAN BATUBARA DI PIT MUARA TIGA BESAR UTARA (MTBU) PT BUKIT ASAM UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI TAHUN 2025
Industri pertambangan memiliki peran penting dalam perekonomian nasional, dengan batubara sebagai salah satu komoditas utama yang berperan dalam pemenuhan kebutuhan energi dan peningkatan pendapatan ekspor. PT Bukit Asam, sebagai produsen batubara nasional, memiliki peran strategis dalam penyediaan batubara dengan penambangan utama yang berlokasi di Tanjung Enim. Tantangan yang dihadapi perusahaan adalah adanya kesenjangan produksi antara Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) internal dengan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang disetujui pemerintah untuk Tahun 2025. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi optimal dalam meningkatkan produksi batubara pada salah satu blok utama, yaitu Pit Muara Tiga Besar Utara (MTBU). Analisis dimulai dengan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal menggunakan kerangka kerja PESTEL dan VRIO. Hasilnya mengarahkan pada dua alternatif strategi optimasi cadangan batubara di area dasar barat dan dasar tengah pit. Evaluasi strategi dilakukan melalui analisis biaya-manfaat. Hasil analisis menunjukkan bahwa Alternatif 2, optimalisasi di area tengah pit, memiliki tingkat kelayakan finansial yang lebih baik di seluruh indikator yaitu NOPM, ROI, dan BEP. Selanjutnya dilakukan analisis sensitivitas pada alternatif terpilih. Hasilnya menunjukkan bahwa harga batubara dan biaya operasional memiliki pengaruh paling besar terhadap Net Operating Cash Flow (NOCF) dengan estimasi dasar sebesar Rp924.85 miliar. Strategi implementasi disusun dalam tiga tahap yaitu persiapan awal, optimalisasi produksi, serta pemantauan dan evaluasi. Pendekatan terstruktur ini memastikan proses optimisasi dapat dijalankan secara efektif dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Kemudian dilakukan analisis manajemen risiko. Risiko utama yang diidentifikasi mencakup potensi gangguan operasional, pembengkakan biaya, dan risiko pasar. Strategi mitigasi meliputi penyediaan peralatan yang memadai, penerapan pemantauan biaya secara real-time, serta pengurangan risiko harga melalui strategi yang tepat.
OPTIMALISASI OPERASI SEDIMENTASI UNTUK PENGOLAHAN AIR ASAM TAMBANG BATU BARA DARI COAL PROCESSING PLANT DAN COAL PIT AREA
Coal processing plant dan coal pit area merupakan lokasi pembentukan air asam tambang pada industri pertambangan batu bara terbuka. Air asam tambang yang terbentuk dari lokasi ini memiliki karakteristik total solid yang tinggi (>1000 mg/L), pH cenderung asam (<6,3), Fe total yang tinggi (>7 mg/L). Partikel yang terkandung di dalam sampel berjenis koloid (CPP A dan CPP B) dan supra-koloid (CPP C dan tambang) yang relatif stabil tersuspensi dalam air. Kondisi ini memungkinkan skema pengolahan koagulasi-flokulasi dan sedimentasi menjadi opsi pengolahan yang efektif. Koagulan alum, PAC, dan PolyDADMAC diuji jar test untuk meninjau dosis koagulan optimum untuk masing-masing sampel. Penggunaan koagulan PAC optimal pada sampel CPP A (dosis 150 mg/L), koagulan alum optimal pada sampel CPP C (dosis 50 mg/L dengan penyesuaian pH terlebih dahulu), dan koagulan PolyDADMAC optimal pada sampel CPP B (dosis 20 mg/L) dan tambang (dosis 2,5 mg/L). Dalam optimalisasi proses sedimentasi, sampel CPP A, CPP B, CPP C, dan tambang masing-masing membutuhkan waktu detensi 3,01 jam, 0,35 jam, 1,75 jam, dan 1,22 jam, serta overflow rate masing-masing senilai 0,2 m3 /jam-m2 , 3,02 m3 /jam-m2 , 0,47 m3 /jam-m2, dan 0,55 m3 /jam-m2 Kedua nilai ini menjadi acuan konsiderasi dimensi kolam pengendapan dan rekayasa skema konfigurasi pengolahan.
TRUCKING SISTEM VS. CONVEYOR SISTEM UNTUK TRANSPORTASI MATERIAL BATUBARA DI TAMBANG PT. BUKIT ASAM
Meskipun lanskap energi global terus bergerak menuju praktik yang lebih bersih dan berkelanjutan, industri batubara di Indonesia tetap menjadi pilar penting dalam memenuhi kebutuhan energi nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi. PT Bukit Asam Tbk (PTBA), sebagai salah satu produsen batubara terbesar di Indonesia yang dimiliki oleh negara, telah menetapkan target ambisius untuk meningkatkan produksi dari 40 juta ton pada tahun 2024 menjadi 100 juta ton pada tahun 2029, atau hampir tiga kali lipat. Untuk mencapai target ini, PTBA perlu menerapkan metode transportasi batubara yang lebih hemat biaya dan ramah lingkungan. Studi ini mengkaji kelayakan ekonomi dan strategis dari penggantian sistem angkutan batubara berbasis dump truck sepanjang 6 kilometer di tambang Banko Tengah dengan sistem konveyor. Penelitian ini menggunakan pendekatan pengumpulan data campuran, dengan menggabungkan data primer—yang diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan diskusi kelompok terfokus bersama pemangku kepentingan internal dan ahli eksternal—dan data sekunder dari laporan perusahaan, analisis pasar, serta data pembanding industri. Metode analisis keuangan yang digunakan meliputi NPV, IRR, dan Analisis Inkremental, serta penilaian risiko melalui analisis sensitivitas, perencanaan skenario, dan simulasi Monte Carlo. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa sistem konveyor memberikan keuntungan finansial yang signifikan, dengan NPV sebesar Rp6,57 triliun dan IRR sebesar 19,97%, melampaui ambang kelayakan investasi. Simulasi Monte Carlo menunjukkan bahwa proyek ini memiliki probabilitas keberhasilan sebesar 71% untuk menghasilkan laba yang positif secara optimistis. Selain itu, sistem konveyor juga memberikan manfaat nyata berupa penurunan konsumsi bahan bakar, pengurangan emisi, peningkatan keselamatan, dan konsistensi operasional yang lebih baik. Studi ini memberikan kontribusi terhadap wacana keberlanjutan dalam industri pertambangan dengan menunjukkan bahwa investasi yang lebih besar pada sistem konveyor dapat memberikan nilai jangka panjang bagi sektor batubara.
ANALISIS RISIKO KESEHATAN PAPARAN DEBU RESPIRABLE TERHADAP PEKERJA DI LINGKUNGAN KERJA PENGOLAHAN BIJIH MINERAL PT. X.
Proses pengolahan bijih mineral merupakan bagian integral dari bisnis pertambangan yang di kelola PT. X. Pengolahan bijih mineral menghasilkan debu yang bersifat respirable. Debu ini mengandung berbagai bahan zat karsinogenik dan non-karsinogenik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai risiko kesehatan yang disandang pekerja akibat pajanan debu respirable di lingkungan kerja pengolahan bijih mineral di PT. X. Penelitian epidemiologi ini menggunakan desain cross sectional terhadap 40 pekerja yang terbagi dua kelompok sampel: 30 pekerja yang terpapar debu (kelompok terpajan) dan 10 pekerja yang tidak terpapar debu (kelompok kontrol). Pompa sampel udara perseorangan digunakan untuk menilai paparan debu respirable yang dapat dihirup. Inductively Coupled Plasma Optical Emission Spectroscopy (ICP-OES) digunakan untuk analisis karakterisasi logam dalam debu. Uji fungsi paru-paru diperoleh menggunakan spirometer Contec 100A. Keseluruhan data yang diperoleh diolah dengan perangkat lunak Minitab dengan analisis statistik deskriptif, bivariat (korelasi dan chi-square), multivariat (regresi linear berganda). Berdasarkan hasil pengukuran rata-rata konsentrasi paparan debu respirable dan logam mineral lainnya di area proses Crushing lebih besar dibandingkan Grinding, Flotasi, dan perkantoran (kontrol). Terdapat perbedaan signifikan rata-rata konsentrasi di area kerja proses pengolahan bijih mineral (p-value <0,05) untuk konsentrasi paparan debu respirable dan konsentrasi setiap logam mineral Al, Ca, Cu, dan Si. Namun tidak ada perbedaan signifikan rata-rata konsentrasi logam mineral Fe dan Zn (p-value >0,05). Dengan urutan besaran nilai rata-rata konsentrasi debu logam mineral dalam sampel debu respirable Fe > Ca > Si > Cu > Al > Zn. Penggunaan masker respirator dapat menurunkan paparan debu respirable hingga mencapai faktor perlindungan (APF), sehingga uji kesesuaian yang tepat menjadi penting dilakukan. Berdasarkan analisis regresi linear berganda variabel rerata dosis harian ter inhalasi debu respirable, kelembapan relatif, PM10, jenis rotasi bekerja, dan kebiasaan merokok secara signifikan mempengaruhi nilai FEV1.0. Serta nilai FCV, variabel yang berpengaruh signifikan adalah rerata dosis harian ter inhalasi debu respirable, PM10, dan jenis rotasi bekerja (p-value <0,05), tanpa penggunaan masker respirator. Penilaian risiko dihitung menggunakan risiko kanker seumur hidup (LCR) dan karakterisasi risiko kesehatan non-kanker sebagai indeks bahaya (HI). Risiko kesehatan nonkarsinogenik dan karsinogenik pada responden pekerja akibat paparan debu respirable di proses pengolahan bijih mineral masih di bawah nilai ambang batas HI <1 dan LCR ?1 x10-4 . Fungsi paru-paru terganggu dengan adanya penurunan parameter FEV1.0 dan FCV secara signifikan terkait dengan debu respirable yang terhirup di antara pekerja di lingkungan kerja pengolahan bijih mineral (OR = 3,27; CI 95% = 0,36-29,36).
PEMILIHAN SOLUSI NIRKABEL TAMBANG UNTUK BARA PRIMA BORNEO MENGGUNAKAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS
Kemajuan teknologi komunikasi nirkabel sangat penting untuk meningkatkan efisiensi, keselamatan, dan produktivitas operasi pertambangan. Studi ini berfokus pada evaluasi dan rekomendasi solusi jaringan nirkabel luar ruang yang optimal untuk operasi pertambangan Bara Prima Borneo (BPB) di Kalimantan Timur, Indonesia, dengan menggunakan proses Analytic Hierarchy Process (AHP) sebagai metode pengambilan keputusan. Infrastruktur Wi-Fi yang ada saat ini menghadapi tantangan signifikan, termasuk cakupan terbatas, interferensi, dan masalah skalabilitas, yang menghambat efektivitasnya dalam lingkungan pertambangan yang menuntut. Untuk mengatasi tantangan ini, studi ini menggunakan pendekatan komprehensif untuk mengidentifikasi ekspektasi dan persepsi nilai para pemangku kepentingan, mengeksplorasi desain jaringan nirkabel alternatif seperti Private LTE dan Kinetic Mesh, serta secara sistematis memilih solusi yang paling sesuai menggunakan AHP. Melalui diskusi dengan pakar materi dan pengumpulan data sekunder, studi ini menguraikan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (SWOT) yang terkait dengan jaringan Wi-Fi yang ada dan alternatif potensial. Dengan menggunakan AHP, studi ini memprioritaskan berbagai kriteria seperti cakupan, keandalan, biaya, skalabilitas, dan keamanan. Desain yang direkomendasikan bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara kemampuan saat ini dan kebutuhan masa depan, memastikan cakupan jaringan yang kuat dan luas yang mendukung berbagai aplikasi digital yang penting untuk pertambangan modern. Dengan memilih solusi yang diusulkan menggunakan AHP, BPB dapat mencapai jaringan nirkabel yang lebih andal dan dapat diskalakan, meningkatkan efisiensi operasional keseluruhan dan keselamatan sekaligus memenuhi tuntutan yang terus berkembang dari operasi pertambangannya.
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM AKSES KONTORL BERBASIS FACE RECOGNITION PADA PRIVATE VENUE (STUDI KASUS: KONTRUKSI PERTAMBANGAN)
Kontrol akses pada area konstruksi pertambangan adalah isu penting bagi operasional perusahaan tambang, terutama mengingat beberapa kejadian pelanggaran hak akses yang telah mengakibatkan kerugian signifikan. Kehadiran pegawai juga sangat krusial dalam sistem kerja kontrak yang umum diterapkan di area pertambangan. Meskipun saat ini sudah ada beberapa CCTV yang digunakan untuk memonitor aktivitas, fungsionalitas CCTV ini dapat ditingkatkan untuk mengelola hak akses dan memonitor kehadiran pegawai guna mendukung operasional perusahaan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dilakukan desain sistem melalui pendekatan riset untuk menentukan teknologi yang akan digunakan pada sistem. Pengembangan sistem akses kontrol berbasis face recognition dilakukan berdasarkan metodologi system engineering. Pengembangan ini mencakup analisis kebutuhan sistem, perancangan sistem akses kontrol berbasis face recognition, implementasi, dan evaluasi kinerja sistem.