📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 172 dokumenHI-LO VERSUS EDLP: ARSITEKTUR PENETAPAN HARGA SEBAGAI STRATEGI EKUITAS MEREK DI PASAR MODERN TRADE DETERJEN CAIR INDONESIA
Selama dua belas bulan terakhir, saluran perdagangan modern Indonesia dalam kategori deterjen mengalami penurunan nilai sebesar 4%, tetapi volumenya stabil. Fenomena ini terjadi karena promosi kompetitif antar merek. Konsumen terbiasa membeli merek berkualitas dengan harga diskon yang akan menunda proses pembelian mereka. Akibat dampak situasi tersebut, Wings, produsen FMCG (Barang Konsumsi Cepat Laku) terbesar di Indonesia, menghadapi masalah pada Klingon dan SoSoft secara bersamaan. SoKlin, merek terkemuka di kategori ini dengan kesadaran merek sebesar 94,5%, diperkirakan akan mencapai titik kritis permanen dalam waktu enam bulan hingga satu tahun. Mereka hampir selalu melakukan aktivitas promosi di hampir semua saluran modern. Rencana aksi kompetitif SoKlin ini akan mengikis sinyal kualitas dan posisi pasar merek tersebut. Di sisi lain, alternatif ramah lingkungan premium, SoSoft, mencapai penetrasi uji coba sebesar 70% tetapi hanya dikonversi menjadi pembeli reguler sebesar 15%. Hal ini disebabkan oleh kegagalan dalam arsitektur harga SoKlin daripada masalah produksi atau distribusi. Studi ini mengeksplorasi bagaimana arsitektur penetapan harga (Hi-Low vs EDLP) memengaruhi persepsi ekuitas merek dan loyalitas konsumen di pasar deterjen cair perdagangan modern Indonesia, menggunakan SoKlin dan SoSoft dari Wings Group sebagai studi kasus. Studi ini menggunakan desain metode campuran simultan. Ini termasuk survei konsumen terstruktur (n=200), wawancara mendalam semi-terstruktur dengan enam belas praktisi industri (produsen dan pengecer) dan audit penetapan harga ritel dari enam merek di empat rantai perdagangan modern (Januari-Maret 2026). Empat temuan ditemukan dalam penelitian ini. Pertama, atribut kinerja fungsional seperti daya pembersih, aroma, dan formula ramah lingkungan secara konsisten lebih diutamakan daripada harga sebagai faktor pembelian utama. Kedua, Hi-Lo dikaitkan dengan Kualitas yang Dirasakan secara signifikan lebih tinggi daripada EDLP. Ketiga, mayoritas konsumen melaporkan kecurigaan kualitas ketika suatu merek selalu dalam promosi. Keempat, konsumen memilih promosi Hi-Lo meskipun mereka lebih menyukai harga stabil yang menunjukkan Paradoks Kepercayaan. Lima rekomendasi strategis dapat diimplementasikan. Matriks Penetapan Harga Misi-Saluran membedakan arsitektur Hi-Lo untuk supermarket dari EDLP yang terlihat untuk minimarket. Kerangka kerja Diet Promosi menyarankan SoKlin dapat memiliki maksimal 2 aktivitas promosi di supermarket per bulan dan 3 per bulan sebagai batas untuk memastikan Titik Balik Permanen tidak terlampaui. Reposisi harga untuk SoSoft untuk memastikan produk eco-premium. Manajemen Akun Utama dan Materi POS membantu mengeksekusi strategi di tingkat rak ritel. Penelitian kami mengkaji studi empiris Hi-Lo versus EDLP di luar pasar negara maju ke pasar negara berkembang Indonesia yang budaya tawar-menawarnya meningkatkan permintaan akan Utilitas Transaksi. Penelitian ini menciptakan Titik Balik Permanen dan Paradoks Kepercayaan berdasarkan penelitian empiris nyata, menawarkan Matriks Penetapan Harga Misi-Saluran sebagai arsitektur penetapan harga baru dalam penetapan harga terapan, mengintegrasikan pemasaran hijau dengan penelitian arsitektur penetapan harga di pasar negara berkembang di sektor FMCG dan menyajikan hasilnya di sini untuk pertama kalinya.
PERANCANGAN DAN EVALUASI KEANDALAN ORB-SLAM3 UNTUK SISTEM PENENTUAN POSISI PADA LINGKUNGAN TANPA SINYAL GPS
Dewasa ini, perkembangan sistem penentuan posisi sangat bergantung pada keberadaan GPS. GPS menawarkan teknologi penentuan posisi yang fleksibel untuk digunakan pada berbagai bidang, mudah digunakan, responsif, mampu beroperasi secara global, dan memiliki biaya relatif murah jika dibandingkan dengan performa yang dihasilkan. Namun pada implementasinya ternyata terdapat tempat dengan kondisi tertentu mengakibatkan degradasi pada fungsi GPS. Lingkungan seperti ini disebut area GPS-denied. Kondisi tersebut umumnya disebabkan oleh keberadaan objek penghalang seperti pepohonan, bangunan tinggi, jembatan, yang menyebabkan pelemahan sinyal GPS. Pada Tugas Akhir ini, visual Simultaneous Localization andMapping (vSLAM) digunakan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan penentuan posisi pada lingkungan GPS-denied. Simultaneous Localization and Mapping (SLAM) merupakan suatu algoritma yang memungkinkan suatu device untuk membuat suatu map dari lingkungan sekitarnya sekaligus mengestimasi posisi dirinya sendiri pada peta tersebut, sementara vSLAM adalah jenis SLAM yang menggunakan sensor visual. Di antara berbagai jenis vSLAM yang ada, ORB-SLAM3 dipilih karena memiliki tingkat robustness yang tinggi jika dibandingkan dengan metode lainnya. Pada Tugas Akhir ini, digunakan repository eksisting dengan modifikasi sesuai kebutuhan sistem. Modifikasi yang dilakukan meliputi penambahan subfungsi ROS2 Node Layer Stereo dan User Interface. ROS2 Node Layer berfungsi sebagai penghubung antara ROS2 Communication System dan ORB-SLAM3. Topic ROS2 Communication System digunakan untuk mengirim data image, sementara topic ORB-SLAM3 digunakan untuk mengirim data terkait estimasi posisi, status tracking, serta informasi pendukung lainnya. Sementara subsistem user interface dikembnagkan untuk mempermudah proses pengujian sistem. Subsistem ini terdiri dari 3 komponen, yaitu server, pose sender, dan website HTML. Server merupakan pusat dari sistem komunikasi ini, fungsinya adalah mengatur alur sistem komunikasi dan sebagai perantara antara pose sender dan file HTML. Pose sender digunakan untuk mengambil data yang dihasilkan oleh ORB-SLAM3 dan mengirimkannya ke server untuk didistribusikan kembali nantinya. Terakhir, website HTML digunakan sebagai antarmuka pengguna untuk mempermudah user dalam memantau hasil estimasi posisi oleh ORB-SLAM3. Data yang ditampilkan pada user interface terdiri atas koordinat, orientasi, trajektori, status tracking, status deteksi loop closure, dan timestamp. Selain itu, website juga menyediakan fitur untuk untuk mengunduh seluruh data yang diterima dalam format CSV. Tujuan utama dari Tugas Akhir ini adalah mengembangkan suatu sistem positioning yang mampu beroperasi secara akurat dan presisi dalam waktu singkat meski digunakan dalam lingkungan GPS-denied. Ketercapaian tujuan ini diuji melalui 7 spesifikasi terkait akurasi, presisi, waktu komputasi, durasi penggunaan, massa device, ketahanan panas, dan ketahanan debu. Di antara seluruh spesifikasi tersebut, hanya satu spesifikasi yang tidak terpenuhi, yaitu ketahanan debu. Sebagian besar dari spesifikasi yang diinginkan memang berhasil tercapai, namun sebagian besar ketercapaian ini memiliki syarat tertentu yang harus dipenuhi. Seperti contohnya, spesifikasi akurasi hanya dapat memenuhi spesifikasi pada jarak pengujian di bawah 10 m, pengujian presisi drone baru dilakukan ketika drone mendarat, dan massa device yang belum memperhitungkan massa sistem user. Hasil pengujian menujukkan bahwa sistem mampu menghasilkan estimasi posisi dengan tingkat akurasi di bawah 10 cm pada jarak pengukuran di bawah 10 m, memiliki tingkat presisi di atas 80%, dan waktu komputasi yang diperlukan untuk menghasilkan estimasi posisi ini bernilai di bawah 100 ms. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa Tugas Akhir sudah memecahkan masalah karena berhasil mengembangkan sistem yang dapat melakukan estimasi posisi secara akurat dan presisi pada area GPS-denied dengan waktu komputasi yang singkat..Meski begitu tidak dapat dipungkiri bahwa masih terdapat banyak aspek yang perlu dikembangkan lebih lanjut agar sistem dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan user secara nyata.
PERANCANGAN DAN EVALUASI KEANDALAN ORB-SLAM3 UNTUK SISTEM PENENTUAN POSISI PADA LINGKUNGAN TANPA SINYAL GPS
Dewasa ini, perkembangan sistem penentuan posisi sangat bergantung pada keberadaan GPS. GPS menawarkan teknologi penentuan posisi yang fleksibel untuk digunakan pada berbagai bidang, mudah digunakan, responsif, mampu beroperasi secara global, dan memiliki biaya relatif murah jika dibandingkan dengan performa yang dihasilkan. Namun pada implementasinya ternyata terdapat tempat dengan kondisi tertentu mengakibatkan degradasi pada fungsi GPS. Lingkungan seperti ini disebut area GPS-denied. Kondisi tersebut umumnya disebabkan oleh keberadaan objek penghalang seperti pepohonan, bangunan tinggi, jembatan, yang menyebabkan pelemahan sinyal GPS. Pada Tugas Akhir ini, visual Simultaneous Localization andMapping (vSLAM) digunakan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan penentuan posisi pada lingkungan GPS-denied. Simultaneous Localization and Mapping (SLAM) merupakan suatu algoritma yang memungkinkan suatu device untuk membuat suatu map dari lingkungan sekitarnya sekaligus mengestimasi posisi dirinya sendiri pada peta tersebut, sementara vSLAM adalah jenis SLAM yang menggunakan sensor visual. Di antara berbagai jenis vSLAM yang ada, ORB-SLAM3 dipilih karena memiliki tingkat robustness yang tinggi jika dibandingkan dengan metode lainnya. Pada Tugas Akhir ini, digunakan repository eksisting dengan modifikasi sesuai kebutuhan sistem. Modifikasi yang dilakukan meliputi penambahan subfungsi ROS2 Node Layer Stereo dan User Interface. ROS2 Node Layer berfungsi sebagai penghubung antara ROS2 Communication System dan ORB-SLAM3. Topic ROS2 Communication System digunakan untuk mengirim data image, sementara topic ORB-SLAM3 digunakan untuk mengirim data terkait estimasi posisi, status tracking, serta informasi pendukung lainnya. Sementara subsistem user interface dikembnagkan untuk mempermudah proses pengujian sistem. Subsistem ini terdiri dari 3 komponen, yaitu server, pose sender, dan website HTML. Server merupakan pusat dari sistem komunikasi ini, fungsinya adalah mengatur alur sistem komunikasi dan sebagai perantara antara pose sender dan file HTML. Pose sender digunakan untuk mengambil data yang dihasilkan oleh ORB-SLAM3 dan mengirimkannya ke server untuk didistribusikan kembali nantinya. Terakhir, website HTML digunakan sebagai antarmuka pengguna untuk mempermudah user dalam memantau hasil estimasi posisi oleh ORB-SLAM3. Data yang ditampilkan pada user interface terdiri atas koordinat, orientasi, trajektori, status tracking, status deteksi loop closure, dan timestamp. Selain itu, website juga menyediakan fitur untuk untuk mengunduh seluruh data yang diterima dalam format CSV. Tujuan utama dari Tugas Akhir ini adalah mengembangkan suatu sistem positioning yang mampu beroperasi secara akurat dan presisi dalam waktu singkat meski digunakan dalam lingkungan GPS-denied. Ketercapaian tujuan ini diuji melalui 7 spesifikasi terkait akurasi, presisi, waktu komputasi, durasi penggunaan, massa device, ketahanan panas, dan ketahanan debu. Di antara seluruh spesifikasi tersebut, hanya satu spesifikasi yang tidak terpenuhi, yaitu ketahanan debu. Sebagian besar dari spesifikasi yang diinginkan memang berhasil tercapai, namun sebagian besar ketercapaian ini memiliki syarat tertentu yang harus dipenuhi. Seperti contohnya, spesifikasi akurasi hanya dapat memenuhi spesifikasi pada jarak pengujian di bawah 10 m, pengujian presisi drone baru dilakukan ketika drone mendarat, dan massa device yang belum memperhitungkan massa sistem user. Hasil pengujian menujukkan bahwa sistem mampu menghasilkan estimasi posisi dengan tingkat akurasi di bawah 10 cm pada jarak pengukuran di bawah 10 m, memiliki tingkat presisi di atas 80%, dan waktu komputasi yang diperlukan untuk menghasilkan estimasi posisi ini bernilai di bawah 100 ms. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa Tugas Akhir sudah memecahkan masalah karena berhasil mengembangkan sistem yang dapat melakukan estimasi posisi secara akurat dan presisi pada area GPS-denied dengan waktu komputasi yang singkat..Meski begitu tidak dapat dipungkiri bahwa masih terdapat banyak aspek yang perlu dikembangkan lebih lanjut agar sistem dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan user secara nyata.
PERUMUSAN SEGMENTING, TARGETING, DAN POSITIONING (STP) PADA PERUSAHAAN X DENGAN MENGGUNAKAN ANALISIS CLUSTER
Persaingan pada industri food and beverage menuntut perusahaan untuk memahami karakteristik pelanggan agar strategi pemasaran dapat diterapkan secara lebih efektif. Perusahaan X masih menerapkan strategi pemasaran yang bersifat umum, padahal pelanggan memiliki karakteristik yang heterogen. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan jumlah cluster yang optimal, membentuk segmentasi pelanggan yang representatif, serta menginterpretasikan hasil segmentasi ke dalam strategi Segmenting, Targeting, dan Positioning (STP). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sebanyak 889 responden. Segmentasi pelanggan dilakukan menggunakan metode Hierarchical Cluster Analysis, kemudian karakteristik setiap cluster dianalisis melalui cross tabulation, One-Way ANOVA, dan uji Tukey. Hasil segmentasi selanjutnya diinterpretasikan ke dalam strategi STP dan digunakan sebagai dasar pemilihan strategi bersaing Focus Differentiation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cluster yang optimal adalah 15 cluster dengan karakteristik pelanggan yang berbeda secara signifikan (p-value < 0,001). Dimensi Media Sosial mendominasi 8 cluster, Performance mendominasi 5 cluster, dan Pesona Perusahaan X mendominasi 4 cluster, dengan Cluster 5 dan Cluster 8 memiliki dua dimensi dominan, yaitu Performance dan Media Sosial. Berdasarkan analisis STP, Cluster 3, Cluster 5, Cluster 6, dan Cluster 8 ditetapkan sebagai target primer. Positioning yang diusulkan adalah menjadikan Perusahaan X sebagai café yang menghadirkan kualitas produk dan pelayanan yang konsisten, membangun hubungan melalui komunikasi digital, serta menciptakan pengalaman pelanggan yang berkesan melalui tagline "Quality That Connects. Experience That Lasts." Penelitian ini menghasilkan rekomendasi strategi Focus Differentiation sebagai dasar penyusunan strategi pemasaran yang lebih efektif dan berbasis data.
PEMODELAN SPASIAL TINGKAT KESESUAIAN HABITAT BURUNG MERAK HIJAU JAWA (PAVO MUTICUS MUTICUS LINNAEUS, 1766) DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON
Penurunan populasi merak hijau jawa (Pavo muticus muticus Linnaeus, 1766) di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) belum didukung oleh ketersediaan data spasial habitat yang memadai sebagai dasar pengelolaan konservasi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi variabel lingkungan penentu kesesuaian habitat serta memetakan sebaran habitat potensial merak hijau jawa di TNUK menggunakan pendekatan Species Distribution Model berbasis presence-only dengan algoritma Maximum Entropy (MaxEnt). Model dibangun dengan mengintegrasikan data kehadiran merak hijau jawa di Padang Penggembalaan Cidaon dan data sekunder periode 2020–2025 serta sembilan variabel prediktor, yaitu elevasi, kelerengan, tutupan lahan, jarak dari area terbuka, jarak dari sumber air, jarak dari area terbangun, jarak dari jalan, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dan Land Surface Temperature (LST). Hasil pengamatan lapangan menunjukkan Padang Penggembalaan Cidaon berperan sebagai habitat fungsional bagi merak hijau jawa dengan jumlah teramati sebanyak 11 individu. Model terbaik dibangun oleh empat variabel utama, yaitu elevasi, jarak dari area terbuka, jarak dari area terbangun, dan jarak dari jalan dengan nilai Area Under Curve (AUC) 0,962. Pemodelan menghasilkan tiga kelas kesesuaian habitat, yaitu non-potensial seluas 59.864,58 ha (98,1%), potensial seluas 817,38 ha (1,3%), dan habitat sangat potensial seluas 345,69 ha (0,6%). Habitat dengan kesesuaian tinggi terkonsentrasi pada patch berelevasi rendah (0-20 mdpl), memiliki area terbuka dengan tutupan vegetasi di sekitarnya, dan minim gangguan antropogenik. Beberapa kawasan dengan kesesuaian habitat tinggi, diantaranya Cidaon– Cibunar –Cikeusik, Kalajetan–Cegog, Pulau Peucang, dan Pulau Handeuleum. Sebagai upaya konservasi, perlindungan dan pengelolaan habitat pada lokasi dengan kesesuaian tinggi perlu diprioritaskan. Apabila reinforcement populasi direalisasikan, pelepasliaran dilakukan pada patch habitat potensial dan sangat potensial yang disertai monitoring yang representatif secara spasial pada habitat merak hijau jawa.
EVALUASI SISTEM DRAINASE POLDER DI KAWASAN PANTAI INDAH KAPUK 2, KECAMATAN KOSAMBI, KABUPATEN TANGERANG, PROVINSI BANTEN
Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2) merupakan kawasan reklamasi pesisir di Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, yang menerapkan sistem drainase berbasis polder dengan pengendalian muka air terpusat melalui kolam retensi, jaringan saluran, serta pompa dan pintu air. Banjir yang terjadi pada 12 Januari 2026 menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas sistem eksisting, sehingga Tugas Akhir ini bertujuan mengevaluasi kinerja sistem drainase polder melalui analisis hidrologi, pemodelan menggunakan EPA SWMM 5.1 dan HEC-RAS 6.5, serta evaluasi kapasitas komponen sistem polder. Model SWMM dibangun dengan 1.364 node, 1.677 konduit, dan luas DTA 713,6 ha yang terbagi ke dalam empat stasiun pompa (PS1–PS4) dengan kapasitas eksisting 42,40 m³/s. Hasil pemodelan mengidentifikasi empat zona genangan banjir, di mana Skenario 3 berupa peningkatan kapasitas PS1 dan PS2 masing-masing menjadi 13,50 m³/s dengan total sistem 49,40 m³/s terpilih sebagai konfigurasi pompa optimal yang mampu mempertahankan TMA Storage Utara di bawah ambang aman +2,40 mdpl. Penambahan box culvert sebagai saluran diversi pada Zona 2 berhasil mereduksi node kritis dari 40 menjadi 21 node. Pemodelan HEC-RAS pada Sungai Tahang menunjukkan bahwa beban lateral flow pemompaan sebesar 49,40 m³/s menyebabkan overtopping tanggul eksisting +4,00 mdpl, sehingga direncanakan peningkatan tanggul menggunakan CCSP W400 dengan elevasi puncak +5,00 mdpl, tip ?11,00 mdpl, total panjang tiang 16,00 m, dipasang pada kedua sisi sungai sepanjang 1.320 m dengan total panjang CCSP 2.640 m.
IDENTIFIKASI PERUBAHAN HARGA LAHAN RESIDENSIAL DI SEKITAR GERBANG TOL PAMULIHAN JALAN TOL CISUMDAWU
Beroperasinya Gerbang Tol Pamulihan pada Jalan Tol Cisumdawu sejak awal 2022 mengubah aksesibilitas Kecamatan Pamulihan dan Tanjungsari, dua kecamatan agraris peri-urban yang sebelumnya relatif terisolasi dari Kota Bandung, hal ini berpotensi mendorong kapitalisasi nilai lahan, meskipun kajian mengenai hal ini pada konteks peri-urban Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan harga lahan residensial di sekitar Gerbang Tol Pamulihan melalui tiga sasaran, yaitu mengidentifikasi faktor yang memengaruhi harga lahan, pola persebarannya, dan model harga lahannya, pada radius dua kilometer yang mencakup lima desa dengan seratus responden. Penelitian menggunakan analisis konten dari lima penelitian terdahulu untuk menyintesis variabel, analisis spasial dengan Inverse Distance Weighting untuk memetakan pola persebaran harga lahan dari tahun 2017 sampai 2026, serta regresi linear berganda dengan Ordinary Least Square mengikuti kerangka Hedonic Pricing Model untuk membentuk model harga lahan. Hasil analisis konten menyaring enam belas variabel yang melalui backward elimination menghasilkan enam variabel signifikan pada taraf kepercayaan 95 persen, yaitu bentuk lahan, lebar jalan depan lahan, luas bangunan, jarak ke gerbang tol, jarak ke SMA terdekat, dan jarak ke jalan nasional. Rata-rata harga lahan naik 130,2 persen dari tahun 2017 ke 2026, dengan model regresi yang memenuhi seluruh uji asumsi klasik dan menghasilkan Adjusted R Square sebesar 0,627. Temuan menarik adalah jarak ke gerbang tol berpengaruh positif terhadap harga lahan, menunjukkan donut effect, karena lahan yang terlalu dekat titik akses tol menghadapi eksternalitas negatif berupa kebisingan dan kemacetan. Variabel aksesibilitas jalan, baik lebar jalan depan lahan maupun jarak ke jalan nasional, terbukti lebih dominan dibandingkan kedekatan langsung dengan gerbang tol, sehingga hasil penelitian ini dapat menjadi dasar empiris bagi Pemerintah Kabupaten Sumedang dalam menentukan arahan zonasi kepadatan permukiman di kawasan sekitar Gerbang Tol Pamulihan.
PERANCANGAN KAWASAN HUNIAN ADAPTIF DENGAN PENDEKATAN COMMUNITY RESILIENCE DI BANTARAN SUNGAI TALLO MAKASSAR
Kawasan bantaran Sungai Tallo di Kota Makassar merupakan salah satu wilayah padat permukiman nelayan yang menghadapi kerentanan tinggi terhadap banjir akibat curah hujan, pasang air laut, serta penurunan kualitas lingkungan. Permasalahan yang muncul tidak hanya terkait aspek fisik, seperti hunian padat tanpa perencanaan, infrastruktur dasar yang terbatas, dan drainase buruk, tetapi juga menyangkut aspek sosial-ekonomi masyarakat nelayan yang rentan terhadap kemiskinan, ketergantungan pada tengkulak, serta terbatasnya akses layanan publik. Kondisi ini menjadikan Sungai Tallo sebagai kawasan dengan tingkat kerentanan kompleks yang membutuhkan pendekatan desain yang menyeluruh. Tesis ini bertujuan untuk merancang kawasan hunian adaptif yang mampu meningkatkan ketahanan komunitas (Community Resilience) terhadap risiko banjir dan degradasi lingkungan. Metode penelitian dilakukan melalui studi literatur, analisis kondisi eksisting, serta pendekatan teoritis mengenai Community Resilience yang menekankan kolaborasi sosial, fleksibilitas hunian, infrastruktur hijau, dan penguatan ruang komunal. Hasil penelitian ini menghasilkan konsep perancangan kawasan hunian adaptif berbasis Community Resilience, yang tidak hanya menekankan aspek fisik bangunan, tetapi juga membangun kapasitas sosial-ekonomi masyarakat dan meningkatkan kualitas lingkungan.
KOMUNITAS BURUNG PADA EMPAT TUTUPAN LAHAN SEPANJANG SUNGAI CI GEDE GUNUNG SAWAL, CIAMIS, JAWA BARAT
Gunung Sawal merupakan gunung hutan hujan tropis di Ciamis, Jawa Barat. Gunung Sawal merupakan habitat bagi satwa endemik dari beragam taksa, salah satunya adalah avifauna (burung) yang memiliki beragam jasa ekologi bagi manusia. Gunung ini dilewati oleh beragam sungai yang merupakan zona riparian, salah satunya adalah Sungai Ci Gede, yang membentang dari area non konservasi hingga Suaka Margasatwa Gunung Sawal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan perbedaan komunitas burung di area non konservasi dan konservasi serta area prioritas konservasi di sepanjang Sungai Ci Gede, Gunung Sawal. Penelitian dilakukan pada empat tutupan lahan, yaitu kebun (KB), agroforestri (AG), Suaka Margasatwa area peralihan (PR), dan area curug (CR). Penelitian dilaksanakan pada tanggal 27 Juni – 12 Juli 2025, menggunakan metode pengamatan point count radius 50 meter dengan total 12 titik pengamatan. Pengamatan pagi dilakukan selama 12 periode (15 menit/periode) dalam rentang waktu pukul 06:00 – 10:00 WIB. Perbedaan komunitas burung dianalisis dengan menghitung taxonomic diversity (diversity index, Non-metric Multidimensional Scaling (NMDS), dan Shannon Entropy Heatmap) serta functional diversity (Multifaceted Functional Diversity (MFD). Penentuan area prioritas konservasi dianalisis menggunakan Conservation Value Index (CVI). Berdasarkan hasil penelitian, tercatat 49 spesies, 28 famili, dan 1.919 individu burung. Analisis NMDS menunjukkan bahwa terdapat komunitas burung yang berbeda pada area konservasi (PR dan CR) dan non konservasi (KB dan AG) yang kekerabatannya divisualisasikan dengan Heatmap Shannon Entropy. Keanekaragaman spesies tertinggi dijumpai pada tutupan lahan agroforestri (AG) (H’ = 2,511). Analisis MFD menunjukkan adanya keragaman relung spesies berdasarkan traits fungsional berupa feeding guild dan stratum vegetasi. Komunitas burung yang merupakan spesies forest-dependent hanya ditemui di area konservasi (Suaka Margasatwa area peralihan (PR) & area curug (CR)). Sedangkan spesies generalis dapat ditemukan di seluruh tutupan lahan. Analisis CVI menunjukkan bahwa kebun (KB) merupakan tutupan lahan dengan dengan nilai prioritas konservasi tertinggi, yaitu 12.602 karena terdapat perjumpaan dengan elang jawa (Nisaetus bartelsi Stresseman, 1994) dengan status konservasi IUCN Endangered (EN).
KAJIAN POTENSI TIMBULAN DAN PENGELOLAAN SAMPAH MENGANDUNG BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN RUMAH TANGGA DI KOTA CIREBON
Kota Cirebon sebagai pusat ekonomi dan jasa di wilayah Jawa Barat bagian timur menghadapi peningkatan timbulan sampah spesifik B3 (SSB3) dan sampah yang mengandung Limbah B3 (SSLB3) akibat pertumbuhan penduduk dan konsumsi rumah tangga. Penelitian ini bertujuan menentukan timbulan, proyeksi, komposisi dan karakteristik, serta mengevaluasi pengelolaan SSB3 dan SSLB3. Metode yang digunakan meliputi penyebaran kuesioner kepada 100 responden (rumus Slovin, tingkat kepercayaan 90%), pengukuran timbulan sampah pada 40 rumah tangga terpilih, observasi lapangan, dan wawancara. Hasil menunjukkan rata-rata timbulan SSB3 dan SSLB3 sebesar 0,0434 kg/orang/hari, dengan timbulan sampah infeksius rumah tangga sebesar 0,0085 kg/orang/hari yang didominasi pembalut bekas dan masker. Proyeksi timbulan meningkat dari 14.620 kg/hari (2021) menjadi 17.935 kg/hari (2030), seiring proyeksi penduduk mencapai 413.240 jiwa. Komposisi sampah kemasan/sisa B3 didominasi obat nyamuk pada aktivitas kamar (35,09%) dan sampah elektronik didominasi kulkas (57,26%). Karakteristik sampah didominasi oleh sifat beracun, infeksius, mudah menyala, korosif, reaktif, dan mudah meledak, dengan baterai, lampu CFL, obat kadaluwarsa, dan elektronik besar tergolong risiko tinggi. Pengelolaan menunjukkan kondisi yang belum optimal: 96,7% masyarakat belum memilah sampah B3 dan belum tersedianya TPS khusus B3. Untuk pengembangan pengelolaan SSB3 dan SSLB3 diperlukan peningkatan regulasi teknis, edukasi masyarakat, dan pengembangan fasilitas sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2020. Kata kunci: Kota Cirebon,
ANALISIS HISTORIS DAMPAK KEBIJAKAN TATA RUANG WILAYAH DAN URBANISASI TERHADAP PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN HUTAN BAKAU DAN POTENSI PENYIMPANAN KARBON DI JAKARTA UTARA
Fenomena urbanisasi yang berlangsung masif di wilayah perkotaan pesisir berpotensi memberikan tekanan terhadap ekosistem pesisir, khususnya hutan bakau yang memiliki peran peran penting dalam menyerap dan menyimpan karbon sebagai salah satu upaya dalam memitigasi perubahan iklim. Sebagai bagian dari wilayah ibu kota DKI Jakarta yang memiliki tingkat urbanisasi tinggi sekaligus wilayah yang memiliki ekosistem hutan bakau di pesisirnya, Jakarta Utara mengalami perkembangan perkotaan yang pesat dan menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan antara pembangunan dengan pelestarian ekosistem hutan bakau. Dalam hal ini, arah kebijakan tata ruang wilayah menjadi faktor penting bagi perkembangan kota sekaligus perlindungan kawasan pesisir. Namun, kajian yang mengintegrasikan analisis historis arah kebijakan tata ruang, dinamika urbanisasi, perubahan tutupan lahan hutan bakau, dan penyimpanan karbon di Jakarta Utara masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis dampak arah kebijakan tata raung wilayah terhadap dinamika urbanisasi, dampak urbanisasi terhadap perubahan tutupan lahan hutan bakau, serta mengestimasi penyimpanan karbon pada ekosistem hutan bakau di Jakarta Utara secara historis selama periode 1995 – 2025. Penelitian ini menggunakan mix method dengan desain concurrent triangulation. Analisis dilakukan melalui content analysis terhadap dokumen RTRW DKI Jakarta dan RTRW Jabodetabek-Punjur, analisis spasial menggunakan Google Earth Engine dan ArcGis Pro, analisis statistik deskriptif, serta pemodelan InVEST Carbon Storage and Sequestration. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arah kebijakan tata ruang wilayah DKI Jakarta mengalami perubahan orientasi pembangunan dari sektor industri menuju sektor jasa dan diarahkan untuk dapat menjadi seperti kota besar dunia. Arah pembangunan tersebut mendorong dinamika urbanisasi melalui pengembangan pusat-pusat kegiatan ekonomi, peningkatan aksesibilitas transportasi, serta penyediaan kawasan permukiman yang meningkatkan daya tarik Jakarta Utara sebagai tujuan migrasi. Dinamika urbanisasi selama periode 1995 – 2025 ditunjukkan oleh meningkatnya persentase lahan terbangun, kepadatan penduduk, dan kontribusi PDRB sektor tersier. Dinamika urbanisasi yang terjadi selamaviii periode tersebut berdampak pada berkurangnya luas tutupan lahan bakau. Namun, tidak terjadi secara masif. Meskipun pada periode 2005 – 2015 sempat mengalami konversi luas 70,56 Ha menjadi lahan terbangun, yang diidentifikasi menjadi lahan reklamasi, tetapi kemudian sejak tahun 2005 hingga 2025 luas hutan bakau mengalami peningkatan luas sebesar 105 Ha. Peningkatan tersebut dikarenakan adanya kegiatan penanaman kembali yang dilakukan oleh Komunitas setempat dan Pemerintah DKI Jakarta. Perubahan luas hutan bakau ini memengaruhi dinamika nilai penyimpanan karbon, di mana cadangan karbon ikut menurun pada periode 1995 – 2005 dari 267.389 ton C menjadi 212.143 ton C diakibatkan berkurangnya luas hutan bakau, kemudian kembali meningkat dari 212.143 ton C menjadi 289.487 ton C di tahun 2005 – 2025.
PEMBUATAN MODEL NUMERIK BERBASIS FINITE DIFFERENCE METHOD (FDM) UNTUK ANALISIS REMBESAN LATERAL DI TANAH YANG RETAK
Penelitian ini mengembangkan model numerik mandiri berbasis Finite Difference Method (FDM) untuk mensimulasikan rembesan lateral transien pada retakan clayshale dengan mengintegrasikan parameter dinamis konduktivitas hidraulik tak jenuh (????????) dan kompresibilitas (Multi-????????). Pengujian fisik infiltrasi selama 255 menit pada compacted crushed clayshale asal Cisomang digunakan sebagai acuan empiris mutlak (ground truth). Model FDM 2D dibangun menggunakan skema implisit penuh dan Lookup Table untuk pembaruan parameter secara seketika (real-time). Hasil validasi Root Mean Square Error (RMSE) menunjukkan bahwa penggunaan parameter tak jenuh (????????) berhasil mereplikasi mekanisme hambatan aliran (flow retardation) secara logis dengan RMSE sebesar 5,02%, menekan galat secara drastis dari asumsi aliran jenuh yang mencapai 9,73%. Kesamaan hasil luaran juga membuktikan bahwa pada durasi 4 jam pertama, variabel tahanan hidraulik mendominasi proses infiltrasi dibandingkan dengan respons kembang-susut matriks tanah. Analisis komparatif mengukuhkan bahwa algoritma FDM mandiri ini lebih superior dan presisi (RMSE 5,02%) dibandingkan perangkat lunak komersial GeoStudio SEEP/W (RMSE 7,31%), dengan tingkat stabilitas spasio-temporal yang sangat tinggi tanpa mengalami osilasi numerik.
PERANCANGAN ALAT LOGISTIK PENDUKUNG AKTIVITAS PROSES PANEN PADA KEBUN PISANG SKALA MENENGAH DENGAN INFRASTRUKTUR TERBATAS
Perkebunan pisang skala menengah di Kabupaten Karawang, khususnya Kebun Pisang Karangsinom seluas 17 hektar, menghadapi kesenjangan antara kebutuhan mobilitas operasional yang tinggi dengan kondisi infrastruktur jalan internal yang sempit, tidak diperkeras, dan berlumpur. Metode transportasi manual yang diterapkan saat ini terbukti menyebabkan kerusakan mekanis (bruising) pada buah pisang, menimbulkan beban muskuloskeletal berlebih pada pekerja, serta menurunkan efisiensi waktu panen secara keseluruhan. Penelitian ini merancang kendaraan utilitas (All-Terrain Vehicle/ATV) modular berbasis teknologi tepat guna yang mampu beroperasi pada jalur selebar 1,3 meter dengan kapasitas angkut total 500 kg. Pendekatan Design for the Real World (Papanek) diterapkan sebagai kerangka filosofi perancangan, dengan sistem penggerak All-Wheel Drive (AWD) elektrik berbasis baterai LiFePO4 sebagai solusi traksi di medan berkontur dan berlumpur. Gerobak (trailer) modular yang terhubung melalui sambungan hitch ball dirancang untuk mengangkut 6–8 tandan pisang (160–240 kg) per perjalanan dengan mekanisme gantung atasbawah guna meminimalkan bruising. Validasi ergonomi dilakukan melalui geometri Rider Triangle Standard, penilaian REBA, dan mitigasi Whole-Body Vibration (WBV). Hasil perancangan menunjukkan pengurangan beban kerja logistik sebesar 75 persen dibanding metode pikul manual, dengan estimasi peningkatan efisiensi waktu panen 40–50 persen pada skenario target 700 tandan per dua hari kerja.
PENGALAMAN KULINER SEBAGAI PRAKTIK KULTURAL: SPASIALISASI PRAKTIK KULINER SUNDA MELALUI PUSAT PENGALAMAN BUDAYA KULINER DI BANDUNG
Bandung telah lama dikenal sebagai salah satu destinasi pariwisata utama di Indonesia dan memiliki identitas yang kuat sebagai kota kuliner. Budaya kuliner kota ini berkaitan erat dengan ekonomi kreatifnya, di mana makanan tidak hanya berfungsi sebagai sarana konsumsi, tetapi juga sebagai pengalaman sosial dan budaya. Topik ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, yang menempatkan arsitektur sebagai media dalam melestarikan warisan budaya takbenda melalui ruang publik yang inklusif sekaligus memperkuat identitas lokal dan pariwisata perkotaan yang berkelanjutan. Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata kuliner semakin bergeser menuju aktivitas yang berorientasi pada pengalaman, di mana pengunjung mencari suasana, keterlibatan budaya, dan pengalaman spasial yang berkesan. Masjid Al-Jabbar merupakan salah satu destinasi wisata utama di Bandung. Meskipun memiliki peran penting sebagai salah satu ikon wisata utama Kota Bandung, Masjid Al-Jabbar mengalami penurunan jumlah kunjungan secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir akibat terbatasnya ragam aktivitas di luar fungsi keagamaan serta belum adanya atraksi pendukung yang merepresentasikan identitas budaya lokal. Selain itu, meskipun kawasan sekitarnya menunjukkan permintaan yang tinggi terhadap aktivitas kuliner, fasilitas yang terorganisasi untuk mengakomodasi dan merayakan budaya kuliner Sunda masih terbatas. Sebagai alternatif, proyek ini mengusulkan sebuah Culinary Culture Experience Center yang berlokasi di kawasan sekitar Masjid Al-Jabbar. Tipologi ini dipilih karena mampu mengintegrasikan aktivitas kuliner, interpretasi budaya, dan interaksi publik dalam sebuah destinasi berbasis pengalaman yang menempatkan pengalaman kuliner sebagai praktik budaya yang hidup. Proyek ini dikembangkan melalui metode perancangan kualitatif yang meliputi studi literatur, observasi lapangan, analisis kontekstual, dan studi komparatif preseden untuk merumuskan strategi arsitektur yang responsif terhadap kondisi budaya, spasial, dan lingkungan tapak. Dengan menerapkan pendekatan Experiential Architecture dan Critical Regionalism, proyek ini menerjemahkan praktik kuliner Sunda ke dalam rangkaian pengalaman sensorik, sosial, dan spasial melalui program kuliner yang terkurasi, ruang terbuka publik, serta sirkulasi yang terintegrasi dengan lanskap. Rancangan mengadopsi komposisi paviliun bertingkat rendah yang dicirikan oleh pola pergerakan organik, pengalaman tepi perairan, reinterpretasi kontemporer arsitektur Sunda, serta penggunaan material kayu dan vegetasi secara ekstensif untuk menciptakan lingkungan yang imersif secara kultural. Proyek ini bertujuan mewujudkan sebuah destinasi kuliner Sunda yang melengkapi keberadaan Masjid Al-Jabbar, memperkuat identitas budaya lokal, serta mengakomodasi aktivitas kuliner dalam suatu tatanan ruang publik yang terorganisasi. Melampaui proposisi arsitekturalnya, proyek ini menunjukkan bagaimana arsitektur dapat menspasialisasikan praktik budaya dan mentransformasikan aktivitas kuliner menjadi media yang inklusif bagi pelestarian budaya, keterlibatan publik, dan pengembangan pariwisata di Kota Bandung.
PERANCANGAN COFFEE CENTER SEBAGAI PUSAT PENGOLAHAN KOPI DAN WISATA EDUKASI
Kabupaten Bandung merupakan daerah dengan potensi pertanian dan wisata yang besar. Namun, petani kopi masih menghadapi permasalahan seperti rantai distribusi yang panjang, fasilitas pascapanen yang terbatas, serta minimnya akses pendidikan mengenai kopi. Semua permasalahan ini menyebabkan pendapatan petani yang rendah dan tidak maksimalnya potensi dari kopi daerah itu sendiri. Tujuan dari proyek ini yaitu untuk merancang Coffee Center sebagai pusat yang menyediakan fasilitas pasca panen bagi petani serta memberikan fasilitas edukasi bagi petani, pelaku kopi, hingga wisatawan yang datang. Hal ini dapat meningkatkan jumlah konsumsi dari kopi rakyat, memperbaiki harga tawar petani, serta meningkatkan potensi wisata daerah. Coffee Center tidak hanya dirancang sebagai tempat produksi kopi, tetapi juga berfungsi sebagai tempat untuk belajar serta wadah untuk interaksi antar petani dan pengunjung. Dengan konsep ruang yang informatif dan terbuka, fasilitas tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan kualitas dan harga kopi, tetapi mempunyai fungsi lain sebagai media edukasi yang dapat memperkenalkan kopi daerah kepada wisatawan. Dengan melakukan survey lapangan, wawancara, dan literatur review, hal ini merupakan cara untuk menganalisis kondisi nyata sehingga dapat mengetahui berbagai jenis aktivitas, kebutuhan ruang, serta potensi dari pengembangan fasilitas. Perancangan ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani kopi serta memperkuat citra kopi rakyat sebagai produk unggulan daerah.