📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 57 dokumen

PENINGKATAN KAPASITAS FLOODWAY CISANGKUY DENGAN OPTIMASI GEOMETRI DAN PERKUATAN SALURAN

Floodway Cisangkuy berfungsi mengalihkan aliran Sungai Cisangkuy di Dayeuhkolot menuju Sungai Citarum di Katapang untuk mengurangi risiko banjir di kawasan rawan seperti Dayeuhkolot, Bojongsoang, dan Baleendah. Penelitian ini bertujuan mengoptimasi geometri penampang dan mengevaluasi stabilitas lereng floodway agar mampu menampung debit melebihi debit rencana 215 m³/s, menggunakan pemodelan HEC-RAS 1D dan analisis stabilitas lereng metode Taylor. Karena keterbatasan lahan akibat jalan dan dinding penahan di sekitar floodway, optimasi difokuskan pada geometri penampang, kemiringan lereng, dan koefisien Manning, tanpa pelebaran horizontal. Hasil analisis menunjukkan koefisien Manning dan jari-jari hidrolik paling berpengaruh terhadap kapasitas debit, sedangkan keamanan lereng ditentukan oleh tinggi lereng terhadap tinggi kritisnya. Konfigurasi terpilih adalah kemiringan H:V = 1:1 (45°) dengan tinggi kritis minimum 3,19 m, tinggi pilih 2,13 m, dan bench minimum 2 m, menghasilkan penampang lebar dasar 13,2 m dan total 44 m yang mampu menampung debit hingga 280 m³/s. Kecepatan dan tegangan geser dikendalikan dengan menyesuaikan kemiringan memanjang menjadi 0,00044 dengan mengubah struktur terjun eksisting tinggi 2 m menjadi 3,815 m yang diperkuat dengan material beton. Total biaya galian dan timbunan diperkirakan Rp2.295.046.338,26.

2026
👤 Penulis: M Faiz Nuriman Kertabudi
🏷️ Hydrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Optimasi Geometri Struktur

PERENCANAAN PENGENDALIAN BANJIR GRAND WISATA AREA TIMUR, KECAMATAN TAMBUN SELATAN, KABUPATEN BEKASI

Kawasan Grand Wisata Timur, Kabupaten Bekasi mengalami permasalahan banjir, salah satunya pada 12 November 2022. Tugas akhir ini merencanakan sistem pengendalian banjir melalui analisis hidrologi dan hidraulika menggunakan HEC-RAS 2D. Pemodelan eksisting menghasilkan luas genangan 34,5 ha dengan kedalaman 0,3–2 meter untuk debit rencana periode ulang 25 tahun. Solusi yang direncanakan berupa box culvert 4×2 meter dan kolam retensi instream seluas 5,25 Ha dengan kedalaman 5–5,2 meter. Kombinasi keduanya mampu mereduksi genangan banjir sebesar 100% dan menurunkan debit puncak dari 55,1 m³/s menjadi 43 m³/s. Analisis geoteknik dan stabilitas lereng pada seluruh kondisi memenuhi faktor keamanan yang disyaratkan. Total biaya konstruksi termasuk overhead 10% adalah sebesar Rp352.974.301.194,00.

2026
👤 Penulis: Muhammad Alif Fadhlur Rahman
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Analisis Geoteknik

PERENCANAAN POLDER UNTUK PENGENDALIAN BANJIR KAWASAN KELAPA GADING, JAKARTA UTARA, PROVINSI DKI JAKARTA

Kawasan Kelapa Gading merupakan wilayah dataran rendah di Jakarta Utara yang secara hidrologis memiliki kerentanan tinggi terhadap risiko banjir akibat akumulasi limpasan permukaan dan pengaruh pasang surut air laut. Penelitian ini difokuskan di Daerah Aliran Sungai Kali Sunter yang telah terintersepsi oleh Banjir Kanal Timur dengan luas wilayah tinjauan sebesar 39,302 km². Dominasi tata guna lahan berupa permukiman padat mencapai 98,62% dengan nilai Curve Number komposit sebesar 82,15, persentase area kedap air rata-rata 29,82%, serta nilai abstraksi awal yang rendah sebesar 11,78 mm. Analisis hidrologi dilakukan menggunakan rangkaian data curah hujan harian dari Stasiun Meteorologi Kemayoran dan Halim Perdana Kusuma. Kondisi hidraulika di muara Kali Sunter dipengaruhi secara signifikan oleh dinamika pasang surut air laut di mana hasil analisis menunjukkan elevasi Highest High Water Level (HHWL) mencapai +0,643 m. Hasil simulasi hidraulika melalui pemodelan 2D HEC-RAS pada kondisi eksisting mengonfirmasi terjadinya fenomena backwater yang menghambat aliran menuju laut saat kondisi pasang. Sebagai upaya mitigasi, direncanakan solusi teknis yang meliputi pembangunan waduk tampungan, pengerukan sedimen, penanggulan di sepanjang bantaran, serta evaluasi pola operasi pada stasiun-stasiun rumah pompa eksisting

2026
👤 Penulis: Bonifasius P Tampubolon
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Analisis Teknik Sipil

DESAIN ANTENA CIRCULAR ARRAY PADA IMPLEMENTASI NON-ROTATING RADAR 360º UNTUK AIR SURVEILLANCE

Radar konvensional dengan antena yang berputar memiliki keterbatasan dalam kecepatan pemindaian, akurasi sudut, dan keandalan mekanis, sementara sistem perngawasan udara modern menuntut respons cepat dengan cakupan 360º. Permasalahan ini mendorong pengembangan antena dengan konfigurasi circular phased array yang menawarkan solusi pemindaian lebih cepat tanpa perlu berputar secara mekanis, sekaligus memungkinkan pengendalian beam elektronik secara fleksibel dalam domain azimut dan elevasi. Penelitian ini bertujuan mendesain antena circular phased array sebagai implementasi radar non-rotasi 360º untuk air surveillance, dengan fokus pada desain antena faceted circular array untuk sektor 90° yang terdiri atas 8 sub-array aktif dengan beda sudut antar sub-array sebesar 11,25°. Antena didesain pada frekuensi S-Band pada rentang 2,9 – 3,1 GHz dan difabrikasi menggunakan substrat flame retardant-4 (FR-4) dengan dimensi patch 55 mm × 250 mm. Penelitian membandingkan konfigurasi distribusi amplitudo uniform dan non-uniform untuk mengoptimasi sidelobe level (SLL). Hasil pengujian menunjukkan parameter S11 di seluruh rentang frekuensi kerja berada di bawah -10 dB. Pada bidang azimut distribusi uniform menghasilkan SLL -8,20 hingga -8,90 dB dengan gain 10,8-12 dBi, sedangkan distribusi non-uniform menghasilkan SLL -21,80 hingga -23,20 dBi dengan rata-rata half power beam width (HPBW) 16,14° untuk uniform dan 18,13° untuk non-uniform. Sudut elevasi sebesar 20° diperoleh melalui teknik pemindaian frekuensi tanpa phase shifter. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi solusi atas permasalahan radar konvensional untuk kebutuhan air surveillance, baik sipil maupun pertahanan.

2026
👤 Penulis: Iffan Nur Ilman Syarifudin
🏷️ Antena Circular Array 🏷️ Radar Non-Rotasi 360º 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air

PEMBUATAN PETA PEMANTAUAN LINGKUNGAN SPASIO TEMPORAL UAP AIR DI BANDUNG UTARA

Pemetaan sebaran spasio-temporal uap air dilakukan di Bendungan Bantar Awi. Dam Bantar Awi dipilih menjadi area kajian karena memiliki fungsi sebagai penyedia air bagi PDAM dan PLTA setempat. Lokasi dam yang strategis juga memungkinkan analisis turunan untuk menjelaskan kondisi hidrologi dan klimatologi wilayah Kawasan Bandung Utara, serta usaha mitigasi bencana banjir pada hilir Sungai Cikapundung. Nilai Precipitable Water Vapor (PWV) menunjukan ketebalan air jika uap air pada kolom di titik pengamatan mengalami kondensasi. Metode estimasi uap air menggunakan komponen koreksi kesalahan atmosfer/Zenith Total Delay (ZTD) pengolahan data Global Navigation Satellite System (GNSS) metode diferensial statik. Oleh karena itu, dilakukan pengamatan GNSS di Dam Bantar Awi selama 12 jam dari jam tujuh pagi WIB. Data GNSS diolah dua kali: dengan koreksi troposfer dan tanpa koreksi troposfer. Pengolahan diferensial statik menghilangkan sebagian besar pengaruh kesalahan dengan menyelisihkan persamaan GNSS. Kesalahan yang tersisa ketika pengolahan tidak menggunakan koreksi atmosfer mempengaruhi estimasi tinggi titik pengukuran. Oleh karena itu, selisih tinggi solusi dengan dan tanpa koreksi troposfer menunjukan kesalahan akibat troposfer ke arah zenith. Nilai uap air kemudian dapat diestimasi menggunakan selisih tinggi tersebut. Hasil pengolahan adalah peta sebaran spasial uap air Dam Bantar Awi untuk tiap satu jam interval. Peta menunjukan variasi uap air dan dapat dikaitkan dengan pergerakan matahari dan massa udara. Topografi area Bantar Awi juga berpengaruh terhadap pergerakan uap air. Kondisi topografi menentukan keterbukaan titik-titik pengamatan terhadap matahari serta arah gerak massa udara. Titik-titik pengamatan yang mendapatkan sinar matahari pada suatu jam interval memiliki nilai PWV besar yang menurun pada jam interval setelahnya ketika tertutup dari matahari. Kejadian antropogenik dapat terekam dan ditunjukan melalui peta yang kami buat. Pada pengambilan data GNSS, terjadi pembakaran sampah di sekitar area pengerjaan. Asap pembakaran menambah kesalahan yang memperbesar nilai koreksi ZTD sehingga terjadi over-estimasi PWV. Pembakaran sampah terlihat sebagai nilai ekstrem pada hasil peta yang menunjukan kemampuan produk kami sebagai alat memonitor kondisi lingkungan. Pengujian produk dilakukan dengan membandingkan pola sebaran spasio-temporal dengan hasil dari metode Precise Point Positioning (PPP). Hasil pengujian menunjukan kesamaan pola sebaran uap air untuk jam-jam pengamatan di sore hari.

2026
👤 Penulis: Emir Fazli Hanif Rachmawan
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air

PEMBUATAN PETA PEMANTAUAN LINGKUNGAN SPASIO TEMPORAL UAP AIR DI BANDUNG UTARA

Pemetaan sebaran spasio-temporal uap air dilakukan di Bendungan Bantar Awi. Dam Bantar Awi dipilih menjadi area kajian karena memiliki fungsi sebagai penyedia air bagi PDAM dan PLTA setempat. Lokasi dam yang strategis juga memungkinkan analisis turunan untuk menjelaskan kondisi hidrologi dan klimatologi wilayah Kawasan Bandung Utara, serta usaha mitigasi bencana banjir pada hilir Sungai Cikapundung. Nilai Precipitable Water Vapor (PWV) menunjukan ketebalan air jika uap air pada kolom di titik pengamatan mengalami kondensasi. Metode estimasi uap air menggunakan komponen koreksi kesalahan atmosfer/Zenith Total Delay (ZTD) pengolahan data Global Navigation Satellite System (GNSS) metode diferensial statik. Oleh karena itu, dilakukan pengamatan GNSS di Dam Bantar Awi selama 12 jam dari jam tujuh pagi WIB. Data GNSS diolah dua kali: dengan koreksi troposfer dan tanpa koreksi troposfer. Pengolahan diferensial statik menghilangkan sebagian besar pengaruh kesalahan dengan menyelisihkan persamaan GNSS. Kesalahan yang tersisa ketika pengolahan tidak menggunakan koreksi atmosfer mempengaruhi estimasi tinggi titik pengukuran. Oleh karena itu, selisih tinggi solusi dengan dan tanpa koreksi troposfer menunjukan kesalahan akibat troposfer ke arah zenith. Nilai uap air kemudian dapat diestimasi menggunakan selisih tinggi tersebut. Hasil pengolahan adalah peta sebaran spasial uap air Dam Bantar Awi untuk tiap satu jam interval. Peta menunjukan variasi uap air dan dapat dikaitkan dengan pergerakan matahari dan massa udara. Topografi area Bantar Awi juga berpengaruh terhadap pergerakan uap air. Kondisi topografi menentukan keterbukaan titik-titik pengamatan terhadap matahari serta arah gerak massa udara. Titik-titik pengamatan yang mendapatkan sinar matahari pada suatu jam interval memiliki nilai PWV besar yang menurun pada jam interval setelahnya ketika tertutup dari matahari. Kejadian antropogenik dapat terekam dan ditunjukan melalui peta yang kami buat. Pada pengambilan data GNSS, terjadi pembakaran sampah di sekitar area pengerjaan. Asap pembakaran menambah kesalahan yang memperbesar nilai koreksi ZTD sehingga terjadi over-estimasi PWV. Pembakaran sampah terlihat sebagai nilai ekstrem pada hasil peta yang menunjukan kemampuan produk kami sebagai alat memonitor kondisi lingkungan. Pengujian produk dilakukan dengan membandingkan pola sebaran spasio-temporal dengan hasil dari metode Precise Point Positioning (PPP). Hasil pengujian menunjukan kesamaan pola sebaran uap air untuk jam-jam pengamatan di sore hari.

2026
👤 Penulis: Diaz Jeisa Rakhmat
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air

PEMBUATAN PETA PEMANTAUAN LINGKUNGAN SPASIO TEMPORAL UAP AIR DI BANDUNG UTARA

Pemetaan sebaran spasio-temporal uap air dilakukan di Bendungan Bantar Awi. Dam Bantar Awi dipilih menjadi area kajian karena memiliki fungsi sebagai penyedia air bagi PDAM dan PLTA setempat. Lokasi dam yang strategis juga memungkinkan analisis turunan untuk menjelaskan kondisi hidrologi dan klimatologi wilayah Kawasan Bandung Utara, serta usaha mitigasi bencana banjir pada hilir Sungai Cikapundung. Nilai Precipitable Water Vapor (PWV) menunjukan ketebalan air jika uap air pada kolom di titik pengamatan mengalami kondensasi. Metode estimasi uap air menggunakan komponen koreksi kesalahan atmosfer/Zenith Total Delay (ZTD) pengolahan data Global Navigation Satellite System (GNSS) metode diferensial statik. Oleh karena itu, dilakukan pengamatan GNSS di Dam Bantar Awi selama 12 jam dari jam tujuh pagi WIB. Data GNSS diolah dua kali: dengan koreksi troposfer dan tanpa koreksi troposfer. Pengolahan diferensial statik menghilangkan sebagian besar pengaruh kesalahan dengan menyelisihkan persamaan GNSS. Kesalahan yang tersisa ketika pengolahan tidak menggunakan koreksi atmosfer mempengaruhi estimasi tinggi titik pengukuran. Oleh karena itu, selisih tinggi solusi dengan dan tanpa koreksi troposfer menunjukan kesalahan akibat troposfer ke arah zenith. Nilai uap air kemudian dapat diestimasi menggunakan selisih tinggi tersebut. Hasil pengolahan adalah peta sebaran spasial uap air Dam Bantar Awi untuk tiap satu jam interval. Peta menunjukan variasi uap air dan dapat dikaitkan dengan pergerakan matahari dan massa udara. Topografi area Bantar Awi juga berpengaruh terhadap pergerakan uap air. Kondisi topografi menentukan keterbukaan titik-titik pengamatan terhadap matahari serta arah gerak massa udara. Titik-titik pengamatan yang mendapatkan sinar matahari pada suatu jam interval memiliki nilai PWV besar yang menurun pada jam interval setelahnya ketika tertutup dari matahari. Kejadian antropogenik dapat terekam dan ditunjukan melalui peta yang kami buat. Pada pengambilan data GNSS, terjadi pembakaran sampah di sekitar area pengerjaan. Asap pembakaran menambah kesalahan yang memperbesar nilai koreksi ZTD sehingga terjadi over-estimasi PWV. Pembakaran sampah terlihat sebagai nilai ekstrem pada hasil peta yang menunjukan kemampuan produk kami sebagai alat memonitor kondisi lingkungan. Pengujian produk dilakukan dengan membandingkan pola sebaran spasio-temporal dengan hasil dari metode Precise Point Positioning (PPP). Hasil pengujian menunjukan kesamaan pola sebaran uap air untuk jam-jam pengamatan di sore hari.

2026
👤 Penulis: Bey Alhafizh Putra Bharata
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air

PENGARUH PERSEPSI RISIKO PERUBAHAN IKLIM DAN FAKTOR SOSIAL EKONOMI TERHADAP ADOPSI STRATEGI ADAPTASI WATER, SANITATION, AND HYGIENE (WASH) PADA RUMAH TANGGA DI KELURAHAN KEPUTIH, KOTA SURABAYA

Perubahan iklim telah menjadi ancaman signifikan terhadap sektor Water, Sanitation, and Hygiene (WASH), di Kelurahan Keputih. Gangguan hidrometeorologi seperti banjir dan kekeringan secara langsung merusak infrastruktur WASH rumah tangga, meningkatkan risiko penyakit berbasis air, dan memperburuk masalah kesehatan Masyarakat kota Surabaya, terutama di daerah padat penduduk dan rumah berdekatan. Adaptasi WASH yang tangguh (seperti pembangunan sanitasi anti-banjir dan manajemen air mandiri) sangat krusial, namun keberhasilannya bergantung pada inisiatif dan investasi dari rumah tangga itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris hubungan antara Persepsi Risiko Perubahan Iklim rumah tangga dengan Adopsi Strategi Adaptasi WASH di Kelurahan Keputih. Penelitian ini menggunakan metodologi pendekatan kuantitatif melalui survei cross-sectional terhadap sampel rumah tangga yang berisiko. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang mengukur persepsi risiko, sosial ekonomi dan tingkat adopsi adaptasi WASH. Analisis data menggunakan Partial Least Squares - Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan Persepsi Risiko berpengaruh positif dengan koefisien 0,169 dan Sosial-Ekonomi juga berpengaruh positif dengan koefisien 0,332, sehingga semakin tinggi persepsi risiko dan sosial-ekonomi rumah tangga, maka semakin tinggi pula kecenderungan rumah tangga dalam melakukan adopsi adaptasi WASH. Nilai R-square sebesar 0,176 menunjukkan bahwa Persepsi Risiko dan Sosial-Ekonomi mampu menjelaskan variasi Adopsi Adaptasi sebesar 17,6%. Dengan demikian penguatan adaptasi WASH perlu didukung oleh literasi risiko, akses informasi, dukungan sosial, dan peningkatan kapasitas sosial-ekonomi rumah tangga.

2026
👤 Penulis: Firdaus Pratama Wiwoho
🏷️ Perubahan Iklim 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air

STUDI PERENCANAAN SISTEM POLDER TERINTEGRASI UNTUK PENGENDALIAN BANJIR KAWASAN CILINCING, JAKARTA UTARA

Jakarta Utara memiliki risiko banjir tinggi akibat topografi rendah, pasang surut air laut, dan land subsidence masif. Penelitian ini bertujuan merencanakan sistem pengendalian banjir terintegrasi di DTA Pompa Bulak Cabe seluas 61,05 Km2 (wilayah Cilincing) melalui optimalisasi sistem polder pada Kali Cakung Drain dan Kali Blencong menggunakan pemodelan hidrodinamika dua dimensi (2D) HEC-RAS. Analisis hidrologi dengan hujan rencana periode ulang 25 tahun sebesar 270,87 mm menunjukkan volume limpasan tinggi akibat nilai Curve Number yang besar, dipicu oleh padatnya pemukiman dan buruknya daya serap tanah. Evaluasi hidraulika eksisting melalui simulasi 2D mengonfirmasi bahwa kapasitas Kali Cakung Drain tidak mampu menampung akumulasi debit banjir dari seluruh sub-catchment dan memicu genangan yang meluas di bantaran sungai. Sebagai solusi visioner dan berkelanjutan, direncanakan kombinasi polder terintegrasi berupa normalisasi, tanggul dengan faktor keamanan tinggi, rumah pompa, dan kolam detensi yang dirancang ramah lingkungan berdasarkan batas kecepatan izin material. Infrastruktur ini terbukti mampu mereduksi volume banjir hingga 91,73% serta menyusutkan area genangan berdasarkan hasil simulasi numerik 2D, dengan spesifikasi kolam detensi minimal 1.400.000 m³ dan kapasitas pompa pengeluaran 30 m³/s. Proyek ini membutuhkan Rencana Anggaran Biaya (RAB) sebesar Rp288.575.498.892,80 dan menghasilkan nilai Net Present Value (NPV) terbesar senilai Rp816 Miliar, sehingga dinilai optimal secara teknis dan finansial untuk jangka panjang.

2026
👤 Penulis: Djauhari Adham Roseno
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Kecerdasan Buatan

VARIABILITAS DAN DINAMIKA UPWELLING DI CEKUNGAN MENTAWAI (1995–2024)

Perairan Cekungan Mentawai merupakan salah satu wilayah di Samudra Hindia timur yang dipengaruhi oleh sistem monsun, variabilitas iklim, dan dinamika arus regional sehingga berpotensi mengalami upwelling. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi variabilitas musiman dan antartahunan upwelling s erta menganalisis faktor-faktor oseanografi yang memengaruhinya selama periode 1995–2024. Penelitian menggunakan data reanalisis CMEMS dan ERA5 berupa suhu potensial, salinitas, arus laut, dan angin permukaan. Analisis dilakukan melalui perhitungan transpor Ekman, Ekman pumping, komposit musiman, serta cross-correlation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upwelling berkembang pada musim timur dan mencapai intensitas maksimum pada musim peralihan II, yang ditandai oleh penurunan suhu permukaan laut, peningkatan salinitas, transpor Ekman yang bergerak menjauhi pantai, dan Ekman upwelling bernilai positif. Hubungan antara Ekman upwelling dan suhu permukaan laut menunjukkan korelasi negatif yang sangat kuat (r = -0,89) dengan lag 2 bulan. Pada skala antartahunan, IOD positif memberikan pengaruh yang lebih dominan dibandingkan ENSO, dengan korelasi DMI terhadap anomali suhu permukaan laut sebesar -0,56 (lag 0), sedangkan korelasi ONI sebesar 0,37 (lag 7 bulan). Selain itu, pola arus ekuatorial menunjukkan karakteristik Wyrtki Jet pada April–Mei dan Oktober–November yang diduga turut memodulasi distribusi massa air dan perkembangan upwelling di Cekungan Mentawai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upwelling di Cekungan Mentawai dikendalikan oleh interaksi angin monsun, dinamika Ekman, variabilitas iklim, dan arus regional.

2026
👤 Penulis: Noval Lefrand
🏷️ Hidrologi 🏷️ Ekspedisi Oseanografi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air

ANALISIS PENGARUH PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN TERHADAP KUANTITAS DAN KUALITAS AIR DASCISADANE

Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane merupakan sumber daya air penting bagi wilayah Bogor dan Tangerang yang mengalami tekanan akibat perubahan tutupan lahan dan aktivitas antropogenik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak perubahan tutupan lahan terhadap kuantitas dan kualitas air di DAS Cisadane selama periode 2017–2024. Analisis kuantitas air dilakukan menggunakan Soil and Water Assessment Tool (SWAT) dengan tiga skenario tutupan lahan, yaitu Skenario-0 (kondisi eksisting/baseline), Skenario-1 (pengelolaan berbasis konservasi), dan Skenario-2 (perubahan tutupan lahan yang didominasi kawasan permukiman). Kualitas air dianalisis menggunakan regresi linier berganda berdasarkan parameter Total Suspended Solids (TSS), Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), dan nitrat. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan luas kawasan permukiman sebesar 10.645,39 ha (8,50%), yang diikuti oleh penurunan tutupan hutan sebesar 4.997,9 ha (?3,99%) dan lahan pertanian sebesar 5.162,56 ha (?4,12%). Simulasi SWAT+ menunjukkan bahwa Skenario-2 menghasilkan limpasan permukaan tertinggi (1263,2 mm) dan aliran dasar terendah (749,22 mm), yang mengindikasikan penurunan kapasitas infiltrasi DAS, sedangkan Skenario-1 meningkatkan kontribusi aliran bawah permukaan dan air tanah. Hasil regresi menunjukkan bahwa kawasan permukiman dan lahan pertanian berhubungan positif dengan peningkatan beban pencemar, sedangkan tutupan hutan berperan dalam menekan degradasi kualitas air. Temuan ini menegaskan bahwa rehabilitasi dan perlindungan hutan terutama di bagian hulu yang memiliki kelerengan >45% dan pengendalian ekspansi permukiman merupakan kunci untuk menurunkan limpasan pembawa pencemar sekaligus menjaga ketersediaan aliran musim kering.

2026
👤 Penulis: Mutiara Saraswati
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Kecerdasan Buatan

KAJIAN MORFOLOGI SUNGAI AKIBAT BANGUNAN PENGENDALI BANJIR DI SUNGAI BABAKAN KABUPATEN BREBES

Kejadian banjir tertinggi terjadi pada tahun 2022 yaitu berada pada daerah provinsi Jawa Tengah. Daerah Aliran Sungai (DAS) Babakan merupakan salah satu DAS yang terletak di Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. DAS Babakan memiliki karakteristik hidrologi yang kompleks, dengan topografi yang cenderung datar dan tingkat hujan yang tinggi, sehingga meningkatkan risiko terjadinya banjir. Berdasarkan Laporan Kejadian Banjir dari BBWS Cimanuk–Cisanggarung, tercatat sebanyak 20 kejadian banjir di Kecamatan Ketanggungan selama lima tahun terakhir (2020–2024). Kejadian banjir paling sering terjadi pada tahun 2020 dan 2023, dengan lima desa terdampak, di mana Desa Ketanggungan menjadi lokasi dengan frekuensi banjir tertinggi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa banjir di wilayah ini bersifat berulang (recurrent flooding). Penelitian ini menganalisis penanganan banjir dalam mereduksi genangan banjir dan pengaruhnya terhadap perubahan morfologi sungai. Obyek penelitian mencakup segmen Sungai Babakan sepanjang 3,90 km, dimulai dari Jembatan Burg Ketanggungan sebagai batas hulu dan Jembatan Sutamaja sebagai batas hilir. Analisis hidrologi menggunakan metode HSS Nakayasu. Analisis Hidraulika berupa permodelam banjir menggunakan HEC-RAS 1D untuk memperoleh profil muka air kondisi eksisting dan HEC-RAS 2D untuk memperoleh luas genangan dan cakupan lokasi banjir pada tiga skenario. Sedangkan pemodelan sedimen dilakukan dengan tiga skenario menggunakan HEC-RAS 1D untuk mengetahui perubahan morfologi dasar sungai di sepanjang lokasi kajian. Hasil analisis karakteristik DAS Babakan membentuk busur yang sesuai dengan Hidrograf Nakaysu dan dengan debit banjir Q20 sebesar 241.860 m3/detik. Hasil pemodelan banjir kondisi eksisting menggunakan HECRAS 1D dengan debit Q20 menunjukan bahwa kapasitas Sungai Babakan belum mampu menampung debit banjir dengan luapan terjadi sepanjang sungai dengan ketinggian mencapai ± 0,50 – 1,50 m. Hasil pemodelan banjir menggunakan HECRAS 2D dengan debit Q20, kondisi eksisting tidak mampu menampung debit banjir sehingga menyebabkan terjadi limpasan yang menggenangi permukiman, persawahan, dan fasilitas umum lainnya dengan tinggi limpasan rata-rata mencapai 0.40 m dan luas genangan seluas 88.76 Ha; kondisi setelah penanganan dengan dua kolam detensi dan peningkatan tanggul sekitar kolam masih mengalami limpasan pada beberapa segmen sungai dengan tinggi limpasan rata-rata sekitar 0,30 m, dengan luas genangan yang tereduksi menjadi 79,07 ha; kondisi penanganan lanjutan berupa peningkatan tanggul Sungai Babakan dengan penambahan tinggi rata-rata 1,00 m pada tanggul kiri dan 1,50 m pada tanggul kanan, yang secara signifikan mampu menghilangkan limpasan sehingga tidak terjadi genangan. Hasil pemodelan sedimen menggunakan HEC-RAS 1D dengan debit andalan Q50 metode FJ Mock selama satu tahun menunjukan bahwa kejadian agradasi didominasi pada kondisi Penanganan I dan Penanganan II pada bagian sungai setelah adanya bangunan pengendali banjir (lateral structure) dengan volume total sebesar 1.835,88 ton/tahun (Penanganan I) dan 1.852,58 ton/tahun (Penanganan II). Sedangkan kejadian degradasi didominasi pada kondisi eksisting dari bagian hulu hingga hilir secara merata dengan volume total sebesar 1.931,95 ton/tahun, namun pada kondisi Penanganan I dan Penanganan II terjadi pada saat sebelum bangunan pengendali banjir hulu dan setelah bangunan pengendali banjir hilir.

2026
👤 Penulis: Arief Yudho Wicaksono
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Kecerdasan Buatan

KAJIAN PENGENDALIAN BANJIR SUNGAI AIR BENGKULU DI KOTA BENGKULU

Provinsi Bengkulu merupakan wilayah yang berada di sisi barat Pegunungan Bukit Barisan dan memiliki karakteristik topografi curam di bagian hulu serta dataran rendah di wilayah hilir. Sungai Air Bengkulu sebagai salah satu sungai utama di provinsi ini melintasi wilayah Kota Bengkulu dan Kabupaten Bengkulu Tengah yang termasuk dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengkulu. Dalam beberapa dekade terakhir, DAS Bengkulu menunjukkan kecenderungan penurunan fungsi hidrologis dan kualitas lingkungan yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi serta besarnya kejadian banjir, salah satunya peristiwa banjir besar pada April 2019 dan Agustus 2022. Banjir yang terjadi pada Sungai Air Bengkulu disebabkan oleh kombinasi faktor hidrologis dan hidraulis, antara lain besarnya debit banjir akibat curah hujan ekstrem, perubahan karakteristik DAS, serta keterbatasan kapasitas penampang sungai yang mengalami penyempitan akibat sedimentasi, khususnya di bagian muara. Kondisi tersebut menyebabkan aliran sungai tidak mampu mengalirkan debit banjir secara optimal sehingga terjadi limpasan dan genangan di wilayah perkotaan. Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera VII Bengkulu telah melaksanakan upaya pengendalian banjir secara bertahap dan komprehensif. Namun demikian, kajian teknis terintegrasi tetap diperlukan untuk mendukung upaya penanganan yang telah dan akan dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi hidrologi dan hidraulika Sungai Air Bengkulu berdasarkan kejadian banjir aktual melalui pemodelan, menilai pengaruh upaya pengendalian banjir terhadap reduksi banjir, serta mengkaji alternatif upaya tambahan yang diperlukan untuk mendukung pengendalian banjir yang efektif dan efisien. Analisis hidrologi dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak HEC-HMS untuk memperoleh debit banjir rencana, diawali dengan pengujian kualitas data curah hujan melalui uji konsistensi, uji outlier, uji independensi. Data curah hujan yang digunakan berasal dari empat pos hujan, yaitu PCH Bajak, Taba Mutung, Tanjung Jaya, dan Batu Raja dengan panjang data 17 tahun (2008–2024). Curah hujan wilayah dihitung menggunakan metode Polygon Thiessen, kemudian dilakukan analisis distribusi frekuensi hujan rencana dengan beberapa metode distribusi dan uji kesesuaian untuk menentukan distribusi terbaik. Perhitungan hujan efektif dilakukan untuk mendapatkan nilai Curve Number berdasarkan ii karakteristik DAS, tutupan lahan, dan jenis tanah. Selanjutnya, debit banjir rencana dihitung menggunakan metode Hidrograf Satuan Sintetis Snyder yang telah dikalibrasi terhadap kejadian banjir observasi. Hasil analisis hidrologi menunjukkan bahwa debit banjir rencana kala ulang 50 tahun (Q50) sebesar 879,4 m³/s digunakan sebagai dasar dalam analisis hidraulika. Pemodelan hidraulika dilakukan menggunakan HEC-RAS dua dimensi untuk mensimulasikan kondisi genangan banjir eksisting dan beberapa skenario penanganan banjir. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa kapasitas Sungai Air Bengkulu pada kondisi eksisting tidak mampu menampung debit banjir rencana Q50, yang ditunjukkan oleh luasan genangan mencapai 1.439,8 ha dengan kedalaman genangan berkisar antara 0,66 hingga 3,66 meter. Dari enam skenario penanganan yang disimulasikan, skenario keenam yang merupakan kombinasi peningkatan tanggul eksisting dan normalisasi sungai sepanjang 1,5 km di bagian muara menunjukkan kinerja terbaik dengan reduksi luas genangan sebesar 74,3%. Skenario ini dinilai memenuhi aspek efektivitas dalam pengurangan banjir serta efisiensi dari sisi pemeliharaan. Selain itu, hasil pemodelan menguatkan hipotesis bahwa penyempitan atau bottleneck di bagian muara sungai merupakan salah satu penyebab utama terjadinya banjir. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi dasar teknis dalam perencanaan pengendalian banjir Sungai Air Bengkulu secara berkelanjutan serta mendukung penyusunan mikrozonasi kawasan berisiko tinggi bencana banjir di Kota Bengkulu.

2026
👤 Penulis: Ekanto Wahyudi Susetyo
🏷️ Hydrologi 🏷️ Hidraulika 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air

KAJIAN MORFOLOGI SUNGAI DI LOKASI TERPENGARUH PASANG SURUT (STUDI KASUS SUNGAI SIAK KOTA PEKANBARU)

Sungai Siak mempakan salah satu sungai utama di Provinsi Riau yang memiliki peran penting dalam sistem hidrologi Kota Pekanbam. Wilayah ini secara mtin mengalami banjir, temtama pada kawasan dataran banjir seperti Kelurahan Sri Meranti, Kecamatan Rumbai, yang dipengaruhi oleh kombinasi debit banjir dari hulu dan pasang sumt air laut. Selain faktor hidrologi dan pasang sumt, sedimentasi yang tetjadi di sepanjang alur Sungai Siak diduga tumt berkontribusi terhadap penurunan kapasitas sungai dalam menampung aliran banjir. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik sedimentasi pada Sungai Siak yang terpengaruh pasang sumt serta pengamhnya terhadap kapasitas sungai dan pengendalian banjir di Kota Pekanbaru. Metodologi penelitian meliputi analisis hidrologi untuk memperoleh debit banjir rencana kala ulang 25 tahun (Q25), analisis hidraulika untuk menentukan elevasi muka air banjir, analisis pasang smut untuk mengetahui pengamh fluktuasi muka air laut, serta analisis sedimentasi untuk menentukan besaran laju sedimentasi dan perubahan dasar sungai. Analisis hidrologi dilakukan menggunakan perangkat lunak HEC-HMS, sedangkan analisis hidraulika dan sedimentasi dilakukan dengan HEC-RAS berbasis pemodelan satu dimensi dan dua dimensi. Data yang digunakan meliputi data curah hujan, geometri sungai, pasang surut, serta data sedimen hasil pengukuran lapangan dan pengujian laboratorium. Basil penelitian menunjukkan bahwa debit banjir rencana Q25 pada Sungai Siak berpotensi melampaui kapasitas alur sungai di beberapa segmen, temtama pada wilayah dataran banjir. Interaksi antara debit banjir dan kondisi pasang laut menyebabkan peningkatan elevasi muka air dan efek backwater, yang memperparah terjadinya banjir. Saat debit banjir Q25 dipengamhi pasang smut terendah, elevasi muka air banjir menunjukkan +3,82 meter, kondisi tersebut telah melewati elevasi beberapa segmen tanggul sungai siak di Kelurahan Sri Meranti Parit Belanda. Mengacu pada Permen PUPR No. 5, 2021 tentang Debit Rencana Infrastruktur Pengendali Banjir, maka evaluasi terhadap kondisi tanggul eksisting dan evaluasi terhadap pola operasi pompa parit belanda di Kel.Sri Meranti perlu dilakukan, temtama pada wilayah dataran banjir, untuk mengantisipasi kombinasi debit banjir dari hulu dan pasang laut yang dapat meningkatkan risiko banjir. Analisis sedimentasi menunjukkan adanya kecendernngan agradasi di sepanjang alur sungai, yang mengakibatkan pendangkalan dasar sungai dan penurnnan kapasitas tampung. Basil model menunjukkan rata-rata ketinggian agradasi sungai siak yang te1jadi di lokasi Ke!. Sri Meranti yaitu 0,024 meter/tahun. Akibatnya kenaikan elevasi muka air banjir selama dua tahun berkisar antara 18 cm - 25 cm. Hal ini akan berdampak langsung terhadap efektivitas pengendalian banjir di Kota Pekanbaru. Elevasi pasang surnt di muara dapat mempengarnhi proses sedimentasi yang terjadi di Sungai Siak. Pengaruh pasang laut yang masih menjangkau wilayah Kota Pekanbaru akan mempengaruhi dinamika aliran dan proses sedimentasi di Sungai Siak di Kota Pekanbaru. Pada saat pasang, kecepatan aliran menurun sehingga sedimen cenderung mengendap sehingga konsentrasi sedimen menurun, sedangkan pada saat surnt kecepatan aliran meningkat sehingga terjadi peningkatan konsentrasi sedimen tersuspensi yang terbawa dari arah hulu. Secara keselurnhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa sedimentasi yang dipengaruhi oleh pasang smut berperan penting dalam menurnnkan kapasitas Sungai Siak dan meningkatkan risiko banjir di Kota Pekanbaru. Oleh karena itu, pengelolaan banjir perlu dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan aspek hidrologi, hidraulika, pasang surut, serta pengendalian sedimentasi secara berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Firmana Siddik
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Sedimentologi

PENENTUAN CHART DATUM SUNGAI YANG TIDAK DIPENGARUHI PASUT UNTUK KEGIATAN PELAYARAN (Studi Kasus : Sungai Mahakam di Kalimantan Timur dan Sungai St. Lawrence di Kanada)

Sungai non pasut merupakan wilayah sungai yang dinamika muka airnya tidak lagi dipengaruhi oleh faktor pasut. Agar dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pelayaran, informasi kedalaman sungai mutlak diperlukan untuk disesuaikan dengan nilai draft kapal yang melintasinya. Informasi kedalaman membutuhkan suatu bidang referensi nol yaitu chart datum sungai. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan nilai chart datum sungai non pasut. Dalam penelitian ini, data yang digunakan merupakan data sekunder pengamatan muka air sungai non pasut pada wilayah Sungai Mahakam. Stasiun pengamatan muka air yang digunakan adalah Melak dan Kota Bangun. Data tersebut diperoleh dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air (PUSLITBANG SDA). Untuk memperoleh nilai chart datum dilakukan pengamatan muka air selama minimal satu tahun agar faktor pengaruh musim dapat teramati. Dengan mengikuti aturan IHO, bahwa muka air terendah (MAT) dari hasil pengamatan digunakan sebagai chart datum pada wilayah sungai. Nilai chart datum yang diperoleh untuk stasiun pengamatan Melak adalah 3.07 m, Kota Bangun adalah 6,37 m. Nilai chart datum tersebut memiliki referensi terhadap palem pengamatan.

2026
👤 Penulis: ALFRED SIREGAR (NIM 15108087); Pembimbing: Dr. Ir. Irdam Adil, M.T., dan Dr. Ir. Dwi Wisayantono, M.
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Air 🏷️ Analisis Data Sekunder
Halaman 1 dari 4
💬