📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5 dokumenKRITERIA PENGEMBANGAN LANSKAP BERBASIS PRINSIP DESAIN EKOLOGI DAN WISATA BERKELANJUTAN STUDI KASUS : KAWASAN MANGROVE DAN PENANGKARAN BUAYA BLANAKAN KAB. SUBANG
Ekosistem mangrove berperan penting dalam menjaga stabilitas lingkungan pesisir, pengaturan dinamika pasang surut, penyediaan habitat bagi satwa liar, serta pemeliharaan kualitas perairan. Selain fungsi tersebut, mangrove juga memiliki potensi sebagai destinasi wisata berbasis alam. Namun, pemanfaatan yang tidak dikelola secara berkelanjutan dapat menimbulkan degradasi lingkungan berupa gangguan hidrologi, penurunan kerapatan mangrove dan berkurangnya fungsi habitat. Kondisi ini juga ditemukan pada Kawasan Mangrove dan Penangkaran Buaya Blanakan di Kabupaten Subang yang memiliki fungsi konservasi dan wisata. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan kriteria pengembangan lanskap berbasis prinsip desain ekologi dan wisata berkelanjutan untuk mendukung pelestarian ekosistem mangrove, habitat buaya muara (Crocodylus porosus). Penelitian menggunakan metode deskriptif-analitis dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data yang dianalisis meliputi data primer dan sekunder yang mencakup aspek fisik, biologi, dan kultural kawasan. Analisis dilakukan secara spasial untuk menentukan kesesuaian lahan untuk konservasi mangrove dan wisata, serta dilengkapi dengan analisis peluang, kendala, dan respons dalam perencanaan lanskap. Hasil penelitian merumuskan kriteria pengembangan lanskap yang meliputi pengelolaan hidrologi melalui pengaturan aliran air, dinamika pasang surut, dan kualitas perairan dengan sistem filtrasi alami, konektivitas ekosistem untuk menjaga keterhubungan antar habitat dan zona fungsi, pengelolaan vegetasi mangrove guna mendukung stabilitas ekosistem dan biodiversitas, serta pengelolaan habitat satwa liar untuk menjaga keberlanjutan habitat dan meminimalkan gangguan manusia. Selain itu, penataan fasilitas dan aktivitas wisata dirancang secara terbatas dan adaptif sesuai daya dukung lingkungan dengan menekankan pembatasan pemanfaatan ruang, minimisasi dampak lingkungan, peningkatan kesadaran ekologis, serta dukungan terhadap konservasi dan pemberdayaan masyarakat lokal.
PEMODELAN SPASIAL LAJU EKSPOR SEDIMEN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI KRUENG ACEH
Penurunan luas vegetasi merupakan masalah serius pada ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS). Tutupan lahan berupa vegetasi berfungsi sebagai pertahanan DAS terhadap proses erosi. DAS yang tidak terlindung oleh vegetasi memudahkan gaya pembangkit erosi yang berasal dari curah hujan maupun limpasan aliran air menumbuk permukaan tanah. Penelitian ini akan menerapkan model proses erosi untuk mengestimasi total sedimen yang diekspor DAS Krueng Aceh. Ekspor sedimen merupakan produk dari laju erosi dan sediment delivery ratio (SDR). Laju erosi dibangun untuk menghitung besarnya partikel tanah yang terkelupas dari sumbernya yang dipengaruhi oleh panjang aliran, kemiringan, tutupan lahan, jenis tanah, dan curah hujan. SDR menyatakan efisiensi untuk mengangkut partikel tanah yang tererosi. SDR dibangun berdasarkan proses fisik angkutan sedimen yang merupakan fungsi dari waktu tinggal sedimen. Total sedimen yang diekspor DAS Krueng Aceh sekitar 2.4×106ton/tahun. Distribusi spasial ekspor sedimen digunakan untuk memeriksa kekritisan DAS terhadap erosi. Sedimen terbanyak dipasok oleh subDAS Krueng Jreue, Inong, dan Keumireu. Ketiga subDAS tersebut merupakan daerah dengan topografi curam dan tutupan lahan yang didominasi lahan terbuka. Kualitas model diuji dengan hasil model proses erosi DAS Citarum Hulu.
PERANCANGAN ENVIRONMENTAL GRAPHIC DESIGN GEOWISATA SESAR LEMBANG SEBAGAI SARANA EDUKASI BAGI WISATAWAN DEWASA MUDA
Kawasan Sesar Lembang memiliki potensi tinggi sebagai destinasi rekreasi dan edukasi yang mampu meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, tentang pentingnya pemahaman geologi dan edukasi kebumian. Perancangan Environmental Graphic Design (EGD) yang informatif, interaktif, dan kreatif dapat menjadi sarana efektif untuk menyampaikan informasi, mendukung pelestarian alam, serta menciptakan pengalaman wisata edukasi yang menarik dan bermakna. Penelitian untuk perancangan ini melibatkan studi literatur, observasi lapangan, dan wawancara dengan ahli geologi serta target audiens dengan menggunakan metodologi desain berpikir double diamond. Analisis menunjukkan adanya kekurangan informasi dan identitas visual di lokasi wisata Sesar Lembang yang dapat menyebabkan disorientasi bagi wisatawan. Melalui perpaduan konten edukatif dan desain visual yang menarik, perancangan ini bertujuan untuk menjadikan Sesar Lembang sebagai geowisata berbasis konservasi dan edukasi. Hasil akhir diharapkan dapat menarik pengunjung, menyampaikan informasi geologi yang akurat, serta menumbuhkan rasa aman dan apresiasi terhadap lingkungan alam.
PERANCANGAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN PADA DAS CITARUM HULU UNTUK MENGURANGI RISIKO BANJIR DI KECAMATAN DAYEUHKOLOT DAN BALEENDAH DENGAN MENINGKATKAN DAYA DUKUNG DAS DI CITARUM HULU
Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung sering dilanda bencana banjir. Faktor yang menyebabkan bencana banjir di Dayeuhkolot selain dari topografinya yang rendah juga karena lokasinya yang merupakan titik pertemuan tiga sungai (Cisangkuy, Cikapundung, dan Citarum). Pada titik pertemuan tiga sungai ini akan terjadi penumpukan volume air apabila kecepatan aliran yang terlalu besar dari masing-masing sungai. Koefisien kekasaran manning sangat mempengaruhi kecepatan aliran terutama efek dari vegetasi. Penelitian ini bertujuan untuk dapat menentukan sebaran koefisien Manning secara spasial berdasarkan tutupan lahan berbasis citra spektral sentinel-2A dan citra radar sentinel-1A, menentukan proporsi tutupan lahan yang terdapat pada sempadan Sungai Cisangkuy, dan menganalisis hasil pemodelan banjir serta karakteristik aliran akibat dari koefisien kekasaran Manning vegetasi. Pemetaan tutupan lahan untuk koefisien Manning terbagi menjadi tujuh kelas (badan air, sedimen, vegetasi jarang, vegetasi rapat, vegetasi sangat jarang, padang rumput/eceng gondok, serta agrikultur dan lahan kosong). Berdasarkan hasil analisis, nilai koefisien Manning setiap tutupan lahan diperoleh; badan air 0.08, sedimen 0.31, vegetasi sangat jarang 0.38, vegetasi jarang 0.44, vegetasi rapat 0.73, padang rumput atau eceng gondok 0.29, serta agrikutur dan lahan kosong 0.28, klasifikasi didapatkan bahwa proporsi tutupan vegetasi paling besar pada sempadan Sungai Cisangkuy adalah agrikultur dan lahan kosong sebesar 61.35%. Hasil analisis genangan saat Q25 menunjukkan 14% wilayah Kecamatan Dayeuhkolot terendam sedangkan pada Baleendah sekitar 5.8%. Karakteristik aliran Sungai Cisangkuy ketika melewati tutupan lahan bernilai Manning tinggi (vegetasi rapat) akan melambat dan membuat banjir lokal sehingga meningkatkan kedalaman air, selain dipengaruhi oleh koefisien Manning dari vegetasi karakteristik aliran pada Sungai Cisangkuy juga dipengaruhi oleh geometri sungai seperti elevasi dan kelerengan.
SURVEY KONDISI LANGIT DI PULAU SABU SEBAGAI LANDASAN UNTUK PEMBUATAN NASKAH AKADEMIK PERATURAN PERLINDUNGAN LANGIT MALAM
Polusi cahaya adalah sebuah penggunaan pencahayaan buatan yang berlebihan yang membuat langit malam menjadi lebih terang dari sebelumnya sehingga membuat bintang bintang atau objek langit lainnya nampak lebih redup dan keindahan langit malam tidak dapat dirasakan. Pulau Sabu yang berlokasi di Nusa Tenggara Timur memiliki fraksi langit cerah lebih tinggi dibandingkan daerah lain di Indonesia, namun seiring berkembang zaman akan terjadi peningkatan ekonomi yang sebanding dengan peningkatan pencahayaan. Hal tersebut dikhawatirkan dapat merusak sumber daya langit malam Pulau Sabu dengan menurunkan nilai kecerlangan langit malam akibat polusi cahaya, oleh karena itu diperlukan upaya-upaya mitigasi. Tujuan dari penelitian ini adalah meninjau potensi serta merumuskan sebuah landasan ilmiah yang berkaitan dengan perlindungan langit malam daerah Pulau Sabu dengan menjadikannya sebuah Dark Sky Places. Penelitian ini bersifat observasional, dan deskriptifanalitik untuk mengetahui keadaan polusi cahaya langit pulau Sabu. Metode pengambilan data nilai kecerlangan langit dilakukan diambil dari dua data yaitu SQM yang diukur langsung di Pulau Sabu, data kecerlangan berdasarkan satelit VIIRS DNB serta data survei lampu penerangan. Hasil dari penelitian ini mendapatkan nilai pengukuran kecerlangan langit malam memiliki nilai yang cukup baik di arah zenith untuk sementara waktu, dengan kondisi lampu penerangan dinilai sedikit buruk, sehingga hal ini membuat nilai kecerlangan all-sky serta data satelit memiliki nilai jauh lebih kecil dari arah zenith. Penelitian ini juga mendapatkan bahwa Kabupaten Sabu Raijua berpotensi menjadi sebuah Dark Sky Place, khususnya dalam tipe Dark Sky Park, dengan lokasi seperti Pantai Rae Mea dan Pulau Raijua sebagai kandidat lain dalam lingkup lebih kecil. Penelitian ini dianggap sudah cukup untuk menjadi landasan naskah akademik peraturan perlindungan langit dengan beberapa tambahan.