📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6 dokumenPERANCANGAN GEREJA HKBP DI KOTA BANDUNG DENGAN PENDEKATAN KEBUTUHAN SPIRITUALITAS PENGGUNA
Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) merupakan sebuah gereja Lutheran Evangelis dengan karakter liturgi yang formal dan terstruktur. Namun, seiring berjalannya waktu, ibadah yang terstruktur ini menjadi kurang relevan di jaman yang semakin modern, terutama bagi para generasi muda. Generasi muda cenderung lebih menyukai ibadah dengan musik kontemporer dan liturgi yang informal. Namun, kedua hal ini berbanding terbalik dengan karakter liturgi Gereja HKBP dan menimbulkan banyak dinamika. Perancangan ini dibuat untuk menarik kembali perasaan keterikatan jemaat ketika beribadah di Gereja HKBP tanpa mengubah karakter liturginya, melainkan melalui perancangan ruang ibadah yang dapat memenuhi kebutuhan jemaat ketika beribadah. Untuk mengetahui kebutuhan tersebut, dilakukan penyebaran kuesioner mengenai motivasi dan kebiasaan jemaat ketika beribadah. Melalui hasil kuesioner tersebut, disimpulkan bahwa kebutuhan utama jemaat ketika beribadah adalah pemenuhan kebutuhan spiritual serta kedekatan dengan keluarga atau tradisi. Dalam memenuhi kebutuhan jemaat ketika beribadah, perancangan ini mengangkat konsep sakral dan dekat dengan mengintegrasikan identitas budaya Batak Toba ke dalam elemen-elemen interior gereja. Penerapan budaya Batak Toba dilakukan melalui bentuk, material, warna, dan ornamen yang tetap mempertahankan karakter sederhana dan sakral Gereja HKBP. Perancangan ini menghasilkan rancangan Gereja HKBP yang mampu mendukung kebutuhan spiritual jemaat sekaligus menciptakan rasa memiliki dan keterikatan terhadap gereja.
REVITALISASI BANGUNAN CHINATOWN BANDUNG (EKS-PERMABA) SEBAGAI FASILITAS EDUKASI DAN REKREASI KULINER TIONGHOA DENGAN PENDEKATAN ADAPTIVE REUSE
Bandung memiliki hubungan historis yang unik dengan komunitas Tionghoa. Berbeda dengan kota-kota lain di Indonesia, Bandung tidak memiliki kawasan Pecinan yang otentik. Chinatown Bandung yang terletak di Jalan Kelenteng No. 41 diresmikan pada tahun 2017, namun berhenti beroperasi pada tahun 2020 akibat pandemi COVID-19. Bangunan bersejarah yang dibangun sebagai bioskop dan pernah berfungsi sebagai rumah duka ini kemudian terbengkalai selama hampir empat tahun, hingga akhirnya dialihfungsikan menjadi tempat berolahraga—fungsi yang kurang merepresentasikan nilai sejarah dan budaya kawasan tersebut. Tugas akhir ini mengusulkan revitalisasi Bangunan Chinatown Bandung (Eks-Permaba) sebagai Fasilitas Edukasi dan Rekreasi Kuliner Tionghoa dengan pendekatan adaptive reuse. Pendekatan ini bertujuan untuk melestarikan bangunan cagar budaya sekaligus mengoptimalkan pemanfaatannya secara berkelanjutan. Metode yang digunakan pada tugas akhir ini adalah studi literatur, observasi langsung, hingga survei. Konsep desain yang digunakan adalah “weaving the bridge between past and present”, menghubungkan gedung bernilai sejarah dengan konteks lingkungan dan sosial di masa sekarang. Desain dibuat agar harmonis dengan bangunan dan lingkungannya, juga memiliki dampak minimal terhadap bangunan asli. Melalui program edukatif dan rekreatif yang berbasis pada kuliner Tionghoa, proyek ini diharapkan mampu semakin menghidupkan kawasan Jalan Kelenteng sebagai pusat kegiatan budaya, serta memperkuat identitas sejarah dan sosial masyarakat Tionghoa di Bandung.
EKSPLORASI TEKNIK REKA LATAR DALAM RAGAM HIAS GORGA BATAK PADA PRODUK FESYEN
Gorga Batak, seni ukir kayu yang menjadi bagian dari rumah adat Batak, merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang sarat makna simbolis dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam desain fesyen. Namun, implementasi elemen tradisional gorga ke dalam produk fesyen masih terbatas, terutama karena keterkaitannya dengan arsitektur yang sulit diterapkan di era modern. Penelitian ini bertujuan untuk melestarikan ragam hias gorga Batak dengan mengangkatnya menjadi produk fesyen melalui eksplorasi teknik reka latar. Pendekatan ini memungkinkan adaptasi motif gorga pada material fesyen modern tanpa mengurangi filosofi dan makna budaya yang terkandung di dalamnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik reka latar mampu menciptakan perpaduan harmonis antara elemen tradisional dan estetika modern, menghasilkan karya fesyen yang unik dan relevan dengan perkembangan zaman. Penelitian ini berkontribusi pada inovasi desain fesyen sekaligus melestarikan dan mempromosikan budaya Batak di tingkat nasional maupun global.
PERANCANGAN ‘RUMAH RETRET’ SEBAGAI COMMUNITY CENTER DENGAN INTEGRASI BUDAYA JAWA
Di era modern yang serba cepat dan penuh tekanan, kebutuhan akan ruang yang mendukung pemulihan holistik menjadi semakin mendesak. Retreat house, yang berakar dari tradisi ordo Katolik, hadir sebagai fasilitas yang dirancang untuk mendukung pemulihan kognitif, emosional, dan spiritual secara menyeluruh. Berdasarkan Attention Restoration Theory (ART), interaksi antara manusia dan lingkungan alami yang dirancang secara arsitektural memungkinkan terjadinya soft fascination, yaitu keterpukauan lembut yang membantu mengurangi kelelahan mental dan memulihkan kapasitas perhatian secara alami. Retreat house masa kini berkembang menjadi sarana pencarian identitas diri, peningkatan kesejahteraan mental, dan eskapisme. Perancangan ini bertujuan untuk menciptakan retreat house yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dengan prinsip ekologi dan spiritualitas, sebagai respon terhadap kebutuhan ruang restoratif yang inklusif. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, observasi lapangan, dan kuesioner kualitatif. Proyek ini diidentifikasi sebagai fasilitas spiritual non-komersial dengan pendekatan desain yang menyatukan unsur alam, budaya, dan arsitektur. Konsep utama dirancang berdasarkan prinsip serene, terrene, dan tradisional, yang kemudian diimplementasikan dalam bentuk massa bangunan, tata ruang, material alami, dan pengalaman ruang yang mendukung refleksi dan ketenangan batin.
PERANCANGAN TIPOGRAFI DAN BUKU SPESIMEN ADAPTASI MOTIF TENUN BLONGSONG PALEMBANG
Tenun merupakan warisan budaya yang mencerminkan kehidupan masyarakat Indonesia melalui ragam hias motif. Namun, budaya motif tenun menghadapi tantangan berupa perubahan pandangan masyarakat dan kurangnya minat generasi muda terhadap pelestarian nilai budaya. Salah satunya dialami oleh tenun Blongsong Palembang yang terancam punah. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan sebuah pendekatan yang inovatif dalam memperkenalkan motif Blongsong kepada publik, khususnya melalui desain komunikasi visual. Perancangan ini bertujuan untuk menghasilkan tipografi eksperimental beserta buku spesimen yang terinspirasi dari motif tenun Blongsong. Dengan mengadaptasi elemen-elemen motif tenun Blongsong dalam desain tipografi, diharapkan dapat tercipta tipografi yang berkelanjutan, membangun kesadaran sosial melalui simbol kebudayaan.
KAJIAN PENGEMBANGAN ANGKLUNG TOEL DALAM UPAYA PELESTARIAN KESENIAN ANGKLUNG
Angklung merupakan sebuah bentuk kesenian tradisional yang bersifat komunal dan memiliki hubungan yang kuat dengan masyarakat. Seiring perkembangan zaman, angklung telah bertransformasi dari sebuah bentuk upacara ritual, media pendidikan, hingga menjadi sebuah bentuk seni pertunjukan yang telah menjadi salah satu identitas budaya Indonesia dan salah satu warisan budaya tak benda yang diakui oleh UNESCO. Dalam mempertahankan relevansinya, angklung secara alat musik telah melalui banyak pengembangan. Beberapa di antaranya telah memberi pengaruh baik terhadap pola interaksinya dengan pemainnya, dan juga membantu perkembangan kesenian angklung itu sendiri. Salah satu contohnya adalah Angklung Toel, yang menjadi fokus utama dalam penelitian ini. Sebagai pengembangan dari artefak kebudayaan, Angklung Toel telah memunculkan pro dan kontra. Di satu sisi, aspek nilai, makna, dan filosofi pada kesenian angklung perlu dipertahankan. Tetapi di sisi lain, angklung juga memerlukan adanya pengembangan yang membuatnya tetap relevan terhadap perkembangan zaman. Maka dari itu, penelitian ini memetakan lingkup sosio-kultural berupa beberapa aspek pertimbangan yang mempengaruhi, serta dipengaruhi oleh pengembangan Angklung Toel. Dengan demikian, luaran dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman dalam pengembangan alat musik tradisional di masa depan.