📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5 dokumenEKSPLORASI STORYTELLING VISUAL DI PLATFORM VIDEO PENDEK: STUDI KASUS KETERLIBATAN KONSUMEN DAN IDENTIFIKASI MEREK SHOPEE DI TIKTOK
Di era digital abad ke-21, merek perlu mengadaptasi strategi komunikasi yang lebih relevan dengan perilaku konsumen pada saat ini. Platform seperti TikTok memberikan peluang bagi merek untuk menyampaikan cerita secara visual, singkat, dan mudah dipahami oleh audiens. Dengan menggunakan storytelling dari Shopee sebagai konteks penelitian, studi ini mengkaji elemen-elemen utama dalam storytelling merek, khususnya Brand Story (BS), serta pengaruhnya terhadap Brand Attitude (BA), Electronic Word of Mouth (eWOM), dan Consumer-Brand Identification (CBI). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan responden pengguna TikTok di Indonesia yang secara aktif mengakses konten Shopee (n = 122). Analisis data dilakukan menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLSSEM) melalui SmartPLS 4 dengan 5.000 bootstrap resamples. Hasil analisis menunjukkan bahwa model penelitian mampu menjelaskan variansi yang moderat pada BA serta variansi yang cukup substansial pada CBI. Penelitian menunjukkan bahwa BS memiliki pengaruh positif terhadap BA maupun CBI. Selain itu, eWOM juga terbukti memberikan pengaruh positif terhadap CBI. Namun demikian, BA hanya menunjukkan pengaruh yang relatif lemah terhadap CBI. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa BA tidak berperan sebagai mediator dalam hubungan antara BS dan CBI. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini memberikan implikasi praktis bagi merek untuk lebih memprioritaskan pengembangan narasi di TikTok yang autentik, relevan, dan mampu menarik perhatian audiens. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam mendorong keterlibatan konsumen, memicu munculnya user-generated content (UGC), serta memperkuat percakapan antar konsumen, dibandingkan apabila strategi komunikasi hanya berfokus pada upaya mengubah sikap konsumen terhadap merek. Kata Kunci: Visual Storytelling, TikTok, Brand Story, Brand Attitude, eWOM, Consumer-Brand Identification, Shopee, Indonesia.
PERAN KONSISTENSI PLATFORM DAN PERILAKU KONSUMEN DALAM MENDORONG EFEKTIVITAS KAMPANYE: PERSPEKTIF PENGENDALIAN STRATEGIS PADA TELKOMSEL
Percepatan transformasi digital di Indonesia telah secara signifikan mengubah cara merek telekomunikasi berinteraksi dengan konsumen di berbagai platform. Bagi Telkomsel, operator jaringan seluler terbesar di Indonesia, kemunculan konsumen digital asli dari generasi Gen Z dan Milenial membawa peluang sekaligus tantangan, terutama ketika perilaku konsumen menjadi semakin terfragmentasi, perpindahan platform semakin sering terjadi, dan efektivitas pemasaran didefinisikan ulang oleh ekosistem konten berbasis algoritma. Meskipun Telkomsel telah berinvestasi pada teknologi pemasaran seperti Predictive AI, analitik berbasis Azure, dan ekosistem DigiAds, ketidakseimbangan dalam pemilihan dan implementasi platform mengakibatkan kinerja kampanye yang tidak konsisten. Penelitian ini mengkaji hubungan antara konsistensi platform, dinamika perilaku konsumen, serta pengendalian strategis, dan bagaimana ketiganya memengaruhi efektivitas kampanye digital Telkomsel. Tiga isu utama mendorong penelitian ini: (1) perubahan perilaku Gen Z yang bergerak cepat antarplatform seperti TikTok, Instagram, dan MyTelkomsel; (2) ketidaksesuaian antara wawasan berbasis AI dengan eksekusi kampanye aktual; dan (3) kebutuhan akan pengendalian strategis untuk memastikan bahwa kinerja kampanye tetap sejalan dengan tujuan organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak perubahan perilaku terhadap efektivitas platform, menilai kemampuan Telkomsel dalam menjaga konsistensi platform, serta mengevaluasi pengaruh konsistensi terhadap engagement, brand recall, dan konversi. Penelitian menggunakan desain kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur dengan manajer dan profesional pemasaran digital dari berbagai divisi Telkomsel seperti Digital Sales, Brand & Communication, Regional Operations, GTM & Growth, dan By.U Creative Communications. Melalui analisis konten dan tematik, penelitian menemukan pola berulang terkait keselarasan platform, adaptasi kampanye berbasis perilaku, dan manajemen kinerja strategis. Kerangka konseptual penelitian terdiri dari tiga konstruk utama: Dinamika Perilaku Konsumen (kredibilitas sumber dan kualitas konten), Konsistensi Platform (integrasi promosi, layanan pelanggan, dan pemenuhan), serta Pengendalian Strategis (KPI pasar, pelanggan, dan finansial). Temuan penelitian menunjukkan tiga hal penting. Pertama, konsistensi platform merupakan faktor utama keberhasilan kampanye, namun sulit dijaga karena perubahan preferensi konsumen dan algoritma platform yang sangat cepat. Meskipun seluruh tim sepakat akan pentingnya keselarasan pesan, tone, dan identitas merek, pelaksanaannya sering berbeda ketika ada kebutuhan adaptasi regional atau kekhasan produk. Kedua, perilaku Gen Z sangat memengaruhi pemilihan platform. Responden menjelaskan bahwa segmen ini melakukan keputusan pembelian melalui banyak titik kontak dalam satu perjalanan—mengenal produk di TikTok, memvalidasi di Instagram, dan bertransaksi melalui MyTelkomsel atau platform e-commerce. Pola non-linear ini menuntut adaptasi konten yang cepat dan pemantauan perilaku secara real-time. Ketiga, mekanisme pengendalian strategis belum merata; meskipun KPI kuat di tingkat korporat, penerapannya belum konsisten antar divisi. Meskipun Predictive AI dan DigiAds mampu mengidentifikasi audiens berpotensi tinggi, wawasan tersebut tidak selalu diterjemahkan secara konsisten ke dalam strategi kreatif atau alokasi media karena adanya silo organisasi. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan kampanye digital tidak hanya bergantung pada kemampuan teknologi, tetapi juga memerlukan kolaborasi lintas divisi, tata kelola konten yang terpadu, dan pelacakan perilaku yang berkelanjutan. Ketika Telkomsel berhasil mengintegrasikan elemen-elemen tersebut, seperti dalam kampanye TikTok Ramadan 2024, hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam awareness, incremental reach, dan transaksi aplikasi. Sebaliknya, kampanye yang tidak konsisten atau salah memilih platform menunjukkan kinerja yang lebih rendah meskipun aset kreatifnya berkualitas tinggi. Secara teoretis, penelitian ini menegaskan pentingnya konsistensi platform sebagai kompetensi strategis bukan sekadar operasional dalam ekosistem pemasaran digital. Penelitian ini juga memperluas literatur dengan menunjukkan bagaimana pola migrasi platform yang dipicu perilaku konsumen memengaruhi pengendalian strategis dalam organisasi digital berskala besar. Secara praktis, penelitian ini memberikan rekomendasi operasional bagi Telkomsel untuk memperkuat tata kelola KPI, meningkatkan keselarasan kreatif lintas platform, dan menstandarkan perencanaan kampanye berbasis perilaku. Pada akhirnya, memastikan bahwa kampanye digital tetap konsisten, berpusat pada konsumen, dan dikendalikan secara strategis sangat penting agar Telkomsel dapat mempertahankan keunggulan kompetitif di lingkungan digital Indonesia yang terus berkembang.
NILAI MEREK VS. KETERGANTUNGAN TERHADAP MARKETPLACE: MENAVIGASI TANTANGAN PERSEPSI MEREK UNTUK ELOVI
Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan e-commerce di Indonesia berkembang pesat dan secara signifikan mengubah perilaku belanja konsumen. Platform marketplace seperti Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop menjadi saluran utama karena menawarkan kemudahan akses, harga kompetitif, serta promosi yang menarik. Namun, ketergantungan merek terhadap marketplace juga menghadirkan tantangan baru—khususnya dalam menjaga nilai merek (brand equity) jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak dari ketergantungan Elovi, sebuah merek tas gaya hidup lokal, terhadap marketplace, serta merumuskan strategi bisnis berbasis omnichannel untuk menjaga keberlanjutan merek dalam jangka panjang. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed methods), yang menggabungkan data kuantitatif dari 400 responden survei dan wawasan kualitatif dari 12 partisipan melalui wawancara mendalam, yang terbagi dalam tiga persona inti Elovi: Fashion Forward, Value Conscious, dan Quality Seeker. Penelitian ini menjawab dua pertanyaan utama: (1) Bagaimana persepsi konsumen terhadap nilai merek Elovi dalam konteks promosi yang terus-menerus di platform e-commerce? dan (2) Bagaimana strategi omnichannel dapat membantu Elovi menyeimbangkan ketergantungan pada marketplace dengan pembangunan merek jangka panjang dan profitabilitas yang berkelanjutan? Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan Elovi di marketplace tidak sertamerta merusak citra merek di mata konsumen. Sebaliknya, marketplace dinilai sebagai saluran fungsional yang unggul dalam hal kenyamanan transaksi, kemudahan pengembalian, serta ulasan dari sesama pembeli. Namun, nilai emosional dan diferensiasi merek tidak terbentuk di sana. Konsumen cenderung melihat marketplace sebagai tempat mencari harga terbaik, bukan sebagai platform untuk menjalin hubungan dengan merek. Sebaliknya, kanal milik merek seperti website resmi dan toko offline justru dinilai lebih mampu membangun koneksi emosional, meskipun belum optimal dalam menarik trafik karena minimnya insentif. Sebagai solusi, penelitian ini merekomendasikan pergeseran strategi dari pendekatan multi channel menuju strategi omnichannel yang terintegrasi. Enam pilar strategis disusun sebagai kerangka utama: integrasi data lintas kanal, penyelarasan pengalaman merek, sinkronisasi program loyalitas, reposisi marketplace sebagai saluran akuisisi, aktivasi offline berbasis pengalaman, serta pemetaan menyeluruh customer journey. Strategi ini dirancang untuk menciptakan pengalaman belanja yang menyatu dan konsisten, baik secara digital maupun fisik. Penelitian ini juga menawarkan sejumlah inisiatif konkret, termasuk strategi konten berdasarkan persona di tiap platform, diferensiasi produk berdasarkan kanal, peningkatan pengalaman unboxing, serta transformasi program loyalitas dari sistem berbasis transaksi menjadi pengalaman berbasis komunitas. Program seperti Elovi Learning Camp (ELC) dan aktivasi komunitas eksklusif dirancang untuk memperkuat keterikatan emosional dan membentuk komunitas brand advocates. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa meskipun dominasi marketplace menjadi realitas yang sulit dihindari dalam lanskap ritel digital Indonesia, pemilik merek tetap memiliki kendali dalam membentuk persepsi jangka panjang dan loyalitas pelanggan. Dengan menggabungkan fondasi omnichannel yang kuat dan pendekatan berbasis komunitas, Elovi berpeluang besar untuk naik kelas dari sekadar merek pilihan menjadi merek gaya hidup yang berarti bagi konsumennya.
MENGEMBANGKAN STRATEGI KESADARAN MEREK DAN KETERLIBATAN MELALUI INSTAGRAM: STUDI KASUS NALA BEAUTY
Industri kecantikan telah mengalami pergeseran signifikan menuju peron digital, didorong oleh pengakuan akan potensi besar pemasaran online. Merek-merek semakin memanfaatkan media sosial untuk menjangkau dan melibatkan konsumen secara global. Nala Beauty, sebuah merek yang mengkhususkan servis dalam lokakarya kecantikan, telah menggunakan Instagram sebagai peron utama untuk meningkatkan kesadaran merek dan keterlibatan, dengan tujuan menjadi pilihan utama konsumen. Dengan fokus pada Instagram, Nala Beauty bertujuan untuk menonjolkan keunikan lokakarya-nya dan memberikan nilai emosional dan fungsional kepada audiensnya. Strategi pemasaran merek ini dipandu oleh AIDAL (Awareness, Interest, Desire, Action, Loyalty) funnel, yang memastikan pendekatan terstruktur dalam membangun loyalitas pelanggan. Untuk menonjol dari pesaing dan menarik minat pasar, strategi media sosial Nala Beauty harus mempertimbangkan tren pasar, keselarasan dengan kebutuhan audiens, dan tujuan keseluruhan merek. Studi ini menggunakan metodologi pemecahan masalah, menilai faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi strategi pemasaran Instagram Nala Beauty. Dengan menerapkan analisis 5 Whys, penelitian ini mengungkapkan penyebab mendasar dari tantangan saat ini dan menawarkan solusi spesifik. Kesimpulan studi ini mengarah pada rekomendasi praktis untuk menciptakan strategi pemasaran Instagram yang lebih menarik dan efektif, yang menyoroti kebutuhan dukungan finansial untuk berhasil melaksanakan strategi tersebut.
MENGEKSPLORASI PREFERENSI PELANGGAN SANTOON YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK FASHION
Di era digital ini, ada pergeseran yang luar biasa menuju belanja online, terutama di industri fashion. Terlepas dari tren ini, Santoon, merek pakaian di Indonesia, menghadapi tantangan dengan penjualan online yang jauh lebih rendah dibandingkan penjualan offline, meskipun sebagian besar pelanggan Santoon dan pasar sasaran lebih memilih membeli produk fashion online. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi preferensi pelanggan Santoon yang mempengaruhi keputusan pembelian mereka untuk membeli produk fashion. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, menggunakan wawancara semi-struktur untuk mengumpulkan wawasan rinci. Teknik sampel yang digunakan adalah sampling non-probability purposive, berfokus pada pelanggan Santoon sebelumnya dan pasar sasarannya. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan wawasan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kehadiran online Santoon dan menyesuaikan strategi pemasaran dengan preferensi pelanggan. Temuan ini mengungkapkan bahwa desain, kualitas, dan ukuran adalah faktor yang paling penting yang mempengaruhi preferensi pelanggan terhadap pembelian produk fashion. Selain itu, deskripsi produk terperinci dan ulasan pelanggan memainkan peran penting dalam mempengaruhi preferensi belanja online. Sementara dalam situasi tertentu, pelanggan lebih suka mengunjungi toko offline untuk secara fisik melihat dan sampel produk, keputusan pembelian akhir sering dibuat secara online. Temuan ini menyoroti pentingnya meningkatkan detail deskripsi produk online dan memanfaatkan ulasan pelanggan untuk membangun kepercayaan. Selain itu, mengintegrasikan pengalaman belanja online dan offline dapat menangani perilaku pelanggan hibrida.Rekomendasi yang dapat dilakukan untuk Santoon termasuk meningkatkan detail dan akurasi deskripsi produk online, memanfaatkan ulasan pelanggan untuk membangun kepercayaan, dan mengintegrasikan pengalaman belanja online dan offline untuk memenuhi perilaku pelanggan hibrida. Selain itu, penelitian ini menyarankan Santoon harus mengoptimalkan penggunaan Instagram untuk pemasaran yang ditargetkan, mengingat bahwa sebagian besar pengguna Instagram Indonesia berada dalam demografi pasar target mereka.