📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 16 dokumenPERANCANGAN PEMANFAATAN ENERGY STORAGE SYSTEM (ESS) DI SISTEM KETENAGALISTRIKAN INDONESIA DENGAN STUDI KASUS SISTEM INTERKONEKSI SULAWESI UTARA - GORONTALO
Peningkatan penetrasi pembangkit energi terbarukan variabel, pertumbuhan beban, serta perbedaan karakteristik antarsistem meningkatkan kebutuhan fleksibilitas pada sistem ketenagalistrikan Indonesia. Energy Storage System (ESS) dapat menyediakan berbagai fungsi penunjang, seperti frequency regulation and reserves, peak shaving, congestion management, VRE firming and support, peningkatan kualitas daya, dan blackstarter. Tugas akhir ini bertujuan menentukan fungsi ESS prioritas dan teknologi yang paling sesuai, dengan fokus pada Sistem Sulawesi Utara–Gorontalo. Penentuan prioritas dilakukan menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) berdasarkan data teknis sistem dan penilaian lima responden, dengan empat alternatif teknologi berupa supercapacitor, BESS lithium-ion, pumped hydro energy storage, dan hydrogen energy storage system. Hasil analisis menunjukkan bahwa fungsi prioritas pada Sistem Sulawesi Utara–Gorontalo adalah frequency regulation and reserves serta VRE firming and support, sedangkan BESS lithium-ion menjadi teknologi terbaik dengan nilai akhir 94,62%. Simulasi DIgSILENT PowerFactory menunjukkan bahwa pemasangan BESS meningkatkan frekuensi nadir dari 47,99 Hz menjadi 49,61 Hz dan Indeks Kekakuan Sistem dari 31,34 MW/Hz menjadi 161,54 MW/Hz. Selain itu, penggunaan BESS sebagai ramp limiter menurunkan ramp rate maksimum dari 1,38 pu/jam menjadi sekitar 0,20 pu/jam atau sebesar 85,5%. Hasil ini menunjukkan bahwa BESS lithium-ion efektif meningkatkan kestabilan frekuensi, meredam fluktuasi PLTS, dan meningkatkan fleksibilitas operasi sistem.
PERANCANGAN UPAYA MITIGASI OSILASI DAYA (POWER SWING) MELALUI ANALISIS STRATEGI RESTORASI SISTEM PASCA GANGGUAN UNTUK PENINGKATAN RESILIENSI SISTEM SULAWESI BAGIAN SELATAN
Seiring dengan berkembangnya sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel), meningkatnya kompleksitas sistem mempertinggi risiko terjadinya pemadaman massal yang memerlukan strategi restorasi yang sangat terkoordinasi dan cepat. Makalah ini mengusulkan kerangka restorasi pasca-blackout tiga tahap yang komprehensif untuk jaringan interkoneksi Sulbagsel, didemonstrasikan melalui Simulasi Quasi-Dynamic di DIgSILENT PowerFactory. Pada Tahap 1, seluruh unit pembangkit diklasifikasikan ke dalam kategori Black Start (BS) dan Non-Black Start (NBS) berdasarkan karakteristik mesin penggerak dan kondisi starting termal (Hot, Warm, dan Cold Start), yang menjadi dasar pembentukan enam island restorasi independen secara geografis berpusat pada unit BS yang terverifikasi, yaitu island Bakaru, Barru, Kendari, Sengkang, Poso, dan Makassar. Pada Tahap 2, Rencana Restorasi Jaringan (Network Restoration Plan/NRP) dikembangkan dengan mengenergisasi jalur cranking dari unit BS ke unit NBS secara berurutan dengan interval switching 10 menit, sambil memantau profil tegangan untuk mencegah overvoltage Ferranti. Pada Tahap 3, skema pemulihan beban bertahap dirancang sesuai ramp rate generator, diikuti sinkronisasi island yang terkoordinasi untuk mengintegrasikan kembali sistem interkoneksi secara penuh. Hasil menunjukkan bahwa pada kondisi beban puncak, strategi enam island awal mencapai restorasi penuh dalam 274 menit, yang berkurang menjadi 158 menit, peningkatan 42%, melalui penambahan lima unit Black Start. Pada kondisi beban dasar, restorasi diselesaikan dalam 128 menit. Kondisi sinkronisasi terpenuhi di seluruh titik interkoneksi dengan deviasi tegangan dalam ±3,5% jauh dalam batas regulasi.
DESAIN DAN ANALISIS RESPONS FATIGUE PADA INSTALASI PIPA BAWAH LAUT PENGANGKUT CO2 DALAM IMPLEMENTASI CARBON CAPTURE, UTILIZATION, AND STORAGE (CCUS) DI LAUT JAWA
Pipa bawah laut memegang peranan vital untuk mentransportasikan CO? dalam implementasi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS). CO? mempunyai risiko kebocoran tinggi, terutama saat instalasi yang melibatkan aktivitas manusia, sehingga menjaga integritas pipa menjadi prioritas. Salah satu ancaman utama adalah kerusakan fatigue akibat siklus tegangan berulang saat laybarge tidak dapat beroperasi atau harus standby karena cuaca buruk atau gangguan peralatan sehingga pipa yang menggantung mengalami siklus tegangan berulang. Studi ini mengusulkan metodologi estimasi waktu allowable barge standby time terhadap umur fatigue untuk instalasi pipa bawah laut dengan metode S-Lay, sebuah pendekatan yang belum banyak dilaporkan dalam konteks proyek CCUS di Indonesia. Studi parametrik dilakukan untuk dua skenario kedalaman dan menggunakan delapan arah gelombang. Analisis ini mengevaluasi data tegangan riwayat waktu lalu menggunakan metode rainflow counting melalui skrip Python untuk mengurai siklus tegangan. Akumulasi kerusakan fatigue kemudian dihitung sesuai aturan Palmgren-Miner dengan acuan kurva S-N di air laut dengan proteksi katodik tipe D berdasarkan DNV-RP-C203. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari keempat lokasi yang ditinjau (laybarge, stinger, sagbend, dan seabed), stinger memiliki laju kerusakan fatigue tertinggi. Untuk menjaga kerusakan fatigue tidak melebihi 3.3% dalam semua kondisi, barge standby time ditetapkan maksimal 4 hari berdasarkan skenario terburuk. Selain itu, waktu standby yang dihasilkan pada kedalaman maksimum relatif lebih singkat karena pipa yang menggantung lebih panjang dan lebih responsif terhadap beban lingkungan. Kondisi ini menyebabkan siklus tegangan kumulatif di area kritis (stinger) meningkat, mempercepat akumulasi kerusakan fatigue dan memperpendek waktu menuju batas kritis.
ESTIMASI STORAGE CAPACITY UNTUK CARBON,CAPTURE, AND STORAGE (CCS) MENGGUNAKAN CURVED PSEUDO ELASTIC IMPEDANCE (CPEI) DAN PSEUDO ELASTIC IMPEDANCE FOR LITHOLOGY (PEIL) PADA LAPANGAN
Seiring dengan berjalannya waktu, peningkatan jumlah populasi semakin tinggi, dan peningkatan ini linear dengan tingkat kebutuhan energi serta emisi yang dihasilkan. Peningkatan ini berdampak pada konsumsi bahan bakar fosil yang masih menjadi sumber energi yang paling banyak digunakan. Hal ini berdampak pada meningkatnya kadar gas CO2 di atmosfer dan dapat menyebabkan perubahan iklim dunia. Salah satu teknologi yang dapat diterapkan untuk permasalahan ini adalah dengan Carbon, Caputre, and Storage (CCS), dengan cara menangkap dan menyimpan gas CO2 di bawah permukaan tanah atau underground stroge. Lapangan ”Abangda” memiliki potensi besar sebagai underground stroge dengan mempertimbangkan lokasi lapangan, kondisi reservoir, dan jarak lapangan terhadap sumber gas CO2. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah dengan cara mengestimasi sebarapa besar volume CO2 yang dapat disimpan. Untuk itu, diperlukan parameter elastis yang mampu dengan baik memisahkan efek litologi dan fluida agar bisa mendapatkan volume saturasi air dan volume porositas yang optimum melalui suatu pendekatan, sehingga mendapatkan estimasi storage capacity yang optimum. Pendekatan yang digunakan pada penilitan ini menggunakan Curved Pseudo Elastic Impedance (CPEI) dan Pseudo Elastic Impedance for Lithology (PEIL). CPEI ditransformasikan menjadi volume saturasi air dan PEIL ditransformasikan menjadi volume porositas. Didapatkan parameter yang paling sensitif terhadap pemisahan efek litologi dan fluida melalui sensitivity analysis adalah kombinasi AI dan Vp/Vs, kemudian didapatkan AI serta SI melalui direct AVO inversion dan volume Vp/Vs didapat dari AI/SI. PEIL dan CPEI menunjukan hasil yang sudah maksimum dengan validator terhadap data sumur yang ada. Pada Formasi Baturaja menunjukan persebaran porositas yang tinggi. Dua area storage, yaitu main reef dan barrier reef yang secara akumulatif dapat menampung hingga 10.56 juta ton CO2 dalam fasa likuid.
EVALUASI STRATEGI PENSIUN DINI DAN RETROFIT CCS PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP BATUBARA : STUDI KASUS DI JAWA BARAT
This thesis develop a techno-economic framework to compare three coal-power decarbonization pathways in West Java which include Natural Retirement (NR), Carbon Capture and Storage (CCS) retrofit, and Early Retirement (ER) over the 2023–2050 horizon. Using a present-value (NPV) approach, the study aggregates capital, operating, and system costs and contrasts them with the emissions trajectories under each pathway. The framework also reports cost-effectiveness in USD per ton of CO? avoided relative to NR and conducts sensitivity analysis that internalizes the social cost of carbon (SCC) to identify the carbon price levels at which mitigation benefits offset incremental costs. The analysis shows that NR yields the lowest present-value cost but the highest cumulative emissions; CCS achieves high capture potential at the expense of substantial upfront CAPEX and elevated OPEX; and ER reduces emissions by retiring non-retrofitted units and replacing output with solar PV plus battery storage, shifting the timing of expenditures and avoided costs. When discounting is applied consistently across scenarios, timing differences become pivotal: late costs shrink in PV, while accelerated clean-energy investments can weigh more in PV than in a later build schedule. Taken together, results provide a transparent, plant-to-system view of trade-offs among cost, timing, and abatement, and offer policy-relevant insight for prioritizing least-cost, high-impact decarbonization under Indonesia’s JETP and LTS-LCCR goals.
GALVANOSTAT SATU KANAL UNTUK PENGUKURAN BATERAI KANCING ISI ULANG: SUBSISTEM PENGENDALIAN ARUS BERBASIS HOWLAND CURRENT PUMP
Permintaan terhadap sistem penyimpanan energi berbasis baterai terus meningkat seiring berkembangnya teknologi kendaraan listrik, perangkat portabel, dan sistem energi terbarukan. Untuk mendukung riset karakterisasi performa baterai, metode galvanostatik seperti Galvanostatic Charge-Discharge (GCD) dan Galvanostatic Intermittent Titration Technique (GITT) banyak digunakan untuk mengevaluasi kapasitas, efisiensi coulombic, serta perilaku difusi ion dalam sel elektroda. Teknik-teknik ini membutuhkan sumber arus yang mampu menghasilkan arus presisi dengan rentang luas dan resolusi tinggi. Pada tugas akhir ini, dirancang dan direalisasikan subsistem pengendalian arus untuk galvanostat satu kanal dengan rentang pengendalian arus ±10 µA hingga ±10 mA. Subsistem ini dibangun menggunakan topologi Howland Current Pump (HCP) yang dimodifikasi, dengan komponen utama OPA192 yang memiliki offset dan bias arus sangat rendah. Dua jalur resistor umpan balik (1 k? dan 10 k?) dikontrol melalui relay SPDT untuk mendukung dua rentang operasi: Range 1 (10 µA – 1 mA) dan Range 2 (1 mA – 10 mA). Sistem ini mendukung pengendalian arus dua arah (sourcing/sinking) untuk mengakomodasi mode pengisian dan pengosongan baterai. Pengujian eksperimental menggunakan Kaithley DMM7510 menunjukkan error maksimum ±1 µA pada Range 1 dan ±10 µA pada Range 2, memenuhi spesifikasi rancangan. Sistem ini juga terintegrasi dengan mikrokontroler Arduino Nano untuk pengaturan DAC dan pembacaan ADC, memungkinkan pengendalian arus secara digital serta kalibrasi linier melalui regresi. Hasil evaluasi menunjukkan performa arus yang linear, stabil, dan simetris pada mode sumber maupun serap arus, tanpa adanya deviasi signifikan di sepanjang rentang kerja. Dengan demikian, subsistem pengendalian arus ini terbukti akurat dan stabil, serta siap diintegrasikan pada sistem galvanostat secara keseluruhan untuk mendukung pengujian GCD dan GITT pada baterai kancing isi ulang.
TECHNO-ECONOMIC ANALYSIS SISTEM HYBRID RENEWABLE ENERGY UNTUK DAERAH PEDESAAN: STUDI KASUS KECAMATAN LEMBOR SELATAN
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis skenario elektrifikasi berbasis energi terbarukan di Kecamatan Lembor Selatan. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak HOMER Pro, dengan pendekatan techno-economic analysis. Selain itu, analisis sensitivitas juga dilakukan, untuk menguji ketahanan konfigurasi yang telah dioptimasi terhadap ketidakpastian solar GHI dan demand. Berdasarkan hasil simulasi, konfigurasi DG-PV-BESS menjadi solusi terbaik dalam upaya elektrifikasi Kecamatan Lembor Selatan. Konfigurasi ini terdiri dari PV dengan kapasitas 50 kW, DG dengan kapasitas 85 kW, dan BESS dengan kapasitas 282 kWh, dengan NPC sebesar 850,710 USD, LCOE 0.348 USD/kWh, dan total emisi sebesar 106,304 kgCO2/tahun. Ketidakpastian solar GHI menyebabkan perubahan pada NPC sebesar -0.27% hingga +0.39% dari kondisi basis, LCOE sebesar -0.29% hingga +0.57% dari kondisi basis, dan total emisi CO2 sebesar -0.21% hingga 0.32% dari kondisi basis. Selain itu, ketidakpastian demand menghasilkan rentang NPC sebesar -9.27% hingga +43.17% dari kondisi basis, LCOE sebesar 0% hingga +24.7% dari kondisi basis, dan total emisi CO2 sebesar -12.69% hingga +50.36%dari kondisi basis.
EVALUASI TEKNIS DAN EKONOMI DESAIN SUMUR INJEKSI CO2: STUDI PERBANDINGAN ANTARA SUMUR PRODUKSI KONVERSI DAN SUMUR INJEKSI BARU UNTUK PROYEK CCS DI SUMATRA TENGGARA
This study presents a comprehensive feasibility analysis of CO? injection well development for a carbon capture and storage (CCS) project located in a mature offshore oilfield in Southeast Sumatra, Indonesia. Two alternative approaches are evaluated: converting an existing production well (CTI) and constructing a new injection well. The study assesses well design, integrity, material and cement selection, as well as completion strategy. Software simulations are utilized to design and analyze well performance under CO? exposure. Results indicate that while the CTI approach may offer reduced initial capital expenditure, it introduces significant well integrity risks due to incompatible materials and legacy design constraints. An alternative well design is also proposed, incorporating mixed-grade casing string and advanced CO?-resistant materials to improve both injectivity and safety. Economic analysis shows that the alternative new well design provides better cost efficiency and long-term integrity assurance compared to both the planned new well and the CTI approach. The study concludes that when longterm integrity is a critical factor, constructing a new well is the more robust and sustainable option
PEMBELAJARAN MENDALAM UNTUK OPTIMASI RUTE BACA METER DALAM MASALAH MANAGEMEN BILLING PADA UNIT LAYANAN PELANGGAN PARAPAT
Optimasi rute baca meter listrik merupakan tantangan besar dalam meningkatkan efisiensi layanan listrik. Penelitian ini menggunakan metode Graph Neural Network (GNN) untuk memprediksi urutan kunjungan pelanggan berdasarkan koordinat geografis sebagai alternatif yang lebih adaptif dibandingkan metode konvensional. Saat ini, team Leader transaksi energi di Unit Layanan Pelanggan (ULP) Parapat tidak memiliki peta rute pembacaan meter, baik manual maupun digital, sehingga analisis kebutuhan penambahan petugas atau waktu kerja menjadi terbatas. Aplikasi yang dikembangkan memungkinkan klaster pelanggan seimbang berdasarkan jumlah per petugas, dengan metode klastering Sequential Partitioning. Rute dibuat menggunakan GNN yang dilatih dari algoritma Traveling Salesman Problem (TSP) dengan Nearest Neighbor untuk memperoleh rute terpendek di masing-masing klaster. Operasional yang semula 6 petugas dengan jadwal 11 hari dimodelkan ulang menjadi 8 petugas dengan jadwal 7 hari sesuai arahan UID Sumatra Utara. Hasil GNN menunjukkan jarak tempuh harian konsisten antara 17-20 km dan waktu kerja sekitar 7-8 jam. Implementasi rute ini mampu menurunkan waktu kerja menjadi 6,3-6,6 jam per hari, memberikan tambahan waktu istirahat sekitar satu jam. Optimasi juga mengurangi kesalahan pembacaan meter dari 400-500 kejadian per bulan menjadi nihil, serta mempercepat proses finalisasi rekening dan validasi oleh team leader.
UPAYA MENINGKATKAN PRODUKSI MINYAK MELALUI AKSELERASI PENGEBORAN SUMUR BARU DI STRUKTUR GUNUNG KEMALA
Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1 Zona 4, sebagai salah satu BUMN di Indonesia, memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan energi Ketahanan Energi Nasional. Pemerintah dalam hal ini diwakili oleh SKKMigas berperan mengawasi dan memonitor industri migas di Indonesia menetapkan target produksi yang disepakati berdasarkan data dari kemampuan reservoir masing-masing lapangan yang akan dicapai setiap tahunnya. Program kerja yang telah dilakukan seperti pengeboran, workover, well intervention, target produksi masih belum bisa tercapai, dimana proyeksi produksi migas zona 4 per 31 Oktober 2024 adalah 89% minyak dan 98% Gas untuk tahun 2024, hal ini akan menyebabkan titik awal mulai awal 2025 akan rendah. Jika melihat proyeksi produksi Desember 2024 sebesar 27.601 bopd, dimana target pada Januari 2025 seharusnya berangkat dari angka 29.494 bopd, maka ada gap run rate terhadap target produksi sebesar 1.892 bopd. Ini juga berlaku sebaliknya untuk selisih produksi gas sebesar 7.3 mmscfd. Dalam hal ini, PHR Regional 1 Zona 4 perlu mencari program alternatif untuk mengisi selisih produksi. Beberapa tahapan dan hipotesis dilakukan untuk mengatasi gap run rate antara akhir tahun 2024 terhadap awal tahun 2025, melalui metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dicari program alternatif terbaik untuk meningkatkan produksi zona 4, menurunkan gap run rate dengan memilih program yang dapat diterapkan langsung dengan risiko rendah. Dalam penelitian ini, akan fokus pada upaya mencari program tambahan untuk meningkatkan produksi minyak dengan mempertimbangkan beberapa aspek penting seperti ketersediaan anggaran, rig, perijinan, fasilitas di permukaan dan faktor eksternal lainnya. Pengumpulan data perlu dilakukan, data sumuran yang telah dievaluasi dari segi data bawah permukaan, permukaan dan sisi operasional. Pengambilan keputusan dilaksanakan berdasarkan pendekatan kuantitatif dengan rasio konsistensi £ 0,1, program kerja sumur mana yang dapat menghasilkan tambahan produksi minyak (barel minyak) dan berapa kontribusi untuk mengurangi gap run rate pada tahun 2024, dalam hal ini dipilih upaya melalui percepatan pengeboran 3 sumur baru di struktur Gunung Kemala.
PENERAPAN PERENCANAAN SKENARIO INDUKTIF UNTUK MENGUJI STRATEGI DALAM MENGATASI KETIDAKPASTIAN TRANSISI ENERGI DI SEKTOR KETENAGALISTRIKAN INDONESIA UNTUK TAHUN 2035; KASUS STUDI: PT PLN (PERSERO)
Sesuai Perjanjian Paris, negara-negara berkomitmen untuk menghindari kenaikan suhu rata-rata 1,5°C untuk mengurangi risiko perubahan iklim. Sejak Conference of the Parties (COP21) tahun 2009 (IMF, 2021), pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), termasuk di sektor energi (GOI, 2022a). Situasi energi global berubah dengan cepat karena ketidakpastian pasar, ketegangan geopolitik, dan meningkatnya permintaan dan investasi energi hijau (IEA, 2023b), (IEA, 2023c), (IEA, 2023d). Sektor energi, khususnya sektor ketenagalistrikan di Indonesia, masih mendominasi, menggunakan bahan bakar fosil yang berkontribusi terhadap emisi karbon yang tinggi karena Indonesia menjadi salah satu produsen batubara terbesar di dunia (IESR, 2022). PT PLN (Persero), perusahaan BUMN di bidang ketenagalistrikan, diamanatkan oleh Undang-Undang Negara untuk menyediakan listrik bagi masyarakat. Saat penyaluran listrik, PLN juga diminta peningkatan bauran energi terbarukan untuk mencapai 23% energi campuran EBT pada tahun 2025 (ESDM, 2021). Untuk mengatasi ketidakpastian dalam upaya transisi energi di sektor energi, khususnya di PLN, pertanyaan penelitian ini adalah: Apa kekuatan pendorong dan ketidakpastian kritis yang dapat mempengaruhi transisi energi di sistem ketenagalistrikan Indonesia untuk tahun 2035? Skenario masuk akal apa yang dapat memengaruhi sistem tenaga di masa depan, dan apa rekomendasi yang diperlukan PLN untuk mengatasi ketidakpastian? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, Scenario Planning digunakan dalam penelitian ini untuk menyelidiki potensi perkembangan dan situasi masa depan pada jangka menengah (Schoemaker, 1995; Lindgren dan Bandhold, 2003). (Chermack et al., 2001), (Phelps et al., 2001) dan mengembangkan kesadaran dan mempersiapkan diri untuk menghadapi ketidakpastian dalam v gangguan jangka pendek dan membantu pengambil keputusan menguji ketahanan strategi yang berbeda terhadap beberapa kemungkinan masa depan. Scenario Planning bertujuan untuk meminimalkan kejutan yang tidak menyenangkan tentang kemungkinan di masa depan. Ini dapat membantu mengembangkan strategi yang fleksibel dan adaptif untuk menanggapi berbagai kondisi. (Wack, 1985). Qualitative Scenario Planning yang dikombinasikan dengan proses berulang dalam Strategic Reframing (OSPA), memberikan wawasan yang bermanfaat tentang strategi. Mereka membantu orang belajar dalam lingkungan sosial, membingkai ulang, dan memahami kembali pikiran mereka untuk meningkatkan pengambilan keputusan strategis dengan mengembangkan strategi yang unik (Ramirez dan Wilkinson, 2016). Dalam Scenario Planning, Penulis menggunakan analisis data tematik kualitatif (pengkodean in-vivo) untuk menentukan kekuatan pendorong. Hasilnya adalah tiga skenario yang berinteraksi secara dinamis yang dikembangkan dari 30 faktor utama, termasuk STORM, yang menyoroti faktor global yang mendominasi rantai pasokan energi yang dapat mengganggu ketahanan energi, memerlukan bahan bakar fosil lokal dan energi terbarukan untuk harga listrik yang terjangkau. SUMMER BREEZE yang menyoroti konsumen Indonesia dalam mengurangi dampak perubahan iklim melalui PLTS atap, sejalan dengan target nasional NZE. Bersamaan dengan itu, sektor ketenagalistrikan meningkatkan investasi energi dalam pengembangan energi terbarukan dan digitalisasi untuk meningkatkan keandalan sistem ketenagalistrikan. ASIA MONSOON, yang menyoroti bahwa anggota ASEAN sedang bekerja untuk mencapai NZE, membutuhkan stabilitas politik dan reformasi regulasi energi untuk menjaga stabilitas ekonomi dan menyelaraskan kerja sama regional untuk perdagangan energi, termasuk listrik. Rekomendasi bagi PLN untuk mengatasi ketidakpastian tersebut adalah memperluas keterlibatan pemangku kepentingan ke aktor lain yang mungkin mempengaruhi terjadinya peristiwa, mengusulkan perencanaan pasokan listrik baru ke Kementerian ESDM yang mempercepat pengurangan pembangkit listrik berbahan bakar fosil, melibatkan masyarakat dan masyarakat dalam transisi energi, mengembangkan aliran bisnis dan model baru untuk mendukung perdagangan listrik prosumer dan lintas batas, Meningkatkan pelayanan dan operasional untuk mempersiapkan kompetitor tambahan di masa mendatang
ANALISIS KELAYAKAN TEKNOLOGI BIOMASS CO-FIRING DENGAN PELET KAYU PADA PLTU DI INDONESIA
Emisi CO2 merupakan emisi yang paling dominan dari Gas Rumah Kaca (GRK). Penerapan biomass co-firing menjadi salah satu cara yang dipilih untuk mengurangi emisi CO2. PLTU yang ditinjau dalam penelitian ini adalah sebuah PLTU di Padang, Sumatra Barat (2 x 112 MW) yang berjarak 350 km dari sumber biomassa di Kampar, Riau. PLTU ini berteknologi Circulating Fluidized Bed. Kelayakan dari segi teknologi mencakup analisis kinerja teknologi pada penerapan biomass cofiring untuk teknologi yang dioperasikan pada saat ini dan modifikasinya dengan rentang biomassa yang digunakan antara 0,5-2%-massa dari total bahan bakar. Bahan bakar biomassa yang akan dikaji adalah pelet kayu pada harga 66 USD/ton sedangkan harga batubara mengikuti harga DMO 70 USD/ton. Emisi dihitung dengan merujuk pada ketentuan dalam Pedoman Penyelenggaraan dan Pelaporan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Bidang Energi Sub Bidang Ketenagalistrikan dengan IPCC Guideline 2006 sebagai dasarnya. Penerapan biomass co-firing dapat menurunkan Emisi CO2 dari 1,925 Juta Ton/tahun menjadi 1,903 Juta ton/tahun. Kemudian menurunkan emisi SOx dan NOx dari 136 dan 311 mg/Nm3 menjadi 133 dan 307 mg/Nm3, sembari meningkatkan PM10 dari 11,5 mg/Nm3 menjadi 15,4 mg/Nm3. Namun demikian, emisi SOx, NOx dan PM10 tersebut masih berada dibawah ambang batas berturutturut 550, 550, dan 100 mg/Nm3. Net Present Value (NPV) akan bernilai positif pada penerapan biomass co-firing rasio biomassa 2%-massa sebesar 7.781 USD dengan menggunakan discount rate 6,75% pada rentang 10 tahun operasi. Internal Rate of Return (IRR) pada rasio biomassa 0,5–2%-massa berturut-turut 2,15%, 4,44%, 6,37%, dan 9,13%. Nilai IRR maksimal pada fasilitas PLTU pada pedoman PLN adalah 11%. Levelized Cost of Electricity (LCoE) dari penerapan biomass cofiring sebesar 101 USD/MWh untuk PLTU 2 x 112 MW dimana saat ini tarif listrik di Indonesia adalah Rp 1.500/kWh atau 94 USD/MWh.
PEMODELAN STRUKTUR VS DI LAPANGAN MIGAS “SC” MENGGUNAKAN INVERSI LANGSUNG AMBIENT NOISE TOMOGRAPHY
Minyak dan gas bumi masih menjadi pilar utama dalam pemenuhan kebutuhan energi sehari-hari. Produksi minyak dan gas bumi merupakan salah satu aktivitas aktif yang dapat mengubah struktur bawah permukaan. Pemahaman mengenai kondisi bawah permukaan yang baik diharapkan dapat menghindari faktor yang tidak diinginkan. Pada penelitian kali ini menggunakan metode Ambient Noise Tomography sebagai upaya untuk lebih memahami bawah permukaan. Ambient Noise Tomography, sebuah metode berbasis sumber kebisingan sekitar yang menggunakan data gelombang permukaan menjadi metode pilihan pada penelitian ini untuk melihat kondisi bawah permukaan terkini. Berdasarkan pengolahan data didapatkan kurva dispersi pada periode 0,2 hingga 1,5 detik. Data inversi langsung diplot secara horizontal dan vertikal hingga kedalaman 0,4 km dengan rentang kecepatan gelombang geser bervariasi mulai dari 0,15 km/s hingga 0,675 km/s. Hasil secara vertikal menunjukkan batas-batas lapisan yang jelas dengan ditunjukkan oleh perubahan warna yang mewakili perubahan nilai kecepatan. Kemungkinan lapisan yang terlihat pada hasil inversi mulai dari kedalaman 0 km hingga 0,4 km berturut-turut adalah shale, fine to medium sandstone, hingga medium to coarse sandstone. Shale berada pada kedalaman 0,1 km dan berperan sebagai caprock sedangkan sandstone berada di bawahnya sekitar kedalaman 0,2 hingga 0,4 km yang kemungkinan berupa reservoar. Selain itu, metode ini juga berhasil memperlihatkan struktur berupa sinklin dan antiklin.
ESTIMASI POTENSI SUMBER DAYA PANAS LAUT DI PERAIRAN INDONESIA DENGAN MENINJAU KARAKTERISTIK TERMOKLIN
Laut memiliki potensi yang besar dalam menghasilkan energi listrik terbarukan, salah satunya adalah Ocean Thermal Energi Conversion atau yang biasa disebut dengan OTEC. OTEC merupakan salah satu konsep energi terbarukan yang memanfaatkan perbedaan temperatur di permukaan laut dengan kedalaman laut untuk mendapatkan energi listrik sehingga perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk pengambilan air dingin di kedalaman. Penelitian ini bertujuan untuk mencari kedalaman pengambilan air dingin siklus OTEC dengan menggunakan karakteristik termoklin yaitu gradien temperatur. Perhitungan dilakukan dengan mencari integral dari gradien temperatur terhadap kedalaman. Perhitungan integral dapat dilakukan dengan menggunakan metode diskritisasi dengan menghitung luas di bawah kurva. Dari pengolahan data dihasilkan kedalaman minimum dan maksimum untuk pengambilan air dingin. Penggunaan kedalaman maksimum untuk menentukan kedalaman yang konsisten. Dihasilkan kedalaman konsisten berada di antara kedalaman 400 meter hingga 800 meter di Perairan Selat Makassar, Laut Sulawesi, dan Utara Papua. Daya yang dihasilkan pada kedalaman minimal pengambilan air dingin yang konsisten dihasilkan yaitu daya tertinggi ada bulan April memiliki nilai yang paling tinggi yaitu bernilai 599,34 GW. Sedangkan bulan dengan daya terendah adalah bulan Agustus yaitu bernilai 553,36 GW. Fenomena regional akan mempengaruhi daya OTEC di Indonesia. IOD negatif dan La-Nina akan meningkatkan daya dari OTEC sedangkan IOD positif dan El-Nino akan mengurangi daya dari OTEC
NUMERICAL SIMULATION OF CAPILLARY DRIVEN BACKFLOW EFFECT ON SALT PRECIPITATION: CASE STUDY CONTINUOUS CO2 INJECTION AT “B” STRUCTURE “S” FIELD
Global energy-related CO2 emissions have increased, raising significant environmental concerns due to CO2's greenhouse effect. Carbon Capture and Storage (CCS) aims to mitigate these emissions by capturing and storing CO2. This study focuses on CO2 injection into sandstone reservoirs at the "B" structure in the "S" field, specifically examining the impact of capillary-driven backflow on salt precipitation. The objectives are to analyze the effect of capillary backflow on salt distribution and determine its impact on injectivity and trapping mechanisms. Since salt precipitation involves the concentration of ions beyond their limit, salinity becomes a key factor. Capillary-driven backflow, which supplies salt out of the injection point, plays an important role in salt precipitation even in less saline targets. This study applies numerical simulations through CMG GEMTM to model water vaporization and salt precipitation phenomena. The field will be on injection for 10 years, with the trapping mechanism observed over a 50-year range. Simulations revealed distinct time scales for flooding and drying fronts, with capillary backflow significantly influencing salt distribution, injectivity, and trapping mechanisms. Distinct time between two fronts is the consequence of the different phenomena involved. Flooding front involves the piston-like displacement, while drying front involves gradual evaporation at residual brine. Higher injection rates initially improved injectivity due to high pressure counteracting capillary forces but ultimately reduced it due to increased salt precipitation. Capillary backflow caused water saturation re-equilibration and local salt precipitation, while uniform but less substantial precipitation occurred without it. Injectivity impairment ranged from 21% to 74% with capillary backflow, and cumulative CO2 injection in the capillary-driven backflow model was 9% lower than without it. However, the model with capillary backflow results in a 5% higher residual trapping share. Capillary backflow enhances CO2 trapping in an immobile form and increases early mineral trapping efficiency, though the effect is minimal. Additionally, it allows CO2 in mineral forms to redissolve into brine after injection stops, impacting mineral trapping and redissolution trends. Higher initial halite volume fractions result in more end salt near the wellbore, with minimal impact on overall salt distribution. Higher initial calcite does not always lead to more precipitation due to complex interactions with dissolved CO? affecting brine acidity and solubility. Changes in salt precipitation align with porosity and permeability alterations, resulting in consistent permeability reduction. This study underscores the importance of considering capillary backflow in CO2 injection operations to avoid overestimating injectivity and cumulative injection, while also understanding its impact on trapping effects behavior.