📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4 dokumenMODEL PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK PRIORITISASI PROYEK INVESTASI JALAN TOL DI SUMATERA MENGGUNAKAN ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)
Proyek Jalan Tol Trans-Sumatra (JTTS) merupakan proyek strategis nasional yang bertujuan untuk meningkatkan konektivitas dan pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatra. Namun, proses penentuan prioritas investasi antar ruas masih belum konsisten karena adanya penilaian yang subjektif serta belum tersedianya kerangka evaluasi yang terstruktur. Penelitian ini mengembangkan model pengambilan keputusan untuk prioritisasi investasi jalan tol dengan mengintegrasikan analisis SWOT–TOWS dan Analytic Hierarchy Process (AHP). dan Kerangka SWOT–TOWS digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor strategis yang memengaruhi keputusan investasi, yang mencakup dimensi finansial, teknis, sosial, kebijakan. Faktor-faktor tersebut kemudian dikuantifikasi menggunakan metode AHP melalui perbandingan berpasangan berbasis pendapat ahli dan pengujian konsistensi. Model ini memberikan dasar terstruktur untuk mendukung prioritisasi ruas JTTS secara sistematis berdasarkan kriteria pembobotan. Hasil penelitian mengidentifikasi sepuluh kriteria evaluasi berbobot. Transportation Network Integration and Connectivity menjadi kriteria dengan prioritas tertinggi dengan bobot 0,166, diikuti oleh Technical and Geometric Conditions of the Road Corridor sebesar 0,147, serta Economic Impact and Regional Distribution sebesar 0,116. Analisis AHP menghasilkan Consistency Ratio (CR) sebesar 0,04, yang menunjukkan tingkat konsistensi penilaian ahli yang dapat diterima. Hasil ini menunjukkan bahwa konektivitas, kondisi teknis, dan dampak ekonomi regional merupakan pertimbangan utama dalam kerangka evaluasi yang dikembangkan. Kerangka SWOT–TOWS–AHP yang diusulkan memberikan dasar yang lebih terstruktur, konsisten, dan transparan untuk mendukung prioritisasi investasi JTTS di masa mendatang.
DESAIN STONE COLUMN SEBAGAI METODE PERBAIKAN TANAH DASAR TIMBUNAN JALAN TOL (STUDI KASUS: PROYEK JALAN TOL TRANS-JAWA, STA 4+800–5+115)
Proyek Jalan Tol Trans-Jawa STA 4+800–5+115 berada di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu wilayah dengan aktivitas seismik relatif tinggi. Tanah dasar pada lokasi tinjauan didominasi oleh pasir berlanau (silty sand), lanau (silt), dan pasir bersih (clean sand) dengan muka air tanah pada kedalaman 1,00 m sampai 8,00 m. Kondisi tersebut perlu dievaluasi karena dapat meningkatkan kerentanan tanah terhadap likuefaksi, penurunan tanah, dan ketidakstabilan lereng timbunan. Tugas akhir ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik tanah, mengevaluasi kondisi praperbaikan, dan merancang stone column sebagai metode perbaikan tanah dasar timbunan. Evaluasi likuefaksi dilakukan dengan metode NCEER berbasis data N-SPT, sedangkan evaluasi penurunan tanah dan stabilitas lereng dilakukan menggunakan GeoStudio. Hasil evaluasi praperbaikan menunjukkan bahwa seluruh zona borehole berpotensi mengalami likuefaksi dengan faktor keamanan minimum 0,19 sampai 0,40. Penurunan tanah kondisi eksisting berada pada rentang 46,95 mm sampai 152,78 mm, sedangkan stabilitas lereng belum memenuhi kriteria pada kondisi pseudo-statik. Desain akhir perbaikan tanah menggunakan stone column berdiameter 1,00 m, spasi 1,60 m, kedalaman 20,00 m, dan pola pemasangan segitiga berdasarkan metode densifikasi Baez (1995). Setelah perbaikan, faktor keamanan terhadap likuefaksi meningkat menjadi 4,15 sampai 6,82, penurunan tanah berkurang menjadi 25,68 mm sampai 83,72 mm, serta faktor keamanan lereng meningkat menjadi 1,91 sampai 2,41 pada kondisi statik dan 1,10 sampai 1,13 pada kondisi pseudo-statik. Dengan demikian, desain stone column yang digunakan dinilai mampu memitigasi potensi likuefaksi, mengurangi penurunan tanah, dan meningkatkan stabilitas lereng hingga memenuhi kriteria desain.
DESAIN STONE COLUMN SEBAGAI METODE PERBAIKAN TANAH DASAR TIMBUNAN JALAN TOL (STUDI KASUS: PROYEK JALAN TOL TRANS-JAWA, STA 4+800 – 5+115)
Proyek Jalan Tol Trans-Jawa STA 4+800–5+115 berada di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu wilayah dengan aktivitas seismik relatif tinggi. Tanah dasar pada lokasi tinjauan didominasi oleh pasir berlanau (silty sand), lanau (silt), dan pasir bersih (clean sand) dengan muka air tanah pada kedalaman 1,00 m sampai 8,00 m. Kondisi tersebut perlu dievaluasi karena dapat meningkatkan kerentanan tanah terhadap likuefaksi, penurunan tanah, dan ketidakstabilan lereng timbunan. Tugas akhir ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik tanah, mengevaluasi kondisi praperbaikan, dan merancang stone column sebagai metode perbaikan tanah dasar timbunan. Evaluasi likuefaksi dilakukan dengan metode NCEER berbasis data N-SPT, sedangkan evaluasi penurunan tanah dan stabilitas lereng dilakukan menggunakan GeoStudio. Hasil evaluasi praperbaikan menunjukkan bahwa seluruh zona borehole berpotensi mengalami likuefaksi dengan faktor keamanan minimum 0,19 sampai 0,40. Penurunan tanah kondisi eksisting berada pada rentang 46,95 mm sampai 152,78 mm, sedangkan stabilitas lereng belum memenuhi kriteria pada kondisi pseudo-statik. Desain akhir perbaikan tanah menggunakan stone column berdiameter 1,00 m, spasi 1,60 m, kedalaman 20,00 m, dan pola pemasangan segitiga berdasarkan metode densifikasi Baez (1995). Setelah perbaikan, faktor keamanan terhadap likuefaksi meningkat menjadi 4,15 sampai 6,82, penurunan tanah berkurang menjadi 25,68 mm sampai 83,72 mm, serta faktor keamanan lereng meningkat menjadi 1,91 sampai 2,41 pada kondisi statik dan 1,10 sampai 1,13 pada kondisi pseudo-statik. Dengan demikian, desain stone column yang digunakan dinilai mampu memitigasi potensi likuefaksi, mengurangi penurunan tanah, dan meningkatkan stabilitas lereng hingga memenuhi kriteria desain.
PERENCANAAN SALURAN DRAINASE JALAN TOL CIKAMPEK PADA KM 23–31 KE ARAH JAKARTA
Ruas Jalan Tol Cikampek kilometer 23–31 ke arah Jakarta merupakan salah satu kawasan yang belum mempunyai sistem drainase pada sisi arah Jakarta, serta terganggunya kondisi tanah akibat pembangunan proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Oleh karena itu, perlu dilakukan perencanaan sistem drainase yang terintegrasi dan optimal supaya air bisa dialirkan ke tempat pembuangan yaitu sungai (outfall) dengan baik. Perencanaan drainase dilakukan dengan analisis hidrologi berdasarkan data satelit yang di koreksi terhadap curah hujan dari tiga stasiun terdekat dan pengolahan debit rencana menggunakan metode hidrograf satuan sintetis. Debit tersebut kemudian digunakan sebagai input pada pemodelan hidraulika sungai menggunakan HEC-RAS untuk mengetahui tinggi muka air banjir di keempat sungai (Cikarang, Ciayang, Cisadang, dan Srengseng) yang menjadi saluran pembuang. Sementara itu, perencanaan saluran drainase pinggir jalan dimodelkan menggunakan EPA SWMM 5.2 untuk memastikan dimensi dan kapasitas saluran mampu mengalirkan air yang ditangkap dari jalan tol serta lintasan KCIC. Rencana anggaran biaya (RAB) pembangunan drainase ini diperkirakan sebesar Rp 8,5 miliar. Kegiatan O&P meliputi pembersihan rutin, pengecekan struktur, dan koordinasi dengan pihak terkait. Hasil perencanaan diharapkan mampu mengalirkan air dengan baik menuju sungai, meningkatkan keselamatan pengguna jalan, serta memperpanjang umur layanan infrastruktur jalan tol.