π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 12 dokumenPERANCANGAN CONCEPT ART BERDASARKAN NOVEL MISTERI KELUARGA BIRU SEBAGAI AWARENESS FENOMENA PENCULIKAN ANAK BAGI DEWASA AWAL
Fenomena penculikan anak merupakan persoalan sosial yang kompleks dan berkaitan erat dengan kerentanan anak serta lemahnya perlindungan lingkungan di sekitarnya. Anak sebagai kelompok rentan tidak memiliki kapasitas untuk melindungi dirinya sendiri, sehingga upaya pencegahan perlu melibatkan peran komunitas, khususnya kelompok dewasa awal. Dewasa awal (20β40 tahun) memiliki posisi strategis sebagai bagian dari lingkungan terdekat anak, tetapi kesadaran terhadap isu penculikan anak masih tergolong rendah. Tugas akhir ini bertujuan untuk merancang concept art berdasarkan novel Misteri Keluarga Biru sebagai media awareness fenomena penculikan anak bagi dewasa awal. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif eksploratif dengan pendekatan naratif dan interpretatif, melalui kajian literatur, analisis kasus penculikan anak, serta wawancara dengan narasumber di bidang kriminologi dan psikologi. Hasil perancangan diharapkan mampu menghadirkan concept art yang merepresentasikan kerentanan anak dan tanggung jawab komunal secara visual dan naratif, sehingga dapat meningkatkan kesadaran dewasa awal terhadap isu penculikan anak.
GRADIEN PEMBELAJARAN ORGANIK: PERANCANGAN SEKOLAH ASRAMA DI DAGO PAKAR DENGAN PENDEKATAN NEURO-ARSITEKTUR
The Organic Learning Gradient merupakan proyek perancangan sekolah menengah yang berangkat dari pemahaman bahwa pendidikan tidak hanya dibentuk melalui kurikulum dan aktivitas belajar formal, tetapi juga melalui kualitas ruang yang mampu memengaruhi perkembangan kognitif, sosial, dan emosional siswa. Pada fase remaja, siswa berada dalam masa penting pembentukan cara berpikir, kemampuan berinteraksi, serta pencarian identitas diri. Oleh karena itu, lingkungan sekolah perlu dirancang sebagai ruang yang tidak hanya fungsional, tetapi juga mampu menstimulasi rasa ingin tahu, interaksi sosial, ketenangan, dan kedekatan dengan alam. Proyek ini menggunakan pendekatan Neuroarchitecture sebagai dasar perancangan, dengan menekankan hubungan antara kualitas spasial dan respons manusia terhadap ruang. Konsep utama yang diangkat adalah The Organic Learning Gradient, yaitu gagasan tentang pengalaman belajar yang mengalir secara bertahap mengikuti dinamika tapak, aktivitas, dan kebutuhan psikologis siswa. Tapak berkontur dengan vegetasi eksisting dimanfaatkan sebagai potensi utama untuk membentuk tatanan massa yang berlapis, terhubung, dan menyatu dengan lanskap. Perbedaan elevasi tidak diperlakukan sebagai hambatan, melainkan sebagai medium pembentuk pengalaman ruang yang beragam. Strategi desain diwujudkan melalui beberapa gagasan utama, antara lain pembentukan social hubs sebagai ruang interaksi informal, penerapan soft fascination melalui kedekatan visual dan sensorik terhadap alam, serta penciptaan koridor, taman, dan ruang komunal yang saling terkoneksi. Massa bangunan dirancang menyebar mengikuti kontur, membentuk hubungan antara zona akademik, administratif, residensial, dan ruang terbuka. Elemen material seperti kayu, struktur terbuka, serta integrasi vegetasi digunakan untuk membangun suasana belajar yang hangat, alami, dan tidak menekan. Melalui rancangan ini, sekolah diposisikan bukan hanya sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi sebagai ekosistem pembelajaran yang mendukung pertumbuhan siswa secara utuh. The Organic Learning Gradient berupaya menghadirkan arsitektur pendidikan yang lebih manusiawi, adaptif terhadap alam, dan selaras dengan perkembangan kognitif serta emosional remaja.
PERANCANGAN ULANG KAWASAN RUANG TERBUKA PUBLIK TAMAN LANSIA BANDUNG DENGAN PENDEKATAN PLACEMAKING DAN RAMAH LANSIA
Indonesia dan Kota Bandung tengah menghadapi peningkatan persentase populasi lansia yang signifikan. Di sisi lain, ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bandung baru mencapai 12,88%, jauh di bawah ambang batas 30%. Meski telah berstatus Kota Ramah Lansia, Bandung belum memiliki panduan perancangan teknis. Taman Lansia Bandung, sebagai RTH situs cagar budaya, memiliki tingkat ketercapaian prinsip ramah lansia yang masih rendah, yakni 42,63%. Penelitian kualitatif ini bertujuan merancang ulang Taman Lansia melalui pendekatan placemaking dan desain ramah lansia. Menggunakan Fragmental Method dengan teknik optimizing, pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, kuesioner kepada 87 responden, wawancara mendalam dengan empat instansi, dan studi dokumen. Analisis tapak memadukan aspek White (1983) dan elemen Shirvani (1985), disertai analisis persepsi pengunjung serta potensi dan persoalan kawasan. Sintesis literatur merumuskan empat kriteria perancangan: keamanan dan kenyamanan, aksesibilitas dan keterbacaan, fungsi dan aktivitas, serta sosiabilitas. Analisis kawasan mengidentifikasi 8 potensi dan 14 persoalan yang didominasi oleh isu keamanan dan aksesibilitas. Rancangan ini mengusung visi "Evergreen and ALIVE" yang diwujudkan ke dalam empat zona aktivitas dan jalur sirkulasi universal. Hasil akhir perancangan mematuhi aturan RTH Sub Zona Rimba Kota dengan proporsi koefisien dasar hijau mencapai 80,18%. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi placemaking dan konsep ramah lansia ke dalam satu kerangka perancangan ulang taman publik cagar budaya. Hasil penelitian berkontribusi menyediakan kriteria ruang publik inklusif bagi lansia, serta menjadi model fisik penerapan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2021 yang dapat diadaptasi oleh kota lain.
PENINGKATAN KUALITAS RUANG PUBLIK SEBAGAI INFRASTRUKTUR PENDUKUNG PARIWISATA YANG BERKELANJUTAN DI KOTA SABANG
Kota Sabang merupakan salah satu kawasan strategis pariwisata nasional sekaligus Port of Call kapal pesiar di wilayah barat Indonesia. Untuk memaksimalkan manfaat jangka panjang dan meminimalkan dampak negatif, terutama terhadap lingkungan pulau kecil, diperlukan pengembangan pariwisata yang berbasis keberlanjutan dan didukung oleh infrastruktur yang inklusif. Ruang publik memiliki peran penting, tidak hanya sebagai sarana rekreasi dan aktivitas harian, tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial antara masyarakat dan wisatawan yang dapat mendorong kesadaran kolektif terhadap nilai-nilai sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan. Namun, kondisi ruang publik di Kota Sabang saat ini masih belum optimal dari segi fasilitas, aksesibilitas, maupun pemanfaatannya. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kondisi eksisting ruang publik melalui observasi lapangan dan survei persepsi masyarakat, dengan menggunakan indikator ruang publik berkelanjutan yang disusun dari kajian literatur. Analisis faktor internal dan eksternal dilakukan melalui pendekatan IFAS, EFAS, dan SWOT. Hasil analisis menghasilkan enam alternatif strategi, yaitu: (1) pengembangan ruang publik sebagai destinasi wisata alternatif, (2) Optimalisasi penyelenggaraan Event Tahunan dan Aktivitas Rekreasi masyarakat, (3) Revitalisasi Jalur Pedestrian dan Peningkatan Integrasi, (4) Rehabilitasi fasilitas eksisting untuk difungsikan sebagai pusat kegiatan rekreasi dan penyelenggaraan event wisata terjadwal, (5) Penguatan kemitraan dengan sektor swasta dan pemanfaatan dana pemerintah, dan (6) Digitalisasi dan Promosi Ruang Publik. Strategi ini diharapkan menjadi acuan dalam pengembangan ruang publik sebagai bagian dari infrastruktur pariwisata berkelanjutan di Kota Sabang.
EKSPLORASI PRINSIP PARIWISATA REGENERATIF DALAM PENGEMBANGAN EKOWISATA BERKELANJUTAN DENGAN MODEL TOURISM AREA LIFE CYCLE (TALC) (KASUS DI TAMAN NASIONAL KOMODO, NUSA TENGGARA TIMUR)
Taman Nasional Komodo (TNK) mengalami peningkatan kunjungan wisatawan yang signifikan pada tahun 2013-2019 dan 2023. Kini, pengelolaan ekowisata menghadapi tantangan sumber daya, koordinasi kelembagaan, dan pemberdayaan masyarakat. Model pariwisata konvensional yang berorientasi pada kuantitas keuntungan semata tidak lagi memadai. Penelitian ini bertujuan merefleksikan pendekatan pembangunan ekowisata pada masa lalu dan masa kini, serta mengusulkan strategi pengelolaan ekowisata berkelanjutan berbasis pariwisata regeneratif melalui (1) pemetaaan pola pengembangan ekowisata di TNK, (2) mengidentifikasi strategi ekowisata yang telah terbentuk selama kurun waktu 10 tahun, (3) menganalisis peran stakeholder, dan (4) menyusun rumusan target dan strategi pengelolaan ekowisata berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan stakeholder (Balai TNK, masyarakat lokal, industri pariwisata, pemerintah) dan analisis dokumen terkait pengelolaan ekowisata. Data dianalisis secara deskriptif, menggunakan kerangka kerja pariwisata regeneratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa evolusi pengembangan ekowisata dari tahap eksplorasi awal bergerak signifikan menuju pengembangan dan konsolidasi, dengan tantangan berupa tekanan ekosistem yang meningkat seperti overtourism, sampah, kerusakan habitat, serta manfaat ekonomi yang belum merata. Strategi utama TNK (Island Based Park Management, Learning Based National Parks, dan Community Based Sustainable Tourism) menghadapi tantangan dalam hal sumber daya, koordinasi kelembagaan, dan pemberdayaan masyarakat. Koordinasi peran stakeholder belum optimal, dikarenakan Balai TNK yang memiliki keterbatasan sumber daya, masyarakat yang belum dilibatkan sebagai mitra seutuhnya, dan industri pariwisata yang cenderung berfokus pada keuntungan jangka pendek. Oleh karena itu, pengelolaan ekowisata di TNK perlu bertransformasi menuju pariwisata regeneratif. Strategi pengelolaan ekowisata berkelanjutan yang diusulkan meliputi (1) penguatan kelembagaan dan tata kelola (koordinasi dan partisipasi masyarakat), (2) pengembangan produk ekowisata inovatif dan bertanggung jawab (edukasi, konservasi, dan pemberdayaan), (3) pengelolaan lingkungan berkelanjutan (sampah, air, energi, dan pengendalian dampak), (4) peningkatan kapasitas SDM (pelatihan dan pendampingan), (5) sistem pemantauan dan evaluasi komprehensif. Dengan pendekatan pariwisata regeneratif, TNK dapat mewujudkan potensi ekowisata berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat lokal dan kelestarian lingkungan.
PERANCANGAN WATERFRONT KAWASAN WISATA PANTAI CERMIN BERBASIS CLIMATE RESILIENT URBAN DESIGN (CRUD)
Kawasan wisata Pantai Cermin di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, merupakan salah satu destinasi wisata bahari yang memiliki daya tarik tinggi dan berpotensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Namun, kawasan ini menghadapi tantangan serius akibat dampak perubahan iklim, seperti abrasi pantai, kenaikan muka air laut, dan penurunan kualitas lingkungan pesisir. Dampak ini tidak hanya mengancam kelestarian lingkungan, tetapi juga menurunkan daya saing dan keberlanjutan sektor pariwisata di wilayah tersebut. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan perancangan kawasan yang tangguh terhadap perubahan iklim guna mempertahankan fungsi sosial-ekonomi dan ekologi kawasan wisata secara berkelanjutan. Tugas Akhir ini bertujuan untuk menerapkan kriteria dan prinsip perancangan kawasan tepi air yang adaptif terhadap perubahan iklim dengan menggunakan pendekatan Climate Resilient Urban Design (CRUD) pada studi kasus di Kelurahan Pantai Cermin Kanan. Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan yang memetakan kondisi fisik eksisting, sedangkan data sekunder dikumpulkan melalui studi literatur, dokumen perencanaan, dan data spasial berbasis sistem informasi geospasial. Analisis dilakukan secara kualitatif untuk menyusun kriteria dan prinsip perancangan normatif berbasis ketahanan iklim serta analisis kuantitatif untuk mengidentifikasi potensi dan persoalan tapak kawasan yang dirancang. iiHasil tugas akhir ini menunjukkan bahwa kawasan Pantai Cermin Kanan memiliki kekayaan ekosistem, potensi wisata, serta nilai budaya yang tinggi, namun memiliki kerentanan terhadap perubahan iklim yang signifikan. Berbagai permasalahan ditemukan, antara lain minimnya ruang terbuka hijau, belum adanya jalur evakuasi bencana yang terintegrasi, serta belum diterapkannya prinsip perancangan yang mempertimbangkan ketahanan lingkungan dalam pengembangan pariwisata. Dengan mengkaji beberapa studi komparatif dari kawasan tepi air internasional seperti Barangaroo Reserve (Australia), Hafencity (Jerman), dan Garden by the Bay (Singapura), penelitian ini menyusun prinsip perancangan yang meliputi integrasi ekosistem pesisir, efisiensi penggunaan lahan, penguatan aksesibilitas, kenyamanan termal, edukasi lingkungan, serta mitigasi risiko bencana. Kebaruan dari tugas akhir ini terletak pada pengintegrasian konsep CRUD dalam konteks kawasan wisata bahari di Indonesia, yang belum banyak diadopsi secara komprehensif. Rancangan kawasan tepi air tidak hanya dirancang sebagai ruang wisata dan rekreasi, tetapi juga sebagai infrastruktur adaptif yang mampu merespons risiko iklim sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir. Simulasi desain menghasilkan rencana rancangan kawasan yang meliputi zonasi adaptif, ruang terbuka berbasis ekologi, sistem sirkulasi dan parkir terintegrasi, jalur pejalan kaki yang ramah lingkungan, dan area edukasi publik terkait perubahan iklim. Tugas akhir ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu perencanaan dan perancangan kawasan pesisir melalui formulasi kriteria dan prinsip perancangan yang mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan ketahanan iklim. Selain itu, hasil rancangan yang dihasilkan dapat dijadikan sebagai rekomendasi praktis dan strategis bagi pemerintah daerah serta pemangku kebijakan lainnya dalam menyusun arah kebijakan pengembangan kawasan wisata pesisir yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
ANALISA RANTAI SUPLAI H&M BAGAIMANA H&M DAPAT MENINGKATKAN KEBERLANJUTAN MELALUI PERUBAHAN DALAM RANTAI SUPLAI
Disertasi ini mengeksplorasi keberlanjutan rantai pasokan H&M, menganalisis praktik, tantangan, dan efektivitas inisiatif keberlanjutannya. H&M, pemimpin dalam industri mode cepat, mengoperasikan rantai pasokan yang dioptimalkan untuk produksi dan distribusi, memanfaatkan alih daya ke negara-negara berbiaya rendah. Meskipun model ini menawarkan keuntungan dalam hal responsivitas dan penetrasi pasar, model ini menimbulkan kekhawatiran signifikan terkait keberlanjutan lingkungan dan praktik ketenagakerjaan yang etis. Penelitian ini mengidentifikasi area dalam rantai pasokan yang berkontribusi terhadap jejak lingkungannya yang substansial, termasuk emisi gas rumah kaca yang tinggi, penggunaan air yang berlebihan, dan produksi limbah yang signifikan. Dampak lingkungan ini meningkat karena permintaan model mode cepat akan siklus produksi yang cepat dan penggunaan sumber daya tak terbarukan secara ekstensif. Di bidang sosial, H&M menghadapi tantangan terkait praktik ketenagakerjaan dalam rantai pasokannya. Masalah seperti upah yang tidak adil, kondisi kerja yang buruk, dan standar ketenagakerjaan yang tidak memadai lazim terjadi, terutama di pusat manufaktur alih daya di negara-negara berkembang. Meskipun H&M telah menerapkan berbagai inisiatif keberlanjutan dan langkah-langkah tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang ditujukan untuk mengatasi masalah ini, efektivitas dan transparansi tindakan ini masih dipertanyakan. Upaya perusahaan sering dianggap tidak memadai atau sebagai contoh greenwashing, di mana upaya dilakukan agar terlihat berkelanjutan daripada melakukan perubahan yang nyata. Disertasi ini memberikan beberapa rekomendasi bagi H&M untuk meningkatkan keberlanjutannya. Ini termasuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas melalui pelaporan terperinci dan audit independen, memperkuat kepatuhan terhadap standar etika, berinvestasi dalam teknologi dan bahan yang berkelanjutan, dan meningkatkan praktik ketenagakerjaan. Selain itu, H&M didorong untuk mengevaluasi kembali strategi produksi/pengadaannya agar selaras dengan tujuan keberlanjutan lingkungan, berpotensi mengadopsi lebih banyak kontrol produksi internal dan inisiatif yang berfokus pada ekonomi sirkular. Melalui ini, H&M dapat lebih menyelaraskan operasinya dengan prinsip-prinsip keberlanjutan, yang pada akhirnya meningkatkan reputasi perusahaan dan berkontribusi positif terhadap upaya keberlanjutan
MODEL FISIKA LONGSOR UNTUK MITIGASI BENCANA DI KAWASAN SITINJAU LAUT KOTA PADANG SUMATERA BARAT
Kawasan Sitinjau Laut merupakan wilayah perbukitan yang terletak di ujung timur kecamatan Lubuk Kilangan kota Padang. Daerah ini sangat rentan terhadap bahaya longsoran/gerakan tanah karena memiliki medan yang sangat curam (70ΒΊ sampai dengan 85ΒΊ), tata guna lahan yang kurang tepat serta curah hujan yang tergolong tinggi sepanjang tahun. Oleh karena itu investigasi potensi longsor sangat penting dilakukan, mengingat dari tahun ke tahun frekuensi bencana longsor di kawasan Sitinjau Laut terus terjadi peningkatan. Hal ini telah menimbulkan kerugian harta maupun jiwa yang tidak sedikit. Dalam rangka investigasi potensi longsor di kawasan Sitinjau Laut, maka dilakukan analisis potensi longsor pada lima lokasi dengan metode pengharkatan terhadap tujuh variabel yaitu; kemiringan lereng, tekstrur tanah dan batuan, kedalaman efektif tanah, tingkat pelapukan batuan, penggunaan lahan, kerapatan vegetasi dan curah hujan. Untuk menentukan harkat dari ketujuh variabel tersebut dilakukan survei dan penelitian lapangan. Data yang didapatkan dari masing-masing variabel dijumlahkan sebagai harkat total sehingga dapat ditentukan tingkat potensi longsor pada masing-masing lokasi tersebut. Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian adalah, lokasi pertama mempunyai harkat total 26 dengan kategori potensi longsor berat, lokasi kedua mempunyai harkat total 26 dengan kategori potensi longsor berat, lokasi ketiga mempunyai harkat total 24 dengan kategori potensi longsor berat, lokasi keempat mempunyai harkat total 21 dengan kategori potensi longsor sedang dan lokasi kelima mempunyai harkat total 22 dengan kategori potensi longsor sedang. Pada laporan penelitian ini juga dilakukan penjabaran fenomena longsor secara fisis sebagai upaya edukasi, prevensi dan mitigasi bencana bagi masyarakat dan suatu masukan kepada pemangku kepentingan dalam rangka penangggulangan bencana longsor di kawasan tersebut. Sehingga diharapkan resiko yang ditimbulkan oleh bencana longsor di kawasan ini dapat diminimalisir untuk masa yang akan datang.
USULAN STRATEGI BISNIS IMPLEMENTASI GREEN PORT PADA PELABUHAN FERRY MERAK UNTUK MENCAPAI KEBERLANJUTAN
Perubahan iklim merupakan tantangan bagi dunia global yang membutuhkan tindakan segera untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan. Indonesia merupakan pihak yang terlibat dalam Perjanjian Paris, di mana Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% pada tahun 2030. Sebagai perusahaan milik negara, PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero), yang beroperasi di sektor pelabuhan dan penyeberangan, adalah salah satu entitas industri transportasi di Indonesia yang berperan dalam mendukung komitmen ini. Pelabuhan Feri Merak, pelabuhan terbesar yang dikelola oleh PT. ASDP Indonesia Ferry (Persero) membutuhkan penerapan praktik pelabuhan ramah lingkungan agar sejalan dengan tujuan keberlanjutan. Penelitian ini mengeksplorasi praktik terbaik dalam inisiatif pelabuhan hijau, dengan fokus pada benchmarking terhadap pelabuhan-pelabuhan di negara maju. Benchmarking ini mengungkapkan peluang bagi Pelabuhan Feri Merak untuk meningkatkan upaya keberlanjutannya. Studi ini juga menilai inisiatif yang sedang berjalan, serta mengidentifikasi kesenjangan dalam infrastruktur, teknologi, dan kepatuhan regulasi. Metodologi kualitatif digunakan dalam penelitian ini, termasuk wawancara dengan pemangku kepentingan kunci serta analisis studi kasus yang relevan. Analisis ini menggunakan alat eksternal (PESTEL) dan internal (VRIO dan Rantai Nilai), diikuti oleh analisis SWOT untuk mengembangkan rekomendasi strategis. Temuan penelitian ini menyoroti tantangan dan peluang dalam beralih ke pelabuhan hijau. Rekomendasi utama termasuk adopsi sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya, dan integrasi teknologi hemat energi. Selain itu, studi ini menekankan pentingnya keterlibatan pemangku kepentingan untuk memastikan keberhasilan implementasi inisiatif pelabuhan hijau. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih luas tentang pengelolaan pelabuhan berkelanjutan di negara berkembang, menawarkan wawasan praktis bagi pembuat kebijakan dan pemimpin industri. Strategi yang diusulkan tidak hanya bertujuan untuk mengurangi dampak lingkungan dari operasi pelabuhan tetapi juga untuk meningkatkan daya saing ekonomi PT ASDP Indonesia Ferry (Persero).
MENILAI DAMPAK SOSIAL & PARTISIPASI KOMUNITAS DARI KAMPANYE HUTAN PANGAN MIKRO PERKOTAAN DI MASAGI KOFFEE : SEBUAH STUDI METODE CAMPURAN
Studi ini mengevaluasi dampak sosial dari Kampanye Hutan Pangan Mikro Perkotaan yang dilaksanakan di Masagi Koffee di Bandung, dengan fokus pada kontribusinya terhadap keberlanjutan lingkungan dan keterlibatan komunitas. Efektivitas kampanye ini dinilai dengan mengeksplorasi empat pertanyaan penelitian utama: faktor-faktor yang memengaruhi keterlibatan komunitas, hambatan yang dirasakan dalam partisipasi, kesadaran peserta terhadap visi dan misi kampanye, serta faktor-faktor yang secara signifikan memengaruhi dampak kampanye yang dirasakan. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, pendekatan penelitian metode campuran digunakan, menggabungkan metode kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan pemangku kepentingan kunci, termasuk anggota komunitas, penyelenggara kampanye, dan perwakilan dari organisasi mitra. Wawancara ini dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi tema-tema berulang terkait dengan keterlibatan komunitas, hambatan, kesadaran, dan dampak yang dirasakan. Setelah analisis kualitatif, survei kuantitatif dikembangkan dan didistribusikan kepada 217 peserta dan pengikut media sosial kampanye. Survei ini bertujuan untuk mengkuantifikasi temuan dari wawancara, dengan fokus pada variabel seperti keterlibatan komunitas, hambatan yang dirasakan, peningkatan pengetahuan, dan praktik keberlanjutan. Data kuantitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif, analisis korelasi, dan regresi linear berganda untuk menguji hubungan antara variabel-variabel tersebut dan dampak kampanye yang dirasakan. Hasil analisis menunjukkan bahwa keterlibatan komunitas sebagian besar didorong oleh keterlibatan pemangku kepentingan yang efektif dan kemitraan yang kuat, yang ditemukan penting untuk membangun rasa memiliki dan tanggung jawab di antara peserta. Namun, hambatan signifikan teridentifikasi, termasuk keterbatasan sumber daya dan persepsi negatif di beberapa segmen komunitas, yang menghambat partisipasi yang lebih luas. Selain itu, meskipun peserta umumnya menunjukkan tingkat kesadaran yang tinggi tentang kegiatan kampanye, terdapat kesenjangan dalam pemahaman terhadap tujuan keberlanjutan yang lebih luas dan visi jangka panjang dari inisiatif ini. Analisis regresi menyoroti bahwa Dampak Positif, Peningkatan Pengetahuan, dan Praktik Keberlanjutan merupakan prediktor signifikan terhadap dampak kampanye yang dirasakan. Sebaliknya, Hambatan menunjukkan hubungan yang kompleks dengan efektivitas kampanye yang dirasakan, menunjukkan perlunya strategi yang ditargetkan untuk mengatasi tantangan ini. Berdasarkan temuan ini, beberapa inisiatif strategis diusulkan untuk meningkatkan efektivitas kampanye dan memastikan keberlanjutannya. Ini termasuk pembentukan Jaringan Green Champions untuk memberdayakan relawan lokal, penciptaan Dana Akses ke Ruang Hijau untuk mendukung proyek-proyek yang digerakkan oleh komunitas, pengembangan Seri Storytelling Roots of Change untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan, serta perluasan kolaborasi pemangku kepentingan melalui inisiatif yang ditargetkan. Studi ini menyimpulkan bahwa meskipun Kampanye Hutan Pangan Mikro Perkotaan telah berhasil melibatkan komunitas lokal, mengatasi hambatan yang teridentifikasi dan meningkatkan pemahaman peserta tentang tujuan keberlanjutan kampanye sangat penting untuk memaksimalkan dampaknya dalam jangka panjang. Strategi yang diusulkan dirancang untuk memperkuat fondasi kampanye, memastikan keterlibatan komunitas yang berkelanjutan dan pencapaian tujuan lingkungan kampanye.
KAJIAN PENERAPAN ARSITEKTUR EKOLOGIS PADA BANGUNAN RESOR UNTUK MENCAPAI LINGKUNGAN YANG RESILIEN DI KEPULAUAN KARIMUNJAWA
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya bencana lingkungan di Kepulauan Karimunjawa, merumuskan kriteria desain arsitektur ekologis untuk bangunan Resor, mengevaluasi keterpenuhan kriteria tersebut pada bangunan Resor yang ada, dan menyusun strategi penerapan arsitektur ekologis untuk mencapai lingkungan yang resilien. Metode penelitian yang digunakan adalah kombinasi antara metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif meliputi wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi, sementara metode kuantitatif mencakup survei kuesioner dan analisis data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mengancam lingkungan di Kepulauan Karimunjawa meliputi proses cut and fill yang menyebabkan erosi, konstruksi bangunan yang tidak sesuai dengan topografi, desain bangunan yang tidak optimal dalam hal orientasi dan ventilasi, serta pemilihan material bangunan yang tidak ramah lingkungan. Kriteria desain arsitektur ekologis yang diidentifikasi mencakup penggunaan material ramah lingkungan, desain bangunan yang sesuai dengan kondisi alam, penerapan ventilasi silang dan pencahayaan alami, serta efisiensi energi melalui penggunaan teknologi terbarukan. Evaluasi terhadap empat Resor di Karimunjawa menunjukkan bahwa penerapan arsitektur ekologis masih kurang optimal. Masalah utama yang ditemukan meliputi orientasi bangunan yang tidak tepat, proporsi bangunan yang tidak ideal, kurangnya ventilasi silang, dan penggunaan material yang tidak ramah lingkungan. Berdasarkan temuan tersebut, disusun strategi penerapan arsitektur ekologis yang meliputi penyesuaian desain bangunan, penggunaan material ramah lingkungan, peningkatan efisiensi energi melalui panel surya, pengelolaan air yang lebih baik, serta penerapan teknologi pembersihan udara dan material absorpsi suara. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dalam pengembangan arsitektur ekologis di lingkungan kepulauan dan praktis dalam memberikan panduan untuk penerapan prinsip arsitektur ekologis di Resor-Resor Karimunjawa. Diharapkan, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pengelola Resor dan perencana kota dalam mengembangkan lingkungan yang lebih berkelanjutan dan resilien terhadap bencana lingkungan.
SECURE-CITY: PERANCANGAN KAWASAN WISATA MALAM PERKOTAAN DENGAN PENDEKATAN CRIME PREVENTION THROUGH ENVIRONMENTAL DESIGN (STUDI KASUS: KAWASAN PRAWIROTAMAN, YOGYAKARTA)
Kawasan Prawirotaman merupakan destinasi wisata populer Yogyakarta yang dikenal sebagai kawasan wisata malam. Transformasi sejarah Prawirotaman dari Kampung Batik menjadi Kampung Turis turut memengaruhi perkembangan jenis aktivitas wisata yang sebagian besar dipengaruhi oleh budaya luar, seperti wisata kuliner, gaya hidup, bar, klub malam, hingga penginapan terjangkau. Namun, potensi Kawasan Prawirotaman sebagai destinasi wisata malam masih belum didukung dengan upaya pemenuhan rasa aman secara menyeluruh, baik dalam menjamin rasa aman pengunjung maupun masyarakat setempat, mengingat waktu paling rawan terjadinya kriminalitas yakni saat malam hari. Tinjauan eksisting kawasan juga menunjukkan adanya karakteristik ruang-ruang negatif di dalam kawasan yang berpotensi menjadi lokasi terjadinya tindak kriminalitas, seperti pada lahan dan bangunan terbengkalai, area dengan pencahayaan yang minim, muka bangunan yang tidak aktif, serta akses dan infrastruktur yang kurang memadai dalam menunjang aktivitas di ruang luar. Studi ini bertujuan untuk merancang Kawasan Prawirotaman sebagai destinasi wisata malam perkotaan Yogyakarta yang atraktif, nyaman, dan aman dari ancaman kriminalitas dengan pendekatan CPTED. Pendekatan ini menekankan pada upaya pencegahan kriminalitas di suatu lingkungan melalui desain fisik yang dapat menjamin keamanan lingkungan dengan tetap menyesuaikan konteks kawasan perancangan sebagai kawasan wisata dengan potensi budaya lokal Yogyakarta yang kuat. Obyek studi meliputi Koridor Prawirotaman sebagai pusat aktivitas wisata, beberapa segmen jalan yang menghubungkan ke kawasan sekitarnya, serta lahan dan bangunan yang bersinggungan langsung dengan Jalan Prawirotaman. Dengan metode perancangan fragmental, konsep pengembangan kawasan disusun berdasarkan enam elemen rancang kota menurut Hamid Shirvani (1985), yaitu konsep tata guna lahan, intensitas dan tata massa bangunan, sistem tautan, ruang terbuka, sistem penanda, dan preservasi.