📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenOPTIMASI PRODUKSI MELALUI PEMODELAN TERINTEGRASI SUMUR ESP DAN JARINGAN FASILITAS PERMUKAAN PADA KLASTER Y DI LAPANGAN X
Many oil fields in Indonesia have entered the mature-field stage, characterized by declining reservoir pressure and increasing water production, making production optimization increasingly critical to meet national hydrocarbon targets. This paper presents a production optimization study conducted in cluster Y of Field X, an offshore production unit located in the Java Sea, consisting of 12 Electrical Submersible Pump (ESP)-lifted production wells connected through an integrated surface network comprising 5 manifolds, 2 gathering stations, and 1 flare gas system. Well performance models were constructed for all producing wells using the Inflow Performance Relationship (IPR) based on the Vogel correlation. Sensitivity analysis on tubing inner diameter was conducted to address uncertainties in actual tubing conditions, yielding a history-matched model with a coefficient of determination (R²) of 0.9986 against actual field production data. A quadrant mapping approach is introduced in this study, utilizing the ratio of actual production rate to Absolute Open Flow Potential (Q/AOFP) and ESP pump efficiency as evaluation parameters, to assess well production potential and pump performance conditions. This approach enables systematic identification of wells requiring further evaluation, prioritization of optimization candidates, and performance comparison before and after optimization. Integrated surface network simulation model was subsequently used as the basis for production network optimization. The optimization was performed using a production system simulation software, which internally employs a Mixed Integer Nonlinear Programming (MINLP) formulation solved via the BONMIN framework, with ESP operating frequency as the continuous variable and well operational status as the integer variable. The optimization was conducted subject to a maximum total ESP power consumption of 550 hp and a maximum field water handling capacity of 4,450 BPD. The optimization results demonstrate that total oil production in cluster Y of Field X increased by 26.56%, from 1,649 BOPD to 2,108 BOPD, while total water production simultaneously decreased by 10.0%, from 4,329 BPD to 3,936 BPD, without violating any established operational constraints and without requiring well intervention. These simultaneous improvements in oil and water production highlight the effectiveness of field-wide network optimization in redistributing ESP operating conditions across all wells within the integrated production system. Quadrant mapping further confirmed and quantified this improvement, demonstrating its capability to systematically evaluate well performance, identify wells requiring further attention, and capture the shift in operating conditions before and after optimization, with wells in the least favorable performance category reduced from six to two. These results demonstrate that the combination of quadrant mapping as a well performance evaluation tool and field-wide network optimization through integrated production system simulation constitutes an effective and operationally practical framework for production enhancement in mature offshore fields operating under power and water handling constraints.
ANALISIS KARAKTERISTIK OVERPRESSURE DI LAPANGAN X, SUB-CEKUNGAN JAMBI, CEKUNGAN SUMATRA SELATAN
Lapangan X merupakan lapangan penghasil hidrokarbon yang terletak di Sub-Cekungan Jambi, Cekungan Sumatra Selatan. Cekungan ini diketahui memiliki zona overpressure. Analisis tekanan pori diperlukan untuk mendukung kegiatan pengembangan migas di cekungan ini dan menghindari permasalahan pengeboran seperti kick dan blowout yang diakibatkan keberadaan overpressure. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan persebaran puncak overpressure, mengestimasi tekanan pori, menentukan mekanisme pembentukan overpressure, dan menganalisis hubungan antara stratigrafi daerah penelitian dengan keberadaan overpressure. Penelitian ini menggunakan data dari tiga sumur, yaitu Sumur X-1, X-2, dan X-3 yang terdiri dari data log tali kawat, berat lumpur, data uji tekanan, data temperatur, dan laporan pengeboran. Metode Eaton digunakan untuk mengestimasi tekanan pori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puncak overpressure pada Sumur X-1, X-2, dan X-3 secara berurutan berada pada kedalaman 1910, 1930, dan 1980 m pada Formasi Gumai. Gradien tekanan pori diestimasi berkisar antara 0,441 hingga 0,840 psi/ft. Mekanisme pembentukan overpressure pada ketiga sumur tersebut adalah mekanisme loading yang dikontrol oleh kecepatan sedimentasi dari Formasi Gumai yang didominasi oleh litologi batulempung.
STUDI DISTRIBUSI POROSITAS, FASIES DAN TAHAPAN DIAGENESIS FORMASI JAMPANG DI NANGERANG, KABUPATEN SUKABUMI, PROV. JAWA BARAT.
Reservoir batuan gunung api telah banyak yang berproduksi dan menjadi cadangan terbukti di banyak lapangan migas. Namun, banyak dari proses eksplorasi di lingkungan volkanik mengalami hambatan utama dalam pemahaman reservoir tersebut. Untuk memberikan gambaran pada reservoir gunung api, digunakan analog permukaan di daerah Nangerang, Kabupaten Sukabumi. Analog ini digunakan untuk memahami jenis porositas, proses-proses pembentukan porositas serta hubungannya dengan diagenesisnya dan proses setelah pembentukannya. Diharapkan, suatu pemahaman dalam eksplorasi migas pada lapangan volkanik secara prinsipnya dapat dikaitkan dengan penelitian ini. Metode yang digunakan yaitu metode pemetaan vulkanostratigrafi dan analisis petrografi. Pemetaan vulkanostratigrafi dilakukan untuk mengetahui posisi, geometri, dan fasies endapan di posisi lateral dan vertikal. 23 sampel diambil untuk dianalisis petrografi untuk mengetahui tipe porositas dan proses diagenesisnya. Dari analisis pengamatan lapangan dan analisis citra, dapat disimpulkan terdapat 11 (sebelas) satuan volkanostratigrafi, terdiri atas Batuan Dasar berupa batuan sedimen, Khuluk Jampang Tengah (1 satuan), Khuluk Nangerang (2 satuan), Khuluk Bantarpanjang (5 satuan), dan endapan rombakan (1 satuan). Berdasarkan umur yang diperoleh dari referensi, disimpulkan Batupasir Sisipan Batulempung dan Breksi berumur Miosen Awal dan disetarakan dengan Formasi Jampang. Satuan vulkanik lainnya diperkirakan berumur Miosen Akhir-Pliosen berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya. Beberapa sampel yang mewakili setiap posisi telah diambil dan dilakukan analisis petrografi. Hasil analisis menunjukan matriks dari aliran piroklastik dan endapan jatuhan berupa tuf memiliki porositas primer berupa porositas antar butir dan dalam butir. Kemunculan pelarutan meningkatkan porositas menjadi diatas 5%. Perubahan porositas secara lateral dikontrol oleh proses erupsi berupa pengendapan mineral opak yang lebih berat menjadi matriks pada bagian dasar, mengakibatan fasies sentral pada litologi yang sama memiliki nilai porositas yang lebih rendah dibandingkan fasies distal. Kontrol dari pembentukan pelarutan secara vertikal diakibatkan oleh pelapukan dan alterasi. Namun, beberapa sampel mengalami penurunan porositas akibat pengisian pori oleh kuarsa.