📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 7 dokumenPERANCANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SAMPAH KOTA BERBASIS PIROLISIS
Penerapan teknologi waste-to-energy merupakan solusi strategis untuk mengatasi permasalahan menumpuknya sampah kota sekaligus menghasilkan energi bersih. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan dan mengevaluasi performa termodinamika serta tekno-ekonomi dan lingkungan sistem Waste-to-Energy berbasis gasifikasi dan pirolisis menggunakan feedstock input PLTSa Putri Cempo melalui perangkat lunak Ebsilon Professional. Hasil simulasi menunjukkan adanya trade-off termodinamika. Pirolisis menghasilkan kualitas syngas dengan nilai kalor lebih tinggi 18,89–19,14 MJ/kg, sedangkan gasifikasi unggul dalam kuantitas dengan gas yield mencapai 86,8–88% massa feedstock. Hal ini membuat gasifikasi menghasilkan daya bersih yang lebih tinggi 2,21–4,33 MW dibanding pirolisis standar 0,38–0,71 MW. Namun, pirolisis unggul dari sisi lingkungan dengan emisi spesifik jauh lebih rendah 0,66–0,67 kgCO2/kWh dibandingkan gasifikasi 1,05 kgCO2/kWh. Untuk mengatasi keterbatasan teknis pirolisis konvensional akibat sifat reaksinya yang endotermik, dikembangkan skenario P-SUB-ORC melalui substitusi RDF, pemanfaatan char, dan integrasi Organic Rankine Cycle. Skenario ini berhasil melipatgandakan pasokan daya bersih hingga 2,172 MW sekaligus menekan nilai LCOE menjadi $0,15/kWh dengan emisi yang tetap rendah 0,66 kgCO?/kWh. Berdasarkan evaluasi Multi-Kriteria, skenario P-SUB-ORC dengan skor akhir 3,94 terpilih sebagai solusi terbaik karena memberikan kesetimbangan optimal antara kinerja teknis, lingkungan, dan kelayakan ekonomi.
STUDI EKOLOGI POLITIK DAN TAKSONOMI KEADILAN LINGKUNGAN DALAM PENGELOLAAN SAMPAH DI TPA SARIMUKTI, KABUPATEN BANDUNG BARAT
Dinamika pengelolaan sampah di TPA Sarimukti merepresentasikan kompleksitas spasial dan manajerial dalam tata kelola lingkungan di kawasan aglomerasi Bandung Raya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji relasi kebijakan, tata ruang, dan respons elemen masyarakat sipil dalam perencanaan persampahan regional. Menggunakan pendekatan Ekologi Politik dan Critical Discourse Analysis (CDA), studi ini menganalisis dokumen kebijakan, observasi lapangan, serta wawancara mendalam guna memahami berbagai dimensi di balik penanganan persampahan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kebijakan persampahan regional cenderung berorientasi pada pendekatan teknokratis yang berpusat pada infrastruktur fisik, khususnya melalui rencana Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL). Pendekatan ini berfokus pada stabilitas pelayanan perkotaan, namun masih menghadapi tantangan dalam pengendalian sampah di wilayah hulu. Secara spasial, hal ini memicu distribusi beban ekologis yang belum seimbang, menempatkan perdesaan penyangga sebagai area penerima eksternalitas. Kondisi tersebut turut berdampak pada optimalisasi partisipasi warga dan peningkatan risiko sosial-ekologis, di tengah tingginya ketergantungan ekonomi masyarakat lokal pada keberadaan fasilitas TPA. Merespons dinamika tersebut, masyarakat sipil bersama komunitas lokal mendorong pendekatan yang lebih inklusif dengan mengartikulasikan urgensi desentralisasi penanganan sampah, penguatan ekonomi sirkular, serta implementasi Extended Producer Responsibility (EPR). Studi ini menyimpulkan bahwa penyelesaian persoalan persampahan memerlukan integrasi antara penyediaan infrastruktur dan pendekatan sosial. Diperlukan pergeseran menuju tata kelola berbasis Transisi Berkeadilan (Just Transition), yaitu kerangka kolaboratif yang mendorong keseimbangan distribusi beban ruang dan mengakomodasi kebutuhan lingkungan masyarakat di tingkat tapak secara optimal.
DESAIN PERANCANGAN BANGUNAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU (TPST) DI PULAU TIDUNG BESAR, KABUPATEN ADMINISTRASI KEPULAUAN SERIBU SEBAGAI DAERAH TUJUAN PARIWISATA
Pulau Tidung Besar adalah salah satu pulau berpenduduk di Kepulauan Seribu, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pulau Tidung Besar juga terkenal sebagai pulau tujuan pariwisata dengan luas pulau 50 ha. Terdapat empat sumber kegiatan yang dapat menghasilkan sampah yaitu permukiman dengan 4.787 penduduk, non permukiman dengan fasilitas umum, kegiatan pariwisata dan sampah pesisir. Pengolahan sampah yang dilakukan di Pulau Tidung Besar saat ini adalah pembakaran dengan insinerator L-Box. Namun kapasitas insinerator yang tidak dapat mengolah seluruh sampah yang dihasilkan di pulau ini menyebabkan sampah yang tidak terolah akan diurug di lahan terbuka sebelum akan diangkut menggunakan kapal sampah menuju Bantar Gebang. Oleh karna itu dibutuhkan suatu Tempat Pengolahan sampah Terpadu (TPST) yang dapat mengolah sampah yang dihasilkan setiap harinya di Pulau Tidung Besar. Telah dilakukan sampling timbulan dan komposisi sampah yang mengacu pada SNI 19-3964-1995 dengan hasil timbulan sampah darat Pulau Tidung Besar sebesar 1.733 kg/hari dan komposisi terbesar adalah sisa makanan dan dedaunan (59,59%) kemudian sampah anorganik laku jual yang terdiri dari plastik, kertas/kardus, logam dan kaca (25,22%), dan sampah residu (14,87%). Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Pulau Tidung Besar akan memiliki luas minimal area bongkar muat sebesar 52,5 m2 , area pengomposan windrow dan maturasi kompos sebesar 101 m2 , area penyimpanan anorganik laku jual sebesar 28 m2 dan area pengolahan residu dengan teknologi thermal insinerator. Total area TPST yang dirancang adalah 928 m2 dengan fasilitas tambahan seperti kantor, gudang, toilet dan area parkir.
PERANCANGAN PUSAT DAUR ULANG (PDU) PENGGANTI TEMPAT PENGELOLAAN SAMPAH REDUCE, REUSE AND RECYCLE (TPS3R) KEBON JERUK BERIMAN KECAMATAN ANDIR, KOTA BANDUNG
Sampah menjadi permasalahan lingkungan yang tak kunjung usai di Indonesia terlebih lagi dengan semakin meningkatnya urbanisasi serta pertumbuhan penduduk. Infrastruktur pengolahan sampah menjadi salah satu kunci utama dalam pengelolaan sampah setempat khususnya Kecamatan Andir di Kota Bandung. Pada Kecamatan Andir terdapat satu TPST dan TPS3R dengan wilayah pelayanan kurang lebih hanya pada satu kelurahan saja yaitu Kebon Jeruk. Terlebih lagi seluruh sampah yang masuk tidak sepenuhnya diolah sehingga masih menyisakan residu yang akhirnya dibawa menuju TPA. Penelitian ini bertujuan untuk merancang Pusat Daur Ulang sebagai pengganti TPST dengan meningkatkan kapasitas pengolahan menjadi satu kecamatan melalui teknologi pengolahan yang sesuai. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data primer dan sekunder melalui observasi berupa sampling, uji laboratorium serta mewawancarai stakeholder. Penentuan jumlah sampel menggunakan metode slovin dan didapatkan jumlah sampel sebanyak 36 sampel dengan derajat ketelitian 16,6%. Hasil sampling menunjukkan komposisi sampah terbesar yaitu sampah dapur sebesar 66%, disusul oleh plastik dan kertas sebesar 19% dan 9%. Teknologi pengolahan utama dipilih menggunakan SAW (Simple Additive Weighting) dengan alternatif Insinerasi, RDF serta pirolisis. Berdasarkan SAW teknologi terpilih adalah RDF dibantu dengan windrow compost untuk sampah organik serta insinerator untuk residu. Keseluruhan luas PDU adalah 5596 m2 sebelum ditambahkan dengan fasilitas penunjang lainnya.
ANALISIS PROYEK INVESTASI PADA PEMBANGUNAN TEMPAT PENGOLAHAN DAN PEMROSESAN AKHIR SAMPAH (TPPAS) PROVINSI JAWA BARAT MELALUI SKEMA KERJASAMA PEMERINTAH DAN BADAN USAHA (KPBU) (STUDI KASUS: TPPAS REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT WILAYAH CIAYUMAJAKUNING)
Kawasan perkotaan menghadapi tantangan akibat pertumbuhan populasi dan peningkatan aktivitas perkotaan di sektor-sektor seperti perumahan, industri, dan perdagangan. Salah satu permasalahan yang muncul adalah jumlah sampah yang terus meningkat. Masalah sampah di Indonesia semakin memburuk setiap tahun. Karena semakin sulit menemukan lahan untuk tempat pembuangan sampah (TPA), beberapa kota dan kabupaten tetangga telah mengembangkan pengadaan dan pemanfaatan tempat pembuangan bersama (TPA Regional). Pemerintah bertanggung jawab dan berkewajiban untuk menyediakan infrastruktur, termasuk tempat pembuangan sampah akhir. Namun, ada kesenjangan keuangan yang perlu diisi karena keterbatasan pendanaan untuk pengembangan infrastruktur. Oleh karena itu, pemerintah bermaksud menggunakan program Kemitraan Pemerintah-Swasta (PPP) untuk melibatkan sektor swasta dan meringankan tekanan keuangan pada penyediaan infrastruktur publik. Analisis investasi dilakukan untuk meneliti proyeksi keuangan proyek ini menggunakan analisis penganggaran modal. Ada tiga skenario dalam proyek ini: skenario dengan pendanaan menggunakan VGF, menggunakan AP, dan dari pihak swasta. Hasil menunjukkan bahwa skenario dengan menggunakan VGF 60% merupakan skenario terbaik atau paling optimal. Nilai NPV yang dihasilkan menunjukkan angka positif sebesar Rp 104,639,009,004. Periode pengembalian modal akan terjadi 7,79 tahun setelah proyek dimulai. Tingkat Pengembalian Internal (IRR) yang dihasilkan sebesar 19,15%, yang lebih tinggi dari Biaya Modal Rata-rata Tertimbang (WACC) sebesar 11,36%. Dapat disimpulkan bahwa proyek pengembangan Tempat Pemrosesan Sampah Regional (TPPAS) di Jawa Barat layak secara finansial.
PENGEMBANGAN INTERNET OF THINGS DALAM INOVASI SISTEM PEMILAHAN SAMPAH DI KAWASAN KAMPUS (STUDI KASUS: KAMPUS INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG)
Pengelolaan sampah yang kurang baik berpengaruh secara signifikan terhadap kesehatan orang- orang dan lingkungan di sekitarnya. Salah satu masalah besar pada proses pengelolaan sampah di Indonesia adalah minimnya proses pemilahan sampah sebelum dialirkan ke tempat pembuangan sampah. Tingginya biaya pemilahan sampah di ranah industri mengakibatkan industri daur ulang di Indonesia terpaksa harus melakukan impor bahan baku. Oleh sebab itu, diperlukan adanya tindakan pemilahan sampah secara rutin, baik di kawasan rumah tangga, sekolah, kantor, dan lain-lain. Pada penelitian ini, lingkungan kampus Institut Teknologi Bandung dijadikan sebagai objek studi kasus dalam rangka merancang inovasi sistem pemilahan sampah yang dapat menurunkan tingkat ketercampuran sampah. Permasalahan yang dihadapi oleh Ditmawa Sarana dan Prasarana dalam melakukan pengelolaan sampah adalah diperlukannya waktu dan tenaga yang besar untuk melakukan pemilahan sampah anorganik sebelum dibawa ke Bank Sampah. Padahal, tempat sampah anorganik di kampus telah dibedakan berdasarkan setiap kategorinya. Oleh sebab itu, diperlukan suatu sistem yang dapat melakukan pemilahan sampah anorganik secara otomatis serta sistem yang dapat melakukan pemantauan data sampah yang terkumpul. Penelitian ini dilakukan menggunakan metodologi systems engineering dan dihasilkan dua jenis subsistem dalam pengembangannya, yaitu Subsistem Pemilahan Sampah dan Subsistem Manajemen Data. Subsistem Pemilahan Sampah dikembangkan dengan menerapkan teknologi Internet of Things, machine learning, dan penyimpanan data di cloud database. Sementara Subsistem Manajemen Data Sampah dikembangkan dengan menerapkan teknologi cloud database dan website untuk menampilkan data statistik pengumpulan sampah. Pengujian fungsional, spesifikasi kinerja, dan usability testing dilakukan untuk mengevaluasi sistem ini. Hasil pengujian mengindikasikan bahwa sistem dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan fungsional dan non-fungsional, serta mudah untuk digunakan.
PERANCANGAN PUSAT EDUKASI PEMILAHAN DAN PENGOLAHAN SAMPAH RUMAH TANGGA DENGAN PENDEKATAN PARIWISATA DI KOTA BARU PARAHYANGAN
Laporan Tugas Akhir ini bermula dari permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh sampah rumah tangga di Indonesia. Meskipun telah banyak program edukasi yang dilakukan oleh pemerintah dan komunitas lingkungan mengenai pengolahan sampah, namun permasalahan sampah tidak tertanggulangi. Dengan demikian, laporan tugas akhir ini akan mengkaji tentang Perancangan Pusat Edukasi Pemilahan dan Pengolahan Sampah dengan Pendekatan Pariwisata di Kota Baru Parahyangan. Perancangan ini bertujuan untuk menjawab berbagai persoalan yang kemudian akan digunakan sebagai landasan dalam perancangan fasilitas publik berupa sarana edukasi berbasis wisata yang dapat memberikan informasi mengenai pengolahan limbah rumah tangga secara komperhensif dan menyeluruh ke masyarakat Indonesia. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode studi literatur, observasi dan wawancara. Observasi dilakukan untuk mencari site yang cocok untuk fasilitas akan dirancang dan melakukan benchmarking terhadap fasilitas yang telah terancang. Wawancara akan dilakukan ke beberapa orang untuk mendapatkan pengalaman ruang terhadap wisata edukasi dan perbandingannya terhadap fasilitas wisata edukasi yang telah terancang. Untuk analisis data yang diperoleh akan di klasifikasikan atau di katgorikan sesuai fungsi masing-masing kemudian di olah dan ditampilkan dalam bentuk laporan deskriptif kualitatif yaitu data dan laporkan dalam bentuk kalimat. Data dan laporan yang diterima kemudian digunakan sebagai perancangan fasilitas publik berupa wisata edukasi di Bandung dengan menggunakan konsep desain interior dengan keyword Contemplative, Associated, dan Impact yang kemudian akan di implementasikan kedalam perancangan dengan mempertimbangkan dampak terhadap target pengunjung.