📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 23 dokumen

PEMODELAN DINAMIKA PERILAKU MANUSIA SAAT BENCANA

Situasi bencana sering kali memicu kepanikan di masyarakat yang berdampak pada terhambatnya proses evakuasi dan bertambahnya jumlah korban. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan dinamika perilaku manusia saat menghadapi bencana menggunakan pendekatan sistem dinamik berbasis persamaan diferensial biasa. Model yang dibangun mengklasifikasikan populasi ke dalam beberapa kompartemen perilaku untuk menggambarkan mekanisme transisi individu, mulai dari kondisi waspada hingga panik. Analisis matematis dilakukan untuk menentukan titik kesetimbangan serta kestabilan sistem, diikuti dengan analisis sensitivitas untuk mengidentifikasi parameter dominan yang memengaruhi perubahan perilaku sistem. Lebih lanjut, diterapkan teori kontrol optimal dengan melibatkan dua variabel intervensi, yaitu edukasi dan intervensi petugas di lokasi kejadian, untuk meminimalkan lonjakan populasi panik serta menekan jumlah korban jiwa dan biaya intervensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi kontrol optimal terbukti efektif dalam mengurangi eskalasi perilaku panik secara signifikan dibandingkan dengan kondisi tanpa intervensi.

2026
👤 Penulis: Shafira Maritza
🏷️ Sistem Dinamik 🏷️ Manajemen Risiko Bencana 🏷️ Optimisasi Intervensi

PENGEMBANGAN KURVA FRAGILITAS ANALITIK BANGUNAN HUNIAN TERHADAP BAHAYA LAHAR DAN JATUHAN TEFRA

Bahaya sekunder vulkanik berupa aliran lahar dan jatuhan tefra tercatat sebagai salah satu penyebab utama kerusakan bangunan hunian non-engineered di Indonesia. Sayangnya, fungsi kerentanan (fragility function) yang secara spesifik memodelkan respons struktur terhadap beban tersebut masih sangat terbatas. Penelitian ini mengembangkan kurva fragilitas analitik untuk lima tipologi dinding dan atap nonengineered (Unconfined Masonry, Confined Masonry, RC Infill Wall, rangka kayu, dan rangka baja ringan) menggunakan formulasi mekanika struktur yang diintegrasikan dengan Simulasi Monte Carlo (N=10.000). Hasil analisis menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas akibat pemendekan bentang mengikuti orde yang berbeda-beda tiap tipologi—mendekati kuadratik pada elemen kayu, lebih tajam pada RC Infill Wall (?1/L^2,5), namun mendekati linear pada Confined Masonry dan sambungan baja ringan—sehingga manfaat reduksi geometri tidak dapat digeneralisasi. Berdasarkan probabilitas keruntuhan 50%, Unconfined Masonry merupakan tipologi paling rentan terhadap lahar (0,66 m/s), diikuti dinding kayu (0,73 m/s), Confined Masonry (1,32 m/s), dan RC Infill Wall (1,66 m/s); sementara rangka atap kayu dan baja ringan memiliki ambang ketebalan tefra basah masing-masing 8,45 cm dan 9,5 cm. Evaluasi dispersi kurva turut menunjukkan bahwa Unconfined Masonry memiliki kurva paling curam (konsisten dengan sifat getas tanpa elemen pengekang), sedangkan Confined Masonry dan RC Infill Wall menghasilkan kurva lebih landai yang mencerminkan cadangan kapasitas dari mekanisme lentur dua arah dan efek busur. Temuan ini menegaskan bahwa evaluasi kerentanan bangunan non-engineered perlu mempertimbangkan lebar dispersi, tidak hanya kapasitas median, dalam penetapan strategi mitigasi bencana vulkanik.

2026
👤 Penulis: Adrian Kevin Seloaji
🏷️ Vulkanologi 🏷️ Analisis Struktur 🏷️ Manajemen Risiko Bencana

PERANCANGAN MUSEUM NALODO PALU DENGAN PENDEKATAN MULTISENSORY EXPERIENCE DESIGN

Kota Palu merupakan wilayah dengan tingkat risiko bencana geologi yang tinggi akibat kondisi geografisnya yang berada pada pertemuan lempeng tektonik aktif dan dilalui oleh Sesar Palu-Koro. Gempa bumi berkekuatan 7,4 SR yang terjadi pada 28 September 2018 diikuti oleh tsunami, likuefaksi, dan tanah longsor menimbulkan dampak fisik, sosial, dan psikologis yang mendalam bagi masyarakat Kota Palu dan sekitarnya. Dalam konteks sosio-kultural, masyarakat Kaili telah lama mengenal bencana geologi melalui istilah dan penamaan tempat (toponimi) yang diwariskan melalui budaya tutur. Salah satu istilah tersebut adalah Nalodo, yang dalam bahasa Kaili merujuk pada fenomena likuefaksi dan diangkat sebagai identitas Museum Nalodo Palu yang merepresentasikan kearifan lokal masyarakat Kaili. Namun, sebelum bencana 28 September 2018, pemahaman masyarakat mengenai fenomena likuefaksi masih terbatas dan belum didukung oleh edukasi kebencanaan yang dilakukan secara aktif dan menyeluruh. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya suatu fasilitas yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana edukasi kebencanaan, tetapi juga sebagai ruang memorial yang mampu merekam dan merefleksikan pengalaman kolektif masyarakat Kota Palu. Perancangan Museum Nalodo Palu bertujuan mewadahi fungsi edukasi kebencanaan di Kota Palu dan sekitarnya sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana serta menjadi ruang memorial untuk mengenang tragedi bencana 28 September 2018. Pendekatan Multisensory Experience Design diterapkan dengan mengutamakan pengalaman visual, auditori, dan taktil melalui pemanfaatan media interaktif, proyeksi digital, lanskap suara (soundscape), serta eksplorasi tekstur material untuk membangun interaksi dan ikatan emosional antara pengguna dan ruang. Perancangan museum ini diharapkan dapat menjadi media pembelajaran kebencanaan dan ruang refleksi yang memperkuat memori kolektif masyarakat Kota Palu serta berkontribusi dalam upaya pengurangan risiko bencana dan pembangunan kota yang tangguh dan berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Fadhila Dwi Puspita
🏷️ Multisensory Experience Design 🏷️ Manajemen Risiko Bencana 🏷️ Edukasi Kebencanaan

PEMBANGUNAN DASHBOARD KOMUNITAS TSUNAMI READY IOC-UNESCO DI INDONESIA

Indonesia merupakan negara dengan tingkat risiko tsunami yang sangat tinggi karena posisinya berada di pertemuan empat lempeng tektonik besar dan memiliki lebih dari 12.000 desa pesisir. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.013 desa dan kelurahan tergolong dalam zona bahaya tsunami tinggi serta 5.331 desa dan kelurahan berada pada zona bahaya tsunami sedang. Meskipun program TRRP dari IOC-UNESCO telah diluncurkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan komunitas pesisir, baru sekitar 22 komunitas yang memperoleh pengakuan resmi. Keterbatasan platform pemantauan terpadu menjadi salah satu faktor lambatnya proses rekognisi terhadap 12 indikator yang terbagi dalam kategori Assessment, Preparedness, dan Response. Capstone Project ini bertujuan membangun dashboard Komunitas Tsunami Ready IOC-UNESCO di Indonesia yang mampu mengintegrasikan data geospasial, statistik kependudukan, jalur evakuasi, serta dokumen verifikasi indikator dalam satu platform berbasis web. Dashboard ini dirancang untuk memfasilitasi tiga peran utama, yaitu masyarakat umum sebagai konsumen informasi kebencanaan, perangkat desa/kelurahan pesisir sebagai pengunggah bukti pemenuhan indikator, dan verifikator nasional sebagai pihak yang memvalidasi seluruh dokumen yang masuk secara realtime. Selain itu, dashboard juga menyajikan otomatisasi peta bahaya tsunami, estimasi jumlah penduduk terpapar, perhitungan bangunan terdampak per tingkat risiko, serta pemetaan jalur evakuasi menuju TES dan TEA berdasarkan koordinat yang diinput oleh perangkat desa. Pengujian dilakukan menggunakan metode Black Box Testing dan UAT pada pengguna umum yang berhasil dilakukan. Hasil pengujian menunjukkan seluruh fitur utama berfungsi sesuai spesifikasi dengan tingkat penerimaan pengguna yang tinggi. Dashboard ini diharapkan dapat mempercepat proses rekognisi Tsunami Ready dan meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat pesisir Indonesia.

2026
👤 Penulis: Atsil Hamid Putera Marwan
🏷️ Komunitas Pesisir 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Risiko Bencana

PEMBANGUNAN DASHBOARD KOMUNITAS TSUNAMI READY IOC-UNESCO DI INDONESIA

Indonesia merupakan negara dengan tingkat risiko tsunami yang sangat tinggi karena posisinya berada di pertemuan empat lempeng tektonik besar dan memiliki lebih dari 12.000 desa pesisir. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.013 desa dan kelurahan tergolong dalam zona bahaya tsunami tinggi serta 5.331 desa dan kelurahan berada pada zona bahaya tsunami sedang. Meskipun program TRRP dari IOC-UNESCO telah diluncurkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan komunitas pesisir, baru sekitar 22 komunitas yang memperoleh pengakuan resmi. Keterbatasan platform pemantauan terpadu menjadi salah satu faktor lambatnya proses rekognisi terhadap 12 indikator yang terbagi dalam kategori Assessment, Preparedness, dan Response. Capstone Project ini bertujuan membangun dashboard Komunitas Tsunami Ready IOC-UNESCO di Indonesia yang mampu mengintegrasikan data geospasial, statistik kependudukan, jalur evakuasi, serta dokumen verifikasi indikator dalam satu platform berbasis web. Dashboard ini dirancang untuk memfasilitasi tiga peran utama, yaitu masyarakat umum sebagai konsumen informasi kebencanaan, perangkat desa/kelurahan pesisir sebagai pengunggah bukti pemenuhan indikator, dan verifikator nasional sebagai pihak yang memvalidasi seluruh dokumen yang masuk secara realtime. Selain itu, dashboard juga menyajikan otomatisasi peta bahaya tsunami, estimasi jumlah penduduk terpapar, perhitungan bangunan terdampak per tingkat risiko, serta pemetaan jalur evakuasi menuju TES dan TEA berdasarkan koordinat yang diinput oleh perangkat desa. Pengujian dilakukan menggunakan metode Black Box Testing dan UAT pada pengguna umum yang berhasil dilakukan. Hasil pengujian menunjukkan seluruh fitur utama berfungsi sesuai spesifikasi dengan tingkat penerimaan pengguna yang tinggi. Dashboard ini diharapkan dapat mempercepat proses rekognisi Tsunami Ready dan meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat pesisir Indonesia.

2026
👤 Penulis: Raisal Nazmi Kamil
🏷️ Komunitas Pesisir 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Risiko Bencana

IDENTIFIKASI DAERAH BAHAYA TSUNAMI BERDASARAKAN ZONASI KERENTANAN TSUNAMI DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS ( STUDI KASUS : DAERAH PESISISR PANGANDARAN )

Bencana tsunami saat ini merupakan momok bagi masyarakat Indonesia. Daerah – daerah di sepanjang pesisir pantai Indonesia merupakan daerah dengan potensi bencana yang cukup besar dikarenakan posisi Indonesia berada di beberapa jalur patahan atau tumbukan antara landasan kontinen. Tidak terkecuali dengan pesisir Pangandaran yang telah terlanda bencana tsunami sebanyak 3 kali dalam kurun waktu 400 tahun terakhir. Untuk itu diperlukan usaha – usaha mitigasi tsunami dengan cara melakukan identifikasi daerah – daerah bahaya bencana tsunami. Daerah bahaya bencana tsunami merupakan interaksi antara variabel potensi bahaya dan tingkat kerentanan terhadap bahaya. Dengan mengidentifikasi daerah bahaya tsunami, diharapkan peluang upaya evakuasi akan semakin besar untuk dilakukan sehingga dapat menekan kerugian yang ditimbulkan oleh tsunami tersebut.

2026
👤 Penulis: Adnan Fabyandi
🏷️ Zonasi Kerentanan Tsunami 🏷️ Geografi Kritis 🏷️ Manajemen Risiko Bencana

INTEGRASI DATA UAV LIGHT DETECTION AND RANGING DAN TERRESTRIAL LASER SCANNER UNTUK DETEKSI PERUBAHAN GEOMETRI BANGUNAN AKIBAT PERGERAKAN TANAH

Pergerakan tanah rayapan (creep) merupakan fenomena yang ditandai oleh perpindahan massa tanah atau batuan yang bergerak secara sangat lambat, dengan kecepatan berkisar antara milimeter hingga beberapa sentimeter per tahun secara perlahan dapat mengakibatkan perubahan permukaan tanah yang signifikan, menimbulkan pergeseran dan kerusakan pada fondasi serta struktur bangunan di atasnya Oleh karena itu, pemantauan perubahan geometri secara spesifik pada bangunan secara akurat, dan komprehensif dalam manajemen risiko bencana dan perawatan infrastruktur. Pemantauan bangunan terdampak rayapan tanah dilakukan dengan melakukan pengukuran di beberapa titik atau objek pantau pada dua atau lebih waktu akuisisi. Terdapat tantangan pada saat pemantauan yaitu menggunakan teknologi akuisisi dan waktu pemindaian yang berbeda, pemantauan ditujukan untuk mengetahui dampak dari pergerakan tanah berupa kerusakan dan pergeseran geometri bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi perubahan geometri bangunan akibat pergerakan tanah mencakup kerusakan dan pergeseran bangunan dengan cara mendapatkan kualitas hasil integrasi data awan titik yang lebih baik dan akurat. Hasil integrasi data awan titik yang dilakukan dengan beberapa tahapan metode mampu mengatasi permasalahan ataupun tantangan dari perbedaan ketelitian dan waktu antar sensor dengan hasil akurasi sudah sesuai dengan hasil yang dilakukan oleh beberapa penelitian sebelumnya yang relevan dengan RMSE 0.063 m untuk referensi UAV LiDAR dan 0.062 m untuk referensi TLS. Selanjutnya, kerusakan yang dapat dideteksi antara lain sebagian besar pada bangunan A dan B sudah sesuai dan akurat dengan kondisi bangunan aktual di lapangan, namun pada bangunan C masih mengalami kesulitan mendapatkan kerusakan yang akurat karena adanya objek lain selain bangunan. Sedangkan untuk pergeseran bangunan akibat bencana pergerakan tanah ini menunjukkan bahwa nilai pergeseran berkisar antara 0.007 m sampai 0.341 m, nilai pergeseran minimum adalah 0.007 m, nilai rata-rata 0.133 m, dan nilai maksimum 0.341 m dengan nilai pergeseran yang dianggap signifikan atau paling mengalami pergeseran dimulai dari nilai 0.192 m. Selanjutnya pada pergeseran secara vertikal didapatkan minimum pergeseran 0.000 m, rata rata 0.099 m, dan maksimum 0.311 m.

2026
👤 Penulis: Emiliya Novitasari
🏷️ Geotopografi 🏷️ Analisis Perubahan Geometri Bangunan 🏷️ Manajemen Risiko Bencana

ANALISIS DAERAH BAHAYA TSUNAMI BERDASARKAN ZONASI KERENTANAN DAN BAHAYA DENGAN DATA SATELIT DAN SIG (Studi Kasus : Daerah Pangandaran)

Bencana tsunami merupakan sesuatu yang mengerikan bagi masyarakat Indonesia khususnya bagi yang tinggal didaerah pesisir. Hampir di semua wilayah pesisir di Indonesia berpotensi besar terkena tsunami dikarenakan Indonesia berada di beberapa jalur patahan dan tumbukan antara landas kontinen. Masih segar dalam ingatan kita ketika tsunami yang sangat besar melanda Aceh pada tahun 2004 yang menelan ratusan ribu korban jiwa, belum genap 2 tahun kemudian pada tanggal 17 Juli 2006 daerah pesisir Pangandaran dilanda gempa berkekuatan 6,8 SR yang menyebabkan tsunami di sekitar pantai selatan Pulau Jawa. Untuk itulah diperlukan suatu usaha –usaha mitigasi bencana dengan melakukan analisis mengenai zonasi bahaya tsunami. Dalam tugas akhir ini akan dibuat suatu analisis mengenai daerah bahaya tsunami dengan data satelit dan SIG sehingga suatu saat jika terjadi tsunami kembali efek dari tsunami tersebut bisa diminimalisir sehingga dapat menekan kerugian yang diakibatkan oleh tsunami tersebut.

2026
👤 Penulis: SANDI ADITYA (NIM 15105045); Pembimbing: Dr.Ketut Wikantika, M. Eng., dan Firman Hadi, S.Si, M.T.
🏷️ Zonasi Kerentanan 🏷️ Analisis Geografis Sistemik (Ags) 🏷️ Manajemen Risiko Bencana

TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PRAKTIK APOTEKER TERKAIT PELAYANAN KEFARMASIAN PADA FASE TANGGAP BENCANA GEMPA DI PULAU JAWA

Apoteker merupakan salah satu tenaga kesehatan yang melayani masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan obat. Pelayanan diberikan tdak hanya di kondisi normal, tetapi juga mencakup kondisi kedaruratan akibat terjadinya bencana, yang memerlukan feksibilitas dan kemampuan apoteker di luar tugas tradisional. Indonesia secara geografs terletak pada pertemuan tga lempeng tektonik aktf yang menyebabkan sering terjadinya bencana gempa, oleh karena itu kesiapsiagaan apoteker menjadi salah satu hal pentng yang perlu dicermat dan aspek ini belum ditelit. Pada penelitan ini dilakukan survei kesiapsiagaan apoteker yang bekerja di pusat layanan kesehatan di Pulau Jawa dengan tujuan mengukur tngkat kesiapsiagaan yang terdiri dari pengetahuan, sikap, dan praktk serta mengidentfkasi hubungan antara karakteristk sosiodemograf dengan tngkat pengetahuan, sikap, dan praktk apoteker dalam pemberian pelayanan kefarmasian selama fase tanggap darurat bencana. Studi ini menggunakan desain eksploratf dengan metode purposive sampling, data dikumpulkan melalui kuesioner. Sekitar 67 responden mengisi kuesioner secara lengkap untuk dianalisis lebih lanjut. Hasil menunjukkan 86,57% responden memiliki tngkat kesiapsiagaan pada level sedang dan 13,43% pada level tnggi. Namun demikian, hasil menunjukkan 23,13% dalam tngkat ketepatan responden dalam menjawab pertanyaan terkait bantuan hidup dasar dan triase. Untuk itu peningkatan level kesiapsiagaan bencana, terutama pada aspek pengetahuan dan praktk masih diperlukan.

2025
👤 Penulis: Shafira Navra Darmawan
🏷️ Kesehatan Masyarakat 🏷️ Pelayanan Kefarmasian 🏷️ Manajemen Risiko Bencana

KAJIAN RISIKO DAN UPAYA PENANGGULANGAN BANJIR KALI BEKASI DI KECAMATAN RAWALUMBU, KOTA BEKASI

Curah hujan yang tinggi, tingginya kepadatan penduduk atau kapasitas sungai, topografi, perubahan tata guna lahan, dan kurangnya daerah resapan air merupakan faktor penyebab banjir. Banjir yang terjadi dari Tahun 2019 sampai dengan Tahun 2023 di Kali Bekasi mengakibatkan masyarakat kesulitan beraktivitas, berdampak pada sosial-ekonomi dan pembangunan dari bencana ini cukup signifikan. Kota Bekasi, melalui kajian risiko dengan analisis hidrologi dan permodelan banjir menunjukkan bahwa tingkat ancaman banjir di Kelurahan Bojong Menteng, Kelurahan Bojong Rawalumbu, Kelurahan Sepanjang Jaya termasuk sedang. Untuk Kelurahan Pengasinan memiliki ancaman rendah. Tingkat kerentanan yang bervariasi baik sosial, ekonomi, fisik dan lingkungan di Kecamatan Rawalumbu memiliki klasifikasi sedang begitupun tingkat kapasitas. Risiko banjir yang diidentifikasi pada kategori risiko sedang. Sebagai solusi penanggulangan banjir, menggunakan metode Early Warning System diterapkan melalui kemajuan teknologi yang bertujuan untuk mengurangi risiko akibat banjir luapan Kali Bekasi .Pendekatan ini dilakukan sebagai upaya non struktural bahwa pengelolaan berbasis kemajuan teknologi diharapkan dapat mengurangi risiko akibat banjir sekaligus menjadi solusi yang efektif dalam mencegah dampak negatif lingkungan di sepanjang Kali Bekasi.

2025
👤 Penulis: Aisah Aulia Salsabila
🏷️ Banjir 🏷️ Analisis Hidrologi 🏷️ Manajemen Risiko Bencana

FASILITAS PEMBELAJARAN NONFORMAL DAN PUSAT PEMBERDAYAAN SEBAGAI UPAYA PENGURANGAN RISIKO BENCANA BERBASIS KOMUNITAS

Kondisi geografis Indonesia yang dilintasi oleh sabuk seismik cincin api pasifik menyebabkan Indonesia rentan mengalami bencana geologis seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi. Kerentanan masyarakat Indonesia tidak hanya disebabkan oleh kondisi geografis tetapi juga kondisi sosioekonomi, salah satunya adalah akses pendidikan yang tidak merata. Untuk menanggapi isu tersebut, dirancang sebuah fasilitas pembelajaran nonformal sebagai wadah pemberdayaan masyarakat untuk pengurangan risiko bencana. Fasilitas ini tidak hanya akan digunakan sebagai sarana edukasi tetapi juga sebagai sarana perlindungan pertama saat terjadi bencana. Rancangan ini berlokasi di Kelurahan Belakang Tangsi, Kota Padang, Sumatera Barat yang tidak jauh dari pesisir Pantai Padang sehingga dapat membantu juga dalam memenuhi kebutuhan tempat evakuasi sementara di kawasan setempat.

2025
👤 Penulis: Muhammad Fajri Bukhaira
🏷️ Geologi 🏷️ Pendidikan Nonformal 🏷️ Manajemen Risiko Bencana

SIMULASI NUMERIK TSUNAMI AKIBAT GELOMBANG BUATAN MENGGUNAKAN DATA LONGSORAN PADAT TERFRAGMENTASI HASIL ENDAPAN ALIRAN PIROKLASTIK DARI PUSAT KALDERA LETUSAN GUNUNG TAMBORA 1815

Letusan Gunung Tambora pada tahun 1815 merupakan salah satu bencana terbesar dalam sejarah. Kejadian ini tidak hanya menyebabkan letusan vulkanik, namun diikuti oleh tsunami, longsor, dan dampak merugikan lainnya. Penelitian ini mensimulasikan tsunami yang diakibatkan oleh letusan Gunung Tambora, menggunakan model longsoran padat terfragmentasi dan estimasi tinggi gelombang buatan yang terdiri dari daerah Oi Marai, Katupa, Labu Bili, Labu Na’e, Doro Bente, dan Sare Nduha. Fokus utama penelitian ini adalah untuk memahami mekanisme dan penjalaran tsunami yang dihasilkan oleh longsoran daratan dan gelombang buatan, serta mengestimasi tinggi gelombang tsunami di beberapa daerah terdampak, seperti daerah Tambora, Sumbawa, Sanggar, Bima, Sumenep, dan Besuki dengan menggunakan model COMCOT versi 1.7 Beta serta TUNAMI N1. Simulasi ini menggunakan dua skenario pembangkitan, yaitu longsoran dari pusat kaldera Gunung Tambora dan estimasi tinggi gelombang buatan. Simulasi menunjukkan tsunami tercepat terekam di daerah utara Gunung Tambora dengan waktu tiba 4 menit untuk skenario longsoran yang menghasilkan tinggi maksimum 6 meter dan 0 menit untuk skenario gelombang buatan yang menghasilkan tinggi maksimum 16,17 meter. Hasil tinggi tsunami juga terekam di daerah jauh dari daerah pembangkitan, seperti Besuki yang terekam setelah 125 menit simulasi untuk skenario longsoran dengan tinggi maksimum 0,09 meter dan 120 menit setelah simulasi untuk skenario gelombang buatan yang menghasilkan tinggi tsunami maksimum setinggi 0,11 m. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pendekatan longsoran padat terfragmentasi dan inisiasi gelombang buatan dapat menjelaskan sebagian besar mekanisme tsunami Tambora 1815. Ketinggian tsunami hasil simulasi juga konsisten dengan catatan historis di beberapa lokasi terdampak. Meskipun begitu, estimasi tinggi tsunami dari skenario ini masih rendah di luar fase pembangkitan. Hal ini mengindikasikan kemungkinan adanya sumber lain seperti aliran piroklastik fase surge atau tekanan atmosfer yang berkontribusi pada tsunami di daerah dengan fase berbeda, seperti Sumenep dan Besuki.

2025
👤 Penulis: Riyadi Zakia Syahrulloh
🏷️ Geologi 🏷️ Simulasi Numerik 🏷️ Manajemen Risiko Bencana

PEMODELAN MACHINE LEARNING SUSCEPTIBILITY LONGSOR MENGGUNAKAN METODE RANDOM FOREST UNTUK KAJIAN PENGARUH PARAMETER INTEGRASI KARAKTERISTIK BATUAN (STUDI KASUS: KABUPATEN LEBAK)

Tanah longsor adalah peristiwa alam yang dapat menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur, dan mengancam nyawa. Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, dengan morfologi kompleks akibat aktivitas tektonik dan sejarah geologi, merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi tinggi longsor. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model potensi longsor menggunakan algoritma Random Forest dengan mengintegrasikan parameter karakteristik batuan guna meningkatkan akurasi prediksi dan pemahaman terhadap faktor-faktor penyebab longsor. Parameter karakteristik batuan yang digunakan mencakup litologi (jenis dan sifat batuan), genetik batuan (proses pembentukan), kronologi batuan (usia dan tingkat pelapukan), serta infiltrasi batuan (kemampuan menyerap air). Pemodelan ini menggunakan data historis longsor (95 titik longsor dan 85 titik non-longsor), dan parameter – parameter seperti DEMNAS, tutupan lahan, sesar/lineasi, dam formasi batuan yang di reklasifikasi dan segmentasi, yang kemudian diintegrasikan. Penelitian membandingkan dua model: integrasi dari parameter karakteristik batuan (Model 1), parameter tanpa integrasi (Model 2). Data dibagi menjadi 80% pelatihan dan 20% pengujian. Hasil evaluasi menunjukkan Model 1 memiliki nilai AUC 0,84, lebih tinggi dibandingkan Model 2 dengan nilai 0,821. Model 1 juga memetakan wilayah potensi longsor tinggi di Kecamatan Cibeber, Panggarangan, dan Bayah. Hasil ini menunjukkan bahwa integrasi parameter karakteristik batuan meningkatkan akurasi prediksi dan memberikan wawasan mendalam terkait kestabilan lereng. Penelitian ini diharapkan menjadi dasar ilmiah mitigasi bencana berbasis data geospasial dan perencanaan tata ruang.

2024
👤 Penulis: Fariz Rizaldy Wibowo
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Geografis 🏷️ Manajemen Risiko Bencana

ANALISIS FUNGSI BAHAYA SEISMIK DI PULAU JAWA BAGIAN BARAT: STUDI KASUS KOTA-KOTA BESAR DAN WILAYAH SEKITARNYA

Pulau Jawa bagian barat memiliki tatanan tektonik yang cukup kompleks karena terletak di batas lempeng aktif antara subduksi miring lempeng Australia di bawah Sumatra dan subduksi ortogonal di sepanjang Jawa. Pertemuan lempeng-lempeng ini menyebabkan seismisitas di wilayah tersebut didominasi oleh gempa subduksi dan sesar-sesar yang mana membawa implikasi serius terhadap risiko bahaya seismik, terutama di daerah padat penduduk, di mana gempa bumi dapat menimbulkan dampak yang cukup merusak. Beberapa kota besar di Jawa bagian barat dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi memerlukan pemantauan khusus terhadap risiko gempa karena terletak di wilayah yang aktif secara seismik. Penelitian ini mengaplikasikan metode Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA) untuk mengestimasi kemungkinan terjadinya gempa bumi di kota-kota di Jawa bagian barat dan sekitarnya seperti Kota Bandung, Cianjur, Cirebon, Garut, Jakarta, dan Ujung Kulon dengan rentang magnitudo 5,0 hingga 7,6 dalam periode 50 tahun dan radius 50km, 100km, dan 150km dari sumber gempa. Penelitian menunjukkan bahwa kekuatan guncangan gempa dipengaruhi oleh jarak dan magnitudo. Ujung Kulon memiliki probabilitas lebih tinggi untuk mengalami gempa bermagnitudo besar dibandingkan Cirebon, yang memiliki probabilitas terendah. Temuan ini dapat dijadikan acuan dalam perencanaan mitigasi bencana guna meminimalisir korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan kerugian ekonomi

2024
👤 Penulis: Amelia Nanda Wulan
🏷️ Seismologi 🏷️ Analisis Resiko Gempa Bumi 🏷️ Manajemen Risiko Bencana

STRATEGI PENGURANGAN RISIKO BENCANA TSUNAMI DI DESA BATUKARAS, PANGANDARAN

Indonesia, yang berada di jalur cincin api, sangat rentan terhadap bencana alam seperti tsunami. Kabupaten Pangandaran, khususnya Desa Batukaras, terletak di zona subduksi aktif yang rentan terhadap tsunami. Dengan potensi sumber daya alam yang tinggi, desa ini menghadapi risiko besar dari bencana tsunami yang dapat menyebabkan kerugian besar. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan rekomendasi strategi pengurangan risiko bencana (PRB) tsunami di Desa Batukaras. Penelitian ini menetapkan tiga tujuan pendukung: (1) menganalisis risiko bencana tsunami dengan mempertimbangkan komponen bahaya, kerentanan, keterpaparan, dan kapasitas adaptif, (2) mengevaluasi strategi PRB yang telah diimplementasikan, dan (3) mengkomparasikan strategi PRB yang ada dalam Dokumen Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) Desa Batukaras dengan implementasinya di lapangan. Penelitian ini dilakukan dengan mengkomparasikan hasil studi literatur terkait strategi PRB di berbagai lokasi di dunia dengan hasil wawancara dengan pemerintah desa, ketua FKDM, dan beberapa lapisan masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan, pelaku usaha, pekerja hotel dan ibu rumah tangga untuk melakukan evaluasi terhadap strategi PRB tsunami yang telah diimplementasikan, serta hasil analisis risiko bencana melalui pemetaan risiko bencana di Desa Batukaras. hasil komparasi ini dilakukan untuk membentuk rekomendasi strategi pengurangan risiko bencana yang sekiranya dapat diimplementasikan di Desa Batukaras. Hasil penelitian menunjukkan bahwa area yang paling rentan terhadap tsunami adalah bagian pesisir yang ditandai dengan warna merah dan kuning, terutama di wilayah utara dan sebagian kecil di bagian selatan Desa Batukaras yang ditunjukkan dengan variasi tingkat risiko tsunami yang tinggi. Evaluasi strategi PRB menunjukkan adanya beberapa keberhasilan ii dalam sosialisasi dan pembangunan infrastruktur dasar, tetapi masih terdapat banyak keterbatasan yang perlu diperbaiki. Selain itu, mayoritas dari daftar strategi PRB tsunami pada dokumen RPB masih belum diimplementasikan oleh pemerintah desa. Berdasarkan pada komparasi dari semua hasil tersebut dengan 82 penelitian terkait, dibentuk 67 rekomendasi strategi pengurangan risiko bencana tsunami untuk Desa Batukaras dengan implementasi yang ditujukan kepada berbagai pihak yaitu pemerintah desa, kementerian pendidikan, dan Lembaga lainnya. Sebagian besar rekomendasi strategi PRB tsunami tersebut dapat diimplementasikan di Desa Batukaras berdasarkan hasil wawancara dengan pemerintah desa. Penerapan strategi PRB tsunami ini digunakan untuk membantu mengurangi kerugian material dan korban jiwa, serta meningkatkan ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat di Desa Batukaras.

2024
👤 Penulis: Rika Prillya Mustafida
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Risiko Bencana 🏷️ Kecerdasan Buatan
Halaman 1 dari 2
💬