📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4 dokumenANALISIS POTENSI LIKUEFAKSI PADA ENDAPAN ALUVIAL KUARTER DI AREA DERMAGA GOSPIER, SURABAYA BERDASARKAN UJI PENETRASI STANDAR (SPT)
Proyek Revitalisasi Dermaga Gospier terletak di wilayah Tanjung Perak, Surabaya dan berada pada endapan aluvial berumur Kuarter yang bersifat lunak dan belum terkonsolidasi, membuat daerah tersebut lebih rentan terhadap gempabumi. Karenanya, diperlukan analisis terhadap potensi likuefaksi dalam proses pembangunan Dermaga Gospier. Penelitian dilakukan untuk menganalisis potensi likuefaksi serta besar displacement akibat lateral spreading dan settlement pada sedimen Kuarter yang terdapat di area Dermaga Gospier. Penelitian dilakukan menggunakan data Uji Penetrasi Standar (SPT) pada lima titik bor (BH1, BH2, BH3, BH4, dan BH5) dengan nilai PGA yang didapatkan melalui Analisis Deterministik Bahaya Gempabumi (DSHA). Analisis potensi likuefaksi dilakukan dengan menggunakan metode Tokimatsu-Yoshimi, NCEER, Idriss-Boulanger, serta Liquefaction Potential Index (LPI) dan Liquefaction Severity Index (LSI). Analisis lateral spreading dilakukan menggunakan metode Lateral Displacement Index (LDI) oleh Zhang dkk., sedangkan untuk analisis settlement menggunakan metode Ishihara-Yoshimine. Hasil analisis likuefaksi menunjukkan bahwa dari 5 titik bor hanya BH1, BH2, dan BH3 yang berpotensi mengalami likuefaksi, dengan lapisan tanah yang berpotensi berupa lapisan pasir dengan kandungan butiran halus rendah. Hasil perhitungan Liquefaction Potential Index (LPI) menunjukkan kategori medium (6,32) hingga high (32,26). Hasil perhitungan Liquefaction Severity Index (LSI) menunjukkan bahwa kategori very low (14,21) hingga moderate (46,31). Hasil perhitungan Lateral Displacement Index (LDI) menunjukkan nilai LDI terendah sebesar 1,38 m dan nilai LDI tertinggi mencapai 4,32 m. Hasil perhitungan settlement menunjukkan nilai terendah sebesar 10,74 cm dan nilai tertinggi sebesar 24,18.
ANALISIS STABILITAS LERENG DAN PERKUATAN LERENG GALIAN MENGGUNAKAN METODE SOIL NAILLING PADA PERSIAPAN LAHAN LOKASI ENGINE GENERATOR PLANT
Pembangunan Engine Generator Plant (EGP) sebagai infrastruktur pendukung energi terbarukan memerlukan persiapan lahan yang signifikan, yang pada lokasi studi menghasilkan lereng galian kritis setinggi 14 meter. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis stabilitas lereng galian tersebut dan menentukan konfigurasi perkuatan soil nailing yang paling optimal dari segi keamanan dan biaya. Analisis dilakukan menggunakan Metode Elemen Hingga (Finite Element Method - FEM) dengan model Hardening Soil melalui perangkat lunak MIDAS GTS NX. Tahapan analisis meliputi evaluasi stabilitas lereng pada kondisi awal, kemudian dilanjutkan dengan analisis enam variasi konfigurasi soil nailing dengan memvariasikan panjang nail (8,4 m dan 11,2 m) dan spasi (1,5 m, 1,75 m, dan 2 m). Kestabilan lereng dievaluasi pada kondisi jangka pendek (short term), jangka panjang (long term), serta saat menerima beban gempa pseudostatik, dengan pemeriksaan mencakup stabilitas global, stabilitas internal terhadap cabut (pullout), dan kekuatan tarik material nail. Hasil analisis menunjukkan bahwa lereng pada kondisi awal tidak stabil, dengan nilai Faktor Keamanan (FK) jangka panjang sebesar 1,125, yang berada di bawah syarat minimum SNI 8460:2017 yaitu 1,5. Setelah diperkuat, seluruh variasi konfigurasi soil nailing berhasil memenuhi syarat keamanan global dan cabut. Namun, tidak ada satupun desain awal yang memenuhi syarat keamanan tarik material baja. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa pengecilan spasi nail memberikan pengaruh yang lebih signifikan terhadap peningkatan Faktor Keamanan dibandingkan dengan penambahan panjang nail. Untuk mengatasi kegagalan tarik, dilakukan optimalisasi dengan meningkatkan diameter baja tulangan menjadi D36. Berdasarkan analisis teknis dan biaya, konfigurasi paling optimal yang terpilih adalah panjang nail 8,4 m, spasi 1,5 m, dan diameter baja D36. Desain ini terbukti memenuhi seluruh kriteria keamanan pada semua kondisi analisis dan merupakan solusi yang paling efisien dari segi biaya.
STUDI KETAHANAN GEMPA DARI STRUKTUR SRPMK GEDUNG BERTINGKAT RENDAH YANG DIRANCANG BERDASARKAN GAYA GRAVITASI DENGAN ANALISIS LTHA DAN NLTHA
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak penelitian dan studi yang dilakukan mengenai risiko kegempaan di Indonesia dan diperoleh risiko kegempaan yang terus meningkat. Oleh karena itu perlu perancangan yang baik untuk membuat bangunan tahan gempa. Salah satu tantangannya adalah proses perancangan bangunan tahan gempa yang memerlukan analisis yang cukup kompleks menggunakan perangkat lunak dimana diperlukan keahlian khusus untuk mengoperasikannya dan juga nilai investasi yang relatif mahal bagi praktisi konstruksi di Indonesia. Bangunan yang dirancang terhadap gaya gravitasi memiliki kapasitas tertentu untuk menahan gaya gempa. Pada bangunan bertingkat rendah umumnya beban gravitasi lebih dominan dibanding beban gempa dan dapat menahan gempa pada taraf tertentu. Dikarenakan perancangan berdasarkan gaya gravitasi sudah cukup dikenal dan proses perancangan yang lebih mudah, maka perancangan bangunan bertingkat rendah tahan gempa dapat dilakukan dengan mempertimbangkan gaya gravitasi saja namun tetap memenuhi persyaratan detailing SRPMK sehingga dapat menambah ketahanan gempa bangunan pada lokasi dengan risiko gempa yang tinggi. Pada kajian ini digunakan perangkat lunak berbasis spreadsheet yang penggunaanya lebih mudah, murah, dan popular digunakan. Penggunaan speadsheet dapat membantu proses perancangan bangunan bertingkat rendah yang lebih sederhana. Untuk memastikan ketahanan gempa dari struktur tersebut maka dilakukan juga kajian dengan analisis LTHA dan NLTHA dengan berbagai taraf gempa yang mungkin terjadi di Indonesia. Diperoleh pada kajian ini bahwa struktur bertingkat rendah yang dirancang berdasarkan beban gravitasi saja namun tetap memenuhi syarat SRPMK memiliki ketahanan akan gempa dengan berbagai beban gempa yang mungkin terjadi di Indonesia.
EVALUASI KINERJA STRUKTUR MODULAR TIPIKAL DI INDONESIA TERHADAP BEBAN GEMPA
Struktur modular tipikal di Indonesia menggunakan sistem sambungan petikemas atau biasa disebut dengan corner fittings. Penentuan tipe sambungan pada struktur modular di Indonesia sangat perlu mempertimbangkan kondisi dan potensi gempa, mengingat Indonesia termasuk negara yang rawan gempa. Berkaitan dengan hal tersebut, melalui penelitian ini, akan ditentukan tipe sambungan struktur modular tipikal di Indonesia berdasarkan parameter penentu kinerja serta akan dilakukan evaluasi kinerja dari keseluruhan struktur modular tipikal di Indonesia dengan diberikan pembebanan gempa. Secara garis besar, pada studi ini, dilakukan evaluasi terhadap struktur modular dengan sistem sambungan intermodule tipikal di Indonesia berkaitan dengan kinerja dan respons struktur dalam memikul beban gempa yang didesain berdasarkan SNI 2847:2019 dan menggunakan analisis spektrum respons ragam berdasarkan SNI 1726:2019 serta menentukan jumlah tingkat maksimum yang dapat didesain untuk struktur modular dengan sistem sambungan petikemas.