📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 6 dokumenPENGUKURAN GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS)UNTUK STUDI DEFORMASI KAWASAN GUNUNG MURIA DALAM RANGKA PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) merupakan salah satu sumber energi alternatif. Salah satu lokasi di sekitar Gunung Muria direncanakan menjadi PLTN di Indonesia. Pemilihan lokasi pembangunan PLTN harus pada lokasi yang aman dari kemungkinan terjadinya gempa yang disebabkan oleh pergerakan lempeng maupun aktivitas vulkanik. IAEA (International Atomic Energy Agency) memberikan garis besar panduan keselamatan lokasi yang aman untuk dibangun PLTN, yaitu pada lokasi pergerakan lempeng yang stabil dianggap tidak terjadi deformasi. Dengan demikian, dilakukan metode survei GPS untuk mencari vektor pergeseran, regangan, serta menganalisis pola deformasi. Data pengukuran GPS yang digunakan adalah data GPS kontinu yang dikelola BIG sebanyak empat titik di sekitar Gunung Muria tahun 2010 sampai tahun 2012 dan data pengukuran berkala lima titik pada lokasi Gunung Muria sebanyak 3 kala pada bulan November 2011, Januari 2013, dan September 2013 dengan lama pengamatan 12 jam. Pengolahan data dilakukan menggunakan perangkat lunak ilmiah Bernese 5.0 dengan metode radial terhadap ITRF 2008. Setelah nilai vektor pergeseran yang dihasilkan dinyatakan lolos oleh uji statistik, maka akan didapat vektor pergeseran dan nilai regangan. Hasil pengolahan data pengukuran kontinu menunjukkan hasil nilai vektor kecepatan pergeseran sekitar 2 mm/tahun ± 1mm ke arah tenggara, sedangkan pengolahan data pengukuran berkala pada Gunung Muria nilai kecepatan pergeserannya sekitar 5 mm/tahun ± 4mm ke arah barat daya dengan nilai regangan maksimum sekitar 8.8x10-7strain. Berdasarkan nilai regangan yang didapat, kawasan Gunung Muria termasuk kedalam kawasan pergerakan lempeng yang stabil.
ESTIMASI RISIKO GEMPA BUMI MELALUI PENGEMBANGAN PETA EKSPOSUR BERBASIS TAKSONOMI BANGUNAN, STUDI KASUS KAWASAN KONVERGENSI AKTIF SEGMEN BANDA
Penelitian ini menilai eksposur dan potensi kerugian akibat gempa pada fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan permukiman di Kawasan konvergensi aktif segmen Banda, yang berada pada zona tektonik kompleks antara Lempeng Australia, Pasifik, Eurasia, serta mikroblok lokal. Urgensi penelitian muncul dari kebutuhan informasi spasial rinci mengenai bangunan publik, karena fasdik dan faskes tidak hanya menyediakan layanan dasar tetapi juga sering berfungsi sebagai lokasi evakuasi darurat. Data eksposur makro saat ini belum cukup untuk mitigasi risiko lokal, sementara permukiman merupakan kategori bangunan paling luas dan rentan. Oleh karena itu, pemetaan mikrospasial berbasis taksonomi LW, MUR, MCF, dan CR menjadi penting untuk menilai kerentanan dan mendukung pengambilan keputusan. Hasil pemetaan menunjukkan sebagian besar fasdik (SD–SMP–SMA) bertipe MCF, dengan jumlah tertinggi di Sulawesi Tengah (SD: 2.277; SMP: 696; SMA: 180) dan Sulawesi Utara (SD: 1.892; SMP: 618; SMA: 193), sedangkan Maluku dan Maluku Utara masih didominasi MUR. Puskesmas sebagian besar juga MCF, terutama di Sulawesi Tengah (109 unit) dan Maluku (102 unit), sementara MUR dan LW hadir di Papua Barat dan Papua Barat Daya. Analisis populasi terdampak (bangunan dengan damage ratio ?10%) menunjukkan jumlah penduduk terdampak fasdik 12.438–35.343 jiwa (SD), 14.895–33.837 jiwa (SMP), dan 11.448–26.970 jiwa (SMA); faskes 1.125–18.874 jiwa per fasilitas; sedangkan permukiman menampilkan paparan tertinggi, mencapai ratusan ribu hingga lebih dari satu juta jiwa per provinsi. Penelitian ini menyediakan peta eksposur mikrospasial, estimasi kerugian ekonomi, dan jumlah populasi terdampak, yang dapat digunakan sebagai dasar ilmiah untuk mitigasi bencana, prioritisasi perkuatan bangunan, alokasi sumber daya, dan strategi kesiapsiagaan, mendukung pembangunan wilayah tangguh terhadap risiko gempa bumi.
ANALISIS STRUKTUR RESISTIVITAS BAWAH PERMUKAAN DAERAH CIANJUR KAITANNYA DENGAN TINGKAT KERUSAKAN AKIBAT GEMPABUMI TAHUN 2022 MENGGUNAKAN METODE MAGNETOTELLURIK
Gempabumi dengan kekuatan Mw=5,6 pada tahun 2022 terjadi di Daerah Cianjur. Gempabumi yang terjadi di wilayah ini merupakan salah satu gempabumi dangkal yang bersumber dari daratan dengan kedalaman sumber gempa sebesar 10 km dan dapat dikategorikan sebagai gempabumi merusak. Kerusakan yang diakibatkan meliputi kerusakan bangunan dan infrastruktur penunjang aktivitas masyarakat. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur bawah permukaan dan mampu mengidentifikasi lapisan lunak berdasarkan sebaran nilai resistivitas yang dapat dikorelasikan dengan besar faktor amplifikasi. Metode Magnetotellurik dilakukan di wilayah ini dengan menggunakan lima komponen medan listrik dan medan magnet. Metode Magnetotellurik memanfaatkan gelombang elektromagnetik dengan frekuensi 10?³ Hz sampai 10? Hz. Berdasarkan hasil inversi 1 dimensi dan hasil inversi 2 dimensi yang didapatkan dari pengukuran pada 3 titik pengukuran, salah satu bagian penyusun struktur bawah permukaan adalah lapisan lunak dengan nilai resistivitas yang berkisar antara 4 ?.m sampai dengan 64 ?.m. Lapisan lunak dapat memicu nilai faktor amplifikasi yang tinggi sehingga tingkat kerusakan pada daerah penelitian cukup tinggi.
RELOKASI HIPOSENTER GEMPA BUMI DI KOTA JAYAPURA MENGGUNAKAN METODE DOUBLE DIFFERENCE
Kota Jayapura merupakan wilayah yang mempunyai tatanan tektonik yang aktif, hal ini disebabkan oleh keberadaan Lempeng Pasifik, Lempeng Australia dan Lempeng Eurasia. Interaksi lempeng-lempeng tersebut mengakibatkan terjadinya gempa, beberapa diantaranya memiliki besaran magnitudo lebih besar dari M5 dan berdampak pada kerusakan bangunan signifikan. Salah satu kejadian gempa yang dirasakan adalah gempa M5,4 yang terjadi pada 9 Februari 2023. Gempa ini mengakibatkan kerusakan beberapa fasilitas umum, kantor pemerintahan, serta menyebabkan korban jiwa sebanyak 4 orang. Penentuan distribusi sumber gempa dapat dijadikan sebagai acuan awal untuk mempelajari perilaku dan analisis bahaya gempa. Hiposenter gempa sebelum dilakukan relokasi memiliki tingkat ketidakpastian yang relatif tinggi. Hal ini menyebabkan rendahnya akurasi penentuan hiposenter gempa di daerah Jayapura. Untuk mendapatkan hiposenter gempa yang lebih baik, maka perlu dilakukan analisis relokasi hiposenter. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah relokasi double difference dengan tujuan untuk meningkatkan tingkat akurasi hiposenter gempa. Pada penelitian Tugas Akhir ini, data yang digunakan adalah data waktu tiba gelombang P dan S berdasarkan katalog gempa BMKG periode 1 Januari 2018 sampai dengan 31 Juni 2022. Sedangkan data event yang digunakan adalah 3039 event, selanjutnya dilakukan relokasi dan diperoleh 2621 event dengan besaran magnitudo dari 1,2 sampai 6,1. Data hasil relokasi menunjukkan distribusi hiposenter menjadi lebih terfokus dan distribusi kedalaman gempa juga menjadi lebih konsisten, menandakan representasi yang lebih baik terhadap struktur bawah permukaan yang menunjukkan adanya tiga kluster yaitu kluster Mamberamo, kluster Jayapura dan kluster Pasir 6
STUDI SEISMIC HAZARD FUNCTION (SHF) SEBELUM GEMPA BESAR DI SEPANJANG PANTAI PULAU SUMATRA: ANALISA SHF BERDASARKAN PERUBAHAN B-VALUE
Analisa fungsi bahaya gempa (SHF) di sepanjang pulau Sumatra diinvestigasi berdasarkan perubahan b-value menggunakan katalog data gempa kerak dangkal. Area studi dianalisa di sekitar event gempa-gempa besar yang terjadi pada tahun 2000 sampai 2010. Perubahan b-value diestimasi menggunakan metode maximum likelihood dengan angka yang konstan. Pertama-tama, b-value di sekitar epissenter gempa dengan radius 150 km dihitung berdasarkan katalog data gempa dari tahun 193 sampai 2016 (b50). Kedua, b-value berdasarkan 5 tahun dengan satu tahun moving window (b5) diestimasi sebelum gempa besar dari tahun 2000 sampai 2010. Nilai b5 dihitung berdasarkan konstan. Kemudian, SHF dari b50 dan b5 dihitung dan dikomparasi. Hasilnya menunjukan bahwa probabilitas melebihi dari SHF b5 lebih tinggi setidaknya 5 tahun sebelum gempa besar terjadi. Maka dari itu, hasil yang diperoleh dari studi ini kemungkinan dapat sangat membantu untuk mitigasi gempa dan pemodelan dari studi kemungkinan bahaya gempa dan analisa selanjutnya.
PREDIKSI KEKUATAN GEMPA MENGGUNAKAN MODEL GENERALIZED SPACE TIME AUTOREGRESSIVE (GSTAR) DAN ARTIFICIAL NEURAL NETWORK (ANN) DENGAN MATRIKS BOBOT TIGA DIMENSI
Pulau Sumatera merupakan wilayah yang dilalui oleh sesar aktif, jalur gunung berapi, dan zona subduksi lempeng Eurasia dan Indo-Australia yang berada di bagian timur Samudera Hindia. Hal ini mengakibatkan 5 dari 25 wilayah rawan gempa di Indonesia berada di Pulau Sumatera. Gempa bumi memiliki karakteristik tidak dapat dicegah tetapi akibat yang ditimbulkan dapat dikurangi. Salah satu upaya untuk mengurangi kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa bumi adalah dengan melakukan prediksi kekuatan gempa menggunakan suatu model ruang-waktu seperti Generalized Space Time Autoregressive (GSTAR). Model GSTAR digunakan untuk mendeteksi pola linier dari data dan Artificial Neural Network (ANN) digunakan untuk menangkap pola nonlinier pada residual dari hasil model GSTAR. Selain itu, karena titik-titik pusat gempa yang berbeda memiliki kedalaman yang berbeda-beda, maka digunakan letak lokasi secara tiga dimensi untuk membangun matriks bobot melalui perkalian matriks Hadamard. Matriks bobot yang digunakan adalah matriks bobot uniform, invers jarak, dan modifikasi yang menggambarkan hubungan antar lokasi yang berbeda. Penelitian ini fokus untuk meneliti kekuatan gempa dari bulan Agustus 2013 sampai dengan Juli 2023 di wilayah zona subduksi Nias – Pagai dan sesar Utara-Barat Sumatera dengan Latitude (-4,544?S – 2,175?N) dan Longitude (95,545? - 102,656?E). Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa model residual GSTAR(1;1)-ANN dengan matriks bobot modifikasi memberikan kemampuan prediksi yang paling baik dengan rata-rata nilai MAPE hasil prediksi yang lebih kecil dibandingkan model lainnya yaitu sebesar 8,27%. Dari perhitungan nilai MAPE, model yang menggunakan ANN dapat meningkatkan performa model sebesar 88,89%. Selanjutnya dilakukan visualisasi melalui peta kontur untuk melihat kontur data asli dan hasil prediksi kekuatan gempa lima bulan kedepan.