📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4 dokumenPERANCANGAN APLIKASI MOBILE KESIAPSIAGAAN BENCANA BERBASIS GAMIFIKASI BAGI REMAJA TULI DI BANDUNG
Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia sebagai negara dengan tingkat indeks risiko bencana global. Bandung menjadi salah satu wilayah yang memiliki kerentanan geologi signifikan akibat aktivitas Sesar Lembang dan risiko gunung api. Di tengah ancaman ini, remaja Tuli (usia 15-18 tahun) menjadi kelompok yang paling rentan karena keterbatasan akses terhadap sistem peringatan dini dan media edukasi yang mayoritas berbasis audio serta teks kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk merancang aplikasi mobile edukasi kesiapsiagaan bencana yang inklusif bagi remaja Tuli di Bandung. Dengan menggunakan metode perancangan Double Diamond dan pendekatan wawancara, observasi, dan netnografi, ditemukan bahwa remaja Tuli memiliki ketergantungan tinggi pada persepsi visual namun mengalami hambatan linguistik pada informasi konvensional. Sebagai solusi, dirancang sebuah aplikasi mobile kesiapsiagaan bencana yang memiliki dua mode, yaitu mode belajar dan mode darurat. Dalam mode belajar, konten edukasi dirancang dengan pendekatan gamifikasi untuk meningkatkan motivasi dan retensi, sedangkan mode darurat dirancang agar memiliki navigasi yang sederhana. Hasil perancangan ini diharapkan dapat menurunkan tingkat kerentanan serta meningkatkan kemandirian remaja Tuli dalam menghadapi bencana geologi secara efektif dan menyenangkan.
PERENCANAAN MITIGASI BENCANA TSUNAMI AKIBAT GEMPA BUMI DI KEK MANDALIKA
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, sebagai destinasi pariwisata super prioritas, memiliki potensi bahaya gempa bumi dan tsunami yang signifikan akibat lokasinya yang berhadapan langsung dengan zona subduksi aktif dan berdekatan dengan segmen megathrust Jawa 3 serta Sumba. Analisis skenario terburuk melalui pemodelan menunjukkan potensi gempa bumi dapat mencapai magnitudo 9.08 Mw. Pemodelan tsunami dengan perangkat lunak Delft3D memprediksi tinggi gelombang maksimum dapat mencapai 24,4 meter di laut dan tinggi genangan di daratan hingga 19,8 meter, dengan waktu tiba gelombang di area Sirkuit Mandalika sekitar 25-28 menit pasca-gempa. Meskipun terdapat perbukitan yang dapat berfungsi sebagai Tempat Evakuasi Sementara (TES), analisis peta genangan dan aksesibilitas menunjukkan bahwa beberapa area tribun penonton sirkuit memiliki jarak dan akses yang terbatas untuk evakuasi horizontal secara efektif. Oleh karena itu, penelitian ini merancang sebuah Bangunan Evakuasi Vertikal (BEV) sebagai solusi mitigasi alternatif. BEV ini direncanakan sebagai bangunan multifungsi 4 lantai dengan dimensi 40x100 meter yang mampu menampung 4.000 orang dari tribun yang paling rentan. Struktur bangunan dirancang menggunakan material beton bertulang dan diperhitungkan agar tahan terhadap pembebanan gempa dan berbagai gaya akibat tsunami, seperti gaya hidrodinamis dan impak puing, sesuai standar FEMA P-646 dan SNI yang berlaku.
STUDI PERILAKU RAYAPAN GESER BATULEMPUNG DALAM KONDISI TERENDAM.
Sebuah bukaan tambang gamping direncanakan akan dijadikan zona konservasi air pada akhir umur tambangnya. Konsekuensinya adalah lereng batulempung di batas bukaan tambang tersebut akan terendam oleh air dan diprediksi akan mengalami perilaku rayapan akibat pembebanan oleh massanya sendiri. Penelitian berupa uji rayapan geser pada batulempung dalam kondisi terendam dimaksudkan untuk mensimulasikan kasus tersebut. Pengamatan selama pengujian rayapan menunjukkan bahwa dengan adanya peningkatan kandungan air pada batulempung dalam selang waktu tertentu akan memunculkan efek pelemahan hidrolik yang ditandai dengan perubahan laju deformasi pada tahap rayapan sekunder. Pemodelan rheologi dengan model burger dibuat untuk memodelkan fenomena tersebut. Hasilnya, kekuatan jangka panjang batulempung akan berkurang akibat kehadiran air dan efek pelemahan hidrolik akan semakin mengurangi kekuatan jangka panjang dari batulempung tersebut. Hasil analisis numerik dan Finite Element Analysis juga menunjukkan bahwa peningkatan deformasi geser akan menyebabkan pelemahan kekuatan geser batuan.
INVESTIGASI NILAI LAJU GERAK SESAR DI INDONESIA BERDASARKAN EARTHQUAKE-SCALING RELATIONSHIP
Tatanan tektonik Indonesia membuat negara ini memiliki risiko kejadian gempa bumi yang tinggi. Dari data yang dirilis USGS, setidaknya telah terjadi 5072 gempa bumi dalam rentang 2020 – 2022. Bencana gempa bumi di Indonesia dikategorikan sebagai bencana yang memberikan kerugian signifikan. Dengan keadaan ini, mitigasi adalah upaya yang krusial untuk dilakukan. Salah satu upaya mitigasi yang dapat dilakukan adalah melakukan pemodelan sumber gempa bumi sesar menggunakan metode Probabilistic Seismic Hazard Assessment (PSHA). Data laju gerak (slip-rate) sesar yang diperoleh dari perata-rataan nilai laju gerak sesar geologi dan geodesi adalah salah satu data masukan yang diperlukan untuk membuat model PSHA. Sayangnya, sekitar 60% dari sesar di Indonesia belum memiliki nilai laju gerak sesar geologi dan/atau geodesi. Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh dan menganalisis nilai laju gerak sesar yang belum diobservasi secara geologi dan/atau geodesi. Penelitian dilakukan dengan mengaplikasikan persamaan-persamaan yang berkaitan dengan earthquakescaling relationship. Data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia (PuSGeN) Tahun 2017. Dari pengolahan data yang dilakukan, didapatkan rentang nilai magnitudo dan laju sesar di Indonesia. Rentang nilai magnitudo momen sesar di Indonesia berturut-turut dari data PuSGeN, hasil perhitungan dengan formula Cheng dkk., dan hasil perhitungan dengan formula Gunawan: 6.1 – 8.2; 5.8 – 8.2; dan 6.3 – 8.0. Berikutnya, nilai laju gerak sesar di Indonesia berturut-turut dari data PuSGeN, hasil perhitungan dengan formula Cheng dkk., dan hasil perhitungan dengan formula Gunawan berada pada rentang: 0.05 – 35.00; 0.05 – 22.87; dan 0.05 – 19.98. Selisih antara ketiga jenis magnitudo momen tidak terlalu signifikan dengan nilai selisih tertinggi 1.4, sedangkan selisih antara ketiga jenis laju gerak cukup signifikan dengan nilai selisih tertinggi 34.92. Adapun nilai magnitudo momen dan laju gerak hasil perhitungan menggunakan metode Cheng dkk. dan Gunawan memiliki tingkat kemiripan paling tinggi.