📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 16 dokumenDETEKSI PENIPUAN PADA TRANSAKSI KARTU KREDIT DENGAN MODEL PEMBELAJARAN MENDALAM BERBASIS GATED RECURRENT NEURAL NETWORK
Pertumbuhan ekosistem pembayaran digital memicu peningkatan kejahatan finansial, khususnya penipuan kartu kredit yang menyebabkan kerugian ekonomi global. Metode deteksi konvensional berbasis aturan saat ini dinilai tidak memadai karena memiliki tingkat kesalahan deteksi yang tinggi dan gagal mengidentifikasi pola pada data transaksi sekuensial. Oleh karena itu, diperlukan penerapan model pembelajaran mendalam untuk mendeteksi penipuan dengan lebih akurat. Tugas Akhir ini menyusun dan membandingkan model berbasis Gated Recurrent Neural Network (RNN), yaitu Long Short-Term Memory (LSTM), Bidirectional LSTM (BiLSTM), Gated Recurrent Unit (GRU), dan Bidirectional GRU (BiGRU) untuk mengklasifikasi transaksi penipuan. Dalam penyusunan model, dilakukan penyeimbangan data menggunakan metode random undersampling untuk mengatasi ketidakseimbangan kelas yang ekstrem pada data. Selain itu, dilakukan optimasi hyperparameter melalui metode Grid Search dan pengujian model dengan serta tanpa mekanisme Attention. Metrik evaluasi utama difokuskan pada nilai Recall dan F1-Score. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa penambahan mekanisme Attention tidak memberikan peningkatan performa yang signifikan. Dengan memprioritaskan metrik Recall untuk meminimalkan lolosnya transaksi penipuan, diperoleh bahwa model GRU 2 hidden layer 32 neuron dengan mekanisme Attention dan BiGRU 1 hidden layer 32 neuron tanpa mekanisme Attention mampu menghasilkan nilai Recall tertinggi sebesar 98.17%. Model BiGRU mencatatkan nilai F1-Score sebesar 97.49% dan Precision sebesar 96.83%, sementara model GRU memperoleh F1-Score sebesar 97.42% dan Precision sebesar 96.69%. Pengujian Cross-Validation menunjukkan bahwa kedua arsitektur model tersebut bersifat sangat robust dan keandalannya terutama berasal dari arsitektur jaringan.
STRUKTUR PEMBIAYAAN OPTIMAL UNTUK PROYEK JALAN ANGKUT BATUBARA: ANALISIS KOMPARATIF CORPORATE FINANCE DAN PROJECT FINANCE DI PT ATLAS RESOURCES TBK
Tesis ini membahas dilema strategis dalam pendanaan Proyek Hauling Road Segmen H3 pada PT Atlas Resources Tbk, yang dinilai krusial untuk menghilangkan ketergantungan perusahaan terhadap jalan angkut milik pihak ketiga. Permasalahan utama terletak pada keputusan antara mendanai proyek menggunakan sumber daya internal melalui skema Corporate Finance atau memanfaatkan sumber pendanaan eksternal melalui penerapan Project Finance dengan skema Build–Operate–Transfer (BOT) dalam kemitraan private-to-private. Oleh karena itu, penelitian ini menerapkan analisis valuasi keuangan dan risiko, serta membandingkan hasil kedua skenario untuk menentukan alternatif pendanaan yang mampu memberikan nilai tertinggi yang telah disesuaikan dengan risiko bagi perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik capital budgeting sebagai alat analisis utama. Analisis dilakukan berdasarkan valuasi Discounted Cash Flow (DCF) yang dilengkapi dengan analisis sensitivitas, analisis skenario, dan simulasi Monte Carlo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua skenario pendanaan layak secara finansial. Skenario Corporate Finance menghasilkan Net Present Value (NPV) yang lebih tinggi sebesar Rp 1.243 miliar dengan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 48,33%. Di sisi lain, skenario Project Finance (BOT) menghasilkan NPV yang sedikit lebih rendah sebesar Rp 1.183 miliar, namun memberikan isolasi risiko melalui pengalihan risiko konstruksi dan operasional kepada Special Purpose Vehicle (SPV). Penelitian ini menyimpulkan bahwa skema Project Finance (BOT) merupakan alternatif yang paling tepat bagi PT Atlas Resources Tbk. Perbedaan nilai finansial sekitar 4,8% dipandang sebagai trade-off atas manfaat segregasi risiko pada tingkat proyek, yang meningkatkan fleksibilitas keuangan perusahaan induk serta membatasi eksposur perusahaan terhadap risiko spesifik proyek. Oleh karena itu, direkomendasikan agar PT Atlas Resources Tbk melanjutkan proyek dengan menggunakan model BOT, yang didukung oleh perjanjian konsesi yang terstruktur dengan baik terkait mekanisme pengalihan aset pada akhir masa konsesi.
DAMPAK KEBIJAKAN KREDIT HIJAU DAN PRAKTIK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP KINERJA KEUANGAN BANK DI INDONESIA
Penelitian ini mengkaji dampak dari kebijakan kredit hijau (Green Credit Policies) terhadap kinerja keuangan (Financial Performance) yang berperan sebagai variable moderasi. Studi ini menggunakan kerangka teori pemangku kepentingan (Stakeholder Theory) dan teori legitimasi untuk menganalisis sejauh mana inisiatif kredit hijau berpengaruh terhadap indicator utama kinerja keuangan seperti Return on Equity (ROE), Earning per Share (EPS), dan Tobin’s Q. Data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup 34 bank yang ada di Inonesia selama periode 2020 sampai 2024. Dengan memanfaatkan data tersebut, peneliti menerapkan model regresi untuk menguji hubungan antar variabel. Hipotesis yang diajukan berkaitan dengan pengaruh positif dari CCP yang mencerminkan transparansi dalam operasional bank, yang pada akhirnya memperkuat ketahanan finansial dan keberlanjutan jangka panjang. Untuk memastikan validitas hasil dan menghindari bias kausalitas terbalik maupun endogenitas, penelitian ini juga melakukan uji robustitas. Hal ini menjadi penting karena penelitian ini memberikan kontribusi terhadap literatur keuangan berkelanjutan dengan menyajikan bukti empiris mengenai manfaat finansial dari penerapan GCP. Temuan dari studi ini diharapkan memberikan implikasi kebijakan yang substansial, khususnya dalam mendorong kerangka regulasi yang mendukung transparansi dalam keuangan hijau. Bagi institusi perbankan, hasil penelitian ini juga menunjukkan adanya keunggulan kompetitif yang diperoleh melalui integrasi aspek keberlanjutan dalam strategi Perusahaan yang berdampak pada peningkatan valuasi pasar dan profitabilitas
MODEL VALUE INDEX UNTUK REKAYASA PRODUK FINANSIAL DENGAN PENERAPANNYA PADA DIGITAL LOAN
Penelitian ini mengatasi tantangan sosio teknis yang kompleks dalam ekosistem keuangan digital, khususnya digital loan, yang disebabkan oleh asimetri informasi dan model evaluasi yang tidak memadai, seperti credit scoring konvensional. Model credit scoring tradisional dianggap statis, hanya berfokus pada riwayat borrower dan gagal merepresentasikan nilai kontrak pinjaman secara holistik dan dinamis, yang berkontribusi pada tingginya angka kredit bermasalah Non-Performing Loan (NPL) serta terhambatnya inklusi keuangan yang adil dan berkelanjutan. Sebagai respons terhadap permasalahan tersebut, penelitian ini merancang dan membangun sistem rekayasa finansial bernama Smart Loan Arranger. Inti dari sistem ini adalah Model Value Index, sebuah artefak rekayasa desain yang mereformulasi kontrak pinjaman melalui pendekatan Value Engineering dan paradigma Smart Engineering. Model tersebut mengukur nilai intrinsik berdasarkan rasio antara fungsi dan biaya dari perspektif multi stakeholder, baik peminjam maupun pemberi pinjaman. Penelitian ini menggunakan pendekatan Design Science Research Methodology (DSRM), yang meliputi tahapan identifikasi masalah, penentuan tujuan solusi, perancangan dan pengembangan, demonstrasi, evaluasi, serta komunikasi hasil. Penerapan metode ini menghasilkan peningkatan akurasi evaluasi, di mana model Value Index dengan AHP pada awalnya terbukti mampu meningkatkan tingkat akurasi dari 64% pada metode konvensional menjadi 76,44% dan kemudian meningkat kembali menjadi 84,05% ketika bobot evaluasi diperoleh melalui integrasi Value Index dan machine learning. Simulasi berbasis Agent-Based Model (ABM) juga memperlihatkan adanya potensi penurunan rata-rata NPL sebesar 16,3% di berbagai skenario ekonomi (kondisi baik, normal, maupun krisis). Lebih lanjut analisis statistik menunjukkan adanya korelasi negatif yang kuat antara Value Index berbasis machine learning dengan NPL riil, dengan koefisien Pearson sebesar 0,787 dan nilai P sebesar 0,0069, yang menegaskan signifikansi temuan tersebut. Kontribusi utama disertasi ini adalah penyediaan kerangka kerja rekayasa nilai berbasis teknologi yang sistematis dan aplikatif. Kerangka ini mendukung pengambilan keputusan finansial yang lebih cerdas, adaptif, dan inklusif, khususnya untuk pembiayaan produktif sektor UMKM. Selain itu, disertasi ini berkontribusi pada pengembangan model Value Index pada produk finansial ii (digital loan), serta strategi peningkatan akurasi pengukuran nilai Value Index dengan menggunakan machine learning. Secara keseluruhan, Model Value Index yang dikembangkan terbukti mampu meningkatkan akurasi dan performa dalam evaluasi kontrak pinjaman digital, sekaligus menjaga stabilitas arus kas pada berbagai skenario ekonomi.
RISIKO KEUANGAN DAN MANAJEMEN UTANG DI KALANGAN PEMUDA
Penelitian ini mengkaji bagaimana anak muda mengelola utang dan membuat keputusan keuangan dalam konteks ekonomi digital yang berkembang pesat. Studi ini mengeksplorasi kondisi literasi keuangan saat ini, tantangan perilaku, serta tingkat paparan risiko keuangan di kalangan generasi muda. Dengan menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) yang dipandu oleh PRISMA 2020 V2, artikel-artikel dikumpulkan dari basis data Scopus. Setelah proses penyaringan, sebanyak 18 artikel berkualitas tinggi dipilih untuk dianalisis secara kualitatif. Temuan penelitian menyoroti isu-isu utama seperti perilaku keuangan impulsif, kurangnya pendidikan keuangan yang terarah, serta peran layanan keuangan digital dalam membentuk pengambilan keputusan anak muda. Melalui analisis bibliometrik menggunakan VOSviewer, studi ini juga mengidentifikasi tren riset dan kesenjangan konseptual terkait risiko dan literasi keuangan generasi muda. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperjelas pemahaman mengenai bagaimana kerentanan finansial berkembang pada anak muda, serta memberikan arahan untuk strategi edukasi keuangan dan pengembangan kebijakan yang lebih berlandaskan pendekatan perilaku.
BAGAIMANA BUY NOW, PAY LATER MEMPENGARUHI PERILAKU BELANJA REMAJA DAN AKUMULASI UTANG DI INDUSTRI FASHION INDONESIA
Penelitian ini menganalisis dampak dari layanan Buy Now, Pay Later (BNPL) terhadap perilaku konsumsi dan tingkat keterlilitan utang remaja Indonesia dalam sektor mode. Seiring berkembangnya industri ritel daring yang semakin banyak mengintegrasikan layanan BNPL, metode pembayaran ini menjadi semakin populer di kalangan remaja berusia 15 hingga 24 tahun karena kemudahannya, kenyamanan penggunaan, dan kemampuannya dalam memenuhi keinginan untuk kepuasan instan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional) dan melibatkan 157 responden sah melalui survei daring. Analisis data dilakukan menggunakan SPSS versi 26 dengan pendekatan statistik deskriptif, korelasi, dan regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BNPL merupakan metode pembayaran yang umum digunakan dalam pembelian produk-produk mode, namun diikuti oleh keterlambatan pembayaran dan peningkatan jumlah utang di kalangan remaja. Data juga menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara penggunaan BNPL dengan perilaku konsumtif yang impulsif serta kesadaran akan tanggung jawab keuangan. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun pengguna BNPL menunjukkan tingkat kesadaran terhadap utang, kemudahan layanan tersebut justru turut mendorong perilaku konsumsi yang tidak terkontrol. Penelitian ini mengisi kesenjangan literatur yang ada terkait perilaku keuangan remaja di tengah pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Studi ini menekankan pentingnya literasi keuangan, desain layanan keuangan digital yang bertanggung jawab, serta peran regulasi agar penggunaan BNPL tidak mengorbankan kesejahteraan finansial jangka panjang remaja demi kenyamanan sesaat.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI GAGAL BAYAR DALAM PINJAMAN ONLINE DI INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana motivasi ekonomi, modal sosial, perilaku berisiko, dan literasi keuangan dapat mempengaruhi gagal bayar pinjaman daring di Indonesia, dengan menanggapi meningkatnya kekhawatiran akan meningkatnya tingkat gagal bayar pinjaman. Platform pinjaman daring telah berkembang pesat sebagai layanan keuangan alternatif, terutama di kalangan pekerja informal dan masyarakat kurang mampu. Meskipun menawarkan kemudahan dan aksesibilitas, banyak pengguna menghadapi tantangan dalam pembayaran kembali, yang menyebabkan gagal bayar yang meluas. Penelitian sebelumnya sering kali berfokus pada faktor-faktor yang terisolasi, tetapi hanya sedikit yang mengeksplorasi efek gabungan dari motivasi peminjam, lingkungan sosial, pemahaman keuangan, dan kecenderungan risiko. Studi kuantitatif ini menargetkan peminjam digital di Indonesia dengan menggunakan data cross-sectional yang dikumpulkan melalui survei daring yang dilakukan pada bulan April-Mei 2025. Sebanyak 400 respons yang valid dikumpulkan menggunakan teknik sampel. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dalam SPSS dan regresi logistik biner untuk memeriksa hubungan antara setiap variabel dan kemungkinan gagal bayar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi ekonomi memiliki dampak positif terkuat pada gagal bayar, sementara modal sosial dan literasi keuangan secara signifikan mengurangi risiko gagal bayar. Perilaku pengambilan risiko, meskipun terkait positif, tidak signifikan secara statistik. Studi ini berkontribusi pada literatur pinjaman daring dengan mengintegrasikan dimensi perilaku, sosial, dan ekonomi, serta menawarkan rekomendasi praktis untuk platform teknologi finansial dan pembuat kebijakan, seperti memperkuat penilaian peminjam, mengintegrasikan edukasi keuangan ke dalam aplikasi pinjaman, dan mengembangkan langkah-langkah perlindungan sosial untuk peminjam yang rentan. Keterbatasannya meliputi distribusi sampel yang luas dan tidak merata serta ketergantungan pada data yang dilaporkan sendiri. Penelitian di masa mendatang didorong untuk mengeksplorasi perbedaan regional, faktor budaya, dan wawasan kualitatif yang mendalam tentang perilaku peminjam.
MODEL PENDETEKSI FRAUD PADA SOCIAL FINANCIAL GRAPH MENGGUNAKAN DUAL-GATED GRAPH NEURAL NETWORK
Jumlah nasabah Fintech Lending di Indonesia pada akhir tahun 2024 telah mencapai 21,98 juta nasabah yang tersebar pada berbagai kelompok usia. Di satu sisi, peningkatan jumlah nasabah memberikan kontribusi bagi perekonomian, namun di sisi lainnya juga membawa risiko fraud yang dapat merugikan kedua belah pihak. Salah satu modus operandi yang paling umum terjadi pada Fintech Lending adalah pengajuan kredit fiktif menggunakan identitas curian yang berkontribusi pada tingkat Non-Performing Loan (NPL) dari Fintech Lending. Untuk meminimalkan potensi kerugian yang diakibatkan oleh kejadian fraud, OJK sebagai regulator telah mewajibkan Fintech Lending untuk menerapkan Strategi Anti Fraud (SAF) dengan salah satu pilarnya, yaitu pendeteksian fraud. Pendeteksian fraud pada Fintech Lending dapat dilakukan menggunakan GNN terhadap graf social financial yang terbentuk dari hubungan antar nasabah. Simpul pada graf merepresentasikan nasabah dan sisi pada graf menyatakan hubungan kontak darurat dari nasabah tersebut. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk memanfaatkan mekanisme attention pada GNN untuk mendeteksi nasabah fraud. Namun demikian, mekanisme attention berpotensi untuk menimbulkan derau dan meningkatkan kompleksitas dari model. Penelitian ini menggunakan mekanisme gating sebagai alternatif dari mekanisme attention. Mekanisme gating dilakukan pada dua tahapan (dual-gated) untuk menghasilkan node embedding, yaitu pada proses agregasi informasi simpul tetangga dan tahapan update informasi simpul. Hasil eksperimen pada dataset DGraph menunjukkan bahwa model yang dibangun memiliki nilai ROC-AUC 0,8538±0,0009, yaitu meningkat sebanyak 0,0079 dari model baseline. Selain itu, model juga berhasil menurunkan jumlah parameter menjadi hanya 40% dari model baseline sehingga proses training dapat dilakukan menggunakan GPU dengan kapasitas yang lebih rendah dibandingkan model baseline. Hasil eksperimen juga menunjukkan bahwa model yang dibangun memiliki waktu inferensi yang rendah, yaitu 0,24 detik pada graf dengan 3,7 juta simpul dan 4,3 juta sisi sehingga memungkinkan untuk melakukan pendeteksian secara real-time.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN PEMBELIAN DAN PENJUALAN SAHAM BAGI DIASPORA INDONESIA DI QATAR
Penelitian ini mengkaji faktor-faktor utama yang memengaruhi keputusan investasi saham di kalangan diaspora Indonesia di Qatar serta bagaimana keputusan tersebut berdampak pada pencapaian tujuan keuangan jangka panjang. Di tengah meningkatnya minat komunitas ini terhadap investasi saham, kajian ilmiah mengenai determinan perilaku, kognitif, dan struktural yang memengaruhi pengambilan keputusan masih terbatas. Studi ini mengisi kekosongan tersebut dengan menganalisis peran faktor internal—seperti literasi keuangan, toleransi risiko, strategi investasi, dan pengalaman—serta faktor eksternal seperti tren pasar, kinerja industri, regulasi, dan kebijakan dividen. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui SmartPLS 4. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert dan wawancara mendalam yang melibatkan investor saham diaspora Indonesia di Qatar. Model penelitian memposisikan pengambilan keputusan sebagai variabel mediasi antara faktor internal dan eksternal dengan pencapaian tujuan keuangan jangka panjang, seperti akumulasi kekayaan, keamanan finansial, dan kesiapan pensiun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal dan eksternal sama-sama berpengaruh signifikan terhadap keputusan investasi saham. Faktor internal— khususnya literasi keuangan dan pengalaman—memiliki dampak positif yang kuat, sementara faktor eksternal seperti dinamika pasar dan imbal hasil dividen juga berperan penting. Pengambilan keputusan berfungsi sebagai mediator parsial, yang menekankan pentingnya strategi yang rasional dan emosional yang seimbang dalam mencapai hasil keuangan yang berkelanjutan. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman perilaku investasi diaspora dan menawarkan wawasan praktis bagi lembaga keuangan dan pembuat kebijakan untuk meningkatkan kesiapan investor. Studi ini menekankan perlunya edukasi keuangan yang terarah, akses pasar yang memadai, dan panduan perilaku untuk mendukung diaspora Indonesia dalam membuat keputusan investasi saham yang tepat dan berorientasi pada tujuan.
NILAI INTRINSIK PT ADHI KARYA (PERSERO) TBK. TERKAIT DENGAN RENCANA INTEGRASI PADA BADAN USAHA MILIK NEGARA KARYA
BUMN Karya juga terpengaruh oleh kondisi perekonomian yang berdampak pada kinerja keuangannya. Bentuk nyatanya adalah mengacu pada agenda terkait penggabungan BUMN Karya dari 7 menjadi 3 BUMN Karya. Dimana penggabungan tersebut berasal dari Hutama Karya dengan Waskita Karya, Pembangunan Perumahan dengan Wijaya Karya, dan Adhi Karya dengan Brantas Abipraya dan juga Nindya Karya. Dalam proses penggabungan perusahaan tersebut, maka perlu dilakukan perhitungan nilai intrinsik perusahaan sebagai bentuk uji tuntas dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Mekanisme penggabungan terlihat dalam bentuk holding dan subholding. Dengan belum adanya keputusan perusahaan mana yang ditunjuk sebagai induk holding, tentunya ketiga BUMN Karyatersebutmasihmemiliki peluangyangkuat. Dalam penelitian ini penulis melakukan analisis nilaiintrinsikPTAdhiKarya(Persero)Tbk. dalam rangka penggabungan BUMN Karya. Analisis nilai intrinsik dalam penelitian ini menggunakan metode penilaian absolut dengan pendekatan Analisis DCF dan penilaian relatif dengan pendekatan analisis EV/EBITDA. Setelah itu penulis juga memberikan rekomendasimengenairencanastrategisyangberkaitandengankegiatanrencanaintegrasi.
VALUATION AND BUSINESS PERFORMANCE ANALYSIS OF PT BARITO RENEWABLES ENERGY TBK. (BREN) POST-IPO
Penelitian ini menganalisis valuasi dan kinerja keuangan PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN), salah satu pemain utama di sektor energi terbarukan Indonesia, setelah Penawaran Umum Perdana (IPO) pada Oktober 2023. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai intrinsik BREN menggunakan metode Discounted Cash Flow (DCF) dengan pendekatan Free Cash Flow to the Firm. Penulis juga melakukan valuasi BREN menggunakan pendekatan Relative Valuation berdasarkan Price-to-Earnings Ratio (PER), Price-to-Book Value (PBV), dan Enterprise Value to EBITDA (EV/EBITDA). Metode DCF menunjukkan bahwa nilai intrinsik per saham BREN adalah USD 0,00832, sedangkan harga sahamnya adalah USD 0,486, yang mengindikasikan bahwa BREN dalam kondisi overvalued. Metode Relative Valuation menunjukkan bahwa PER, PBV, dan EV/EBITDA perusahaan lebih tinggi dibandingkan rata-rata perusahaan sejenis di industrinya. Hal ini menunjukkan overvaluasi yang didorong oleh antusiasme investor dan perilaku perdagangan spekulatif. Dari perspektif struktur modal, BREN memiliki rasio utang terhadap ekuitas (Debt-toEquity Ratio) dan rasio utang terhadap aset (Debt-to-Asset Ratio) yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata perusahaan sejenis. Hal ini menyoroti risiko yang terkait dengan leverage keuangan perusahaan meskipun efisiensi operasionalnya kuat, seperti yang tercermin dari margin EBITDA sebesar 84%. Hasil penelitian ini menyoroti perlunya mengatasi anomali valuasi untuk menyelaraskan ekspektasi pasar dengan kinerja keuangan dan prospek pertumbuhan BREN. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pemahaman dinamika overvaluasi pada perusahaan energi terbarukan yang sedang berkembang serta memberikan wawasan bagi investor, pembuat kebijakan, dan pemangku kepentingan industri. Dengan mengidentifikasi risiko keuangan dan ketidakefisienan pasar, penelitian ini menekankan strategi untuk meningkatkan kinerja keuangan, memperkuat keberlanjutan finansial, dan mendukung transisi energi terbarukan di Indonesia.
PERUBAHAN IKLIM SEBAGAI RISIKO BISNIS : PERSPEKTIF PERBANKAN DI INDONESIA
Perubahan iklim saat ini telah menjadi salah satu risiko bisnis yang harus dievaluasi, diukur, dimitigasi, dan dikelola dengan cermat oleh semua entitas, termasuk entitas perbankan. Dampak signifikan yang dapat ditimbulkan akibat perubahan iklim terhadap kondisi keuangan dan keberlangsungan usaha suatu entitas telah menjadikannya sebagai satu hal yang penting untuk disikapi dan dimitgasi sejak awal temasuk oleh sektor perbankan. Pada Juni 2022, Komite Basel untuk Pengawasan Perbankan (Basel Committee on Banking Supervision, BCBS) telah mengeluarkan prinsip-prinsip umum bagi perbankan di dunia l dalam melakukan manajemen risiko dan pengawasan terkait perubahan iklim, yang dituangkan dalam dokumen berjudul 'Prinsip-Prinsip Pengelolaan dan Pengawasan Risiko Keuangan Terkait Iklim yang Efektif'. Pengelolaan risiko keuangan terkait perubahan iklim memerlukan kerangka manajemen yang kuat dan alat informasi yang andal, yang memungkinkan bank untuk memantau, mengukur, dan mengelola portofolio aset yang terpengaruh oleh risiko keuangan akibat perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesiapan industri perbankan di Indonesia dalam mengadopsi kerangka manajemen risiko keuangan terkait perubahan iklim yang dikembangkan oleh BCBS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metodologi berupa wawancara mendalam dan semi terstruktur untuk menggali narasi subjektif dan refleksi dari para responden. Tujuan utama dari interview tersebut adalah untuk menggali pemahaman para profesional perbankan mengenai bagaimana risiko perubahan iklim mempengaruhi bisnis perbankan, terutama dalam aspek manajemen risiko, pengambilan keputusan, dan penerapan strategi berkelanjutan. Penelitian ini mengambil sampel eksekutif bankers yang memiliki kehalian di bidang risk management pada bank-bank besar di Indonesia dan juga regulator (FSA dan Bank Sentral). Hasil penelitian ini memberikan gambaran mengenai perspektif industri perbankan di Indonesia dalam menghadapi risiko bisnis yang disebabkan oleh perubahan iklim, kebijakan Financial Services Authority (FSA) terkait manajemen risiko perbankan terhadap perubahan iklim, kesiapan FSA untuk mengadopsi kerangka manajemen risiko keuangan terkait perubahan iklim yang disusun oleh BCBS, pandangan Bank Sentral tentang integrasi risiko iklim dalam pengawasan makroprudensial, serta dampaknya terhadap stabilitas keuangan dan ketahanan ekonomi. Penelitian ini juga menyajikan rekomendasi kebijakan serta kesiapan perbankan Indonesia dalam menerapkan kerangka manajemen risiko yang efektif terkait perubahan iklim berdasarkan prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh Komite Basel.
DAMPAK PANDEMI COVID-19 PADA SEKTOR PERBANKAN INDONESIA: STUDI PERBANDINGAN BANK KBMI 4
Awal dekade 2020 an dibuka dengan gangguan global sangat besar yang disebabkan oleh pandemi Coronavirus disease 2019 (COVID-19). Seluruh aspek kehidupan terdampak oleh virus ini. Sektor perbankan Indonesia yang terikat erat dengan beraneka ragam industri, mendapatkan dampak secara langsung dan tidak langsung. Penelitian ini menyelidiki dampak dari pandemi COVID-19 (pada masa 2020-2021) terhadap performa keuangan bank-bank yang masuk dalam Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti 4- KBMI 4. Tujuan dari penelitian ini tidak hanya untuk menyelidiki perbedaan antara performa keuangan sebelum dan sesaat periode pandemi tetapi juga faktor makroekonomi yang mungkin bisa membantu menjelaskan performa bank-bank ini pada periode pandemi. Penelitian ini menemukan perbedaan antara performa keuangan sebelum dan pada saat pandemi. Ditemukan juga bukti bahwa ada faktor makroekonomi yang mempengaruhi performa keuangan, terutama kepercayaan konsumen, yang berkorelasi secara positif dan negatif dengan performa keuangan bank-bank tersebut.
KAJIAN POTENSI IMPLEMENTASI ERM (ENTERPRISE RISK MANAGEMENT) SEBAGAI METODE MANAJEMEN RISIKO KEUANGAN PADA PERUSAHAAN KONSTRUKSI DI INDONESIA
Industri konstruksi merupakan merupakan salah satu sektor industri yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Peningkatan kebutuhan akan infrastruktur tidak membuat Perusahaan Konstruksi Indonesia memiliki kinerja keuangan yang baik, dimana terbukti dengan banyaknya perusahaan yang mengalami gangguan kinerja hingga mengalami kegagalan dalam beberapa tahun terakhir. Kegagalan di industri konstruksi sekitar 80% diakibatkan oleh buruknya kondisi dan manajemen keuangan perusahaan konstruksi. Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan sebelumnya juga diketahui bahwa kinerja keuangan Perusahaan Konstruksi Indonesia sangat rentan terhadap adanya pengaruh eksternal yang berasal dari kondisi pasar dan perekonomian negara. Oleh karena itu, salah satu tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan mengimplementasikan ERM (Enterprise Risk Management) dalam manajemen risiko keuangan pada Perusahaan Konstruksi Indonesia. ERM merupakan proses manajemen risiko yang melibatkan dewan direksi, manajemen, dan pelaksana dan dintegrasikan dalam aktivitas bisnis perusahaan (COSO, 2004). Implementasi ERM sebagai manajemen risiko keuangan perusahaan dianggap mampu membantu perusahaan menghindari dan meminimalkan dampak dari risiko keuangan pada aktivitas bisnis perusahaan (KPMG, 2010). ..........
ESTIMASI CADANGAN AGREGAT KLAIM IBNR MENGGUNAKAN GENERALIZED ADDITIVE MODEL (GAM)
Pengelolaan cadangan asuransi sangat penting untuk menjaga stabilitas keuangan perusahaan asuransi, khususnya dalam menghadapi klaim IBNR (Incurred But Not Reported), yaitu klaim yang telah terjadi tetapi belum dilaporkan. Dalam penelitian ini, data yang digunakan berasal dari produk salah satu perusahaan asuransi terkemuka di Indonesia. Penelitian ini menerapkan Generalized Additive Model (GAM) untuk mengestimasi cadangan klaim IBNR. GAM dipilih karena fleksibilitasnya dalam memodelkan hubungan non-linear antara variabel independen dan dependen, memungkinkan pemanfaatan data historis yang kompleks secara lebih efektif. Delapan variasi pemodelan dilakukan dengan kombinasi distribusi Gamma dan Inverse Gaussian, jumlah knot, serta fungsi smooth, guna menemukan model terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk produk A, model terbaik adalah dengan distribusi Gamma, 4 knot, dan cubic spline basis. Sementara itu, untuk produk B, model terbaik terdiri dari dua model yaitu distribusi Gamma, 4 knot, dengan cubic spline basis dan penalized regression splines. Berdasarkan model terbaik ini, cadangan yang diperlukan hingga tahun 2027 untuk produk A adalah sebesar IDR 591,378,610,000 dan untuk produk B adalah rata-rata dari dua model terbaik sebesar IDR 364,758,024,000, sehingga total cadangan yang harus disiapkan perusahaan mencapai IDR 956,136,634,000. Estimasi cadangan yang akurat ini membantu perusahaan asuransi memastikan kemampuan mereka dalam menanggulangi klaim yang belum dilaporkan, menjaga keseimbangan keuangan, dan meminimalkan risiko keuangan di masa depan.