📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 2 dokumenEVALUASI KESESUAIAN LINGKUNGAN MENURUT PERSEPSI PENGGUNA PADA RUANG BAWAH TANAH DI STASIUN DUKUH ATAS, DAERAH KHUSUS JAKARTA
Pesatnya urbanisasi di Indonesia meningkatkan kebutuhan ruang perkotaan, sehingga pemanfaatan ruang bawah tanah menjadi alternatif penting dalam pengembangan kota. Salah satu bentuk pemanfaatannya adalah stasiun bawah tanah sebagai bagian dari sistem perkeretaapian perkotaan. Ruang bawah tanah memiliki karakter khusus karena bersifat tertutup, bergantung pada sistem buatan, serta dapat memengaruhi kenyamanan, orientasi, rasa aman, dan pengalaman pengguna. Oleh karena itu, evaluasi kualitas lingkungan stasiun bawah tanah diperlukan agar ruang ini tidak hanya berfungsi sebagai prasarana transit, tetapi juga sebagai ruang pelayanan publik yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas lingkungan ruang bawah tanah Stasiun Dukuh Atas dengan pendekatan Environmental Suitability Evaluation. Pendekatan ini menilai kualitas ruang melalui lima kriteria, yaitu keselamatan, kemudahan, keberfungsian, kenyamanan, dan estetika. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan metode campuran. Data primer diperoleh melalui kuesioner terhadap 205 pengguna, observasi lapangan, dan wawancara semi-terstruktur dengan pengelola stasiun. Data sekunder diperoleh melalui artikel jurnal, laporan pendukung, serta informasi laman terkait preseden stasiun bawah tanah. Analisis dilakukan melalui analisis deskriptif kuantitatif, analisis fotografi, dan analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas lingkungan Stasiun Dukuh Atas berada pada kategori baik dengan nilai rata-rata 3,88 dari 5,00. Kriteria tertinggi adalah kenyamanan sebesar 4,15, diikuti keselamatan (3,97), kemudahan (3,92), estetika (3,75), dan keberfungsian (3,60). Pada tingkat komponen, aspek dengan penilaian sangat baik meliputi petunjuk arah, kebersihan, kenyamanan pencahayaan, pengendalian keselamatan harian, dan kenyamanan termal. Namun, waktu perpindahan antarmoda, lanskap alami, dan ruang aktivitas rekreatif masih perlu ditingkatkan. Studi ini menyarankan peningkatan efisiensi perpindahan antarmoda, penyediaan ruang singgah sederhana, serta integrasi elemen hijau atau visual alami yang sesuai dengan standar keselamatan dan operasional stasiun bawah tanah
KAJIAN FUNGSI EKOSISTEM HUTAN KOTA BABAKAN SILIWANGI DAN TEGALLEGA DI KOTA BANDUNG DALAM MEREGULASI SUHU DAN MEREDAM KEBISINGAN
Kota Bandung mengalami peningkatan suhu sebesar 0,79–3,49 °C dalam satu dekade terakhir, serta menjadi kota paling macet di Indonesia dan peringkat ke-12 dunia pada tahun 2024. Akibatnya peningkatan suhu dan juga kebisingan menjadi permasalahan di area perkotaan. Hutan kota sebagai bagian dari RTH berperan penting dalam memperbaiki mikroklimat melalui evapotranspirasi dan meredam kebisingan melalui daya serap dan pantulan gelombang suara. Saat ini kajian ekologi terkait dengan fungsi hutan kota dalam meregulasikan suhu dan kebisingan di ekosistem urban masih sedikit dilakukan, oleh karenanya penelitian ini dilakukan untuk mengkaji fungsi hutan kota dalam menurunkan suhu udara dan kebisingan di dua hutan kota, yaitu Hutan Kota Babakan Siliwangi (HKBS) dan Tegallega (HKT). Komunitas tumbuhan di kedua hutan kota dianalisis dengan menggunakan metode plot kuadrat berukuran 10 x 10 m2 (12 plot di setiap lokasi, total 24 plot). Citra satelit digunakan untuk mengukur tingkat kehijauan area (kepadatan vegetasi) di kedua lokasi penelitian melalui Normalized Difference Vegetation Index (NDVI ). Pengukuran suhu udara dilakukan di tiga titik hutan kota, yaitu bagian dalam, tepi, dan luar pada pagi, siang, dan sore hari (3 pengulangan di setiap titik), sedangkan kebisingan (dB) diukur hanya di bagian dalam dan luar hutan kota (3 pengulangan). Survei secara kualitatif terkait persepsi kenyamanan hutan kota dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 30 orang pengunjung di setiap lokasi. Hasil analisis vegetasi diketahi bahwa HKBS didominasi oleh tumbuhan Pometia pinnata (INP= 119,09%) dan Spathodea campanulata (INP=55,44%), sedangkan HKT didominasi oleh Cerbera odollam (INP= 129,66%) dan Swietenia macrophylla (INP= 90,60%). HKBS memiliki keanekaragaman vegetasi lebih tinggi (29 spesies, H' = 2,78) jika dibandingkan dengan HKT (9 spesies, H' = 1,84). Kerapatan vegetasi di HKBS lebih tiggi yang terlihat dari Nilai NDVI 0,78 jika dibandingkan HKT (NDVI = 0,55). Penurunan suhu di HKT dari luar ke dalam lebih tinggi (2,41 ± 1,07 °C (8,88%) dibandingkan dengan HKBS sebesar 1,55 ± 1,15 °C (6,25%). Hal ini terjadi karena perbedaan kondisi lingkungan di kedua hutan kota. Bagian luar HKT adalah area terbuka dengan tutupan kanopi yang kecil sehingga keberadaan hutan kota dapat menurunkan suhu secara signifikan. Penurunan kebisingan terjadi paling besar di HKBS (18,56 ± 9,18 dB(A); 21,78%) dibandingkan HKT (13,21 ± 9,46 dB(A); 16,29%). Hal ini terjadi karena kondisi vegetasi yang lebih rapat dan stratifikasi yang lebih kompleks di HKBS dibandingkan HKT membuat peredaman suara lebih besar terjadi di Babakan Siliwangi. Hasil survei menunjukkan bahwa masyarakat merasakan keberadaan hutan kota dapat meningkatkan kenyamanan karena suhu yang lebih rendah serta kurangnya kebisingan akibat aktivitas manusia. Oleh karena itu, keberadaan RTH di Kota Bandung harus dipertahankan dan ditambah agar memberikan jasa ekologi yang baik bagi manusia di kawasan perkotaan.