📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 7 dokumen

REINTEGRATING THE SEA AND THE CITY: MERAK PORT AS A WATERFRONT TRANSIT HUB FOR MOBILITY AND PUBLIC LIFE

Transformasi kawasan pelabuhan sebagai pintu gerbang kota menghadirkan peluang untuk mengintegrasikan fungsi transportasi, ruang publik, dan identitas kultural dalam satu lanskap arsitektural yang inklusif. Studi ini berfokus pada Pelabuhan Merak di Cilegon, Banten, sebagai simpul mobilitas strategis yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatra, sekaligus salah satu pelabuhan penumpang tersibuk di Indonesia dengan arus pergerakan harian yang sangat dinamis. Secara potensial, pelabuhan ini dapat memperkuat interkonektivitas regional, mempercepat perputaran ekonomi, serta menjadi ruang interaksi sosial yang berkelanjutan. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa peran pelabuhan masih terfokus pada aspek transportasi teknis, sementara kebutuhan dasar pengguna, kenyamanan, dan kualitas sirkulasi antar moda belum terakomodasi dengan baik. Kondisi seperti jarak yang jauh antara Stasiun Merak, terminal penumpang, drop-off point, pool travel-bus, dan dermaga, seringkali menimbulkan pergerakan tidak efisien, mengurangi kualitas pengalaman pengguna dan membatasi aksesibilitas masyarakat. Situasi ini menegaskan pentingnya reposisi fungsi pelabuhan sebagai ruang publik yang inklusif, efisien, dan terhubung dengan kota. Tugas akhir ini mengarahkan pengembangan terminal penumpang di Pelabuhan Merak bertransformasi menjadi waterfront transit hub yang tidak hanya memusatkan sirkulasi manusia dalam jaringan transportasi laut, darat, dan rel, tetapi juga memperluas fungsi terminal penumpang menjadi ruang publik multi-fungsi yang dapat dimanfaatkan oleh penumpang reguler, penumpang eksekutif, pelaku usaha lokal, maupun masyarakat umum. Pendekatan arsitektural dirumuskan dengan merespons tekanan sosial, ekonomi, dan ekologis yang bekerja pada kawasan pesisir, serta diperkaya dengan prinsip biophilic design untuk menghadirkan integrasi elemen alam dalam pengalaman ruang yang sehat, nyaman, dan terhubung dengan laut. Melalui pendekatan ini, rancangan tidak hanya menawarkan solusi atas aksesibilitas, inklusivitas, dan konektivitas antar moda, tetapi juga mendorong transformasi Pelabuhan Merak dari sekadar infrastruktur transportasi menjadi ruang publik waterfront yang hidup, tangguh menghadapi fluktuasi kepadatan penumpang, dan berkontribusi pada terwujudnya lingkungan perkotaan yang lebih adil, inklusif, serta berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Anastasya Jasmine Auliasari
🏷️ Transportasi Laut 🏷️ Manajemen Ruang Publik 🏷️ Hidrologi

INKLUSIVITAS RUANG PUBLIK KAWASAN KOTATUA JAKARTA DAN ADAPTASI MASYARAKAT MISKIN DALAM PEMBENTUKAN RUANG KOMUNAL DI PERMUKIMAN SEKITARNYA

Revitalisasi kawasan Kotatua Jakarta sejak diberlakukannya Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 36 Tahun 2014 telah meningkatkan kualitas fisik ruang publik di zona inti melalui penataan pedestrian, pengendalian aktivitas informal, serta penguatan citra kawasan sebagai destinasi pariwisata heritage. Namun, orientasi revitalisasi tersebut berpotensi menghasilkan inklusivitas yang terbatas bagi masyarakat miskin di sekitarnya. Kelompok ini secara geografis berada paling dekat dengan kawasan yang direvitalisasi, tetapi kurang memperoleh manfaat yang setara dalam pemanfaatan ruang publik. Penelitian ini menggunakan metode campuran dengan desain konvergen melalui wawancara mendalam terhadap warga di Kelurahan Pinangsia dan Kelurahan Ancol, observasi lapangan, dan kuesioner persepsi pengguna ruang publik di Taman Fatahillah dan koridor pedestrian Kali Krukut-Kali Besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat miskin memaknai ruang publik kawasan Kotatua sebagai ruang ekonomi dengan akses bersyarat dan berisiko, ruang sosial yang kurang berfungsi, serta ruang yang terasa asing. Kehadiran mereka di kawasan inti bersifat temporer dengan strategi adaptasi berupa pengaturan waktu, perpindahan lokasi, pembayaran pungutan tidak resmi, dan pemanfaatan jaringan informal. Sebagai respons, masyarakat mengembangkan ruang komunal di permukiman melalui pemanfaatan gang, teras, fasilitas bersama, dan ruang terbuka yang fleksibel. Pengukuran inklusivitas ruang publik formal menghasilkan indeks sebesar 70,10. Nilai ini termasuk dalam kategori tinggi, tetapi lebih merepresentasikan pengalaman pengguna umum kawasan wisata dibandingkan masyarakat miskin sekitarnya. Interaksi antara ruang komunal permukiman dan ruang publik formal membentuk pola relasi adaptif yang terdiri dari relasi substitutif, komplementer, negosiasi taktis, dan paralel. Temuan penelitian menegaskan bahwa peningkatan kualitas fisik ruang publik tidak selalu menghasilkan inklusivitas sosial. Oleh karena itu diperlukan pengakuan hak masyarakat miskin untuk mengakses dan memaknai ruang kota secara adil, serta keterlibatannya dalam penataan ruang publik yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

2026
👤 Penulis: Januarta Dwi Kusmayanti
🏷️ Inklusi Sosial 🏷️ Manajemen Ruang Publik 🏷️ Kawasan Perumahan

DINAMIKA SPASIAL LINGKUNGAN ALUN-ALUN CIANJUR SEJAK 1808 HINGGA 2026

Penelitian ini mengkaji dinamika spasial lingkungan Alun-alun Cianjur sebagai ruang publik yang mengalami perkembangan sejak masa kolonial hingga kini. Alun-alun Cianjur memiliki peran penting sebagai pusat aktivitas sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat. Seiring dengan perubahan zaman, ruang ini mengalami transformasi yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mencakup perubahan fungsi, struktur ruang, dan karakter kawasan yang dipengaruhi oleh faktor historis, kebijakan, serta kebutuhan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan dinamika perkembangan historis Alun-alun Cianjur, serta menganalisis perubahan kualitas ruang publik melalui pengalaman, aktivitas, dan persepsi pengguna. Selain itu, penelitian ini juga menggali pemahaman historis masyarakat terhadap Alun-alun Cianjur. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, melalui analisis data historis, kajian dokumentasi, pengolahan data kuesioner pengguna, serta wawancara terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika spasial lingkungan Alun-alun Cianjur berlangsung melalui proses transformasi bertahap yang dipengaruhi oleh perubahan sistem pemerintahan, perkembangan kota, serta kebijakan penataan ruang dari masa ke masa. Transformasi tersebut tidak hanya mengubah struktur dan elemen fisik kawasan, tetapi juga memperluas fungsi alun-alun menjadi ruang publik multifungsi yang mendukung aktivitas sosial, keagamaan, budaya, dan rekreasi masyarakat. Hasil analisis persepsi pengguna menunjukkan bahwa Alun-alun Cianjur memiliki kualitas ruang publik yang baik serta masih mempertahankan identitas budaya lokal melalui berbagai elemen simbolik kawasan. Dengan demikian, Alun-alun Cianjur berkembang tidak hanya sebagai ruang publik yang fungsional, tetapi juga sebagai ruang yang merepresentasikan sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Cianjur.

2026
👤 Penulis: Bintang Aulia Yasmin
🏷️ Geografi Urban 🏷️ Manajemen Ruang Publik 🏷️ Hidrologi Kota

KAJIAN KENYAMANAN LANSIA PADA RUANG PUBLIK GEREJA (STUDI KASUS : GKI KEBONJATI BANDUNG)

Meningkatnya jumlah lanjut usia di Indonesia menuntut perhatian serius terhadap pemenuhan aspek kenyamanan mereka dalam memanfaatkan ruang publik, khususnya gereja yang memiliki peran penting bagi lansia. Seiring bertambahnya usia, lansia cenderung mengalami penurunan fungsi tubuh serta tantangan psikologis seperti kecemasan dan kebutuhan akan kedekatan sosial maupun spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kenyamanan lansia di ruang ibadah GKI Kebonjati Bandung dengan pendekatan kualitatif deskriptif analisis. Fokus kajian diarahkan pada identifikasi faktor fisik dan psikis yang memengaruhi kenyamanan serta keterkaitan di antara keduanya. Data diperoleh melalui observasi, pengukuran langsung, kuesioner, dan wawancara mendalam. Analisis dilakukan dengan mengacu pada standar regulasi terkait kebutuhan lansia serta teori hierarki kebutuhan Maslow dan model adaptasi Roy. Penelitian menemukan bahwa kenyamanan lansia cenderung lebih dipengaruhi oleh faktor psikis seperti rasa aman, tenang, dan hubungan sosial-spiritual dengan skor 83,13%. Sementara aspek fisik seperti pencahayaan, sirkulasi, furnitur, penghawaan, dan kebisingan memperoleh skor 76,54%. Lansia laki-laki menunjukkan kenyamanan fisik sedikit lebih tinggi, sedangkan perempuan lebih unggul pada kenyamanan psikis. Beberapa kendala fisik ditemukan, antara lain sirkulasi yang sempit, jarak antar kursi yang kurang ideal, serta ketiadaan pegangan tangan pada tangga. Aktualisasi diri sebagai puncak kebutuhan Maslow menjadi dasar persepsi kenyamanan lansia, yang diperkuat oleh kemampuan koping menurut model adaptasi Roy terhadap keterbatasan fisik. Meski demikian, kenyamanan fisik tetap memiliki peranan penting dan keduanya harus terpenuhi secara seimbang untuk menciptakan kenyamanan yang optimal. Temuan ini berkontribusi pada perancangan ruang ibadah yang lebih ramah lansia. Rekomendasi desain yang dihasilkan diharapkan dapat meningkatkan kualitas ruang ibadah serta mendukung kenyamanan fisik dan psikis lansia secara menyeluruh.

2025
👤 Penulis: Talitha Theophila Sharon
🏷️ Kesehatan Mental Lansia 🏷️ Manajemen Ruang Publik 🏷️ Hidrologi

IDENTIFIKASI TACTICAL URBANISM DAN LIVABILITY LEVEL PADA RUANG-RUANG TERBUKA PUBLIK DI KAMPUNG KOTA (STUDI KASUS : KAMPUNG LEBAK SILIWANGI, KOTA BANDUNG)

Kampung kota merupakan fenomena unik dalam perkembangan perkotaan yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia akibat terjadinya urbanisasi yang cepat. Indonesia menjadi salah satu negara dengan urbanisasi tercepat di dunia. Keterbatasan lahan dan ruang terbuka pada kampung kota menjadi tantangan yang dihadapi dalam kampung kota. Selain itu, perubahan sosial, ekonomi, dan budaya mengharuskan masyarakat beradaptasi, baik dalam ruang privat (rumah tinggal) maupun ruang publik yang mereka miliki. Intervensi-intervensi masyarakat dalam beradaptasi dalam lingkup perancangan kota disebut tactical urbanism. Dalam Menyusun ruang terbuka publik di kampung kota yang baik, maka diperlukan kajian mengenai identifikasi tactical urbanism dan livability level pada ruang terbuka publik yang nantinya dapat menjadi panduan kampung kota dalam memetakan ruang terbuka public dengan segala keterbatasannya. Dalam prosesnya, studi ini dilakukan dengan menggunakan metode campuran berupa kualitatif dan kuantitatif. Metode kuantitatif dilakukan melalui perhitungan livability level menggunakan space syntax dan AHP kemudian dikombinasikan dengan metode kualitatif berupa wawancara mendalam pada lokasi studi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan intervensi dasar tactical urbanism menghasilkan tipologi bentuk ruang lapangan, koridor jalan, dan taman/kebun. Livability level tertinggi ruang terbuka publik berada pada ruang lapangan dan koridor jalan. Panduan pemetaan ruang terbuka publikdi kampung kota harus memenuhi kriteria aktivitas, identitas, keamanan, kenyamanan, aksesibilitas, serta partisipasi sosial. Peningkatan kualitas ruang terbuka publik di kampung kota harus mengutamakan aspek keamanan, partisipasi sosial, dan aksesibilitas baik dalam lingkup lingkungan maupun pengamatan.

2025
👤 Penulis: Salsabila Purnomo Ajie
🏷️ Urbanisme Taktikal 🏷️ Manajemen Ruang Publik 🏷️ Hidrologi Kota

DAMPAK REVITALISASI LAPANGAN INGUB TERHADAP PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEKITAR (STUDY KASUS LAPANGAN INGUB SERDANG)

Revitalisasi lapangan olahraga di perkotaan, seperti Lapangan Ingub di Serdang, Jakarta Pusat, menjadi strategi penting dalam meningkatkan kualitas ruang publik. Penelitian ini difokuskan pada komunitas yang tinggal di sekitar Lapangan Ingub, Serdang, Jakarta Pusat, yang menjadi objek revitalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis dampak revitalisasi Lapangan Ingub terhadap pemberdayaan masyarakat sekitar, baik dari fungsi sosial dan ekonomi. Fokus penelitian ini adalah menganalisa sumber pendanaan revitalisasi dan pemeliharaaan Lapangan InGub, menganalisa peningkatan prestasi olahraga masyarakat sekitar sebelum dan sesudah revitalisasi lapangan sepakbola, dan menganalisa fungsi sosial dan ekonomi yang terjadi sebelum dan sesudah revitalisasi lapangan sepakbola. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus. Data akan dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan warga sekitar, pengelola lapangan, serta pihak-pihak terkait lainnya. Selain itu, observasi langsung terhadap aktivitas yang berlangsung di lapangan setelah revitalisasi juga akan dilakukan. Teknik analisis yang digunakan adalah wawancara. Hasil analisa sumber pendanaan revitalisasi dan pemeliharaaan Lapangan INGUB berasal dari Denda Pelampauan Koefisien Lantai Bangunan (KLB) yang dibayarkan oleh pengembang. Namun, aksesibilitas masyarakat terhadap lapangan menjadi lebih terbatas karena lapangan hanya berfungsi secara spesifik sebagai sarana olahraga sepakbola, dan tidak dapat digunakan untuk olahraga lain. Peningkatan prestasi olahraga masyarakat sekitar dilihat dari aktivitas komunitas olahraga seperti sekolah sepak bola (SSB) dan kompetisi rutin yang dilaksanakan; Fungsi sosial dan ekonomi yang terjadi adalah banyak warga merasa kehilangan fleksibilitas untuk menggunakan lapangan secara spontan, yang menyebabkan penurunan partisipasi dalam acara komunitas non-olahraga dan menciptakan kesenjangan dalam keterlibatan sosial.

2024
👤 Penulis: William Buren Serworwora
🏷️ Revitalisasi Lapangan Olahraga 🏷️ Pemberdayaan Masyarakat 🏷️ Manajemen Ruang Publik

PENERAPAN KONSEP 15-MINUTES CITY DALAM PENYEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK DI KOTA SURAKARTA UNTUK MEWUJUDKAN SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGS)

Konsep 15-minutes city merupakan sebuah paradigma baru perencanaan ruang pasca pandemi Covid-19. Ide konsep ini adalah untuk membangun kota dengan fasilitas yang dapat dicapai dalam waktu 15 menit dengan berjalan kaki atau bersepeda. Kawasan tebangun di kawasan perkotaan semakin meningkat akibat dampak urbanisasi, namun di sisi lain ruang terbuka hijau (RTH) publik semakin terpinggirkan. Padahal RTH publik sangat berdampak pada kualitas lingkungan hidup perkotaan. Selain itu RTH publik juga berperan terhadap ekonomi, kesehatan dan kebahagiaan masyarakat. Karena manfaatnya dalam menjamin kualitas hidup perkotaan secara berkelanjutan, penyediaan RTH publik dimasukan menjadi salah satu indikator pilar lingkungan dalam target kota yang berkelanjutan dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Di sisi lain Kota Surakarta yang menjadi kota layak huni di Indonesia, RTH-nya terus menurun setiap tahunnya. Maka dari itu perlu adanya perencaanaan untuk penyediaan RTH publik di Kota Surakarta khususnya dalam penentuan lokasi potensialnya. Selain dari segi luasan, faktor jarak dan waktu tempuh menjadi hal yang penting dalam perencanaan RTH publik. Namun belum adanya standar yang membahas hal tersebut, karena itulah dipilih konsep 15-minutes city dalam faktor penentuan lokasi RTH potensial selain itu konsep ini juga selaras dengan SDGs. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji penerapan konsep 15-Minutes City dalam penentuan lokasi potensial penyediaan RTH publik di Kota Surakarta untuk mewujudkan SDGs. Pendekatan penelitian ini adalah kuantitatif spasial menggunakan GIS berbasis big data dan analisis deskriptif. Hasil analisis identifikasi konsep 15-minutes city berdasarkan 5 dimensi nya didapatkan dari dimensi density yaitu korelasi hasil kernell density penduduk dan permukiman ada beberapa Kawasan mempunyai korelasi positif menunjukan adanya potensi pengembangan Kawasan permukiman baru. Dari dimensi diversity didapatkan bahwa standar fasilitas rekreasi yaitu RTH publik masih belum memenuhi standar dari jumlah penduduk yaitu 27,1% dan perbandingan persebaran fasilitas RTH publik dengan fasilitas lainnya adalah 1:25. Dari dimensi proximity didapat bahwa jangkauan layanan 15 menit RTH publik masih sebesar 26,3% dari total seluruh Kawasan permukiman. Dari dimensi quality didapatkan bahwa gap ketersediaan jalur pejalan kaki dan jalur sepeda terhadap aktivitas non motorized masyarakat masih rendah yaitu sebesar 48,9% dan hasil analisis GVI dari 917 sample di Kota Surakarta adalah 0,1064 atau 10,6%. Selanjutnya hasil analisis gap RTH publik eksisting dan rencana terhadap target indicator 11.7 SDGs didapatkan 14,11% untuk RTH publik eksisting dan 17,8% untuk RTH rencana. Hal tersebut menunjukan untuk memenuhi target SDGs perlu penyediaan RTH publik seluas 217,8 Ha. Dan hasil identifikasi lokasi potensial RTH publik berdasarkan aspek tata ruang, dimensi 15-minutes city dan fisik alam didapatkan 3 jenis lokasi lahan potensial RTH publik dengan total luasan 233,8 ha dengan berbagai tipolgi taman hasil identifikasi kesesuaian dengan kebijakan rencana pola ruang.

2024
👤 Penulis: Muhammad Daffa Musyary KS
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Ruang Publik 🏷️ Sustainable Development Goals (Sdgs)
💬