📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 3 dokumen

OPTIMALISASI ELEMEN FISIK DAN RAGAM KEGIATAN DALAM MEMBENTUK PERSEPSI PLACE ATTACHMENT PENGUNJUNG TEBET ECO PARK JAKARTA

Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik di Jakarta sering dikembangkan dengan fokus pada perluasan kuantitas dan estetika visual, sehingga mengabaikan interaksi psikologis antara ruang dan manusianya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh elemen fisik dan ragam kegiatan terhadap pembentukan persepsi place attachment pengunjung di Tebet Eco Park Jakarta guna merumuskan arahan intervensi spasial. Studi ini memadukan pemetaan keruangan secara empiris dengan pemodelan kausalitas yang mengaitkan aspek psikologi dan arsitektur. Penelitian ini menggunakan metode campura dengan pendekatan deduktif, melibatkan sampel pengunjung yang pernah beraktivitas di Tebet Eco Park dalam kurun waktu enam bulan terakhir. Analisis data dilakukan melalui reduksi dimensi dengan factor analysis, perbandingan karakteristik antarzona dengan one-way ANOVA yang divisualisasikan melalui pemetaan spasial, pemodelan pengaruh antarvariabel dengan regresi linear berganda dan Exploratory Structural Equation Modeling, serta analisis konten kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa place attachment berbeda secara signifikan di setiap area. Zona komunal dan lanskap ekologis mendominasi ikatan emosional, sementara jalur sirkulasi mencatat tingkat keterikatan terendah. Model statistik membuktikan bahwa ketersediaan amenitas dan perabot taman menjadi faktor fisik paling kuat dalam memicu tingginya aktivitas pasif dan rekreasi sosial. Rutinitas rekreasi menetap inilah yang pada akhirnya menumbuhkan ikatan batin pengunjung secara perlahan, sedangkan penyediaan perkerasan keras (hardscape) yang berlebihan justru menurunkan tingkat kenyamanan. Arahan intervensi spasial disusun secara menyeluruh melalui pemerataan fasilitas dasar dan penyesuaian desain spesifik yang merespons karakter tiap zona. Penelitian ini memberikan wawasan penting bahwa identitas emosional suatu ruang kota tidak muncul seketika dari keindahan arsitekturalnya, melainkan terbangun dari kelengkapan fasilitas taman inklusif yang mampu mewadahi interaksi sosial secara berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Salsa Nabila
🏷️ Psikologi Lokasi 🏷️ Manajemen Ruang Terbuka Hijau 🏷️ Hidrologi Lingkungan

PERENCANAAN RUANG TERBUKA HIJAU BERBASIS NATURE-BASED SOLUTIONS PADA KORIDOR EKOLOGIS RIPARIAN CILIWUNG DI LANSKAP PERKOTAAN DKI JAKARTA

Perkembangan kawasan perkotaan di Provinsi DKI Jakarta telah menyebabkan tekanan ekologis yang signifikan, ditandai dengan dominasi lahan terbangun dan keterbatasan ruang terbuka hijau yang berdampak pada fragmentasi habitat serta menurunnya konektivitas ekologis. Kondisi ini berimplikasi pada terganggunya pergerakan spesies dan kualitas ekosistem perkotaan. Burung perkotaan sebagai bioindikator dapat merepresentasikan kondisi tersebut, sementara koridor DAS Ciliwung memiliki potensi sebagai ecological backbone yang belum optimal dimanfaatkan dalam perencanaan berbasis ekologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesesuaian habitat burung perkotaan dan menganalisis konektivitas ekologis sebagai dasar perumusan koridor ekologis berbasis NatureBased Solutions (NbS) di koridor DAS Ciliwung, DKI Jakarta. Pendekatan yang digunakan adalah pemodelan spasial dengan metode Maximum Entropy (MaxEnt), analisis fragmentasi habitat, serta konektivitas ekologis menggunakan Least-Cost Path (LCP), dengan data 131 titik kemunculan lima spesies dan variabel lingkungan utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model memiliki akurasi baik hingga sangat baik (AUC 0,899-0,950). Tutupan lahan (LULC) menjadi faktor dominan (50-90,5%), diikuti intensitas kawasan terbangun (>30%), yang menegaskan bahwa struktur lanskap dan tekanan urbanisasi menentukan kesesuaian habitat. Secara spasial, habitat potensial terkonsentrasi pada koridor riparian dan area vegetasi tinggi, namun terfragmentasi menjadi patch kecil (threshold 0,102-0,247) dengan core habitat terbatas. Jalur konektivitas cenderung mengikuti koridor Sungai Ciliwung dan area resistansi rendah sebagai stepping-stone, sementara kawasan terbangun menghambat pergerakan spesies. Kondisi ini menunjukkan bahwa permasalahan utama bukan hanya kehilangan habitat, tetapi keterputusan struktur ekologis dalam lanskap perkotaan. Berdasarkan hasil tersebut, dirumuskan koridor ekologis berbasis NbS melalui penguatan vegetasi riparian, optimalisasi ruang terbuka hijau sebagai jaringan habitat, serta integrasi elemen hijau pada kawasan terbangun untuk meningkatkan permeabilitas lanskap. Penelitian ini memberikan dasar spasial dalam perumusan koridor ekologis yang adaptif dan berkelanjutan.

2026
👤 Penulis: Farid Ramadhani
🏷️ Koridor Eko 🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Ruang Terbuka Hijau

ANALISIS KEBUTUHAN RUANG HIJAU DALAM UPAYA MENCEGAH URBAN HEAT ISLAND DI KOTA BANDUNG

Efek perubahan iklim, urbanisasi, dan perencanaan tata guna lahan yang kurang baik dapat menyebabkan adanya peningkatan suhu lingkungan terutama di daerah perkotaan. Urbanisasi dan pembangunan yang masif juga terjadi di Kota Bandung yang telah menjadi daerah terpadat ketiga setelah Jakarta dan Surabaya. Hal itu menyebabkan minimnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Bandung. Pada penelitian ini, didapat bahwa luasan Ruang Terbuka Hijau tercatat tidak memenuhi standar minimal ruang hijau menurut WHO yaitu sebesar 9 m2/jiwa. Rata-rata luasan RTH di Kota Bandung masih sekitar 8,23 m2/jiwa selama periode 2012-2022. Rata-rata suhu permukaan lahan (Land Surface Temperature) diekstraksi dari Landsat MODIS (MOD11A2) Versi 6.1. Rata-rata suhu permukaan lahan (Land Surface Temperature) sebagai parameter analisis Urban Heat Island (UHI) meningkat sebesar 2,51°C selama periode 2003-2023 (berturut-turut 37,38°C dan 39,89°C pada 2003 dan 2023). Urbanisasi di Kota Bandung dianalisis lebih lanjut melalui metode Drivers-Pressures-State- Impact-Rensponses (DPSIR) untuk menentukan solusi ekosistem alami dalam rangka memperbaiki kualitas Ruang Terbuka Hijau dalam rangka mencegah peningkatan Urban Heat Island di Kota Bandung. Hasil analisis DPSIR menunjukkan bahwa diperlukan adanya pengelolaan lahan terutama green-blue space secara inklusif melalui implementasi Indeks Hijau-Biru Indonesia (IHBI).

2024
👤 Penulis: Billy Birrul Amri
🏷️ Urban Heat Island 🏷️ Manajemen Ruang Terbuka Hijau 🏷️ Analisis Dpsir
💬