📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 24 dokumen

PERANCANGAN KAMPANYE SOSIAL PAPAN PERMAINAN TERHADAP TERANCAMNYA BIOTA LAUT AKIBAT SAMPAH DOMESTIK KEPADA PENGUNJUNG PANTAI WISATA

Negara Indonesia merupakan sebuah negara maritim, yang memiliki banyak pulau dan daerah perairan, tidak menjadi hal yang aneh bila industri pariwisata, terutama di sektor bahari, menjadi salah satu industri populer di Indonesia, baik bagi wisatawan asing maupun wisatawan mancanegara. Namun dengan banyaknya jumlah wisatawan yang mengunjungi pantai-pantai wisata di Indonesia, ditimbulkan juga masalah mengenai sampah domestik yang dihasilkan, terlebih lagi bila pengunjung pantai wisata tersebut kurang awas atau peduli tentang pengelolaan sampah mereka, yang kemudian dapat mengancam kelestarian ekosistem dan biota laut lokal. Maka dari itu perancangan ini kemudian bertujuan untuk mengangkat isu pencemaran ini melalui sebuah kampanye berbentuk papan permainan, dimana pengunjung pantai wisata dapat memahami dampak perilaku secara nyata melalui cara yang menarik dan menyenangkan.

2026
👤 Penulis: Salsabila Dhia Fakhirah
🏷️ Pariwisata Maritim 🏷️ Eksplorasi Ekosistem Laut 🏷️ Manajemen Sampah

STRATEGI PERANCANGAN LANSKAP REGENERATIF BAGI RUMAH SUSUN MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH: STUDI KASUS RUMAH SUSUN RANCACILI, BANDUNG

Pembangunan rumah susun merupakan salah satu strategi pemerintah Indonesia dalam memenuhi kebutuhan hunian masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di kawasan perkotaan. Namun demikian, perancangan lanskap pada kawasan rumah susun umumnya masih berorientasi pada penyediaan ruang terbuka sebagai elemen pelengkap bangunan sehingga belum mampu mengintegrasikan fungsi ekologis, sosial, dan pengelolaan sumber daya secara optimal. Di sisi lain, meningkatnya tekanan urbanisasi, perubahan iklim, dan berbagai permasalahan lingkungan perkotaan menuntut pendekatan perancangan yang tidak hanya mempertahankan kondisi lingkungan, tetapi juga mampu memulihkan dan memperkuat sistem sosial-ekologis. Pendekatan lanskap regeneratif menawarkan paradigma tersebut dengan memandang lanskap sebagai suatu sistem hidup yang mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi perancangan lanskap regeneratif yang dapat diterapkan pada kawasan rumah susun masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan studi kasus Rumah Susun Rancacili, Kota Bandung. Penelitian diawali dengan kajian teori dan studi preseden, dilanjutkan observasi lapangan, Survey Pendahuluan, serta Focus Group Discussion (FGD) untuk menggali kebutuhan, permasalahan, dan potensi pengembangan lanskap berdasarkan perspektif penghuni. Hasil sintesis temuan penelitian selanjutnya menjadi dasar dalam penyusunan strategi perancangan yang disempurnakan melalui masukan dari ahli arsitektur lanskap sehingga strategi yang dihasilkan mempertimbangkan kebutuhan penghuni sekaligus aspek konseptual dan penerapannya dalam praktik perancangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain eksploratif-deskriptif yang mengombinasikan metode kuantitatif dan kualitatif. Kondisi eksisting kawasan dianalisis menggunakan pendekatan analisis tapak yang mengacu pada LaGro (2013), sedangkan data Survey Pendahuluan dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Data hasil FGD dianalisis menggunakan dua pendekatan yang saling melengkapi, yaitu Open Coding dan Semantic Analysis berbantuan perangkat lunak JMP melalui fitur Text Explorer. Open Coding digunakan untuk mengidentifikasi tema berdasarkan interpretasi terhadap makna setiap pernyataan peserta, sedangkan Semantic Analysis digunakan untuk mengidentifikasi tema dominan berdasarkan frekuensi kemunculan kata (top terms), hubungan antarkata, dan pembentukan klaster. Hasil kedua pendekatan tersebut kemudian diintegrasikan dan disintesis untuk menghasilkan tema-tema utama yang menjadi dasar dalam perumusan strategi perancangan lanskap regeneratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lanskap Rumah Susun Rancacili masih menghadapi berbagai permasalahan ekologis, sosial, dan fungsional, seperti pengelolaan sampah yang belum optimal, keterbatasan ruang komunal, rendahnya kualitas sistem pengelolaan air, belum optimalnya pemanfaatan ruang produktif, serta perlunya peningkatan aspek keamanan dan kenyamanan ruang luar. Integrasi hasil Open Coding dan Semantic Analysis menghasilkan lima tema utama yang merepresentasikan kebutuhan lanskap penghuni, yaitu (1) lanskap sebagai sistem pengelolaan sampah, (2) lanskap produktif berbasis partisipasi, (3) lanskap sebagai ruang sosial dan aktivitas komunal, (4) lanskap sebagai sistem pengelolaan air kawasan, dan (5) lanskap sebagai ruang yang aman dan tangguh. Kelima tema tersebut selanjutnya menjadi dasar dalam perumusan strategi perancangan dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip lanskap regeneratif, hasil studi preseden, referensi dan standar perancangan, serta masukan dari ahli arsitektur lanskap. Strategi yang dihasilkan disusun secara sistematis ke dalam isu, tujuan, kriteria, indikator, dan strategi perancangan, serta dilengkapi dengan landscape notes yang mencakup diagram konsep dan referensi vegetasi sebagai pedoman konseptual penerapannya pada kawasan rumah susun. Strategi tersebut selanjutnya divisualisasikan melalui simulasi masterplan konseptual pada kawasan Rumah Susun Rancacili. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan keilmuan arsitektur lanskap melalui perumusan strategi perancangan lanskap regeneratif yang disusun secara sistematis berdasarkan hasil sintesis temuan penelitian dari Focus Group Discussion (FGD), yang didukung oleh hasil analisis tapak dan survey pendahuluan sebagai informasi kontekstual kawasan. Selain menghasilkan strategi perancangan, penelitian ini juga menunjukkan bahwa integrasi antara Open Coding dan Semantic Analysis dapat digunakan sebagai pendekatan yang saling melengkapi dalam mengidentifikasi kebutuhan lanskap berdasarkan perspektif pengguna. Integrasi kedua pendekatan menghasilkan dasar yang lebih komprehensif bagi penyusunan strategi perancangan lanskap regeneratif. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi acuan bagi perancang, pengelola, akademisi, maupun pemerintah dalam mengembangkan lanskap rumah susun yang lebih adaptif, partisipatif, produktif, berdaya pulih, serta mampu meningkatkan kualitas lingkungan dan kualitas hidup penghuni.

2026
👤 Penulis: Hanifah Rusyanti Syifahani
🏷️ Rumah Susun 🏷️ Lanskap Regeneratif 🏷️ Manajemen Sampah

PENGEMBANGAN SISTEM PEMANTAUAN SAMPAH BERBASIS INTERNET OF THINGS SEBAGAI DASAR ANALISIS POLA PEMBUANGAN SAMPAH

Pengelolaan sampah di lingkungan kampus menghadapi tantangan berupa kurangnya data terstruktur mengenai pola pembuangan sampah, sehingga menyulitkan pengambilan keputusan berbasis data dalam jadwal pengangkutan dan alokasi sumber daya. Penelitian ini mengembangkan sistem pemantauan sampah berbasis Internet of Things (IoT) yang mampu mengotomasi pengumpulan data pembuangan sampah di Gedung Labtek VIII Institut Teknologi Bandung, khususnya pada area depan Laboratorium IoT Lantai 4, sebagai dasar bagi analisis pola pembuangan sampah. Sistem dirancang menggunakan arsitektur IoT 4-layer yang terdiri dari Perception Layer (mikrokontroler ESP32, sensor jarak VL53L0X, sensor arus INA219, dan modul GSM SIM800L), Network Layer berbasis protokol MQTT, Middleware Layer menggunakan Node-RED untuk pemrosesan aliran data, serta Application Layer dengan basis data Supabase dan dashboard Next.js untuk visualisasi data. Selama periode observasi 37 hari, tiga unit perangkat sensor berhasil mengumpulkan 816 records data dengan tingkat keberhasilan pengiriman sebesar 91,9%, dengan 805 records dinyatakan valid setelah filtering data kotor. Analisis deskriptif yang dilakukan terhadap data tersebut mengidentifikasi empat pola pembuangan sampah, yang terdiri dari tiga pola temporal dan satu pola komposisi, yaitu pola peak hour yang konsisten pada pukul 14:00–17:00 (29,6% dari total event penambahan), pola konsentrasi aktivitas pada jam kerja (07:00–19:00) di hari kerja, pola pengaruh hari libur berupa penurunan aktivitas pembuangan, serta pola dominasi sampah anorganik yang menyumbang 13 dari 27 event penambahan (48,1% dari total event) dengan kontribusi volume sebesar 51,7% dari total delta positif. Perangkat bawaan pihak ketiga diadaptasi melalui lima penyesuaian firmware, dengan empat di antaranya terbukti efektif dalam meningkatkan reliabilitas dan konsistensi pengukuran. Seluruh 10 kebutuhan fungsional dan 7 dari 8 kebutuhan nonfungsional sistem berhasil dipenuhi. Penelitian ini menunjukkan bahwa sistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT) dapat menjadi dasar yang andal untuk menghasilkan wawasan terstruktur dalam mendukung pengelolaan sampah kampus.

2026
👤 Penulis: Jazmy Izzati Alamsyah
🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Analisis Pola Data 🏷️ Manajemen Sampah

EVALUASI PERAN TANAH PENUTUP TERHADAP RISIKO KONTAMINAN AIRTANAH DI TPPAS SARIMUKTI, KABUPATEN BANDUNG BARAT

TPPAS Sarimukti memiliki proses penimbunan sampah dengan sistem open dumping yang pada umumnya menghasilkan pencemar berupa air lindi sehingga dapat menyebabkan pencemaran air di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara konduktivitas hidrolik dan kualitas airtanah serta air permukaan di sekitar TPPAS Sarimukti serta mengevaluasi efektivitas lapisan tanah penutup dalam menekan potensi pembentukan dan pergerakan lindi berdasarkan data kimia air dan pola aliran airtanah. Data yang digunakan merupakan data primer berupa data infiltrasi yang diolah menjadi konduktivitas hidrolik dan data kimia air berupa nilai konsentrasi total dissolved solid (TDS) dan klorida (Cl-). Berdasarkan hasil interpolasi nilai konduktivitas hidrolik, sampel airtanah pada titik SP2 berada pada zona dengan nilai konduktivitas hidrolik tanah yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan titik airtanah lainnya (SP1 dan SP3). Begitupun dengan nilai konsentrasi TDS dan Cl- pada titik SP2. Sehingga, adanya kecenderungan awal yang mengindikasikan adanya hubungan potensial peningkatan nilai konsentrasi TDS dan Klorida seiring meningkatnya nilai konduktivitas hidrolik tanah. Selain itu, lapisan tanah penutup dengan ketebalan yang relatif terbatas yaitu sebesar 50 cm yang dikombinasikan dengan nilai konduktivitas hidrolik sebesar 10-5 – 10-4 cm/detik sehingga masih memungkinkan air hujan berpotensi meresap ke dalam timbunan sampah dan membentuk lindi. Peningkatan konsentrasi TDS dan klorida pada airtanah serta pola aliran airtanah dari TPPAS menuju titik pengamatan menunjukkan adanya potensi pergerakan lindi menuju sistem airtanah. Selain itu, kontribusi dari air sungai perlu dipertimbangkan, mengingat hasil pengolahan lindi dialirkan ke badan sungai yang berpotensi berinteraksi dengan sistem airtanah.

2026
👤 Penulis: Yundhera Danazahra
🏷️ Hidrologi 🏷️ Manajemen Sampah 🏷️ Kecerdasan Buatan

PERANCANGAN PENGEMBANGAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU DI TPS3R SALING ASIH II KECAMATAN BATUNUNGGAL KOTA BANDUNG

Kota Bandung merupakan kota metropolitan dengan jumlah penduduk sebanyak 2.527.854 Jiwa (Badan Pusat Statistika, 2022). Angka ini akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk di Kota Bandung. Tahun 2022, DLH mencatat volume sampah tembus hingga 8.419.981 ton. Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, menghasilkan timbulan sampah signifikan seiring peningkatan jumlah penduduk. TPS 3R Saling Asih II saat ini memiliki keterbatasan luas dan fasilitas sehingga tidak mampu menangani beban sampah secara optimal. Oleh karena itu, dilakukan perancangan pengembangan fasilitas menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti. Data tersebut digunakan sebagai dasar pertimbangan awal dalam menentukan teknologi pengolahan yang akan diterapkan. TPST berbasis teknologi RDF merupakan solusi strategis untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah di Kecamatan Batununggal. Sampah sebanyak 48,62% akan diolah menggunakan metode RDF dan sampah organik sebanyak 37,69% akan diproses menggunakan fasilitas pengolahan BSF. Rencana Anggaran Biaya perancangan TPST Kecamatan Batununggal hasil perhitungan diperkirakan mencapai Rp. 5.517.342.000,00 dengan biaya operasional diperkirakan dan pemeliharaan mencapai Rp. 3.004.169.484, dengan estimai potensi pendapatan sebesar RP. 86.314.318.232,14.

2025
👤 Penulis: Andhika Dwi Putra
🏷️ Kebijakan Publik 🏷️ Manajemen Sampah 🏷️ Teknologi Pengolahan Sampah

PERANCANGAN PENGEMBANGAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU DI TPS3R SALING ASIH II KECAMATAN BATUNUNGGAL KOTA BANDUNG

Kota Bandung merupakan kota metropolitan dengan jumlah penduduk sebanyak 2.527.854 Jiwa (Badan Pusat Statistika, 2022). Angka ini akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk di Kota Bandung. Tahun 2022, DLH mencatat volume sampah tembus hingga 8.419.981 ton. Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, menghasilkan timbulan sampah signifikan seiring peningkatan jumlah penduduk. TPS 3R Saling Asih II saat ini memiliki keterbatasan luas dan fasilitas sehingga tidak mampu menangani beban sampah secara optimal. Oleh karena itu, dilakukan perancangan pengembangan fasilitas menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti. Data tersebut digunakan sebagai dasar pertimbangan awal dalam menentukan teknologi pengolahan yang akan diterapkan. TPST berbasis teknologi RDF merupakan solusi strategis untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah di Kecamatan Batununggal. Sampah sebanyak 48,62% akan diolah menggunakan metode RDF dan sampah organik sebanyak 37,69% akan diproses menggunakan fasilitas pengolahan BSF. Rencana Anggaran Biaya perancangan TPST Kecamatan Batununggal hasil perhitungan diperkirakan mencapai Rp. 5.517.342.000,00 dengan biaya operasional diperkirakan dan pemeliharaan mencapai Rp. 3.004.169.484, dengan estimai potensi pendapatan sebesar RP. 86.314.318.232,14.

2025
👤 Penulis: Andhika Dwi Putra
🏷️ Kebijakan Publik 🏷️ Manajemen Sampah 🏷️ Teknologi Pengolahan Sampah

STUDI PEMANFAATAN PANAS GAS BUANG MELALUI SISTEM ORGANIC RANKINE CYCLE DARI INSINERATOR MASARO SEBAGAI PEMBANGKIT LISTRIK UNTUK MASYARAKAT SEKITAR

ekonomi nasional yang berkelanjutan. Akses terhadap energi listrik yang andal dan merata menjadi kunci utama dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat dan daya saing industri. Di Indonesia, tantangan terbesar dalam sektor kelistrikan adalah kesenjangan distribusi energi, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan ribuan pulau menuntut pendekatan desentralisasi energi yang efisien dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, pemanfaatan limbah padat domestik (sampah) sebagai sumber energi alternatif menjadi opsi yang sangat potensial. Sebagai bentuk kontribusi terhadap agenda Net Zero Emissions 2060 dan implementasi Perjanjian Paris, teknologi pengolahan sampah berbasis termal seperti insinerator dapat dikembangkan tidak hanya sebagai solusi lingkungan, tetapi juga sebagai pembangkit listrik berbasis limbah. Salah satu pendekatan yang relevan adalah penggunaan sistem pembangkitan dengan Organic Rankine Cycle (ORC), yaitu sistem termodinamika yang memungkinkan konversi panas bersuhu rendah hingga menengah menjadi energi mekanik dan selanjutnya energi listrik. Sistem ini sangat cocok diaplikasikan pada kondisi gas buang hasil pembakaran sampah yang suhunya tidak stabil namun cukup tinggi. Penelitian ini mengkaji secara mendalam potensi pembangkitan listrik dari sistem insinerator MASARO di Desa Babakan, Kabupaten Cirebon. Insinerator ini merupakan sistem pengolahan sampah skala kecil yang mampu mengelola hingga 10 ton sampah per hari. Dari proses pembakaran tersebut, dihasilkan gas buang dengan suhu berkisar antara 800°C hingga 1200°C. Melalui pendekatan simulasi menggunakan perangkat lunak Aspen HYSYS versi 14, dilakukan pemodelan sistem ORC dengan fluida kerja toluena. Pemilihan toluena didasarkan pada karakteristik termofisika yang sesuai untuk temperatur sumber panas menengah, memiliki titik didih yang stabil, dan bersifat non-korosif serta ramah lingkungan. Dalam simulasi ini, dilakukan variasi tekanan operasi fluida kerja dari 5 bar hingga 40 bar serta laju massa toluena antara 50 hingga 150 kg/jam. Selain itu, asumsi penyerapan panas dari flue gas dibatasi secara konservatif hanya 10,5% dari total potensi kalor teoretis (sekitar 312,85 kW) untuk merepresentasikan skenario pemulihan panas parsial yang umum pada sistem skala kecil. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sistem ORC mampu menghasilkan listrik antara 30 hingga 70 kWh per hari, tergantung pada kombinasi parameter operasi. Efisiensi termal sistem juga dapat mencapai ±27%, yang termasuk tinggi untuk sistem ORC bersumber panas dari limbah padat. Studi ini tidak hanya fokus pada aspek teknis, tetapi juga menganalisis dampak lingkungan dan potensi ekonomi dari penerapan sistem ini. Secara lingkungan, apabila sistem ini diterapkan secara penuh, maka akan terjadi pengurangan emisi sekitar 18,36 ton CO? per tahun dari sisi substitusi penggunaan PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel). Lebih jauh, dari sisi pengelolaan sampah itu sendiri, potensi pengurangan emisi dapat mencapai 180–360 ton CO?e per tahun, berdasarkan perhitungan emisi metana dan karbon dioksida dari sampah yang tidak terkelola secara termal. Analisis keekonomian menunjukkan bahwa dengan skema investasi yang tepat dan dukungan regulasi, sistem ini dapat mencapai kelayakan finansial jangka menengah. Komponen investasi utama berasal dari kebutuhan heat exchanger tahan korosi, turbin ORC, serta kontrol proses. Sistem ini akan lebih visible jika diintegrasikan dengan kebijakan energi terbarukan dan penetapan tarif listrik yang mendukung produksi lokal berbasis limbah. Penelitian ini menegaskan bahwa sistem ORC berbasis insinerator skala kecil seperti MASARO tidak hanya mampu mengubah sampah menjadi energi listrik secara berkelanjutan, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon nasional serta mendukung elektrifikasi wilayah terpencil di Indonesia.

2025
👤 Penulis: Sonny Indra Pradana
🏷️ Energi Terbarukan 🏷️ Desentralisasi Energi 🏷️ Manajemen Sampah

IMPLEMENTASI SISTEM TAKE BACK BERDASARKAN EXTENDED PRODUCER RESPONSIBILITY DI KEPULAUAN SERIBU: ANALISIS MULTI-PEMANGKU KEPENTINGAN DAN KEBERLANJUTAN

Kepulauan Seribu menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah akibat lokasinya yang terisolasi dan infrastruktur yang terbatas, dengan sumber sampah berasal dari rumah tangga, pariwisata, dan arus laut yang membawa sampah laut. Studi ini mengevaluasi penerapan sistem pengembalian sampah berdasarkan Extended Producer Responsibility (EPR) di tiga pulau berpenduduk padat: Harapan, Pramuka, dan Kelapa, melalui observasi lapangan, wawancara, dan analisis kebijakan menggunakan kerangka Triple Bottom Line. Sistem ini meningkatkan pengurangan sampah, keterlibatan masyarakat, dan hasil lingkungan, namun menghadapi kendala logistik seperti transportasi yang tidak konsisten, keterbatasan bahan kemasan, dan celah kebijakan, terutama terkait transportasi laut. Meskipun berhasil mengurangi 2,2 ton sampah plastik per hari dan memberikan manfaat ekonomi serta sosial, sistem ini sangat bergantung pada dukungan pemerintah. Studi ini merekomendasikan revisi kebijakan yang menyesuaikan dengan kondisi kepulauan, pelatihan rutin, jadwal kapal pengangkut sampah yang tetap, subsidi karung, dan integrasi pemulung informal. Penguatan kapasitas lokal dan pelibatan organisasi tanggung jawab produsen (PRO) sangat penting untuk keberhasilan dan keberlanjutan jangka panjang sistem ini di wilayah kepulauan terpencil.

2025
👤 Penulis: Marcelino Sahputra
🏷️ Kepeloparan Kepulauan 🏷️ Manajemen Sampah 🏷️ Proses Pengembalian Sampah

PENGEMBANGAN MODEL KONSEPTUAL GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM-BASED SMART WASTE MANAGEMENT SYSTEM UNTUK OPTIMALISASI PENGELOLAAN SAMPAH DI KAWASAN PERKOTAAN CIBINONG RAYA, KABUPATEN BOGOR

Pengelolaan sampah di kawasan perkotaan Cibinong Raya, Kabupaten Bogor, menghadapi tantangan signifikan akibat pesatnya urbanisasi dan keterbatasan sistem konvensional yang belum mampu memenuhi kebutuhan efisiensi, distribusi layanan, serta pengambilan keputusan berbasis data spasial. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model konseptual Geographic Information System-Based Smart Waste Management System (GIS-SWM) guna mengoptimalkan pengelolaan sampah melalui integrasi teknologi informasi dan analisis spasial. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah deskriptif-konseptual, dengan analisis spasial, pemetaan distribusi fasilitas, identifikasi zona prioritas, serta optimasi rute pengangkutan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), Technique for Order of Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS), dan Certainty Factor Model. Studi kasus dilakukan pada enam kecamatan di Cibinong Raya sebagai representasi kawasan peri-urban dengan dinamika pertumbuhan wilayah yang pesat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan model GIS-SWM mampu meningkatkan akurasi penetapan wilayah prioritas, memperbaiki distribusi fasilitas layanan, mempercepat proses pengambilan keputusan, serta meningkatkan efisiensi operasional dalam pengelolaan sampah. Kebaruan penelitian terletak pada arsitektur sistem spasial yang adaptif, evidencebased, serta mudah direplikasi di kota berkembang lain di Indonesia. Sumbangan utama penelitian adalah memperkuat landasan ilmiah dan praktis bagi pemerintah daerah serta pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pengelolaan sampah berbasis teknologi menuju smart city berkelanjutan.

2025
👤 Penulis: Muhammad Farras Rahman
🏷️ Geografis 🏷️ Manajemen Sampah 🏷️ Smart City

SKENARIO, AKTOR, DAN FAKTOR PENENTU MASA DEPAN EKOSISTEM BISNIS EKONOMI SIRKULAR PADA PENGELOLAAN SAMPAH PLASTIK

Sampah plastik yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai menimbulkan risiko lingkungan yang signifikan karena ketergantungannya pada tempat pembuangan akhir (TPA). Pengelolaan sampah plastik sirkular yang mengutamakan pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang dapat meminimalkan risiko ini. Penelitian sebelumnya tentang peran regulasi dan aspek teknis dalam penerapan model bisnis pengelolaan limbah sirkular terbatas, dengan fokus pada produk plastik prakonsumsi dan mengabaikan produk plastik pascakonsumsi seperti limbah kemasan. Segmentasi pelanggan untuk ekonomi sirkular terutama didasarkan pada karakteristik perilaku dan hampir tidak mempertimbangkan persepsi masyarakat tentang dimensi keberlanjutan. Disertasi ini bertujuan untuk memberikan gambaran umum skenario masa depan dan segmentasi masyarakat berdasarkan persepsi mereka terhadap dimensi keberlanjutan, dengan mempertimbangkan aspek kelembagaan seperti regulasi dan dimensi teknis. Pendekatan metode campuran digunakan, menggabungkan metode kualitatif seperti beberapa studi kasus, diagram lingkaran kausal, evaluasi uji coba pengambilan keputusan dan laboratorium (DEMATEL), dan perencanaan skenario dengan metode kuantitatif seperti analisis klaster dan diagram stok dan aliran. Penelitian ini menemukan bahwa pengurangan sampah plastik secara optimal memerlukan pengurangan sampah yang dihasilkan oleh masyarakat itu sendiri. Keuntungan menjadi daya tarik utama bagi model bisnis pengelolaan sampah sirkular, baik dalam fase pengumpulan, pengurangan, maupun pemrosesan ulang sampah plastik. Kebijakan pemerintah yang memisahkan fungsi regulator dan pelaksana pengelolaan sampah juga menjadi faktor kunci tumbuhnya model bisnis pengelolaan sampah sirkular. Disertasi ini menghasilkan empat skenario masa depan pengelolaan sampah plastik sirkular, yaitu pengurangan sampah plastik melalui model reuse, daur ulang sampah plastik, pemulihan energi dari sampah plastik, dan pengelolaan sampah yang masih mengandalkan TPA. Empat kelompok segmentasi masyarakat dapat memengaruhi arah skenario ini, yaitu pure eco-consumer, market-rational eco-consumer, exploitative consumer, dan pragmatist eco-consumer. Penelitian ini berkontribusi untuk memahami model bisnis dan kebijakan yang dibutuhkan oleh pelaku pengelolaan sampah plastik dan pemerintah, sekaligus mengisi gap penelitian sebelumnya dengan menemukan aspek keberlanjutan sebagai determinan dalam segmentasi masyarakat terkait pengelolaan sampah plastik sirkular.

2025
👤 Penulis: Noorhan Firdaus Pambudi
🏷️ Ekonim Sirkular 🏷️ Manajemen Sampah 🏷️ Regulasi Pemerintah

MODEL PENANGGULANGAN SAMPAH MELALUI DESAIN BERDASARKAN PARTISIPASI MASYARAKAT

Permasalahan sampah di masyarakat tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik sampah, tetapi juga mencakup dimensi sosial, budaya, dan lingkungan. Tantangan dalam penanganan sampah adalah perbedaan persepsi mengenai kebersihan dan tingkat ketergangguan terhadap keberadaan sampah. Sementara sebagian masyarakat melihat sampah sebagai sumber daya potensial, sebagian lainnya memandangnya sebagai masalah. Beberapa orang mungkin lebih sensitif terhadap sampah dibandingkan yang lain. Hal ini memengaruhi pada tindakan membuang sampah. Namun demikian, tidak ada masyarakat yang menghendaki lingkungannya kotor, dan ini merupakan sebuah kepentingan kolektif yang menjadi dasar dalam pendekatan penanggulangan sampah. Pengetahuan terhadap isu ini ada di masyarakat sendiri, sehingga partisipasi masyarakat menjadi pendekatan yang strategis. Penelitian ini memandang bahwa solusi yang selaras dengan kondisi masyarakat dapat mengatasi kesenjangan ini. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa masyarakat memiliki cara pandangnya sendiri terkait penanganan sampah. Dengan mengidentifikasi hal tersebut, solusi penanganan sampah dapat diupayakan untuk lebih sesuai dengan kondisi masyarakat. Desainer dapat memanfaatkannya untuk merancang solusi desain. Dengan melibatkan masyarakat, desainer dapat bekerja sama untuk mencari solusi yang paling sesuai. Namun demikian, untuk memastikan keterlibatan masyarakat, diperlukan keterukuran tertentu agar prosesnya dapat berjalan. Hal ini meliputi identifikasi persoalan dan pemahaman terhadap potensi yang dimiliki masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan memadukan eksperimen material sederhana. Strategi yang diterapkan adalah participatory action research. Penelitian dilakukan di Desa Mekarmukti dan Desa Tanjungbaru, Kota Bekasi, Jawa Barat. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan keterlibatan langsung. Pemetaan dilakukan terhadap aspek geografis, aset fisik, sistem pengelolaan sampah yang ada, jenis sampah, dan jaringan sosial masyarakat. Proses empati digunakan untuk memahami perspektif masyarakat terhadap sampah. Dalam fase desain, dilakukan eksplorasi material dan pembuatan prototipe dalam skala laboratorium. Jenis residu dan metode pengolahan dipilih berdasarkan preferensi masyarakat, tanpa proses rumit seperti pemilahan, pencucian, pencacahan, atau pemurnian, guna menjaga kesederhanaan proses. Produk pot bunga dipilih projek untuk membuktikan bahwa residu dapat diolah secara mandiri sesuai kapasitas Bank Sampah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi yang efektif adalah yang mampu mengakomodasi perbedaan peran dan kontribusi berdasarkan kapasitas dan posisi sosial masyarakat. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya memiliki potensi untuk mengelola sampah di lingkungannya sendiri, asalkan didorong dengan cara yang sesuai dengan karakter dan kondisi masyarakat Penelitian ini menawarkan strategi pelibatan yang tidak menuntut semua orang ikut merancang dan membuat, melainkan menyediakan jalur partisipasi yang fleksibel melalui empat konsep kunci, yaitu Suit, yaitu sejauh mana solusi dapat diterima dan memberdayakan masyarakat; Contextual, yaitu kesesuaian solusi dengan kondisi geografis dan sosial budaya lokal; Appropriate, yaitu ketepatan solusi dengan sumber daya dan kemampuan teknis masyarakat; dan Match, yaitu keselarasan solusi dengan struktur sosial dan dinamika hubungan antarwarga. Model ini diberi nama SCAM (Suit, Contextual, Appropriate, Match)

2025
👤 Penulis: Wildan Aulia
🏷️ Desain Berbasis Partisipasi Masyarakat 🏷️ Manajemen Sampah 🏷️ Partisipatif Action Research

PERANCANGAN TEMPAT PENGOLAHAN SAMPAH TERPADU DI KECAMATAN TURI, KABUPATEN SLEMAN, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

TPA Piyungan resmi ditutup oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dikarenakan telah mencapai ambang batas. Hal ini, akan berdampak pada daerah yang masih tergantung pada TPA, salah satunya Kabupaten Sleman. Oleh karena itu, Kabupaten Sleman merencanakan akan menangani sampahnya sendiri dengan melakukan pembangunan tempat pengolahan sampah terpadu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan alternatif teknologi yang tepat dan dapat diterapkan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) nantinya. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan sampling timbulan sampah, komposisi, dan karakteristik sampah. Penentuan alternatif teknologi dilakukan dengan menggunakan metode Simple Additive Weighting (SAW). TPST yang direncanakan mampu mengolah sampah hingga 13,37 ton/hari melalui produksi Refuse Derived Fuel (RDF) sebesar 3,25 ton/hari dan produksi kompos sebesar 0,94 ton/hari. Biaya perencanaan TPST yaitu sebesar Rp10.151.923.332,65 dengan biaya operasional dan pemeliharaan per tahunnya sebesar Rp1.314.099.553,84.

2025
👤 Penulis: David Wilson Sihombing
🏷️ Manajemen Sampah 🏷️ Teknologi Pengolahan Sampah 🏷️ Energi Renenables

LIFE CYCLE ASSESSMENT RENCANA FASILITAS TPST DI KOTA CIMAHI

Kondisi pengelolaan sampah Kota Cimahi saat ini mencapai tingkat pengelolaan 95,20%. Dengan timbulan sampah 230,21 ton/hari pada tahun 2023, persentase penanganannya adalah 74,27% diangkut ke TPA dan pengurangannya baru mencapai 20,94% untuk aktvitas daur ulang dan pembatasan timbulan di sumber. Sehingga, perlu adanya alternatif pengolahan sampah yang lebih optimal untuk meningkatkan persentase pengurangan sampah dan menurunkan beban timbulan sampah ke TPA. Melalui program Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project (ISWMP) yang dikelola oleh kerjasama antara Balai Prasarana Permukiman Wilayah Jawa Barat dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi direncanakan operasional fasilitas TPST dengan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) dan pengolahan black soldier fly (BSF) untuk material organik yang berkapasitas 50 ton/hari. Target pelayanan dari rencana fasilitas TPST ini adalah sumber sampah dari Stasiun Peralihan Antara (SPA) Sangkuriang. Fasilitas pengumpul ini melayani 3 wilayah yang terdiri dari 3 kelurahan yakni, Kelurahan Cipageran, Kelurahan Citeureup, dan Kelurahan Padasuka. Dengan jumlah RW terlayani sebanyak 36 dan kapasitas TPS adalah 39 m3 /hari. Sampah dari masing-masing wilayah pelayanan (sumber sampah) diangkut menggunakan gerobak (50%), motor sampah (36,4%), dan pick up (13,6%). Penelitian ini akan ditinjau bagaimana manfaat maupun dampak lingkungan yang timbul dari aktivitas pengelolaan sampah menjadi energi yang telah diterapkan di Kota Cimahi. Sehingga, dapat dievaluasi untuk pengembangan teknologi yang tepat dalam meminimalisir dampak yang timbul dari pengelolaan sampah tersebut. Metoda life cycle assessment (LCA) digunakan untuk mengukur dampak lingkungan dari rencana operasional TPST di Kota Cimahi. Ruang lingkup penelitian ini adalah cradle to gate, dengan unit fungsional 1 ton sampah yang diolah. Inventori emisi maupun aliran limbah dari rencana fasilitas TPST di Kota Cimahi dibagi ke dalam 3 subsistem yakni, Subsistem Transportasi, Subsistem TPST Santiong, dan Subsistem TPST Lebak Saat. Pengolahan data dilakukan menggunakan software OpenLCA 2.3.1 dengan metoda penilaian dampak CML IA-Baseline vers 4.7 tahun 2016. Saat ini, kapasitas pengolahan sampah pada uji coba operasional TPST Santiong dan TPST Lebak Saat adalah 15.246,51 kg/hari atau 15,247 ton/hari. Dampak lingkungan yang ditimbulkan dari rencana fasilitas TPST di Kota Cimahi menghasilkan dampak global warming potential sebesar 9,30E+05 kg CO2eq; human toxicity potential sebesar 1,51E+01 kg 1,4-DB eq; acidification potential sebesar 8,12E+00 kg SO2eq; dan eutrophication potential iv sebesar 1,48E+01 kg PO4-eq. Dampak global warming potential merupakan dampak tertinggi dengan nilai normalisasi 2,22E-08. Sementara, hostpot signifikan dari rencana fasilitas TPST di Kota Cimahi adalah penggunaan skid steer loader. Hal tersebut disebabkan oleh tingginya emisi CO2 dari konsumsi solar untuk kegiatan operasional TPST yang menggunakan alat berat dengan kontribusi dampak sebesar 9,30E+05 kg CO2eq yang mencapai nilai kontribusi 99,99%. Potensi peningkatan kinerja rencana fasilitas TPST di Kota Cimahi untuk mereduksi dampak lingkungan adalah melalui penerapan biodrying dengan teknologi aerasi untuk menangani material organik sebagai bahan baku RDF yang menurunkan beban penggunaan skid steer loader.

2025
👤 Penulis: Amelinda Dhiya Farhah
🏷️ Manajemen Sampah 🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

KAJIAN POLITIK EKOLOGI TERHADAP PENGELOLAAN TPK SARIMUKTI DI JAWA BARAT

Timbulan sampah dan limbah merupakan "pil pahit pembangunan" yang saat ini ada dihadapan banyak wilayah perkotaan maupun pedesaan baik negara maju dan berkembang. Pengelolaan dalam hal pengumpulan dan penanganan sampai akhir sampah/MSW (Municipal Solid Waste) merupakan salah satu masalah utama yang belum bisa terselesaikan dengan tuntas di hampir seluruh kota besar di dunia saat ini. Lahirnya Undang Undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah nampaknya tidak membawa pengelolaan sampah yang lebih baik di Indonesia. Salah satu buktinya pada tahun 2023, 15 tahun setelah undang undang tersebut berlaku, 38 TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) terbakar sepanjang Juni hingga Oktober 2023 di berbagai daerah di Indonesia. TPK Sarimukti adalah salah satu kawasan TPA yang dilaporkan mengalami kebakaran cukup besar pada Agustus 2023. Imbas dari kejadian kebakaran tersebut, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran yang dikeluarkan oleh Bupati Kabupaten Bandung Barat. Dalam praktik pembangunan, sering disebutkan pentingnya integrasi antara aspek sosial dan lingkungan serta bagaimana dinamika kepentingan kedua aspek tersebut bisa seimbang dalam proses pengambilan keputusan para pemegang kebijakan. Tentu bukan hal mudah mewujudkan konsep diatas, salah satu tantangannya adalah kejelian untuk melihat bagaimana permasalahan sosial berasosiasi dengan permasalahan lingkungan serta memetakan dinamika keduanya. Dengan menggunakan prinsip politik ekologi dan kerangka pemikiran Actor Network Theory (ANT), penelitian ini bermaksud untuk mengungkap cerminan tata kelola TPK Sarimukti di Jawa Barat. Sekaligus memetakan jejak para aktor yang terlibat dalam penelitian ini sesuai dengan kronologis masa pemanfaatan kawasan TPK Sarimukti.

2024
👤 Penulis: Syaiful Rochman
🏷️ Politik Eko 🏷️ Manajemen Sampah 🏷️ Actor Network Theory

STUDI EFEKTIVITAS PENGOLAHAN MUNICIPAL SOLID WASTE (MSW) DALAM PROSES PRODUKSI REFUSE DERIVED FUEL (RDF) (STUDI KASUS: RDF PLANT JERUKLEGI)

Refuse derived fuel (RDF) Plant Jeruklegi menjadi fasilitas di TPA Tritih Lor dengan teknologi pengolahan sampah yang memanfaatkan sampah menjadi bahan bakar alternatif dengan konsep waste to energy (WtE). TPA Tritih Lor merupakan TPA dengan area pelayanan dan kapasitas landfill terbesar di Kabupaten Cilacap. Oleh karena itu, studi efektivitas perlu dilakukan untuk mengoptimalkan RDF Plant Jeruklegi. Berdasarkan sampling, komposisi terbanyak adalah sampah organik yaitu 43%. Densitas sampah yang masuk yaitu 301,49 kg/m3 . Proses pengolahan sampah menjadi RDF dilakukan dengan konsep mechanical biological treatment (MBT) meliputi penimbangan, sortir oleh pemulung, pencacahan, pengeringan, dan pemilahan dengan screening machine. Proses pengeringan dilakukan dengan drying bay yang dilengkapi membran semi permeable dan unit aerasi untuk mendukung proses degradasi oleh mikroorganisme. RDF Plant mampu menghasilkan RDF dengan kadar air 12,264%, kadar abu 8,483%, kadar volatil 75,831%, fixed carbon 3,422%, ukuran <5cm, nilai kalor 4634,116 kkal/kg, 67,67% penurunan massa, dan 72,57% penurunan volume. Proses pemilahan oleh pemulung berpotensi menurunkan nilai kalor sampah hingga 3,49%. Penggunaan RDF Plant mampu memperpanjang umur landfill hingga 8 tahun 10 bulan dan mencegah 18.354,36 ton CO2eq/tahun. RDF Plant ini masih membutuhkan biaya pemasukan untuk operasional sebesar Rp226.442/ton sampah dan adanya investasi menjadi penting untuk kelayakan pembangunan. Dibutuhkan pengeringan selama 44 hari pada proses pengolahan untuk mengoptimalkan kualitas RDF yang di produkis

2024
👤 Penulis: Nidha Resti Aisyarah
🏷️ Refuse Derived Fuel (Rdf) 🏷️ Manajemen Sampah 🏷️ Proses Pengolahan Sampah
Halaman 1 dari 2
💬