📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 14 dokumenDESAIN DAN IMPLEMENTASI POWER SUPPLY DAN BATTERY STATE-OF-CHARGE UNTUK TONGKAT ADAPTIF TUNANETRA
Pengembangan tongkat adaptif untuk tunanetra saat ini masih sangat terbatas dalam hal pendeteksian objek di sekitar dan feedback yang kurang informatif. Tongkat adaptif yang sudah ada hanya bisa mendeteksi jarak dengan narasi suara jarak yang terdeteksi, yang mana kurang efisien dalam hal penerimaan feedback karena narasi suara dianggap terlalu lama. Sebagai solusinya, dikembangkan fitur deteksi objek dan mengubah sistem feedback menjadi lebih informatif. Untuk memenuhi kebutuhan akan daya dan menambah informasi, didesain dan diimplementasikan sebuah subsistem daya dan subsistem battery state-of-charge. Subsistem daya diimplementasikan dengan memasang battery shield yang mana merupakan BMS sekaligus power supply untuk keseluruhan sistem. Output dari subsistem ini berupa sumber daya yang memiliki tegangan di sekitar 5 volt. Subsistem state-of-charge diimplementasikan dengan metode open circuit voltage yang menggunakan LUT berdasarkan karakterisasi baterai yang digunakan pada sistem tongkat adaptif. Keluaran dari subsistem ini berupa rentang muatan baterai yang tersisa dengan lebar 10% dimulai dari 0% sampai 100%. Subsistem ini memiliki akurasi sebesar 91,61% yang mana dapat diimprovisasi dengan melakukan karakterisasi ulang dengan memperhatikan aspek temperatur atau menggunakan metode coulomb counting.
OPTIMALISASI PRODUKTIVITAS PEKERJAAN PIPING ALLOY PADA PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK MENGGUNAKAN SIMULASI EZ STROBE (STUDI KASUS PTGU MUARA TAWAR)
Pekerjaan piping alloy, khususnya material P91, merupakan salah satu pekerjaan kritis dalam pembangunan pembangkit listrik karena memerlukan sumber daya yang besar dan proses yang kompleks, termasuk preheating, welding, postheating, dan testing. Ketidakefisienan dalam alokasi sumber daya dapat menyebabkan keterlambatan proyek dan peningkatan biaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan produktivitas dan biaya pekerjaan piping alloy melalui simulasi menggunakan perangkat lunak EZStrobe berdasarkan metodologi CYCLONE. Data lapangan dikumpulkan dari proyek PLTGU Muara Tawar, meliputi urutan pekerjaan, durasi, komposisi sumber daya, dan biaya. Simulasi dilakukan dengan berbagai skenario perubahan jumlah sumber daya seperti fitter, helper, welder, rigger, crane, dan heater. Hasil simulasi menunjukkan bahwa penambahan satu orang helper dapat mengurangi durasi proyek sebesar 22%, meningkatkan produktivitas sebesar 28%, dan menurunkan total biaya sebesar 9,2%. Sebaliknya, penambahan welder justru meningkatkan biaya dan waste tanpa memperbaiki durasi. Konfigurasi sumber daya optimal yang direkomendasikan adalah: 4 fitter, 6 helper, 2 welder, 2 rigger, 1 crane, dan 1 heater. Implementasi rekomendasi ini dapat menghasilkan penghematan biaya hingga 9,2% dan percepatan waktu penyelesaian proyek secara signifikan. Hasil penelitian ini dapat dijadikan panduan dalam perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan piping alloy pada proyek sejenis.
PENINGKATAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DENGAN MENGGUNAKAN PETA 3D HASIL TEKNIK FOTOGRAMETRI DAN LIDAR (Wilayah Studi Kelurahan Helvetia Tengah, Kota Medan)
Kegiatan pembangunan yang semakin meningkat, mendorong penggalian potensi sumber keuangan untuk dapat membiayainya. Salah satu sumber keuangan potensial yang dapat ditingkatkan adalah dari sektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Untuk menunjang proses identifikasi objek pajak, diperlukan suatu sumber data geospasial yang terbarukan dan akurat karena seiring dengan berjalannya waktu sangat mungkin terjadi perubahan pada objek pajak yang berpotensi menambah penerimaan PBB. Dengan menggunakan teknik fotogrameri dan LIDAR (Light Detection and Ranging), dapat dihasilkan Peta 3 Dimensi yang nantinya dapat dijadikan sebagai salah satu sumber data untuk mengidentifikasi adanya potensi penambahan pada komponen perhitungan pajak, seperti luas bangunan dan luas tanah, serta perubahan fungsi pada tanah dan atau bangunan. Kualitas data spasial dari sumber data yang digunakan dapat dilihat dari beberapa elemen seperti lineage, akurasi posisi, akurasi atribut, konsistensi logikal, dan kelengkapan dengan residual koordinat Peta Foto dengan Peta Garis sebesar 0,436695 meter dan residual koordinat Peta Persil BPN hasil transformasi dengan Peta Garis sebesar 1,49816 meter. Selanjutnya dilakukan analisis spasial dan ekstraksi informasi tematik dengan menggunakan sumber data tersebut. Hasilnya menunjukan adanya indikasi penambahan luas pada objek pajak bangunan sebesar 1,75 % yang dapat meningkatkan pendapatan dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar 0,406 %.
DAMPAK PILAR LINGKUNGAN TERHADAP KINERJA PENJUALAN DI INDUSTRI KECANTIKAN
Studi ini meneliti hubungan antara integrasi strategi lingkungan dan dampaknya ke kinerja penjualan, berfokus pada Environmental Pillar dari kerangka kerja ESG (Environmental, Social, and Governmental) dan masing-masing kategori didalamnya serta pendapatan penjualan sebagai indikator kinerja finansial dan pendapatan penjualan sebagai indikator kinerja keuangan juga dimoderasi oleh sumber daya yang diperhitungkan dalam belanja modal. Studi ini berfokus pada industri kecantikan di perusahaan Amerika Serikat. Dengan menggunakan analisis panel, dengan regresi efek tetap dan acak, penelitian ini mengungkap hubungan langsung negatif yang signifikan antara pilar lingkungan dan pendapatan penjualan. Belanja modal juga ditemukan positif dan signifikan terhadap pendapatan penjualan di seluruh model, didukung juga oleh teori Resource Based View. Temuan-temuan ini berkontribusi terhadap literatur industri kecantikan yang sedang berkembang saat ini dan juga hubungan keberlanjutan dan kinerja keuangan perusahaan. Penelitian di masa mendatang diharapkan dapat mengeksplorasi lebih banyak dampak pada strategi lingkungan, dan juga berbagai indikator kinerja keuangan untuk wawasan yang lebih mendalam.
USULAN PENINGKATAN PROSES PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN DI PERUSAHAAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
PT Digital Telecommunication Company (DTC) adalah perusahaan di Indonesia yang menghadapi tantangam kompetitif dalam industri telekomunikasi. Corporate University Center (CUC) sebagai unit pendukung dari PT DTC didedikasikan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan karyawan PT DTC untuk mencapai tujaun strategis. Dalam upaya tersebut, CUC mengembangkan Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2025-2027 untuk mendukung strategi perusahaan dalam bidang pengembangan SDM. Maka dari itu, penting untuk mengidentifikasi potensi area pengembangan untuk memastikan bahwa CUC dapat berkontribusi dalam keberhasilan implementasi strategi baru PT DTC. Penelitian ini berfokus pada tim Learning di CUC yang berperan dalam memproduksi materi pembelajaran. Dalam rangka menganalisis proses tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan ADDIE dan Manajemen Proyek untuk mengidentifikasi proses operasional dari learning desain dan development. Pendekatan ini diharapkan dapat mendukung CUC dalam menghasilkan materi pembelajaran yang berkualitas dan sejalan dengan strategi perusahaan secara efektif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi struktur dengan lima partisipan dari tim Learning yang bertujuan untuk mengeksplorasi strategi bisnis perusahaan dan proses operasional pengembangan pembelajaran. Data dianalisis menggunakan NVivo 15 yang menghasilkan tema yang paling sering muncul. Tema ini dianalisis lebih lanjut dengan analisis kutipan untuk memahami konteks dalam pengembangan pembelajaran. Analisis data menunjukkan ada enam potensi area pengembangan, yaitu: Manajemen Sumber Daya, Perencanaan Skalabilitas untuk Program Berdampak Tinggi, Komunikasi Pemangku Kepentingan, Partisipasi Peserta, Pengukuran Dampak Pembelajaran, dan Peningkatan Penggunaan Teknologi AI. Beberapa metode Manajemen Proyek dapat digunakan untuk pengembangan lebih lanjut, dan CUC dapat mengimplementasikan program literasi AI untuk mengintegrasikan penggunaan AI dengan aktivitas kerja perusahaan. Penelitian ini berkontribusi pada peningkatan peran corporate university sebagai pengembangan SDM untuk menghadapi kompetisi industri dan menekankan pada penggunaan teknologi dalam kompetisi digital.
PENGARUH AKTOR MANUSIA DAN NON-MANUSIA MENGGUNAKAN ACTOR-NETWORK THEORY TERHADAP KETERAMPILAN DAN KAPABILITAS TENAGA KERJA, PENGEMBANGAN TALENTA, DAN GAYA ORGANISASI TERHADAP KEUNGGULAN KOMPETITIF DALAM STARTUP TAHAP AWAL
Startup tahap awal menghadapi tantangan signifikan dalam mencapai keunggulan bersaing akibat keterbatasan sumber daya, ketidaksesuaian strategi, dan dinamika pengaruh eksternal. Penelitian ini mengkaji peran aktor manusia dan non-manusia dalam membentuk dinamika organisasi internal, dengan fokus khusus pada keterampilan dan kapabilitas tenaga kerja, pengembangan talenta, serta gaya organisasi. Dengan menggunakan Actor-Network Theory (ANT) dan ResourceBased View (RBV) sebagai kerangka teoretis, studi ini mengeksplorasi bagaimana interaksi antara pemangku kepentingan eksternal, digitalisasi, dan modal manusia internal mempengaruhi keunggulan bersaing pada startup tahap awal di Indonesia. Penelitian ini menerapkan metode campuran eksplanatori berurutan, dengan fase kuantitatif menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Data dikumpulkan melalui survei daring yang menargetkan pendiri startup dan pengambil keputusan utama. Fase kualitatif dilakukan melalui pengkodean dan analisis tematik terhadap data hasil wawancara dengan informan kunci dari startup tahap awal di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktor manusia dan non-manusia berpengaruh positif terhadap gaya organisasi dan pengembangan talenta, yang selanjutnya meningkatkan keterampilan dan kapabilitas tenaga kerja serta menghasilkan peningkatan keunggulan bersaing. Temuan ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi strategis dengan pemangku kepentingan dan penguatan infrastruktur dalam membantu startup mengatasi keterbatasan sumber daya dan beradaptasi terhadap ketidakpastian lingkungan. Studi ini memperluas penerapan ANT dan RBV dalam konteks kewirausahaan serta memberikan wawasan praktis bagi pendiri startup, investor, dan pembuat kebijakan untuk membangun startup tahap awal yang tangguh dan kompetitif.
DAMPAK DEMOGRAFI CEO TERHADAP KINERJA PERUSAHAAN INTERNASIONAL: BUKTI DARI INDONESIA
Penelitian kuantitatif ini mengeksplorasi pengaruh karakteristik demografi CEO, yaitu tingkat pendidikan, jenis kelamin, dan masa jabatan, terhadap kinerja perusahaan multinasional yang terdaftar di Indonesia. Dengan menggunakan desain cross-sectional pada 92 perusahaan, hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga variabel tersebut tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja perusahaan. Temuan ini menunjukkan bahwa atribut organisasi lebih dominan daripada karakteristik individu dalam menentukan kinerja perusahaan multinasional. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dengan menyoroti pentingnya pengalaman organisasi dan manajemen sumber daya dalam konteks perusahaan multinasional. Implikasi praktisnya adalah bahwa manajer dan pemimpin perusahaan harus fokus pada strategi adaptasi dan manajemen organisasi untuk meningkatkan kinerja. Keterbatasan penelitian ini, seperti ukuran sampel yang kecil dan fokus geografis yang terbatas, membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut dengan cakupan sampel yang lebih besar, wilayah yang lebih luas, dan mempertimbangkan variabel kontekstual seperti dinamika pasar dan peraturan industri.
EVALUASI PERENCANAAN TENAGA KERJA MELALUI PROGRAM BIMBINGAN KEAHLIAN JURU TEKNIK (BKJT) DAN BIMBINGAN PROFESI AHLI (BPA) DI PT PHE OSES
PT PHE OSES menghadapi tantangan signifikan dalam perencanaan tenaga kerja akibat tingginya tingkat kekosongan posisi operator dan teknisi setelah reorganisasi besar-besaran. Perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang optimal untuk mencapai target produksi dan memenuhi rencana strategis jangka panjangnya. Sebagai bagian dari strategi sumber daya manusia, PHE OSES telah mengimplementasikan program Bimbingan Keahlian Juru Teknik (BKJT) dan Bimbingan Profesi Ahli (BPA) untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja dan memastikan ketersediaan tenaga kerja terampil. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan wawancara kepada pejabat kunci di PHE OSES, termasuk VP Human Capital, VP Produksi Operasi, SM Produksi & Proyek, serta karyawan baru dari program BKJT dan BPA. Data yang dikumpulkan dari wawancara tersebut, bersama dengan data sekunder, dianalisis untuk mengevaluasi efektivitas proses perencanaan tenaga kerja, dengan fokus pada peramalan permintaan dan pasokan, pelatihan, serta strategi rekrutmen. Penelitian ini menyoroti keberhasilan dan tantangan dari program BKJT dan BPA dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja di PHE OSES, mengidentifikasi celah utama, serta mengusulkan solusi yang dapat diimplementasikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun program BKJT dan BPA telah memberikan kontribusi signifikan dalam mengatasi kekurangan tenaga kerja, perbaikan masih diperlukan dalam hal peramalan permintaan, prioritas rekrutmen, dan perencanaan suksesi. Penelitian ini merekomendasikan untuk meningkatkan peramalan permintaan, memperbesar upaya rekrutmen untuk peranperan spesialis, memperkuat program pelatihan, dan menerapkan kerangka perencanaan suksesi formal untuk memastikan tenaga kerja yang berkelanjutan dan terampil di masa depan.
MENINGKATKAN KESEHATAN TEMPAT KERJA UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN KARYAWAN DAN MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KARYAWAN DI PT. BIO FARMA
Situasi pandemi beberapa tahun lalu menyebabkan kebutuhan vaksin yang semakin meningkat menjadi tantangan tersendiri bagi sektor bisnis bioteknologi seperti PT. Bio Farma. Namun, kini pendapatan PT Bio Farma justru anjlok karena permintaan yang minim. Namun, dengan visi Bio Farma untuk menjadi perusahaan life science kelas dunia yang berdaya saing global, Bio Farma harus mampu bersaing dengan perusahaan life science lainnya di dunia. Tantangan bisnis yang utama adalah produktivitas karyawan yang masih di bawah target, yang berdampak pada kinerja Bio Farma, Untuk menganalisis permasalahan dan mengusulkan solusi, penulis menghubungkan teori kesejahteraan karyawan dan kesehatan tempat kerja, karena pendekatan ini dipandang efektif dan tepat dalam memberikan bukti awal yang dapat meningkatkan efektivitas organisasi. Dengan merancang kerangka kerja untuk mentransformasikan praktik SDM, tujuannya adalah untuk memastikan kesehatan tempat kerja dan kesejahteraan karyawan, yang pada akhirnya mengarah pada peningkatan produktivitas. Metode penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, instrumen penelitian adalah kuesioner dengan menggunakan skala likert. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan Bio Farma di Bandung dengan sampel sebanyak 620 responden yang diambil secara acak (random sampling). Pertanyaan survei terdiri dari 70 item yang meliputi 3 (tiga) variabel yang terdiri dari variabel Kesehatan Tempat Kerja, Kesejahteraan Karyawan, dan Produktivitas Karyawan. Pengolahan data dilakukan dengan bantuan aplikasi statistik SPSS versi 27.0. Pengolahan data meliputi uji validitas, uji reliabilitas, normalitas, dan regresi. Untuk mengetahui pengaruh perubahan akibat pandemi tersebut, penulis melakukan survei kepada karyawan PT Bio Farma untuk mempelajari Kesehatan Tempat Kerja mereka (menurut Workplace Health Model From Mental Health America (MHA)) dan apakah kesejahteraan mereka (menurut Smith dan Smith (2017)) mempengaruhi produktivitas karyawan PT Bio Farma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tempat kerja memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesejahteraan dan produktivitas karyawan. dan juga kesejahteraan karyawan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap produktivitas karyawan. penting untuk menyadari bagaimana perusahaan berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan karyawan. Produktivitas dan kesejahteraan adalah dua faktor yang dapat dipengaruhi oleh desain kerja.
REVITALISASI TAMAN CADIKA SEBAGAI TAMAN HUTAN KOTA YANG MENDUKUNG KEGIATAN OLAHRAGA RUANG LUAR RAMAH KONSERVASI LANSKAP
Revitalisasi, konservasi, dan olahraga saling berhubungan dalam upaya menciptakan ruang publik yang tidak hanya indah dan fungsional, tetapi juga berkelanjutan dan mendukung gaya hidup sehat. Taman Cadika, salah satu taman di Kota Medan, kini telah ditetapkan sebagai Taman Hutan Kota. Dengan lokasi yang cukup luas dan strategis, tidak jauh dari pusat kota, taman ini berkembang menjadi bumi perkemahan dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas olahraga. Potensi ini semakin meningkat setelah pengelolaan taman dialihkan dari Dinas Pertamanan ke Dinas Pemuda dan Olahraga. Namun, sayangnya kondisi taman saat ini masih kurang terawat. Oleh karena itu, revitalisasi Taman Cadika sebagai Taman Hutan Kota yang Mendukung Kegiatan Olahraga Ruang Terbuka Ramah Konservasi Lanskap sangat diperlukan. Dengan pengelolaan yang kini berada di bawah Dinas Pemuda dan Olahraga, taman ini dapat menjadi wadah untuk meningkatkan kualitas pelatihan para calon atlet di Kota Medan. Langkah ini juga sejalan dengan visi dan misi DISPORA Kota Medan, yaitu "Meningkatkan budaya dan prestasi olahraga secara berjenjang dan berkelanjutan melalui tahap pengenalan olahraga, pemantauan, pemanduan dan pengembangan bakat, serta peningkatan prestasi." Mengintegrasikan fungsi Taman Hutan Kota dengan kegiatan olahraga luar ruangan sambil mempertahankan nilai konservasi lanskap adalah langkah krusial. Revitalisasi Taman Cadika melalui pendekatan Nature-Based Solutions (NBS) akan memastikan taman berfungsi optimal sebagai ruang rekreasi dan olahraga, sambil melindungi air dan vegetasi. Dengan demikian, taman akan mendukung aktivitas fisik sekaligus pelestarian lingkungan dan peningkatan kualitas ekosistem. Analisis kendala dan potensi secara mikro, meso dan makro terhadap peran konservasi lanskap (tata air dan tata hijau) di Taman Cadika saat ini. Kemudian melakukan wawancara untuk memperoleh data atau informasi lebih lengkap. Analisis daya dukung merupakan alat yang sangat penting dalam pengelolaan sumber daya dan perencanaan pembangunan berkelanjutan. Proses ini berkaitan erat dengan konsep "rimba kota" yang diatur dalam Permen ATR/BPN Nomor 14 Tahun 2022, serta pedoman dalam Time-Saver Standards for Landscape Architecture. Analisis daya dukung membantu menentukan kapasitas maksimum suatu area untuk mendukung berbagai aktivitas manusia dan penggunaan sumber daya tanpa mengorbankan keseimbangan ekologis dan kualitas lingkungan. Dengan memahami daya dukung ini, perencana dan pengelola dapat merancang ruang terbuka hijau yang tidak hanya memenuhi kebutuhan fungsional dan rekreasi masyarakat tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan, sesuai dengan prinsip-prinsip yang diatur dalam peraturan dan standar yang relevan.
PENGEMBANGAN MODUL: EKSTRAKSI INFORMASI DAN KLASIFIKASI DOKUMEN CURRICULUM VITAE UNTUK CANDIDATE MATCHING DENGAN MODEL PEMBELAJARAN MESIN
Proses pelamaran pekerjaan merupakan proses yang kompleks baik bagi pelamar maupun perusahaan. Terlebih, pelamar dari suatu lowongan dapat mencapai ribuan. Bagi perusahaan dibutuhkan sumber daya yang tidak sedikit untuk menyeleksi dokumen serta melakukan wawancara kepada pelamar. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah sistem cerdas yang dapat mengoptimalkan proses lamaran pekerjaan sehingga lebih efisien. Salah satu terobosan untuk menyelesaikan masalah ini adalah pengembangan Sistem Cerdas untuk Candidate Matching dan Asesmen Talenta IT. Sistem ini akan menjadi sistem yang menangani proses seleksi lamaran pekerjaan dari pendaftaran, seleksi dokumen hingga asesmen atau wawancara. Tugas akhir ini bertujuan untuk mengembangkan salah satu modul dari Sistem Cerdas untuk Candidate Matching dan Asesmen Talenta IT, yakni modul Ekstraksi Informasi dan Klasifikasi Dokumen Lamaran Kerja dengan Model Pembelajaran Mesin. Modul ini bertujuan untuk membantu tugas tim sumber daya manusia dalam menyeleksi dokumen lamaran pekerjaan. Modul ekstraksi informasi dikembangkan dengan pendekatan pembelajaran mesin. Model berbasis transformer terlatih dengan metode transfer learning terbukti menghasilkan kinerja terbaik dengan nilai recall 0,81. Sedangkan, model klasifikasi dokumen lamaran dengan kebutuhan perusahaan mendapatkan kinerja terbaik pada model SVM. Model ini menunjukkan nilai kinerja AUC pada angka 0,85 dan precision pada angka 0,70. Meskipun terklasifikasi sebagai model yang dapat diandalkan menurut nilai AUC-nya, model ini masih perlu ditingkatkan kinerjanya, terutama berdasarkan metrik recall.
PENGEMBANGAN MODEL MATEMATIS DAN METAHEURISTIK PADA MULTI- TASK SIMULTANEOUS SUPERVISION DUAL RESOURCE-CONSTRAINED SCHEDULING PROBLEM DENGAN PERTIMBANGAN TINGKAT KETERAMPILAN OPERATOR
Penjadwalan menjadi kegiatan penting dalam produksi yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas. Penjadwalan melibatkan pengaturan job serta alokasi sumber daya berupa mesin dan operator secara optimal. Pengalokasian job dan sumber daya, dapat menggunakan berbagai strategi. Salah satu strategi yang digunakan yaitu mengalokasikan lebih sedikit operator untuk menangani beberapa mesin secara bersamaan. Strategi ini termasuk kedalam dual resource constrained yang mana mesin dan operator menjadi dua jenis keterbatasan sumber daya, yang dipertimbangkan secara bersamaan. Setiap operator yang bertugas, mampu mengoperasikan banyak aktivitas pada beberapa mesin secara bersamaan. Hal ini dikenal dengan istilah Multi-Task Simultaneous Supervision Dual Resource-Constrained Scheduling (MTSSDRC). Penelitian MTSSDRC dapat diaplikasikan pada mesin paralel identik, penelitian ini mempertimbangkan tingkat keterampilan operator dengan fungsi tujuan meminimasi makespan dan Workload Smoothness Indeks (WSI). Minimasi makespan dilakukan untuk mencegah adanya lonjakan total waktu penyelesaian dan idle time pada mesin dan operator. Sementara perhitungan WSI berguna untuk menyeimbangkan beban kerja operator. Penelitian ini mengembangkan model matematis untuk masalah yang diteliti. Model matematis yang dikembangkan, digunakan untuk menangani batasan ganda pada sumber daya yaitu batasan dari jumlah mesin dan operator, serta adanya perbedaan tingkat keterampilan operator. Dalam pengembangan model matematis, perangkat lunak optimasi matematika yang digunakan adalah software Gurobi. Gurobi mampu menyelesaikan dual fungsi objektif, namun kedua fungsi tersebut haruslah linear. Oleh karena itu, dilakukan retrukturisasi dengan pendekatan lexicographical, hingga menjadi tiga model matematis yaitu Mixed Integer Linear Programming (MILP), Mixed-Integer Quadratic Problem (MIQP), dan Mixed Integer Quadratically Constrained Programming (MIQCP). Model-model ini mampu menangani kasus dari skala kecil hingga menengah. Hasil dari Model MILP berfokus pada minimasi makespan dengan batasan tambahan berupa menghitung nilai WSI. Model MIQP berfokus pada keseimbangan beban kerja, sehingga fungsi objektif yang digunakan berupa Workload Smoothness Index (WSI), dengan penambahan batasan berupa nilai makespan yang diizinkan. Hasil yang diperoleh dari MIQP adalah nilai WSI yang sama atau lebih rendah dibandingkan hasil dari model MILP. Selanjutnya model MIQCP, bertujuan untuk meminimasi makespan dengan batasan nilai WSI yang diizinkan. Model MIQCP menghasilkan nilai makespan yang disesuaikan dengan nilai WSI yang mendekati nol. Kemudian ketiga model dianalisis untuk mengetahui pengaruh perbedaan keterampilan operator. Hasil dari analisis diperoleh yaitu operator dengan tingkat keterampilan yang baik akan lebih sering ditugaskan untuk aktivitas selanjutnya, dibandingkan operator lain. Selanjutnya dilakukan pengembangan algoritma ii metaheuristik yaitu NSGA-II. Algoritma NSGA II dikembangkan untuk menyelesaikan dua fungsi tujuan secara bersamaan. Algoritma yang digunakan yaitu NSGA II dikembangkan dengan mengusulkan tiga decoding yaitu Decoding 1, Decoding 2 dan Decoding 3. Dilakukan uji coba dengan parameter yang sama, kemudian hasil NSGA II dibandingkan dengan hasil dari model matematis. Ketiga decoding ini juga dilakukan uji coba pada large cases, dibandingkan menggunakan empat comparision metriks yaitu Quality Metrics, Mean Ideal Distance, Mean Run Time dan Diversity Metrics. Tujuan dari perbandingan metriks ini untuk mengetahui kualitas solusi, efisiensi, dan keberagaman solusi yang dihasilkan. Hasil dari perbandingan tersebut menunjukkan bahwa skema D2 dan D3 dapat dipertimbangkan untuk digunakan pada large cases pada rasio y < 0.5 dan y = 0.5. Kedua decoding ini mampu menghasilkan solusi dengan nilai makespan dan WSI yang lebih rendah dibandingkan D1. D2 dan D3 juga menghasilkan solusi yang lebih dekat dengan ideal point. Begitu pula hasil comparisson metrics pada rasio y > 0.5, skema D2 dan D3 mampu menghasilkan kualitas solusi yang baik, namun solusi-solusi yang dihasilkan D3 cukup jauh dari ideal point.
MENJEMBATANI KESENJANGAN KETERAMPILAN KARYAWAN MELALUI PENGEMBANGAN BAGAN MATRIKS KETERAMPILAN: STUDI KASUS DI PERUSAHAAN MANUFAKTUR MULTINASIONAL
Memperkenalkan matriks keterampilan yang menyeluruh di perusahaan manufaktur multinasional merupakan upaya untuk menyelaraskan kompetensi staf dengan tujuan perusahaan, sehingga dapat meningkatkan kinerja secara keseluruhan. Upaya ini menggunakan Soft Systems Methodology (SSM), sebuah pendekatan sistematis, untuk mengatasi berbagai kesulitan yang terkait dengan pengembangan dan manajemen keterampilan. Metodologi ini secara efektif menyesuaikan diri dengan kebutuhan individu dan organisasi dengan mengklasifikasikan bakat ke dalam kompetensi lunak dan keras serta menawarkan teknik evaluasi dan alat pengembangan yang dapat disesuaikan. Mengintegrasikan matriks keterampilan dengan operasi SDM sangat penting untuk menyelaraskan upaya-upaya ini dengan tujuan strategis. Rencana yang terorganisir dan metodis untuk implementasi sangat penting, yang meliputi pelibatan semua pihak yang relevan, memberikan pelatihan menyeluruh, mengimplementasikan dengan cara yang terstruktur, mengidentifikasi area-area yang perlu ditingkatkan, mengalokasikan sumber daya secara strategis, memantau kemajuan, mengumpulkan umpan balik, dan terus mengevaluasi serta membuat penyesuaian yang diperlukan. Hal ini menjamin bahwa matriks keterampilan tetap relevan dan fleksibel untuk memenuhi kebutuhan organisasi yang terus berkembang. Metode ini mendorong budaya peningkatan berkelanjutan, yang tidak hanya meningkatkan keterlibatan dan retensi karyawan, tetapi juga memposisikan perusahaan untuk beradaptasi secara strategis dan memiliki keunggulan kompetitif dalam lingkungan bisnis global yang berubah dengan cepat.
PROSES PENYAYATAN GETAH KARET (LATEX) DENGAN MEMPERTIMBANGKAN BIAYA PROSES DOUBLE CUT ALTERNATIVE (DCA) PADA KOLABORASI MANUSIA DAN ROBOT
Perkembangan teknologi memungkinkan dilakukannya kolaborasi sumber daya manusia-robot dalam proses pemotongan karet (lateks) di perkebunan. Kegiatan kolaborasi manusia-robot dilakukan secara bersamaan pada masing-masing pohon karet namun mempunyai tugas kerja yang berbeda-beda. Penelitian mengenai biaya sumber daya kolaborasi manusia-robot pada kegiatan proses pemotongan karet (lateks) masih minim, sehingga perlu dilakukan pembahasan dan perhitungan biaya sumber daya kolaborasi manusia-robot dengan mengembangkan model matematika. Pengembangan model matematika bukan sekedar latihan teoritis. Tujuan praktisnya adalah meminimalkan biaya dengan mempertimbangkan sumber daya manusia, sumber daya robot, dan sumber daya kolaborasi manusia-robot. Melalui pengujian yang ketat, kami bertujuan untuk mencapai minimalisasi biaya dari setiap sumber. Hasil pengujian pengembangan model matematis menunjukkan adanya pengaruh signifikan sumber daya kolaborasi manusia-robot dalam menghasilkan biaya minimasi. Biaya minimasi diselesaikan dengan membuat algoritma pemrograman dalam perangkat lunak optimasi. Program ini digunakan untuk memudahkan dalm menghasilkan biaya minimasi dalam waktu yang relatif cepat, yang mengacu pada diagram prioritas proses pemotongan karet (lateks). Berdasarkan hasil eksperimen dengan data primer dan data sekunder, pengembangan model matematis berfungsi secara logis untuk memecahkan permasalahan penempatan sumber daya pada pada proses penyayatan getah karet (latex) dengan menghasilkan biaya minimasi sebesar Rp. 1.618.234.564,595, dengan total sumber daya manusia sebanyak 1 orang dan sumber daya robot sebanyak 1 unit.