π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 32 dokumenPENGEMBANGAN ALGORITMA EMPIRIS BERBASIS CITRA SENTINEL-2 UNTUK PEMANTAUAN KLOROFIL-A DI PERAIRAN CIREBON
Perairan Cirebon merupakan wilayah pesisir dengan aktivitas antropogenik tinggi yang meningkatkan masukan nutrien dan sedimen, sehingga menyebabkan kondisi optik perairan menjadi lebih kompleks. Hal ini membuat algoritma estimasi klorofil-a dari wilayah lain kurang representatif jika diterapkan secara langsung. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan memvalidasi algoritma empiris berbasis citra Sentinel-2 untuk estimasi klorofil-a serta menganalisis distribusi spasial-temporalnya di Perairan Cirebon. Data yang digunakan berupa klorofil-a in situ dari 17 stasiun pengamatan (April 2025βApril 2026) dan citra Sentinel-2 MSI Level-2A. Pengembangan algoritma dilakukan menggunakan metode Empirical Multivariate Regression Model (EMRM) dengan tiga skema kombinasi band (VNIR, RE, dan VRE) dengan beberapa bentuk model yaitu multivariat linear regresi, log-log, eksponensial, dan polinomial. Hasil menunjukkan model terbaik diperoleh pada skema Multiband VRE dengan model eksponensial menggunakan band B2, B4, B5, dan B7, dengan nilai R2 = 0,803, RMSE = 1,111 mg/m3, MAPE = 31,196%, dan bias = -0,201. Algoritma direkomendasikan untuk konsentrasi klorofil-a 0β30 mg/m3, sedangkan nilai >30 mg/m3 dikategorikan sebagai out of range karena tidak terwakili dalam data in-situ dan menunjukkan penurunan akurasi. Pada wilayah sangat dekat pesisir (<1 km), algoritma masih berpotensi mengalami overestimate akibat kondisi optically complex. Distribusi klorofil-a hasil estimasi Sentinel-2 konsisten dengan data in-situ, baik secara spasial maupun temporal, dengan konsentrasi lebih tinggi di nearshore dibanding offshore. Konsentrasi tertinggi terjadi pada Musim Barat (DJF) sebesar 5,882 mg/m3 dan terendah pada Musim Timur (JJA) sebesar 2,115 mg/m3. Pola ini dipengaruhi oleh peningkatan limpasan sungai pada Musim Barat yang membawa nutrien ke perairan pesisir. Secara umum, berdasarkan rata-rata klorofil-a in-situ (5,300 mg/m3) dan estimasi (4,081 mg/m3), Perairan Cirebon diklasifikasikan sebagai meso-oligotrofik hingga mesotrofik dengan produktivitas primer rendah hingga sedang.
PERAMALAN DEBIT SUNGAI BERBASIS MODEL LSTM DENGAN MEMPERTIMBANGKAN FAKTOR AKTIVITAS MANUSIA
Prediksi debit aliran sungai yang akurat sangat krusial bagi sistem peringatan dini banjir dan manajemen sumber daya air yang berkelanjutan. Penelitian ini menyajikan sebuah pendekatan baru dalam memprediksi debit sungai dengan mengintegrasikan faktor aktivitas manusia di samping variabel hidrometeorologi ke dalam kerangka kerja deep learning melalui arsitektur model LSTM. Variabel hidrometeorologi berupa curah hujan dan debit sungai diperoleh melalui stasiun pengamatan sedangkan variabel temperatur dan faktor aktivitas manusia diekstraksi melalui platform Google Earth Engine. Faktor aktivitas manusia tersebut direpresentasikan melalui indeks spektral satelit multi-temporal selama 11 tahun (2015β2025), yang meliputi Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Normalized Difference Built-up Index (NDBI), dan Nighttime Lights (NTL). Dengan menyertakan proksi aktivitas manusia ini, model yang dibangun bertujuan untuk menangkap hubungan kompleks antara transformasi tata guna lahan dan dinamika debit sungai. Model LSTM ini dipilih karena kemampuannya yang unggul dalam menangkap dependensi jangka panjang dan memproses input multivariat yang kompleks. Penelitian ini berfokus pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciletuh di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sebuah wilayah yang rawan terhadap peristiwa banjir. Penelitian ini membangun 3 model yang memiliki perbedaan pada input fitur dengan arsitektur dan hyperparameter model yang sama. Evaluasi performa model dilaksanakan melalui skema 5-fold time series split dan five-time running pada fold terakhir menggunakan metrik evaluasi RMSE, MAE, dan NSE, yang sering kali digunakan dalam pemodelan hidrologi. Selain itu, penelitian ini melakukan permutation feature importance di setiap model untuk mengetahui kontribusi tiap variabel input di dalam model. Temuan utama dari penelitian ini ialah pemilihan variabel aktivitas manusia secara selektif, khususnya indeks lahan terbangun (NDBI), mampu memberikan kontribusi yang moderat bagi performa model dibandingkan model yang hanya menggunakan variabel hidrometeorologi sebagai variabel input. Hal tersebut ditunjukkan melalui peningkatan metrik evaluasi NSE sebesar 7,42% dan penurunan RMSE sebesar 1,78%.
EVALUASI SISTEM PEMANTAUAN KUALITAS AIR ONLINE (SPKA/ONLIMO) DI JAWA BARAT UNTUK INTEGRASI SENSOR LOGAM BERAT
Sistem Pemantauan Kualitas Air (SPKA) atau Onlimo merupakan sistem pemantauan kualitas air otomatis, kontinu, dan online yang telah dikembangkan di Provinsi Jawa Barat sejak tahun 2015. Sistem ini berperan penting dalam mendukung pengelolaan kualitas air melalui penyediaan data secara real-time. Namun, parameter yang dipantau masih terbatas pada pH, dissolved oxygen (DO), biochemical oxygen demand (BOD), chemical oxygen demand (COD), total dissolved solids (TDS), total suspended solids (TSS), amonia, dan nitrat, sehingga belum mampu mendeteksi pencemaran logam berat yang merupakan salah satu isu penting pada berbagai badan air. Di sisi lain, kajian mengenai integrasi sensor logam berat ke dalam sistem pemantauan kualitas air online masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi eksisting sistem Onlimo di Provinsi Jawa Barat, mengidentifikasi karakteristik logam berat pada berbagai tekanan antropogenik, serta mengembangkan strategi integrasi sensor logam berat ke dalam sistem Onlimo. Evaluasi sistem dilakukan melalui penapisan kondisi operasional stasiun dan pengujian kualitas data menggunakan Gap Test, Null Test, Flatline Test, Extreme Value Test, serta uji konsistensi hubungan BODβCOD pada data periode 2024β2025. Evaluasi juga dilakukan terhadap aspek non-teknis yang meliputi regulasi, kelembagaan, sumber daya manusia, pendanaan, dan tata kelola data. Analisis logam berat dilakukan pada media air dan sedimen melalui pengambilan sampel di tiga wilayah yang merepresentasikan sumber tekanan antropogenik berbeda, yaitu Babelan (aktivitas pembangkit listrik tenaga uap), Cikarang (aktivitas industri), dan Cisarua (aktivitas pertambangan emas). Karakteristik logam berat dianalisis menggunakan statistik deskriptif, korelasi Spearman, dan Principal Component Analysis (PCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 28 stasiun Onlimo yang terpasang di Provinsi Jawa Barat, hanya 10 stasiun (35,7%) yang beroperasi secara andal dan menghasilkan data. Evaluasi menunjukkan bahwa sistem masih menghadapi berbagai permasalahan teknis, seperti kerusakan sensor, gangguan sistem pengambilan sampel, kehilangan data, serta berbagai anomali kualitas data berupa data gap, null value, flatline, extreme value, dan ketidakkonsistenan hubungan teoritis BODβCOD. Selain itu, evaluasi aspek non-teknis menunjukkan bahwa keberlanjutan sistem juga dipengaruhi oleh tantangan pada aspek pemeliharaan, sumber daya manusia, pendanaan, tata kelola data, dan koordinasi kelembagaan. Analisis logam berat menunjukkan adanya heterogenitas spasial yang tinggi sesuai dengan karakteristik sumber pencemar pada masing-masing lokasi penelitian. Hasil korelasi menunjukkan bahwa parameter fisika-kimia yang tersedia pada sistem Onlimo hanya memiliki hubungan yang terbatas dengan sebagian besar logam berat, sehingga belum mampu merepresentasikan kondisi pencemaran logam berat secara komprehensif. Analisis korelasi dan PCA juga menunjukkan bahwa karakteristik logam berat pada media air dan sedimen berbeda, dengan hubungan yang relatif lemah antara kedua media tersebut. Temuan ini mengindikasikan bahwa pengambilan sampel sesaat (grab sampling) pada media air belum tentu mampu merepresentasikan akumulasi logam berat pada sedimen maupun dinamika pencemaran dalam jangka panjang. Berdasarkan hasil tersebut, penelitian ini mengembangkan strategi integrasi sensor logam berat yang mengadaptasi framework pemantauan kualitas air yang telah dikemukakan dalam berbagai pedoman dan literatur internasional. Strategi yang diusulkan mencakup identifikasi kebutuhan data, penentuan lokasi prioritas, penentuan logam target, pemilihan teknologi sensor, instalasi dan integrasi sistem, penerapan quality assurance/quality control (QA/QC) dan pemeliharaan, serta pengelolaan data dan sistem peringatan dini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi sensor logam berat pada sistem Onlimo layak untuk dikembangkan, namun implementasinya perlu didahului oleh penguatan keandalan sistem melalui peningkatan kualitas data, pemeliharaan infrastruktur, serta penguatan aspek nonteknis yang meliputi tata kelola, sumber daya manusia, pendanaan, dan kelembagaan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menghasilkan strategi integrasi sensor logam berat, tetapi juga memberikan dasar ilmiah melalui evaluasi komprehensif sistem Onlimo, karakterisasi logam berat pada media air dan sedimen, serta penyusunan strategi integrasi sensor logam berat yang mendukung pengembangan sistem pemantauan kualitas air yang lebih andal, adaptif, dan berkelanjutan.
ANALISIS SPASIO-TEMPORAL DISTRIBUSI RUMPUT LAUT DENGAN PENDEKATAN MACHINE LEARNING DAN KAITANNYA DENGAN PARAMETER OSEANOGRAFI DI PESISIR PULAU SABU TAHUN 2020β2025
Penelitian ini bertujuan memetakan distribusi spasio-temporal rumput laut di perairan Pulau Sabu, Kabupaten Sabu Raijua, periode 2020β2025 menggunakan model Machine Learning Random Forest (RF) berbasis citra Sentinel-2 serta menganalisis hubungannya dengan parameter oseanografi. Hasil optimasi menunjukkan konfigurasi ntree = 100 dan mtry = 2 sebagai model terbaik dengan Overall Accuracy (OA) 88% dan Kappa 0,76. Validasi independen terhadap 15.617 sampel menghasilkan OA 87,92% dengan F-measure 89,4% untuk kelas rumput laut dan 85,9% untuk kelas non-rumput laut. Luasan rumput laut berfluktuasi antara 2.194,93β2.908,49 ha, dengan puncak pada Maret dan September serta minimum pada Juni. Secara spasial, Zona A memiliki luasan terbesar (1.113,02β1.700,75 ha), diikuti Zona B (558,21β626,52 ha) dan Zona C (432,17β581,21 ha). Hasil pemetaan merepresentasikan tutupan rumput laut secara keseluruhan, mencakup rumput laut budidaya maupun alami. Estimasi luasan lebih besar dibandingkan areal budidaya resmi tahun 2016, namun masih berada dalam kisaran luas areal potensial rumput laut Pulau Sabu tahun 2022 (3.955 ha). Meskipun demikian, nilai False Positive sebesar 23,5% menunjukkan adanya potensi overestimasi. Analisis Principal Component Analysis (PCA) menunjukkan bahwa dinamika musiman merupakan faktor utama yang mengontrol variasi luasan rumput laut. Suhu permukaan laut (SPL), salinitas, dan kecepatan arus menjelaskan 78,82β87,96% keragaman data pada komponen utama pertama. Musim barat dicirikan oleh SPL yang lebih tinggi dan salinitas yang relatif stabil yang berasosiasi dengan peningkatan luasan rumput laut, sedangkan musim timur ditandai oleh penguatan arus, pencampuran massa air, dan peningkatan nutrien yang bertepatan dengan penurunan luasan rumput laut. Meskipun demikian, luasan rumput laut kembali meningkat pada akhir musim timur, menunjukkan adanya respons yang tidak langsung terhadap perubahan kondisi oseanografi. Zona B memperlihatkan respons yang lebih fluktuatif akibat pengaruh transisi antara Laut Sawu dan Samudra Hindia.
OPTIMISASI ZONA POTENSI PENANGKAPAN IKAN DI WILAYAH PESISIR PANTAI DAN LAUT PULAU JAWA BAGIAN BARAT
Pemanfaatan peta zona potensi penangkapan ikan di Indonesia mulai banyak digunakan oleh nelayan untuk keperluan penangkapan ikan, tetapi pemanfaatan peta tersebut masih belum optimal. Peta zona potensi penangkapan ikan perlu ditunjang dengan adanya model optimisasi peta zona potensi penangkapan ikan yang dapat memperkirakan rute/jalur pelayaran kapal/perahu nelayan yang paling efektif dan efisien dalam melakukan penangkapan ikan di zona potensi penangkapan ikan. Hasil penelitian ini menunjukan dengan menambahkan faktor penghambat yaitu kecepatan angin dan tinggi gelombang memiliki pengaruh yang signifikan pada perkiraan pendapatan yang didapat nelayan dan waktu tempuh nelayan dalam melakukan penangkapan ikan.
PEMODELAN GRAVITY UNTUK STUDI AIR TANAH DI KABUPATEN NGAWI, JAWA TIMUR
Perubahan muka air tanah merupakan indikator penting dalam mengidentifikasi kondisi akuifer dan tingkat pemanfaatan air bawah tanah, khususnya di wilayah yang memiliki aktivitas pertanian dan pemukiman padat seperti Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Untuk memahami dinamika sistem akuifer secara menyeluruh, diperlukan pendekatan yang mampu menggambarkan karakteristik bawah permukaan secara spasial dan terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemodelan hidrogeologi bawah permukaan dengan menggabungkan data gravitasi (gravity) dan data sumur bor guna mengidentifikasi zona potensial akuifer, zona recharge (pengisian ulang), dan zona discharge (pengurasan). Metode gravity yang digunakan merupakan metode geofisika pasif yang mengukur variasi medan gravitasi bumi akibat perbedaan densitas batuan di bawah permukaan. Akuisisi data dilakukan menggunakan gravimeter CG5 Autograv di sejumlah titik pengamatan yang tersebar di wilayah penelitian. Data gravitasi yang diperoleh kemudian dikoreksi melalui tahapan koreksi instrumen, drift, pasang surut, udara bebas, dan Bouguer untuk menghasilkan peta anomali Bouguer lengkap. Selanjutnya, dilakukan interpretasi kuantitatif berupa pemodelan dua dimensi (2D) distribusi densitas batuan bawah permukaan. Sebagai pendukung dan validasi interpretasi geofisika, digunakan data geologi dari sumur bor yang berisi informasi litologi, kedalaman muka air tanah, serta ketebalan lapisan akuifer. Integrasi antara data gaya berat dan data sumur bor memungkinkan pembuatan model hidrogeologi yang lebih akurat dan representatif. Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu menggambarkan sistem akuifer di Kabupaten Ngawi secara spasial, mengidentifikasi area dengan potensi tinggi terhadap air tanah, serta memberikan rekomendasi ilmiah bagi pengelolaan dan konservasi sumber daya air tanah yang berkelanjutan di masa mendatang.
RISK ASSESSMENT OF GROUNDWATER FROM SALINE WATER INTRUSION IN PULAU PRAMUKA
Pulau Pramuka is one of inhabited islands in Kepulauan Seribu in the South West of Java Sea. During the latest few years (2000s) the population is increasing. This growth also drives conversion of land cover, typically from vegetation or bareland into built up. This growth also increases the demand of the freshwater. The only source of freshwater in this island is groundwater. The conversion of land cover and the increase the demand of freshwater will be impacted to the quality of freshwater, especially in terms increasing water salinity. This research is intended to create groundwater risk model. Method that used to do assessment about the groundwater risk is created from overlay between groundwater vulnerability, hazard, and exposure map. Vulnerability map is created using DRASTIC modified method. To produce hazard map is using the land use map and exposure map is created from land cover map and distance from shoreline parameter. It is found that the according to the model of groundwater risk in Pulau Pramuka falls in to low, medium, and high risk. Land cover type of building is classified into high risk (9% of area) and medium risk (37% of area). The other land covers are classified into low risk (54% of area). The produced risk map indicates that spatial distribution of groundwater risk correlates well with salinity distribution throughout the island
ANALISIS DINAMIKA KOMPLEKS JEJAK AIR: STUDI KASUS PERBANDINGAN DAS CITARUM (INDONESIA) DAN DAS NAM NGUM (LAOS)
Disertasi ini menyajikan analisis komprehensif mengenai jejak air pada dua daerah aliran sungai (DAS) yang penting, yaitu Daerah Aliran Sungai Citarum di Indonesia dan Daerah Aliran Sungai Nam Ngum di Laos. Penelitian ini menggunakan konsep jejak air, yang mencakup total volume air yang digunakan dalam produksi pertanian serta air yang diperlukan untuk mengencerkan pupuk kimia, sebagai ukuran umum konsumsi air tawar. Kajian ini menganalisis dinamika penggunaan air melalui tiga komponen utama jejak air, yaitu jejak air hijau, biru, dan abu-abu, khususnya pada komoditas utama seperti padi, jagung, tebu, singkong, dan kedelai. Dalam pertanian lahan tadah hujan, pemahaman mengenai penggunaan air hijau menjadi sangat penting. Jejak air hijau merujuk pada volume air hujan yang diserap oleh tanaman, yang berperan penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem, mempertahankan sifat tanah, dan mendukung efisiensi penggunaan air. Jejak air biru merepresentasikan volume air permukaan dan air tanah yang berasal dari sungai, danau, dan akuifer, termasuk air yang digunakan untuk keperluan irigasi. Pengendalian jejak air biru sangat penting untuk melindungi ekosistem air tawar, mencegah degradasi habitat, serta menjamin ketersediaan air bagi masyarakat lokal dan generasi mendatang. Penelitian ini menekankan pentingnya jejak air abu-abu, yang didefinisikan sebagai volume air tawar yang diperlukan untuk mengasimilasi polutanβterutama pestisida dan pupukβyang dihasilkan dari praktik pertanian agar memenuhi standar kualitas air tertentu. Metode perhitungan jejak air abu-abu dapat berbeda dari komponen hijau dan biru, namun keberadaannya sangat penting. Analisis jejak air abu-abu menyoroti urgensi pengendalian pencemaran serta menjelaskan dampak limpasan pupuk terhadap lingkungan. Komponen ini berperan penting dalam perumusan kebijakan yang bertujuan meningkatkan kualitas air, meminimalkan kerusakan lingkungan, dan melindungi kesehatan masyarakat, sehingga mendukung tujuan utama pengelolaan air pertanian yang berkelanjutan. Penelitian ini melakukan analisis dinamika kompleks terhadap jejak air di DAS Citarum dan DAS Nam Ngum dengan mengombinasikan persamaan hidro-fisika (pendekatan neraca air) dan teknik pemodelan hidrologi lanjutan menggunakan model SWAT (Soil and Water Assessment Tool) untuk mengkuantifikasi dan membandingkan jejak air hijau, biru, dan abu-abu yang terkait dengan komoditas pertanian utama. Analisis dinamika ini mengintegrasikan dimensi temporal dan spasial, sehingga mampu menangkap variasi pola penggunaan air sebagai respons terhadap perubahan iklim, penggunaan lahan, dan input pertanian dari waktu ke waktu. Dengan mengintegrasikan data iklim, peta penggunaan lahan, karakteristik tanah, dan parameter hidrologi, model mensimulasikan keluaran utama seperti evapotranspirasi, limpasan permukaan, dan pengisian ulang air tanah. Persamaan PenmanβMonteith digunakan dalam model SWAT untuk mengestimasi evapotranspirasi referensi, yang mencerminkan keseimbangan energi dan proses aerodinamik secara rinci. Dinamika air tanah dianalisis lebih lanjut menggunakan Hukum Darcy untuk memodelkan aliran bawah permukaan dalam akuifer. Analisis ini juga mencakup jejak air abu-abu, yang dihitung menggunakan pemodelan beban polutan berdasarkan prinsip neraca massa dan ambang batas konsentrasi polutan. Komponen ini menggambarkan volume air tawar yang diperlukan untuk mengencerkan polutan agro-kimia agar memenuhi standar kualitas air, sehingga menambahkan dimensi lingkungan yang penting dalam analisis jejak air. Melalui pendekatan sistem terpadu ini, penelitian memberikan pemahaman mendalam mengenai dinamika penggunaan air serta keterkaitan antara aktivitas manusia, proses alami, dan keberlanjutan sumber daya air tawar di kedua DAS. Metodologi penelitian mencakup pengumpulan data lapangan secara ekstensif, perumusan neraca air, pemodelan hidrologi, dan analisis statistik, yang memungkinkan kajian mendalam terhadap fluktuasi temporal dan variasi spasial jejak air di berbagai provinsi dalam masing-masing DAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jejak air (WF) di Daerah Aliran Sungai Citarum (CTRRB) secara umum lebih tinggi dibandingkan dengan Daerah Aliran Sungai Nam Ngum (NNRB) untuk seluruh komoditas yang dianalisis. Untuk tanaman padi, rata-rata jejak air hijau, biru, abu-abu, dan total di CTRRB masing-masing berkisar antara 3,0β3,5 m3/kg, 1,0β1,3 m3/kg, 0,30β0,40 m3/kg, dan 4,13β5,36 m3/kg. Sebaliknya, NNRB menunjukkan nilai yang lebih rendah, yaitu 1,5β2,0 m3/kg (jejak air hijau), 0,8β1,0 m3/kg (jejak air biru), 0,20β0,28 m3/kg (jejak air abu-abu), dan 2,49β3,54 m3/kg (jejak air total). Hal ini menunjukkan bahwa budidaya padi di CTRRB mengonsumsi air yang lebih besarβbaik dari curah hujan maupun irigasiβserta menghasilkan tingkat pencemaran air yang lebih tinggi, yang mengindikasikan efisiensi penggunaan air yang lebih rendah dan beban lingkungan yang lebih besar. Untuk produksi jagung, CTRRB memiliki jejak air sebesar 2,0β3,0 m3/kg (hijau), 0,8β1,2 m3/kg (biru), 0,20β0,30 m3/kg (abu-abu), dan 2,78β4,70 m3/kg (total). Sebaliknya, NNRB menunjukkan nilai yang lebih rendah, yaitu 1,1β1,4 m3/kg (hijau), 0,7β0,9 m3/kg (biru), 0,20β0,28 m3/kg (abu-abu), dan 2,16β2,81 m3/kg (total). Hal ini menunjukkan bahwa produksi jagung di NNRB lebih efisien dalam penggunaan air dan lebih berkelanjutan secara lingkungan, khususnya dalam pemanfaatan air hujan dan kebutuhan air total. Pada komoditas tebu, CTRRB memiliki jejak air hijau, biru, abu-abu, dan total masing-masing sebesar 0,17β0,20 m3/kg, 0,023β0,037 m3/kg, 0,015β0,017 m3/kg, dan 0,21β0,25 m3/kg. Sementara itu, NNRB menunjukkan jejak air hijau yang lebih rendah (0,124β0,13 m3/kg), jejak air biru yang lebih tinggi (0,046β0,048 m3/kg), rentang jejak air abu-abu yang lebih luas (0,016β0,030 m3/kg), serta jejak air total sebesar 0,19β0,21 m3/kg. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun produksi tebu di NNRB menggunakan lebih banyak air biru dan memiliki risiko pencemaran yang lebih tinggi, ketergantungannya terhadap air hujan lebih rendah, sehingga menghasilkan jejak air total yang sebanding atau sedikit lebih rendah dibandingkan CTRRB. Untuk singkong, CTRRB menunjukkan jejak air sebesar 0,98β1,43 m3/kg (hijau), 0,35β0,51 m3/kg (biru), 0,09β0,14 m3/kg (abu-abu), dan 1,42β2,08 m3/kg (total), sedangkan NNRB menunjukkan 0,54β1,38 m3/kg (hijau), 0,32β0,82 m3/kg (biru), 0,11β0,20 m3/kg (abu-abu), dan 0,98β2,39 m3/kg (total). Hal ini menunjukkan bahwa produksi singkong di NNRB memiliki variabilitas yang lebih tinggi, namun berpotensi mencapai tingkat penggunaan air yang lebih rendah dibandingkan CTRRB, meskipun dengan kontribusi jejak air abu-abu yang sedikit lebih besar yang mengindikasikan potensi pencemaran. Untuk kedelai, CTRRB memiliki jejak air sebesar 1,32β1,55 m3/kg (hijau), 0,60β 0,70 m3/kg (biru), 0,09β0,14 m3/kg (abu-abu), dan 2,02β2,39 m3/kg (total). Sebaliknya, NNRB menunjukkan nilai yang lebih rendah untuk seluruh komponen, yaitu 0,83β1,43 m3/kg (hijau), 0,38β0,65 m3/kg (biru), 0,07β0,13 m3/kg (abu-abu), dan 1,29β2,21 m3/kg (total). Hal ini menunjukkan bahwa praktik budidaya kedelai di NNRB lebih efisien dalam penggunaan air dan lebih ramah lingkungan, terutama dalam hal pengurangan irigasi dan pencemaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praktik pertanian di Daerah Aliran Sungai Citarum secara umum memberikan tekanan yang lebih besar terhadap sumber daya air, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, dibandingkan dengan Daerah Aliran Sungai Nam Ngum. Dari perspektif dinamika sistem, jejak air hijau dan biru yang lebih tinggi di CTRRB mencerminkan adanya ketidakefisienan dalam sistem yang saling terhubung antara pemanfaatan curah hujan, infrastruktur irigasi, kebutuhan air tanaman, dan praktik pengelolaan lahan. Ketidakefisienan ini diperkuat seiring waktu melalui mekanisme umpan balik, di mana pengambilan air yang berlebihan menyebabkan penurunan ketersediaan dan kualitas air, yang pada akhirnya menurunkan produktivitas pertanian dan mendorong kebutuhan irigasi yang lebih besar. Demikian pula, jejak air abu-abu yang lebih tinggi menunjukkan adanya umpan balik pencemaran yang lebih kuat, di mana peningkatan penggunaan bahan kimia pertanian menyebabkan limpasan yang lebih besar dan degradasi kualitas air, yang berpotensi memicu pembatasan regulasi atau penurunan kondisi ekologi. Sebaliknya, NNRB menunjukkan dinamika penggunaan air yang lebih seimbang dan tangguh, dengan jejak air total yang lebih rendah serta dampak lingkungan yang lebih kecil, yang mencerminkan interaksi yang lebih stabil antara pola curah hujan, input pertanian, dan kualitas air. Temuan ini menegaskan pentingnya memahami penggunaan air pertanian sebagai suatu sistem yang dinamis dan saling bergantung, di mana perubahan pada satu komponen (misalnya penggunaan pupuk atau kebijakan irigasi) dapat menimbulkan dampak berantai pada keseluruhan sistem DAS. Oleh karena itu, penerapan kerangka dinamika sistem menjadi sangat penting tidak hanya untuk mengevaluasi efisiensi penggunaan air saat ini, tetapi juga untuk mensimulasikan skenario jangka panjang, mendukung tata kelola air yang adaptif, serta merancang kebijakan terpadu guna meningkatkan keberlanjutan di kedua DAS.
STUDY OF RAINFALL CHARACTERISTICS IN IBU KOTA NUSANTARA, EAST KALIMANTAN, UNDER GLOBAL CLIMATE CHANGE
Kurva Intensitas-Durasi-Frekuensi (IDFC) sangat penting untuk manajemen sumber daya air, perencanaan infrastruktur, pencegahan bencana, dan penjadwalan pertanian, terutama di daerah seperti IKN Nusantara, Kalimantan Timur. Seiring dengan percepatan urbanisasi, prediksi curah hujan yang akurat menjadi sangat penting untuk merancang infrastruktur yang tangguh dan sistem manajemen air hujan. Perubahan iklim semakin memperburuk tantangan dalam manajemen air, khususnya di daerah rawan banjir, dengan menyebabkan pergeseran yang tidak dapat diprediksi dalam intensitas dan distribusi curah hujan. Untuk mengatasi hal ini, pengembangan kurva IDF berdasarkan hasil model iklim sangat penting. Model-model ini telah lama digunakan untuk memproyeksikan perubahan dalam variabel hidrologi, memberikan wawasan berharga untuk tren curah hujan masa depan dan strategi manajemen air. Memahami karakteristik curah hujan dalam konteks perubahan iklim memastikan efektivitas sistem manajemen air hujan dan perencanaan infrastruktur dalam menghadapi kondisi iklim yang terns berubah. Studi ini menekankan pentingnya menggunakan model iklim untuk beradaptasi dengan pola curah hujan masa depan, memastikan bahwa manajemen sumber daya air di IKN Nusantara tetap tangguh terhadap tantangan terkait perubahan iklim. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa proyeksi masa depan untuk PUH 2, 5, dan 10 lebih rendah dari nilai historis, sementara proyeksi masa depan untuk PUH 25 sangat mirip dengan data yang telah dikoreksi bias. Selain itu, PUH 50 dan PUH 100 menunjukkan peningkatan intensitas, yang menyoroti kebutuhan yang semakin mendesak akan manajemen air hujan yang efektif.
PENENTUAN TANGGAL ONSET MONSUN DI SULAWESI BERDASARKAN ANALISIS CURAH HUJAN HARIAN DAN TRANSPOR KELEMBAPAN REGIONAL
Penentuan tanggal onset monsun sangat krusial dalam mendukung sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, dan mitigasi bencana di wilayah tropis seperti Sulawesi. Penelitian ini mengembangkan pendekatan penentuan onset berbasis harian dengan mengintegrasikan kriteria lokal dan regional, untuk mengatasi keterbatasan metode sebelumnya yang hanya menggunakan resolusi pentad atau dasarian. Kriteria lokal ditentukan dari titik minimum metode Cumulative Anomaly (CA) pada data curah hujan harian, sementara kriteria regional dihitung dari transpor kelembapan menggunakan model backward trajectory HYSPLIT untuk mendapatkan wilayah sumber kelembapan dominan saat monsun aktif. Kajian ini juga membagi Sulawesi ke dalam lima region berdasarkan hasil analisis harmonik untuk mengakomodasi variasi siklus annual dan semi-annual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan gabungan antara indikator lokal dan regional secara efektif mampu mengidentifikasi tanggal onset monsun di berbagai wilayah Sulawesi. Penentuan dilakukan secara paralel, dimulai dari penentuan tanggal minimum anomali kumulatif curah hujan CA sebagai indikasi peningkatan curah hujan, lalu dilanjutkan dengan analisis sumber kelembapan harian dalam rentang Β±30 hari dari tanggal tersebut. Tanggal onset ditetapkan apabila kelembapan dominan berasal dari wilayah sumber yang sesuai dengan distribusi klimatologis pada fase puncak musim hujan. Pendekatan ini terbukti pada region dengan pola annual (A1βA4) dan semi-annual (S), khususnya yang menerima kontribusi kelembapan signifikan dari NM, TM, dan SM. Tanggal onset rata-rata di setiap region bervariasi, mulai dari 9 November 7 Desember di Region A1, 20 November hingga 14 Desember di Region A2, 4 hingga 10 Desember di Region A3, akhir 27 April hingga 7 Mei di A4, serta dua fase onset pada Region S yakni sekitar 25 April hingga 11 Mei dan 3 November hingga 8 Desember. Subregion seperti A4_4 dan S_3 menunjukkan ketidaksesuaian dengan indikator regional, yang mengindikasikan pengaruh kelembapan lokal yang lebih dominan dan perlunya pengembangan kriteria adaptif untuk wilayah tersebut. Selain itu, analisis komposit atmosfer menunjukkan kontras angin dan curah hujan yang signifikan sebelum dan sesudah onset, terutama di subregion yang memiliki angin dominan yang jelas saat monsun aktif.
MODEL PENGENDALIAN DEBIT LINGKUNGAN PADA SUNGAI CITARUM, SUB DAS CITARUM HULU
Konsep kebutuhan debit lingkungan sangat penting dalam pengelolaan air berkelanjutan, khususnya di daerah aliran sungai seperti DAS Citarum Hulu yang menghadapi permasalahan tekanan antropogenik yang signifikan. Dengan mendefinisikan debit lingkungan berdasarkan kebutuhan ekologis habitat akuatik, upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan ketahanan ekosistem sungai dapat didukung secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kebutuhan debit lingkungan di DAS Citarum Hulu dengan fokus pada dinamika habitat akuatik. Tujuan utamanya adalah memberikan informasi yang dapat membantu para pengambil kebijakan, praktisi konservasi, dan pengelola sumber daya air dalam membuat keputusan yang seimbang antara kebutuhan manusia dan pelestarian ekosistem perairan yang penting. Untuk menentukan ambang batas debit lingkungan, digunakan indikator hidrologi seperti 7Q10 dan 7Q5, serta analisis kurva durasi aliran (Flow Duration Curve/FDC) dengan probabilitas 95%, 97,5%, dan 99%. Data ini diperoleh dari stasiun pencatatan muka air Nanjung, juga data iklim dari stasiun terdekat. Segmen sungai yang diteliti memiliki panjang sekitar 50 km. Hasil analisis menunjukkan bahwa kecepatan aliran merupakan parameter hidraulik yang paling tidak terpenuhi di sebagian besar segmen sungai untuk 12 jenis ikan yang diuji. Sedangkan parameter kedalaman aliran masih dapat memenuhi kebutuhan 12 jenis ikan yang diuji. Secara khusus, 74,4% penampang sungai tidak memenuhi kebutuhan minimum kecepatan aliran sebesar 0,3 m/detik yang penting bagi kelangsungan hidup ikan Cyprinus carpio pada kondisi debit Q95%%. Persentase ini meningkat menjadi 81,5% dan 81,7% untuk debit 7Q10 di lokasi Nanjung dengan Metode Sacramento dan Observasi di Nanjung secara berturut-turut. Perbandingan antara Q95%% dan 7Q10 menunjukkan perbedaan 7,3% dalam pemenuhan parameter kecepatan aliran. Dari skenario aliran yang dievaluasi, Q95%% yang memiliki debit terbesar berpotensi digunakan sebagai referensi dalam penentuan kebutuhan debit lingkungan. Namun, debit aliran saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan habitat, khususnya dari segi kecepatan aliran. Oleh karena itu, diperlukan intervensi rekayasa untuk memodifikasi morfologi sungai, seperti penerapan penampang komposit dengan bagian tengah yang lebih dalam guna meningkatkan kecepatan aliran dan kesesuaian habitat. Dalam kondisi di mana modifikasi morfologi sungai tidak memungkinkan, debit alternatif perlu dipertimbangkan, dengan penekanan pada pemenuhan kebutuhan kecepatan dan kedalaman bagi spesies ikan kunci seperti Cyprinus carpio. Pendekatan pengelolaan yang diusulkan, yang menggabungkan analisis hidrologi dan rekayasa sungai yang terarah, diharapkan dapat meningkatkan keberlanjutan habitat ikan dan berkontribusi terhadap tujuan pengelolaan sumber daya air yang terintegrasi dan berkelanjutan di DAS Citarum Hulu.
IDENTIFIKASI DAYA DUKUNG SUMBER DAYA AIR DALAM PERENCANAAN TATA RUANG KOTA JAKARTA SELATAN
Perencanaan kota berkelanjutan mempertimbangkan tiga dimensi yang harus seimbang. Namun, ketidakseimbangan antar dimensi tersebut menimbulkan resource conflict yang berimplikasi terhadap kapasitas air. Aktivitas pembangunan dan sosioekonomi yang tinggi di Kota Jakarta Selatan akan berdampak secara domino terhadap kebutuhan air. Di sisi lain, kebijakan penataan ruang dan regulasi yang bertujuan sama belum terimplementasi dengan efektif dan masih banyak yang belum menyesuaikan arahannya. Dinamika yang terjadi di Kota Jakarta Selatan akan memicu berbagai permasalahan terutama keterbatasan penyediaan air. Penelitian ini akan bertujuan untuk mengestimasikan daya dukung sumber daya air dengan meninjau pengaruh kebijakan penataan ruang terhadap kondisi tersebut. Dalam prosesnya, akan dipertimbangkan berbagai faktor supply dan demand yang diukur secara kuantitatif. Pengukuran daya dukung akan diestimasikan sejak tahun 2014 β 2024 dengan metode statistik EWM dan TOPSIS serta memproyeksikan hingga tahun 2045 yang memperhatikan arahan beberapa kebijakan saat ini. Ditemukan bahwa Kota Jakarta Selatan memiliki kondisi daya dukung yang sudah melebihi ambang batas dengan kritis. Sebanyak 9,1% kawasan terbangun memerlukan pengembangan jaringan perpipaan dan 14,8% kawasan perlu diprioritaskan penanganannya. Proyeksi hingga tahun 2045 menunjukkan ketidakcukupan pemenuhan demand air jika hanya mengandalkan jaringan perpipaan, sehingga memerlukan suplemen dari air tanah. Kesimpulannya, kapasitas lingkungan di Kota Jakarta Selatan terkonfirmasi semakin terdegradasi akibat tren positif dari aktivitas sosioekonomi. Strategi dalam memperbaiki kondisi daya dukung tersebut harus berfokus pada mengintegrasikan berbagai kebijakan infrastruktur yang terkait penataan ruang dengan didukung oleh penambahan dan peningkatan kapasitas air. Perlu dipahami bahwa penelitian hanya mempertimbangkan kondisi statis dari daya dukung sumber daya air yang dibatasi oleh asumsi-asumsi tertentu, dan belum melihat secara detail mengenai kondisi dinamis yang terjadi.
PEMODELAN BIM BERBASIS WEB DARI RAGAM LASER SCANNING UNTUK BANGUNAN BENDUNG GUNA MENDUKUNG MANAJEMEN ASET IRIGASI
Tidak ada deskripsi.
PEMODELAN BIM BERBASIS WEB DARI RAGAM LASER SCANNING UNTUK BANGUNAN BENDUNG GUNA MENDUKUNG MANAJEMEN ASET IRIGASI
Tidak ada deskripsi.
PEMODELAN BIM BERBASIS WEB DARI RAGAM LASER SCANNING UNTUK BANGUNAN BENDUNG GUNA MENDUKUNG MANAJEMEN ASET IRIGASI
Tidak ada deskripsi.