π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 28 dokumenPREDIKSI PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAN ESTIMASI CARBON LOSS DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN DENGAN BERBAGAI SKENARIO BERDASARKAN ANALISIS DEFORESTASI TAHUN 1990 β 2020
Hutan di Provinsi Kalimantan Selatan telah mengalami penurunan luas atau disebut deforestasi hingga 55,7%. akibat kebutuhan lahan yang terus meningkat. Fenomena ini telah menimbulkan dampak serius bagi lingkungan, khususnya peningkatan emisi karbon yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Hal tersebut menjadi dasar penelitian ini yang bertujuan untuk memprediksi perubahan tutupan lahan serta mengestimasikan simpanan karbon pada tahun 2030 dan 2040 di Provinsi Kalimantan. Dalam penelitian ini analisis dilakukan secara historis (1990-2020) dan proyeksi (2030-2040) yang mencakup perubahan tutupan lahan, deforestasi, simpanan karbon, dan karbon yang hilang (carbon loss) di Kalimantan Selatan. Prediksi perubahan tutupan lahan dilakukan menggunakan model CA-Markov untuk tahun 2030 dan 2040 dengan sepuluh faktor pendorong sebagai variabel independen. Adapun tiga skenario yang digunakan dalam pemodelan tutupan lahan untuk tahun 2030 dan 2040, meliputi Business as Usual (BAU), Forest Conservation (FC), dan No Mining and Land Recovery (NM-LR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Provinsi Kalimantan Selatan mengalami penurunan tutupan hutan alam hingga 1.000.235,25 ha sepanjang periode 1990-2020, dengan peruntukkan terbesar untuk kategori pertanian, semak dan padang rumput, serta perkebunan. Hal ini mengakibatkan Provinsi Kalimantan Selatan mengalami penurunan simpanan karbon di kawasan hutan hingga 0,189 Gt (setara 0,695 Gt CO2e). Pemodelan menunjukkan nilai akurasi uji kappa sebesar 0,734, sehingga model dinilai layak digunakan untuk memprediksi tutupan lahan tahun 2030 dan 2040 dengan tiga skenario berbeda. Dari antara ketiga skenario, Forest Conservation (FC) terbukti efektif dalam mencegah deforestasi dan mempertahankan simpanan karbon di Kalimantan Selatan pada tahun 2040.
STUDI GEOLOGI DAN GEOKIMIA FLUIDA PANAS BUMI DAERAH CIATER, KABUPATEN SUBANG, PROVINSI JAWA BARAT
Sistem Panas Bumi Ciater merupakan salah satu daerah prospek untuk pengembangan pemanfaatan energi panas bumi secara langsung (direct use). Meskipun demikian, pemahaman mengenai karakteristik sistem dan sumber dayanya masih memerlukan studi lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik sistem dan mengestimasi potensi sumber daya panas bumi di daerah Ciater. Metode penelitian meliputi integrasi data pemetaan geologi dan geokimia fluida panas bumi yang diperoleh dari Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara, dan Panas Bumi (PSDMBP-ESDM). Integrasi kedua data tersebut menjadi dasar pengembangan model konseptual Sistem Panas Bumi Ciater. Litologi daerah penelitian yang berkembang sejak fase Pra-Sunda hingga Tangkuban Parahu Muda dari tua ke muda tersusun atas Satuan Basalt Pilotaksitik (35%), Satuan Basalt Vesikular (15%), serta tuf litik dan tuf gelas Satuan Piroklastik (50%). Struktur geologi dominan berorientasi timur laut-barat daya (NE-SW) yang mengontrol permeabilitas reservoir dan jalur migrasi fluida ke permukaan. Sistem Panas Bumi Ciater berasosiasi dengan sistem utama Gunung Tangkuban Parahu. Zona upflow Sistem Panas Bumi Ciater berada di area selatan, sementara zona outflow berada di area utara. Manifestasi panas bumi di daerah penelitian berupa mata air panas. Fluida hidrotermal dominan berasal dari air meteorik lokal yang mendapat pengaruh gas magmatik Tangkuban Parahu. Air panas Ciater bertipe klorida-sulfat tidak setimbang (immature water). Sistem Ciater diklasifikasikan sebagai sistem entalpi sedang dengan estimasi temperatur reservoir 170Β±10? berdasarkan diagram pencampuran SiO2. Dengan estimasi sumber daya spekulatif sebesar 25Β±5 MWe berdasarkan metode hilang panas alamiah, sistem ini berpotensi untuk dikembangkan dalam pemanfaatan panas bumi secara langsung (direct use).
ANALISIS PERSPEKTIF PEMANGKU KEPENTINGAN TERHADAP IMPLEMENTASI NILAI EKONOMI KARBON BIRU BERBASIS SILVOFISHERY DI DESA PEGAT BETUMBUK, KECAMATAN PULAU DERAWAN, KABUPATEN BERAU
Nilai Ekonomi Karbon Biru merupakan topik yang sedang berkembang sejak ditetapkan nya peraturan terbaru mengenai Nilai Ekonomi Karbon yakni Peraturan Presiden No. 110 Tahun 2025. Desa Pegat Betumbuk memiliki potensi karbon biru yang cukup besar dengan luasan hutan desa sebesar 11.000 hektar. Namun, hutan mangrove Desa Pegat Betumbuk mengalami degradasi sejak dua puluh tahun ke belakang karena pembukaan lahan untuk kegiatan akuakultur. Untuk menengahi persoalan ini, konsep silvofishery hadir mengintegrasikan tambak dengan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman, perspektif, dan penerimaan masyarakat terhadap implementasi Nilai Ekonomi Karbon Biru di Pegat Betumbuk. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis perspektif lembaga pada tingkat tapak. Metode penelitian ini adalah penelitian campuran (mixed method) dengan pengambilan data kuesioner dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pemahaman masyarakat berada dalam kategori sangat rendah terkait mangrove dan karbon. Temuan lainnya berupa dinamika antaraktor dalam implementasi Nilai Ekonomi Karbon Biru.
PEMETAAN PERUBAHAN MANGROVE DI KAWASAN PESISIR KECAMATANTANJUNG PALAS TENGAH KABUPATEN BULUNGAN KALIMANTAN UTARA
Hutan mangrove sebagai vegetasi yang berada di daerah peralihan darat dan laut, telah diketahui memiliki berbagai fungsi, diantaranya mangrove dapat menyerap karbondioksida dengan baik, mencegah adanya abrasi pantai, intrusi pantai, tsunami, dan merupakan nursery ground bagi berbagai jenis ikan dan udang. Oleh karena itu konservasi terhadap hutan mngrove perlu dilakukan agar meminimalisasi kerusakan alam baik secara global maupun lokal. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengidentifikasi sebaran dan perubahan dari hutan mangrove itu sendiri dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Pada penelitian ini, Kecamatan Tanjung Palas Tengah diambil sebagai daerah studi karena kecamatan tersebut merupakan salah satu kecamatan yang berada di pesisir yang memiliki potensi besar akan sumber daya mangrovenya. Penelitiaan ini menggunakan citra SPOT tahun 2008 dan 2010 sebagai data utama untuk mengidentifikasi perubahan luas dan kerapatan hutan mangrove. Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi mangrove dan mengetahui luasannya adalah metode klasifikasi tak terawasi dan delineasi, sedangkan kerapatannya menggunakan NDVI (Normalized Differentiation Vegetation Index). Dari penelitian ini didapatkan perubahan luas hutan mangrove di Kecamatan Tanjung Palas Tengah dari tahun 2008 hingga 2010, yaitu berkurang seluas 136,6 Ha. Untuk tingkat kerapatannya dibagi menjadi 3 kelas, yaitu kelas jarang, sedang, dan rapat. Secara umum, perubahan kerapatan terjadi signifikan di kelas βsedangβ, yang bertambah luasannya dari 0,00124 Ha menjadi 4334,84 Ha. Sedangkan kelas yang mendominasi di tahun 2008 hingga 2010, yaitu kelas βjarangβ. Dapat disimpulkan bahwa hutan mangrove di Kecamatan Tanjung Palas Tengah mengalami pengurangan luas namun terjadi pertumbuhan kerapatan tajuknya.
VALIDASI DARI APLIKASI UNTUK ESTIMASI PARAMETER-PARAMETER WEIBULL MENGGUNAKAN METODE R-SQUARED
Maintenance is crucial for industry sustainability as it directly affects cost, reliability, safety, and productivity. In aviation, unplanned aircraft downtime adds significant costs and creates safety risks. To predict aircraft component failures, the Weibull distribution is used because it models time-to-failure data accurately. The three-parameter Weibull distribution is the most used model in aviation maintenance, with three parameters: scale parameter (?), shape parameter (?), and location parameter (?). Previous research by the Engineering Design and Production research group at ITB created a Python-based application to estimate these parameters using R-squared method applied to Weibull Paper Plot transformations. Although the application succeeded, the results and method lack validation. Without validation, the application cannot be recommended for aircraft maintenance task selection, where inaccurate parameter estimates could lead to wrong maintenance intervals or wasted costs. The author undertook this research to achieve three objectives: to find a method that can validate the results of the application, to compare the parameter estimates from the Python application with estimates from Excel Solver, and to test the user experience of the developed application. To validate the application, the author created synthetic datasets from known three-parameter Weibull distributions representing three failure modes: wear-out failures (? > 1), random failures (? = 1), and infant mortality failures (? < 1). Datasets with different sample sizes were generated from histograms with 15 classes. Both the Python application and Excel Solver were applied using R-squared. Results show that both methods produce equivalent parameter estimates with location parameter errors typically less than 5%. The Python application can estimate parameters for ? ? 1 cases while Excel Solver cannot converge in these regions. Other than that, RMSE is also calculated using Excel Solver which has the same result as R-squared method. The author concludes that both methods are valid for three-parameter Weibull parameter estimation, with the Python application offering better numerical stability across all failure rate behaviours relevant to aircraft components.
ANALISIS VARIABILITAS SPASIAL-TEMPORAL SIMPANAN AIR TANAH DI PULAU KALIMANTAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA
Air tanah merupakan komponen penting dalam siklus hidrologi, berperan sebagai penyimpanan air utama yang mendukung kebutuhan dasar manusia dan ekosistem. Dinamika simpanan air tanah dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kondisi iklim, perubahan tutupan lahan, dan peningkatan permintaan air bersih. Pulau Kalimantan, salah satu pulau terbesar di Indonesia, memiliki sumber daya alam yang melimpah dan keanekaragaman hayati yang tinggi, namun menghadapi tekanan dari deforestasi, ekspansi pertanian, pertambangan, dan pertumbuhan penduduk, yang dapat memengaruhi ketersediaan dan dinamika air tanah. Mengingat keterbatasan pengamatan langsung di lapangan, penelitian ini memanfaatkan data satelit untuk memantau perubahan simpanan air tanah pada skala regional. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji variabilitas spasial-temporal simpanan air tanah di Pulau Kalimantan selama periode April 2002 hingga Desember 2024 serta keterkaitannya dengan faktor iklim dan antropogenik. Data simpanan air tanah diperoleh dari GRACE, dengan komponen air tanah dihitung menggunakan pendekatan neraca air berbasis data GLDAS. Data curah hujan digunakan CHIRPS yang telah disesuaikan resolusi spasialnya agar konsisten dengan data GRACE dan GLDAS. Metode EOF digunakan untuk mengidentifikasi pola dominan simpanan air tanah, sedangkan analisis korelasi Spearman diterapkan untuk mengevaluasi keterkaitan komponen temporal utama dengan faktor yang diduga mempengaruhi simpanan air tanah. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan spasial yang jelas antara wilayah utara dan selatan Pulau Kalimantan, di mana wilayah utara cenderung mengalami anomali positif, sementara wilayah selatan didominasi anomali negatif pada beberapa periode. Variabilitas bulanan simpanan air tanah menunjukkan pola monsunal yang kuat dan berkorelasi dengan faktor iklim, khususnya curah hujan dan ENSO.
PENETAPAN BATAS LAUT DAERAH PROVINSI BANGKA BELITUNG
Disahkannya Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang merupakan revisi dari Undang-undang No. 22 Tahun 1999 merupakan titik awal dilaksanakannya konsep otonomi daerah. Dan sejak dilaksanakannya konsep otonomi daerah, nilai suatu wilayah menjadi sangat penting artinya. Hal ini berkaitan dengan kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya alam yang terdapat di daerah tersebut. Permasalahan mengenai batas daerah merupakan persoalan yang krusial. Batas daerah yang tidak jelas, kerap menimbulkan konflik. Selain itu, kucuran Dana Alokasi Umum (DAU), yang salah satu parameternya adalah luas wilayah, dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah pun menjadi tidak jelas perhitungannya. Hal inilah yang menjadi alasan bahwa betapa pentingnya batas suatu daerah ditetapkan. Dalam penelitian ini, batas laut daerah Provinsi Bangka Belitung ditentukan dengan mengacu kepada Undang-undang No. 32 Tahun 2004, Permendagri No. 1 Tahun 2006 dan implementasi UNCLOS 1982 untuk mendapatkan luas wilayahnya. Dan hasil akhir dari penelitian ini adalah Peta Batas Laut Daerah Provinsi Bangka Belitung.
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN DAN TATA GUNA LAHAN DI KABUPATEN BANDUNG BARAT MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT-7 ETM DAN ALOS PALSAR
Klasifikasi citra merupakan salah satu aplikasi dari ilmu penginderaan jauh (Remote Sensing) yang digunakan untuk menginterpretasi dan mengidentifikasi suatu area. Informasi yang didapat dari hasil klasifikasi citra dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan, salah satunya untuk keperluan pembuatan peta tutupan lahan dan tata guna lahan. Dalam penelitian ini telah dilakukan pembuatan peta klasifikasi Tutupan Lahan dan Tata Guna Lahan menggunakan klasifikasi terawasi (Supervised classification) dengan metode Maximum Likelihood di wilayah Kabupaten Bandung Barat menggunakan citra Landsat-7 ETM dan ALOS PALSAR. Proses pembuatan peta klasifikasi ini dilakukan dengan dua cara, yaitu cara pertama dengan melakukan klasifikasi terlebih dahulu pada citra kemudian citra dipotong berdasarkan batas wilayah, dan cara kedua citra dipotong terlebih dahulu berdasarkan batas wilayah baru kemudian dilakukan klasifikasi pada citra tersebut. Peta hasil klasifikasi tersebut akan diuji tingkat ketelitian / akurasi keseluruhan (overall accuracy) citra hasil klasifikasi dengan peta landuse / landcover Jawa Barat tahun 2001 sebagai referensi, agar didapat peta klasifikasi yang memiliki nilai uji akurasi keseluruhan (overall accuracy) terbaik yang merupakan hasil akhir dari penelitian tugas akhir ini.
PERHITUNGAN STOK KARBON BERDASARKAN NDVI DI CEKUNGAN BANDUNG
Penginderaan jauh menawarkan cara yang lebih mudah, cepat, hemat serta mencakup area yang lebih luas untuk perhitungan stok karbon. Dalam penelitian ini dilakukan perhitungan stok karbon dengan metode penginderaan jauh di Cekungan Bandung dari data citra Satelit Landsat untuk tahun 1999, 2002 dan 2005. Stok karbon dihitung dengan menggunakan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) yang diekstrak dari data citra satelit untuk kemudian digunakan dalam model perhitungan stok karbon. Berdasarkan perhitungan, diperoleh jumlah stok karbon pada tahun 1999 sebesar 522272.91 ton, tahun 2002 sebesar 494512.98 ton, dan tahun 2005 sebesar 561683.33 ton. Karena tidak adanya data pengukuran lapangan di Cekungan Bandung untuk melakukan validasi, maka hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai nilai pendekatan jumlah stok karbon di Cekungan Bandung sebagai informasi yang berguna untuk berbagai pihak dalam upaya pemantauan kondisi emisi gas di Cekungan Bandung.
PENETAPAN BATAS LAUT DAERAH PROVINSI BANGKA BELITUNG
Disahkannya Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang merupakan revisi dari Undang-undang No. 22 Tahun 1999 merupakan titik awal dilaksanakannya konsep otonomi daerah. Dan sejak dilaksanakannya konsep otonomi daerah, nilai suatu wilayah menjadi sangat penting artinya. Hal ini berkaitan dengan kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya alam yang terdapat di daerah tersebut. Permasalahan mengenai batas daerah merupakan persoalan yang krusial. Batas daerah yang tidak jelas, kerap menimbulkan konflik. Selain itu, kucuran Dana Alokasi Umum (DAU), yang salah satu parameternya adalah luas wilayah, dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah pun menjadi tidak jelas perhitungannya. Hal inilah yang menjadi alasan bahwa betapa pentingnya batas suatu daerah ditetapkan. Dalam penelitian ini, batas laut daerah Provinsi Bangka Belitung ditentukan dengan mengacu kepada Undang-undang No. 32 Tahun 2004, Permendagri No. 1 Tahun 2006 dan implementasi UNCLOS 1982 untuk mendapatkan luas wilayahnya. Dan hasil akhir dari penelitian ini adalah Peta Batas Laut Daerah Provinsi Bangka Belitung.
IDENTIFIKASI STATUS TANAH TNI DALAM HUKUM PERTANAHAN NASIONAL
TNI merupakan lembaga pemerintah di bawah Departemen Pertahanan yang bertugas sebagai alat utama sistem pertahanan negara. Dalam melaksanakan tugasnya TNI memerlukan sumber daya alam. Yang dimaksud sumber daya alam dalam hal ini adalah potensi yang terkandung dalam bumi, air, dan dirgantara yang dapat digunakan untuk kepentingan pertahanan negara. Salah satu sumber daya alam yang penting adalah tanah. Tanah merupakan unsur yang digunakan untuk pembangunan kekuatan pertahanan yang meliputi perkantoran, tempat latihan, dan tempat beraktivitas bagi kegiatan pertahanan negara. Untuk memperkuat bukti hukum atas penggunaan tanah TNI tersebut maka TNI memerlukan suatu bukti hukum hak atas tanah yang digunakannya. Saat ini banyak terjadi konflik antara TNI dengan masyarakat umum terkait dengan status hak atas tanah TNI. Untuk menghindari konflik pertanahan yang terjadi antara TNI dan masyarakat umum, maka perlu dilaksanakan identifikasi status tanah TNI dalam hukum pertanahan nasional yang mengatur seluruh hak atas tanah TNI. Pelaksanaan identifikasi ini dilakukan dengan cara mengkaji peraturan pertanahan melalui studi literatur dan wawancara dengan Departemen Pertahanan, BAIS TNI, dan Pusat Sejarah TNI. Dari hasil identifikasi tersebut didapat status tanah TNI dalam hukum pertanahan nasional. Status tanah TNI berdasarkan Undang-Undang Pokok Agraria adalah hak pakai. Status tanah TNI harus dibuktikan dasar hukumnya dengan suatu sertifikat hak pakai yang diterbitkan oleh BPN. Sekitar 40% tanah TNI di Indonesia belum bersertifikat. Untuk memperkuat bukti hukum penggunaan tanah TNI, maka tanah TNI di seluruh wilayah Indonesia harus segera didaftarkan di BPN untuk memperoleh sertifikat hak pakai.
KARAKTERISASI HABITAT BURUNG POKSAI KUDA (GARRULAX RUFIFRONS LESSON, 1831) DI PULAU JAWA BAGIAN BARAT
Poksai kuda (Garrulax rufifrons Lesson, 1831) merupakan spesies Leiothrichidae endemik Jawa yang dilindungi dan berstatus Endangered (IUCN). Sedikitnya habitat yang tersisa dan keterbatasan informasi habitat G. rufifrons menjadi hambatan upaya konservasinya. Penelitian ini dilakukan untuk mengkarakterisasi habitat G. rufifrons di bagian barat Pulau Jawa menggunakan pendekatan species distribution modeling (SDM). Titik perjumpaan G. rufifrons diperoleh dari hasil survei lapangan di Gunung Sawal (2025) dan Global Biodiversity Information Facility (2014?2024) dengan total sebanyak 29 titik yang dianalisis menggunakan MaxEnt GUI 3.4.4. Variabel prediktor dipilih berdasarkan hasil uji korelasi Spearman dan pertimbangan aspek ekologis, mencakup 17 variabel lingkungan: tutupan lahan, elevasi, kemiringan, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Normalized Difference Water Index (NDWI), nighttime light, jarak dari jalan, dan sepuluh variabel bioklimat (CHELSA). Hasil pemodelan distribusi habitat menunjukkan performa yang baik, dinilai dari AUC sebesar 0,905Β±0,039. Berdasarkan threshold probabilitas 10 percentile training presence, area yang sesuai sebagai habitat G. rufifrons hanya Β±17,1% (955.141,6 ha) dari total area studi. Sementara itu, penggunaan threshold probabilitas ?0,5 menghasilkan persentase sebesar Β±3,67% (204.728,5 ha). Berdasarkan kurva respons, G. rufifrons terdistribusi pada dataran tinggi (>1.000 mdpl) dengan vegetasi rapat, kelembaban tinggi, suhu rata-rata rendah (<20oC), serta fluktuasi suhu harian yang besar. Model ini sangat dipengaruhi oleh variabel isothermality dan mean diurnal air temperature range dengan nilai permutation importance yang tinggi (23,1% dan 16,8%). Hal ini menunjukkan distribusi habitat G. rufifrons sensitif terhadap rentang dan fluktuasi suhu harian, serta diduga perubahan iklim akan menjadi ancaman kuat pada kelestariannya di masa mendatang.
PEMANFAATAN LIMBAH-LIMBAH INDUSTRI ENERGI UNTUK SINTESIS GEOPOLIMER
Pembangkit listrik merupakan salah satu sumber utama penyedia energi, namun penggunaannya, terutama melalui PLTU batubara dan pemanfaatan biomassa seperti sekam padi, menghasilkan limbah padat dalam jumlah besar. PLTU batubara menghasilkan abu terbang sekitar 5% dari total batubara yang dibakar, sedangkan biomassa sekam padi menyumbang limbah abu sekam padi (RHA) hingga 25% dari total sekam yang dibakar. Limbah-limbah ini berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dimanfaatkan dengan tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengolah limbah tersebut menjadi mortar geopolimer sebagai alternatif pengganti semen Portland yang ramah lingkungan. Mortar geopolimer disintesis dari campuran fly ash dan RHA dengan variasi suhu curing (60Β°C dan 25Β°C), molaritas NaOH (10 M dan 14 M), fraksi fly ash terhadap RHA (0,5 dan 0,9), serta waktu pematangan (7 dan 28 hari). Uji kuat tekan dilakukan untuk menilai performa mekanik mortar, sementara pasta geopolimer dengan komposisi terbaik dianalisis lebih lanjut melalui uji SEM dan XRD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuat tekan maksimum diperoleh pada kondisi molaritas 14 M, suhu curing 60Β°C, fraksi fly ash 0,9, dan waktu pematangan 28 hari. Analisis mikrostruktur menunjukkan matriks geopolimer yang lebih padat meskipun masih terdapat partikel fly ash dan RHA yang tidak bereaksi sempurna. Selain itu, kristal-kristal sisa prekursor juga teramati melalui citra SEM dan pola difraksi XRD, mengindikasikan bahwa tidak seluruh material mengalami reaksi geopolymerisasi. Temuan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah fly ash dan abu sekam padi sebagai bahan baku geopolimer berpotensi menghasilkan material bangunan yang kuat dan lebih berkelanjutan
KARAKTERISASI BATUBARA METALURGI DAN PENGARUH INTRUSI TERHADAP KUALITAS BATUBARA PADA PT X, SUBCEKUNGAN KUTAI ATAS, KALIMANTAN TENGAH
Ketersediaan batubara metalurgi domestik menjadi faktor krusial dalam menyukseskan agenda hilirisasi nasional, khususnya di sektor industri besi dan baja. Formasi Batuayau di Subcekungan Kutai Atas merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki potensi batubara metalurgi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor geologi yang memengaruhi pembentukan batubara metalurgi; mengidentifikasi hubungan antara karakteristik, kualitas, dan lingkungan pengendapan; serta melakukan estimasi sumber daya batubara metalurgi pada wilayah PT X yang berada di Kabupaten Murung Raya, Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian ini mengombinasikan data primer yang terdiri dari deskripsi singkapan, deskripsi inti bor, dan petrografi sayatan tipis, dengan data sekunder berupa 11 titik bor yang memiliki 113 data kualitas batubara, peta anomali gravitasi, serta peta gradien geotermal. Penentuan lingkungan pengendapan dilakukan melalui analisis litofasies dan maseral, karakteristik dan kualitas batubara diperoleh dari analisis proksimat, total sulfur, nilai kalori, reflektansi vitrinit, dan caking properties batubara, sedangkan pemodelan dan perhitungan sumber daya dilakukan menggunakan perangkat lunak Minescape 5.7. Hasil analisis menunjukkan bahwa batubara di daerah penelitian terendapkan pada lingkungan wet forest swamp dengan kondisi telmatik, bagian dari sistem pengendapan tidal flat. Keempat seam batubara (S1-S4) memiliki peringkat High Volatile A Bituminous dengan kadar abu rendah-sedang (5,34-10,36% adb), kadar sulfur rendah (<1% adb), nilai kalori tinggi (>14.000 Btu/lb), dan Crucible Swelling Number (CSN) menunjukkan sifat strongly caking (7,5-9,0). Pembentukan batubara metalurgi di daerah penelitian terjadi akibat proses burial signifikan dan gradien geotermal regional, diperkuat oleh pengaruh intrusi andesit yang ditandai dengan peningkatan nilai reflektansi vitrinit jika dibandingkan dengan interval yang lebih tua di area sebelahnya. Total sumber daya batubara metalurgi di daerah penelitian mencakup 3.852.590 ton sumber daya terukur, 2.263.700 ton tertunjuk, dan 114.471 ton tereka.
ESTIMASI BIOMASSA ATAS PERMUKAAN DAN STOK KARBON PADA VEGETASI MANGROVE DI SUNGAI PENGUDANG, KABUPATEN BINTAN MENGGUNAKAN UAV PHOTOGRAMMETRY
Perubahan iklim merupakan permasalahan global yang sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil yang menghasilkan emisi karbon dioksida (CO?). Hutan mangrove berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim karena mampu menyerap dan menyimpan karbon secara efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi biomassa atas permukaan (Above Ground Biomass/AGB) dan stok karbon pada vegetasi mangrove di Sungai Pengudang, Kabupaten Bintan, menggunakan citra resolusi tinggi dari drone (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) dan pendekatan Canopy Height Model (CHM). Tinggi kanopi diperoleh dari selisih antara Digital Surface Model (DSM) dan Digital Terrain Model (DTM), lalu dikoreksi menjadi Loreyβs Height berdasarkan hubungan regresi eksponensial. Analisis pasang surut menunjukkan tunggang pasut 2,71β3,47 m dengan tipe campuran condong harian ganda dan frekuensi rendaman 0β41 kali per bulan. Distribusi salinitas permukaan berkisar antara 0β30 ppt dan intrusi salinitas terdeteksi hingga 1,7 km dari muara. Model koreksi menunjukkan akurasi yang baik dengan nilai RMSE sebesar 1,19 meter dan koefisien korelasi r = 0,89. Estimasi AGB yang diperoleh dari CHM berkisar antara 39,89β548,88 ton/ha, sedangkan stok karbon berkisar antara 18,75β257,97 ton/ha (karbon), dengan rata rata masing-masing 244,35 Β± 102,29 ton/ha dan 114,85 Β± 48,08 ton/ha. Meskipun efektif, pendekatan CHM menghasilkan estimasi lebih rendah sekitar 14β15% dibanding pengukuran sampel non-destruktif berbasis persamaan alometrik karena keterbatasan dalam menangkap vegetasi kecil dan variasi spesies.