📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 1 dokumen

ANALISIS POTENSI PENERAPAN SPONGE CITY BERDASARKAN KARAKTERISTIK BIOFISIK DAN HIDROLOGI PERKOTAAN DKI JAKARTA

DKI Jakarta sebagai wilayah pesisir menghadapi tekanan hidrologi ganda yang saling memperkuat: risiko banjir yang dinamis dan land subsidence yang berlangsung progresif. Luas genangan banjir menurun dari 18.540,88 Ha (2015) menjadi 14.689,43 Ha (2025), namun dominasi wilayah terdampak berpindah dari Jakarta Utara menuju Jakarta Selatan yang mencatatkan proporsi genangan berbahaya tertinggi. Kondisi ini diperparah oleh laju penurunan muka tanah ratarata -1,86 cm/tahun yang merusak elevasi dan kapasitas tampung saluran drainase eksisting, membuktikan bahwa grey infrastructure konvensional tidak lagi memadai. Diperlukan transformasi menuju intervensi hidrologi yang menahan dan meresapkan air langsung dari sumbernya, sebagaimana prinsip Sponge City. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi penerapan konsep Sponge City di DKI Jakarta melalui pendekatan spasial-kuantitatif berdasarkan kondisi biofisik dan hidrologi untuk menentukan wilayah prioritas implementasi. Metode yang digunakan adalah Spatial Multi-Criteria Evaluation (SMCE) berbasis Weighted Linear Combination (WLC) yang mengintegrasikan empat parameter dengan bobot melalui Rank Order Centroid (ROC), yaitu tutupan lahan (52,08%), kemiringan lereng (27,08%), curah hujan (14,58%), dan jenis tanah (6,25%). Model diuji melalui analisis sensitivitas One-at-a-Time (OAT) pada delapan skenario variasi bobot, serta validasi spasial terhadap 1.291 titik genangan banjir. Hasil pemodelan di-overlay dengan Peta Pola Ruang RDTR untuk mengidentifikasi zona prioritas, kemudian diinterseksi dengan peta penggunaan lahan eksisting guna merumuskan rekomendasi infrastruktur yang kontekstual terhadap regulasi tata ruang Jakarta. Hasil menunjukkan kawasan terbangun mendominasi hingga 89,38% wilayah, sementara tutupan lahan resapan alami menyusut drastis, yaitu semak belukar (- 80,88%), lahan pertanian (-58,78%), dan tanah terbuka (-47,65%). Indeks Potensi Sponge City menunjukkan 59,29% wilayah DKI Jakarta berada pada Kelas 4 (Potensi Sangat Tinggi), terkonsentrasi di Jakarta Selatan (91,5%) dan Jakarta Timur (71,1%). Pemadatan tanah perkotaan turut mereduksi kapasitas infiltrasiv sehingga jenis tanah Dystric Nitisols direklasifikasi dari HSG B menjadi HSG C. Model terbukti konsisten terhadap variasi pembobotan (fluktuasi luas hanya 0,182%) dan tervalidasi kuat, dengan 73,59% titik genangan eksisting berada tepat pada zona prioritas hasil pemodelan. Dibandingkan kajian Sponge City Jakarta yang umumnya deskriptif pada skala kawasan mikro atau tinjauan literatur, penelitian ini menawarkan kebaruan melalui pendekatan spasial-kuantitatif skala kota yang menjadikan dua ancaman bencana sebagai justifikasi urgensi dan menerjemahkannya ke dalam parameter biofisikhidrologi terukur untuk pemodelan SMCE. Penelitian ini membuktikan bahwa wilayah dengan urgensi tertinggi atau 93,71% area prioritas merupakan kawasan budidaya aktif yang didominasi permukiman padat (42,93%) dan jaringan jalan (13,44%), bukan lahan kosong yang dapat dikonversi bebas. Temuan ini mengubah paradigma implementasi dari penyediaan ruang baru menjadi strategi integrasi infrastruktur resapan seperti permeable pavement, biopori, dan rainwater harvesting ke dalam lingkungan terbangun eksisting. Secara akademik, penelitian ini berkontribusi pada ilmu perencanaan wilayah dan kota melalui penerapan evaluasi multikriteria spasial pada kota pesisir dengan tekanan bencana hidrologi ganda. Secara praktis, penelitian ini menghasilkan basis data spasial dan justifikasi regulasi (Pergub DKI 109/2021, Permen ATR/BPN 14/2022, Pergub DKI 20/2024) yang dapat menjadi pedoman pemangku kebijakan dalam menentukan lokasi prioritas dan jenis infrastruktur Sponge City sesuai tipologi fisik dan pola pemanfaatan ruang di setiap zona DKI Jakarta

2026
👤 Penulis: Nadhilah Anargya Athaillah
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Wilayah
💬