📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 33 dokumenMEASURING THE BRAND LOYALTY OF UNSATISFIED TELKOMSEL FLASHCUSTOMER
Telkomsel adalah salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia yang enyediakan berbagai macam produk layanan untuk pelanggannya. Telkomsel Flash sebagai ah satu produk unggulan dari Telkomsel, adalah produk yang menawarkan jasa layanan in met dan memiliki pangsa pasar yang besar di Indonesia, bersaing dengan Indosat dan Sttfren masing-masing dengan total pangsa pasar sebesar 77,5%. Indonesia adalah nega pengguna media sosial Twitter terbesar ke 5 dunia dengan 19,5 juta pengguna. Tujuan dari melitian ini adalah mengukur loyalitas merek pengguna yang merasakan ketidakpuasan dalam menggunakkan Telkomsel Flash Perbandingan price produk Telkomsel Flash dengan merek lain menjadi salah satu dasar untuk melakukan penelitian. Teori teori penting untuk menambah pengertian dan penyelesaian tugas akhir adalah pengertian dasar merek, ekuitas merek, loyalitas merek, media sosial, analisis konten, dan relasi publik. Topsy.com dan Kurrently.com adalah alat bantu dalam menganalisis konten media sosial selain Twitter.com. Metodologi melingkupi 3 bagian yaitu motif riset, kerangka riset, dan metode penentuan sampling. Motif riset membahas tentang motivasi penulis dalam pemilihan topik tugas akhir. Kerangka riset membahas tentang alur pengumpulan data dari pencarian kata kunci hingga analisis konten. Metode penentuan sampling berisi tentang teknik untuk menentukan jumlah populasi dan metode sampling. Jenis sampling adalah Purposive Sampling, maka Teori Slovin digunakkan untuk menentukkan jumlah sample. Ada 4 bagian yang dipaparkan dalam pengolahan data. Bagian pertama yaitu tentang keluhan - keluhan yang dialami dari responden yang tidak puas dengan pelayanan Telkomsel Flash. Bagian kedua membahas tentang faktor faktor yang mem ngaruhi responden ketika memilih atau membeli Telkomsel Flash. Bagian ketiga membahas tentang tendensi responden yang tidak puas untuk berpindah merek. Bagian keempat membahas tentang faktor-faktor yang membuat responden memutuskan untuk tidak berpindah merek. Stabilitas sinyal dan kecepatan koneksi menjadi faktor terbesar dari responden dalam memilih Telkomsel Flash dengan 51%. Sebesar 63% dari responden menyatakan keluhan yang dialami adalah seputar stabilitas sinyal dan kecepatan koneksi. Secara umum, tendensi responden untuk berpindah merek sebesar 52% dan 48% memutuskan untuk tidak berpindah merek, dimana 50% dari responden yang memutuskan untuk berpindah merek adalah berasal dari faktor terbesar dalam memilih produk Telkomsel Flash. Sebanyak 55% dari responden yang memutuskan untuk tidak berpindah merek berpendapat bahwa Telkomsel Flash masih memberikan stabilitas sinyal paling baik dan toleransi responden. Kata kunci: Telkomsel Flash, Loyalitas Merek, Perpindahan Merek, Media Sosial, Twitter, Analisis Konten
IMPLEMENTASI INDOBERT UNTUK PREDIKSI SENTIMEN REAL-TIME PADA ISU PUBLIK DI TWITTER
Twitter merupakan salah satu platform media sosial yang banyak digunakan masyarakat untuk menyampaikan opini dan respons terhadap isu publik secara cepat, sehingga diperlukan metode yang mampu memantau kecenderungan sentimen masyarakat secara real time. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sentimen masyarakat pada platform Twitter menggunakan algoritma IndoBERT dengan tiga variasi aktivasi, yaitu No Activation, GELU, dan Tanh, guna memberikan gambaran kecenderungan isu publik terhadap suatu topik. Metode yang digunakan meliputi pengumpulan data tweet melalui proses crawling berdasarkan kata kunci tertentu, pelabelan data ke dalam kategori sentimen positif, netral, dan negatif, kemudian dilakukan fine-tuning model IndoBERT pada dataset berlabel. Model yang dihasilkan diimplementasikan ke dalam sistem berbasis antarmuka untuk memproses data Twitter dan menghasilkan prediksi sentimen secara langsung. Evaluasi dilakukan tidak hanya menggunakan hasil prediksi sentimen, tetapi juga dengan analisis perilaku keyakinan model melalui confidence score, logit margin, serta distribusi entropy untuk mengukur tingkat ketidakpastian prediksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IndoBERT dengan tiga variasi aktivasi mampu digunakan untuk prediksi sentimen secara real time dan memberikan gambaran kecenderungan sentimen masyarakat terhadap topik yang dianalisis. Perbedaan aktivasi memengaruhi karakter prediksi, terutama pada kestabilan output dan tingkat ketidakpastian, di mana Tanh cenderung menghasilkan prediksi lebih stabil, GELU lebih kuat dalam membentuk keputusan tegas pada sampel yang jelas, dan No Activation lebih sering berada pada kondisi borderline pada teks ambigu. Dengan demikian, penelitian ini membuktikan bahwa IndoBERT dengan variasi aktivasi dapat digunakan sebagai solusi analisis sentimen real time untuk memantau opini publik pada isu tertentu di Twitter.
PENGEMBANGAN STRATEGI PEMASARAN DIGITAL TERINTEGRASI UNTUK MENINGKATKAN NIAT BELI BERDASARKAN PREFERENSI PELANGGAN TERHADAP BAURAN PEMASARAN DAN KONTEN MEDIA SOSIAL: STUDI KASUS PADA PLATFORM UPSKILLING ONLINE GRADUATS
Pertumbuhan pesat industri upskilling daring di Indonesia telah meningkatkan tingkat persaingan di antara penyedia pendidikan digital, khususnya yang menargetkan mahasiswa tingkat akhir, lulusan baru, dan profesional awal karier. Meskipun media sosial telah menjadi saluran utama dalam pencarian informasi dan evaluasi pembelajaran, banyak platform yang masih menghadapi tantangan terkait visibilitas merek, sinyal kredibilitas, dan efektivitas konversi. Dalam konteks ini, Graduats sebagai platform upskilling online yang diluncurkan tahun 2024 oleh PT Kreasi Edulab Indonesia beroperasi di pasar yang kompetitif sehingga memerlukan strategi pemasaran digital yang terstruktur dan berbasis bukti empiris, serta selaras dengan preferensi pelanggan dan proses pengambilan keputusan pembelian. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan strategi pemasaran digital terintegrasi bagi Graduats dengan mengkaji preferensi pelanggan terhadap Social Media Marketing Activities (SMMAs) dan elemen terpilih dari bauran pemasaran jasa 7P, serta hubungannya dengan niat beli. Analisis difokuskan pada empat dimensi SMMA, yaitu hiburan (entertainment), interaktivitas (interactivity), tren (trendiness), dan electronic word-of-mouth (e-WOM), sebagai karakteristik konten yang relevan dalam pengambilan keputusan berbasis media sosial pada konteks platform upskilling daring. Pendekatan kuantitatif digunakan dalam penelitian ini melalui penyebaran kuesioner terstruktur kepada 250 responden berusia 18–30 tahun yang merepresentasikan target pasar utama Graduats. Data dianalisis menggunakan teknik statistik deskriptif dan inferensial untuk mengidentifikasi pola preferensi terkait konten media sosial dan atribut bauran pemasaran. Temuan ini dilengkapi dengan wawasan dari data internal perusahaan dan observasi terhadap pesaing untuk memberikan pemahaman kontekstual mengenai posisi pasar Graduats. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konten media sosial memiliki keterkaitan yang kuat dengan niat beli, khususnya ketika mencerminkan kredibilitas, nilai pembelajaran yang dirasakan, dan keterlibatan pengguna. Instagram muncul sebagai platform yang paling sering digunakan baik untuk aktivitas media sosial secara umum maupun pencarian informasi terkait upskilling, yang menegaskan relevansi strategisnya dalam komunikasi pemasaran. Selain itu, pengaruh gabungan dari konten hiburan, interaktivitas, tren, dan e-WOM menjelaskan sebesar 81,3% variasi niat beli, yang menekankan pentingnya strategi media sosial berbasis konten dalam membentuk pengambilan keputusan konsumen. Temuan ini menunjukkan bahwa niat beli dalam konteks upskilling daring tidak dipengaruhi oleh atribut konten secara terpisah, melainkan oleh efek terintegrasi dari berbagai dimensi SMMA yang selaras dengan preferensi pelanggan. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan strategi pemasaran digital terintegrasi yang disusun dalam dua komponen utama, yaitu: (1) strategi konten berbasis SMMA yang mendefinisikan logika konten dan fokus pesan; serta (2) rencana implementasi pemasaran digital berbasis kerangka RACE (Reach, Act, Convert, Engage) yang menerjemahkan wawasan penelitian ke dalam langkahlangkah yang dapat diimplementasikan. Dari perspektif manajerial, penelitian ini memberikan panduan praktis bagi platform upskilling daring yang sedang berkembang untuk mengoptimalkan investasi media sosial di tengah keterbatasan sumber daya dengan menyelaraskan strategi konten dengan preferensi pelanggan dan bauran pemasaran. Secara akademik, penelitian ini berkontribusi dengan memperluas penerapan teori SMMA pada konteks upskilling daring di Indonesia, yang masih relatif terbatas dalam penelitian sebelumnya.
PENGARUH PEMASARAN MEDIA SOSIAL TERHADAP KETERLIBATAN PELANGGAN DAN NIAT PEMBELIAN: STUDI KASUS AMOR TIEN
Pertumbuhan industri fesyen digital di Indonesia telah menempatkan media sosial sebagai platform utama dalam interaksi konsumen dan pembentukan perilaku pembelian. Namun, Amor Tien mengalami penurunan interaksi audiens dan fluktuasi niat pembelian meskipun memiliki jadwal unggahan konten yang konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana kualitas konten, interaktivitas, dan kepercayaan emosional memengaruhi keterlibatan pelanggan serta bagaimana keterlibatan tersebut berperan sebagai variabel mediasi terhadap niat pembelian pada Instagram. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran yang melibatkan survei kuantitatif terhadap 250 pengguna perempuan Instagram berusia 18–35 tahun serta evaluasi kualitatif melalui analisis konten dan statistik platform. Analisis data dilakukan menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modelling (SEM-PLS). Temuan penelitian menunjukkan bahwa seluruh variabel yang diteliti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keterlibatan pelanggan, yang kemudian berdampak kuat pada peningkatan niat pembelian. Oleh karena itu, penelitian ini menyarankan optimalisasi strategi Instagram melalui konten yang interaktif, kredibel, dan konsisten. Secara khusus bagi Amor Tien, peningkatan komunikasi emosional, pengembangan interaksi berbasis komunitas, serta penerapan konten berbasis storytelling dinilai penting untuk memperkuat keterlibatan pelanggan dan menjaga pertumbuhan penjualan jangka panjang.
MENGOPTIMALKAN STRATEGI PEMASARAN DIGITAL BERBASIS INSTAGRAM UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN MEREK BETTER BLOOM
Industri florist telah lama dikaitkan dengan ekspresi budaya dan makna simbolis, di mana bunga tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga sebagai pembawa emosi, apresiasi, dan perayaan. Di Indonesia, tradisi memberikan bunga tetap mendalam dalam praktik sosial dan pribadi, mulai dari upacara kelulusan dan ulang tahun hingga momen simpati dan perawatan diri. Industri ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital, dengan platform seperti Instagram memberikan florist peluang baru untuk menjangkau audiens yang lebih luas, menampilkan daya tarik visual produk mereka, dan membangun identitas merek. Meskipun demikian, banyak florist kecil masih menghadapi tantangan dalam beradaptasi dengan lingkungan digital, terutama dalam membangun kesadaran merek dan mempertahankan visibilitas di pasar yang kompetitif. Better Bloom, sebuah usaha florist kecil yang berbasis di Bandung, juga menghadapi tantangan serupa. Meskipun telah mencapai penjualan awal melalui rekomendasi mulut ke mulut dan eksposur organik di Instagram, sebagian besar pelanggannya masih berasal dari jaringan pribadi pendirinya. Ketergantungan pada koneksi pribadi ini menjadi hambatan dalam mengembangkan bisnis dan membangun merek yang dikenal. Analisis awal terhadap akun Instagram perusahaan menunjukkan frekuensi posting yang rendah (sekitar sekali sebulan), keragaman konten yang terbatas, dan interaktivitas yang minim, yang secara bersama-sama membatasi visibilitas merek dalam lingkungan algoritma Instagram yang cepat berubah. Gejala-gejala ini menyoroti pentingnya mengembangkan strategi pemasaran digital yang terstruktur dan berbasis data untuk memperkuat kesadaran merek dan mengurangi ketergantungan pada jaringan pribadi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang strategi pemasaran berbasis Instagram yang meningkatkan kesadaran merek Better Bloom dengan mengintegrasikan wawasan dari perilaku konsumen, perbandingan dengan pesaing, dan analisis kuantitatif. Secara spesifik, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aspek-aspek pemasaran media sosial yang paling kuat mempengaruhi kesadaran merek dalam konteks bisnis florist kecil. Untuk mencapai hal ini, desain penelitian kuantitatif diterapkan. Data dikumpulkan melalui survei online yang dibagikan kepada 292 responden yang mewakili pasar sasaran Better Bloom: dewasa muda berusia 18–35 tahun yang tinggal di Bandung, pengguna Instagram aktif, dan individu yang tertarik dengan pemberian buket bunga sebagai hadiah. Tanggapan responden dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan regresi linier berganda (MLR), dilengkapi dengan analisis konten akun Instagram Better Bloom dan perbandingan dengan florist pesaing di Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua dimensi pemasaran media sosial memiliki tingkat pengaruh yang sama terhadap kesadaran merek. Analisis regresi mengungkapkan bahwa hiburan, penyesuaian, dan mulut ke mulut elektronik (eWOM) secara signifikan berkontribusi dalam memperkuat kesadaran merek, dengan eWOM muncul sebagai prediktor paling berpengaruh. Di sisi lain, interaksi dan tren tidak menunjukkan efek yang signifikan. Hal ini menyarankan bahwa, bagi Better Bloom, membangun kesadaran merek memerlukan lebih dari sekadar mengikuti tren atau mendorong interaksi langsung; sebaliknya, perusahaan harus fokus pada konten yang secara emosional resonan, estetis menarik, dan dapat dibagikan, yang memotivasi pengguna untuk memperluas kesadaran merek melalui jaringan mereka sendiri. Analisis kluster tambahan lebih lanjut menyoroti perbedaan di antara responden: mereka yang memiliki kesadaran merek Better Bloom yang lebih tinggi cenderung menjadi pengguna Instagram yang lebih aktif dan konsumen perempuan, sejalan dengan pola perilaku pemberian hadiah yang lebih luas di industri florist. Kontribusi penelitian ini bersifat praktis dan akademis. Bagi Better Bloom, penelitian ini menyediakan peta jalan untuk beralih dari posting secara acak dan penjualan berbasis jaringan pribadi menuju strategi pemasaran yang terencana, skalabel, dan berorientasi pada konsumen. Bagi usaha kecil secara umum, studi ini menunjukkan bagaimana Instagram dapat dimanfaatkan secara strategis, bahkan dengan sumber daya terbatas, untuk meningkatkan kesadaran merek dan daya saing. Secara akademis, penelitian ini memperkaya literatur pemasaran media sosial dengan menguji pengaruh relatif hiburan, kustomisasi, interaksi, eWOM, dan tren dalam konteks usaha kecil florist di Indonesia, pasar di mana studi empiris masih terbatas. Penelitian ini menekankan bahwa membangun kesadaran merek di era digital memerlukan penyelarasan strategi pemasaran dengan pola perilaku konsumen serta memanfaatkan keunggulan unik platform media sosial. Dengan menerapkan perencanaan konten yang terstruktur, melibatkan pelanggan sebagai duta merek, dan mengadopsi praktik evaluasi berkelanjutan, Better Bloom dapat melampaui ketergantungannya pada jaringan pendiri. Hal ini akan memungkinkan bisnis untuk memperkuat identitasnya, menarik pelanggan baru, dan mengejar pertumbuhan berkelanjutan di pasar florist yang kompetitif di Bandung.
PERSONALISASI ALGORITMIK, BUKTI SOSIAL, DAN KEPERCAYAAN: MEMAHAMI PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP PERILAKU KONSUMEN DI INDONESIA
Di era digital, algoritma media sosial memainkan peran yang semakin dominan dalam membentuk perilaku pengambilan keputusan konsumen. Dengan konten yang dipersonalisasi, umpan yang didorong oleh algoritma, dan mekanisme validasi sosial, platform seperti Instagram dan TikTok secara signifikan mempengaruhi niat pembelian online pengguna. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana personalisasi, bukti sosial, dan kepercayaan mempengaruhi niat konsumen untuk membeli secara online, khususnya dalam konteks penggunaan media sosial. Pertanyaan penelitian utama adalah: Bagaimana personalisasi, bukti sosial, dan kepercayaan yang dimediasi oleh pengiriman konten algoritmik mempengaruhi niat pembelian online? Metode penelitian kuantitatif digunakan, dengan survei yang didistribusikan kepada 38 konsumen online aktif yang sering berinteraksi dengan iklan media sosial. Data dianalisis menggunakan uji validitas dan reliabilitas untuk menguji model yang diusulkan. Berdasarkan hasil deskriptif, tampaknya personalisasi dan kepercayaan mungkin terkait dengan niat pembelian online, sementara bukti sosial memiliki hubungan positif, tetapi hubungan yang kurang menonjol. Secara spesifik, uji inferensial diperlukan untuk memverifikasi hubungan-hubungan ini. Temuan ini menyoroti mekanisme psikologis dan perilaku yang mendasari cara paparan algoritmik membentuk sikap dan keputusan konsumen. Studi ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam tentang efektivitas pemasaran digital dan memberikan implikasi praktis bagi merek yang memanfaatkan iklan algoritmik. Penelitian lebih lanjut dianjurkan untuk mengeksplorasi variabel tambahan seperti dinamika spesifik platform atau peran skeptisisme konsumen dalam lingkungan iklan digital.
ETIKA DAN DILEMA DALAM PEMASARAN MEDIA SOSIAL MELALUI INDUSTRI FAST FASHION DI ASIA
Tesis ini membahas tantangan dan dilema etika industri fast fashion di Asia, dengan fokus pada cara menyeimbangkan keuntungan dengan tanggung jawab lingkungan dan sosial melalui strategi pemasaran media sosial. Dengan pertanyaan penelitiannya: Bagaimana merek fast fashion menyeimbangkan profitabilitas dengan tanggung jawab sosial-lingkungan dan praktik ketenagakerjaan etis dalam strategi media sosial mereka? Fast fashion semakin gencar memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan TikTok untuk mempromosikan produk dan komitmen etis mereka. Namun, studi ini menemukan bahwa strategi tersebut sering menutupi praktik overproduksi, penggunaan material merusak lingkungan, dan eksploitasi pekerja di rantai pasokan Asia. Meski menampilkan citra sadar sosial, banyak inisiatif mereka kurang transparan, tidak terverifikasi pihak ketiga, atau tidak berdampak nyata, sehingga memicu kekhawatiran etis terkait greenwashing. Untuk mengevaluasi lingkungan persaingan dan regulasi, studi ini menelaah literatur penting, menganalisis strategi pemasaran merek, serta menerapkan kerangka teoritis seperti PESTLE dan Porter’s Five Forces. Berdasarkan penelitian, media sosial dapat secara efektif mengubah persepsi konsumen dan meningkatkan penjualan, tetapi juga turut berkontribusi pada masalah etika dalam industri fast fashion Studi ini menyarankan agar merek-merek fast fashion meningkatkan pengawasan terhadap rantai pasokan yang etis, mengadopsi laporan keberlanjutan yang lebih transparan, serta bekerja sama dengan influencer yang memiliki prinsip yang sejalan terhadap “fashion yang etis”. Selain itu, studi ini menekankan pentingnya edukasi konsumen dan Corporate Social Responsibility (CSR) yang dipersonalisasi dalam konteks industri fast fashion di Asia. Sebagai kesimpulan, studi ini menyoroti bahwa menemukan keseimbangan yang nyata antara tanggung-jawab dan profitabilitas memerlukan penyesuaian struktural yang sungguh-sungguh terhadap cara industri fast fashion beroperasi dan berinteraksi dengan masyarakat, bukan sekedar menjalankan pemasaran melalui media sosial.
ANALISIS SENTIMEN MEDIA SOSIAL TERHADAP WACANA PARIWISATA HALAL DI BALI
Pariwisata halal telah menjadi tren global yang mengalami pertumbuhan signifikan dalam satu dekade terakhir, dipicu oleh meningkatnya jumlah wisatawan Muslim dan perhatian industri pariwisata internasional terhadap kebutuhan pasar ini. Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim melihat peluang besar dalam mengembangkan destinasi wisata halal, termasuk Bali yang dikenal sebagai ikon pariwisata dunia. Namun, wacana pengembangan wisata halal di Bali memicu perdebatan publik, mengingat karakteristik sosial-budaya dan mayoritas penduduk yang non-Muslim. Sebagian pihak melihatnya sebagai peluang ekonomi dan diversifikasi pasar, sementara sebagian lainnya menganggapnya berpotensi mengubah citra budaya dan nilai-nilai lokal. Dalam konteks ini, media sosial menjadi ruang penting untuk mengamati persepsi publik secara langsung dan real- time. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis persepsi masyarakat terhadap wacana wisata halal di Bali melalui dua pendekatan utama, yaitu analisis sentimen dan topic modeling. Analisis sentimen digunakan untuk mengklasifikasikan opini publik ke dalam kategori positif, netral, atau negatif, sehingga dapat diketahui kecenderungan sikap publik. Sementara itu, topic modeling digunakan untuk menggali tema-tema utama yang muncul dalam diskusi warganet, sehingga memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai isu-isu yang menjadi perhatian. Pendekatan ini dilakukan dengan memanfaatkan data besar (big data) yang dikumpulkan dari media sosial, sehingga mampu menangkap dinamika opini publik secara luas. Data penelitian dikumpulkan dari platform Twitter menggunakan kata kunci “wisata halal Bali”, “wisata syariah Bali”, dan “Muslim friendly Bali” dalam rentang waktu 1 Januari 2020 hingga 17 Juli 2025. Proses pengumpulan data menghasilkan 3.088 data yang relevan untuk dianalisis. Analisis sentimen dilakukan menggunakan model berbasis pembelajaran mendalam transformer IndoBERTweet, sementara topic modeling menggunakan Wordcloud dan BERTopic diterapkan untuk memetakan topik diskusi yang dominan. Hasil analisis sentimen menunjukkan distribusi opini publik yang didominasi oleh sentimen negatif sebanyak 72,77%, diikuti sentimen netral sebesar 22,71%, dan sentimen positif sebesar 4,54%. Dominasi sentimen negatif menunjukkan adanya resistensi publik terhadap wacana ini, yang banyak dikaitkan dengan kekhawatiran pergeseran identitas budaya, eksklusivitas destinasi, dan potensi konflik nilai. Sentimen positif umumnya menyoroti peluang ekonomi, peningkatan fasilitas ramah Muslim, dan potensi memperluas pasar pariwisata. Sementara itu, hasil topic modeling mengungkap bahwa perbincangan publik banyak terfokus pada isu budaya, keagamaan, kebijakan pemerintah, dan dampak ekonomi, dengan narasi yang saling berinteraksi dalam membentuk persepsi publik. Temuan ini memberikan implikasi penting bagi perumusan kebijakan pariwisata halal yang lebih sensitif terhadap konteks sosial-budaya lokal. Pemangku kepentingan perlu mempertimbangkan keseimbangan antara pengembangan pasar halal dengan pelestarian identitas budaya Bali. Secara akademis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian pariwisata berbasis big data dan analisis wacana publik di media sosial, serta menunjukkan relevansi integrasi analisis sentimen dan topic modeling dalam memahami isu-isu pariwisata.
VISUALITAS RITUAL GACHA KARAKTER ARLECCHINO PADA GAME GENSHIN IMPACT DI MEDIA SOSIAL
Perkembangan media digital di Indonesia telah menciptakan lanskap interaktif yang memungkinkan lahirnya berbagai bentuk ekspresi budaya baru melalui video game salah satunya yaitu fitur gacha yang memunculkan fenomena “Ritual Gacha” di berbagai platform media sosial. Penelitian ini berfokus pada material visual yang membentuk visualitas konten ritual gacha pada karakter Arlecchino yang tersebar di berbagai platform media sosial. Pendektan penelitian menggunakan Visual Methodologies dari Gillian Rose dengan melihat satu site utama yaitu site of image itself dengan pendekatan tiga modalitas yaitu technology modality untuk menganalisis visual dan format konten, compositional modality untuk menganalisis material visual dalam konten, dan social modality untuk melihat representasi dan pemain memaknai konten ritual gacha. Pengumpulan data dilakukan dengan etnografi virtual dengan observasi mengumpulkan seluruh konten berisi ritual gacha Arlecchino. Studi ini berkontribusi pada pemahaman budaya digital, khususnya tentang hubungan penggunaan material visual dan dinamika komunitas membentuk budaya partisipatif dalam ekosistem game. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi material visual yang digunakan dan menafsirkan visualitas konten ritual gacha dimaknai pemain di media sosial. Penelitian ini mengeksplorasi material visual yang digunakan dalam praktik ritual gacha yang membentuk visualitas praktik ritual gacha Arlecchino dari pemaknaan pemain melalui interaksi digital di media sosial yang menjadi simbol kolektif. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan material visual dibagi menjadi tiga praktik pelaksanaan yaitu hibrid, fisik, dan virtual. Praktik ritual hibrid merepresentasikan interkoneksi material fisik yang dilakukan bersamaan dengan material visual digital secara simultan, praktik ritual fisik merepresentasikan material visual dalam ruang nyata tanpa intervensi sistem digital, dan praktik ritual virtual merepresentasikan sepenuhnya material visual digital baik dalam game maupun representasi digital yang tersedia. Material visual yang digunakan yaitu lima material visual yang konsisten hadir dalam ketiga praktik ritual diantaranya tindakan aktivitas (cosplay Arlecchino dan menari); penggunaan benda (boneka plushie karakter, lilin, bunga merah, dan minuman); penggunaan karakter (Arlecchino); penentuan lokasi (altar dan ruangan nuansa merah); dan media pendukung (gambar pentagram Arlecchino). Asosiasi penggunaan material visual merujuk pada praktik ritual di dunia nyata dan asosiasi naratif Arlecchino di dalam game. Hasil analisis representasi material visual dalam praktik hibrid menunjukkan bahwa pemain mengkonstruksi simbol dan makna dari dunia nyata dan virtual, menciptakan pengalaman ritual yang imersif. Praktik fisik pemain mengkonstruksi material fisik menjadi makna “sakralitas” dalam membangun atmosfer ritual. Praktik virtual pemain membangun ruang digital menjadi media sakral yang dibentuk dari praktik ritual dunia nyata dan kode budaya fandom. Hasil pemain memaknai konten ritual gacha di berbagai platform media sosial yaitu TikTok, X/Twitter, dan Youtube menunjukkan bahwa visualitas konten ritual gacha tidak hanya dipahami sebagai tampilan estetika semata, melainkan sebagai ruang simbolik yang secara aktif dibaca, dirasakan, dan dinegosiasikan. Setiap platform memiliki karakteristik yang berbeda dalam memaknai konten seperti TikTok cepat dengan makna yang saling terbentur, X/Twitter reaktif dengan asosiasi fandom yang kuat, Youtube naratif dan reflektif. Platform mempengaruhi material visual dimaknai atas narasi harapan, keberuntungan, dan kepuasan dalam gacha Temuan penelitian menunjukkan bahwa material visual dalam praktik ritual gacha bisa ditempatkan dalam tiga praktik pelaksanaan dan menciptakan visualitas yang berbeda dalam setiap pelaksanaan dan platform yang menopangnya, visualitas ritual gacha terbentuk dari hasil representasi pemain membentuk kode budaya bersama dalam komunitas dan makna erus dinegosiasikan melalui partisipasi pemain di dalam media sosial.
ANALISIS EFEKTIVITAS INSTAGRAM SEBAGAI ALAT PEMASARAN MEDIA SOSIAL UNTUK MENINGKATKAN NIAT BELI DENGAN KESADARAN MEREK SEBAGAI VARIABEL MEDIASI PADA BISNIS RAMEN: DALAM KASUS PADA SEMANGKOEK
Di era digital, platform media sosial memainkan peran penting dalam membentuk perilaku konsumen, khususnya di kalangan audiens muda. Penelitian ini mengeksplorasi efektivitas pemasaran media sosial melalui Instagram dalam meningkatkan niat beli terhadap Semangkoek, merek ramen beku asal Bandung, dengan menggunakan kerangka teori Stimulus-Organism-Response (SOR). Metode kuantitatif digunakan dengan melibatkan 208 responden yang pernah mendengar atau mengetahui semangkoek, berdomisili di Bandung dan Jakarta serta aktif menggunakan Instagram. Analisis data dilakukan menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui SmartPLS versi 4.1.1.4. Hasil menunjukkan bahwa pemasaran media sosial melalui Instagram berpengaruh signifikan terhadap kesadaran merek dan niat beli, sementara kesadaran merek juga memediasi sebagian hubungan tersebut. Temuan ini menegaskan bahwa kesadaran merek memperkuat pengaruh pemasaran media sosial terhadap keputusan konsumen. Studi ini memberikan wawasan strategis bagi bisnis makanan dan minuman untuk mengoptimalkan konten media sosial guna meningkatkan visibilitas, engagement, dan penjualan.
PENGARUH DAYA TARIK PERUSAHAAN DAN JENIS KONTEN INSTAGRAM PERUSAHAAN TERHADAP NIAT GENERASI Z INDONESIA UNTUK MENDAFTAR KERJA PADA PERUSAHAAN FMCG
Dalam pasar kerja Indonesia yang kompetitif, perusahaan Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) harus berinovasi untuk menarik talenta Generasi Z yang mendominasi angkatan kerja dan aktif di media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor daya tarik perusahaan dan jenis konten Instagram yang memengaruhi niat Generasi Z untuk melamar kerja di perusahaan FMCG. Pendekatan kuantitatif digunakan dengan menyebarkan kuesioner kepada 200 mahasiswa tingkat akhir dan lulusan baru berusia 20– 25 tahun dari empat perguruan tinggi negeri. Data dianalisis menggunakan SPSS melalui regresi linear berganda. Model pertama menguji enam dimensi daya tarik perusahaan: interest, social, economic, development, application, dan work-life value. Model kedua menguji tiga jenis konten Instagram: entertaining, informative, dan interactive. Hasil menunjukkan bahwa interest value berpengaruh positif signifikan, sementara social value berpengaruh negatif signifikan terhadap niat melamar. Konten informative dan entertaining juga memiliki pengaruh signifikan. Temuan ini menyarankan bahwa perusahaan FMCG perlu merancang strategi employer branding yang memadukan inovasi dan profesionalisme, serta menyajikan konten yang informatif, relevan, dan menarik bagi Generasi Z. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk memperluas cakupan demografis, membandingkan berbagai platform media sosial, dan mengeksplorasi hasil perilaku nyata audiens.
STRATEGI PEMASARAN MEDIA SOSIAL YANG DIUSULKAN UNTUK MENINGKATKAN KETERLIBATAN PELANGGAN DI INSTAGRAM (STUDI KASUS: THE HIDDEN HEAVEN)
Meningkatnya permintaan konsumen terhadap kopi spesialti serta berkembangnya budaya home-brewing di Indonesia telah menciptakan peluang pasar baru bagi para roastery di segmen B2C. Namun, The Hidden Heaven, sebuah roastery yang berbasis di Surakarta, masih sangat bergantung pada klien B2B, sehingga bisnis rentan terhadap ketidakstabilan penjualan. Untuk memanfaatkan peluang yang ada, The Hidden Heaven perlu memperkuat upaya di pasar B2C guna menarik dan mempertahankan konsumen individu. Secara khusus, penelitian ini membahas kesenjangan strategi dalam pemanfaatan Instagram perusahaan untuk meningkatkan engagement dengan pelanggan. Tujuan dari studi ini adalah mengembangkan strategi pemasaran media sosial yang lebih terarah untuk meningkatkan engagement pelanggan. Dengan pendekatan metode campuran, studi ini mengombinasikan wawancara kualitatif dengan manajemen perusahaan serta survei kuantitatif terhadap 354 konsumen aktif Instagram berusia 18–35 tahun. Data dianalisis menggunakan SEM-PLS untuk menguji pengaruh social media influencer (SMI), user-generated content (UGC), dan format posting carousel terhadap engagement pelanggan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya konten dengan format carousel yang memiliki pengaruh signifikan. Studi ini memberikan kontribusi bagi praktik pemasaran digital melalui pengembangan strategi Instagram berbasis bukti yang disesuaikan untuk industri kopi spesialti.
PERANCANGAN ANIMASI EKSPERIMENTAL KONSUMERISME TREN MIKRO DAN DAMPAKNYA TERHADAP LIMBAH PADA PEREMPUAN USIA 20-30 TAHUN
Fenomena tren mikro yang berkembang pesat di media sosial telah mendorong perilaku konsumtif yang berdampak pada peningkatan limbah, terutama di kalangan perempuan usia 20–30 tahun. Perancangan ini bertujuan untuk mengkaji dan merefleksikan hubungan antara tren mikro, budaya konsumerisme, dan krisis lingkungan melalui media animasi eksperimental. Menggunakan pendekatan Double Diamond, peneliti menggali data melalui studi literatur, wawancara ahli, dan responden dari target sasaran. Hasil temuan menunjukkan bahwa media sosial berperan besar dalam identitas diri perempuan usia 20-30 tahun, yang mendorong mereka untuk berpartisipasi dalam siklus tren mikro secara impulsif. Siklus konsumsi yang cepat ini menyebabkan penumpukan limbah tekstil. Dengan memanfaatkan karakteristik non-linear, simbolik, dan metaforis dari animasi eksperimental, perancangan ini bertujuan menyampaikan kritik visual terhadap pola konsumsi tersebut sekaligus meningkatkan kesadaran audiens akan dampaknya terhadap lingkungan.
PERANCANGAN MOTION GRAPHIC SEBAGAI UPAYA MENGURANGI STIGMA NEGATIF GENERASI Z TERHADAP KORBAN KEKERASAN SEKSUAL MELALUI MEDIA SOSIAL
Nilai patriarki masih menggelora bebas di tanah air berdasarkan budaya terdahulu yang memandang perempuan inferior daripada laki-laki, melanggengkan menyalahkan korban karena tidak dapat menjaga dirinya. Meskipun zaman dan teknologi sudah berubah, nilai patriarki masih langgeng di internet dan media sosial seperti ujaran kebencian, dimana pelaku mayoritasnya Gen Z berkisar 18 hingga 24 tahun. Perundungan di dunia maya adalah peristiwa yang masih terjadi kepada berbagai kelompok target, salah satunya terhadap kelompok penyintas kekerasan seksual. Dampak psikologis yang dialami penyintas kekerasan seksual sudah memberatkan, apalagi ditambah kebencian dari orang asing di dunia maya. Penyintas membutuhkan lingkungan di media sosial yang bebas dari stigma negatif dan mendukung proses pemulihan mereka. Perancangan motion graphic yang mengintegrasikan dukungan untuk korban serta data dan informasi kebutuhan rasanya dibutuhkan sebagai upaya menumbuhkan empati kepada penyintas kekerasan seksual. Dalam perancangan ini, pengumpulan data dilakukan dengan metode studi literatur, wawancara ahli, menyebar kuesioner, serta observasi. Tahapan perancangan dibantu dengan metode design thinking, dari berempati dengan permasalahan, merumuskan permasalahan, menciptakan konsep dan ide, pembuatan prototype, dan ditutup dengan testing pada user. Adapun hasil perancangan ini berupa sejumlah video motion graphic yang diunggah di media sosial TikTok dengan harapan mengurangi intensitas stigma negatif terhadap penyintas kekerasan seksual.
PROPOSED SOCIAL MEDIA MARKETING STRATEGIES TO INCREASE BRAND AWARENESS AND PURCHASE INTENTION FOR INDONESIA MUSLIM BRAND (CASE OF LOCAL BRAND IRNA LA PERLE)
Penelitian ini mengkaji tantangan yang dihadapi oleh Irna La Perle, merek fashion Muslim premium di Indonesia, yang meskipun memiliki jumlah pengikut digital cukup besar, mengalami rendahnya tingkat keterlibatan pengguna. Kondisi ini membatasi kemampuan merek dalam meningkatkan kesadaran dan niat pembelian, khususnya di kalangan konsumen muda yang aktif di media sosial. Persaingan dari merek lokal yang lebih agresif di dunia digital menuntut Irna La Perle mengembangkan strategi pemasaran media sosial yang lebih terarah dan interaktif, sesuai dengan perilaku konsumen yang terus berubah. Studi menggunakan metode campuran dengan analisis kuantitatif dan kualitatif, serta menggabungkan analisis internal dan eksternal dengan kerangka kerja RACE dan TOWS Matrix untuk merumuskan solusi bisnis strategis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Irna La Perle tetap kuat di segmen fashion modest premium dengan memanfaatkan warisan budaya dan platform seperti Instagram dan TikTok. Namun, keterbatasan dana, kurangnya struktur sumber daya manusia, dan ketergantungan pada platform Meta menjadi kendala utama yang membatasi kemampuan ekspansi dan daya saing. Analisis kuantitatif mengonfirmasi bahwa pemasaran media sosial berpengaruh signifikan terhadap kesadaran merek dan niat pembelian, terutama pada Generasi Z dan Milenial, sehingga digital storytelling dan kolaborasi dengan influencer menjadi sangat penting dalam strategi pemasaran.