📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 20 dokumen

IDENTIFIKASI FAKTOR PEMICU FENOMENA KEMARAU BASAH AGUSTUS TAHUN 2025 DI BENUA MARITIM INDONESIA

Bulan Agustus di Benua Maritim Indonesia (BMI) secara klimatologis merupakan puncak defisit curah hujan akibat dominasi sirkulasi Monsun Australia. Namun, pada Agustus 2025 terjadi fenomena kemarau basah dengan anomali curah hujan yang meluas secara spasial, menampilkan pola yang berbeda dari kejadian historis pada tahun 2021. Fenomena ini terjadi bersamaan dengan meluasnya anomali pemanasan sea surface temperature (SST) di perairan Indonesia yang diduga kuat bertindak sebagai penyuplai uap air lokal. Secara keseluruhan, kejadian anomali ini ditengarai dipicu oleh interaksi forcing lintas skala yang kompleks, mencakup skala dasar monsun, pengaruh iklim global, skala intraseasonal dan sinoptik, hingga termodinamika lautan lokal dan modifikasi siklus diurnal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkuantifikasi tingkat keekstreman anomali tersebut, mengidentifikasi faktor pemicu beserta mekanisme fisis lintas skalanya, dan mengkuantifikasi porsi kontribusi anomali SST lokal terhadap presipitasi menggunakan pemodelan numerik Weather Research and Forecasting (WRF). Data observasi menggunakan reanalisis ERA5, Outgoing Longwave Radiation (OLR), dan SST satelit untuk menganalisis dinamika atmosfer dari skala dasarian hingga diurnal. Eksperimen sensitivitas pemodelan WRF dilakukan untuk memvalidasi kontribusi termodinamika lautan terhadap presipitasi. Simulasi dijalankan dalam Skenario Aktual (SST 2025) dan Skenario Klimatologi (SST rata rata historis). Hasil analisis menunjukkan bahwa kemarau basah Agustus 2025 dipicu oleh terjadinya pelemahan monsun Australia yang bertepatan dengan fase Indian Ocean Dipole (IOD) negatif dalam kondisi ENSO netral. Kondisi ini memicu pemanasan SST di perairan barat Indonesia, bersamaan dengan pemanasan SST independen di Pasifik Utara. Gangguan Gelombang Kelvin, Equatorial Rossby, dan Madden Julian Oscillation (MJO) bertindak sebagai mekanisme pengangkatan. Interaksi dinamik ini mengubah siklus diurnal lokal, menggeser puncak presipitasi ke dini hari, dan memicu propagasi sistem konvektif dari laut ke daratan. Eksperimen WRF mengonfirmasi bahwa tanpa suplai energi laten tambahan dari anomali SST lokal tersebut, gangguan gelombang atmosfer tidak mampu menghasilkan curah hujan di periode kemarau.

2026
👤 Penulis: Nuran Dhiya Annafi
🏷️ Klimatologi 🏷️ Hidrologi 🏷️ Meteorologi

PENENTUAN DATUM PASUT DI PULAU PRAMUKA, KEPULAUAN SERIBU

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh sejumlah datum pasut di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, dengan menggunakan data tinggi muka air laut. Datum pasut yang ditentukan adalah berupa HAT (Highest Astronomical Tide), MSL (Mean Sea Level), dan LAT (Lowest Astronomical Tide). Metodologi yang diterapkan agar diperoleh nilai LAT adalah dengan cara melakukan analisis harmonik terhadap data tinggi muka air laut selama 10 bulan. Berdasarkan analisis harmonik tersebut, didapatkan nilai MSL serta 59 komponen pasut dilengkapi dengan nilai Amplitudo, Fase, dan SNR (Signal to Noise Ratio). Kemudian, dilakukan prediksi pasut selama 18,6 tahun dengan komponen pasut tersebut. Dalam melakukan prediksi, komponen pasut yang digunakan adalah komponen yang memiliki nilai SNR lebih besar dari 2. Setelah diperoleh data prediksi pasut selama 18,6 tahun, maka nilai HAT dan LAT dapat ditentukan dengan memilih nilai ketinggian tertinggi dan terendah dalam selang data prediksi tersebut. Sedangkan MSL didapatkan dengan menghitung rata-rata tinggi model prediksi pasut selama 18,6 tahun. Nilai HAT, MSL, dan LAT yang didapatkan adalah sebesar -480,0 cm, -547,9 cm, dan -601,6 cm mengacu kepada nol alat, dengan standar deviasi sebesar +9,3 cm. Tingkat keterandalan dari datum pasut tersebut dapat diketahui secara kualitatif berdasarkan jumlah komponen pasut yang terlibat dalam melakukan prediksi pasut, yaitu sebanyak 45 komponen pasut.

2026
👤 Penulis: RIFAKHRYZA AQFALA MUGIARAYA (NIM: 15109054); Pembimbing: Dr.rer.nat. Poerbandono
🏷️ Geodesi 🏷️ Analisis Harmonik 🏷️ Meteorologi

KARAKTERISTIK SIRKULASI ANGIN LAUT DI PESISIR UTARA JAWA BAGIAN TENGAH BERDASARKAN DATA OBSERVASI PERMUKAAN DAN RADAR CUACA

Sirkulasi angin laut (sea breeze circulation, SBC) merupakan fenomena atmosfer berskala meso yang muncul akibat perbedaan pemanasan antara daratan dan lautan. Perbedaan suhu tersebut menimbulkan gradien tekanan horizontal yang memicu aliran udara dari laut menuju darat pada siang hari dan sebaliknya pada malam hari. Sistem ini berperan penting dalam mengatur kondisi cuaca pesisir, memodulasi suhu permukaan, meningkatkan kelembapan, serta memicu pembentukan awan konvektif. Di wilayah pesisir tropis seperti Indonesia, yang memiliki garis pantai panjang dan kepadatan penduduk tinggi, pemahaman mengenai karakteristik dan dinamika SBC menjadi penting bagi kegiatan operasional meteorologi, peringatan dini cuaca lokal, dan keselamatan penerbangan. Meskipun demikian, kajian observasional yang menguraikan struktur temporal, spasial, dan vertikal dari sirkulasi ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik sirkulasi angin laut di wilayah pesisir utara Jawa bagian tengah dengan memanfaatkan data observasi permukaan dan radar cuaca. Kajian dilakukan untuk menentukan waktu onset, kecepatan propagasi, jarak intrusi, panjang front, dan variasi musiman SBC serta hubungan fenomena tersebut dengan kondisi sinoptik latar. Pendekatan yang digunakan melibatkan metode penyaringan berbasis fisik (filter method) untuk menyeleksi hari-hari dengan potensi sea breeze day (SBD), diikuti dengan analisis spasial dan vertikal menggunakan produk radar cuaca. Data yang digunakan meliputi pengamatan Automatic Weather Station (AWS) dengan interval 10 menit untuk mendeteksi perubahan arah angin, suhu, dan kelembapan; data reanalisis ERA5 pada lapisan 700 hPa sebagai proksi kondisi sinoptik; serta data radar cuaca C-Band yang diolah menjadi produk Multiple Plan Position Indicator (MPPI) dan Volume Velocity Processing (VVP) guna mengidentifikasi struktur horizontal dan vertikal sirkulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SBC berkembang terutama pada kondisi angin sinoptik lemah (< 11 m/s) dan kontras suhu darat–laut (?T) ? 3 °C. Sirkulasi ini umumnya mulai terbentuk pada pukul 08.00–10.00 LT, mencapai puncak pada 13.00–15.00 LT, dan melemah menjelang malam hari. Intrusi udara laut ke darat mencapai 15–30 km dengan kecepatan 2–8 m/s dan kedalaman lapisan sekitar 1 km. Distribusi musiman memperlihatkan bahwa frekuensi tertinggi terjadi pada musim peralihan kedua (SON), diikuti musim kemarau (JJA), sedangkan pada musim hujan (DJF) fenomena ini jarang muncul akibat dominasi monsun barat yang memperkecil gradien termal. Perubahan arah angin permukaan lebih dari 30°, peningkatan kelembapan 5–10%, dan penurunan suhu udara siang hari menjadi indikator khas dari onset SBC. Analisis radar memperlihatkan dua lapisan utama sirkulasi, yaitu aliran darat–laut di lapisan bawah (0–1,2 km) dan aliran balik (return flow) di lapisan atas (1,8–2 km). Nilai vertical shear di lapisan bawah berkisar antara 2–9 (m/s)/km (?0,002–0,009 s?¹) dan mencapai maksimum sekitar 20 (m/s)/km (?0,02 s?¹) pada ketinggian 0–0,25 km. Nilai ini menunjukkan zona konvergensi kuat akibat perbedaan momentum horizontal antara udara darat dan laut, yang berperan dalam memperkuat pembentukan front dan proses konveksi lokal. Sistem yang terbentuk paling kuat muncul pada kondisi ?T besar dan kecepatan angin sinoptik lemah, menghasilkan sirkulasi stabil dengan lapisan onshore yang dalam serta aktivitas konvektif di wilayah pesisir. Hasil ini menegaskan bahwa interaksi antara kontras termal darat–laut, kondisi angin sinoptik, dan struktur vertikal atmosfer menjadi pengendali utama dinamika sirkulasi angin laut di wilayah pesisir utara Jawa bagian tengah.

2025
👤 Penulis: Rezkya Aliffa Widiyanantoputri
🏷️ Hidrologi 🏷️ Meteorologi 🏷️ Kecerdasan Buatan

ANALISIS SPASIAL DAN TEMPORAL KONSENTRASI SULFUR DIOKSIDA (SO2) DI DKI JAKARTA BERDASARKAN DATA SENTINEL-5P DAN HUBUNGANNYA DENGAN FAKTOR METEOROLOGI

Konsentrasi sulfur dioksida (SO2) di DKI Jakarta merupakan indikator penting kualitas udara yang dipengaruhi oleh aktivitas antropogenik dan kondisi meteorologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola spasial dan temporal konsentrasi SO2 di DKI Jakarta selama periode Januari 2022 hingga Desember 2024 berdasarkan data Sentinel-5P, serta hubungannya dengan faktor meteorologi (suhu, kelembapan, dan kecepatan angin). Data SO2 didapatkan dari sensor TROPOMI, sedangkan data meteorologi didapatkan dari stasiun pengamatan di permukaan. Analisis dilakukan melalui visualisasi spasial-temporal, grafik tren bulanan, box plot musiman, dan analisis korelasi Pearson. Hasil menunjukkan pola musiman konsentrasi SO2 tertinggi terjadi pada bulan Juni, dengan nilai tertinggi teramati di wilayah DKI Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Berdasarkan pola musiman menujukkan musim JJA memiliki konsentrasi SO2 tertinggi di sebagian besar DKI Jakarta, musim SON dengan konsentrasi SO2 terendah, dan musim DJF memiliki variansi spasial SO2 terbesar. Hubungan yang terkuat antara faktor meteorologi terhadap SO2 ditunjukkan oleh kecepatan angin (r = -0,410), diikuti oleh kelembapan dan suhu.

2025
👤 Penulis: Oryza Wardana
🏷️ Hidrologi 🏷️ Kualitas Udara 🏷️ Meteorologi

IDENTIFIKASI MONSUN DAN INDIAN OCEAN DIPOLE PADA VARIABILITAS CURAH HUJAN DI SUMATERA UTARA DAN SUMATERA SELATAN

Pulau Sumatera memiliki dua rezim iklim yang berbeda akibat posisinya melintasi ekuator. Sumatera Utara bercirikan pola curah hujan bimodal yang dipengaruhi ITCZ, sedangkan Sumatera Selatan menunjukkan pola monomodal yang dikendalikan oleh sirkulasi Monsun Asia–Australia. Perbedaan ini mendorong pertanyaan tentang bagaimana monsun dan Indian Ocean Dipole (IOD) memengaruhi variabilitas curah hujan di kedua wilayah. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh monsun dan IOD serta membandingkan kontribusi relatif keduanya pada periode 1991–2020. Data yang digunakan berupa curah hujan bulanan 1991–2020 yang diolah melalui anomaly standardization. Analisis dilakukan menggunakan Continuous Wavelet Transform (CWT) untuk mengidentifikasi periodisitas, Butterworth Bandpass Filter untuk menyoroti sinyal monsun (0,8–1,15 tahun) dan IOD (3–5 tahun), serta Cross Wavelet Transform (XWT) untuk mengkaji keterkaitan curah hujan dengan indeks iklim (DMI dan AUSMI). Selain itu, regresi linier berganda diterapkan untuk mengevaluasi kontribusi relatif kedua indeks terhadap variabilitas curah hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa monsun tahunan merupakan pengendali utama di kedua wilayah, sedangkan IOD berperan pada variabilitas antar-tahunan dengan amplitudo lebih kuat di Sumatera Utara. Analisis XWT memperlihatkan koherensi DMI dengan curah hujan pada periode 2–4 tahun, sementara AUSMI dominan pada skala tahunan. Regresi berganda mengungkapkan bahwa DMI dan AUSMI tidak signifikan di Sumatera Utara (R² = 0,012), tetapi signifikan di Sumatera Selatan (R² = 0.356), dengan DMI berpengaruh negatif dan AUSMI berpengaruh positif. Dengan demikian, Sumatera Utara lebih dipengaruhi dinamika ekuatorial dan variabilitas jangka panjang, sedangkan Sumatera Selatan lebih sensitif terhadap kombinasi IOD dan monsun Australia.

2025
👤 Penulis: Grace Fidelia Situmorang
🏷️ Meteorologi 🏷️ Analisis Wavelet 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Hidrologi

KAJIAN OBSERVASIONAL RASIO BOWEN PADA MUSIM KERING DI WILAYAH PERKOTAAN TROPIS STUDI KASUS JAKARTA TIMUR

Pertukaran energi antara permukaan dan atmosfer di wilayah urban tropis memiliki karakteristik unik akibat pengaruh tutupan lahan, kelembapan, dan dinamika atmosfer lokal. Jakarta Timur, sebagai kawasan urban padat di wilayah tropis, mengalami musim kemarau yang ditandai oleh suhu tinggi dan kelembapan rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai, variasi temporal, dan vertikal rasio Bowen sebagai indikator pembagian energi antara fluks panas sensibel dan laten, serta mengevaluasi pengaruh fenomena sea breeze terhadap fluktuasi nilai tersebut. Data yang digunakan diperoleh dari observasi suhu, kelembapan, dan radiasi di Menara Radio Muara Jakarta selama periode 9 Juli hingga 24 September 2023. Estimasi rasio Bowen dilakukan menggunakan pendekatan gradien vertikal berdasarkan data suhu dan kelembapan pada lima level ketinggian. Proses analisis mencakup pembersihan data, perhitungan parameter psikrometrik, serta pemisahan hari sea breeze dan non-sea breeze berdasarkan data angin. Uji Welch’s t-test digunakan untuk menguji signifikansi perbedaan nilai rasio Bowen pada kedua kondisi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rasio Bowen di wilayah studi tergolong rendah, dengan rata-rata harian sekitar 0,11 dan puncak siang hari berkisar antara 0,15-0,20. Nilai ini menunjukkan peran signifikan fluks panas laten meskipun dalam kondisi musim kemarau. Analisis vertikal menunjukkan nilai rasio Bowen lebih tinggi di lapisan bawah (20-30 m) dan cenderung negatif di lapisan atas (40–60 m), menandakan pengaruh adveksi kelembapan dari laut. Namun, uji statistik menunjukkan bahwa perbedaan nilai rasio Bowen antara hari sea breeze dan non-sea breeze tidak signifikan secara statistik (p > 0,05), meskipun secara fisik sea breeze meningkatkan kelembapan dan kecepatan angin. Penelitian ini menunjukkan bahwa dinamika energi di atmosfer urban tropis bersifat kompleks dan dipengaruhi oleh interaksi lokal dan regional.

2025
👤 Penulis: Shieva Amelia Savitri
🏷️ Hidrologi 🏷️ Klimatologi Urban 🏷️ Meteorologi

PENGARUH VARIABILITAS PARAMETER METEOROLOGI TERHADAP KONSENTRASI NITROGEN DIOKSIDA (NO2) DI DKI JAKARTA

Sebagai pusat ekonomi, DKI Jakarta memiliki beragam kegiatan industri dan lalu lintas kendaraan bermotor yang dapat menghasilkan emisi. Salah satu akibatnya yaitu pencemaran udara dengan jenis polutan nitrogen dioksida (NO?). Di kawasan perkotaan, NO? banyak digunakan sebagai indikator kualitas udara. Konsentrasi NO? di udara ambien dipengaruhi oleh kondisi meteorologi seperti temperatur, kelembapan relatif, dan curah hujan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuibagaimana variabilitas parameter meteorologi meliputi curah hujan, temperatur, dan kelembapan relatif berperan terhadap konsentrasi NO? di DKI Jakarta selama tahun 2021-2023.Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data observasi konsentrasi nitrogen dioksida (NO?) serta data parameter meteorologi meliputi temperatur, kelembapan relatif, dan curah hujan dengan resolusi waktu 1 jam. Data tersebut mencakup periode dari 1 Januari 2021 hingga 31 Desember 2023 yang diperoleh dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta. Pengamatan dilakukan di lima titik yang mewakili lima kota administrasi di DKI Jakarta yaitu Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur. Metode analisis meliputi uji normalitas dan uji korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi NO? dan parameter meteorologi skala bulanan, diurnal, dan diurnal untuk setiap musim (DJF, MAM, JJA, SON)Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bulanan, hanya temperatur yang berpengaruh signifikan terhadap konsentrasi NO? dengan korelasi tertinggi berada di Bundaran HI, Jakarta Pusat. Secara diurnal, temperatur, kelembapan relatif, dan curah hujan berpengaruh signifikan terhadap konsentrasi NO? dengan korelasi tertinggi berada di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Secara musiman, temperatur dan kelembapan relatif berpengaruh signifikan terhadap konsentrasi NO? pada semua musim dengan korelasi tertinggi pada musim JJA masing-masing sebesar -0,726untuk temperatur dan sebesar 0,716 untuk kelembapan relatif. Curah hujan berpengaruh signifikan terhadap konsentrasi NO? pada musim DJF, JJA, dan SONdengan nilai korelasi tertinggi juga terjadi pada musim JJA sebesar -0,652. Konsentrasi NO? menunjukkan pola penurunan saat temperatur dan curah hujan meningkat, serta saat kelembapan relatif menurun

2025
👤 Penulis: Dewi Yuliastuti
🏷️ Meteorologi 🏷️ Pencemaran Udara 🏷️ Kualitas Udara

PROYEKSI PENGARUH PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAN PERUBAHAN IKLIM TERHADAP POLA HUJAN DI IBU KOTA NUSANTARA MENGGUNAKAN METODE PSEUDO GLOBAL WARMING

Studi sebelumnya menunjukkan bahwa adanya wilayah urban Ibu Kota Nusantara (IKN) mengakibatkan peningkatan temperatur yang menyebabkan Urban Heat Island (UHI) serta perubahan kecepatan angin. Perubahan parameter-parameter iklim ini berpotensi mengubah kestabilan udara dan konvergensi, yang dapat memengaruhi pembentukan awan dan presipitasi. Oleh karena itu, diperlukan suatu penelitian yang dapat memproyeksikan pengaruh perubahan tutupan lahan dan perubahan iklim terhadap pola hujan di IKN. Penelitian ini menggunakan model Weather Research and Forecasting (WRF) dengan pendekatan Pseudo Global Warming (PGW) untuk mengkuantifikasi dampak perubahan iklim masa depan. Simulasi dilakukan dengan empat skenario, yaitu HIST_noIKN, HIST_IKN, FUTR_noIKN, dan FUTR_IKN. Pendekatan ini memungkinkan analisis komprehensif terkait kontribusi relatif urbanisasi dan pemanasan global terhadap parameter meteorologi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa urbanisasi di IKN menyebabkan peningkatan temperature, terutama pada skenario FUTR_IKN suhu meningkat lebih dari 2,5°C. Kenaikan temperatur ini diikuti oleh perubahan signifikan pada distribusi spasial dan pola temporal curah hujan, dengan penurunan intensitas hujan yang paling dominan terjadi di wilayah barat IKN, sementara wilayah utara dan selatan, khususnya area laut, justru mengalami peningkatan curah hujan. Selain itu, distribusi temporal menunjukkan penurunan hujan terutama pada pagi hingga siang hari yang sebelumnya merupakan periode puncak presipitasi, sedangkan peningkatan hujan relatif lebih banyak terjadi pada malam hari. Pola ini konsisten dengan hasil analisis moisture flux convergence yang memperlihatkan pelemahan konvergensi dan munculnya zona divergensi akibat perlambatan angin di wilayah urban IKN.

2025
👤 Penulis: Rizky Aulia Rahayu
🏷️ Meteorologi 🏷️ Urbanisasi 🏷️ Pemanasan Global

PEMANTAUAN DEBIT SUNGAI CIKAPUNDUNG DAN UAP AIR DI LOKASI BANTAR AWI, MARIBAYA DENGAN PENGAMATAN AWLR DAN GPS-PWV

Sungai Cikapundung merupakan sungai utama di Kota Bandung. Sungai Cikapundung berperan sebagai sumber air bersih dan air minum untuk Kota Bandung. Capstone Design Project ini bertujuan untuk mengembangkan metode pemantauan debit sungai menggunakan GPS-PWV yang merupakan metode pengamatan atmosfer menggunakan GPS. Metode yang diterapkan dalam Capstone Design Project ini berupa pengolahan data GPS menggunakan dua metode, yakni dengan koreksi troposfer dan tanpa koreksi troposfer untuk mendapatkan nilai PWV. Kemudian nilai PWV dilihat pergerakan temporalnya di Kota Bandung serta dibuat model korelasinya dengan perbedaan elevasi (?h) dan nilai debit sungai Cikapundung. Pergerakan temporal PWV berhasil divisualisasikan dengan resolusi temporal satu jam untuk area Kota Bandung. Kemudian, model korelasi ?PWV dan ?h berhasil dibuat menggunakan regresi linear. Terakhir, model korelasi PWV dan debit sungai berhasil dibentuk namun memiliki koefisien determinan yang sangat rendah.

2025
👤 Penulis: Alif Ahmad Fauzan
🏷️ Meteorologi 🏷️ Analisis Data Geografis 🏷️ Manajemen Air

PEMANTAUAN DEBIT SUNGAI CIKAPUNDUNG DAN UAP AIR DI LOKASI BANTAR AWI, MARIBAYA DENGAN PENGAMATAN AWLR DAN GPS-PWV

Sungai Cikapundung merupakan sungai utama di Kota Bandung. Sungai Cikapundung berperan sebagai sumber air bersih dan air minum untuk Kota Bandung. Capstone Design Project ini bertujuan untuk mengembangkan metode pemantauan debit sungai menggunakan GPS-PWV yang merupakan metode pengamatan atmosfer menggunakan GPS. Metode yang diterapkan dalam Capstone Design Project ini berupa pengolahan data GPS menggunakan dua metode, yakni dengan koreksi troposfer dan tanpa koreksi troposfer untuk mendapatkan nilai PWV. Kemudian nilai PWV dilihat pergerakan temporalnya di Kota Bandung serta dibuat model korelasinya dengan perbedaan elevasi (?h) dan nilai debit sungai Cikapundung. Pergerakan temporal PWV berhasil divisualisasikan dengan resolusi temporal satu jam untuk area Kota Bandung. Kemudian, model korelasi ?PWV dan ?h berhasil dibuat menggunakan regresi linear. Terakhir, model korelasi PWV dan debit sungai berhasil dibentuk namun memiliki koefisien determinan yang sangat rendah.

2025
👤 Penulis: Athallah Yafi Altaf Iswahyudi
🏷️ Meteorologi 🏷️ Analisis Data Geografis 🏷️ Manajemen Air

VARIABILITAS FLUKS CO2 ATMOSFER - LAUT DI PERAIRAN TROPIS SAMUDRA INDIA BAGIAN TENGGARA

Tugas akhir ini mengkaji tentang variabilitas spasial dan temporal fluks karbon dioksida (CO2) atmosfer – laut di pemukaan laut Samudra India Tropis bagian Tenggara (SITBT) yang dihubungkan dengan suhu permukaan laut (SPL) dan kecepatan angin selama 108 bulan (dari tahun 1996 - 2004). Data yang digunakan adalah data SPL, fluks CO2 atmosfer - laut, dan kecepatan angin pada ketinggian 10 m di atas permukaan laut. Analisis variasi ruang dan waktu terhadap data tersebut dilakukan dengan menggunakan metode analisis deret waktu (time series), analisis statistik dan diagram Hovm?ller. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara umum di perairan SITBT terjadi penurunan nilai fluks CO2 dengan rentang nilai sekitar 0,018 s/d 0,48 PgC/tahun, walaupun demikian di daerah lintang menengah hingga tinggi (16,50LS - 26,50LS dan 880BT - 1080BT) nilai trennya sedikit lebih besar (0,26 s/d 0,48 PgC/tahun) daripada lintang rendah (6,50LS - 8,50LS dan 880BT - 1080BT). Nilai tersebut masuk dalam rentang nilai fluks CO2 dari Wanninkhof (2013), yaitu sebesar 0,13 - 0,50 PgC/tahun. SPL di daerah penelitian pada umumnya menurun dengan nilai tren sebesar -0,008 hingga -0,08oC/tahun, kecuali pada daerah di sekitar 60LS 880BT dimana SPL-nya cenderung naik sekitar 0,03oC/tahun. Variasi fluks CO2 di daerah lintang menengah hingga tinggi dipengaruh lebih besar oleh Monsun Australia dibandingkan dengan Dipole Mode Index (DMI), sedangkan di sekitar daerah ekuator lebih besar dipengaruhi oleh DMI. Pengaruh angin terhadap fluks CO2 di daerah ekuator dan lintang rendah lebih besar dengan nilai korelasi r = 0,29 daripada pengaruh SPL (r = 0,12). Sementara di lintang menengah sampai lintang tinggi pengaruh SPL terhadap fluks CO2 lebih besar dengan nilai r = -0,63 daripada pengaruh angin (r = -0,33). Daerah di sekitar ekuator merupakan daerah pelepasan CO2 dari laut ke atmosfer atau disebut sebagai daerah sumber (source) sedangkan daerah lintang menengah hingga tinggi merupakan daerah penyerapan CO2 dari atmosfer ke laut (sink).

2025
👤 Penulis: BERLIANA PRADHITASARI (NIM : 12911001)
🏷️ Hidrologi 🏷️ Klimatologi 🏷️ Meteorologi

PEMETAAN POTENSI TURBULENSI DI WILAYAH INDONESIA BERDASARKAN INDEKS RICHARDSON NUMBER TAHUN 2022

Studi ini memetakan potensi turbulensi di daerah jelajah pesawat Indonesia menggunakan Indeks Richardson (RI). Turbulensi, fenomena yang berpengaruh besar terhadap penerbangan dan cuaca, dipelajari dan dipetakan dengan menggunakan data European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) Reanalysis Version 5 (ERA5) dan pengukuran radiosonde. Tujuan analisis adalah untuk mengidentifikasi daerah-daerah di Indonesia yang rentan terhadap turbulensi tinggi. Dalam penelitian ini, data ERA5 digunakan untuk menghitung Indeks RI, yang mampu mendeteksi potensi turbulensi dengan mengukur perbandingan antara kecepatan geser angin dan stabilitas atmosfer berdasarkan gradien suhu. Hasil perhitungan RI kemudian diakumulasikan per bulan dan per tahun serta dianalisis secara temporal dan spasial. Data radiosonde digunakan untuk memeriksa dan memvalidasi hasil turbulensi dan parameter meteorologi di berbagai tingkat atmosfer. Hasil penelitian menunjukkan adanya kejadian turbulensi pada tanggal 18 Januari, 2 Juli, dan 26 Desember 2022, dengan fluktuasi harian yang signifikan. Secara geografis, turbulensi cenderung lebih sering terjadi di sepanjang pantai selatan Jawa dan Sumatera, serta beberapa bagian Kalimantan dan Papua. Daerah-daerah pantai dan wilayah dengan topografi kompleks dipengaruhi oleh pola cuaca musiman dan fitur geografis lokal. Validasi data menunjukkan nilai RMSE temperatur potensial mencapai 25.944, angin zonal 19.853, dan angin meridional 11.648, dengan hasil konsistensi turbulensi menunjukkan bahwa data konsisten dan terdapat turbulensi. Di Banda Aceh, nilai RMSE temperatur potensial lebih rendah, yaitu 3.183, angin zonal 19.305, dan angin meridional 10.238, dengan konsistensi menunjukkan hasil yang konsisten dan tidak terdapat turbulensi. Sementara di Jayapura, nilai RMSE untuk temperatur potensial adalah 2.459, angin zonal 14.4, dan angin meridional 3.68, dengan hasil konsistensi juga menunjukkan konsistensi data dan tidak terdapat turbulensi

2024
👤 Penulis: Rafli Muhammad Haris Riswanto
🏷️ Meteorologi 🏷️ Analisis Turbulensi 🏷️ Geografi Meteorologis

IDENTIFIKASI PARAMETER METOCEAN YANG MEMENGARUHI BANJIR ROB DI KOTA SEMARANG, JAWA TENGAH, INDONESIA

Banjir rob merupakan fenomena di mana air laut masuk dan menggenangi daratan. Kota Semarang merupakan salah satu wilayah pesisir di Indonesia yang rentan terhadap banjir rob. Beberapa faktor yang memengaruhi banjir rob diantaranya pasang surut, kenaikan muka air laut, penurunan muka tanah, serta faktor meteorologi. Dalam penelitian ini dilakukan kajian mengenai fenomena elevasi non pasang surut yang dihubungkan dengan data sea surface height anomaly (SSHA), kecepatan angin, dan curah hujan. Data elevasi muka air laut yang digunakan pada penelitian ini dari Badan Meteorologi , Klimatology, dan Geofisika (BMKG) yang berada di Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas Semarang dan University of Hawaii Sea level Centre (UHSLC) di Stasiun Semarang selama 4,8 tahun (Mei 2018 – Desember 2022). Ambang batas definisi banjir rob yang digunakan dalam penelitian ini yaitu elevasi non pasang surut yang melebihi standar deviasi data. Dari hasil perhitungan ambang batas yang digunakan untuk banjir rob pada penelitian ini tergantung dengan skenarionya. Banyaknya skenario yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 5 skenario, dengan skenario 1 dan 3 yang paling mendekati event banjir rob berita. Hasil analisis menunjukkan bahwa kejadian dan intensitas banjir rob analisis tertinggi terjadi pada bulan Mei dan Juni yang periodenya bertepatan dengan musim kemarau. Analisis rata-rata komposit kejadian banjir rob menunjukkan bahwa parameter metocean yang paling berpengaruh terhadap kejadian banjir rob analisis adalah SSHA dan kecepatan angin.

2024
👤 Penulis: Anita Sari
🏷️ Meteorologi 🏷️ Analisis Banjir Rob 🏷️ Geofisika

PROPAGASI COLD SURGE PADA KEJADIAN CROSS-EQUATORIAL NORTHERLY SURGE BERDASARKAN STRUKTUR VERTIKAL ATMOSFER (STUDI KASUS: JANUARI 2021)

Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS) merupakan fenomena atmosfer yang ditandai dengan menguatnya angin utara dari Laut Cina Selatan melintasi garis khatulistiwa. Salah satu pembentuk CENS adalah perpanjangan dari fenomena Cold Surge (CS) yang berasal dari atmosfer permukaan di atas Laut Cina Selatan. Propagasi CS dapat mempengaruhi kondisi struktur vertikal atmosfer wilayah yang dilaluinya. Namun, mekanisme propagasi CS menjadi CENS belum sepenuhnya dipahami. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengidentifikasi propagasi CS menjadi CENS (CENS-CS) berdasarkan struktur vertikal atmosfer dan penyebab variasi propagasi CS pada kejadian CENS Januari 2021. Analisis perubahan struktur vertikal atmosfer dilakukan menggunakan data reanalisis ERA5 dan pengamatan radiosonde di Hong Kong, Ranai, Pangkalpinang, dan Jakarta. Parameter struktur vertikal atmosfer yang diamati adalah angin meridional, suhu, dan kelembapan spesifik pada lapisan 1000 hPa hingga 500 hPa. Propagasi CS pada ketiga parameter ditampilkan dalam diagram cross section berdasarkan data ERA5 dan diagram Skew T Log P berdasarkan data pengamatan radiosonde. Data ini dianalisis tiap 12 jam pada periode H-3 hingga H+1 puncak kejadian CENS. Hasil penelitian menunjukkan propagasi CS menjadi CENS dapat terlihat berdasarkan perubahan struktur vertikal atmosfer dari utara Laut Cina Selatan hingga Jawa bagian barat. Pada propagasi CS ditandai dengan adanya propagasi pusat anomali negatif ke selatan pada ketiga parameter yang dimulai dari wilayah Hong Kong pada H-2 dan mencapai wilayah Jakarta pada H+1 puncak kejadian CENS. Karakteristik struktur vertikal atmosfer ini juga terlihat pada empat titik lokasi pengamatan radiosonde yaitu mulai pada H-2 di Hong Kong, pada H-1 di Ranai, pada H-0 di Pangkalpinang dan sampai di Jakarta pada H+1 puncak kejadian CENS. Penguatan angin meridional, penurunan suhu dan penurunan kelembapan relatif ini signifikan terjadi pada lapisan atas atmosfer yaitu lapisan 850 hPa hingga 700 hPa di wilayah Hong Kong. Namun, di wilayah Ranai, Pangkalpinang, dan Jakarta perubahan signifikan ini terjadi pada lapisan bawah atmosfer yaitu lapisan 925 hPa hingga 850 hPa. Propagasi CS hingga menjadi CENS yang diamati menggunakan data ERA5 dan data pengamatan radiosonde secara umum menunjukkan hasil yang konsisten. Namun, terdapat perbedaan pada parameter kelembapan spesifik pada lapisan bawah atmosfer yaitu lapisan 1000 hPa hingga 925 hPa. Pada kejadian CENS Januari 2021 menunjukkan adanya variasi durasi dan intensitas propagasi CS. Pada kejadian CENS-CS 1 propagasi CS dari utara menuju selatan terlihat jelas yang dipengaruhi oleh pusat tekanan tinggi di wilayah lintang utara. Adanya gradien meridional anomali tekanan yang kuat menyebabkan penguatan angin utara dan penurunan suhu yang lebih besar pada kejadian CENSCS 1. Namun, pada kejadian CENS-CS 2 propagasi CS dari utara menuju selatan tidak terlihat jelas dibandingkan kejadian CENS-CS 1. Hal ini disebabkan oleh pusat tekanan tinggi di wilayah lintang utara yang lebih lemah dibandingkan pada kejadian CENS-CS 1. Penguatan angin utara pada kejadian CENS-CS 2 juga dipengaruhi oleh adanya tekanan rendah di tenggara Samudra Hindia yang menguat hingga puncak kejadian CENS dan didukung oleh fenomena MJO fase 6 yang terjadi pada waktu yang bersamaan. Hal ini menyebabkan adanya penguatan angin meridional dan penurunan suhu yang lebih rendah, namun berlangsung pada waktu yang lebih lama pada kejadian CENS-CS 2.

2024
👤 Penulis: Juni Tika Simanjuntak
🏷️ Meteorologi 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Manajemen Rantai Pasok

ANALISIS PARAMETER ANGIN UNTUK KEPERLUAN OPERASIONAL TAKE OFF DAN LANDING PESAWAT DI BANDAR UDARA INTERNASIONAL I GUSTI NGURAH RAI

Bandara I Gusti Ngurah Rai merupakan sebuah fasilitas penerbangan utama yang terletak di ujung selatan Pulau Bali, Indonesia. Letak geografisnya yang khas memainkan peran penting dalam industri pariwisata pulau ini. Angin Silang (crosswind) merupakan angin yang arahnya dari samping benda yang bergerak, seperti pesawat terbang yang sedang dalam penerbangan. Angin silang (crosswind) dapat membelokkan arah take off atau landing. Sedangkan tailwind berhembus dari arah belakang (ekor) pesawat dan akan mengurangi daya angkat. Kebanyakan pesawat akan menghindari take off dan landing jika terjadi tailwind karena hal ini dapat mengakibatkan penggunaan landasan terlalu Panjang. Proses menganalisis karakteristik angin dimulai dengan melakukan perhitungan nilai komponen angin, yang selanjutnya dipresentasikan dalam bentuk persentase berdasarkan arah dan kecepatan angin. Setelah itu, dibuatlah diagram windrose dari data angin yang telah diolah menggunakan aplikasi wrplot, dengan tujuan menentukan arah angin dominan sepanjang periode tahun 2013–2022. Proses perhitungan komponen angin dimulai dengan memasukkan data arah dan kecepatan angin yang tercatat di landasan pacu ke dalam perangkat lunak Microsoft Excel. Angin yang berhembus di landas pacu Bandara I Gusti Ngurah Rai berasal dari timur dan barat sehingga terlihat terdapat pengaruh monsun barat dan monsun timur. Kelas kecepatan yang dominan selama 10 tahun yaitu 4-10 knots dengan persentase sebesar 60% dan kelas kecepatan yang lebih dari 20 knots memiliki persentase sebesar 0,4%. Rata-rata kecepatan angin tertinggi terdapat pada musim JJA (JuniJuli-Agustus). Kemudian kecepatan angin di sekitar Bandara I Gusti Ngurah Rai terlihat meningkat Ketika pagi menuju siang hari. Pada bulan Januari, Februari dan Desember merupakan yang paling banyak terjadinya angin ekstrem (>20 knots) untuk proses operasional penerbangan selama 10 tahun di Bandara I Gusti Ngurah Rai.

2024
👤 Penulis: Restu Aprinaldo
🏷️ Meteorologi 🏷️ Operasi Penerbangan Bandara
Halaman 1 dari 2
💬