📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 1 dokumenPada perancangan jaringan perpipaan di industri proses, analisis dinamika aliran fluida merupakan faktor penting untuk memastikan keandalan operasi, perancangan sistem kontrol, dan mitigasi risiko transien tekanan. Berbagai metode pemodelan seperti Metode Karakteristik, Finite Difference Method, dan Metode Volume Berhingga dengan skema Godunov telah banyak digunakan, namun masing-masing memiliki keterbatasan dalam stabilitas numerik, sensitivitas terhadap segmentasi, serta kekakuan sistem. Penelitian ini mengembangkan Model Parameter Terdistribusi nonlinier berbasis Finite Difference Method dengan penyelesaian numerik menggunakan skema Runge–Kutta orde empat untuk memodelkan dinamika laju alir dan tekanan pada konfigurasi pipa tunggal maupun percabangan. Validasi dilakukan melalui uji independensi segmentasi, perbandingan data simulasi dengan data lapangan, serta analisis propagasi gelombang akibat perubahan aktuator. Penelitian telah berhasil mengimplementasikan simulasi berbasis pendekatan Finite Difference Method dengan solver numerik Runge – Kutta orde empat dalam bahasa pemograman Python. Dalam uji validasi dinamika model simulasi berhasil menunjukan hasil yang stabil secara numerik dan representatif terhadap data referensi. Pada segmentasi maksimum, 200 segmen, didapatkan RMSE sebesar 1,3 Kg/s untuk laju alir pada segmen upstream serta 60 ???????????? untuk tekanan pada segmen downstream. Analisis dinamika aliran pada sistem percabangan menunjukkan bahwa pada kondisi percabangan simulasi dapat memberikan hasil yang konvergen dan stabil secara numerik. Nilai standar deviasi dari simulasi untuk parameter laju alir pada pipa satu bernilai 0,2 Kg/s sebelum aktuasi dan menjadi 0,3 Kg/s setelah aktuasi. Sementara itu, pada pipa dua nilai standar deviasi laju alir bernilai 0,1 Kg/s dan menjadi 0,3 Kg/s setelah aktuasi. Sedangkan, untuk parameter tekanan pada pipa satu standar deviasi bernilai 39 KPa sebelum aktuasi, lalu menjadi 85 KPa setelah aktuasi. Pada pipa dua, standar deviasi bernilai 70 KPa sebelum aktuasi dan menjadi 95 KPa setelah aktuasi. Namun, simulasi masih belum dapat merepresentasikan arah aliran dengan akurat di seluruh segmen pipa karena arah perambatannya yang tidak representatif terhadap posisi aktuator.