📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenSTUDI POSTSEISMIK GEMPA PANGANDARAN DARI DATA PENGAMATAN GPS (GLOBAL POSITIONING SYSTEM) TAHUN 2006-2008
Gempa dan tsunami Pangandaran 2006 yang terjadi pada tanggal 17 Juli 2006 pukul 3 sore hari mengakibatkan kerugian matrial dan korban juwa yang tidak sedikit. Gempa tersebut tercatat dengan kekuatan 7,7 Mw (BMG, 2006). Gempa tersebut memiliki titik episenter yang terletak 200 km dari daratan terdekat. Gempa tersebut menghasilkan sebuah efek pasca gempa yang disebut dengan fase postseismik, yang mana postseismik itu sendiri merupakan salah satu siklus gempa. Dengan mempelajari siklus gempa diharapkan dapat diketahui periode pengulangan gempa. Dengan melihat fase setelah gempa (postseismik) diharapkan dapat memprediksi pengulangan gempa di masa mendatang, sehingga dapat dijadikan evaluasi potensi gempa di masa yang akan datang sebagai upaya dalam mitigasi bencana. Salah satu upaya untuk mempelajari siklus gempa ini adalah dengan metode survei GPS. Survei GPS dilakukan dengan mengamati titik-titik pengamatan GPS di sekitar Pangandaran. Pada tanggal 23-30 Juli 2006 survei GPS kala-1 dilakukan dengan melakukan pengamatan di 24 titik pengamatan. Pada kala-2 pada tanggal 9-14 Agustus 2007 diamati 24 titik pengamatan. Dan pada kala-3 1-5 Agustus 2008 diamati 23 titik. Metode yang digunakan adalah metode diferensial dengan moda jaring. Dari hasil pengolahan dan analisis mengindikasikan bahwa titik-titik di sekitar Pangandaran mengalami penurunan deformasi dari tahun 2006-2007 ke tahun 2007-2008, artinya postseismik semakin melemah. Gerakan pergeserannya menuju ke arah selatan, sama dengan tahapan koseismiknya.
PERENCANAAN ULANG SABO DAM TIPE TERTUTUP (LUBANG) DI KALI PABELAN (PA-RRD1), KABUPATEN MAGELANG, JAWA TENGAH
Gunung Merapi merupakan salah satu gunung yang masih aktif hingga saat ini, tercatat bahwa kejadian banjir lahar dingin dan erupsi gunung meletus terjadi pada tahun 2011 mengancam masyarakat di sekitar Kali Pabelan. Salah satu upaya mitigasi struktural adalah dengan dibangunnya sabo dam untuk mengendalikan material lahar vulkanik dan mengurangi efek banjir lahar dingin yang terjadi, namun perencanaan sabo dam ini masih mengacu pada data pengolahan debit banjir dan sedimentasi material vulkanik hingga tahun 2015, sedangkan pembangunan dilakukan pada tahun 2020. Tugas Akhir ini bermaksud untuk memperbarui dimensi perencanaan sabo dam yang lama sehingga bangunan ini bisa tetap relevan dengan keadaan sekarang, ketika disimulasikan dengan debit periode ulang 100 tahun, genangan banjir lahar dingin tereduksi sekitar 93 % dengan adanya dimensi sabo dam terbaru meliputi main dam, sub dam, dan apron dengan memperhatikan stabilitas dan analisis struktur tulangan. Kata Kunci : Erupsi Gunung Merapi, Banjir Lahar Dingin, Kali Pabelan, Mitigasi Bencana, Sabo Dam, Debit Rancangan, Evaluasi Hidrologi, Sedimentasi Lahar Vulkanik, Perencanaan Sabo Dam, Genangan
KAJIAN MITIGASI BENCANA TSUNAMI AKIBAT GEMPA BUMI DI TELUK KILUAN, KECAMATAN KELUMBAYAN, PROVINSI LAMPUNG
Kecamatan Kelumbayan merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Provinsi Lampung, Pulau Sumatera, Indonesia, yang menyimpan keindahan laut dan pantai sebagai daya tarik wisatawan. Namun, letak Kecamatan Kelumbayan yang berada di sekitar zona subduksi Samudera Hindia membuat wilayah ini rawan terhadap tsunami akibat gempa bawah laut yang dihasilkan dari pertemuan Lempeng Indo- Australia dan Lempeng Euro-Asia. Merujuk pada kasus tsunami Aceh pada tahun 2004, potensi kerusakan yang ditimbulkan oleh bencana tsunami dari zona subduksi di selatan Sumatera sangat besar, dengan korban jiwa yang banyak dan kerugian material yang sangat besar. Studi kasus potensi tsunami di Kecamatan Kelumbayan perlu diteliti lebih lanjut untuk mengetahui tinggi muka air maksimum gelombang tsunami dan waktu tiba di daratan, serta perencanaan mitigasi yang dapat dirumuskan. Penjalaran gelombang tsunami disimulasikan dengan menggunakan perangkat Delft3D. Kejadian tsunami yang pernah terjadi ditinjau dari katalog tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Untuk mengkaji hal ini lebih lanjut, potensi gempa magnitudo maksimum yang disebabkan oleh pertemuan dua lempeng tektonik di sekitar lokasi penelitian ditentukan ii berdasarkan tiga skenario mekanisme segmen sesar (Sesar Enggano, Sesar Selat Sunda Banten, dan kombinasi kedua sesar) yang menyebabkan gempa bumi dengan mengacu pada Peta Sumber dan Bahaya Gempa Bumi Indonesia tahun 2017 (PUSGEN 2017). Perbandingan nilai magnitudo tiga skenario mekanisme gempa akibat patahan segmen dilakukan untuk menentukan nilai magnitudo terbesar atau terparah yang mampu menyebabkan gelombang tsunami tertinggi. Berdasarkan data gempa bumi pada PUSGEN 2017 dan persamaan empiris yang digunakan oleh BMKG, gempa yang dibangkitkan oleh gabungan segmen Sesar Enggano dan segmen Sesar Selat Sunda Banten diprediksi membangkitkan gempa berkekuatan 9,1 Mw. Gempa tersebut akan digunakan sebagai input utama dalam memodelkan propagasi gelombang tsunami. Pemodelan propagasi gelombang tsunami pada Delft3D juga dipengaruhi oleh bentuk dan kedalaman dasar laut yang berpengaruh terhadap kecepatan dan ketinggian gelombang ketika mencapai daratan. Dalam hal ini, data yang digunakan untuk merepresentasikan kedalaman dasar laut adalah data batimetri GEBCO 08 dan data Batimetri Nasional (BATNAS), sedangkan data ketinggian daratan yang digunakan adalah data DEM Nasional (DEMNAS). Modifikasi data kedalaman dasar laut dan ketinggian daratan dilakukan terhadap setiap detail model berdasarkan metode Nesting Grid pada grid 1, grid 2, grid 3, dan grid 4. Model dengan pembangkitan gempa 9,1 Mw menghasilkan ketinggian gelombang di daratan secara global sebesar 2,7 meter. Pada titik tinjauan lokasi pemukiman yang ada di sekitar Teluk Kiluan, nilai rataan ketinggian gelombang dapat mencapai 3,3 meter dengan waktu kedatangan gelombang ke daratan terjadi pada menit ke-46 setelah gempa bumi terjadi. Menurut Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB) Nomor 2 Tahun 2012, ketinggian gelombang yang lebih dari 3 meter dikategorikan sebagai kelas indeks ancaman bencana tsunami yang tinggi. Beerdasarkan hal tersebut, salah satu langkah yang direncanakan dalam menghadapi bencana tsunami di Teluk Kiluan adalah perencanaan mitigasi iii bencana di wilayah pemukiman yang kemungkinan besar akan terdampak gelombang tsunami. Dengan melihat wilayah Teluk Kiluan yang dikelilingi perbukitan yang berpotensi menyulitkan penduduk dalam mencapai tempat tinggi dan potensi terjadinya kelongsoran, maka perencanaan mitigasi meliputi rute evakuasi dan perencanaan struktur penunjang evakuasi. Rute evakuasi bencana tsunami di Teluk Kiluan didasarkan pada waktu tempuh penduduk menuju bangunan penunjang evakuasi dan waktu kedatangan gelombang tsunami yang melebihi tinggi muka air pasang. Kemudian, struktur penunjang evakuasi yang direncanakan berupa Bangunan Evakuasi Vertikal (BEV) yang menyediakan tempat tinggi bagi penduduk ketika bencana tsunami terjadi atau dapat berfungsi sebagai bangunan rekreasi ketika tidak terjadi bencana. Bangunan Evakuasi Vertikal (BEV) yang direncanakan memiliki 2 lantai dengan tinggi masing-masing lantai 3,5 meter, panjang bangunan 20 meter, dan lebar bangunan 20 meter. Bangunan tersebut didesain dengan tampungan 400 orang. Pada wilayah pemukiman Teluk Kiluan, akan ditempatkan 3 unit bangunan evakuasi vertikal dan 1 bangunan Tsunami Evacuation Shelter (TES) untuk mengakomodasi seluruh penduduk.