๐ Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenSTUDI POST - SEISMIC GEMPA ACEH 2004 BERDASARKAN DATA GPS KONTINYU MENGGUNAKAN METODE PRECISE POINT POSITIONING
Sumatra adalah salah satu wilayah di Indonesia dengan aktivitas tektonik paling aktif di dunia. Kepulauan di Sumatra bergeser akibat tumbukan lempeng Eurasia dan Hindia-Australia dengan kecepatan 49 mm/tahun [Prawirodirdjo, 2000]. Gempa bumi yang terjadi di Samudera Hindia lepas pantai barat Aceh pada 26 Desember 2004 tercatat sebagai salah satu gempa bumi terdahsyat yang menghantam Asia dalam kurun waktu 40 tahun terakhir [Wikipedia, 2004]. Gempa bumi mempunyai sifat berulang, yang dinamakan earthquake cycle. Dalam satu earthquake cycle terdapat beberapa tahapan mekanisme terjadinya gempa yaitu fase interseismik, pre-seismik, co-seismik, dan post-seismik. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam kaitannya dengan pemantauan potensi dan mitigasi bencana gempa bumi adalah melalui penelitian siklus dan tahapan gempa bumi. Post-seismik yang merupakan salah satu tahapan mekanisme gempa bumi dapat menjadi pemicu gempa di sekitar daerah yang telah terjadi gempa pada masa yang akan datang. Teknologi GPS kontinyu dapat digunakan untuk memantau tahapan post-seismik. Penelitian post-seismic gempa Aceh dilakukan dengan memantau titik ACEH yang terletak di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh selama 21 bulan (Maret 2005-November 2006). Pengolahan data selama 21 bulan menggunakan metode PPP (Precise Point Positioning) menghasilkan vektor pergeseran titik ACEH sebesar 46.68 cm ke arah Barat daya dan vektor pergeseran vertikal (naik) sebesar 1.31 cm. Perkiraan lama fase post-seismik akan berlangsung dilakukan dengan curve fitting data hasil pengolahan terhadap model post-seismic [Marone, 1991]. Data selama 21 bulan (Maret 2005-November 2006) hasil pengolahan menggunakan metode PPP memberikan perkiraan fase post-seismic gempa Aceh 2004 akan berlangsung selama kurang lebih 15 tahun.
PENGAMATAN DEFORMASI SESAR BARIBIS BERDASARKAN DATA GPSEPISODIK DAN KONTINYU
Sesar Baribis adalah salah satu sesar aktif di Jawa Barat yang memiliki komponen sesar naik selain sesar geser. Struktur sesar tersebut dapat diamati jejak-jejaknya sepanjang kurang lebih 70 km, mulai dari Subang hingga ke daerah perbukitan Baribis, sebelah barat Gunung Ciremai. Sesar Baribis melalui daerah sekitar yang padat penduduk, Sesar Baribis memiliki potensi cukup besar akan terjadinya gempa bumi, sehingga diperlukan pemantauan pergerakan sesar secara berlanjut untuk keperluan mitigasi bencana. Pengamatan pergerakan Sesar Baribis pada penelitian ini menggunakan Metode GPS Episodik dan Kontinyu untuk menganalisis aktivitas deformasinya. Hasil pengolahan data pengamatan tahun 2007, 2009, 2010, dan 2011 diperoleh pola pergerakan titik pengamatan GPS bagian timur berupa pola sesar geser, dan bagian barat berupa pola sesar naik dengan mengindikasikan rata-rata besaran pergeseran Sesar Baribis 5.2 mm/tahun ยฑ 2.2 mm.
INVERSI 1 DIMENSI GEOLISTRIK MENGGUNAKAN METODE OCCAM (STUDI KASUS DATA GEOLISTRIK DAERAH CIANJUR)
Indonesia merupakan negara yang rawan gempa bumi karena terletak di kawasan Cincin Api Pasifik, tempat bertemunya tiga lempeng tektonik utama. Salah satu gempa signifikan terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada 21 November 2022, dengan magnitudo 5,6. Metode geolistrik resistivitas digunakan untuk menentukan struktur bawah permukaan berdasarkan perbedaan nilai resistivitas batuan. Inversi merupakan teknik optimasi untuk memperoleh model bawah permukaan yang menghasilkan respons mendekati data observasi lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengaplikasikan metode inversi 1-D geolistrik resistivitas dengan pendekatan Occam serta menganalisis distribusi resistivitas bawah permukaan pada daerah penelitian. Pengambilan data dilakukan di empat titik sounding menggunakan metode geolistrik resistivitas dengan konfigurasi Schlumberger, dan pemodelan dilakukan dengan metode inversi Occam 1-D. Hasil inversi menunjukkan model resistivitas bawah permukaan yang halus dan stabil, dengan nilai RMS antara 3 hingga 21% ?ยทm. Distribusi resistivitas mengindikasikan dua hingga empat lapisan litologi batuan dengan akuifer potensial pada lokasi pertama. Penelitian ini membuktikan bahwa metode inversi Occam 1-D efektif dalam menggambarkan struktur bawah permukaan. Implikasi aktif dari penelitian ini meliputi sebagai data pendukung dalam upaya mitigasi bencana gempa bumi dan perencanaan penggunaan lahan serta tata ruang wilayah.