📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 1 dokumen

ANALISIS AKSESIBILITAS KEGIATAN PERKOTAAN DI KOTA BANDUNG BERDASARKAN TRADE-OFF WAKTU DAN BIAYA TRANSPORTASI RIDE-HAILING DAN TRANSIT

Kota Bandung merupakan kota inti di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung yang memiliki konsentrasi kegiatan perkotaan tinggi, tekanan mobilitas besar, serta persoalan kemacetan yang memengaruhi akses masyarakat terhadap berbagai aktivitas perkotaan. Di sisi lain, layanan ride-hailing berkembang sebagai alternatif mobilitas yang fleksibel karena mampu melayani perjalanan secara point-to-point tanpa bergantung pada rute dan halte tetap. Namun, fleksibilitas tersebut diikuti oleh konsekuensi biaya yang lebih tinggi dibandingkan transit. Oleh karena itu, aksesibilitas kegiatan perkotaan tidak cukup dianalisis hanya berdasarkan waktu tempuh, tetapi juga perlu mempertimbangkan biaya perjalanan sebagai hambatan akses. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aksesibilitas kegiatan perkotaan di Kota Bandung berdasarkan trade-off antara waktu tempuh dan biaya perjalanan pada moda ride-hailing dan transit. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif-spasial dengan metode accessibility-based planning. Unit analisis yang digunakan adalah grid heksagonal H3 resolusi 9 yang mencakup wilayah Kota Bandung. Opportunity kegiatan perkotaan direpresentasikan melalui Point of interest yang diklasifikasikan dan diagregasikan ke dalam setiap grid. Moda transit dalam penelitian ini dibatasi pada layanan TMP, TMB, dan DAMRI, sedangkan ride-hailing dimodelkan sebagai layanan sepeda motor berbasis aplikasi dengan estimasi biaya mengacu pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 667 Tahun 2022 untuk Zona I. Analisis dilakukan melalui tiga tahap, yaitu analisis trade-off waktu-biaya menggunakan distribusi perjalanan dan Pareto Surface, analisis ketercapaian opportunity berdasarkan skenario waktu-biaya, serta analisis ketimpangan spasial antar moda menggunakan Modal Accessibility Gap dan tipologi ketimpangan aksesibilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ride-hailing memiliki waktu tempuh yang lebih rendah dibandingkan transit. Rata-rata waktu tempuh ride-hailing adalah 31iv menit dengan median 32 menit, sedangkan transit memiliki rata-rata waktu tempuh 60 menit dengan median 64 menit. Namun, keunggulan waktu ride-hailing diikuti oleh biaya yang jauh lebih tinggi. Biaya transit dalam model bersifat tetap sebesar Rp9.000, sedangkan rata-rata biaya ride-hailing mencapai Rp38.493. Hasil Pareto Surface menunjukkan bahwa transit lebih dipengaruhi oleh batas waktu, sedangkan ride-hailing lebih responsif terhadap kombinasi batas waktu dan biaya. Pada skenario perjalanan menengah, yaitu 60 menit dan Rp40.000, aksesibilitas transit mencapai 12,30%, sedangkan ride-hailing mencapai 38,25%. Pada skenario perjalanan jauh dalam batas maksimum analisis, yaitu 90 menit dan Rp60.000, aksesibilitas transit meningkat menjadi 26,29%, sedangkan ride-hailing mencapai 68,23%. Secara spasial, ketercapaian opportunity tertinggi terkonsentrasi di kawasan pusat dan barat-tengah Kota Bandung, seperti Bandung Wetan, Sumur Bandung, Coblong, Sukajadi, Lengkong, dan Cibeunying Kaler. Sebaliknya, wilayah timur dan tenggara seperti Cibiru, Ujungberung, Panyileukan, Cinambo, Gedebage, Rancasari, dan Arcamanik menunjukkan ketercapaian opportunity yang rendah pada kedua moda. Analisis keterjangkauan berbasis UMK menunjukkan bahwa transit lebih terjangkau secara biaya karena seluruh perjalanan berada di bawah threshold 10% UMK, sedangkan ride-hailing baru menjadi lebih terjangkau pada threshold 30% hingga 40% UMK. Analisis Modal Accessibility Gap menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kota Bandung memiliki nilai positif, yang berarti aksesibilitas ride-hailing lebih tinggi dibandingkan transit. Namun, tipologi ketimpangan menunjukkan bahwa dominasi ride-hailing tidak selalu berarti aksesibilitas absolut yang tinggi, karena beberapa wilayah pinggiran tetap masuk kategori aksesibilitas rendah. Penelitian ini menunjukkan bahwa aksesibilitas kegiatan perkotaan di Kota Bandung dibentuk oleh interaksi antara distribusi opportunity, struktur jaringan transit, fleksibilitas ride-hailing, waktu tempuh, biaya perjalanan, dan kemampuan membayar. Kontribusi penelitian ini terletak pada penerapan analisis aksesibilitas berbasis opportunity yang secara simultan mempertimbangkan waktu dan biaya perjalanan dalam membandingkan ride-hailing dan transit. Hasil penelitian dapat menjadi dasar bagi perencanaan transportasi yang lebih berorientasi pada aksesibilitas, keterjangkauan, dan pengurangan ketimpangan spasial.

2026
👤 Penulis: Andre Otniel Panggabean
🏷️ Mobilitas Kota Bandung 🏷️ Kecerdasan Buatan 🏷️ Hidrologi
💬