📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 5 dokumenREDESAIN TERMINAL LEUWIPANJANG SEBAGAI PUSAT TRANSPORTASI TERINTEGRASI BERBASIS PERILAKU PENGGUNA
Terminal Leuwipanjang merupakan salah satu simpul transportasi utama di Kota Bandung yang memiliki peran penting dalam mendukung sistem mobilitas masyarakat. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan terhadap transportasi publik yang efisien, revitalisasi terminal telah dilakukan untuk memperbaiki citra, keamanan, serta kenyamanan pengguna. Meskipun revitalisasi tersebut berhasil menghadirkan fasilitas komersial dan area publik yang lebih tertata, fungsi terminal sebagai pusat transportasi yang terintegrasi masih belum optimal, terutama dalam mengakomodasi alur pergerakan yang intuitif dan sinkronisasi data antar-moda bagi masyarakat. Penelitian perancangan ini bertujuan untuk merancang ulang interior Terminal Leuwipanjang sebagai pusat transportasi terintegrasi berbasis perilaku pengguna yang mampu memfasilitasi kebutuhan mobilitas sekaligus memberikan kejelasan orientasi bagi masyarakat. Metode perancangan yang digunakan meliputi pendekatan kualitatif dengan studi lapangan, observasi perilaku kedatangan dan keberangkatan, serta analisis interaksi penumpang terhadap elemen fisik (artifact), layanan (service), dan lingkungan (environment). Melalui pendekatan perilaku, desain dikembangkan untuk meminimalisir beban kognitif pengguna dalam mencari informasi dan melakukan transpor antar-moda. Implementasi desain difokuskan pada pengoptimalan alur sirkulasi bebas hambatan yang didasarkan pada pemetaan persepsi waktu tunggu dan efisiensi ruang tunggu multifungsi. Dengan mengacu pada model konseptual kepuasan penumpang, redesain ini berupaya menjembatani kesenjangan antara ekspektasi pengguna dengan realitas fasilitas di lapangan. Konsep integrasi informasi diterapkan melalui tata ruang yang adaptif dan inklusif, memastikan ketersediaan data real-time yang mudah dijangkau di seluruh titik krusial terminal. Dengan pendekatan ini, Terminal Leuwipanjang diharapkan mampu mentransformasi fungsi terminal menjadi simpul transportasi modern yang fungsional, responsif terhadap pola perilaku pengguna, serta mampu menumbuhkan kesadaran terhadap pentingnya kota dan pemukiman berkelanjutan, sesuai dengan SDGs 11.
EKSPLORASI PERSEPSI AKSESIBILITAS DAN GANGGUAN TERHADAP KEPUASAN BERTEMPAT TINGGAL DAN PERINDAHAN MODA: STUDI KASUS JALAN TOL SERANGPANIMBANG
Pembangunan infrastruktur baru, khususnya jalan tol, tidak hanya dipandang sebagai katalis pertumbuhan ekonomi dan peningkatan aksesibilitas, tetapi juga membawa dampak yang kompleks terhadap lingkungan sosial, kualitas hunian, dan perilaku mobilitas masyarakat. Persepsi masyarakat terhadap manfaat maupun gangguan dari infrastruktur tersebut menjadi kunci dalam memahami sejauh mana proyek mampu memberikan nilai tambah atau justru memunculkan eksternalitas negatif. Jalan Tol Serang–Panimbang, yang dirancang untuk mempercepat perjalanan Jakarta–Tanjung Lesung serta mendukung kawasan strategis pariwisata nasional, menjadi contoh nyata bagaimana infrastruktur baru berpotensi menimbulkan trade-off antara aksesibilitas dan gangguan lingkungan. Studi ini menganalisis pengaruh persepsi aksesibilitas dan gangguan terhadap kepuasan bermukim, intensi relokasi, serta niat berganti moda masyarakat di sekitar ruas tol. Metode SEM-PLS dan Ordinal Logistic Regression digunakan untuk menguji kerangka pengaruh pembentuk kepuasan bermukim dan intensi berganti moda. Analisis dilakukan berdasarkan pada survei yang dikumpulkan melalui 603 responden dengan tempat tinggal pada radius 1000 m dari ruas Jalan Tol SerangPanimbang Seksi 1 yang meliputi 3 kabupaten/kota yakni Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Kabupaten Lebak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi aksesibilitas memiliki pengaruh yang bervariasi terhadap kepuasan bermukim, tetapi secara konsisten menurunkan keinginan berpindah rumah karena berperan sebagai faktor penahan. Sebaliknya, gangguan akibat tol lebih berperan dalam mendorong intensi relokasi daripada menentukan kepuasan hunian. Selain itu, persepsi gangguan terbukti meningkatkan peluang berganti moda, terutama di kawasan dekat gerbang tol, yang mencerminkan adanya konsekuensi timbal balik (trade-off) antara kemudahan akses dan paparan eksternalitas negatif. Temuan ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan dimensi persepsi masyarakat dalam perencanaan infrastruktur jalan agar manfaat aksesibilitas dapat dicapai tanpa mengabaikan kualitas hidup dan stabilitas mobilitas penduduk.
POTENSI PENGEMBANGAN KAWASAN BERBASIS TRANSIT DI TITIK STASIUN SEPANJANG KORIDOR LRT JABODEBEK RUTE DUKUH ATAS – JATIMULYA (BEKASI LINE)
LRT Jabodebek Rute Bekasi Line (Dukuh Atas – Jatimulya), merupakan salah satu alternatif transportasi umum dengan jalur strategis untuk mendukung mobilitas masyarakat dari pusat kota Jakarta menuju kawasan penyangga dengan fokus permukiman di Kota Bekasi maupun sebaliknya demi menekan angka kemacetan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar. Penelitian ini juga dilatarbelakangi oleh strategi pengembangan tata ruang DKI Jakarta dan Kota Bekasi yang menekankan pentingnya integrasi transportasi publik dengan guna lahan maupun kawasan sekitarnya atau yang dikenal dengan kawasan berbasis transit/transit-oriented development (TOD). Namun, saat ini belum terdapat lokasi stasiun LRT yang secara spesifik ditetapkan sebagai kawasan berbasis transit, sehingga diperlukan identifikasi potensi pengembangannya. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan karakteristik masing-masing stasiun beserta guna lahan di sekitarnya, serta mengidentifikasi stasiun yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan berbasis transit. Pendekatan deskriptif kuantitatif merupakan metode yang digunakan pada penelitian ini dengan analisis evaluatif terhadap prinsip pemenuhan kawasan transit, yaitu walk, cycle, transit, mix, dan densify. Hasil analisis menunjukkan bahwa Stasiun LRT Dukuh Atas, Bekasi Barat, dan Rasuna Said memiliki potensi tertinggi dalam pengembangan kawasan transit, terutama dari prinsip mix (campuran guna lahan) dan densify (kepadatan kawasan). Namun, prinsip walk dan cycle masih rendah akibat infrastruktur pejalan kaki dan jalur sepeda yang kurang memadai. Berdasarkan temuan tersebut, rekomendasi yang dapat diberikan, yaitu peningkatan konektivitas infrastruktur pejalan kaki dan jalur sepeda, serta dorongan pengembangan kepadatan kawasan di sekitar stasiun. Upaya ini dimaksudkan untuk mewujudkan kawasan berbasis transit yang mendukung mobilitas berkelanjutan di wilayah Jabodetabek terutama koridor LRT Jabodebek – Bekasi Line.
STUDI PENGUKURAN DAN PENILAIAN KUALITAS PRASARANA DAN SARANA JARINGAN PEJALAN KAKI DI SEPANJANG KORIDOR JALAN AHMAD YANI KOTA BANDUNG
Prasarana sarana jaringan pejalan kaki di kota-kota besar seringkali terabaikan kualitasnya, padahal keberadaannya memiliki peran yang penting dalam mendukung mobilitas masyarakat. Sepanjang koridor Jalan Ahmad Yani Kota Bandung termasuk jalan yang dikelilingi oleh kegiatan perdagangan dan jasa dengan intensitas yang tinggi, namun belum sepenuhnya dilengkapi dengan elemen prasarana dan sarana yang memadai. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi kualitas prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki pada setiap persimpangan dan segmen jalan di sepanjang koridor Jalan Ahmad Yani Kota Bandung. Penelitian mencakup identifikasi kualitas dengan menggunakan pendekatan penilaian yang berbeda-beda, di antaranya penilaian berdasarkan kelengkapan dan kesesuaian elemen prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki, penilaian berdasarkan persepsi pejalan kaki, serta penilaian berdasarkan metode Pedestrian Environmental Quality Index (PEQI). Penelitian ini menggunakan analisis yang terdiri dari analisis skoring, gap, deskriptif kuantitatif, spasial, dan analisis komparatif. Keseluruhan identifikasi dilakukan terhadap sembilan persimpangan dan lima belas segmen jalan yang berada di sepanjang koridor Jalan Ahmad Yani Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan elemen prasarana sarana jaringan pejalan kaki pada setiap persimpangan dan segmen jalan masih belum merata dan masih terdapat elemen yang belum sesuai dengan ketentuan atau standar teknis yang berlaku. Selain itu, penilaian kualitas berdasarkan ketiga pendekatan menunjukkan sebagian besar persimpangan berada pada kategori kualitas yang buruk, sedangkan segmen jalan berada kategori kualitas yang standar. Kualitas standar menunjukkan sebagian besar elemen prasarana dan sarana hanya memenuhi kebutuhan dasar pejalan kaki dan masih terdapat elemen yang belum optimal. Dengan kondisi tersebut, diperlukan perencanaan seperti penambahan dan perbaikan elemen prasarana dan sarana secara menyeluruh, seperti rambu penanda khusus pejalan kaki, pagar pembatas, tempat pembuangan sampah, tempat duduk umum, terutama pada lokasi dengan kualitas buruk seperti persimpangan 2, 5, 6, 7, dan 9 serta segmen jalan 6, 11, dan 12.
PERILAKU PERGERAKAN BERBASIS TRANSIT PADA KAWASAN BERORIENTASI TRANSIT LEBAK BULUS
Pengembangan kawasan berorientasi transit merupakan salah satu bentuk implementasi konsep Transit Oriented Development di Indonesia sebagai upaya untuk mengatasi masalah perkotaan. Pembangunan infrastruktur transportasi umum di kawasan berorientasi transit dapat meningkatkan mobilitas atau pergerakan masyarakat dan sebagai bentuk upaya untuk mendorong peralihan penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi umum dengan berbasis transit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterkaitan antara perilaku pergerakan berbasis transit terhadap karakteristik kawasan berorientasi transit di Lebak Bulus dengan metode analisis deskriptif dan korelasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel jarak pergerakan first-mile dan waktu tempuh pergerakan last-mile diidentifikasi memiliki keterkaitan dengan karakteristik (design) Kawasan Berorientasi Transit Lebak Bulus.