📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 6 dokumen

IDENTIFIKASI POTENSI PENGARUH PEMBANGUNAN MRT JAKARTA FASE 2A TERHADAP PREFERENSI PEMILIHAN MODA TRANSPORTASI PEKERJA DKI JAKARTA

DKI Jakarta merupakan kota dengan jumlah penduduk tertinggi di Indonesia dan tingkat penggunaan transportasi umum yang masih rendah, yaitu sekitar 21 persen, sehingga kemacetan menjadi tantangan utama mobilitas perkotaan. Sebagai upaya perluasan jaringan angkutan massal, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang membangun MRT Fase 2A yang menghubungkan Bundaran HI hingga Kota dengan tujuh stasiun bawah tanah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi potensi pengaruh pembangunan MRT Jakarta Fase 2A terhadap preferensi pemilihan moda transportasi pekerja di DKI Jakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode stated choice experiment terhadap 219 responden pekerja di koridor Thamrin menuju Kota yang dipilih melalui purposive sampling. Skenario pilihan memuat delapan situasi perjalanan hipotetis dengan enam alternatif moda dan tiga atribut layanan, yaitu waktu tempuh, biaya perjalanan, dan waktu tunggu. Analisis dilakukan menggunakan model Multinomial Logit, analisis elastisitas waktu tempuh, analisis market share, serta analisis matriks perpindahan moda. Hasil estimasi menunjukkan bahwa waktu tempuh merupakan satu-satunya atribut yang berpengaruh signifikan, sementara biaya perjalanan dan waktu tunggu tidak terbukti signifikan secara statistik. Pekerja pengguna mobil pribadi, pekerja berpendapatan tinggi (di atas Rp10.000.000 per bulan), pekerja berusia 23 tahun ke bawah, dan pekerja asal Jakarta Selatan cenderung lebih memilih MRT. MRT memperoleh pangsa tertinggi sebesar 36,33 persen, diikuti TransJakarta sebesar 29,22 persen dan KRL sebesar 15,55 persen. Matriks perpindahan moda mengindikasikan bahwa potensi perpindahan ke MRT terbesar berasal dari pengguna mobil pribadi sebesar 58,8 persen dan motor pribadi sebesar 52,5 persen, sehingga kehadiran MRT Fase 2A berpotensi meningkatkan pangsa angkutan umum secara keseluruhan, bukan sekadar merelokasi penumpang dari moda umum yang telah ada.

2026
👤 Penulis: Mianda Esther P. Sianturi
🏷️ Mobilitas Perkotaan 🏷️ Transportasi Massal 🏷️ Analisis Preferensi Pemilihan Moda Transportasi

PENGARUH POLA KERJA FLEKSIBEL GENERASI Z TERHADAP PERILAKU PERJALANAN DAN PEMILIHAN MODA TRANSPORTASI DI KOTA BANDUNG (STUDI KASUS: KECAMATAN COBLONG, BANDUNG WETAN, DAN SUMUR BANDUNG)

Normalisasi pola kerja fleksibel remote work, hybrid work, dan freelance pascapandemi COVID-19 berpotensi mengubah karakteristik perjalanan harian secara signifikan, khususnya di kalangan Generasi Z yang kini mendominasi angkatan kerja perkotaan. Namun implikasinya terhadap sistem transportasi perkotaan di Indonesia masih belum banyak diteliti secara empiris. Penelitian ini mengkaji pengaruh pola kerja fleksibel Generasi Z terhadap perilaku perjalanan dan pemilihan moda transportasi di Kecamatan Coblong, Bandung Wetan, dan Sumur Bandung tiga kecamatan pusat Kota Bandung dengan konsentrasi ekosistem kerja fleksibel tertinggi. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan sequential explanatory design, menggabungkan survei kuesioner terhadap 97 responden Gen Z pekerja fleksibel yang dianalisis menggunakan statistik deskriptif, korelasi Spearman, ChiSquare, dan regresi logistik multinomial, dengan wawancara mendalam kepada 10 informan yang diolah melalui analisis tematik dan triangulasi.vi Temuan menunjukkan bahwa kerja fleksibel tidak mengurangi total mobilitas Gen Z melainkan mentransformasikan karakternya 89,1% responden tetap bepergian pada hari tidak ada kewajiban ke kantor, dengan pola perjalanan multi-tujuan yang didominasi kuliner (74,2%), co-working space (67,0%), dan belanja (63,9%). Meskipun rebound effect tidak terkonfirmasi secara statistik (rho = -0,005, p = 0,958), pergeseran karakter perjalanan dari komuter terjadwal menuju mobilitas yang lebih cair tergambar jelas secara deskriptif. Sepeda motor pribadi mendominasi pilihan moda kerja (68,0%) maupun non-kerja (63,9%), dengan kepemilikan kendaraan sebagai prediktor terkuat (?² = 28,3, p < 0,001) jauh melampaui pengaruh jenis pekerjaan yang terbukti tidak signifikan (p = 0,720). Faktor biaya dan fleksibilitas waktu menempati posisi teratas kepentingan pemilihan moda, merevisi dugaan awal bahwa teknologi dan kenyamanan lebih dominan bagi Gen Z. Gap analysis mengidentifikasi empat kesenjangan struktural: temporal, spasial, moda, dan kebijakan yang mencerminkan ketidaksesuaian antara sistem transportasi berbasis asumsi 9-to-5 dengan kebutuhan mobilitas Gen Z yang lebih cair dan beragam. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi tipologi kerja fleksibel sebagai determinan perilaku perjalanan dalam konteks kota berkembang Indonesia, memberikan dasar empiris bagi pembaruan kebijakan transportasi Kota Bandung yang responsif terhadap perubahan sosial angkatan kerja muda.

2026
👤 Penulis: Arsya Alaysia
🏷️ Poliwork Generasi Z 🏷️ Mobilitas Perkotaan 🏷️ Kebijakan Transportasi

ANALISIS FREKUENSI DAN TARIF TERHADAP RIDERSHIP PADA ANGKUTAN UMUM (STUDI KASUS: METRO JABAR TRANS KORIDOR 4D)

Tingginya ketergantungan masyarakat Kota Bandung terhadap kendaraan pribadi yang mencapai 95% dari total perjalanan menyebabkan kemacetan lalu lintas yang parah dan penurunan kualitas mobilitas perkotaan. Sebagai solusi transportasi publik, Metro Jabar Trans (MJT) hadir melalui skema Buy The Service (BTS). Namun, Koridor 4D masih menunjukkan tingkat keterisian (ridership) yang rendah, dengan rata-rata hanya 39 penumpang per bus per hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan mengoptimalkan frekuensi (headway) serta struktur tarif pada Koridor 4D MJT guna meningkatkan jumlah penumpang. Pendekatan yang digunakan adalah pemodelan transportasi makroskopis dengan bantuan perangkat lunak EMME. Data utama yang digunakan meliputi Matriks Asal Tujuan (MAT) Bandung Raya tahun 2022, data operasional MJT, dan jaringan transportasi eksisting. Melalui pemodelan skenario dan evaluasi kinerja, hasil penelitian menunjukkan bahwa penyesuaian headway dan tarif secara signifikan dapat meningkatkan jumlah penumpang dan efisiensi operasional. Skenario dengan headway 10 menit dan tarif tetap sebesar Rp5.000 terbukti paling ideal dalam meningkatkan ridership serta menyelaraskan layanan dengan kebutuhan mobilitas masyarakat Kota Bandung. Penelitian ini merekomendasikan strategi pengelolaan layanan yang lebih responsif terhadap permintaan aktual, terutama melalui pendekatan perencanaan berbasis operator.

2025
👤 Penulis: Adela Mart Pramesti
🏷️ Mobilitas Perkotaan 🏷️ Transportasi Publik 🏷️ Analisis Makrotransportasi

MEMANUSIAKAN MOBILITAS PERKOTAAN: MEMAHAMI PERILAKU KOMUTER KELAS MENENGAH DAN ATAS DI JABODETABEK UNTUK ADOPSI TRANSPORTASI PUBLIK BERKELANJUTAN

Mobilitas perkotaan di megapolitan yang berkembang pesat menghadapi tantangan perilaku yang kompleks, namun perilaku komuter dari kalangan menengah-atas, yang berkontribusi besar terhadap ketergantungan pada kendaraan pribadi, masih kurang mendapat perhatian dalam penelitian. Penelitian ini mengkaji preferensi pemilihan moda transportasi di kalangan komuter kelas menengah-atas di wilayah Jabodetabek, di tengah meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi yang menghambat pencapaian tujuan mobilitas berkelanjutan. Studi ini bertujuan untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi pilihan moda transportasi dan bagaimana transportasi umum dapat bersaing secara lebih efektif. Dengan menggunakan desain penelitian campuran (mixed-methods) eksplanatori berurutan, penelitian ini mengintegrasikan Teori Perilaku Konsumen, Teori Perilaku Terencana, dan Teori Pemilihan Moda. Analisis kuantitatif terhadap 234 responden survei, dilanjutkan dengan 13 wawancara kualitatif, mengeksplorasi sikap, perilaku, dan dinamika pengambilan keputusan. Analisis faktor dan klaster mengidentifikasi tiga segmen komuter: Young Urban Explorers (22,3%) yang mengadopsi pola multimoda dan memiliki kepedulian lingkungan, Comfort-Driven Private Users (33,8%) yang mengutamakan kenyamanan dan status kendaraan pribadi, serta Balanced Mobility Mavens (44,0%) yang tetap setia pada kendaraan pribadi dengan penerimaan terbatas terhadap transportasi umum, tergantung pada standar keselamatan. Analisis regresi logistik mengungkap prediktor utama, yakni kepedulian lingkungan (? = 0,29), aversi terhadap kepadatan (? = -0,89), serta hubungan positif yang tidak terduga antara tingkat tarif dan niat menggunakan transportasi umum (OR = 3,158), yang menunjukkan bahwa tarif tinggi ditafsirkan sebagai sinyal kualitas oleh pengguna kelas atas. Temuan ini berkontribusi bagi teori dan praktik dengan menunjukkan bahwa intervensi yang berorientasi pada kualitas—yang menargetkan kenyamanan, efisiensi, dan keselamatan—sangat penting untuk mendorong perubahan perilaku. Studi ini menantang pendekatan perencanaan transportasi berbasis biaya dan mendorong strategi yang selaras dengan nilai-nilai kompleks para komuter kalangan menengah-atas. Keterbatasan penelitian meliputi fokus geografis tunggal serta penggunaan data yang dilaporkan sendiri; studi longitudinal dan lintas kota di masa depan sangat dianjurkan.

2025
👤 Penulis: Wulan Asti Rahayu
🏷️ Mobilitas Perkotaan 🏷️ Transportasi Umum 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan

EKSPLORASI POLA PERILAKU PERJALANAN GENERASI Z DALAM KONTEKS MOBILTAS PERKOTAAN (STUDI KASUS: KOTA MAKASSAR)

Generasi Z (Gen-Z) adalah kelompok penting dalam perencanaan transportasi, karena didominasi oleh usia produktif yang aktif bekerja dan kuliah, serta menjadi salah satu yang paling banyak bergerak di kawasan urban. Menurut UN-Habitat, kecelakaan lalu lintas adalah penyebab utama kematian bagi usia 15-19 tahun dan kedua bagi usia 20-24 tahun. Meski demikian, Gen-Z sering diabaikan dalam perencanaan transportasi, termasuk oleh organisasi besar seperti World Bank. Terlebih di negara berkembang, perhatian terhadap kelompok ini minim, terutama di tengah infrastruktur transportasi yang belum memadai dan dominasi kendaraan pribadi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi perilaku perjalanan Gen-Z di negara berkembang seperti Indonesia, yang memiliki perbedaan signifikan dengan negara maju dari aspek mobilitas perkotaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran antara kualitatif dengan studi literatur naratif dan kuantitatif menggunakan teknik analisis multivariat mannova. Penelitian ini juga memperkenalkan pendekatan inovatif dalam studi perilaku perjalanan dan mobilitas manusia dengan memanfaatkan data Google Maps Timeline. Temuan penelitian ini adalah perbedaan infrastruktur transportasi dan keterbatasan angkutan umum di negara berkembang menghasilkan pola perjalanan Gen-Z yang berbeda secara signifikan dari yang ditemukan di negara maju. Mobilitas Gen-Z didominasi oleh penggunaan kendaraan pribadi sebanyak 90%. Penelitian ini juga mengungkap bahwa lama waktu yang dihabiskan di 'ruang ketiga' berdampak signifikan terhadap jumlah dan jarak perjalanan harian Gen-Z. Kepadatan dan keragaman penggunaan lahan juga berpengaruh signifikan terhadap perilaku perjalanan mereka. Penelitian ini juga menunjukkan perbedaan pola perjalanan Gen-Z dan generasi yang lebih tua dalam konteks guna lahan.

2024
👤 Penulis: Amiruddin Akbar Fisu
🏷️ Mobilitas Perkotaan 🏷️ Perilaku Manusia 🏷️ Infrastruktur Transportasi

EVALUASI KONTRIBUSI PENGEMBANGAN RUTE BUS TERHADAP KINERJA MOBILITAS PERKOTAAN BERKELANJUTAN DI KOTA BANDUNG

Masalah transportasi yang tidak kunjung terselesaikan ini diakibatkan oleh sulitnya pengembangan jaringan dan system transportasi di Bandung. Kesulitan dalam pengembangan jaringan jalan memberikan justifikasi bahwa sistem transportasi umum harus menjadi tumpuan utama dalam pemecahan masalah. Angkutan umum bus masih dapat menjadi potensi Solusi yang cukup optimal dalam menjawab permasalahan mobilitas daerah Bandung Raya. Kinerja pelaksanaan rencana sistem transportasi dan kinerjanya dapat selanjutnya dikaji. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan moda transportasi bus di Kota Bandung dalam mengimplementasi visi pengembangan jaringan transportasi yang andal sesuai yang tercantum pada Rencana Induk Transportasi Kota Bandung 2015- 2031 dan menganalisis kinerja operasional aspek keteraturan serta aspek keterjangkauan untuk studi kasus Trans Metro Pasundan koridor 2D. Hasil analisis menunjukkan bahwa implementasi rencana sistem transportasi bus dengan 9 trayek baru terrealisasi sebanyak 5 koridor. Kinerja operasional keteraturan seperti headway, kecepatan perjalanan, dan loading profile Trans Metro Pasundan koridor 2D menunjukkan bahwa headway untuk jam puncak dan non-puncak masih sesuai dengan SPM. Load factor pada jam puncak dan non-puncak menunjukkan nilai masing-masing yaitu 44,9% dan 36% keterisian faktor muat. Kinerja kemudahan akses pelayanan untuk studi kasus Trans Metro Pasundan koridor 2D menunjukkan bahwa terdapat 284.386 penduduk atau 15% dari total penduduk 15 kecamatan sekitar TMP 2D yang memiliki akses mudah jarak 500 meter ke layanan TMP 2D.

2024
👤 Penulis: Rainier Zhafari Alhamdi
🏷️ Mobilitas Perkotaan 🏷️ Transportasi Umum Bus 🏷️ Analisis Kinerja Operasional
💬