π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 7 dokumenPERBANDINGAN SEA SURFACE TOPOGRAPHY DENGAN MENGGUNAKAN MODEL GEOID EGM'96 MEAN SEA SURFACE, DAN MODEL GEOID GGM'02
Salah satu tujuan ilmu geodesi adalah menentukan bentuk dan ukuran bumi serta medan gayaberatnya yang juga dapat digunakan untuk menentukan bentuk dan ukuran bumi. Geoid sebagai salah satu model pendekatan bentuk bumi, dapat pula digunakan sebagai bidang referensi tinggi. Perkembangan teknologi satelit telah memberikan pemahaman baru dari fenomenafenomena yang terjadi di bumi. Satelit altimetri sebagai salah satunya dapat dimanfaatkan untuk mempelajari fenomena-fenomena alam khususnya yang terjadi di laut. Sea Surface Topography (SST) merupakan salah satu produk satelit altimetri yang dapat digunakan untuk pemanfaatan tersebut, namun dalam pengolahannya SST membutuhkan model geoid yang akurat sebagai referensi tinggi. Salah satu model geoid yang biasa digunakan adalah EGM96, akan tetapi kualitas EGM96 masih belum memenuhi keakurasian yang dibutuhkan SST terutama di perairan dangkal, selat dan lautan tertutup. Oleh karena EGM96 belum memenuhi tingkat keakuratan yang diperlukan SST maka para oceanografer menggunakan Mean Sea Surface (MSS) sebagai referensi tingginya. Permukaan ini mampu memberikan informasi perubahaan SST terhadap waktu. Namun MSS tidak dapat memberikan informasi mengenai medan gayaberat karena MSS bukan merupakan bidang ekuipotensial gayaberat. Model geoid GGM02S yang diperoleh dari pengamatan misi satelit gayaberat GRACE mampu memberikan informasi geoid yang memiliki keakuratan tinggi pada sinyal gelombang panjang. Model geoid ini dapat memberikan nilai SST dengan tingkat keakuratan yang lebih baik.
PENENTUAN MODEL GEOID LOKAL (STUDI KASUS: DELTA MAHAKAM)
Penentuan tinggi ortometrik untuk keperluan kontruksi dan rekayasa biasanya dilakukan dengan metode sipat datar untuk mendapatkan ketelitian yang memadai. Untuk kasus di wilayah Delta Mahakam (wilayah kerja TOTAL E&P INDONESIE), hal ini tidak mungkin untuk dilakukan karena kondisi alam Delta Mahakam yang terdiri dari sungai-sungai besar dan rawa-rawa. Alternatif untuk menentukan tinggi ortometrik di area tersebut adalah GPS levelling. Karena pengukuran GPS menghasilkan tinggi ellipsoid, maka dibutuhkan harga undulasi geoid diseluruh area Delta Mahakam untuk mengkonversi tinggi geodetik menjadi tinggi ortometrik. Pada tugas akhir ini penulis menentukan model geoid lokal Delta Mahakam dengan menggunakan metode kombinasi menggabungkan data gangguan gayaberat lokal dengan model geopotensial global. Hasil verifikasi menunjukkan penggunaan metode kombinasi menghasilkan model geoid lokal Delta Mahakam yang lebih detail dan akurat dibandingkan hanya menggunakan model geopotensial global saja.
PENGKAJIAN PROPAGASI ERROR GEOID MELALUI ESTIMASI FORMAL ERROR PADA PEMODELAN GEOID LOKAL PULAU JAWA MENGGUNAKAN ALGORITMA LEAST-SQUARES COLLOCATION (LSC)
Kebutuhan penentuan posisi GNSS presisi tinggi mendorong konversi tinggi elipsoid menjadi tinggi geoid akurat. Model geoid global yang ada menunjukkan variasi akurasi regional , dan metode leveling konvensional terbatas di Indonesia karena sebaran kontrol vertikal serta kondisi geografis yang beragam. Oleh karena itu, model geoid regional berakurasi tinggi sangat esensial. Galat dalam model geoid gravimetrik, yang berasal dari pengukuran dan pemodelan matematis, perlu dipahami untuk mencapai target akurasi IAG 1 cm. Tesis ini mengembangkan model geoid Pulau Jawa menggunakan metode Least- Squares Collocation (LSC), yang mereduksi galat dari GGM dan data terestris, serta menghasilkan formal error sebagai indikator ketidakpastian. Data yang digunakan mencakup anomali free-air, data airborne yang diturunkan dengan Gaussian filter orde 2, dan data altimetri DTU17 yang difilter. Integrasi dilakukan melalui Least- Squares Prediction (LSP) dengan fungsi kovarians Hirvonen. Model dihitung dengan skema Remove-Compute-Restore (RCR), memanfaatkan EGM2008 dan model medan residu (RTM). Model LSC yang dihasilkan memiliki akurasi 10.91 cm terhadap GNSS leveling, lebih baik dari INAGEOID V2, namun di bawah EGM2008 dan ITB2025. Fitting dengan model polinomial 6-parameter meningkatkan akurasi menjadi 5.54 cm, sementara mean-shift lebih stabil untuk sebaran data tidak merata. Formal error berkisar 0.0079β0.0107 m, tinggi di area minim data. Kontribusinya terhadap total galat relatif kecil (0.6β0.9%), namun penting sebagai dasar perencanaan penambahan data gayaberat untuk peningkatan INAGEOID.
DAMPAK GEMPA BUMI TERHADAP MODEL GEOID REGIONAL DALAM STUDI KASUS DI WILAYAH PULAU JAWA
Pulau Jawa, sebagai wilayah aktif secara tektonik, kerap mengalami gempa bumi besar akibat pertemuan Lempeng Eurasia dan Indo-Australia. Aktivitas seismik ini berpotensi memengaruhi kestabilan medan gravitasi dan model geoid regional yang menjadi fondasi penting dalam berbagai aplikasi geospasial, seperti pemetaan presisi, perencanaan infrastruktur, dan mitigasi bencana. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak gempa bumi terhadap perubahan geoid dengan studi kasus gempa Pangandaran (Mw 7.7) yang terjadi di lepas pantai selatan Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak gemppa terhadap pemodelan geoid regional pulau jawa yang dihitung dengan metode Kongens Tekniska HΓΆgskola (KTH). Data yang digunakan yaitu data gayaberat kombinasi airborne, terestris, data DTU17, data model medan gravitasi global (GGM), data tinggi GNSS-leveling, serta data elevasi dari DEM (SRTM15 dan SRTM3). Pemodelan geoid metode KTH dilakukan menggunakan software LSMSSOFT dan MatLab. Pemodelan perubahan gayaberat dan perubahan geoid akibat gempa menggunakan data 4 model gempa di pulau jawa yang diambil dari equake.rc.info. Uji ketelitian model geoid terhadap 186 titik GNSS-Sipat datar wilayah Jawa. Setelah itu dilakukan uji statistik untuk mengetahui signifikansi gempa terhadap model geoid. Dampak gempa dianalisis melalui perubahan gayaberat akibat redistribusi massa menggunakan pendekatan elastostatika Okubo, kemudian dikaji efeknya terhadap perubahan geoid. Hasil uji statistik menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan pada medan gravitasi dan permukaan geoid pascagempa, hal ini menunjukan bahwa geoid merupakan bidang referensi vertikal yang stabil. Pembaruan geoid dilakukan jika akurasi model geoid telah mencapai 1 cm, peningkatan akurasi model geoid dapat dilakukan salah satunya dengan menambah pengukuran gayaberat.
PENGEMBANGAN MODEL GEOID UNTUK WILAYAH INDONESIA DENGAN PENDEKATAN REMOVE-COMPUTE RESTORE DAN IMPLEMENTASI PENYAJIAN DALAM WEB INTERAKTIF
Tidak ada deskripsi.
PENGEMBANGAN MODEL GEOID UNTUK WILAYAH INDONESIA DENGAN PENDEKATAN REMOVE-COMPUTE RESTORE DAN IMPLEMENTASI PENYAJIAN DALAM WEB INTERAKTIF
Abstrak Sebagai permukaan referensi yang stabil, geoid memainkan peran krusial dalam penetapan datum vertikal dan menjadi landasan utama bagi pemetaan presisi tinggi serta pembangunan infrastruktur. Di Indonesia, kebutuhan akan model geoid yang akurat semakin meningkat seiring dengan percepatan pembangunan infrastruktur dan penyediaan peta skala besar. Saat ini, model INAGEOID2020 versi 2.0 masih digunakan secara luas. Namun, tingkat akurasi yang bervariasi antara 5,88 hingga 28,58 cm dinilai belum memadai untuk mendukung penentuan posisi vertikal secara presisi. Untuk menjawab tantangan tersebut, dikembangkan model geoid baru menggunakan pendekatan Remove-Compute-Restore (RCR) berbasis Fast Fourier Transform melalui tiga skema pemodelan: 2D-Planar, 1D-Spherical, dan Multiband-Spherical. Proses ini menghasilkan model quasigeoid yang kemudian dikoreksi menjadi model geoid melalui perhitungan quasigeoid-to-geoid separation. Ribuan model dievaluasi menggunakan data GNSS/leveling di tiap pulau, dan pendekatan 1D-Spherical terbukti memberikan hasil terbaik, seperti pada Pulau Jawa yang mampu menurunkan standar deviasi dari 11,81 cm menjadi 9,95 cm. Selain itu, model ini dikembangkan dalam platform web interaktif dengan back-end berbasis Firebase dan front-end menggunakan React.js yang memungkinkan pengguna untuk mengakses informasi undulasi geoid pada titik atau wilayah tertentu dalam format titik maupun poligon.
PENGEMBANGAN MODEL GEOID UNTUK WILAYAH INDONESIA DENGAN PENDEKATAN REMOVE-COMPUTE-RESTORE DAN IMPLEMENTASI PENYAJIAN DALAM WEB INTERAKTIF
Abstrak Sebagai permukaan referensi yang stabil, geoid memainkan peran krusial dalam penetapan datum vertikal dan menjadi landasan utama bagi pemetaan presisi tinggi serta pembangunan infrastruktur. Di Indonesia, kebutuhan akan model geoid yang akurat semakin meningkat seiring dengan percepatan pembangunan infrastruktur dan penyediaan peta skala besar. Saat ini, model INAGEOID2020 versi 2.0 masih digunakan secara luas. Namun, tingkat akurasi yang bervariasi antara 5,88 hingga 28,58 cm dinilai belum memadai untuk mendukung penentuan posisi vertikal secara presisi. Untuk menjawab tantangan tersebut, dikembangkan model geoid baru menggunakan pendekatan Remove-Compute-Restore (RCR) berbasis Fast Fourier Transform melalui tiga skema pemodelan: 2D-Planar, 1D-Spherical, dan Multiband-Spherical. Proses ini menghasilkan model quasigeoid yang kemudian dikoreksi menjadi model geoid melalui perhitungan quasigeoid-to-geoid separation. Ribuan model dievaluasi menggunakan data GNSS/leveling di tiap pulau, dan pendekatan 1D-Spherical terbukti memberikan hasil terbaik, seperti pada Pulau Jawa yang mampu menurunkan standar deviasi dari 11,81 cm menjadi 9,95 cm. Selain itu, model ini dikembangkan dalam platform web interaktif dengan back-end berbasis Firebase dan front-end menggunakan React.js yang memungkinkan pengguna untuk mengakses informasi undulasi geoid pada titik atau wilayah tertentu dalam format titik maupun poligon.