📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 2 dokumen

KARAKTERISTIK ENDAPAN NIKEL LATERIT, PEMODELAN GEOLOGI TIGA DIMENSI, DAN ESTIMASI PERSEBARAN KOBALT DENGAN PENDEKATAN ORDINARY KRIGING DI SITE LOLEBA, WASILE SELATAN, HALMAHERA TIMUR, MALUKU UTARA

Pulau Halmahera merupakan salah satu lokasi di Indonesia dengan potensi cadangan nikel laterit terbesar di dunia, yaitu akibat proses pelapukan dari batuan ultramafik yang intensif. Nikel merupakan logam ekonomis dengan permintaan industri global yang terus meningkat, terutama sebagai bahan baku baterai dan logam tahan karat. Kobalt (Co) juga merupakan salah satu unsur ikutan penting dalam endapan nikel laterit yang terakumulasi di zona residual. Secara administratif, daerah penelitian terletak di Kecamatan Wasile Selatan, Halmahera Timur, Maluku Utara dengan luas area 1,1 km². Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik endapan nikel laterit, mengidentifikasi dan menganalisis zona pengayaan Co, menganalisis hubungan Co dengan unsur mayor dan minor pada endapan nikel laterit, mengidentifikasi model geologi tiga dimensi (3D), dan estimasi persebaran kobalt menggunakan Ordinary Kriging (OK). Data yang digunakan dalam penelitian ini mencakup data assay geokimia titik bor, sayatan tipis batuan, data XRF trenching, data DEM, peta geologi regional, dan sampel lapangan. Profil pelapukan laterit di lokasi penelitian terdiri dari limonit, saprolit, dan batuan dasar berupa harzburgit, lherzolit, dan dunit dengan tingkat serpentinisasi sedang hingga tinggi. Tingkat laterisasi kuat dikategorikan pada zona limonit dan laterisasi lemah hingga sedang pada zona saprolit. Terdapat dua jenis endapan nikel laterit, yaitu tipe hydrous Mg-silicate dan oksida. Analisis geokimia downhole menunjukkan bahwa Co terkonsentrasi di zona limonit akibat pengayaan residual dengan pola sebaran vertikal yang serupa dengan unsur bermobilitas rendah, seperti Fe, Cr?O?, Al?O?, dan MnO. Analisis korelasi Spearman menunjukkan korelasi positif kuat antara Co dan MnO pada titik trenching KAP4NU-1 (r = 0,97) serta berkorelasi sedang antara Co dengan Fe (r = 0,80), Cr?O? (r = 0,78), dan Al?O? (r = 0,67) di area penelitian. Faktor topografi juga memengaruhi rata-rata ketebalan limonit yang terindikasi pada area flat slope (16,5 m), slight slope (15 m), dan intermediate slope (10 m) yang masing-masing memiliki rata-rata kadar Co, yaitu 0,1017 wt%; 0,1026 wt%; dan 0,1007 wt%. Selain itu, kadar Co juga dipengaruhi oleh tingkat serpentinisasi dengan tingkat sedang dan tinggi menghasilkan nilai rata-rata Co, yaitu 0,102 wt% dan 0,122 wt%. Pemodelan geologi 3D dan estimasi persebaran Co dilakukan menggunakan model blok. Model geologi menunjukkan ketebalan limonit dipengaruhi oleh topografi dan struktur geologi yang juga memengaruhi tingkat pengikisan limonit. Estimasi kadar Co menggunakan metode Ordinary Kriging pada zona limonit bawah. Persebaran kadar Co ? 0,10 wt% cenderung mengikuti tren barat laut–tenggara dan timur laut–barat daya yang mengikuti topografi dan struktur geologi. Secara vertikal, pengayaan Co terkonsentrasi di limonit bawah dan menurun signifikan pada zona saprolit. Pada dasarnya, pengayaan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti topografi, batuan dasar, struktur geologi, dan drainase air tanah sehingga arah tren distribusi Co tidak terlalu dominan dan tidak homogen.

2026
👤 Penulis: Kelvin Andika Putra
🏷️ Lembaran Laterit 🏷️ Analisis Geokimia 🏷️ Model Geologi 3D

STUDI VISKOSITAS BATUAN HASIL ALTERASI HIDROTERMAL DAN PEMODELAN 3D-NYA PADA PIT PURNAMA, BATANGTORU, TAPANULI SELATAN, SUMATRA UTARA

Proses ekstraksi emas melalui metode pelindian sering kali menghadapi kendala akibat sifat fisik batuan yang diolah, salah satunya adalah tingginya viskositas batuan. Viskositas batuan yang tinggi setelah menjadi slurry menyebabkan penurunan efisiensi pemisahan partikel emas dengan gangue. Permasalahan tersebut terdapat pada daerah penelitian, yaitu di Pit Purnama, salah satu pit pada Tambang Emas Martabe yang dikelola oleh PT Agincourt Resources dan terletak di Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatra Utara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi geologi, sebaran alterasi, serta zona alterasi yang berpotensi memiliki viskositas tinggi. Metode yang digunakan meliputi pemetaan geologi, analisis petrografi, analisis ASD (Analytical Spectral Device), uji viskositas menggunakan viskometer, analisis XRD (X-ray Diffraction), serta rekonstruksi model tiga dimensi secara implisit menggunakan perangkat lunak Leapfrog Geo. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa daerah penelitian terdiri dari tujuh satuan batuan, yaitu Satuan Batulanau, Satuan Lava Andesit, Satuan Breksi Volkanik, Satuan Breksi Diatrema A, Satuan Breksi Diatrema B, Satuan Kubah Lava Andesit Hornblenda, Satuan Breksi Hidrotermal. Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian terdiri dari sesar geser menganan berarah barat laut–tenggara dan sesar geser mengiri timur laut–barat daya. Alterasi yang terdapat di daerah penelitian, yaitu zona smektit - klorit, zona illit ± kaolinit ± illit - smektit, zona kuarsa - dikit ± kaolinit, dan zona kuarsa - alunit ± dikit ± kaolinit. Hasil uji viskositas menunjukkan bahwa nilai rata-rata pada masing-masing zona alterasi adalah sebagai berikut: zona smektit–klorit sebesar 37,6 cP, zona illit ± kaolinit sebesar 217,7 cP, zona kuarsa–dikit ± kaolinit sebesar 31,8 cP, dan zona kuarsa–alunit ± dikit ± kaolinit sebesar 23,2 cP. Dengan demikian, zona alterasi yang berpotensi menghasilkan batuan dengan viskositas tinggi adalah zona illit ± kaolinit.

2025
👤 Penulis: Emmanuel Fabyan Silitonga
🏷️ Geologi Mineral 🏷️ Analisis Viskositas Batuan 🏷️ Model Geologi 3D
💬