π Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 4 dokumenANALISIS PENGARUH PENINGKATAN CO2 TERHADAP CURAH HUJAN DI INDONESIA BERDASARKAN PROYEKSI CMIP6 1PCTCO2
Emisi CO2 diperkirakan mengalami peningkatan secara global, terutama di negara -negara berkembang seperti Asia dan Amerika Latin. Salah satu dampak peningkatan CO2 yaitu dapat memengaruhi pola sirkulasi atmosfer, termasuk melemahkan sirkulasi Walker dan Hadley yang berperan terhadap pola monsun. Berdasarkan kajian sebelumnya, meskipun ada peningkatan kelembapan, beberapa wilayah dapat mengalami penurunan curah hujan karena melemahnya angin monsun. Untuk itu, penelitian ini akan menganalisis pengaruh kenaikan CO2 di Indonesia terhadap curah hujan terutama yang dipengaruhi oleh angin monsun berdasarkan data proyeksi model iklim global. Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan data proyeksi yang bersumber dari Climate Model Intercomparison Project Phase 6 (CMIP6) dengan skenario 1pctCO2 yang dirancang untuk mensimulasikan respon sistem iklim terhadap peningkatan PPM (Parts Per Million) CO2 secara bertahap sebesar satu persen per tahun dari konsentrasi awal pra-industri dengan periode pengamatan dari tahun 1979 β 2014. Data lain yang digunakan sebagai pembanding yaitu data reanalisis Fifth Generation of the European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ERA5) dengan periode pengamatan 1979 - 2014. Metode penelitian ini dilakukan perhitungan bias antara data model dengan data observasi dan dilakukan analisis korelasi pola spasial untuk menilai kesesuaian distribusi spasial curah hujan. Penelitian ini menunjukkan bahwa curah hujan pada model CMIP6 menunjukkan perubahan yang cukup signifikan di berbagai wilayah di Indonesia dibandingkan dengan data reanalisis ERA5. Pola spasial dan temporal curah hujan yang dihasilkan CMIP6 cenderung lebih bervariasi dan menunjukkan bias negatif di sebagian besar wilayah Indonesia, khususnya di kawasan barat seperti Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara, sementara wilayah timur seperti Maluku dan Papua cenderung memperlihatkan bias positif. Nilai pattern correlation juga memiliki nilai yang rendah yaitu rentang 0,4 β 0,7 dan nilai koefisien korelasi yang berada di rentang 0,26 β 0,38 mengindikasikan bahwa skenario kenaikan CO2 sebesar 1% per tahun memberikan pengaruh terhadap jumlah presipitasi di wilayah tropis maritim.
STUDI MUSIMAN ARUS LINTAS INDONESIA (ARLINDO) PADA PERIODE LAST GLACIAL MAXIMUM (LGM) DARI HASIL SIMULASI COMMUNITY CLIMATE SYSTEM MODEL VERSION 4 (CCSM4)
Arus Lintas Indonesia (Arlindo) merupakan komponen penting dalam sistem sirkulasi termohalin global yang membawa massa air dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia melalui perairan Indonesia. Dinamika Arlindo dipengaruhi oleh variabilitas musiman serta kondisi oseanografis masa lalu, seperti pada periode Last Glacial Maximum (LGM). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola musiman arus laut dan volume transpor Arlindo pada periode LGM dan membandingkannya dengan periode Pra-Industri (PI), berdasarkan simulasi model iklim CCSM4. Analisis dilakukan terhadap komponen arus zonal dan meridional di permukaan laut serta distribusi vertikal pada tujuh transek utama hingga kedalaman 760 meter. Secara spasial hasil menunjukkan bahwa arus permukaan mengalami penguatan pada musim JJA dan SON dengan aliran yang lebih kuat di Selat Makassar dan Laut Halmahera bagian barat. Pada beberapa wilayah seperti Selat Lombok menunjukkan pelemahan aliran. Sementara itu, volume transpor tahunan rata-rata seluruh transek selama LGM tercatat sebesar ?4,54 Sv, lebih besar dibandingkan ?4,27 Sv pada periode PI. Penguatan paling signifikan terjadi pada musim JJA dan SON, sedangkan DJF menunjukkan perbedaan paling kecil. Variasi antar-transek dan musim mencerminkan adanya reorganisasi spasial dan vertikal akibat perubahan muka laut, paleotopografi, dan dinamika monsun.
EVALUASI MODEL PALEOCLIMATE MODELING INTERCOMPARISON PROJECT PHASE 4 (PMIP4) DALAM MENSIMULASIKAN KONTRAKSI INDO-PACIFIC WARM POOL ANTARA PERIODE MID-HOLOSEN DAN MODERN
Indo-Pacific Warm Pool (IPWP) merupakan kolam hangat yang memiliki peran penting dalam memengaruhi iklim Asia dan perubahan iklim skala global. Ketidakpastian dalam memproyeksikan iklim masa depan mendorong kebutuhan akan model iklim yang mampu mensimulasikan iklim masa lampau dengan baik untuk meningkatkan keandalan proyeksi. Pada penelitian ini dilakukan perbandingan antara perubahan suhu permukaan laut (SPL) di IPWP hasil simulasi model pada periode Mid-Holosen relatif terhadap kondisi Pra-Industri yang terdapat pada Paleoclimate Modelling Intercomparison Project phase 4 (PMIP4) dengan data arsip alami proxy SPL menggunakan Weighted Cohenβs Kappa (??). Data proxy SPL menunjukkan terjadinya pendinginan di bagian barat dan timur dari wilayah IPWP dan penghangatan di bagian tengah IPWP. Sedangkan hasil simulasi seluruh model untuk rata-rata seluruh tahun menunjukkan terjadinya pendinginan di seluruh wilayah IPWP, yang diduga akibat gandungan gas rumah kaca. Walau demikian, pada rata-rata musim Desember-Januari-Februari (DJF), sebagian model menunjukkan terjadinya penghangatan pada bagian tengah IPWP. Sebagian besar model menunjukkan terjadinya pendinginan pada Maret-April-Mei (MAM) dan Juni-Juli-Agustus (JJA) di seluruh wilayah IPWP. Pada September-OktoberNovember (SON), sebagian besar wilayah IPWP menunjukkan penghangatan. Model Climate Earth System Model, version 2 (CESM2) pada bulan DJF menunjukkan hasil simulasi yang paling baik dari seluruh model dengan nilai ?? = 0,4088. Nilai Cohenβs Kappa yang rendah untuk rataan seluruh tahun menunjukkan model PMIP4 yang digunakan belum mampu mensimulasikan kontraksi IPWP pada periode Mid-Holosen.
IDENTIFIKASI PERUBAHAN POLA CURAH HUJAN EKSTREM INDONESIA DI MASA DEPAN
Indonesia memiliki iklim tropis dan letak geografis yang membuat wilayah ini rentan terhadap curah hujan ekstrem yang dapat memicu terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir. Informasi mengenai pola curah hujan ekstrem sangat penting untuk peringatan dini banjir, perencanaan infrastruktur, dan manajemen bencana. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan pola frekuensi hujan ekstrem Indonesia di masa depan. Metode penelitian meliputi perhitungan curah hujan ekstrem dengan periode ulang 2 tahun menggunakan distribusi Generalized Extreme Value (GEV) tipe I, perhitungan frekuensi hujan ekstrem, pengelompokkan wilayah berdasarkan pola frekuensi hujan ekstrem menggunakan metode clustering, serta identifikasi perubahan pola curah hujan ekstrem. Data yang digunakan adalah model iklim yang bersumber dari Coupled Model Intercomparison Project 6 (CMIP6). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan pola curah hujan ekstrem di Indonesia dengan perubahan luas wilayah pada masing-masing tipe. Mayoritas perubahan terbesar terjadi pada periode far-future dengan skenario SSP2-4.5. Terdapat juga perubahan signifikan dalam siklus tahunan rata-rata frekuensi hujan ekstrem, dengan perubahan tertinggi pada periode far-future menggunakan skenario SSP5-8.5. Tipe A mengalami penurunan luas wilayah mencapai 16,6%. Sementara itu Tipe B mengalami peningkatan luas wilayah mencapai 15%. Kemudian, Tipe C juga mengalami peningkatan luas wilayah mencapai 1,6%. Perubahan siklus tahunan rata-rata frekuensi hujan ekstrem paling kecil terjadi pada Tipe C (2,3 hari), diikuti oleh Tipe A (3,2 hari) dan Tipe B (4,0 hari).