πŸ“š Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 4 dokumen

CONTINUUM OF CARE SEBAGAI DASAR PERANCANGAN SENIOR LIVING DENGAN PENDEKATAN NEURO-ARCHITECTURE DI KAWASAN BOGOR

Indonesia sedang menghadapi transisi demografis menuju aging society, di mana pada tahun 2045 lebih dari 20% penduduk diproyeksikan berusia lanjut. Peningkatan angka harapan hidup ini menghadirkan tantangan dalam penyediaan fasilitas hunian dan perawatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia. Di kawasan perkotaan, tingginya mobilitas penduduk usia produktif menyebabkan banyak lansia menjalani kehidupan secara mandiri tanpa pendampingan keluarga, sehingga rentan mengalami isolasi sosial, depresi, penurunan fungsi kognitif, hingga demensia. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan lansia tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga aspek psikososial dan kognitif. Di sisi lain, fasilitas yang tersedia saat ini masih belum mampu menjawab kebutuhan tersebut secara komprehensif. Rumah sakit umumnya berfokus pada layanan kuratif jangka pendek, sedangkan panti wredha hanya menyediakan fungsi hunian dengan dukungan medis dan sosial yang terbatas. Kesenjangan ini menuntut hadirnya fasilitas hunian yang mampu mengintegrasikan layanan kesehatan, dukungan sosial, serta stimulasi kognitif dalam satu kesatuan yang berkelanjutan. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pendekatan continuum of care menjadi landasan penting dalam perancangan. Konsep ini memungkinkan lansia memperoleh berbagai tingkat layanan perawatan sesuai perubahan kondisi fisik dan kesehatan mereka tanpa harus berpindah lingkungan secara drastis. Dengan demikian, kualitas hidup, rasa aman, dan kenyamanan penghuni dapat tetap terjaga sepanjang proses penuaan. Pendekatan neuro-architecture menawarkan dasar konseptual yang relevan untuk mendukung konsep tersebut. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lingkungan binaan dapat memengaruhi fungsi otak, emosi, dan kesehatan mental. Melalui optimalisasi pencahayaan alami, kualitas akustik, orientasi ruang, serta penyediaan ruang interaksi sosial yang nyaman, lingkungan dapat mendukung kesehatan kognitif, mengurangi stres, dan meningkatkan kesejahteraan lansia secara menyeluruh. Kawasan Sentul dipilih sebagai lokasi proyek karena memiliki iklim yang relatif sejuk, lingkungan hijau, aksesibilitas yang baik, serta kedekatan dengan Jakarta yang memungkinkan lansia tetap terhubung dengan keluarga. Karakter kawasan ini mendukung terciptanya healing environment yang berperan penting dalam menjaga kesehatan fisik dan mental penghuni. Berdasarkan kondisi tersebut, Senior Living Hub dirancang sebagai solusi integratif yang menggabungkan hunian, layanan medis, dukungan sosial, dan aktivitas rekreatif dalam satu kawasan. Didukung penerapan prinsip continuum of care dan neuro-architecture, proyek ini tidak hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendorong lansia tetap aktif, mandiri, dan terhubung dengan komunitas. Konsep ini sejalan dengan tujuan SDGs 3 (Good Health and Well-being), SDGs 10 (Reduced Inequalities), dan SDGs 11 (Sustainable Cities and Communities).

2026
πŸ‘€ Penulis: Shofwa Khairunnisa
🏷️ Continuum Of Care 🏷️ Neuro-Architecture 🏷️ Manajemen Rantai Pasokan Lansia

SENSE+ (SPATIAL ENVIRONMENT FOR NEURO-SENSORY EXPERIENCE) : TRANSFORMING BANDUNG’S URBAN STRESS INTO CREATIVE ENERGY

Kota Bandung memiliki dua sisi yang berkontradiksi. Di satu sisi, Bandung memiliki potensi sebagai kota kreatif ditunjukkan dengan adanya 120 komunitas kreatif, tergabungnya Bandung pada UCCN, dan 56% aktivitas ekonomi Bandung berkaitan dengan kreatif. Namun, di sisi lain, Bandung mengalami peningkatan isu stres perkotaan, ditunjukkan oleh kenaikan jumlah anak dengan gangguan kesehatan mental sebesar 38,14% pada tahun 2022, sekitar 60% mahasiswa mengalami stres, kecemasan, atau depresi pada tingkat tertentu, serta 48,6% mahasiswa baru mengalami gejala gangguan mental emosional dengan 21,2% di antaranya merasa tidak bahagia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Bandung membutuhkan sebuah ruang yang dapat mentransformasi kondisi stres menjadi kreativitas. Isu perancangan utama yang diangkat adalah bagaimana arsitektur dapat mengubah eustress dan distress menjadi energi kreatif. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, studi preseden, analisis tapak, analisis pengguna dan aktivitas, serta sintesis teori menjadi strategi perancangan arsitektur. SENSE+ mengusulkan perancangan creative hub yang dipadukan dengan contemplative center sebagai tipologi arsitektur yang mentransformasikan stres menjadi energi kreatif melalui pendekatan neuroarchitecture dan programmatic disjunction. Pendekatan perancangan diturunkan lebih lanjut menjadi konsep transprogramming, biophilic design & healing environment, dan Attention Restoration Theory (ART) untuk membentuk sekuens ruang being away, fascination, extent, dan compatibility yang mendukung transformasi kondisi psikologis pengguna dari keadaan stres menuju kondisi yang lebih tenang, fokus, dan kreatif. Hasil perancangan berupa kompleks creative hub dan contemplative center yang dirancang untuk mengubah gelombang otak beta (15–20 Hz), yang berkaitan dengan kondisi stres, menuju gelombang alfa (8–12 Hz), yang berkaitan dengan kondisi relaks dan kreativitas. Perubahan kondisi tersebut dicapai melalui strategi perancangan yang memanfaatkan elemen biofilik, konfigurasi ruang, geometri, pencahayaan alami, material, lanskap, dan pengalaman multisensori sesuai dengan pendekatan perancangan yang dipilih. Luaran tugas akhir ini diharapkan mampu mentransformasi stres perkotaan di Kota Bandung menjadi energi kreatif yang berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup serta perekonomian kota.

2026
πŸ‘€ Penulis: Faiz Zyad Alfata
🏷️ Neuroarchitecture 🏷️ Manajemen Rantai Pasok 🏷️ Hidrologi

PERANCANGAN SEKOLAH DENGAN PENDEKATAN NEUROARCHITECTURE: STUDI KASUS SEKOLAH ALAM BANDUNG

Pendidikan di Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar, terutama terkait motivasi siswa. Rapor Pendidikan Indonesia 2023 menunjukkan bahwa hanya 61,53% siswa sekolah dasar memenuhi kompetensi minimum literasi, dan 46,67% dalam numerasi. Selain itu, Indonesia menempati peringkat ke-72 dari 79 negara dalam literasi menurut PISA 2022. Dampak pascapandemi COVID-19 memperburuk situasi ini, dengan 53,3% siswa mengalami tekanan emosional yang signifikan. Tekanan tersebut, ditambah dengan metode pembelajaran yang monoton, berdampak negatif pada motivasi belajar mereka. Lingkungan sekolah yang tidak mendukung eksplorasi dan interaksi turut memengaruhi motivasi dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Penyediaan lingkungan belajar yang optimal harus mempertimbangkan keberagaman dan keunikan alami setiap anak. Sayangnya, pendekatan pendidikan di Indonesia masih didominasi oleh pencapaian standar kompetensi seragam. Hal ini menyebabkan kesalahpahaman tentang filosofi pendidikan, di mana anak-anak seharusnya dipandang sebagai pembelajar alami. Akibatnya, mewujud ke ruang pembelajaran yang kaku dan tidak mendukung eksplorasi, yang pada akhirnya menghilang "The Joy of Learning" dalam lingkungan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan merancang lingkungan fisik yang mendukung perkembangan holistik anak melalui pendekatan neuroarchitecture. Neurosains berperan dalam menjelaskan bahwa pengalaman tubuh tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti informasi persepsi, informasi internal, dan memori tubuh. Ini menjadi landasan penting dalam memahami bagaimana lingkungan fisik dapat memengaruhi pikiran dan tubuh kita. Penelitian ini berupaya menciptakan lingkungan belajar yang mendukung eksplorasi dan interaksi fisik anak. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas lingkungan belajar di Indonesia dan mendorong keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran.

2025
πŸ‘€ Penulis: Sofiana Estiningtyas
🏷️ Neuroarchitecture 🏷️ Pendidikan Inovatif 🏷️ Motivasi Belajar

PERANCANGAN RUMAH SAKIT KHUSUS OTAK DENGAN PENDEKATAN NEURO-ARCHITECTURE

Otak adalah pusat kontrol tubuh yang vital, dan kerusakan pada otak dapat berdampak fatal pada keberlangsungan hidup manusia. Di Indonesia, gangguan neurologi dianggap sebagai fenomena gunung es, dengan penyebab yang beragam, baik eksternal seperti kecelakaan dan kekerasan fisik, maupun internal seperti gaya hidup tidak sehat dan penuaan. Pengobatan gangguan neurologi bervariasi tergantung jenis, keparahan, gejala, dan kondisi pasien, mencakup obat-obatan, operasi, dan terapi. Pasien dengan kerusakan otak berisiko mengalami penurunan kognitif dan fungsi fisik, sehingga membutuhkan rehabilitasi. Dalam konteks lingkungan binaan, arsitektur dapat membantu proses pemulihan melalui stimulasi sensorik, yang dapat meningkatkan aktivitas Reticular Activating System dan kesadaran pasien, serta membantu mencegah penurunan dan mendukung pemulihan fungsi kognitif. Pendekatan neuro-architecture menerapkan prinsip neurosains dalam desain ruang untuk meningkatkan ingatan, kemampuan kognitif, mengurangi stres, dan menstimulasi otak untuk mengubah emosi serta perilaku. Meskipun di Indonesia rumah sakit khusus otak yang menerapkan neuro- architecture masih terbatas, riset telah menunjukkan efektivitas stimuli sensorik dalam meningkatkan kesadaran dan fungsi kognitif pasien. Tujuan dari perancangan tesis ini adalah menentukan kebutuhan penderita gangguan neurologi yang dapat diwadahi dalam perwujudan arsitektur, peran neuro-architecture dalam proses pemulihan penderita gangguan neurologi dalam wujud perancangan, dan kriteria perancangan bangunan yang sesuai untuk gangguan neurologi serta menerapkannya pada perancangan. Dalam konteks arsitektur, kebutuhan penderita gangguan neurologi mencakup lingkungan yang kondusif untuk pemulihan dan kenyamanan, dengan stimuli sensorik yang meningkatkan kesadaran dan respons pasien terhadap lingkungan. Neuro-architecture berperan dalam mendukung neuroplastisitas otak dengan menciptakan lingkungan yang kaya stimulasi sehingga membantu otak membentuk dan memperbaiki jaringan saraf serta meningkatkan adaptasi otak. Kriteria perancangan arsitektur untuk penderita gangguan neurologi melalui neuro-architecture mencakup multi-sensory experience, wayfinding and navigation, social connection and privacy, biophilic elements, volume, dan personalization untuk menjawab persoalan peningkatan kesadaran, pemulihan kembali fungsi kognitif dan motorik, serta pembangkitan dan pembentukan memori pasien penderita gangguan neurologi.

2024
πŸ‘€ Penulis: Menik Nagita Maidy Chandra
🏷️ Neuro-Architecture 🏷️ Pemulihan Gangguan Neurologi 🏷️ Desain Ruang Untuk Kesehatan Mental
πŸ’¬