📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenPERANCANGAN PEMBANGKIT OCEAN THERMAL ENERGY CONVERSION (OTEC) BERBASIS SIKLUS TERBUKA DAN TERTUTUP
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) kelautan yang masif, salah satunya adalah teknologi Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC). Berbeda dengan energi surya dan angin yang bersifat intermiten, OTEC mampu beroperasi sebagai pembangkit listrik beban dasar (baseload) yang stabil. Penelitian ini bertujuan untuk merancang, menganalisis, dan membandingkan performa termal serta kelayakan ekonomi dari beberapa konfigurasi pembangkit OTEC, yaitu Siklus Tertutup (Organic Rankine Cycle, Siklus Kalina, Siklus Uehara) dan Siklus Terbuka (Open-Cycle). Studi kelayakan mengambil lokasi di perairan Taman Nasional Wakatobi yang memiliki gradien temperatur (?T) ideal sebesar 22,82 °C. Simulasi termodinamika dilakukan menggunakan perangkat lunak EBSILON@Professional untuk memodelkan sistem dengan target daya bersih (net power) sebesar 100 kW. Analisis keekonomian kemudian dievaluasi menggunakan Aspen Process Economic Analyzer untuk menghitung Capital Expenditure (CAPEX), Operational Expenditure (OPEX), dan Levelized Cost of Energy (LCOE). Studi ini mengevaluasi konfigurasi sistem OTEC yang paling unggul secara teknis, sekaligus menyoroti potensi desalinasi air tawar pada siklus terbuka yang mampu menekan nilai LCOE secara drastis, sehingga menjadikannya sangat layak secara finansial untuk diimplementasikan di perairan tropis Indonesia.
INTEGRASI TEKNOEKONOMI SIKLUS TERMODINAMIKA OTEC DENGAN PENGEMBANGAN MODEL PROTOTIPE MENGAPUNG DI BALI UTARA
Pengembangan energi terbarukan menjadi strategi penting bagi Indonesia dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC) menawarkan sumber energi berkelanjutan dengan memanfaatkan perbedaan suhu antara air laut permukaan dan kedalaman. Penelitian ini menganalisis kinerja dan kelayakan sistem OTEC closed cycle pada kondisi perairan Bungkulan, Bali Utara melalui simulasi termodinamika tiga kandidat siklus Rankine, Kalina, dan Uehara serta penyusunan desain awal platform terapung untuk prototipe OTEC berkapasitas bersih 13,6 MW. Metodologi mencakup studi literatur sistem OTEC, pengumpulan dan pengolahan data suhu laut (HYCOM 2021–2024) serta data oseanografi untuk memperoleh profil ????? sebagai dasar kondisi operasi. Simulasi dilakukan menggunakan Aspen Plus V14 untuk menentukan efisiensi termal dan daya bersih optimal, yang selanjutnya digunakan dalam perancangan komponen utama seperti heat exchanger, cold water pipe, riser, dan general arrangement platform. Analisis ekonomi dilakukan melalui estimasi CAPEX, OPEX, dan perhitungan LCOE, dilengkapi analisis sensitivitas terhadap tarif listrik, tingkat diskonto, inflasi, dan harga material. Analisis ini menegaskan pentingnya kajian lebih mendalam terhadap struktur biaya untuk menurunkan LCOE dan meningkatkan keekonomian proyek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Rankine cycle merupakan siklus paling layak dengan daya bersih 13,601 MW dan efisiensi 1,83%, serta memberikan stabilitas operasi terbaik pada kondisi termal Bali Utara. Desain struktur terapung, mooring system, dan CWP mampu mendukung operasi stabil dengan capacity factor 0,90. Secara ekonomi, nilai LCOE sebesar Rp2.313/kWh masih kompetitif untuk teknologi energi laut, dengan arus kas proyek menunjukkan tren positif setelah masa pelunasan pinjaman. Selain memiliki prospek teknis dan finansial yang baik, OTEC juga menawarkan co-benefits seperti produksi air tawar, mariculture, district cooling, dan wisata edukasi yang dapat meningkatkan nilai ekonomi proyek. Temuan ini diharapkan dapat menjadi referensi teknis dan ekonomi dalam pengembangan OTEC di Indonesia.
ESTIMASI POTENSI ENERGI PANAS LAUT DI PERAIRAN INDONESIA BERDASARKAN KRITERIA KONVERSI MENGGUNAKAN SIKLUS RANKINE TERTUTUP
Matahari merupakan salah satu sumber energi terbesar di planet bumi, dan sekitar 70 persen dari bumi merupakan lautan. Kapasitas kalor jenis dari air luaut yang lebih besar dibandingkan di udara dan daratan menyebabkan panas dari matahari tersebut menetap di lautan. Penelitian tugas akhir ini bertujuan untuk mengestimasi sumber daya energi panas laut di perairan inonesia Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC) berdasarkan data hasil simulasi bulanan selama 20 tahun dari tahun 2000-2020 dari model beresolusi 0.083 ° x 0.083 ° yang bernama Copernicus Marine Environment Monitoring Service (CMEMS). Luasan area yang ditinjau terbentang dari 9°LU - 11°LS dan 95°BT hingga 141°BT dan selanjutnya difokuskan pada Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Penelitian ini meninjau Kedalaman referensi yang mana menurut Nihous (2007) merupakan kedalaman minimal pengambilan air dingin yang memiliki nilai ?T > 20 pada kedalaman 1000 m. Dihasilkan kedalaman minimal pengambilan air dingin pada perairan Indonesia berada sampai di kisaran 600 meter lalu kedalaman konsisten berada di antara kedalaman 600 meter hingga 800 meter di perairan Selat Makassar, Laut Sulawesi, dan Utara Papua. Daya yang dihasilkan pada kedalaman minimal dan konsisten pengambilan air dingin adalah 154,91 GW perbulan, 1858,97 GW pertahun, dan 37.179 GW selama 20 tahun untukkedalaman 600 meter dengan luasan daerah yang konsisten sebesar 1.044.496 Km2.