📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 3 dokumenOPTIMASI PROSES EKSTRAKSI DAUN SIRSAK (ANNONA MURICATA L.) TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MENGGUNAKAN RESPONSE SURFACE METHODOLOGY (RSM)
Senyawa radikal bebas dapat dihambat dengan suatu senyawa antioksidan. Salah satu sumber antioksidan alami yaitu sirsak (Annona muricata L.). Proses ekstraksi berkontribusi terhadap kandungan senyawa antioksidan yang terdapat dalam ekstrak. Penelitian ini bertujuan melakukan optimasi proses ekstraksi daun sirsak secara maserasi dan pengepresan yang menghasilkan ekstrak dengan aktivitas antioksidan DPPH, CUPRAC, dan FRAP serta kadar fenol total dan flavonoid total yang optimum; korelasi antara total fenol dan total flavonoid terhahap aitivitas antioksidan, aktivitas antioksidan antara ketiga metode; dan identifikasi dan penentuan kadar senyawa flavonoid dalam ekstrak hasil optimasi. Ekstraksi dilakukan secara maserasi dan pengepresan. Response surface methodology dengan jenis model Box-Behnken digunakan untuk mengoptimasi tiga variabel ekstraksi yakni waktu ektraksi (10-40 menit), rasio simplisia-pelarut (1 : 3 – 1 : 10), dan konsentrasi pelarut (etanol 70%-etanol 96%). Penentuan aktivitas antioksidan dengan metode DPPH, CUPRAC, dan FRAP serta fenol total dan flavonoid total dilakukan dengan spektrofotometri UV-sinar tampak. Analisis korelasi menggunakan metode Pearson. Identifikasi dan penentuan kadar senyawa flavonoid dalam ekstrak hasil optimasi dengan KCKT. Hasil optimasi menunjukkan bahwa ekstraksi optimum daun sirsak secara maserasi dan pengepresan diperoleh pada waktu ekstraksi 10 menit, rasio simplisia-pelarut 1 : 6,5, dan konsentrasi pelarut 96%, memberikan nilai fenol total, flavonoid total, DPPH, CUPRAC, dan FRAP secara berturut-turut 119,388 ± 14,057 mg GAE/g, 91,212 ± 4,796 mg QE/g, 189,095 ± 15,931 mg AEAC/g, 162,121 ± 11,076 mg AEAC/g, dan 204,679 ± 5,164 mg AEAC/g. Secara umum, golongan fenol dan flavonoid dalam ekstrak etanol daun sirsak berkontribusi terhadap aktivitas antioksidan DPPH, CUPRAC, dan FRAP. Ketiga metode baik DPPH, CUPRAC, maupun FRAP memberikan hasil yang linier pada uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun sirsak. Ekstrak etanol daun sirsak mengandung senyawa rutin dengan kadar 11,52 ± 1,06 mg/g.
PEMISAHAN B (BETA)-KAROTEN DARI MINYAK NABATI
Minyak sawit mentah adalah sebuah komoditas yang dipakai secara luas di seluruh dunia, dan merupakan jenis minyak nabati yang paling banyak diproduksi dan diperjualbelikan. CPO mengandung banyak komponen di dalamnya, salah satunya adalah b (beta)-karoten. ?b (beta) karoten memiliki beragam manfaat bagi kesehatan, baik sebagai sumber vitamin A maupun antioksidan. Namun, b (beta)-karoten ini mengalami degradasi pada proses pengilangan CPO akibat stabilitas termalnya yang rendah. Oleh karena itu, diperlukan metode ramah lingkungan untuk memisahkan b (beta)-karoten dari CPO sebelum proses pengilangan. Penelitian ini bertujuan untuk memisahkan b (beta)-karoten dari CPO melalui ekstraksi cair-cair dengan campuran pelarut hijau, yaitu etanol-isopropanol. Proses ekstraksi dilakukan pada variasi komposisi pelarut etanol:isopropanol (1:0, 3:1, 1:1, 1:3, 0:1) dan variasi rasio CPO dan pelarut pada umpan (3:7, 4:6, 5:5, 11:9, 6:4). Hasil menunjukkan bahwa variasi komposisi pelarut berpengaruh signifikan terhadap perolehan ekstraksi dengan kurva parabolik dan berpengaruh signifikan terhadap parameter pemisahan dengan penurunan kadar etanol dalam pelarut menurunkan nilai parameter pemisahan ekstraksi. Variasi rasio CPO dan pelarut pada umpan menunjukkan pengaruh signifikan terhadap perolehan ekstraksi dengan penurunan rasio CPO dan pelarut pada umpan meningkatkan perolehan ekstraksi, tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap parameter pemisahan. Titik optimal ekstraksi berada pada komposisi etanol-isopropanol 1:0 dan rasio CPO dan pelarut pada umpan 4:6.
OPTIMASI KONDISI EKSTRAKSI GLISERIDA-GLISERIDA SISA HASIL LIPOLISIS MINYAK KELAPA SAWIT MENGGUNAKAN PELARUT ASETONITRIL
Asam lemak merupakan produk antara yang memiliki potensi untuk diolah menjadi berbagai produk oleokimia bernilai tambah tinggi. Pada saat ini, produksi asam lemak banyak dilakukan menggunakan teknologi Colgate-Emery, yang mengandalkan reaksi hidrolisis. Teknologi ini menghasilkan asam lemak dengan kemurnian tinggi, namun memerlukan energi yang cukup besar karena prosesnya melibatkan temperatur dan tekanan tinggi. Lipolisis menjadi salah satu alternatif yang menjanjikan dalam upaya menghasilkan asam lemak melalui proses yang lebih ramah lingkungan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa proses lipolisis hanya menghasilkan asam lemak sekitar 70%, dengan sisa reaktan yang tidak bereaksi. Oleh karena itu, diperlukan proses pemisahan lanjutan untuk memperoleh asam lemak dengan kemurnian yang lebih tinggi. Salah satu pendekatan yang telah dicoba adalah penggunaan pelarut asetonitril untuk mengekstraksi gliserida sisa dari asam lemak hasil lipolisis. Meskipun pendekatan ini menunjukkan potensi besar, diperkirakan pemisahan dapat dilakukan dengan lebih efisien melalui pengoptimalan variabel. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pemisahan dengan mencari kondisi optimum dalam pemisahan asam lemak dan gliserida sisa. Beberapa kondisi ekstraksi yang diamati adalah temperatur, waktu, rasio pelarut dan umpan, komposisi asetonitril dalam campuran pelarut, kecepatan pengadukan, serta jumlah tahapan ekstraksi. Desain percobaan yang diterapkan adalah fraksional faktorial untuk menentukan variabel kondisi ekstraksi berpengaruh signifikan. Kemudian, data diproses dengan menggunakan central composite design (CCD) untuk menghasilkan model ekstraksi yang lebih presisi. Selain itu, penelitian ini juga mencakup penentuan batas kelarutan asetonitril dan umpan hasil lipolisis. Hasil seleksi variabel menunjukkan bahwa rasio F/S, kadar asetonitril dalam pelarut, serta jumlah tahap ekstraksi merupakan faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap proses pemisahan. Ketiga faktor tersebut mencapai kondisi optimum pada rasio F/S 1:1, komposisi asetonitril 75% b/b dalam pelarut, serta penggunaan satu tahap ekstraksi