📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 43 dokumenPENGALAMAN KULINER SEBAGAI PRAKTIK KULTURAL: SPASIALISASI PRAKTIK KULINER SUNDA MELALUI PUSAT PENGALAMAN BUDAYA KULINER DI BANDUNG
Bandung telah lama dikenal sebagai salah satu destinasi pariwisata utama di Indonesia dan memiliki identitas yang kuat sebagai kota kuliner. Budaya kuliner kota ini berkaitan erat dengan ekonomi kreatifnya, di mana makanan tidak hanya berfungsi sebagai sarana konsumsi, tetapi juga sebagai pengalaman sosial dan budaya. Topik ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, yang menempatkan arsitektur sebagai media dalam melestarikan warisan budaya takbenda melalui ruang publik yang inklusif sekaligus memperkuat identitas lokal dan pariwisata perkotaan yang berkelanjutan. Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata kuliner semakin bergeser menuju aktivitas yang berorientasi pada pengalaman, di mana pengunjung mencari suasana, keterlibatan budaya, dan pengalaman spasial yang berkesan. Masjid Al-Jabbar merupakan salah satu destinasi wisata utama di Bandung. Meskipun memiliki peran penting sebagai salah satu ikon wisata utama Kota Bandung, Masjid Al-Jabbar mengalami penurunan jumlah kunjungan secara bertahap dalam beberapa tahun terakhir akibat terbatasnya ragam aktivitas di luar fungsi keagamaan serta belum adanya atraksi pendukung yang merepresentasikan identitas budaya lokal. Selain itu, meskipun kawasan sekitarnya menunjukkan permintaan yang tinggi terhadap aktivitas kuliner, fasilitas yang terorganisasi untuk mengakomodasi dan merayakan budaya kuliner Sunda masih terbatas. Sebagai alternatif, proyek ini mengusulkan sebuah Culinary Culture Experience Center yang berlokasi di kawasan sekitar Masjid Al-Jabbar. Tipologi ini dipilih karena mampu mengintegrasikan aktivitas kuliner, interpretasi budaya, dan interaksi publik dalam sebuah destinasi berbasis pengalaman yang menempatkan pengalaman kuliner sebagai praktik budaya yang hidup. Proyek ini dikembangkan melalui metode perancangan kualitatif yang meliputi studi literatur, observasi lapangan, analisis kontekstual, dan studi komparatif preseden untuk merumuskan strategi arsitektur yang responsif terhadap kondisi budaya, spasial, dan lingkungan tapak. Dengan menerapkan pendekatan Experiential Architecture dan Critical Regionalism, proyek ini menerjemahkan praktik kuliner Sunda ke dalam rangkaian pengalaman sensorik, sosial, dan spasial melalui program kuliner yang terkurasi, ruang terbuka publik, serta sirkulasi yang terintegrasi dengan lanskap. Rancangan mengadopsi komposisi paviliun bertingkat rendah yang dicirikan oleh pola pergerakan organik, pengalaman tepi perairan, reinterpretasi kontemporer arsitektur Sunda, serta penggunaan material kayu dan vegetasi secara ekstensif untuk menciptakan lingkungan yang imersif secara kultural. Proyek ini bertujuan mewujudkan sebuah destinasi kuliner Sunda yang melengkapi keberadaan Masjid Al-Jabbar, memperkuat identitas budaya lokal, serta mengakomodasi aktivitas kuliner dalam suatu tatanan ruang publik yang terorganisasi. Melampaui proposisi arsitekturalnya, proyek ini menunjukkan bagaimana arsitektur dapat menspasialisasikan praktik budaya dan mentransformasikan aktivitas kuliner menjadi media yang inklusif bagi pelestarian budaya, keterlibatan publik, dan pengembangan pariwisata di Kota Bandung.
PERANCANGAN FASILITAS EDUWISATA BUDIDAYA RUMPUT LAUT MELALUI PENDEKATAN COMMUNITY BASED TOURISM (CBT) DI TANJUNG PALLETTE, KABUPATEN BONE
Sektor pariwisata memegang peranan krusial dalam pembangunan nasional, terutama di negara kepulauan seperti Indonesia. Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, pengembangan pariwisata diarahkan pada pendekatan berkelanjutan yang mengintegrasikan fungsi edukatif dan ekonomi berbasis potensi lokal. Kabupaten Bone, sebagai salah satu daerah terluas di Provinsi Sulawesi Selatan, memiliki potensi besar baik di sektor pariwisata dengan total kunjungan sebesar 83.957 kunjungan. Aktivitas pariwisata utamanya berpusat di Tanjung Pallette dan menjadi kawasan wisata yang paling banyak dikunjungi di Kabupaten Bone yaitu 37.700 kunjungan pada tahun 2021. Selain memiliki potensi besar di sektor pariwisata, Kabupaten Bone juga memiliki potensi besar budidaya rumput laut. Pada tahun 2023, budidaya rumput laut Kabupaten Bone mencapai 416 ribu ton dengan nilai jual yang signifikan. Tanjung Pallette sebagai kawasan wisata juga menjadi tempat budidaya rumput dan menjadi mata pencaharian bagi 90% masyarakat lokal yang ada disana. Namun, aktivitas budidaya tersebut justru menjadi masalah bagi sektor pariwisata. Hal ini terjadi karena pengembangan kawasan wisata Tanjung Pallette tidak sesuai dengan karakteristik kawasan dan ketiadaan integrasi antara aktivitas pariwisata yang berpusat di Tanjung Pallette dengan budidaya rumput laut yang dilakukan oleh mayoritas penduduk setempat. Selain itu, tidak ada keterlibatan dan pemberdayaan masyarakat lokal terhadap aktivitas pariwisata. Oleh karena itu, diperlukan sebuah solusi inovatif untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sebuah solusi yang dapat menyatukan sektor pariwisata dan budidaya rumput laut demi menciptakan nilai tambah dan keberlanjutan serta memperkuat pengembangan karakteristik kawasan wisata Tanjung Pallette. Untuk itu, tesis ini berfokus pada perancangan fasilitas eduwisata budidaya rumput laut di Tanjung Pallette. Fasilitas ini dirancang untuk menjadi jembatan yang menyatukan pariwisata dengan aktivitas budidaya rumput laut. Tujuannya adalah menciptakan destinasi wisata yang unik tanpa menghilangkan aktivitas budidaya, memberikan manfaat ekonomi dan sosial secara langsung bagi masyarakat lokal, serta memberikan pengalaman edukatif bagi wisatawan agar dapat belajar dan berinteraksi langsung dengan proses budidaya rumput laut dari awal hingga akhir. Perancangan ini menggunakan pendekatan Community Based Tourism (CBT). Dengan pendekatan ini, masyarakat lokal tidak hanya menjadi objek tetapi juga subjek utama dalam pengelolaan pariwisata. Keterlibatan aktif masyarakat lokal mulai dari proses perencanaan hingga operasional agar menumbuhkan rasa kepemilikan dan memastikan bahwa manfaat ekonomi dari pariwisata dapat dirasakan secara langsung dan merata. Pendekatan ini juga memastikan keberlanjutan sosial dan lingkungan, di mana praktik budidaya rumput laut dan aktivitas pariwisata dapat saling mendukung tanpa merusak ekosistem pesisir. Secara keseluruhan, perancangan fasilitas eduwisata ini bertujuan untuk menciptakan model pariwisata yang terpadu dan berkelanjutan. Fasilitas ini akan menjadikan budidaya rumput laut dari pengganggu pariwisata menjadi daya tarik utama. Dampaknya diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan, menciptakan sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat Tanjung Pallette, serta menjadikan Kabupaten Bone sebagai contoh pengembangan pariwisata berbasis potensi lokal.
DAMPAK SPASIAL KEK PARIWISATA MANDALIKA : PENDEKATAN MODEL KONTRAFAKTUAL DAN DEEP LEARNING DALAM MENILAI TRANSFORMASI KAWASAN
Pembangunan pariwisata KEK Mandalika sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) memicu transformasi ruang masif di Lombok Tengah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengaruh intervensi kebijakan tersebut terhadap perubahan tutupan lahan dan kualitas visual mikro menggunakan pendekatan skenario kontrafaktual untuk membedakan dampak murni kebijakan dari tren pertumbuhan alami yang sulit diukur secara organik. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan multi-scalar. Analisis makro menggunakan klasifikasi tutupan lahan citra Landsat (2009–2024) dan pemodelan Cellular Automata-Markov untuk simulasi kontrafaktual. Analisis mikro menerapkan teknik Semantic Segmentation untuk ekstraksi pixel ratio visual dan analisis Place Pulse berbasis machine learning pada citra Google Street View (2015–2025) guna mengukur persepsi publik secara temporal. Hasil penelitian menunjukkan intervensi KEK Mandalika mengakselerasi pembangunan lahan terbangun sebesar 206,6% (3,06 kali lipat) dibandingkan skenario organik, dengan selisih dampak tambahan seluas 744 Ha pada 2024. Secara mikro, densitas bangunan meningkat dari pixel ratio 1,8% menjadi 4,0%, yang berkorelasi positif dengan peningkatan skor persepsi keamanan dan kemakmuran koridor. Kebijakan ini secara efektif memaksa wilayah melompati fase pertumbuhan dari Involvement langsung menuju Development stage. Rekomendasi penelitian difokuskan pada penguatan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah penyangga dan manajemen beban puncak (peak-load) infrastruktur. Strategi integratif ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan dampak positif pembangunan KEK Mandalika bagi lingkungan dan masyarakat lokal sebagai destinasi kelas dunia.
PERANCANGAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH KAWASAN WISATA PANTAI BATUKARAS, KABUPATEN PANGANDARAN
Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi untuk maju disektor pariwisata. Pada tahun 2020, sektor pariwisata diproyeksikan menjadi penyumbang devisa nasional terbesar melampaui sektor migas, batubara, dan minyak kelapa sawit. Jumlah penerimaan devisa nasional dipengaruhi peningkatan jumlah wisatawan dan jumlah pengeluaran wisatawan. Peningkatan jumlah wisatawan yang terjadi akan diiringi peningkatan jumlah timbulan sampah yang dihasilkan. Semenjak tahun 2017, Kementerian Pariwisata RI bekerja sama dengan International Network of Sustainable Tourism Observatories (INSTO) untuk mengembangkan program pariwisata berkelanjutan pada lima daerah di Indonesia, salah satunya Pantai Batukaras. Kawasan wisata Pantai Batukaras dilengkapi satu buah Tempat Penampungan Sementara (TPS) yaitu TPS Legokpari. Permasalahan utama yang terkait pengelolaan sampah di kawasan wisata Pantai Batukaras adalah penumpukan sampah di area TPS pada kondisi puncak lonjakan pengunjung. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya pengolahan sampah untuk meminimalkan residu yang diangkut menuju TPA dan mendukung diperolehnya sertifikasi sustainable tourism yang diakui oleh dunia. Pengolahan sampah dilakukan melalui pembangunan TPS 3R Batukaras yang terdiri dari pemilahan sampah, pengolahan sampah organik open windrow, pengolahan material daur ulang laku jual (kaca, logam, kertas, plastik), dan pengolahan sampah plastik PP dan PE pada reaktor pirolisis. Perancangan pengolahan sampah TPS 3R Batukaras dirancang mampu menangani sampah terpilah dari sumber menjadi tiga jenis yaitu sampah organik, sampah daur ulang, dan sampah lain-lain dengan debit sampah masuk yang mampu diolah sebesar 4,95 ton/hari dengan komposisi utama sampah organik 61,73% dan sampah plastik 12,38%. Jumlah sampah yang diangkut menuju TPA Purbahayu adalah 31,34% dari jumlah sampah yang masuk dengana adanya TPS 3R Batukaras. Kebutuhan lahan minimal untuk pengelolaan sampah di TPS 3R Batukaras adalah 490,14 m2 .
PENGARUH PERSEPSI TERHADAP KEPUASAN DAN DUKUNGAN MASYARAKAT LOKAL SERTA WISATAWAN DALAM PENGEMBANGAN DESTINASI WISATA CRISTO REI, DILI, TIMOR-LESTE.
Pengembangan pariwisata di negara kepulauan kecil seperti Timor-Leste dihadapkan pada berbagai tantangan multidimensional yang meliputi aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan, khususnya pada destinasi wisata yang berada di kawasan pesisir perkotaan. Kawasan wisata Cristo Rei di Kota Dili merupakan salah satu destinasi unggulan yang memiliki nilai religius, historis, dan keindahan alam yang tinggi. Namun demikian, pengelolaannya masih dihadapkan pada keterbatasan infrastruktur, kualitas pengelolaan destinasi, serta rendahnya tingkat keterlibatan masyarakat lokal dalam proses pembangunan pariwisata. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara persepsi masyarakat lokal dan wisatawan dengan tingkat kepuasan mereka terhadap pengembangan destinasi wisata Cristo Rei, serta menelaah pengaruh kepuasan tersebut terhadap dukungan terhadap pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi potong lintang (cross-sectional). Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner tertutup menggunakan skala Likert yang disebarkan kepada masyarakat lokal dan wisatawan yang pernah berkunjung ke kawasan Cristo Rei. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive dan convenience sampling. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan inferensial melalui metode Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS untuk menguji hubungan antarvariabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat lokal terhadap dampak ekonomi, sosial, lingkungan, dan keamanan berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat kepuasan mereka terhadap pengembangan destinasi wisata. Selain itu, persepsi wisatawan terhadap kualitas fasilitas, infrastruktur, kebersihan, interaksi sosial, serta keaslian budaya lokal terbukti memberikan pengaruh positif terhadap tingkat kepuasan wisatawan. Lebih lanjut, tingkat kepuasan masyarakat lokal dan wisatawan berpengaruh signifikan terhadap dukungan mereka terhadap pengembangan pariwisata berkelanjutan di kawasan Cristo Rei. Temuan ini menegaskan bahwa penerapan pendekatan pengembangan pariwisata yang berbasis masyarakat, partisipatif, dan berorientasi pada keberlanjutan merupakan aspek kunci dalam perumusan kebijakan pengelolaan destinasi wisata di Timor-Leste.
IDENTIFIKASI DAN PENENTUAN PRIORITAS INDIKATOR KEBERLANJUTAN INFRASTRUKTUR GEOWISATA DI GEOPARK KALDERA TOBA
Geopark Kaldera Toba sebagai salah satu sistem kaldera terbesar di dunia memiliki signifikansi geologi dan pariwisata global, namun menghadapi tekanan lingkungan akibat pengembangan infrastruktur pariwisata yang belum sepenuhnya berbasis keberlanjutan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menetapkan prioritas indikator keberlanjutan infrastruktur geowisata sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan di Kawasan Geopark Kaldera Toba. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sekuensial eksploratif, melalui identifikasi dan validasi indikator secara kualitatif menggunakan kajian literatur dan wawancara mendalam, serta penentuan bobot dan prioritas indikator secara kuantitatif menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) berbasis penilaian ahli. Hasil penelitian menunjukkan adanya penambahan indikator kontekstual, yaitu konektivitas antar-geosite, etika ekologis, kemandirian pendanaan, serta koordinasi dan sinergi multi-pihak, yang menegaskan bahwa indikator keberlanjutan bersifat kontekstual dan dipengaruhi oleh karakteristik geopark vulkanik dengan sensitivitas lingkungan dan kompleksitas aktor yang tinggi. Hasil pembobotan menunjukkan bahwa aspek lingkungan merupakan prioritas utama, diikuti oleh kelembagaan, ekonomi, dan sosial-budaya. Pada tingkat indikator, konservasi geologi dan ketahanan lingkungan menjadi fokus utama dimensi lingkungan; kesejahteraan dan pendapatan lokal serta kelayakan finansial pada dimensi ekonomi; edukasi dan peningkatan kesadaran pada dimensi sosial-budaya; serta koordinasi dan sinergi multi-pihak pada dimensi kelembagaan. Struktur prioritas ini menegaskan bahwa keberlanjutan infrastruktur geowisata dipahami sebagai sistem hierarkis, di mana perlindungan warisan geologi dan penguatan tata kelola kelembagaan merupakan prasyarat fundamental bagi keberlanjutan manfaat ekonomi dan sosial-budaya. Kebaruan penelitian ini terletak pada perumusan kerangka indikator keberlanjutan infrastruktur geowisata yang terprioritaskan secara kuantitatif dan kontekstual untuk geopark vulkanik berskala luas, sehingga berkontribusi secara teoretis dan praktis sebagai dasar evidence-based policy yang selaras dengan prinsip UNESCO Global Geopark.
PEMBANGUNAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS WEB UNTUK PROMOSI DAN PEMASARAN KEPARIWISATAAN (STUDI KASUS : KABUPATEN GARUT)
Sektor pariwisata merupakan salah satu industri yang dapat diandalkan untuk meningkatkan Pendapatan Domestik Bruto (PBD) suatu negara. Akan tetapi apabila dilihat dari perbandingan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke negara-negara ASEAN pada tahun 2006 sampai dengan 2009, Indonesia hanya menempati peringkat empat setelah Malaysia, Thailand, dan Singapura. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan angka kunjungan wisatawan adalah memberikan informasi mengenai kepariwisataan di Indonesia secara lengkap dan terintegrasi. Informasi geografis sangat berperan dalam perencanaan wisata dan memandu perjalanan wisatawan. Dengan menggunakan data spasial dan data atribut, Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat menjadi solusi untuk memberikan informasi kepariwisataan. Oleh karena itu pada penelitian ini akan dibuat sebuah SIG berbasis web yang dikembangkan dalam jaringan internet. Pembangunan SIG berbasis web ini akan dilakukan menggunakan perangkat lunak MySQL sebagai sistem manajemen basis data dan Google Maps API untuk visualisasi peta dalam bentuk tampilan antarmuka berbasis web. SIG berbasis web ini diharapkan dapat memperkaya bentuk promosi dan pemasaran sehingga dapat meningkatkan angka kunjungan wisatawan ke Indonesia.
ANALISIS KEBIJAKAN VISA ON ARRIVAL INDONESIA DALAM MENINGKATKAN DAYA SAING PARIWISATA DI KAWASAN ASEAN (STUDI KOMPARASI : INDONESIA, THAILAND, MALAYSIA)
Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi dampak kebijakan Visa on Arrival (VoA) terhadap daya saing pariwisata Indonesia di tengah kompetisi regional ASEAN. Dengan menggunakan pendekatan mixed methods yang menggabungkan analisis data kuantitatif (jumlah kunjungan wisatawan, penerimaan devisa, dan durasi tinggal) serta kualitatif (analisis isi kebijakan, narasi media, dan opini wisatawan mancanegara dari platform Reddit), penelitian ini menyajikan gambaran mendalam tentang efektivitas implementasi kebijakan VoA selama satu dekade terakhir. Temuan mengindikasikan bahwa meskipun kebijakan VoA telah mengalami transformasi signifikan melalui digitalisasi layanan dan perluasan negara eligible, tantangan seperti fragmentasi birokrasi, keterbatasan infrastruktur digital, serta persepsi negatif wisatawan masih menjadi hambatan utama. Perbandingan dengan Thailand dan Malaysia menunjukkan pentingnya integrasi layanan digital dan koordinasi antar-lembaga sebagai faktor penentu daya saing kebijakan visa. Penelitian ini merekomendasikan penguatan sistem e-VoA, peningkatan kolaborasi antar-stakeholder, dan optimalisasi penggunaan big data dari opini wisatawan untuk merancang kebijakan visa yang adaptif dan responsif.
HUBUNGAN PERKEMBANGAN SEKTOR PARIWISATA DAN KINERJA PEREKONOMIAN DAERAH (STUDI KASUS: PROVINSI DI PULAU JAWA)
Kontribusi sektor pariwisata terhadap kinerja ekonomi di Pulau Jawa menunjukkan variasi antardaerah sehingga diperlukan analisis mendalam untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara perkembangan pariwisata dan kinerja perekonomian provinsi di Pulau Jawa dalam jangka pendek dan panjang, menggunakan model ARDL, dengan data sekunder tahun 2000-2024. Variabel yang diteliti mencakup kinerja ekonomi yaitu: PDRB, TPT, Rasio Gini, dan Tingkat Kemiskinan, serta variabel pariwisata, yaitu: jumlah wisatawan, LOS, TPK, jumlah hotel dan restoran, pengeluaran wisatawan, jumlah DTW, investasi, dan aksesibilitas. Hasil analisis menunjukkan bahwa sektor pariwisata berkontribusi positif terhadap pertumbuhan PDRB di seluruh provinsi, meskipun dampaknya terhadap aspek sosial-ekonomi berbeda-beda. Di Banten, pengeluaran wisatawan menjadi penggerak utama ekonomi, namun penurunan TPT dan kemiskinan lebih dipengaruhi oleh investasi, sementara aktivitas wisata dari jumlah wisatawan dan perkembangan akomodasi yang tidak terkelola justru dapat berdampak negatif. Di DKI Jakarta kontribusi pariwisata bersifat jangka pendek, dengan pengurangan TPT lebih dipengaruhi oleh LOS, belanja wisatawan, serta jumlah hotel dan restoran. Investasi juga turut berkontribusi, namun risiko ketimpangan dan kemiskinan meningkat jika infrastruktur tidak inklusif. Di Jawa Barat, kontribusi jangka panjang dari aktivitas akomodasi dan belanja wisatawan terhadap PDRB dinilai kuat, ditambah dengan investasi sebagai faktor pendukung kesejahteraan, meskipun aksesibilitas dan daya tarik wisata menjadi perhatian. DI Yogyakarta menunjukkan dampak positif secara masif terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan, namun lonjakan wisatawan tanpa pengelolaan yang baik dapat memperburuk ketimpangan. Kemudian, PDRB Jawa Tengah didukung oleh kunjungan wisatawan, tetapi peningkatan destinasi tanpa tata kelola yang memadai dapat memperburuk pasar tenaga kerja, dimana investasi dan lama tinggal tetap menjadi faktor pendukung. Sementara itu, di Jawa Timur, pariwisata berkontribusi terhadap PDRB melalui hotel, restoran, pengeluaran, dan aksesibilitas, namun hanya investasi yang secara konsisten mendukung kesejahteraan. Aktivitas wisata yang tidak terkelola dapat meningkatkan tekanan sosial-ekonomi di Jawa Timur. Optimalisasi peran pariwisata provinsi di Pulau Jawa menuntut strategi pengelolaan yang berorientasi pada kualitas, keberlanjutan, dan inklusivitas melalui pembangunan infrastruktur yang adil dan terhubung, integrasi investasi dengan pemberdayaan lokal, penguatan tata kelola destinasi, pelibatan masyarakat, serta penerapan sistem monitoring lintas sektor untuk mengevaluasi dampak sosial-ekonomi secara menyeluruh.
DAMPAK INTRA DAN ANTAR DAERAH PENGELUARAN WISATAWAN MANCANEGARA: ANALISIS INTER-REGIONAL INPUT-OUTPUT (IRIO)
Pertumbuhan sektor pariwisata telah terbukti menjadi salah satu pendorong utama ekonomi global. Di Indonesia, strategi pembangunan berkelanjutan yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005- 2025 menetapkan pariwisata sebagai sektor unggulan untuk meningkatkan daya saing ekonomi. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 menargetkan pendapatan sebesar 30 miliar dolar AS dari sektor pariwisata pada tahun 2024, dengan proyeksi 22,3 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan 350-400 juta perjalanan wisatawan nusantara (wisnus). Untuk mendukung implementasi ini, Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2017 tentang Sinkronisasi Perencanaan dan Penganggaran menegaskan pariwisata sebagai salah satu pilar Prioritas Nasional ke-3: peningkatan nilai tambah ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Pemerintah juga berfokus pada pembangunan lima Destinasi Super Prioritas (DSP)—Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang—yang diatur dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS) melalui PP Nomor 50 Tahun 2011. Pandemi Covid-19, bagaimanapun, memberikan pukulan signifikan pada sektor pariwisata. Pembatasan mobilitas dan penutupan destinasi menyebabkan anjloknya angka kunjungan wisatawan, sehingga target RPJMN belum terealisasi dengan baik. Namun, dengan pemulihan ekonomi global, sektor ini mulai menunjukkan kebangkitan. Pada 2023, jumlah kunjungan wisman naik 98,3% menjadi 11,67 juta, dengan pendapatan devisa mencapai 14 miliar dolar AS. Pemulihan ini berdampak positif pada sektor terkait seperti transportasi, akomodasi, dan konsumsi makanan dan minuman, yang menunjukkan efek ganda (multiplier effect) terhadap ekonomi lokal dan regional. Penelitian ini mengevaluasi dampak ekonomi dari pengeluaran wisatawan mancanegara di lima DSP menggunakan model Inter-Regional Input-Output (IRIO). Analisis difokuskan pada keterkaitan sektor ekonomi, angka pengganda terhadap output, pendapatan, dan nilai tambah, serta dampak limpahan antarwilayah (spillover effect). Hasil analisis menunjukkan keterkaitan backward linkage yang kuat di sektor ketenagalistrikan, industri makanan dan minuman, serta perdagangan besar dan eceran, yang berperan penting dalam mendukung sektor-sektor hulu di kawasan DSP. Sementara itu, forward linkage menegaskan peran sektor perdagangan dan transportasi darat dalam mendorong kegiatan ekonomi hilir yang melayani kebutuhan wisatawan, seperti akomodasi, makanan, dan transportasi. Analisis dampak pengganda menunjukkan bahwa kontribusi ekonomi sektor pariwisata signifikan. Angka pengganda tipe-1 (efek langsung dan tidak langsung) dan tipe-2 (efek dengan tambahan induksi konsumsi rumah tangga) mengindikasikan bahwa peningkatan pendapatan rumah tangga berperan penting dalam mendorong aktivitas ekonomi. Sektor angkutan udara, jasa perusahaan, serta penyediaan makanan dan minuman mencatat angka pengganda output tertinggi. Misalnya, sektor angkutan udara di Sulawesi Utara memiliki angka pengganda output sebesar 2,0357, menunjukkan dampak ekonomi signifikan di provinsi tersebut. Distribusi dampak ekonomi dari pengeluaran wisman menunjukkan kontribusi yang relatif merata antara dampak langsung, tidak langsung, dan induksi. Di Sumatera Utara, dampak langsung tercatat sebesar 39,61%, efek tidak langsung 29,13%, dan efek induksi 31,27%, menandakan kontribusi konsumsi rumah tangga yang signifikan. Analisis dampak limpahan mengungkapkan bahwa dampak ekonomi tidak hanya terjadi di DSP tetapi juga merambat ke provinsi lain, khususnya Jawa. Sebagai contoh, sekitar 41,18% dampak output dari pengeluaran wisman di Sumatera Utara menyebar ke luar provinsi. Namun, dampak limpahan pada DSP di kawasan timur Indonesia, seperti Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Utara, masih lebih terbatas. Hasil penelitian ini menggarisbawahi pentingnya kebijakan yang berfokus pada optimalisasi sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi. Pemerintah perlu memperkuat sektor strategis seperti industri makanan dan minuman, perdagangan, serta energi. Pengembangan infrastruktur fisik dan digital guna mendukung konektivitas dan mobilitas wisatawan juga menjadi prioritas. Pemberdayaan masyarakat lokal melalui peningkatan kapasitas tenaga kerja dan pengembangan ekowisata akan memastikan manfaat ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Secara akademis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan metode analisis IRIO dalam mengukur dampak ekonomi pariwisata antarwilayah. Secara praktis, hasil studi dapat dijadikan acuan bagi pemangku kebijakan dalam merumuskan strategi pembangunan pariwisata berkelanjutan, meningkatkan integrasi ekonomi antarwilayah, serta memastikan sektor pariwisata berperan signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan regional.
PENGEMBANGAN TRANSPORTASI PUBLIK BERWAWASAN EKOWISATA UNTUK MENINGKATKAN AKSESIBILITAS DESA WISATA SITUS GUNUNG PADANG
Sektor pariwisata telah menjadi salah satu penggerak utama perekonomian global, dengan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berbagai negara, termasuk Indonesia. Pada tahun 2023, pariwisata menyumbang sekitar 3,9 persen kepada PDB Indonesia (Kemenparekraf, 2024). Namun, kesuksesan pariwisata erat kaitannya dengan transportasi, dan transportasi tercatat sebagai salah satu sumber konsumsi energi terbesar dalam aktivitas pariwisata, bahkan hingga 90 persen (Gossling, 2002). tingkat konsumsi energi yang ini juga sejalan dengan tingkat kerusakan lingkungan yang dihasilkan oleh transportasi di kawasan wisata seperti polusi air, udara, bahkan suara. Desa wisata merupakan kawasan yang khususnya rentan terhadap dampak dari transportasi yang tidak berkelanjutan. Penggunaan mobil pribadi sebagai moda transportasi wisatawan telah tercatat berkontribusi terhadap penurunan kualitas lingkungan di kawasan wisata dan sekitarnya di Indonesia. Dengan melakukan wawancara dengan stakeholder terkait, serta melakukan studi literatur dan studi lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang kendaraan untuk transportasi umum untuk meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas wisatawan sekaligus dengan menurunkan volume penggunaan kendaraan pribadi. Dengan menggunakan prisip ekowisata sebagai acuan, desain akhir menghasilkan kendaraan yang memaksimalkan kepuasan wisatawan dengan meminimalisir dampak buruk ke alam dan warga setempat.
PERANCANGAN PUSAT WISATA GASTRONOMI PALEMBANG SEBAGAI IKON KOTA DAN DESTINASI WISATA
Di tengah potensi besar sektor pariwisata dan kuliner, Kota Palembang, Sumatera Selatan, menarik perhatian dengan kekayaan warisan budaya dan kuliner lokalnya. Namun, kurangnya eksposur serta fasilitas yang memadai menyebabkan keunggulan ini kurang dikenal. Untuk mengatasi permasalahan ini, direncanakan sebuah Pusat Wisata Gastronomi yang bertujuan untuk mengintegrasikan edukasi, rekreasi, dan kewirausahaan. Fasilitas ini tidak hanya berfungsi sebagai tujuan wisata, tetapi juga sebagai ikon kota yang menawarkan pengalaman unik. Dengan mengadopsi prinsip desain interior yang mengutamakan pengalaman pengguna, ruang-ruang di dalam pusat ini dirancang untuk menciptakan perjalanan yang mendalam. Area pameran menyajikan narasi budaya dan sejarah kuliner Palembang melalui instalasi interaktif, sementara zona kuliner yang terintegrasi, termasuk restoran dan kios makanan, dirancang untuk mendorong eksplorasi. Dilengkapi juga dengan kebun urban yang berperan sebagai elemen edukasi dan penyeimbang visual, menciptakan suasana yang menyegarkan. Ruang kolaborasi berupa studio dan auditorium di pusat ini menyediakan wadah bagi para ahli gastronomi dan pelaku kuliner untuk berinteraksi dan berinovasi. Melalui pemilihan material yang mencerminkan tradisi Palembang, desain interior fasilitas ini menginterpretasikan budaya lokal dalam konteks yang modern. Pusat ini bertujuan untuk memperkenalkan kehidupan masyarakat dan gastronomi Palembang secara menarik dan edukatif, serta menjadi penggerak pelestarian budaya dan pertumbuhan ekonomi lokal.
REDESAIN BANDARA SISINGAMANGARAJA XII SEBAGAI GERBANG PARIWISATA DI KAWASAN DANAU TOBA
Bandara Sisingamangaraja XII memiliki peran penting sebagai gerbang menuju kawasan wisata Danau Toba. Namun, infrastrukturnya belum sepenuhnya mendukung proyeksi Sumatera Utara sebagai destinasi pariwisata internasional. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan program perancangan dan konsep desain sebagai rekomendasi pembaruan bandara guna memenuhi ekspektasi industri pariwisata. Desain ini mengadopsi prinsip Customer Journey Mapping (CJM) dengan Airport Experience untuk menganalisis dan meningkatkan pengalaman wisatawan dari kedatangan hingga keberangkatan. Pendekatan ini memastikan bahwa bandara tidak hanya memenuhi kebutuhan fungsional tetapi juga menciptakan pengalaman yang lebih mendalam dan berkesan. Proyek ini menerapkan elemen budaya Batak Toba dalam desain interior bandara, memperkuat identitas lokal sekaligus menghadirkan nuansa khas yang mencerminkan kekayaan budaya setempat. Penerapan ini dilakukan melalui eksplorasi artefak adat Batak, seperti arsitektur ruma bolon, kain ulos, dan ukiran gorga. Hasil perancangan ini diharapkan menjadi landasan bagi pengembangan fasilitas dan layanan Bandara Sisingamangaraja XII yang lebih baik, guna mendukung pertumbuhan pariwisata di kawasan Danau Toba.
PERSEPSI MASYARAKAT LOKAL TERHADAP DAMPAK DAN KEBERLANJUTAN PENGEMBANGAN PARIWISATA DI KEY TOURISM AREA (KTA) RINJANI DAN MANDALIKA, LOMBOK
Pariwisata secara substansi menciptakan perputaran ekonomi dan peningkatan pembangunan. Lanskap alam yang indah, sosial dan kebudayaan menjadi potensi besar pengembangan pariwisata yang diklaim memiliki daya tarik wisatawan untuk melepas aktivitas padat perkotaan, menyelami kehidupan dan budaya lokal dan menikmati alam. Mengingat perkembangan pariwisata dan dukungan pembangunan infrastruktur di daerah pedesaan Lombok, memahami dampak besarnya pada masyarakat lokal menjadi bagian yang penting, karna perubahan menimbulkan peluang sekaligus tantangan. Penelitian ini secara khusus memeriksa kontribusi pariwisata terhadap sosial dan ekonomi masyarakat lokal Lombok, di KTA Rinjani dan KTA Mandalika. Penelitian ini menggunakan mix-method; observasi untuk memetakan area penelitian, survei kuesioner untuk meninjau persepsi masyarakat terhadap dampak pariwisata pada konteks sosial dan ekonomi, dan wawancara untuk mengkonfirmasi temuan. Temuan peneliti memverifikasi dampak positif sosial dan ekonomi pengembangan pariwisata berpengaruh signifikan terhadap keberlanjutan di KTA Rinjani dan KTA Mandalika. Dampak negatif sosial dan ekonomi berpengaruh signifikan terhadap keberlanjutan di KTA Mandalika, sementara di KTA Rinjani tidak signifikan. Lebih jauh, temuan tersebut mengkonfirmasi perlunya pendekatan yang berbeda untuk mencapai pengembangan pariwisata yang berkelanjutan di ke dua destinasi; KTA Rinjani lebih dianjurkan menggunakan pendekatan positif, sementara KTA Mandalika mengadopsi pendekatan multidimensi
ANALISIS DAYA SAING PARIWISATA DI KABUPATEN ACEH SINGKIL DAN KABUPATEN SIMEULUE SEBAGAI INISIASI PENETAPAN KAWASAN EKONOMI KHUSUS (KEK) PARIWISATA SINGKIL-SIMEULUE
Pariwisata merupakan salah satu penggerak utama dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah, terutama di wilayah pesisir dan kepulauan yang memiliki kekayaan sumber daya alam dan budaya. Kabupaten Aceh Singkil dan Kabupaten Simeulue di Provinsi Aceh memiliki potensi besar dalam pengembangan wisata bahari, ekowisata, dan budaya. Namun demikian, kedua wilayah ini masih menghadapi tantangan dalam aspek pengelolaan, infrastruktur, serta rendahnya daya saing destinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat daya saing sektor pariwisata di Kabupaten Aceh Singkil dan Kabupaten Simeulue sebagai dasar usulan pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Singkil–Simeulue, sebagaimana tercantum dalam Peraturan Gubernur Aceh No. 06 Tahun 2022 tentang Rencana Pembangunan Aceh 2022–2026. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan Competitiveness Monitor, yang mencakup delapan indikator utama dan diselaraskan dengan pendekatan Travel and Tourism Development Index (TTDI), serta variabel relevan dari PP No. 40 Tahun 2021 mengenai KEK. Data yang digunakan bersifat sekunder dan dianalisis secara komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Simeulue unggul pada indikator keterbukaan, SDM, dan lingkungan, sementara Aceh Singkil lebih menonjol pada kemajuan teknologi dan lingkungan. Kedua kabupaten sama-sama lemah pada aspek infrastruktur dan pengembangan sosial. Secara umum, keduanya memiliki daya saing pariwisata yang cukup berdaya saing. Rekomendasi diarahkan pada penguatan kapasitas SDM, digitalisasi sektor pariwisata, dan pembangunan infrastruktur terpadu. Strategi ini diharapkan dapat memperkuat posisi daya saing dan mempercepat realisasi KEK Pariwisata Singkil–Simeulue.