📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 1 dokumen

PERANCANGAN SISTEM PASCAPANEN PEPAYA CALIFORNIA (CARICA PAPAYA L. VAR. CALINA) SKALA INDUSTRI MENENGAH DENGAN INOVASI RIPENING MENGGUNAKAN GAS ETILEN DAN CAHAYA LIGHT EMITTING DIODE (LED) MERAH UNTUK MENINGKATKAN KESERAGAMAN KEMATANGAN

Pepaya (Carica papaya L.) merupakan komoditas buah tropis Indonesia dengan produksi nasional mencapai 12.813.072,37 kuintal pada tahun 2025. Salah satu varietas pepaya yang banyak dibudidaya dan dikonsumsi masyarakat Indonesia adalah pepaya calina (Carica papaya L. var calina) atau sering disebut sebagai pepaya california. Komoditas ini bernilai ekonomi tinggi karena kandungan vitamin C, karotenoid, dan enzim papain yang tinggi, serta masa panen awal 7-9 bulan setelah tanam. Tantangan utama dalam pascapanen pepaya california adalah ketidakseragaman kematangan (uneven ripening) yang ditandai belang warna dan pelunakan tidak merata, sehingga menurunkan daya tarik visual dan harga jual pada segmen pasar premium. Permasalahan ini mendorong perancangan sistem pascapanen dengan inovasi berupa proses ripening menggunakan gas etilen dan cahaya LED merah pada Pressurized Ripening Room (PRR) untuk menghasilkan pepaya matang secara seragam. Gas etilen meningkatkan laju respirasi, aktivitas enzim pendegradasi dinding sel, konversi pati menjadi gula sederhana, dan perubahan warna kulit buah. Penyinaran LED merah mengaktifkan dan meningkatkan biosintesis karotenoid sehingga mempercepat dan menyeragamkan perubahan warna hijau menjadi warna kuning atau jingga pada kulit pepaya. Pemilihan inovasi berdasarkan pada analisis komparatif Gross Profit Margin (GPM) terhadap 3 alternatif proses pematangan (ripening). Proses ripening alur eksisting dilakukan setelah proses pengemasan dan secara konvensional (tanpa kontrol distribusi gas etilen dan suhu) menghasilkan warna dan tingkat kematangan yang tidak seragam sehingga menurunkan harga jual. Pascapanen pepaya pada kondisi eksisting menghasilkan GPM sebesar 13,14%. Proses ripening alur inovasi I dilakukan sebelum proses pengemasan serta menggunakan gas etilen dan LED merah tanpa Pressurized Ripening Room (PRR). Inovasi I dapat meningkatkan GPM menjadi 21,31%, namun kematangan antar buah masih belum seragam karena proses ripening dilakukan secara konvensional sehingga distribusi etilen dan suhu tidak merata di setiap bagian buah. Proses ripening alur inovasi II menggunakan gas etilen dan LED merah dalam PRR, kemudian dilanjutkan proses grading II berbasis warna. Buah disusun di atas rak di dalam PRR sebelum proses pengemasan sehingga seluruh permukaan buah terpapar gas etilen, suhu, dan cahaya secara merata melalui sistem sirkulasi udara bertekanan positif. Inovasi II dapat menghasilkan GPM tertinggi sebesar 36,85%. Peningkatan ini dicapai karena PRR memastikan distribusi gas etilen dan suhu yang homogen, serta meningkatkan jumlah buah yang masuk ke kualitas premium dengan harga jual lebih tinggi. Berdasarkan hal tersebut, inovasi II dipilih sebagai rancangan industri pascapanen pepaya california. Inovasi II pada perancangan industri ini juga menerapkan sistem pascapanen iv terintegrasi yang terdiri dari 12 unit operasi dengan menerapkan Good Handling Practices (GHP), Good Manufacturing Practices (GMP), dan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP). Alur produksi dimulai dari unit penerimaan bahan baku pepaya segar sebesar 6.700 kg per hari dari petani mitra, unit sortasi dengan berdasarkan standar panen 120-125 Hari Setelah Antesis (HSA) atau warna 25% kuning, unit pencucian, unit perlakuan air panas (Hot Water Treatment, HWT), dan penirisan. Setelah itu, buah melewati grading I berdasarkan bobot (grade S: 1-1,5 kg dan grade A: 0,8-0,99 kg), unit pematangan Pressurized Ripening Room dengan inovasi gas etilen dan LED merah. Setelah pematangan, buah melewati unit grading II berdasarkan keseragaman warna (grade S1: bobot 1-1,5 kg dengan warna ?75% kuning/jingga, grade A1: bobot 0,8-0,99 kg dengan warna ?75% kuning/jingga, grade S2: bobot 1,0-1,5 kg dengan warna 50-74,99% kuning/jingga, dan grade A2: bobot 0,8-0,99 kg dengan warna 50-74,99% kuning/jingga), unit pelabelan buah, unit pengemasan dalam kardus corrugated fiber board, unit penyimpanan, dan unit distribusi menggunakan mobil truk berpendingin ke supermarket modern dan toko buah premium. Kapasitas produksi pepaya grade S1 sebesar 4.899,96 kg atau 4.083 buah per hari dan grade A1 sebesar 1.633,39 kg atau 1.815 buah per hari sebagai produk premium. Sekitar 10% output pematangan merupakan grade S2 dan A2 yang belum memenuhi standar kualitas keseragaman warna untuk grade S1 dan A1, sehingga dilakukan proses pematangan kembali hingga mencapai kualitas premium. Pepaya california grade S1 disuplai dengan harga dasar Rp21.000 per buah dan grade A1 dijual dengan harga dasar Rp18.000 per buah. Kedua grade tersebut memenuhi persyaratan Extra Class standar internasional Codex Alimentarius (CXS 183-1993) dan Kelas Super SNI 4230-2009. Setiap buah dilengkapi label merek "Calinova Freshindo" dan dikemas dalam kardus corrugated fiber board. Proses produksi dan produk pepaya yang dihasilkan dirancang untuk memenuhi sertifikasi ISO 22000, ISO 45001, GHP, HACCP, BPOM, dan Sertifikat Prima Produk Bahan Pangan (SPPB). Total investasi awal perancangan industri ini sebesar Rp6.368.073,76. Biaya operasional tahunan dari industri ini mencapai Rp33.818.815.591. Total proyeksi pendapatan per tahun sebesar Rp42.076.126.463 dari penjualan grade S1 dan A1, setelah memperhitungkan PPN 11% dan faktor inflasi harga pangan 2,9%. Hasil analisis kelayakan finansial menunjukkan Net Present Value (NPV) positif sebesar Rp7.257.530.270, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 42% yang lebih besar dari cost of capital 5,75%, Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C) sebesar 2,14, dan Payback Period selama 1,98 tahun. Break Even Point unit dan harga grade S1 masing-masing tercapai pada 969.946 kg/tahun dan Rp19.473.537.278/tahun, sedangkan Break Even Point unit dan harga grade A1 masing-masing tercapai pada 431.087 kg/tahun dan Rp8.654.905.457/tahun. Analisis sensitivitas menunjukkan usaha masih layak hingga terjadi kenaikan biaya bahan baku maksimum sebesar 19%, namun dengan penurunan harga jual dan/atau volume produksi maksimum sebesar 5%. Secara keseluruhan, rancangan industri ini memiliki profitabilitas dan ketahanan finansial yang baik dan layak diimplementasikan sebagai industri pascapanen pepaya berskala komersial.

2026
👤 Penulis: Andian Sandi Pamungkas
🏷️ Pascapanen Buah 🏷️ Inovasi Ripening 🏷️ Manajemen Rantai Pasok
💬