📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 14 dokumenANALISIS DAN REKOMENDASI MITIGASI KENAIKAN MUKA AIR AKIBAT SIKLON SEROJA DAN DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DI PESISIR KOTA KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR
Kota Kupang merupakan salah satu wilayah pesisir di Nusa Tenggara Timur dengan risiko bencana banjir yang sangat tinggi akibat letak geografisnya yang rentan terhadap ancaman siklon tropis, pengaruh pasang surut, serta curah hujan ekstrem. Fenomena historis Siklon Tropis Seroja pada tahun 2021 menjadi bukti nyata kerentanan kawasan ini. Salah satu kawasan kritis yang menghadapi tantangan ini adalah koridor pesisir Pantai Batu Kepala, Pantai Pasir Panjang, hingga Pantai Kelapa Lima yang berinteraksi langsung dengan muara sistem drainase makro kota. Lingkup penelitian mencakup pemodelan hidrodinamika terintegrasi menggunakan dua perangkat lunak utama: Delft3D (Delft Dashboard dan Delft3D-Flow FM) untuk mensimulasikan gaya pembangkit atmosferik, pembuatan spiderweb files lintasan siklon, dan dinamika pantai, serta HECRAS untuk mengevaluasi perambatan luapan banjir (flood inundation) lateral di daratan perkotaan. Analisis dilakukan dengan mensimulasikan interaksi antara debit banjir hulu (skenario hujan ekstrem Q25) dengan kondisi batas hilir (downstream boundary) yang bervariasi, meliputi skenario pasang surut murni (tidal), skenario historis Siklon Seroja, hingga skenario proyeksi perubahan iklim masa depan memanfaatkan multi-dataset STORM (ECEARTH, CNRM, HADGEM, dan CMCC).
PENGEMBANGAN MODEL BISNIS TERPADU BERKELANJUTAN STASIUN PENGISIAN KENDARAAN LISTRIK UMUM (SPKLU) DI INDONESIA
Pemanasan global merupakan permasalahan penting yang menjadi perhatian bagi seluruh dunia karena berdampak pada perubahan lingkungan. Emisi gas karbon dioksida (CO2) menjadi penyumbang utama dalam pemanasan global, dengan sumber utamanya adalah sektor transportasi. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor transportasi mengalami transformasi yang signifikan karena adanya kendaraan listrik. Percepatan adopsi kendaraan listrik menjadi salah satu upaya untuk mengurangi emisi gas CO2 di Indonesia. Salah satu upaya untuk mendukung promosi industri kendaraan listrik adalah melalui pengembangan dan peningkatan kualitas infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik, yakni Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). SPKLU menjadi pendukung para pengguna kendaraan listrik yang melakukan pengisian daya di luar rumah. Namun melihat kondisi SPKLU di Indonesia saat ini masih belum dapat memberikan layanan interoperabilitas, yang meningkatkan pengalaman pelanggan. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus yang meneliti terkait pengembangan model bisnis terpadu SPKLU yang berorientasi pada tujuan keberlanjutan, sebagai bentuk upaya mendukung tercapainya Net Zero Emision (NZE) 2060. Pengembangan model bisnis terpadu berkelanjutan SPKLU dalam penelitian ini memadukan pendekatan Ecosystem Pie Model (EPM) untuk mengidentifikasi entitas dalam ekosistem SPKLU dengan Triple Layered Business Model Canvas (TLBMC) untuk menggambarkan secara detail kondisi bisnis pada lapisan ekonomi, lingkungan, dan sosial. Hasil pengembangan model dalam penelitian ini dapat menjadi peluang untuk para pelaku bisnis dalam mengembangan bisnis SPKLU di Indonesia.
DAMPAK PERUBAHAN GARIS PANTAI TERHADAP KEGIATAN SOSIAL DAN EKONOMI MASYARAKAT WILAYAH PESISIR (WILAYAH STUDI: KABUPATEN INDRAMAYU)
Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari + 17.508 pulau serta wilayah pesisir dan laut mencapai 63% dari wilayah Indonesia secara keseluruhan. Terkait dengan fenomena dinamika pantai seperti abrasi dan sedimentasi, wilayah pesisir merupakan wilayah yang terkena langsung dampak dari dinamika pantai tersebut. Dengan adanya fenomena dinamika pantai ini maka akan mempengaruhi luas wilayah pesisir. Rasio lahan terbentuk dari komponen wilayah dan penduduk. Luas wilayah yang cenderung tetap bahkan berkurang dan jumlah penduduk yang semakin bertambah mempengaruhi besar rasio lahan dan berdampak pada pola hidup masyarakat. Besarnya dinamika pantai diturunkan dari citra satelit wilayah pesisir Kabupaten Indramayu tahun 1994 dan 2007. Hubungan antara dinamika pantai dengan aspek sosial masyarakat pesisir Indramayu dapat dilihat dari nilai korelasi dan asosiasi geografikal sedangkan untuk aspek ekonomi dilihat dari nilai regresi dan location quotient. Nilai-nilai tersebut dijadikan sebagai acuan dalam menganalisis kondisi ekonomi dan sosial akibat abrasi.
PEMODELAN SEISMIK SELANG WAKTU UNTUK PEMANTAUAN PLUME CO? PADA PROYEK CCS LAPANGAN “RENDE”, SUMATERA SELATAN
Emisi karbon dioksida (CO?) global telah meningkat pesat dengan aktivitas industri sebagai penyumbang terbesar, khususnya sektor pembangkitan listrik yang dominan menggunakan bahan bakar fosil. Provinsi Sumatera Selatan, salah satu daerah penghasil batu bara dan memiliki banyak PLTU turut berkontribusi pada peningkatan emisi CO?. Untuk mengatasi permasalahan ini, teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) menjadi solusi potensial. CCS melibatkan penangkapan CO? dari sumber emisi industri, transportasi, dan injeksi ke formasi geologi bawah permukaan untuk penyimpanan jangka panjang. Sumatera Selatan merupakan lokasi ideal untuk penerapan CCS karena ketersediaan lapangan minyak dan gas bumi yang telah habis masa produksinya serta dekat sumber emisi CO?. Keamanan dan efektivitas penyimpanan CO? dalam proyek CCS sangat bergantung pada program pemantauan yang berkelanjutan. Pemodelan seismik selang waktu adalah metode yang menjanjikan untuk memantau pergerakan plume CO? yang terakumulasi di bawah permukaan. Metode ini menganalisis perubahan sifat fisik batuan dan fluida yang diakibatkan oleh injeksi CO?. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan skenario injeksi CO? dengan tahapan pembangunan model kecepatan sebelum dan sesudah injeksi CO?, pembuatan rencana survei menggunakan perangkat lunak NORSAR untuk menghasilkan data seismik sintetik format *.SEG-Y. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai kelayakan dan efektivitas metode seismik selang waktu dalam memonitor pergerakan plume CO? pada proyek CCS
IDENTIFIKASI EMISI DAN ANALISIS TRAJEKTORI POLUTAN SEKTOR INDUSTRI DI PULAU JAWA, INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi distribusi spasial emisi udara dari sektor industri manufaktur di Pulau Jawa serta menganalisis pola transportasi polutan menggunakan model backward trajectory HYSPLIT. Perhitungan emisi dilakukan berdasarkan data aktivitas energi dan faktor emisi Tier 1 IPCC. Hasil menunjukkan bahwa pada tahun 2022, beban emisi dari sektor industri manufaktur di Pulau Jawa terdiri atas jenis pencemar NOx sebesar 291.588,19 ton/tahun, SO2sebesar 659.024,45 ton/tahun, PM10 sebesar 267.612,52 ton/tahun, dan PM2,5sebesar 257.363,48 ton/tahun. Jenis industri dengan kontribusi emisi tertinggi mencakup KBLI 104, 108, 239, dan 242, yang mayoritas menggunakan bahan bakar padat. Hasil simulasi HYSPLIT menunjukkan bahwa lintasan polutan dipengaruhi oleh musim dan ketinggian, serta menunjukkan potensi terjadinya transportasi polusi lintas wilayah antarprovinsi. Oleh karena itu, strategi mitigasi yang disarankan mencakup transisi ke bahan bakar rendah sulfur serta penguatan pengendalian emisi dan sistem peringatan dini berbasis CEMS, terutama selama musim kemarau.
PROYEKSI PENGARUH PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAN PERUBAHAN IKLIM TERHADAP POLA HUJAN DI IBU KOTA NUSANTARA MENGGUNAKAN METODE PSEUDO GLOBAL WARMING
Studi sebelumnya menunjukkan bahwa adanya wilayah urban Ibu Kota Nusantara (IKN) mengakibatkan peningkatan temperatur yang menyebabkan Urban Heat Island (UHI) serta perubahan kecepatan angin. Perubahan parameter-parameter iklim ini berpotensi mengubah kestabilan udara dan konvergensi, yang dapat memengaruhi pembentukan awan dan presipitasi. Oleh karena itu, diperlukan suatu penelitian yang dapat memproyeksikan pengaruh perubahan tutupan lahan dan perubahan iklim terhadap pola hujan di IKN. Penelitian ini menggunakan model Weather Research and Forecasting (WRF) dengan pendekatan Pseudo Global Warming (PGW) untuk mengkuantifikasi dampak perubahan iklim masa depan. Simulasi dilakukan dengan empat skenario, yaitu HIST_noIKN, HIST_IKN, FUTR_noIKN, dan FUTR_IKN. Pendekatan ini memungkinkan analisis komprehensif terkait kontribusi relatif urbanisasi dan pemanasan global terhadap parameter meteorologi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa urbanisasi di IKN menyebabkan peningkatan temperature, terutama pada skenario FUTR_IKN suhu meningkat lebih dari 2,5°C. Kenaikan temperatur ini diikuti oleh perubahan signifikan pada distribusi spasial dan pola temporal curah hujan, dengan penurunan intensitas hujan yang paling dominan terjadi di wilayah barat IKN, sementara wilayah utara dan selatan, khususnya area laut, justru mengalami peningkatan curah hujan. Selain itu, distribusi temporal menunjukkan penurunan hujan terutama pada pagi hingga siang hari yang sebelumnya merupakan periode puncak presipitasi, sedangkan peningkatan hujan relatif lebih banyak terjadi pada malam hari. Pola ini konsisten dengan hasil analisis moisture flux convergence yang memperlihatkan pelemahan konvergensi dan munculnya zona divergensi akibat perlambatan angin di wilayah urban IKN.
STUDI PENGURANGAN GAS RUMAH KACA DARI AKTIVITAS TRANSPORTASI MAHASISWA DENGAN MENGGUNAKAN TRANSPORTASI ALTERNATIF
Gas Rumah Kaca (GRK) merupakan penyumbang terbesar terhadap pemanasan global, dan salah satu sumber utamanya adalah aktivitas transportasi, selain itu berbagai jenis transportasi juga menghasilkan GRK pada tingkat yang berbeda. Studi ini mengevaluasi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) tingkat 2—khususnya CO2, N2O, dan CH4—dengan menggunakan Pedoman Teknis Inventarisasi Pencemaran Udara Perkotaan, yang disediakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia. Karena kurangnya faktor emisi khusus transportasi, studi ini menggabungkan metode CORINAIR Tier 2 untuk CO2 dan N2O, sedangkan faktor emisi CH4 bersumber dari United States Environmental Protection Agency (USEPA). Total emisi GRK dari mahasiswa per semester berjumlah 178.453 TonCO2e, dengan rata-rata per kapita 50,24 kgCO2e, dan nilai per jarak tempuh 71,96 gCO2e/km. Selain itu, dilakukan pula penelitian tentang kriteria pemilihan moda transportasi menggunakan metode "Best to Worst" yang menawarkan wawasan untuk kebijakan dan pengambilan keputusan di masa mendatang. Penelitian ini lebih jauh mengeksplorasi variasi pilihan transportasi di 12 fakultas di kampus ITB Ganesha, menganalisis perbedaan berdasarkan jenis kelamin dan golongan pengeluaran bulanan. Penelitian ini menyediakan data berharga untuk memandu kebijakan transportasi yang lebih berkelanjutan di lingkungan perkotaan. Terakhir, penelitian ini juga mencakup skenario pengurangan GRK, berdasarkan tingkat adopsi moda transportasi alternatif yang disukai.
B2B STRATEGI MARKETING UNTUK PRODUK HIJAU BARU: PERALATAN SISTEM DISTRIBUSI LISTRIK
Pada masa kini pemanasan global merupakan aspek penting yang mempengaruhi preferensi manusia terhadap produk dan kegiatan. Berbagai usaha untuk mengurangi akibat dari pemanasan global bertujuan untuk mencapai lingkungan yang berkelanjutan. Mengembangkan produk baru yang hijau serta memenuhi regulasi di masa depan merupakan salah satu usaha untuk mencapai keberlanjutan. Untuk mendukung kebutuhan pelanggan terkait pengurangan emisi, KLM Power mengembangkan produk baru yang ramah lingkungan untuk panel hubung bagi tegangan menengah. KLM Power membutuhkan strategi arsitektur pemasaran baru meliputi strategi, taktik dan nilai perusahaan, untuk mendapatkan kesempatan dalam bisnis di masa depan. Dalam penelitian ini akan di jelaskan kondisi pasar untuk produk hijau, segmen pasar mencakup target segmen dan positioning, dan arsitektur pemasaran B2B yang mencakup strategi, taktik, dan nilai untuk mendapatkan kesempatan di masa depan. Analisis internal dan external di lakukan untuk mengetahui potensi Perusahaan dan pasar, yang kemudian akan membentuk tujuan strategi, dan arsitektur marketing untuk mencapai hasil yang berkelanjutan.
EVALUATION OF SPARK IGNITION ENGINE FOR RANGE-EXTENDED ELECTRIC VEHICLE
Transportation sector is still one of the most contributing sectors to the emission of carbon footprints in Indonesia. The popularity of electric vehicles provides a chance for the country to reduce the carbon emission in this sector. The fear of limited charging station and limited mileage in electric vehicle result in appearance of range-extended electric vehicle. Together with the urge to elevate local manufacturing industry, a locally produced range-extender engine became a solution to both matters. The object of this study is a locally produced range-extender engine which is located in Gas Engine Laboratory, Bandung Institute of Technology. The evaluation process is done by running the for 30 to 45 minutes with and without radiator water inserted. The condition of the engine will be checked after running e.g. spark plugs, lubrication oil, etc. The evaluation discovers some issues that are present during engine operation. Backfiring occurs due to the clogging of spark plugs and further it can cause several problems such as damage to other components, power loss, increase exhaust gas emission, and decrease the fuel efficiency. The loud popping noise probably comes from the backfire explosion and/or high-pressure steam explosion. It can damage user’s hearing and at worst blow up the engine. The ignition failure is caused by the leaking of oil and water to the combustion chamber which clogs the spark plug. The oil increases the exhaust gas emission and makes moving parts experience more wear. The water in combustion chamber can explode the engine. The leaking of water to the oil system is most likely caused by the damaged head gasket and/or imperfection in engine casting process. It will cause the lubricated parts to experience more wear and corrode the parts. There are several minor issues such as unresponsive throttle button, limited charged battery and leaking dyno cooling water pipeline that has less urgencies to address. The issue encountered needs to be addressed soon to accelerate the development of the Indonesian’s engine technology.
ANALISIS STRATEGI PENCAPAIAN CARBON NEUTRALITY BERDASARKAN INVENTARISASI EMISI GAS RUMAH KACA DI PT X TAHUN 2023
Pemanasan global yang dialami bumi saat ini merupakan kondisi perubahan iklim yang memprihatinkan, sehingga IPCC berupaya menahan peningkatan suhu di bawah 1,5ºC. PT X sebagai industri produksi krimer memiliki aktivitas yang menghasilkan emisi gas rumah kaca, sehingga perlu dilakukan inventarisasi emisi dan perancangan strategi pencapaian carbon neutrality. Inventarisasi emisi gas rumah kaca akan menggunakan pedoman GHG Protocol dan IPCC 2006, sementara perancangan strategi carbon neutrality akan mengikuti pedoman dari The Carbon Neutral Protocol. Sumber emisi PT X berasal dari pembakaran stasioner (14.660,93 tCO?e), pembakaran batu bara (18.153 tCO?e), pembakaran sumber bergerak (62,34 tCO?e), dan penggunaan listrik (1.565,05 tCO?e), dengan total 34.441,626 tCO?e. Untuk mencapai carbon neutrality, pendekatan yang akan digunakan meliputi peningkatan kandungan biodiesel, penerapan co-firing dengan cangkang sawit, pemasangan panel surya atap, transisi pemasokan sumber listrik melalui PLTB dan PLTS, penerapan teknologi CCS, dan penyerapan karbon dengan biochar. Tiga skenario pencapaian carbon neutrality dirancang sesuai tingkat komitmen finansial perusahaan. Skenario minimum mencapai carbon neutrality sebesar 11,02%, sedangkan skenario moderat mencapai 26,59%, dan skenario maksimum mencapai target 100%.
PENILAIAN KELAYAKAN KEUANGAN DAN RISIKO TINGKAT LANJUT PEMBANGKIT PANAS BUMI BINER INDONESIA DENGAN INTEGRASI KREDIT KARBON
Pemanasan global adalah permasalahan yang mendesak. NASA telah memperkirakan wabhwa 15 bulau di Asia Tenggara akan tenggelam pada tahun 2100, sebagai akibat dari peningkatan permukaan laut global setinggi 0,77cm pada tahun 2022-2023. Suhu global meningkat 1,48’C lebih tinggi dari tingkat praindustri pada tahun 2023. Indonesia harus meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan dan efisiensi energi. Pada tahun 2030, konsumsi energi akan meningkat sebesar 3% dan permintaan listrik sebesar 8.5%, dengan bahan bakar fosil memenuhi dua pertiga permintaan dan emisi CO2 meningkat 35%. Studi ini mengevaluasi kelayakan tekno-ekonomi pembangkit listrik tenaga panas bumi Indonesia Organic Rankine Cycle (ORC) 53,5 MW menggunakan kredit karbon. Potensi panas bumi di Indonesia adalah sebesar 40% dari sumber daya global, tetapi biaya dimuka yang tinggi, dukungan regulasi yang tidak memadai dan adanya hambatan teknis yang membatasi pengembangan panas bumi. Pembangkit listrik Panas Bumi ORC yang fleksibel dan efisien memberikan daya beban dasar yang stabil untuk sumber daya bersuhu rendah hingga sedang, studi ini menerapkan perangka lunak RET Screen untuk Analisa tekno-ekonomi, sensitivitas dan penilaian risiko untuk menganalisis kelayakan proyek dalam berbagai scenario. Biaya awal, pengeluaran operasi dan pemeliharaan, pembangkit energi dan pengurangan GRK dianalisa secara rinci. Net Present Value (NPV), Internal Return of Rate (IRR) dan Levelized Cost of Energy (LCOE) dihitung untuk emoat scenario: i. insentif minimal, ii. Peningkatan insentif kredit karbon; iii. Memperpanjang umur proyek dengan manfaat pajak; iv. Scenario yang dioptimalkan dengan harga kredit karbon yang tinggi. Ndengan IRR ekuitas sebelum pajak sebesar 20,7% dan NPV sebesar $97,52 juta, proyek ini layak secara komersial dengan harga $2/ton CO2 di Indonesia. menaikkan harga kredit karbon menjadi $18/ton CO2 meningkatkan IRR menjadi 26,1% dan NPV menjadi $142,74 juta. Periode pengembalian ekuitas 2,9 tahun dan penurinan LCOE dicapai dengan memperpanjang umur proyek menjadi 30 tahun dan mengunakan harga kredit karbon sebesar $46/ton CO2. Data ini menunjukkan bagaimana harga karbon mempengaruhi profitabilitas investasi panas bumi. Mengoptimalkan eksplorasi panas bumi dan mengadopsi teknologi inovatif dapat memangkas pengeluaran dan mempercepat progress. Terinspirasi dari Filipina dan Kenya, insentif pemerintah, pemotongan pajak, dan persetujuan yang lebih cepat dapat membuat proyek panas bumi layak secara finansial dan membantu Indonesia mencapai tujuan nol emisi karbon pada tahun 2060.
PROYEKSI PERUBAHAN IKLIM REGIONAL DI IBU KOTA NEGARA BARU NUSANTARA (IKN) DENGAN PENDEKATAN PSEUDO-GLOBALWARMING (PGW)
Ibu Kota Negara Nusantara (IKN) sebagai wilayah perkotaan baru, tentunya akan mengubah pola iklim di wilayah tersebut akibat perubahan tutupan lahan. Namun, studi sebelumnya hanya mengkaji pola iklim di IKN akibat perubahan tutupan lahan di masa sekarang. IKN sebagai kota masa depan berkelanjutan memerlukan proyeksi iklim masa depan agar dapat mendukung mewujudkan visinya tersebut Proyeksi iklim regional secara konvensional sering kali menemukan berbagai keterbatasan dalam downscaling dari data proyeksi global, utamanya pada biaya komputasi dan lama periode waktu yang dibutuhkan. Penelitian ini menggunakan metode Pseudo-Global-Warming (PGW) sebagai alternatif untuk menghindari keterbatasan tersebut. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa, pada skenario PGW IKN, temperatur di wilayah kajian secara rata – rata mengalami peningkatan hingga mencapai 2.5?C di masa depan saat siang hari. Kecepatan angin menunjukkan pelemahan paling signifikan saat malam hari yakni hingga 2 m/s, kecuali saat siang hari terjadi peningkatan di IKN. Perubahan pada temperatur dan angin masa depan di wilayah IKN pada skenario PGW IKN menunjukkan dampak gabungan dari perubahan tutupan lahan dan peningkatan emisi gas rumah kaca mengamplifikasi efek pemanasan global. Meskipun begitu, hasil perubahan akibat skenario PGW IKN dibandingkan skenario PGW belum menunjukkan perubahan yang signifikan di masa depan.
PENGARUH KEJADIAN MARINE HEATWAVES (MHWS) TERHADAP DEGRADASI TERUMBU KARANG DI PERAIRAN LOMBOK DAN SPERMONDE
Pada skala regional, kejadian pemutihan karang disebabkan naiknya suhu laut akibat pemanasan global. Kenaikan suhu sebesar 1-2°C saja (suhu anomali) selama 2-4 minggu di atas suhu maksimum rata-rata jangka panjang (suhu normal) bisa menyebabkan pemutihan karang, dan dalam waktu yang lebih panjang akan menyebabkan karang mati. Seiring terjadinya pemanasan global, ada peristiwa pemanasan laut jangka pendek yang ekstrim dikenal sebagai Marine Heatwaves (MHWs). MHWs merupakan periode dimana suhu laut meningkat secara ekstrem yang berlangsung sedikitnya selama lima hari berturut-turut, dalam cakupan hingga ratusan kilometer dan kedalaman hingga ratusan meter. MHWs memberi dampak pada berbagai sistem di alam, baik sistem fisis, sistem hayati maupun tatanan ekonomi pada sektor maritim. Secara global, sepanjang abad ke-20 tren kejadian MHWs telah mengalami peningkatan. Meski demikian, belum terdapat banyak literatur yang menganalisis sebaran spasial tren MHWs di wilayah Indonesia yang dikaitkan dengan degradasi terumbu karang. Kajian mengenai pengaruh tren MHWs terhadap degradasi terumbu karang di perairan Lombok dan Spermonde perlu dilakukan seiring dengan perubahan iklim akibat pemanasan global yang sedang berlangsung. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis bagaimana pengaruh kejadian MHWs terhadap degradasi karang, serta faktor yang menyebabkan terjadinya degradasi terumbu karang di Perairan Lombok dan Spermonde. Daerah kajian pada penelitian ini adalah wilayah Perairan Pulau Lombok yang mencakup pada koordinat 08°10’00”-09°00’00” LS dan 115°50’00” - 116°40’00” BT, serta Perairan Kepulauan Spermonde yang terletak pada koordinat 4°28'00” - 5°32'00” LS dan 119°31'00” - 120°13'00” BT. Data utama yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data MHWs dan Citra Landsat. Data MHWs yang digunakan pada penelitian ini adalah mencakup matriks frekuensi, intensitas dan durasi. Citra yang digunakan adalah citra Landsat dengan resolusi spasial 30 m yang memiliki tutupan awan kurang dari 10%. Koreksi citra untuk menghilangkan gangguan-gangguan yang terjadi saat perekaman citra. Nilai reflektan yang dihasilkan oleh proses kalibrasi radiometrik diubah ke dalam nilai reflektan permukaan (?permukaan). ?permukaan selanjutnya menjadi data masukan (input) dari algoritma Lyzenga dengan terlebih dahulu memisahkan region daratan dan lautan agar pengolahan hanya diproses pada area lautan saja. Citra hasil transformasi Lyzenga dilakukan pixel based classification untuk mendapatkan nilai luasan tutupan terumbu karang setiap tahunnya. Analisis antara kejadian MHWs dengan perubahan luasan tutupan karang dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kejadian MHWs dan perubahan luasan tutupan terumbu karang. Seluruh matriks MHWs dan luasan tutupan karang dianalisis secara spasio-temporal untuk melihat fluktuasi antar keduanya. Berdasarkan data, di Lombok, frekuensi rata-rata MHWs adalah 1,77 kejadian per tahun dengan intensitas rata-rata 1,23°C, durasi rata-rata 9,31 hari, dan jumlah hari rata-rata 20,60 hari. Frekuensi tertinggi terjadi pada tahun 2016 dengan 8 kejadian, intensitas tertinggi pada tahun 1998 sebesar 1,81°C, dan jumlah hari tertinggi pada tahun 2016 mencapai 164 hari. Di Spermonde, frekuensi rata-rata MHWs adalah 2,52 kejadian per tahun dengan intensitas rata-rata 1,14°C, durasi rata-rata 8,25 hari, dan jumlah hari rata-rata 23,57 hari. Frekuensi tertinggi terjadi pada tahun 2016 dengan 9 kejadian, intensitas tertinggi pada tahun 1998 sebesar 1,78°C, dan jumlah hari tertinggi pada tahun 2022 mencapai 109 hari. Analisis terhadap luasan tutupan terumbu karang menunjukkan rata-rata luas tutupan di Lombok sebesar 12.851,75 hektar dan di Spermonde sebesar 1.178,25 hektar. Penurunan tutupan karang terbesar di Lombok terjadi pada tahun 1999, dari 36.550,71 hektar pada tahun 1998 menjadi 6.724,98 hektar. Di Spermonde, penurunan terbesar terjadi pada tahun 2021, dari 2.119,41 hektar pada tahun 2020 menjadi hanya 218,25 hektar. Hasil analisis menunjukkan adanya korelasi antara kejadian MHWs dan penurunan luas tutupan terumbu karang. Tahun-tahun dengan frekuensi, intensitas, dan durasi MHWs yang tinggi bertepatan dengan penurunan signifikan luasan terumbu karang. Selain itu, fenomena iklim seperti ENSO dan IOD turut berkontribusi terhadap variabilitas MHWs dan kondisi terumbu karang. Tahun-tahun peluruhan El Niño, seperti 1998 dan 2016, menunjukkan peningkatan intensitas dan durasi MHWs yang signifikan, yang pada gilirannya memperburuk kondisi terumbu karang. Variabilitas iklim ini menambah tekanan termal pada ekosistem terumbu karang, yang sudah rentan akibat perubahan suhu yang ekstrem dan berkepanjangan.
STRATEGI MITIGASI EMISI GAS RUMAH KACA BERDASARKAN PENGGUNAAN LAHAN DI WILAYAH PERINDUSTRIAN (KASUS DI KABUPATEN BEKASI)
Kawasan industri di Kabupaten Bekasi merupakan kawasan industri nasional dengan 2.680 perusahaan yang berdiri di atas 11.000 hektar lahan. Pesatnya industrialisasi di Kabupaten Bekasi ini selain meningkatkan kesejahteraan masyarakat juga menyumbang emisi gas rumah kaca (GRK) yang menyebabkan pemanasan global. Ketergantungan terhadap penggunaan bahan bakar fosil pada proses industri dan transportasi, listrik, sawah, perluasan kawasan industri, serta pertumbuhan penduduk di Kabupaten Bekasi menjadi penyebab emisi. Hal ini diperparah dengan berkurangnya areal rosot karbon sebagai akibat dari banyaknya alih fungsi lahan bervegetasi menjadi bangunan industri dan permukiman. Atas konsekuensi tersebut, Kabupaten Bekasi menghadapi banyak tantangan dalam menjaga kesinambungan pembangunan dan pengelolaan serta mitigasi emisi GRK. Perhitungan emisi GRK dilakukan dengan menggunakan metode IPCC (Intergovernmental on Panel Climate Change) sementara cadangan karbon menggunakan metode alometrik. Analisis pemangku kepentingan dilakukan untuk mengetahui kelembagaan terkait dengan kebijakan pengendalian emisi GRK dan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk penentuan prioritas strategi. Hasil perhitungan menunjukkan emisi GRK pada sektor energi industri sebesar 8.532.315.968,59 ton CO2e, listrik 7.582.315,01 ton CO2e, transportasi 4.142.021,21 ton CO2e, sawah 1.522.037,33 ton CO2e, limbah 792.252,36 ton CO2e, dan peternakan 76.111,79 ton CO2e dengan kecenderungan peningkatan tiap tahun. Sementara dari 14 jenis penggunaan lahan yang ada, total cadangan karbon yang ada di Kabupaten Bekasi pada tahun 2022 sebesar 2.219.484,06 ton C dengan kecenderungan penurunan tiap tahun. Teridentifikasi 11 pemangku kepentingan yang terlibat dalam kebijakan terkait pengendalian emisi GRK dan 3 prioritas strategi berupa pengembangan energi baru terbarukan (EBT) berupa pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), reforestasi kawasan lindung hutan mangrove, dan tata kelola lahan dalam bentuk penanaman jenis pohon tinggi cadangan karbon. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan terkait besaran emisi dan cadangan karbon dari sumber lain untuk mendapatkan data yang lebih detail, analisis lebih lanjut terkait dengan kebijakan pengendalian emisi serta audiensi dengan pemerintah daerah terkait dengan hasil penelitian dan rencana implementasi program.