📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen
Pencarian topik
Hasil Dokumen
Ditemukan: 7 dokumenRANCANGAN PEMETAAN 3D BERBASIS DATA LIDAR DAN DETEKTOR UTILITAS BAWAH TANAH KAMPUS ITB
Informasi utilitas bawah tanah yang akurat diperlukan untuk mendukung perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan infrastruktur serta meminimalkan risiko kerusakan aset akibat ketidakpastian lokasi utilitas. Penelitian ini bertujuan merancang produk pemetaan utilitas bawah tanah tiga dimensi (3D) terintegrasi pada kawasan Kampus ITB Jatinangor dengan menggabungkan informasi permukaan dan bawah permukaan dalam satu model geospasial. Data permukaan diperoleh dari akuisisi LiDAR yang diolah melalui tahapan klasifikasi point cloud, pembuatan Digital Terrain Model (DTM), Digital Surface Model (DSM), dan ekstraksi bangunan Level of Detail 2 (LOD2), sedangkan data bawah permukaan diperoleh melalui survei utilitas menggunakan Pipe and Cable Locator (PCL) yang diintegrasikan dengan GNSS RTK, lalu diolah dalam perangkat lunak GIS. Seluruh data kemudian diintegrasikan dalam sistem koordinat yang sama untuk menghasilkan model 3D yang merepresentasikan hubungan spasial antara bangunan, topografi, dan jaringan utilitas bawah tanah. Hasil penelitian berupa produk pemetaan utilitas bawah tanah 3D yang mampu memvisualisasikan jaringan utilitas pipa dan kabel terhadap kondisi permukaan secara terpadu. Pengujian menunjukkan bahwa komponen permukaan memiliki akurasi horizontal sebesar 0,091 m dan akurasi vertikal sebesar 0,089 m, sedangkan komponen utilitas bawah tanah memiliki akurasi horizontal sebesar 0,155 m dan akurasi vertikal sebesar 0,19 m sehingga memenuhi toleransi PAS 128 Quality Level B (QL-B). Produk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk inventarisasi aset utilitas, perencanaan dan pemeliharaan infrastruktur, serta mendukung pengambilan keputusan dalam kegiatan konstruksi dan pengembangan wilayah.
RANCANGAN PEMETAAN 3D BERBASIS DATA LIDAR DAN DETEKTOR UTILITAS BAWAH TANAH KAMPUS ITB
Informasi utilitas bawah tanah yang akurat diperlukan untuk mendukung perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan infrastruktur serta meminimalkan risiko kerusakan aset akibat ketidakpastian lokasi utilitas. Penelitian ini bertujuan merancang produk pemetaan utilitas bawah tanah tiga dimensi (3D) terintegrasi pada kawasan Kampus ITB Jatinangor dengan menggabungkan informasi permukaan dan bawah permukaan dalam satu model geospasial. Data permukaan diperoleh dari akuisisi LiDAR yang diolah melalui tahapan klasifikasi point cloud, pembuatan Digital Terrain Model (DTM), Digital Surface Model (DSM), dan ekstraksi bangunan Level of Detail 2 (LOD2), sedangkan data bawah permukaan diperoleh melalui survei utilitas menggunakan Pipe and Cable Locator (PCL) yang diintegrasikan dengan GNSS RTK, lalu diolah dalam perangkat lunak GIS. Seluruh data kemudian diintegrasikan dalam sistem koordinat yang sama untuk menghasilkan model 3D yang merepresentasikan hubungan spasial antara bangunan, topografi, dan jaringan utilitas bawah tanah. Hasil penelitian berupa produk pemetaan utilitas bawah tanah 3D yang mampu memvisualisasikan jaringan utilitas pipa dan kabel terhadap kondisi permukaan secara terpadu. Pengujian menunjukkan bahwa komponen permukaan memiliki akurasi horizontal sebesar 0,091 m dan akurasi vertikal sebesar 0,089 m, sedangkan komponen utilitas bawah tanah memiliki akurasi horizontal sebesar 0,155 m dan akurasi vertikal sebesar 0,19 m sehingga memenuhi toleransi PAS 128 Quality Level B (QL-B). Produk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk inventarisasi aset utilitas, perencanaan dan pemeliharaan infrastruktur, serta mendukung pengambilan keputusan dalam kegiatan konstruksi dan pengembangan wilayah.
RANCANGAN PEMETAAN 3D BERBASIS DATA LIDAR DAN DETEKTOR UTILITAS BAWAH TANAH KAMPUS ITB
Informasi utilitas bawah tanah yang akurat diperlukan untuk mendukung perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan infrastruktur serta meminimalkan risiko kerusakan aset akibat ketidakpastian lokasi utilitas. Penelitian ini bertujuan merancang produk pemetaan utilitas bawah tanah tiga dimensi (3D) terintegrasi pada kawasan Kampus ITB Jatinangor dengan menggabungkan informasi permukaan dan bawah permukaan dalam satu model geospasial. Data permukaan diperoleh dari akuisisi LiDAR yang diolah melalui tahapan klasifikasi point cloud, pembuatan Digital Terrain Model (DTM), Digital Surface Model (DSM), dan ekstraksi bangunan Level of Detail 2 (LOD2), sedangkan data bawah permukaan diperoleh melalui survei utilitas menggunakan Pipe and Cable Locator (PCL) yang diintegrasikan dengan GNSS RTK, lalu diolah dalam perangkat lunak GIS. Seluruh data kemudian diintegrasikan dalam sistem koordinat yang sama untuk menghasilkan model 3D yang merepresentasikan hubungan spasial antara bangunan, topografi, dan jaringan utilitas bawah tanah. Hasil penelitian berupa produk pemetaan utilitas bawah tanah 3D yang mampu memvisualisasikan jaringan utilitas pipa dan kabel terhadap kondisi permukaan secara terpadu. Pengujian menunjukkan bahwa komponen permukaan memiliki akurasi horizontal sebesar 0,091 m dan akurasi vertikal sebesar 0,089 m, sedangkan komponen utilitas bawah tanah memiliki akurasi horizontal sebesar 0,155 m dan akurasi vertikal sebesar 0,19 m sehingga memenuhi toleransi PAS 128 Quality Level B (QL-B). Produk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk inventarisasi aset utilitas, perencanaan dan pemeliharaan infrastruktur, serta mendukung pengambilan keputusan dalam kegiatan konstruksi dan pengembangan wilayah.
RANCANGAN PEMETAAN 3D BERBASIS DATA LIDAR DAN DETEKTOR UTILITAS BAWAH TANAH KAMPUS ITB
Informasi utilitas bawah tanah yang akurat diperlukan untuk mendukung perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan infrastruktur serta meminimalkan risiko kerusakan aset akibat ketidakpastian lokasi utilitas. Penelitian ini bertujuan merancang produk pemetaan utilitas bawah tanah tiga dimensi (3D) terintegrasi pada kawasan Kampus ITB Jatinangor dengan menggabungkan informasi permukaan dan bawah permukaan dalam satu model geospasial. Data permukaan diperoleh dari akuisisi LiDAR yang diolah melalui tahapan klasifikasi point cloud, pembuatan Digital Terrain Model (DTM), Digital Surface Model (DSM), dan ekstraksi bangunan Level of Detail 2 (LOD2), sedangkan data bawah permukaan diperoleh melalui survei utilitas menggunakan Pipe and Cable Locator (PCL) yang diintegrasikan dengan GNSS RTK, lalu diolah dalam perangkat lunak GIS. Seluruh data kemudian diintegrasikan dalam sistem koordinat yang sama untuk menghasilkan model 3D yang merepresentasikan hubungan spasial antara bangunan, topografi, dan jaringan utilitas bawah tanah. Hasil penelitian berupa produk pemetaan utilitas bawah tanah 3D yang mampu memvisualisasikan jaringan utilitas pipa dan kabel terhadap kondisi permukaan secara terpadu. Pengujian menunjukkan bahwa komponen permukaan memiliki akurasi horizontal sebesar 0,091 m dan akurasi vertikal sebesar 0,089 m, sedangkan komponen utilitas bawah tanah memiliki akurasi horizontal sebesar 0,155 m dan akurasi vertikal sebesar 0,19 m sehingga memenuhi toleransi PAS 128 Quality Level B (QL-B). Produk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk inventarisasi aset utilitas, perencanaan dan pemeliharaan infrastruktur, serta mendukung pengambilan keputusan dalam kegiatan konstruksi dan pengembangan wilayah.
RANCANGAN PEMETAAN 3D BERBASIS DATA LIDAR DAN DETEKTOR UTILITAS BAWAH TANAH KAMPUS ITB
Informasi utilitas bawah tanah yang akurat diperlukan untuk mendukung perencanaan, pembangunan, dan pengelolaan infrastruktur serta meminimalkan risiko kerusakan aset akibat ketidakpastian lokasi utilitas. Penelitian ini bertujuan merancang produk pemetaan utilitas bawah tanah tiga dimensi (3D) terintegrasi pada kawasan Kampus ITB Jatinangor dengan menggabungkan informasi permukaan dan bawah permukaan dalam satu model geospasial. Data permukaan diperoleh dari akuisisi LiDAR yang diolah melalui tahapan klasifikasi point cloud, pembuatan Digital Terrain Model (DTM), Digital Surface Model (DSM), dan ekstraksi bangunan Level of Detail 2 (LOD2), sedangkan data bawah permukaan diperoleh melalui survei utilitas menggunakan Pipe and Cable Locator (PCL) yang diintegrasikan dengan GNSS RTK, lalu diolah dalam perangkat lunak GIS. Seluruh data kemudian diintegrasikan dalam sistem koordinat yang sama untuk menghasilkan model 3D yang merepresentasikan hubungan spasial antara bangunan, topografi, dan jaringan utilitas bawah tanah. Hasil penelitian berupa produk pemetaan utilitas bawah tanah 3D yang mampu memvisualisasikan jaringan utilitas pipa dan kabel terhadap kondisi permukaan secara terpadu. Pengujian menunjukkan bahwa komponen permukaan memiliki akurasi horizontal sebesar 0,091 m dan akurasi vertikal sebesar 0,089 m, sedangkan komponen utilitas bawah tanah memiliki akurasi horizontal sebesar 0,155 m dan akurasi vertikal sebesar 0,19 m sehingga memenuhi toleransi PAS 128 Quality Level B (QL-B). Produk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk inventarisasi aset utilitas, perencanaan dan pemeliharaan infrastruktur, serta mendukung pengambilan keputusan dalam kegiatan konstruksi dan pengembangan wilayah.
SISTEM DAN APLIKASI LASER SCANNER (STUDI KASUS : PENGUKUIRAN KONTRUKSI ANJUNGAN MINYAK LEPAS PANTAI)
Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat dewasa ini dan semakin kompleksnya pekerjaan-pekerjaan engineering yang menuntut ketelitian dan kecepatan tinggi maka diperlukan suatu instrumen yang up to date untuk menjawab segala tantangan tersebut. Pada akhir tahun 1990an telah muncul alat baru dalam dunia pemetaan yang berbasis 3D laser mapping. Pada saat scanning alat ini menggunakan sinar laser sehingga dikenal dengan sebutan 3D laser scanner. Aplikasi laser scanner semakin populer akhir-akhir ini salah satunya untuk keperluan pengukuran konstruksi anjungan minyak lepas pantai. Pengolahan data pengukuran Zakum platform menghasilkan model offshore platform 3 dimensi (3D) dengan akurasi permukaan bentuk dari setiap bagian struktur lebih kecil dari 6 mm. Model ini berguna untuk keperluan analisis struktur dan perpipaan lebih lanjut.
SURVEY PEMETAAN BANGUNAN MENGGUNAKAN TLS UNTUK MENDUKUNG KADASTER 3-DIMENSI (Obyek Studi: Apartemen The Suites at Metro, Bandung)
Pertambahan jumlah penduduk membuat kebutuhan tempat tinggal bertambah, sehingga dibutuhkan bangunan permukiman ke arah vertikal. Bangunan vertikal seperti apartemen atau rumah susun merupakan bangunan diatas satu persil dengan beberapa kepemilikan. Satuan rumah susun (sarusun) dalam pendaftaran tanah masih menggunakan gambar rencana dalam penetapan batas sarusun. Pada kenyataannya, obyek nyata belum tentu sama dengan gambar rencana. Perlu dilakukan as-built survey. As-built survey merupakan survey pemetaan bangunan existing. Survey pemetaan bangunan dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi Terestrial Laser Scanning (TLS). Melalui survey pemetaan bangunan ini diperoleh model dan geometri obyek 3D bangunan yang digunakan untuk mendukung kadaster 3D. Electronic Total Station (ETS) digunakan untuk mendapatkan data koordinat berupa titik referensi sebagai titik awal pengukuran TLS. Survey pemetaan bangunan dengan menggunakan TLS dilakukan dengan cara memindai obyek bangunan dari beberapa titik tempat berdiri alat. Tahap pengolahan data yang dilakukan, yaitu registrasi dengan metode natural point feature baik secara sekaligus maupun bertahap, filtering, georeferencing, wrapping. Pemodelan 3D diperoleh melalui proses wrapping dengan menggunakan perangkat lunak Geomagic. Analisis dilakukan dengan membandingkan galat registrasi dengan ketelitian posisi alat baik pada registrasi sekaligus dan bertahap. Selain itu, dilakukan analisis terhadap jarak hasil ukuran pada mesh model dan jarak hasil ukuran ETS yang dianggap benar. Hasil yang didapat adalah model 3D obyek bangunan. Pada registrasi sekaligus diperoleh galat registrasi melebihi 0.006m. Perlu dilakukan pemilihan ulang titik-titik ikat. Pada registrasi bertahap, di setiap tahap diperoleh galat registrasi yang lebih kecil dari 0.006m. Hasil ukuran jarak pada mesh model sama dengan hasil ukuran jarak ETS.