📚 Eksplorasi & Komparasi Topik Dokumen

Pencarian topik

Reset

Hasil Dokumen

Ditemukan: 5 dokumen

PEMODELAN 3D KAWAH GUNUNG TALAGA BODAS DENGAN MEMANFAATKAN TEKNOLOGI TLS (TERRESTRIAL LASER SCANNER)

Kawah merupakan objek topografi yang terdapat pada setiap gunung api. Pemetaan dan pemodelan kawah sangat diperlukan dalam proses mitigasi bencana yang terkait dengan aktivitas gunung api seperti bencana erupsi. Pemetaan dan pemodelan tersebut masih kurang dilaksanakan pada saat sekarang karena keterbatasan waktu dan peralatan. Dalam pemodelan permukaan kawah secara cepat dan teliti, banyak cara dan peralatan yang dapat digunakan, salah satunya dengan pemanfaatan teknologi Terrestrial Laser Scanner (TLS). TLS memiliki kemampuan memodelkan objek secara 3D dengan tingkat ketelitian yang tinggi sehingga penggunaan teknologi ini akan menjadi solusi dalam pemodelan kawah secara cepat dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pemanfaatan TLS dalam pemodelan kawah secara 3D dan mengetahui pengaruh kondisi permukaan kawah terhadap data pengukuran TLS. Pemodelan kawah Gunung Talaga Bodas dilakukan dengan cara melakukan pemindaian dengan menggunakan peralatan TLS. Survei dilakukan dengan delapan station pemindaian TLS, sehingga permukaan kawah yang ingin dimodelkan dapat terpindai secara keseluruhan. Pengolahan data dilakukan dengan tahap yaitu registrasi data pemindaian dari delapan station pemindaian sehingga menjadi satu kesatuan. Selanjutnya dilakukan proses filtering, georeferencing, dan pemodelan kawah secara 3D dan didapatkan puncak tertinggi kawah sebesar 65.522 m, diameter kawah dengan panjang 467.231 m, dan luas area 2961054.652 m2. Dalam penelitian ini, juga dibahas tentang pengaruh kondisi lingkungan kawah terhadap data pengukuran TLS. Data yang digunakan adalah data pengukuran jarak dengan TLS, data suhu, dan data kelembaban udara. Hasil yang didapat adalah model 3D dari kawah Gunung Talaga Bodas. Pada pengolahan data pengaruh kondisi lingkungan, diperoleh bahwa kondisi lingkungan tidak berpengaruh secara signifikan untuk pengukuran jarak dekat. Kesimpulan ini didapat karena galat jarak yang dihasilkan sebesar 2 mm, dan masih berada pada rentang akurasi TLS, yaitu 4 mm untuk pengukuran tunggal dengan jarak 50 meter.

2026
👤 Penulis: Andreas Darma Putra
🏷️ Teknologi Terrestrial Laser Scanner (Tls) 🏷️ Pemetaan Topografi 🏷️ Analisis Kondisi Lingkungan

PEMETAAN TOPOGRAFI UNTUK RENCANA JALUR PIPA MIGAS DENGAN METODE FOTOGRAMETRI BERBASIS WAHANA UDARA TANPA AWAK (UAV) (WILAYAH STUDI: CEPU)

Pada sektor migas, pipa merupakan kebutuhan mendasar yang digunakan untuk kegiatan penyaluran. Pada perencanaan pembangunan pipa penyalur, peta diperlukan sebagai alat untuk pemilihan jalur dan lokasi pipa yang paling optimal. Terdapat beberapa metode survei pemetaan yang dapat dilakukan. Masing-masing metode memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri. Terdapat dua metode pemetaan yang dilakukan pada penelitian ini, yaitu fotogrametri UAV dan metode terestris. Survei udara menggunakan metode fotogrametri dengan wahana udara nir-awak (UAV-based photogrammetry) dapat digunakan untuk mendapatkan alternatif jalur pipa migas. Kamera yang digunakan pada penelitian ini adalah kamera non metrik. Kamera non metrik tidak didesain untuk keperluan pengukuran dan pemetaan. Ketidaksempurnaan lensa pada kamera non metrik dapat berimbas pada kualitas gambar dan geometri dari citra yang dihasilkan. Tujuan akhir dari penelitian ini adalah untuk melihat hasil pemetaan dengan fotogrametri UAV. Foto udara diolah menjadi DSM dan dilakukan proses filterisasi menggunakan SMRF dan slope-based. Dengan menggunakan peta topografi hasil pemetaan terestris sebagai acuan yang benar, dilakukan perbandingan koordinat yang dihasilkan dari produk akhir yaitu DTM fotogrametri dan DTM terestris. Perbedaan nilai koordinat ketinggian antara DTM Agisoft 4B SMRF dengan DTM Terestris sebesar 0.869 m, DTM Agisoft 4B slope-based dan DTM Terestris sebesar 0.639 m, DTM Agisoft 12B SMRF dengan DTM Terestris sebesar 0.861 m, DTM Agisoft 12B slope-based dengan DTM Terestris sebesar 0.573 m, sedangkan DTM LPS dengan DTM Terestris sebesar 0.428 m.

2026
👤 Penulis: ARINA NADA KENTJANA (NIM: 15109019); pembimbing : Dr. Deni Suwardhi, S.T., M.T. ; Dr. Ir. Dwi Wisaya
🏷️ Pemetaan Topografi 🏷️ Metode Fotogrametri Uav 🏷️ Analisis Sistem Pemetaan

APLIKASI TLS (TERRESTRIAL LASER SCANNING) UNTUK STUDI DEFORMASI ALAMIAH

TLS (Terrestrial Laser Scanning) telah menjadi teknologi terbaru yang menghasilkan model tiga dimensi dengan resolusi tinggi. Awalnya pemanfaatan TLS ini adalah untuk memodelkan objek, identifikasi, dan pelestarian situs sejarah saja. Namun dengan perkembangan teknologi yang diterapkan pada alat dan tahapan proses pasca pengukuran yang semakin sempurna, ketelitian identifikasi serta penyaringan (filtering) hasil pindaian dapat dimaksimalkan untuk kepentingan penelitian lain.Pemanfaatan TLS telah berkembang menjadi alat pemetaan topografi atau pemodelan objek alami dan buatan. Selain itu dengan memodelkan objek yang sama pada kala waktu (epok) berbeda, perubahan yang terjadi pada objek dapat direkam dan dihitung untuk kepentingan penelitian atau mitigasi efek perubahan yang dialami objek tersebut. Proses ini dikenal dengan studi deformasi yaitu proses pengukuran dan analisa fenomena perubahan terhadap objek alami (tanah longsor, deformasi gunungapi,erosi pesisir pantai, dan lain-lain) atau objek buatan (penurunan dan retakan permukaan bangunan yang disebabkan oleh gaya luar yang mengenainya). Tugas akhir ini dibuat untuk membahas penggunaan TLS, terutama untuk studi deformasi alami berdasarkan studi yang pernah dilakukan dan dipublikasikan pada jurnal internasional. Ketelitian maksimal pengukuran TLS untuk pemantauan tanah longsor, aktifitas gunungapi dan erosi pesisir pantai adalah: ketelitian registrasi hingga 5.5 mm dan georeferensi hingga 12.5 mm.

2026
👤 Penulis: ANDRE NILSON (NIM 15108066) ; pembimbing : Prof.Ir. Hasanuddin Z. Abidin, M.Sc., Ph.D. Irwan Gumila
🏷️ Geoteknik 🏷️ Pemetaan Topografi 🏷️ Analisis Deformasi Alam

TEKNOLOGI LIDAR DALAM PEKERJAAN EKSPLORASI TAMBANG BATUBARA

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki cadangan batubara terbesar di dunia. Kalimantan dan Sulawesi merupakan daerah penghasil batubara terbesar di Indonesia. Kegiatan penambangan batubara tidak lepas dari kebutuhan akan peta topografi sebagai peta dasar untuk pembuatan peta lainnya yang diperlukan dalam kegiatan penambangan batubara.Dalam kegiatan penambangan batubara, sering ditemukan kesalahan-kesalahan dalam perencanaan kegiatan. Salah satu penyebabnya yaitu ketidaktepatan informasi yang diberikan oleh peta topografi yang digunakan. Dalam hal ini yang sangat potensial menimbulkan kesalahan tersebut adalah informasi tinggi dari peta topografi.Permasalahan ini dapat diatasi dengan menggunakan teknologi LIDAR untuk pemetaan di wilayah penambangan batubara, dimana karakteristik wilayah penambangan batubara dilingkupi oleh hutan. LIDAR merupakan suatu teknologi yang dapat digunakan untuk memperoleh informasi topografi dengan teliti, khususnya informasi ketinggian.Dalam aplikasi survei dan pemetaan dewasa ini, pemetaan dengan LIDAR diintegrasikan dengan ortofoto untuk memperoleh informasi planimetrik. Tugas Akhir ini lebih membahas pada penggunaan teknologi LIDAR dalam proses penambangan batubara khusunya dalam kegiatan eksplorasi.

2026
👤 Penulis: A'AN MEIZA (NIM 15105014); Pembimbing : Dr. Ir. Bobby Santoso D., M.Sc. dan Sofan Prihadi, ST.
🏷️ Teknologi Lidar 🏷️ Pemetaan Topografi 🏷️ Penambangan Batubara

INTEGRASI DENSE POINT CLOUD UAV-FOTOGRAMETRI DAN TERRESTRIAL LASER SCANNER UNTUK PEMETAAN TOPOGRAFI

Pemetaan topografi dengan metode UAV-Fotogrametri dianggap salah satu metode yang efektif dari sudut pandang waktu dan biaya. Implementasi metode ini akan menghasilkan data yang cukup representatif dari tampak atas. Namun, hasil akusisi data ini tidak mencakup permukaan tanah yang berada di bawah objek yang menutupi seperti pepohonan atau bangunan. Kekurangan ini dapat diselesaikan dengan pemetaan metode pemetaan terestris yang dapat mengambil data permukaan topografi tertutup pohon. Salah satu alat yang dapat digunakan pada metode terestris adalah Terrestrial Laser Scanner(TLS) dengan prinsip laser serupa dengan alat Electronic Total Station (ETS) yang umumnya digunakan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengevaluasi integrasi data dense point cloud UAV-Fotogrametri dan TLS pada daerah yang didominasi dengan objek kanopi pepohonan. Lokasi penelitian berada di bagian Utara Institut Teknologi Bandung Kampus Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Pemilihan daerah didukung oleh faktor medan yang variatif dan wilayah penelitian yang ditutupi oleh pepohonan. Analisis kualitas hasil integrasi dilakukan berdasarkan perbedaan ketinggian dari persebaran point cloud kedua data. Kemudian dilakukan perbandingan DTM dari kedua data terhadap data UAV-fotogrametri untuk melihat perubahan kualitas data lebih jelas. Integrasi data point cloud TLS terhadap point cloud UAV-Fotogrametri dapat dilakukan ditandai dengan meningkatnya kualitas data dan kelengkapan data. Temuan terbaik dalam tugas akhir ini adalah yaitu nilai RMSE yang dihitung untuk tingkat kepresisian hasil integrasi UAV-Fotogrametri dan TLS yaitu 0.037 m horizontal dan 0.101 m vertikal. Sedangkan temuan terbaik untuk mengukur tingkat akurasi hasil integrasi dengan menghitung nilai RMSE terhadap data pembanding hasil pengukuran GNSS yaitu 0.081 m terhadap UAV-Fotogrametri dan 0.062 terhadap TLS dari sumbu vertikal serta nilai RMSE terhadap data pembanding yaitu 0.016 terhadap UAV-Fotogrametri dan 0.031 m terhadap TLS dari sumbu horizontal.

2024
👤 Penulis: Ryan Alfaedison
🏷️ Pemetaan Topografi 🏷️ Integrasi Data Point Cloud 🏷️ Teknik Pemetaan Terestrial
💬